Font size
WorksheetsBahasa Indonesia, cerpen
Total questions: 40
Worksheet time: 22mins
Kakek sepanjang hidupnya tinggal di surau, menjaga surau, memanggil orang untuk beribadah di surau, bahkan seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah. Berdasarkan kutipan cerita tersebut terdapat nilai kehidupan, yaitu nilai ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Karena ketaatannya beribadah, kakek tidak mau bergaul dengan orang lain selain jamaahnya. Kakek juga tidak mau menikah dan punya anak. Menurutnya semua itu tidak ada gunanya di akhirat nanti. Berdasarkan kutipan cerita tersebut terkandung nilai kehidupan, yaitu nilai ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Kakek dalam cerita tersebut mempunyai pekerjaan sebagai pengasah pisau dan terkenal di kampung itu. Setiap ada yang datang kepadanya untuk mengasahkan pisaunya, kakek mengerjakan sesuai urutan yang datang duluan. Dia tidak pernah mempedulikan siapa orang yang meminta tolong, siapa pun itu kalua dia datang belakangan maka pengerjaan mengasah pisaunya juga belakangan. Dari cerita tersebut terkandung nilai ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Hampir setiap hari setelah sholat berjamaah di mushola, beberapa warga memberikan uang kepada kakek meski sedikit jumlahnya. Ada juga warga yang mengantarkan kopi, gula, dan teh kepada kakek. Bahkan ada juga warga yang mengantar langsung makanan kepada kakek. Rupanya warga di sekitar mushola itu sangat senang ada kakek yang merawat mushola dan mereka tidak ingin kakek itu kekurangan. Nilai yang terkandung dari kutipan tersebut adalah ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Setiap waktu sholat tiba, warga di kampung itu berbondong-bondong ke mushola dan melakukan sholat berjamaah. Usai sholat mereka bercakap-cakap sejenak di serambi mushola. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing secara bersama-sama. Berdasarkan cerita ini terkandung nilai kehidupan, yaitu ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Setelah mendengar cerita Ajo Sidi, kakek sering termenung dan akhirnya bunuh diri. Sikap kakek seperti itu termasuk nilai ....
sosial
moral
ketuhanan
kemanusiaan
keadilan
Nilai kehidupan yang dominan yang dapat diteladani dari cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ di atas adalah ....
Jadi manusia harus rajin beribadah
Merawat tempat umum itu perbuatan mulia
Jika kita tinggal di mushola maka akan masuk neraka
Selain beribadah dengan baik kita harus memperhatikan sekitar kita
Menolong kepada orang lain itu jangan pilih-pilih terkantung siapa yang disukai
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Hal yang menarik dari kutipan cerpen di atas adalah ….
Para penumpang mendengarkan lagu
tokoh aku yang masih menyukai gending Jawa dan selalu membawa kasetnya
tokoh lain yang berteriak meminta tukar lagu
para tokoh mempermasalahkan lagu-lagu yang didengarkan
para tokoh menyukai musik
“Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”
“Huus! Apakah kau anggap aku ini pak tuamu?”
“Aku bukan Kangmasmu!” bentak kakek-kakek itu lagi.
“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah, ya! Aku lupa, sungguh.
Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib diingatkan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan kuperbuat selanjutnya.”
Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang. Lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah sangat tua?”
“Mengapa?”
“Pantas kau panggil mbah?”
“Hi-hi-hi! Pertanyaanmu itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”
“Jangan bersenda gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”
Tikungan di Dekat Bendungan oleh St. Ismariasita
Konfliks yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut tentang....
Panggilan yang disampaikan kepada kakek dengan kata mbah dan mas.
Kecemasan tokoh kakek akan ketuaan usianya.
Ketidakcocokan penggunaan kata sapaan dengan realitas.
Tokoh Kenes menentukan usia seseorang, sudah tua ataukah masih muda.
Kakek dan Kenes memperebutkan sapaan mbah dan mas.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakin kami berjodoh.”
“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
Watak tokoh Mangkudun berdasarkan kutipan di atas adalah ….
sombong
serakah
pelit
pilih kasih
acuh tak acuh
Kalimat bermajas personifikasi terdapat pada kalimat …
Jangan, jangan putus dulu napas ini sebelum mengecap hasil panennya.
Bukit-bukit kapur itu berdiri angkuh, tapi merana.
Bulir-bulir air mata jatuh membasahi tanah merah di bawahnya.
Aku turun lapangan pukul delapan tepat, barangkali sama waktunya dengan keberangkatan Kijang Om Herman.
Samsul menarik radio saku Sanyo yang kukirim padanya lima bulan yang lalu.
Ibu, barangkali Atik tidak akan terus berkerja di Kementerian Luar Negeri. Dalam gelap suara berisik itu terasa seperti angin malam, aku ingin meneruskan pekerjaan ayah di Dinas Kehutanan.
Penggalan cerpen tersebut didominasi unsur intrinsik adalah …
amanat
tema
alur
tokoh
setting
Dari Jakarta yang sangat panas, penuh gedung pencakar langit, penuh polusi, dan juga gudangnya copet. Kini, aku berada di Ra’as, sebuah pulau yang kecil sebelahnya Madura. Di Ra’as sangat primitif sekali, mulai dari Jalan Makadam sampai dengan bangunan rumah. Sepengetahuanku, tak ada yang namanya bangunan rumah tingkat di sana.
Kutipan cerpen di atas dibuka dengan cara ….
mendeskripsikan objek
mendeskripsikan orang
mendeskripsikan suasana
mendeskripsikan tempat
mendeskripsikan hati
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Nilai yang terdapat dalam penggalan cerpen di atas adalah nilai ….
finansial
agama
sosial
moral
budaya
Salah satu hal yang membedakan cerpen dan puisi adalah …
Adanya tema
Adanya amanat
adanya imajinasi
Adanya alur
adanya gaya bahasa
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …
orang pertama pelaku utama
orang ketiga pelaku sampingan
orang ketiga pelaku utama
orang pertama dan ketiga
orang ketiga serbatahu
Kulewati berbagai cobaan yang menggoyahkan keteguhan batinku. Terus terang, gelombang dan alun yang melanda bahtera kehidupanku nyaris meluluhlantahkan ketegaranku. Aku mensyukuri “kebebasan” ibuku sebagai perempuan Jawa dalam mengatur rutinitas keseharian, tetapi tidak membosankan. Yang dinamakan aturan ini-itu sehubungan dengan tradisi Jawa tidak terlalu mengekang atau menyita waktu.
Sumber: “Ajaran Kehidupan Seorang Nenek”, karya Nh. Dini
Berdasarkan kutipan cerpen di atas, watak tokoh Aku adalah.....
Mudah menyerah
Mudah putus asa
tidak mudah putus asa
sabar
egois
Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kabisuan mulut disumpal ujung selimut.
Makna kata langut dan kemelut dalam kutipan cerpen tersebut menyimbolkan ….
Kesedihan dan penyesalan
Kehilangan dan kesedihan
Kehampaan dan kesendirian
Kesedihan dan penderitaan
Kehampaan dan kesepian
Pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita dan tidak terlibat dalam cerita, dengan menggunakan pelaku utama ia/dia. Kedudukan pengarang dalam cerita tersebut sebagai....
tokoh utama
tokoh bawahan
tokoh protagonis
tokoh figuran
pengamat
Yang tidak termasuk unsur intrinsik dalam karya sastra adalah...
Latar
Tokoh
Penokohan
Simpulan
Diksi
Dina bermain ayunan di sore hari.
Latar waktu berdasarkan kalimat tersebut adalah...
Pagi hari
Siang hari
Sore hari
Malam hari
petang hari
Amanat dalam karya sastra yang harus dipahami terlebih dahulu disebut dengan jenis amanat...
Tersirat
Tersurat
Tertulis
Tertera
Tertuang
jenis tokoh dalam karya sastra yang mempunyai sifat jahat disebut dengan istilah...
Protagonis
Baik
Antagonis
Tokoh utama
piguran
jenis tokoh dalam karya sastra yang mempunyai sifat jahat disebut dengan istilah...
Protagonis
Baik
Antagonis
Tokoh utama
“Agung...!” panggil Bapak dengan suara yang cukup keras. Beberapa detik kemudian Agung muncul. Melihat Alih ada di gendongan Bapak, hatinya berdegup.
“Sini ikut Bapak!” kata Bapak sambil berjalan.
Agung tahu apa yang bakal terjadi. Biasanya Bapak akan menasehatinya sambil menjewer telinganya.
Setelah Alih diberikan ke Ibu, Bapak masuk ke kamarnya.
“Masuk!” kata Bapak, lalu menutup pintu setelah Agung masuk.
“Kamu tahu kesalahanmu?” tanya Bapak sambil melepas ikat pinggang.
“Tahu, Pak.” Jawab Agung
“Apa itu?”
“Alih Agung dudukkan di tangkai pohon.”
“Bagus? Dititipi Alih agar dijaga, malah Alih ditaruh di tangkai pohon dan kamu main sendiri. Kamu tahu hukuman terhadap kesalahanmu?”
“Tahu, Pak.”
“Hadap ke belakang!” kata Bapak.
Lalu kemudian Bapak mengayunkan ikat pinggangnya ke kaki Agung tiga kali. Agung tampak mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menahan sakit. Tapi apa daya, ikat pinggang itu terlalu keras menghantam kakinya, sehingga rasa sakit itu membuat meringis.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen diatas adalah….
Bapak menghukum Agung dengan mencambukkan ikat pinggang
Bapak menitipkan pada Agung saat Bapak pergi
Agung menduduki Alih di tangkai pohon
Agung menahan sakit akibat cambukan ikat pinggang Bapak
Bapak memberikan Alih pada Ibu
Cara penulis/pengerang menempatkan dirinya di dalam cerita disebut ....
alur
tema
sudut pandang
gaya bahasa
inti cerita
Pengarang menempatkan dirinya sebagai "aku" di dalam cerita. Maka, pengarang menggunakan sudut padang ....
orang pertama
orang kedua
orang ketiga
orang keempat
pengamat
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Watak tokoh aku yang penakut, dalam kutipan cerpen di atas disampaikan melalui ….
Dialog Antar Tokoh
Komentar Tokoh
Pikiran Tokoh
Penjelasan Pengarang
Pediskripsian tokoh
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
orang pertama sebagai tokoh utama
orang pertama sebagai tokoh sampingan
orang ketiga serba tahu
orang ketiga terbatas
pengamat
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerpen di atas adalah
mencintai lagu pop
naik kendaraan sambil mendengarkan musik
mendengarkan musik bersama-sama
mencintai lagu daerah
suka bernyanyi
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Permasalahan yang diangkat dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
ketakutan tokoh aku menyaksikan korban kecelakaan di rumah sakit
ketakutan tokoh aku disuntik obat bius
tokoh aku sedang menahan sakit perut
korban kecelakaan di rumah sakit
ketakutan melihat orang sakit
Tadi pagi, aku ngamuk. Rasanya, ini amukanku yang terdahsyat sepanjang sejarah. Keseeeel, …banget! Sumbernya, yah, siapa lagi kalau bukan Si Siti. Itu, pembantu baru yang kelakuannya suka bikin takjub orang serumah. Bayangkan saja, masa paper kewiraan yang sudah setengah mati kubuat, seenaknya saja dia lempar ke tempat sampah. Dia tidak tahu betapa besar pengorbanan untuk membuat paper itu. Tiga malam nyaris tidak tidur….
Sekitar pukul dua siang, perutku keroncongan minta diisi. Aku segera keluar dari kamar dan langsung ke dapur. Tapi, lho, mengapa begini sepi? Memang hari ini seluruh keluarga sedang berlibur ke Bandung. Di rumah tinggal aku dan siti saja. Lalu, ke mana dia? Aku mondar-mandir keliling rumah mencarinya, batang hidungnya pun tidak tampak.
(Siti, Maria M. Manuwembun)
Konflik dalam cerita di atas adalah...
Si aku kesal dengan tingkah laku Siti.
Si aku sedih karena lapar
Si aku merasa lapar
Si aku kesal karena tidak ada makan
Si aku sedang membuang papernya kerena lapar
Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.
Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti..( Ibu yang Anaknya Diculik Itu oleh Seno Gumira Ajidarma )
Unsur yang dominan pada kutipan cepen di atas adalah..
alur
setting
amanat
tokoh
tema
Cermatilah penggalan novel berikut ini!
(1) Tak jauh dari sebelah timur, persis di belakang kami, adalah Mongolia yang tak tersentuh, mengandung marabahaya yang menerbitkan rayuan pertualangan. (2) Ingin rasanya mencoba-coba tantangan yang dihembuskan angin-,angin lembahnya yang jahat, tidur di padang sabananya sambil menghalau serigala dengan kayu bakar, atau terhalusinasi hantu-hantu gurun yang berumur ribuan tahun. (3) Mongolia, sungguh menggoda. (4) Tapi nanti saja karena kami harus menemui janji-janji kami. (5) Kami harus ke selatan, terus beringsut ke selatan, menyelesaikan apa yang kami ikrarkan di Paris.
Edensor, Andrea Hirata
Watak tokoh "kami" pada penggalan novel tersebut adalah ....
pembangkang
pemberani
pemberontak
pecundang
pemaaf
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
(1) Godril terbangun dari tidurnya pada tengah malam (2) Wajahnya pucat dan berkeringat. (3) Tubuhnya pun basah karena keringat yang bercucuran. (4) Dia berusaha memejamkan matanya, tetapi tetap gagal. (5) Tatapannya terbentur pada langit-langit kamar hotel dan terbangun oleh mimpi-mimpi yang menakutkan.
Dikutip dari: Hamdani M.W., “Peti Mati”dalam Romansa, Yogyakarta, Labuh, 2005.
Kalimat tunggal ditunjukkan oleh kalimat nomor….
1
2
3
4
5
Bacalah penggalan cerita berikut dengan saksama!
Pak Karto terjun dari ketinggian sepuluh meter. Suasana pun senyap. Beberapa lama kemudian, Pak Karto
terperanjat. Di luar dugaan, diriya masih bertahan hidup. Ia menoleh ke atas genting. Sepuluh meter ia terjun
dengan harapan pingsan dan mati karena sudah tidak tahan menjalani beban hidup.
Tahapan alur penggalan cerita tersebut
adalah
pengenalan cerita
Pengungkapan peristiwa.
Menuju pada konflik
Puncak konflik
penyelesaian
Bacalah penggalan cerita berikut dengan saksama!
Sore ini aku tidak menggembala. Sudah menjelang maghrib, tetapi Bapak belum juga pulang. Ibu juga. Rumah
terasa ikut sunyi,benar-benar sunyi. Semenjak kuliah di Madiun, kakak keduaku, Mbak Sofwati jarang
pulang.Paling sekali dalam sebulan.Usia berbeda enam tahun dengan Mbak Sofwati, begitu pula dengan aku
dan Zain. Sedangkan kakak tertuaku, Mbak Atun, sudah bekerja.Dia mengajar di sekolah Rakyat di Madiun.Dia
juga jarang pulang.Jadi, sekarang hanya ada aku dan Zain.
(
Sepatu Dahlan
: Krisna pabicara)
Jenis tahapan alur dalam penggalan cerita
tersebut adalah…
pengenalan cerita
pengungkapa ncerita
menuju pada konflik
puncak konflik
penyelesain
Bacalah penggalan novel berikut dengan saksama!
Tiang utama Masjid Soko tunggal masih tetap kokoh. Meski sudah beberapa kali dipugar, tiang penyangga atap tidak perlu diganti. Beberapa jamaah sering mengkhawatirkan kekuatan tiang itu karena seperti mulai rapuh. Menurut para tetua, kayu tersebut berasal dari kayu jati Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
(Tiang Pancang, Yani Sutaryo)
Tahap alur penggalan novel di atas adalah ….
pengenalan sitiasi cerita
pengungkapan cerita
menuju konflik
puncak konflik
penyelesian
Sisa kejadian tiga tahun lalu boleh jadi masih terserak di mata Karang. Boleh jadi masih berserak-serak di sudut kenangannya. Tapi kabar baik itu pasti akhirnya tiba, membawa janji perubahan yang menyenangkan, lihatlah, semenyakitkan apa pun kejadian itu dia terlihat tetap tidak berubah, dia masih setampan dulu.
Moga Bunda Disayang Allah, Tere Liye
Tahapan alur pada penggalan cerita tersebut adalah ....
perkenalan
permasalahan
klimaks
antiklimaks
penyelesaian
Preman-preman itu hanya manggut-manggut saja. Baginya yang ada di pikirannya hanyalah uang. Ketika mereka mendapat perintah untuk menghabisi biang demonstran itu, tak panjang lagi mereka berpikir. Keesokan harinya hampir seluruh warga melakukan unjuk rasa. Dua sosok mayat menggelepar hampir putus lehernya. Sebagian merangsek merusak PT Sodana. Sebagian lagi berusaha membakar kantor polsek. Suasana sungguh sangat mencekam.
(Suji Membara, Iwan Sodana)
Tahapan alur penggalan cerpen di atas adalah ….
pengenalan situasi cerita (expocition)
pengungkapan peristiwa (complication)
menuju pada adanya konflik (rising action)
puncak konflik (turning point)
penyelesaian (ending)
