NEW
Font size
WorksheetsSOAL BUKU FIKSI KELAS VIII
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Perhatikan kutipan cerita berikut!
(1) Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung. (2) Hujan turun selembut embun, tetapi cukup membasahkan. (3) Hati-hati Sersan Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. (4) Ia sendiri berjalan dengan sangat hati-hati sambil menggendong bayi pada panggulnya sebelah kiri. (5) Dari bahu kanan tergantung sebuah senjata laras panjang.
Kalimat bermajas dari kutipan cerpen tersebut terdapat pada nomor ….
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(5) dan (1)
Bacalah teks berikut!
Siang telah beranjak pergi ke peraduan. Saat matahari mulai tenggelam, seekor ayam jantan terbang ke dahan pohon untuk bertengger di hutan yang mulai sepi. Sebelum beristirahat dengan santai, dia mengepakkan sayapnya tiga kali dan berkokok dengan keras. Saat dia akan meletakkan kepalanya di bawah sayapnya, matanya menangkap sesuatu yang berwarna merah dan sekilas hidung yang panjang dari seekor rubah.
Latar pada kutipan fabel tersebut adalah ....
siang hari, di kandang ayam
sore hari, di kandang ayam
malam hari, di hutan
sore hari, di hutan
Bacalah kalimat berikut!
Rio menyikapi keadaan dengan kepala dingin sambil menunggu polisi lalu lintas mengatasi masalahnya.
Makna ungkapan kepala dingin dalam teks tersebut adalah ….
bijaksana dan patuh
tenang dan sabar
cermat dan bijaksana
gelisah dan khawatir
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
“Maafkan saya, Niken. Saya memang khilaf waktu itu,” kataku pelan. Akhirnya, muncul juga kata-kata itu setelah beberapa waktu tak juga ada keberanian untuk mengatakannya. Ya, aku memang harus minta maaf. Aku sadar, sikap dan kata-kataku beberapa waktu yang lalu
kepadanya tentu saja telah membuatnya marah dan sakit hati. Saat ini aku sudah bersiap untuk menerima
perkataan paling kasar sekali pun dari mulut Niken. Niken diam sejenak lalu memandangku sambil tersenyum.
Amanat kutipan cerpen tersebut adalah …
Memberi maaf tidak harus diucapkan dengan kata-kata.
Hadapilah segala permasalahan dengan senyuman.
Beranilah meminta maaf jika melakukan kesalahan.
Dalam persahabatan hendaknya saling memaafkan.
Bacalah teks berikut dengan saksama!
“Ya Tuhan, apakah aku termasuk murid yang berat kepala hingga tak mampu menampung semua mata pelajaran dengan baik? Saat ini teman-temanku menginjak kelas XI, tapi aku? Aku masih harus mengulangi kelas X lagi. Ya Tuhan, apakah Kau ciptakan aku dengan otak udang ini?” Aku menjerit dalam hati. Air mataku tak henti-hentinya mengalir membasahi pipiku. Aku seharusAku tak mampu menerima kenyataan. Aku selalu mencoba lari dari semua yang terjadi, tapi aku gagal.
Makna ungkapan berat kepala pada teks tersebut adalah ….
sukar menangkap pelajaran
mudah mengantuk
tidak mau menurut pada nasihat orang
malas belajar
Bacalah kutipan cerita berikut!
Kursi-kursi tunggu penuh dengan orang-orang yang akan bepergian jauh. Di sampingnya terdapat bermacam-macam tas besar atau kecil. Suasana di sana tampak ramai, ditambah lagi dengan lalu-lalangnya para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya.
Latar cerita tersebut adalah ….
di dalam bus
di dalam kereta
di stasiun
di ruang tunggu bandara
Perhatikan kutipan cerita berikut!
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku, membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor ….
(1)
(3)
(4)
(5)
Perhatikan kutipan cerita berikut!
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku, membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam kutipan cerita tersebut adalah ....
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang ketiga serbatahu
orang ketiga sebagai pengamat
Bacalah penggalan cerita berikut dengan cermat!
Hari Sabtu sebelum magrib, waktu langit masih terang, empat orang sahabat, yaitu Hidayat, Pena, Hasan, dan Sadikin berkumpul di Kadudampit, di kaki Gunung Gede. Tempatnya sangat menyenangkan. Cuacanya sejuk. Rumahnya bersandar pada dinding lembah, berdiri di atas tiang-tiang kayu yang besar-besar, menghadap ke Sungai Cigunung, yang berair jernih.
Hal yang menonjol pada kutipan cerita tersebut adalah ….
alur
latar
tema
amanat
Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) ”Saya tidak suka kamu menasihati saya,” kata Namsu sambil menunjuk jidat Kusni, “janganlah merasa punya ilmu banyak!” (2) “Bukan begitu, Nam, hidup ini harus saling mengisi, mengingatkanlah,” Kusni sedikit membela. (3) ”Boleh kamu mengingatkan dengan pengetahuanmu, tapi jangan lagi kepada saya!” kata Namsu ketus sambal ngeloyor entah ke mana. (4) Kusni terdiam lama di bangku tunggu teras kelurahan sambil mengelus-elus dahinya.
Bukti watak tokoh Namsu seorang yang sombong terdapat pada nomor ....
(1) dan (3)
(1) dan (4)
(2) dan (3)
(2) dan (4)
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Pagi begitu cepat. Matahari di ufuk timur nampak kemerahan. Indah sekali. Kania dan Obit sudah siap dengan segala peralatan yang dibutuhkan. Peralatan yang kira-kira hanya merepotkan kami tinggal di tenda perkemahan. Kami tidak ingin memperberat tas dengan benda tidak dibutuhkan. Sekitar seperenambelas jalan, Kania sudah kelelahan. Aku dan Obit pun demikian. Wajah Kania sudah dibanjiri ribuan tetes peluh. Obit mencoba menyemangati sahabatnya itu.
Kalimat yang dicetak miring menggunakan majas ….
hiperbola
personifikasi
metafora
simile
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sekalipun miskin, Sandat selalu menanamkan kepercayaan diri yang besar kepada Cenana, anak semata wayangnya. “Hidup selalu berubah. Kau boleh punya banyak impian. Kita tahu bahwa kita masih hidup, masih beruntung. Tapi jangan pernah memaksakan semua mimpimu jadi kenyataan. Kejarlah yang kira-kira dapat kaucapai saja. Ah, kau makin besar, sehat, dan cantik,” kata Sandat.
Tokoh Sandat dalam kutipan cerita tersebut memiliki watak ….
penyabar
rendah hati
pesimistis
bijaksana
Cermati kutipan cerpen berikut!
Siti masih bertahan di halte itu yang berada di sisi barat sebuah universitas. Beberapa bus kota dibiarkannya lewat begitu saja. Ia masih setia menunggu Agus yang akan menuju ke arah stasiun kereta yang sama dengannya. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Agus belum juga tiba. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Agus ingkar janji? Tatapan Siti kini tertuju pada sebuah lingkaran jingga matahari yang mulai tenggelam
ke arah barat.
Latar waktu dan tempat yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
sore hari, di sebuah universitas
malam hari, di tepi jalan raya
siang hari, di sebuah halte bus
sore hari, di sebuah halte bus
Cermati kutipan cerita berikut!
Hingga tiba saatnya hari kelulusan. Dengan perjuangan yang keras, aku dapat lulus dari sekolah ini dengan predikat siswa terbaik. Dan tidak hanya itu, impianku untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berhasil kuraih. Satu lagi mimpiku yang dapat menjadi nyata. Sungguh besar anugerah Tuhan untukku dan hanya dengan bersyukurlah caraku untuk berterima kasih.
Watak tokoh aku pada kutipan tersebut adalah ….
bijaksana
tegar
gigih
rela berkorban
Perhatikan kutipan cerita berikut!
Bila seseorang bertanya pekerjaan apa yang saya lakukan, maka saya tak mampu menjawabnya. Wajah saya langsung menjadi merah padam dan tergagap-gagap. Saya cemburu terhadap orang yang bisa mengatakan, “Saya tukang batu.”
Watak tokoh saya dalam penggalan cerita tersebut adalah ….
penakut
pemalu
pendiam
pembohong
Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) Kini giliranku memegang senter, menaklukkan semak-semak, kayu berduri, dan batang-batang angkuh di depanku. (2) Sebelumnya dua kawanku secara bergantian telah menyelesaikan pembagian tugas membuka jalan. (3) Ya, ini kesepakatan kami; yang terdepan membuka jalan, di tengah membawa ransel berisi makanan, sedangkan yang paling belakang membawa matras. (4) Dan ini dilakukan secara bergantian.
Bukti latar waktu kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat ….
(1)
(2)
(3)
(4)
Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) Kini giliranku memegang senter, menaklukkan semak-semak, kayu berduri, dan batang-batang angkuh di depanku. (2) Sebelumnya dua kawanku secara bergantian telah menyelesaikan pembagian tugas membuka jalan. (3) Ya, ini kesepakatan kami; yang terdepan membuka jalan, di tengah membawa ransel berisi makanan, sedangkan yang paling belakang membawa matras. (4) Dan ini dilakukan secara bergantian.
Kutipan cerpen tersebut menggunakan sudut pandang ....
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang ketiga serbatahu
orang ketiga sebagai pengamat
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun, ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar singkong yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, tapi batang singkong itu tetap tegak di tengahnya. Rasus menyuruh kedua temannya untuk mencari sebatang cungkil.
Kutipan cerpen tersebut menggunakan sudut pandang ....
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang ketiga serbatahu
orang ketiga sebagai pengamat
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Suatu hari ketika matahari hendak masuk ke peraduannya, hawa panas bertukar menjadi agak sejuk dan angin lemah lembut bertiup sepoi-sepoi. Pohon pohon kenari yang besar-besar dan tinggi di kanan kiri jalan menggerakkan ranting dan daun-daunnya. Udara pada waktu itu terasa sangat nyaman. Orang-orang yang telah pulang bekerja, duduk-duduk di depan rumahnya.
Latar waktu pada penggalan cerita di atas ialah ….
pagi hari
siang hari
sore hari
malam hari
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Jon dan Con anak kembar. Jon kepala regu dan aku wakilnya. Kami bersepuluh sedang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan saksama dari puncak bukit “panik”, pos kami terdepan. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong kampung-kampung di bawah kami dari semak-semak. Jon melambai dan aku mendekat.
“Aku akan turun ke kampung di bawah itu.”
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
puncak bukit
daerah patroli
kampung
semak-semak
