wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

LATIHAN ANBK LITERASI SDN KARANG

Total questions: 20

Worksheet time: 5hrs 0mins

Name
Class
Date
1.

Perhatikan informasi dalam gambar berikut!

Berdasarkan informasi pada gambar wacana, manakah pernyataan yang sesuai dengan kondisi Taman Nasional Komodo?

a)

Taman Nasional Komodo hanya berlokasi utama di Pulau Komodo.

b)

Komodo pada dasarnya pemburu pasif yang melumpuhkan mangsa dengan gigitan.

c)

Tikus endemik dan rusa timor termasuk jenis fauna di Taman Nasional Komodo.

d)

Taman Nasional Komodo diakui sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO sekitar 11 tahun setelah didirikan.

2.

SEPEDA MOTOR

Pernahkah kamu terbangun dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres? 

Itulah persis dengan yang saya rasakan di suatu hari.

Saya duduk di kasur.

Tidak berapa lama, saya membuka tirai jendela. 

Cuaca hari itu buruk sekali – disertai hujan deras dan angin lebat. 

Kemudian saya melihat ke arah halaman rumah.

Aduh! Ternyata benar! Itu dia – sepeda motor saya. Kondisinya rusak berat seperti keadaan tadi malam. 

Dan kaki saya mulai sakit.

Sesuatu telah terjadi pada orang dalam cerita di atas malam sebelumnya. Apakah peristiwa itu?

a)

Cuaca buruk telah merusak sepeda motor tetangganya

b)

Cuaca buruk membuat dia tidak jadi keluar rumah

c)

Orang itu telah membeli sepeda motor

d)

Orang itu telah mengalami kecelakaan sepeda motor

3.

SEPEDA MOTOR

Pernahkah kamu terbangun dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres? 

Itulah persis dengan yang saya rasakan di suatu hari.

Saya duduk di kasur.

Tidak berapa lama, saya membuka tirai jendela. 

Cuaca hari itu buruk sekali – disertai hujan deras dan angin lebat. 

Kemudian saya melihat ke arah halaman rumah.

Aduh! Ternyata benar! Itu dia – sepeda motor saya. Kondisinya rusak berat seperti keadaan tadi malam. 

Dan kaki saya mulai sakit.

Pada baris ke 6 terdapat kata: “Aduh!” Mengapa orang dalam cerita mengucapkan kata ini?

a)

Orang itu telah berhasil mengerjakan sesuatu yang sulit

b)

Orang itu baru saja menyadari bahwa cuaca hari itu tidak jelek

c)

Orang itu baru menyadari memang ada sesuatu yang tidak beres

d)

Orang itu merasa senang dapat melihat sepeda motornya kembali

4.

SEPEDA MOTOR

Pernahkah kamu terbangun dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres? 

Itulah persis dengan yang saya rasakan di suatu hari.

Saya duduk di kasur.

Tidak berapa lama, saya membuka tirai jendela. 

Cuaca hari itu buruk sekali – disertai hujan deras dan angin lebat. 

Kemudian saya melihat ke arah halaman rumah.

Aduh! Ternyata benar! Itu dia – sepeda motor saya. Kondisinya rusak berat seperti keadaan tadi malam. 

Dan kaki saya mulai sakit.

“Itulah persis dengan yang saya rasakan di suatu hari.” Hari seperti apakah yang dimaksud dalam cerita ini?

a)

Hari yang baik

b)

Hari yang buruk

c)

Hari yang menyenangkan

d)

Hari yang membosankan

5.

Pishi di Tengah Badai

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Hindia. Pishi dan teman-temannya sangat bahagia hidup di Samudra Hindia, bersama 500 jenis makhluk laut lainnya.

Pishi dan teman-temannya sedang bermain ketika kapal nelayan datang. Semua ikan berpencar menyelamatkan diri. Pishi jadi sendirian. Kemudian terjadi badai besar. Lautan menjadi gelap sehingga Pishi kehilangan arah. Ombak besar membawa Pishi ke bawah kapal nelayan. Pishi membentur kapal, perutnya terluka.

Pishi harus segera mengobati lukanya. Pishi berenang mendekati pantai. Di sana ada rumah sakit alam. Pishi tidak bisa berenang dengan cepat karena tubuhnya yang besar. Berat tubuh Pishi 900 kilogram dan panjangnya 10 meter.

Setelah jauh berenang, Pishi sangat senang melihat lampu mercusuar. Itu tandanya Pishi sudah sampai di rumah sakit alam. Ikan-ikan kecil langsung mendekati Pishi. Mereka membersihkan luka di perut Pishi. Beberapa hari kemudian, luka Pishi pun sembuh. Pishi sangat berterima kasih kepada ikan-ikan kecil yang merawatnya. 

Ikan-ikan kecil itu memakan parasit dan jaringan kulit mati di tubuh ikan pari. Hubungan antara Pishi dan ikan-ikan kecil adalah hubungan yang saling menguntungkan. Tubuh ikan pari menjadi bersih, ikan-ikan kecil pun menjadi kenyang.

 

Siapakah Pishi dan di mana ia tinggal?

 

a)

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di Samudra Hindia.

b)

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Hindia.

c)

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di Samudra Atlantik.

d)

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Atlantik.

6.

 HARUS BISA

Aldo masuk sekolah sepak bola Mitra Naga. Dia rajin berlatih karena ingin menjadi pemain penyerang. Aldo selalu bersemangat setiap latihan. Dia berlatih menggiring bola, berlari kencang, dan merebut bola. Aldo paling jago merebut bola dibandingkan teman-temannya.

Sayangnya, saat pertandingan, pelatih menunjuk Aldo menjadi pemain belakang. Aldo sangat kecewa. Saat pertandingan berlangsung,  Aldo terus menendang bola hingga ke depan gawang. Aldo melewati teman satu timnya yang berjaga di depan. Aldo tidak mengikuti arahan pelatih yang meminta Aldo mengoper bola. Akibatnya, saat pemain lawan menerobos,  tidak ada yang menjaga bagian belakang. Tim lawan berhasil menciptakan gol. Teman-teman kesal pada Aldo. Pelatih menyuruh Aldo menjaga posnya.

  

Babak kedua berlangsung. Aldo menjaga posnya, di bagian belakang. Bola dioper dari satu pemain ke pemain lainnya, hingga mendarat di kaki Aldo. Teman satu tim Aldo yang berjaga di pos depan dihalangi tim lawan. Aldo ingin menggiring bola ke arah gawang lawan, tetapi dia pemain belakang.

  

Pelatih kebingungan. Dia lalu berteriak menyuruh Aldo untuk terus menggiring bola ke depan. Aldo terus berlari menggiring bola. Dia melewati tim lawan yang berusaha merebut bola. Aldo melakukan tendangan kencang hingga bola meluncur ke gawang lawan. Aldo menciptakan satu gol, jadi pertandingan berakhir seri. Sekarang Aldo mengerti, permainan sepak bola adalah permainan tim. Semua posisi penting. Mereka harus bekerja sama untuk menciptakan gol. 

 

Siapa saja tokoh  dalam cerita "Harus Bisa" ?

4 lines
7.

Di perkotaan, anak-anak dapat mudah bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun, tidak demikian bagi anak-anak yang berada di pedesaan.  

Simak tiga cuplikan berikut dari Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. 

Teks 1:

“Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh.”

(Hirata, 2008, hal. 1)  

Teks 2:

“Aku cemas… karena beban perasaan  ayahku menjalar ke sekujur tubuhku…Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.”

(Hirata, 2008, hal. 2) 

Teks 3:

“Keluarga Lintang berasal dari Tanjung Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram…. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.”

(Hirata, 2008, hal. 11) 

 

Bagaimana cara menuju  tempat tinggal Lintang?

(a)  

8.

Simak cuplikan  dari Buku Laskar Pelangi, yang ditulis oleh Andrea Hirata. 

... Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan perjalanannya.

 Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor, dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer.

 Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat puting beliung, pada musim demam, pada musim sampar  sehari pun Lintang tak pernah bolos.

Kesulitan apa saja yang dialami Lintang saat pergi ke sekolah?

(a)  

9.

Bekantan Monyet Berhidung Besar

Salah satu hewan asli yang berasal dari Kalimantan adalah bekantan. Bekantan merupakan jenis monyet dengan hidung besar yang besar dan memiliki rambut berwarna cokelat kemerahan. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar. Ciri utama ini  hanya ditemukan pada bekantan spesies jantan. Hidung bekantan jantan begitu besar yang terlihat menggantung di atas mulut. Jika ingin makan,  si jantan ini harus mendorong hidungnya keluar dari mulut agar dapat meletakkan makanan ke dalam mulut mereka.

Bekantan jantan berukuran lebih besar daripada bekantan betina. Ukuran bekantan jantan dapat mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg, sedangkan bekantan betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. Makanan bekantan adalah buah-buahan dan biji-bijian. Selain itu, bekantan memakan aneka daun-daunan. Namun, makanan daun-daunan ini  menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

Saat ini, populasi bekantan menurun drastis. Hal tersebut disebabkan  perburuan liar yang dilakukan oleh manusia. Selain itu, hutan tempat bekantan tinggal juga rusak karena penebangan hutan. Pohon-pohon yang menjadi tempat tinggal bekantan berkurang sehingga bekantan tergusur. Para bekantan tersebut kerap mendatangi perkampungan manusia untuk mencari makan.  

 

Ide pokok paragraf terakhir pada wacana tersebut adalah. . .

a)

Saat ini, populasi bekantan menurun drastis.

b)

Hal tersebut karena perburuan liar yang dilakukan oleh manusia. 

c)

 Pohon-pohon yang menjadi tempat tinggal bekantan berkurang.

d)

Hutan tempat bekantan tinggal juga rusak karena penebangan hutan. 

10.

KUDA LAUT

Kuda laut merupakan hewan laut yang memiliki kepala seperti bentuk kepala kuda dan moncong yang panjang. Ukuran tubuh kuda laut juga bervariasi, bisa mencapai sekitar 35 cm. Meskipun merupakan hewan laut, kuda laut ini buruk dalam berenang. Ia memiliki kecepatan berenang sangat lambat. Ini disebabkan oleh keunikan bentuk tubuhnya yang tegak. Keunikan tubuhnya yang tegak juga membuat ia berenang secara vertikal, bukan horisontal seperti ikan lainnya. Selain keunikan pada tubuhnya, kuda laut juga ternyata memiliki cara berkembang biak yang unik.

Kuda laut betina meletakkan telur-telurnya ke dalam kantung yang terletak di perut kuda laut jantan. Kuda laut jantan juga membawa telur-telur itu ke mana pun ia pergi. Setelah beberapa lama, tibalah waktunya melahirkan. Kuda laut jantan membuka kantung di perutnya, kemudian ratusan bayi kuda laut berhamburan ke laut. Sayangnya, dalam ratusan kelahiran bayi kuda laut, hanya beberapa saja dapat bertahan hidup hingga dewasa dan berkembang biak. Populasi kuda laut terus menurun akibat pemangsa, polusi, perusakan habitat, dan perdagangan secara ilegal.

 

Mengapa kuda laut memiliki kemampuan berenang yang buruk?

(a)  

11.

Bekantan Monyet Berhidung Merah

Salah satu hewan asli yang berasal dari Kalimantan adalah bekantan. Bekantan merupakan jenis monyet dengan hidung besar yang besar dan memiliki rambut berwarna cokelat kemerahan. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar. Ciri utama ini  hanya ditemukan pada bekantan spesies jantan. Hidung bekantan jantan begitu besar yang terlihat menggantung di atas mulut. Jika ingin makan,  si jantan ini harus mendorong hidungnya keluar dari mulut agar dapat meletakkan makanan ke dalam mulut mereka.

Bekantan jantan berukuran lebih besar daripada bekantan betina. Ukuran bekantan jantan dapat mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg, sedangkan bekantan betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. Makanan bekantan adalah buah-buahan dan biji-bijian. Selain itu, bekantan memakan aneka daun-daunan. Namun, makanan daun-daunan ini  menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

Saat ini, populasi bekantan menurun drastis. Hal tersebut disebabkan  perburuan liar yang dilakukan oleh manusia. Selain itu, hutan tempat bekantan tinggal juga rusak karena penebangan hutan. Pohon-pohon yang menjadi tempat tinggal bekantan berkurang sehingga bekantan tergusur. Para bekantan tersebut kerap mendatangi perkampungan manusia untuk mencari makan.  

Ciri utama yang membuat monyet dan bekantan berbeda berdasarkan bacaan tersebut adalah . . .

a)

Ukuran tubuh yang dimiliki oleh bekantan betina

b)

Hidung panjang dan besar pada spesies jantan

c)

Makanan yang biasa dimakan sehari-hari

d)

Tempat tinggal bekantan yang ada di pedalaman

12.

ROBOT PEMADAM KEBAKARAN

               

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta sekarang memiliki robot canggih. Robot itu disebut Dok-Ing MVF-3. Bentuknya seperti mobil. Fungsinya memudahkan pekerjaan para petugas pemadam kebakaran. Robot ini telah diuji coba di Pusdiklatsar Ciracas, Jakarta pada hari Kamis tanggal 6 Februari 2020.

 Robot ini dapat dikendalikan dari jarak 1,5 km dengan menggunakan pengendali jarak jauh. Cara tersebut memudahkan petugas jika ada titik api yang sulit dijangkau atau berbahaya. Kebakaran yang terjadi di area pabrik, SPBU, atau tempat-tempat berbahan kimia lainnya dapat diminimalisasi dengan robot Dok-Ing MVF-3.  Dengan robot Dok-Ing MVF-3, api akan lebih mudah dipadamkan dan potensi ledakan yang dihasilkan dari bahan-bahan kimia dapat diminimalisasi.

Robot canggih ini dilengkapi dengan GPS dan kamera. Kamera yang digunakan adalah kamera anti air dan kuat dalam berbagai kondisi. Sang operator dapat memantau keberadaan robot tersebut dengan menggunakan GPS dan melihat kawasan yang sedang dipadamkan melalui kamera.

Robot ini sangat kuat. Dia dapat menampung 2500 liter air dan 500 liter busa. Robot ini juga bisa menyemprotkan air sejauh 55 meter dan dapat menyemprotkan busa sejauh 45 meter. Beban yang dapat ditariknya  adalah 6 ton, beban yang dapat didorong mencapai 10 ton.

Apa saja dampak positif penggunaan robot pemadam kebakaran?

a)

Mengurangi risiko bahaya untuk korban dan petugas pemadam kebakaran. 

 

b)

Meningkatkan potensi ledakan pada kebakaran di SPBU.

c)

Menurunkan kerugian ekonomi.

d)

Menambah jumlah petugas yang harus menangani kebakaran.

13.

Uniknya Burung Scarlet Ibis

Burung scarlet ibis adalah burung yang hidup di pulau-pulau tropis Karibia, Amerika Selatan.

Ukuran burung ini cukup besar, panjang tubuhnya mencapai 70 cm dan beratnya sekitar 700-900 gram.

Seperti burung lain yang hidup di dekat perairan, burung scarlet ibis memiliki paruh panjang melengkung yang bisa digunakan untuk mencari makan di dalam lumpur.

Bulu burung scarlet ibis amatlah indah. Warnanya merah menyala. Namun, warna merah itu baru muncul saat burung scarlet ibis dewasa. Ketika baru menetas dari telurnya, warna burung ini abu-abu, cokelat, putih, atau campuran ketiganya. Setelah burung scarlet ibis memasuki masa remaja, bulunya perlahan-lahan berubah warna menjadi merah.

Warna pada bulu burung scarlet ibis disebabkan oleh astaxanthinAstaxanthin adalah zat warna merah alami yang didapatkan burung scarlet ibis dari makanan kesukaannya, yakni kepiting merah dan udang.

Karena warna bulu burung scarlet ibis bergantung pada makanannya, warna ini bisa saja menjadi pudar atau kembali menjadi abu-abu atau putih ketika burung ini kekurangan asupan makanan. Oleh karena itu, biasanya burung-burung scarlet ibis yang berada di kebun binatang sering diberi makanan yang mengandung buah bit dan wortel agar keindahan warna bulunya terjaga.

Jika kamu mendapat tugas merawat burung scarlet ibis, apa yang akan kamu lakukan agar warna bulu burung itu tetap merah menyala?

(a)  

14.

Hari Sabtu Telah Datang

Senangnya hari Sabtu telah datang

Dengar, dengar, jam dinding berdentang

Senyumlah dan hilangkan segala lara

Saatnya berangkat ke sekolah segera

Siapkan semangat dan peralatanmu

Kain lap, tongkat pel, kemoceng dan sapu

Ayo kita kerja bakti bersama-sama

Bersihkan lantai, lemari, kursi, dan meja

Mari ringankan kaki dan tangan

Tugas berat menjadi ringan

Oh, senangnya bergotong-royong

Kita saling tolong-menolong.

Mengapa para siswa merasa senang?

a)

Karena hari itu hari Sabtu.

b)

Karena tugas mereka ringan.

c)

Karena mereka akan bekerja bakti.

d)

Karena hari itu hari libur.

15.

Simak cuplikan  dari Buku Laskar Pelangi, yang ditulis oleh Andrea Hirata. 

... Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan perjalanannya.

 Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor, dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer.

 Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat puting beliung, pada musim demam, pada musim sampar  sehari pun Lintang tak pernah bolos.

Pembuktian Lintang sebagai seorang anak yang bersemangat dalam menuntut ilmu adalah…

(a)  

16.

'Perempuan – perempuan perkasa' karya Hartoyo Andangjaya, 1963

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,  dari manakah mereka.. Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa sebelum peluit kereta pagi terjaga.. Sebelum hari bermula dalam pesta kerja..

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, ke manakah mereka.. Di atas roda-roda baja mereka berkendara. Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota.. Merebut hidup di pasar-pasar kota..

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka.. Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa. akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota.. Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.. 

(Hartoyo Andangjaya, 1963)

Jika kamu membaca puisi tersebut, sikap apa yang dapat ditiru dari tokoh dalam puisi tersebut?

a)

Hemat

 

b)

Kerja keras

c)

Rajin

d)

Santai

17.

CAPUNG KUNING RARA

Karya: Sopiani

Aku berlari ke deretan pohon jagung. Di sana, kulihat banyak capung hijau dan capung kuning beterbangan. Aku sangat suka capung. Mereka adalah binatang kecil yang dapat terbang dan memiliki banyak warna, seperti kuning, hijau, dan merah. Aku pun menemukan beberapa capung yang sedang hinggap di rerumputan. Hati-hati kudekati capung-capung itu dan kuarahkan saringan yang kubawa untuk menangkapnya. Kugerakkan tanganku pelan-pelan dan kuhitung dalam hati, satu, dua, tiga! Ah, sayangnya percobaan pertamaku gagal.

Kuulangi lagi langkah-langkah untuk menangkap capung sampai akhirnya kudapatkan seekor capung dalam saringanku. Aku pun bersorak bahagia karena berhasil menangkap capung. Apalagi, itu adalah capung berwarna kuning. Kupandangi cukup lama gerak-gerik capung kuning itu dan kubuka saringannya. Setelah itu, kubiarkan capung kuning itu untuk terbang bebas lagi. Keharusan melepaskan capung setelah menangkapnya adalah pesan yang selalu dikatakan Ibu kepadaku. Wanita yang paling kusayang itu mengatakan bahwa aku tidak boleh menyakiti binatang. Menangkap capung dan membawanya ke rumah hanya akan menyakiti dan membunuh capung tersebut.

Setelah kulepaskan, capung kuning itu terbang tinggi melewati tingginya pepohonan jagung, kepalaku pun mendongak ke atas untuk melihat capung itu terbang berputar-putar sampai akhirnya capung itu tiba di depan kepalaku. Aku merasa ada yang salah saat aku melihat capung kuning itu. Tiba-tiba, capung kuning yang kulihat tadi pelan-pelan bertambah besar, bahkan besarnya melebihi ukuran tubuhku. Aku terkejut dan ketakutan melihat capung kuning itu. Sampai akhirnya, terdengar suara yang berbicara kepadaku.

“Jangan takut, Rara. Namaku Caca, capung yang kamu tangkap tadi.”

“Ke ... ke ... kenapa kamu bisa jadi besar seperti ini, Capung?” Aku pun menjawab terbata-bata.

“Aku hanya ingin berteman denganmu, Rara. Aku sudah beberapa kali melihatmu. Kamu adalah anak yang baik. Kamu mau ikut terbang bersamaku, Rara?”

“Terbang? Apakah kamu bisa membawaku terbang, Capung?”

“Tentu, aku akan memperlihatkan padamu indahnya kebun dan sawah dari atas. Naiklah ke punggungku, Rara. Oh iya, panggil saja aku Caca.”

Aku pun naik ke punggung Caca, capung kuning yang kutangkap tadi. Pelan-pelan, Caca mulai mengepakkan sayapnya dan kami pun mulai menjauh dari permukaan tanah. Tidak kusangka, kini aku berada di udara. Pepohonan tinggi yang kulihat tadi, kini ada di bawahku. Kebun, sawah, dan pepohonan kini terlihat sangat kecil, tetapi sangat indah dipandang.

“Kamu menyukai pemandangan dari atas sini kan, Rara?”

“Iya, aku suka sekali, Caca. Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang terbang. Semuanya nampak indah.”

“Dahulu, pemandangannya bahkan lebih indah dari ini, Rara. Lebih banyak pepohonan dan berbagai jenis rerumputan, juga bunga-bunga yang indah bermekaran. Burung-burung dan binatang-binatang kecil pun jauh lebih banyak dan beragam daripada sekarang.”

“Wah, mengapa sekarang jadi berbeda, Caca? Apa penyebabnya?”

“Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang merusak alam. Mereka dengan mudah menebang hutan sembarangan dan memburu binatang. Coba lihat ke bawah, Rara. Di sana ada beberapa anak yang sedang bermain. Tapi, sayangnya anak-anak itu bermain dengan memetik bunga dan dedaunan sembarangan.”

“Iya, aku melihatnya. Bagaimana kalau kita temui sebentar anak-anak itu?”

Caca pun mengikuti ajakan Rara. Mereka mendarat di sebuah kebun tempat beberapa anak sedang bermain.

“Halo, teman-teman, mengapa kalian memetik bunga-bunga dan dedaunan di kebun dengan sembarangan?”

“Siapa kamu, mengapa kamu tiba-tiba memarahi kami?” ucap seorang anak lelaki yang sebaya dengan Rara.

“Aku Rara dan aku tidak bermaksud memarahi kalian. Aku hanya bertanya dan ingin mengingatkan kalian untuk lebih menjaga tanaman-tanaman ini.”

“Kami hanya bermain sambil berjalan-jalan. Kami sangat menyukai tanaman di sini sehingga ingin memetiknya,” ucap seorang anak perempuan yang paling tinggi di antara mereka.

“Wah, aku pun sama seperti kalian. Aku sangat menyukai tanaman-tanaman yang ada di sini. Tetapi, apabila kita menyukai sesuatu, kita harus menjaga dan merawatnya. Sementara, memetik bunga dan dedaunan tidak akan membuat tanaman ini terjaga dan terawat, tetapi malah akan menyakitinya.”

“Mengapa tanaman-tanaman ini bisa tersakiti kalau kami memetiknya?” tanya anak lelaki tadi.

“Teman-teman, tanaman ini sama seperti kita, memiliki bagian-bagian yang saling membutuhkan. Misalnya pada tubuh kita, apabila ada satu bagian yang tidak ada, tubuh kita tidak akan berfungsi dengan sempurna. Tanaman ini pun demikian. Apabila kita memetik bunga atau daunnya sembarangan, proses pertumbuhan tanaman ini pun akan terganggu.”

Anak-anak yang sedang bermain itu tampak memikirkan kata-kata Rara dengan serius.

Seorang anak perempuan berbaju merah muda berkata, “Kami mengerti maksudmu, Rara. Kalau memetik bunga dan dedaunan malah menyakiti tanaman-tanaman ini, kami tidak akan melakukannya. Kami sangat menyukai tanaman di sini dan tidak ingin menyakiti mereka. Sekarang, kami tidak akan memetik bunga dan dedaunan dengan sembarangan lagi. Betul, kan, teman-teman?”

“Iya, betul!” serentak anak-anak itu menjawab.

“Terima kasih, teman-teman. Semoga kita dapat selalu menjaga dan merawat kelestarian tanaman-tanaman yang ada di sini, yah.”

Rara meninggalkan anak-anak tersebut dan kembali menemui Caca.

“Terima kasih karena sudah menyayangi tanaman-tanaman yang ada di sini, Rara.”

“Sama-sama, Caca. Aku sangat menyukai tanaman dan bintang sepertimu. Aku tidak ingin kalian disakiti dan sampai punah. Aku ingin bisa terus bertemu kalian. Maukah kamu bertemu lagi denganku dan menjadi sahabatku, Caca?”

“Tentu saja, Rara. Nanti kita bertemu dan terbang lagi untuk melihat lebih banyak keindahan alam.”

“Wah, senangnya. Aku berjanji akan merawat dan menjaga keindahan alam ini dengan baik dan tidak akan menyakitinya.”

Rara dan Caca kini menjadi teman baik yang selalu memperhatikan dan menjaga kelestarian alam.

Berdasarkan teks tersebut, orang yang menasihati Rara untuk tidak menyakiti binatang adalah. . .

(a)  

18.

CAPUNG KUNING RARA

Karya: Sopiani

Aku berlari ke deretan pohon jagung. Di sana, kulihat banyak capung hijau dan capung kuning beterbangan. Aku sangat suka capung. Mereka adalah binatang kecil yang dapat terbang dan memiliki banyak warna, seperti kuning, hijau, dan merah. Aku pun menemukan beberapa capung yang sedang hinggap di rerumputan. Hati-hati kudekati capung-capung itu dan kuarahkan saringan yang kubawa untuk menangkapnya. Kugerakkan tanganku pelan-pelan dan kuhitung dalam hati, satu, dua, tiga! Ah, sayangnya percobaan pertamaku gagal.

Kuulangi lagi langkah-langkah untuk menangkap capung sampai akhirnya kudapatkan seekor capung dalam saringanku. Aku pun bersorak bahagia karena berhasil menangkap capung. Apalagi, itu adalah capung berwarna kuning. Kupandangi cukup lama gerak-gerik capung kuning itu dan kubuka saringannya. Setelah itu, kubiarkan capung kuning itu untuk terbang bebas lagi. Keharusan melepaskan capung setelah menangkapnya adalah pesan yang selalu dikatakan Ibu kepadaku. Wanita yang paling kusayang itu mengatakan bahwa aku tidak boleh menyakiti binatang. Menangkap capung dan membawanya ke rumah hanya akan menyakiti dan membunuh capung tersebut.

Setelah kulepaskan, capung kuning itu terbang tinggi melewati tingginya pepohonan jagung, kepalaku pun mendongak ke atas untuk melihat capung itu terbang berputar-putar sampai akhirnya capung itu tiba di depan kepalaku. Aku merasa ada yang salah saat aku melihat capung kuning itu. Tiba-tiba, capung kuning yang kulihat tadi pelan-pelan bertambah besar, bahkan besarnya melebihi ukuran tubuhku. Aku terkejut dan ketakutan melihat capung kuning itu. Sampai akhirnya, terdengar suara yang berbicara kepadaku.

“Jangan takut, Rara. Namaku Caca, capung yang kamu tangkap tadi.”

“Ke ... ke ... kenapa kamu bisa jadi besar seperti ini, Capung?” Aku pun menjawab terbata-bata.

“Aku hanya ingin berteman denganmu, Rara. Aku sudah beberapa kali melihatmu. Kamu adalah anak yang baik. Kamu mau ikut terbang bersamaku, Rara?”

“Terbang? Apakah kamu bisa membawaku terbang, Capung?”

“Tentu, aku akan memperlihatkan padamu indahnya kebun dan sawah dari atas. Naiklah ke punggungku, Rara. Oh iya, panggil saja aku Caca.”

Aku pun naik ke punggung Caca, capung kuning yang kutangkap tadi. Pelan-pelan, Caca mulai mengepakkan sayapnya dan kami pun mulai menjauh dari permukaan tanah. Tidak kusangka, kini aku berada di udara. Pepohonan tinggi yang kulihat tadi, kini ada di bawahku. Kebun, sawah, dan pepohonan kini terlihat sangat kecil, tetapi sangat indah dipandang.

“Kamu menyukai pemandangan dari atas sini kan, Rara?”

“Iya, aku suka sekali, Caca. Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang terbang. Semuanya nampak indah.”

“Dahulu, pemandangannya bahkan lebih indah dari ini, Rara. Lebih banyak pepohonan dan berbagai jenis rerumputan, juga bunga-bunga yang indah bermekaran. Burung-burung dan binatang-binatang kecil pun jauh lebih banyak dan beragam daripada sekarang.”

“Wah, mengapa sekarang jadi berbeda, Caca? Apa penyebabnya?”

“Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang merusak alam. Mereka dengan mudah menebang hutan sembarangan dan memburu binatang. Coba lihat ke bawah, Rara. Di sana ada beberapa anak yang sedang bermain. Tapi, sayangnya anak-anak itu bermain dengan memetik bunga dan dedaunan sembarangan.”

“Iya, aku melihatnya. Bagaimana kalau kita temui sebentar anak-anak itu?”

Caca pun mengikuti ajakan Rara. Mereka mendarat di sebuah kebun tempat beberapa anak sedang bermain.

“Halo, teman-teman, mengapa kalian memetik bunga-bunga dan dedaunan di kebun dengan sembarangan?”

“Siapa kamu, mengapa kamu tiba-tiba memarahi kami?” ucap seorang anak lelaki yang sebaya dengan Rara.

“Aku Rara dan aku tidak bermaksud memarahi kalian. Aku hanya bertanya dan ingin mengingatkan kalian untuk lebih menjaga tanaman-tanaman ini.”

“Kami hanya bermain sambil berjalan-jalan. Kami sangat menyukai tanaman di sini sehingga ingin memetiknya,” ucap seorang anak perempuan yang paling tinggi di antara mereka.

“Wah, aku pun sama seperti kalian. Aku sangat menyukai tanaman-tanaman yang ada di sini. Tetapi, apabila kita menyukai sesuatu, kita harus menjaga dan merawatnya. Sementara, memetik bunga dan dedaunan tidak akan membuat tanaman ini terjaga dan terawat, tetapi malah akan menyakitinya.”

“Mengapa tanaman-tanaman ini bisa tersakiti kalau kami memetiknya?” tanya anak lelaki tadi.

“Teman-teman, tanaman ini sama seperti kita, memiliki bagian-bagian yang saling membutuhkan. Misalnya pada tubuh kita, apabila ada satu bagian yang tidak ada, tubuh kita tidak akan berfungsi dengan sempurna. Tanaman ini pun demikian. Apabila kita memetik bunga atau daunnya sembarangan, proses pertumbuhan tanaman ini pun akan terganggu.”

Anak-anak yang sedang bermain itu tampak memikirkan kata-kata Rara dengan serius.

Seorang anak perempuan berbaju merah muda berkata, “Kami mengerti maksudmu, Rara. Kalau memetik bunga dan dedaunan malah menyakiti tanaman-tanaman ini, kami tidak akan melakukannya. Kami sangat menyukai tanaman di sini dan tidak ingin menyakiti mereka. Sekarang, kami tidak akan memetik bunga dan dedaunan dengan sembarangan lagi. Betul, kan, teman-teman?”

“Iya, betul!” serentak anak-anak itu menjawab.

“Terima kasih, teman-teman. Semoga kita dapat selalu menjaga dan merawat kelestarian tanaman-tanaman yang ada di sini, yah.”

Rara meninggalkan anak-anak tersebut dan kembali menemui Caca.

“Terima kasih karena sudah menyayangi tanaman-tanaman yang ada di sini, Rara.”

“Sama-sama, Caca. Aku sangat menyukai tanaman dan bintang sepertimu. Aku tidak ingin kalian disakiti dan sampai punah. Aku ingin bisa terus bertemu kalian. Maukah kamu bertemu lagi denganku dan menjadi sahabatku, Caca?”

“Tentu saja, Rara. Nanti kita bertemu dan terbang lagi untuk melihat lebih banyak keindahan alam.”

“Wah, senangnya. Aku berjanji akan merawat dan menjaga keindahan alam ini dengan baik dan tidak akan menyakitinya.”

Rara dan Caca kini menjadi teman baik yang selalu memperhatikan dan menjaga kelestarian alam.

Kondisi alam saat ini telah banyak berubah. Alam mulai tercemar dan tidak asri lagi. Banyak binatang dan tumbuhan kini mulai terancam punah. Perubahan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia. Sebagai seorang anak, apa pendapatmu mengenai permasalahan tersebut? Selain itu, sebagai seorang siswa dan generasi muda Indonesia, tindakan apa yang akan kamu lakukan agar dapat menjaga kelestarian alam?

(a)  

19.

Berani Berubah

Bertahun-tahun lalu, Abdul Aziz sama seperti nelayan lainnya di tempatnya tinggal, Desa Wongsorejo, Banyuwangi. Ia menangkap berbagai ikan hias cantik yang selanjutnya dijual kepada pengepul.

Namun, suatu hari Abdul Aziz menangis melihat terumbu karang, tempatnya biasa menangkap ikan hias, hancur lebur. Dasar laut tampak seperti sumur dan banyak ikan hias yang mati. Ini terjadi akibat penggunaan bom dan racun untuk menangkap ikan hias. Abdul Aziz bertekad untuk tidak merusak terumbu karang lebih lanjut.

Abdul Aziz dan beberapa teman nelayan lainnya lalu mendapat tawaran untuk mengelola objek wisata Watudodol di Jawa Timur. Tawaran ini tentu saja mereka terima dengan senang hati. Mereka mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak untuk urusan perizinan dan tata cara kelola tempat wisata. Kerja sama mereka membuat Watudodol menjadi lokasi wisata yang nyaman untuk dikunjungi.

Tidak berhenti sampai di situ, Abdul Aziz bersama teman-teman juga memulihkan kawasan perairan Watudodol. Belajar dari berbagai sumber, mereka menanam rumpon rumah ikan dan terumbu karang. Hasilnya sudah tampak. Dasar laut yang semula kosong dan mencekam, kini berubah menjadi taman laut dengan terumbu karang yang indah. Berbagai ikan hias juga sudah tampak berenang bebas di antara terumbu karang.

Apa perbedaan keadaan terumbu karang sebelum dipulihkan dan sesudah dipulihkan oleh Abdul Azis dan kawan-kawannya?

(a)  

20.

Perhatikan ilustrasi dan artikel berikut!

Anton mendapat tugas dari gurunya untuk membuat sebuah kerajinan. Kerajinan yang dibuat harus memiliki tema “Lingkungan Hidup”. Kemudian, Anton mencari ide dengan cara membaca berbagai berita mengenai lingkungan Hidup. Anton pun menemukan berita berikut.

PARAHNYA MASALAH SAMPAH PLASTIK DI INDONESIA

Masalah sampah plastik di Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010, ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Di antara jutaan ton sampah tersebut, sekitar 4,8 hingga 12,7 juta ton terbuang ke laut dan mencemari laut.

Di Indonesia, ada sekitar 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48 hingga 1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia.

Padahal, jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut di India hanya sekitar 0,09—0,24 juta ton per tahun dan India menempati urutan ke-12 sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan India, dimungkinkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal.

Tak hanya itu, pencemaran plastik di Indonesia pun diperkirakan akan terus meningkat. Hal itu dapat terjadi karena saat ini, industri-industri minuman di Indonesia tumbuh dengan pesat. Padahal, banyak produk minuman yang menggunakan plastik sekali pakai sebagai packaging. Pertumbuhan industri minuman yang sangat pesat tentu saja akan menghasilkan pertumbuhan jumlah sampah plastik yang semakin banyak. Terlebih, saat ini kapasitas pengolahan limbah plastik masih terbilang minim. 

(Diadaptasi dari https://www.cnbcindonesia.com/ pada Oktober 2020)

Berdasarkan berita tersebut, untuk mengurangi tingkat pencemaran plastik, peran apa yang dapat kamu lakukan sebagai siswa?

a)

Membuat minuman berkemasan plastik secara pribadi.

b)

Membuat aturan mengenai larangan membuang sampah plastik.

c)

Tidak membuang sampah sembarangan.

d)

Membuang seluruh plastik yang dimiliki agar tidak menjadi sampah.