NEW
Font size
Worksheetslatihan Bahasa Indonesia XII
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Cermatilah penggalan teks cerita sejarah berikut!
Seorang laki-laki bernama Toba yang hidupnya sederhana tidak memiliki keluarga, hal yang Toba lakukan hanya memancing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Penggalan tersebut merupakan bagian:
Pengenalan situasi
Pengungkapan peristiwa
Menuju konflik
Puncak konflik
Penyelesaian
Cermatilah penggalan teks cerita sejarah berikut!
Pada suatu hari saat memancing Toba mendapati kail pancingnya menangkap ikan yang besar. Namun Toba terkejut saat mendapati ikan besar tersebut berubah menjadi seorang wanita cantik.
Penggalan tersebut merupakan bagian:
Pengenalan situasi
Pengungkapan peristiwa
Konflik
Puncak konflik
Penyelesaian.
Akhirnya dia memutuskan pulang untuk makan, sampai di tengah jalan dia menemukan anaknya sedang tidur dengan bekal di sampingnya. Ketika dibangunkan Samosir mengaku telah memakan habis bekalnya dan tertidur disana.Alangkah marahnya Toba mendengar anaknya yang masih bersikukuh merasa dirinya benar. Hingga akhirnya tak sengaja dia melanggar sumpahnya dengan berujar bahwa Samosir adalah anak ikan.
Penggalan tersebut merupakan bagian:
Pengungkapan peristiwa
Konflik
Puncak konflik
Penyelesaian
Koda
Pelarian-pelarian politik dari Nederland, Sneevliet, clan Baars itu semakin giat di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Mereka membuka pidato di mana-mana, seperti takkan kering-kering kerongkongan mereka. Lari dari pertentangan intern di Nederland ke Hindia, mereka anggap diri seakan-akan jago-jago tanpa lawan, seakan-akan Hindia negerinya sendiri yang dipayungi oeh hukum demokratis. Bemntung mereka bergerak hanya di kalangan orangorang yang berbahasa Belanda, yang menduduki tempat sosial yang rendah clan hidup dalam kemasygulan.
Teks tersebut termasuk bagian….
pengenalan situasi
pengungkapan peristiwa
menuju konfliks
pengenalan situasi
puncak konflik
Dalam terdiam yang sekilas begini, dia menemukan jawaban yang cerdik. Yaitu, dia anggap lebih baik bertanya, meminta pendapat atau saran dari Danurejo II. “Dus apa saran Tuan?”
Mersa diakajeni, Danurejo II menjawab lurus, “Sebetulnya, melawan kompeni disadari Sri Sultan sebagai menimba air dengan keranjang.”
Hm?”
“Tapi. Seandainya terjadi persatuan yang menggumpal antara rakyat Yogyakarta dan rakyat Surakarta, bagaimanapun hal itu bisa menjadi kekuatan yang tidak terduga.”
Fakta sejarah yang terdapat dalam penggalan di atas adalah…
Keadaan Majapahit
Perjuangan Ronggo Lawe
Perjuangan Gajah Mada
Kerajaan Taruma negara
Perjuangan Diponegoro
Makna peribahasa ” Bagai menimba air dengan keranjang” adalah…
Perbuatan yang tidak perlu dilakukan.
Pekerjaan sia-sia.
Perbuatan yang bodoh.
Pekerjaan orang yang tidak cerdas.
Perbuatan orang-orang zaman dahulu.
Dyah Menurberbalik dengan memejamkan mata. Dyah Menur Hardiningsih yang menggendong anaknya dan Pradhabasu yang juga menggendong anaknya, berjalan makin jauh dan makin jauh ke arah surya di langit barat. Dan sang waktu sebagaimana kodratnya akan mengantarkan ke nama pun mereka melangkah. Sang waktu pula yang menggilas semua peristiwa menjadi masa lalu.
Kutipan novel sejarah di atas merupakan….
pengungkapan peristiwa
menuju konfliks
pengenalan situasi
puncak konflik
koda
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhimerestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabku kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka tak selalu berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang tak berani yang mengingkari kebenaran mereka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di muka bumi ini….” Dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa. (Pramudya Ananta Toer, Mangir, Jakarta,KPG,2000)
Nilai yang mendominasi dalam kutipan teks sejarah tersebut adalah….
Agama
Moral
Pendidikan
Budaya
Estetika
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhimerestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabku kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka tak selalu berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang tak berani yang mengingkari kebenaran mereka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di muka bumi ini….” Dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa. (Pramudya Ananta Toer, Mangir, Jakarta,KPG,2000)
Amanat dalam kutipan teks sejarah tersebut adalah….
Perbuatan dosa dan dusta sama-sama akan melanggar keadilan.
Janganlah berbuat dusta karena akan menutup kesucian hati nurani.
Jangan takut membela kebenaran, karena sama buruknya dengan kejahatan.
Segala amalan akan diperhitungkan di hari akhir, sehingga senantiasa berbuat baik.
Seseorang yang memeliki kebenaran dalam hatinya akan selalu direstui Sang Kuasa.
Di depan Ratu Biksunu Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh jadi merupakan penampakan dari sisi hatinya yang tidak bisa menerima dengan tulus pernikahan itu. Ketika para ibu Ratu menangis yang menulari siapapun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak menitihkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadi di ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris di dada keris di tangan prajurit tampan itu masih terbayang di kelopak matanya.
Sudut pandang.penceritaan di atas adalah….
Orang ke tiga tak sertaan
Orang tertama pelaku utama
Orang ke tiga pelaku utama
Orang ke tiga serba tahu
Orang pertama pelaku sampingan
