Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

PH Literasi Buku Fiksi PJJ 2

Total questions: 15

Worksheet time: 1hrs 1mins

Name
Class
Date
1.

Bacalah dengan saksama teks fiksi berikut.

Becak Dilarang Masuk

Saat menjadi Presiden, Gur Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu ? itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,”bentak Pak Polisi. “Oh saya melihat Pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak Pak Polisi lagi.

“Tidak Pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,”jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Pesan yang disampaikan dari isi teks di atas adalah .....

a)

Menggunakan akal cerdik untuk lolos dari aturan.

b)

Taatilah peraturan dengan tertib dan benar.

c)

Jadilah manusia yang cerdas agar tidak mudah ditipu.

d)

Jangan jadi polisi agar tidak mudah diakali tukang becak.

e)

Jangan membuat aturan jika tidak bisa menaati.

2.

Cermati paragraf berikut.     

      Kepala sekolahnya seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Caranya berdandan jelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampung. Gerak-geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di dekatnya, siapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat berbicara dengan beliau, ia sama seperti orang Melayu yang baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam:pembicaraan tentang fasilitas-fasilitas sekolah, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah menjadi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di kota atau bahkan di luar negeri.

(Larkar Pelangi, Andrea Hirata)

Pesan/amanat yang sesuai dengan isi kutipan tersebut adalah …

a)

Bersikap keraslah dalam memimpin, tetapi tetap santun kepada orang lain.

b)

Bersikaplah rendah hati, santun, dan sederhana sekalipun menjadi pejabat tinggi.

c)

Janganlah mengingkari kodrat yang telah ditetapkan Tuhan.

d)

Jadilah wanita yang terpelajar, tetapi tidak angkuh dan sombong.

e)

Sebagai seorang pejabat, sudah selayaknya bersikap tegas dan keras kepada bawahannya.

3.

Cermati paragraf berikut.     

      Yah, tertawa kecil tiada berlagu.”Engkau menempuh jalan kesenangan, aku menempuh jalan berduri, melukai seluruh jiwaku … Aku dikawinkan dengan laki-laki yang tidak kusukai, barangkali tiada mengapa. Kata orang, cinta baru timbul kalau sudah kawin, tetapi lelaki itu sudah tua … dua puluh tahun beda umur kami. Aku dibawanya ke Palembang. Ah, apa perlunya lagi kuterangkan.

Pesan/amanat yang terkandung dalam kutipan novel tersebut berkenaan dengan …

a)

nilai sosial

b)

nilai agama

c)

nilai moral

d)

nilai budaya

e)

nilai ekonomi

4.

Bacalah dengan saksama!

      A Kiong kembali merogoh sesuatu dari dalam koper dan segera menyerahkan kunir seukuran ibu jari. Tanpa banyak cingcong, Mahar memotong kunir dan dengan gerakan sangat cepat tak sempat kuhindari ia menggerus kunir itu di keningku, melukis tanda silang yang besar. Maka, terpampanglah di keningku huru X berwarna kuning. Lalu, seperti telah sama-sama paham prosedur berikutnya, tanpa  dikomando, A Kiong mengambil dahan-dahan beluntas dari dalam koper, melemparkannya kepada Mahar yang menyambutnya dengan tangkas dan langsung menampar-namparkan daun-daun itu ke sekujur tubuhku. Sementara Mahar mengibas-ngibaskan daun beluntas dengan beringas, A Kiong serta-merta menyembur-nyemburkan air ke seluruh tubuhku termasuk wajah melalui alat penyemprot bunga sehingga yang terjadi adalah sebuah kekacauan. …

(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)

Amanat yang sesuai dengan isi kutipan tersebut adalah …

a)

Jangan percaya pengobatan memakai kunir, daun beluntas, dan air.

b)

Tindakan seseorang yang berlebihan akan menimbulkan kekacauan.

c)

Sembuhkan sakit seseorang dengan mantera dan pengobatan herbal.

d)

Bawalah obat-obatan herbal dalam tempat yang bersih dan aman.

e)

Gunakan mantera, kunyit, dan daun beluntas untuk mengobati orang.

5.

Berikut ini adalah unsur pembentuk ekstrinsik teks fiksi, kecuali …..

a)

amanat/pesan

b)

pendidikan penulis

c)

sosial budaya penulis

d)

agama penulis

e)

kapan karya diciptakan

6.

Kang Lantip tersenyum.

“Karena saya tidak percaya kepada sistem yang melahirkan dan membesarkan penguasa yang begitu kejam seperti Stalin. Sama dengan tidak percaya saya kepada sistem yang melahirkan Hitler dan Mussolini. Dan sudah tentu, juga tidak percaya kepada sistem yang melahirkan Amangkurat yang dengan kejamnya membunuh santri-santri. Sistem-sistem seperti itu mengandung bibit-bibit kekerasan yang selalu akan mengambil korban ribuan orang yang tidak bersalah!”

Saya terkejut mendengar suaranya. Lantip, kakang saya, yang lemah lembut, sopan, penuh tata krama, dengan sekali tebas membabat tiga sistem kekuasaan yang besar.

(Para Priyayi, Umar Kayam:290)

Amanat penggalan novel di atas adalah …

a)

Jangan berprasangka buruk terhadap seseorang.

b)

Kita harus menghargai sikap dan pendapat seseorang.

c)

Setiap orang mempunyai kelebihan.

d)

Kekuasaan menghasilkan kesewenang-wenangan.

e)

Kita harus percaya kepada seseorang.

7.

Cermati paragraf berikut.

Lihatlah. Salamah memberi isyarat. Dan, ketiga orang itu memperhatikannya. Salamah yang pernah mendengar pengajian dari Pak Mudin di kampungnya dulu memberikan komentar, “itulah manusia yang lidahnya berlawanan dengan hatinya. Orang-orang macam itu banyak kita jumpai di dunia. Mereka paling suka menimbulkan bencana antara sesamanya. Tanpa menoleh-noleh makhluk manusia yang berbentuk tiang itu dengan begitu sengsaranya di depan mereka.”

Setelah makhluk itu jauh. Salamah merenungi dirinya, lalu bertanya kepada si ibu, “Bagaimana tentang diri kita sendiri?”

“Ya, kita banyak kehilangan,” katanya. Sementara itu, datang seorang makhluk lain berjalan sambil memukuli keningnya dengan sebuah batu tajam. Darah mengucur dari sana. Tapi, begitu kening itu dipukul, begitu ia pulih kembali, lalu dipukul lagi.”

Pesan yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah …

a)

Kita harus taat kepada ajaran agama.

b)

Sesama manusia jangan berbuat jahat.

c)

Manusia yang suka berbohong membahayakan sesamanya.

d)

Manusia jangan menimbulkan bencana antara sesamanya.

e)

Manusia yang berbuat jahat akan disiksa Tuhannya.

8.

Bacalah kutipan novel berikut!

“Ulanganmu merosot tajam. Kita akan segera menghadapi ulangan caturwulan ketiga. Setelah itu, caturwulan terakhir menghadapi Ebtanas. Nilaimu bahkan tak memenuhi syarat untuk melalui caturwulan tiga ini. Jika nanti ujian antaramu masih seperti ini, ibunda tidak akan mengizinkanmu ikut kelas caturwulan terakhir, itu artinya kamu tidak boleh Ebtanas.”

…..

Suasana kelas menjadi tegang. Kami harap Mahar segera minta maaf dan menyatakan pertobatan, tapi sungguh sial, ia malah menjawab dengan nada bantahan.

“Aku mencari hikmah dari dunia gelap, Ibunda, dan penasaran karena keingintahuan. Tuhan akan memberiku pendamping dangan cara yang misterius …”

Kurang ajar betul. Bu Mus bersusah payah menahan emosinya. Aku tahu beliau sebenarnya ingin langsung melabrak Mahar. Air mukanya yang sabar menjadi merah. Beliau segera keluar ruangan menenangkan dirinya.

(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)                                   

  Bu Mus memberikan nasihat kepada Mahar agar …..

a)

Berusaha keras mengikuti Ebtanas.

b)

Mahar tidak mengikuti Ebtanas.

c)

Mempertahankan prestasinya yang sudah diraih.

d)

Mengikuti ulangan perbaikan  sebelum Ebtanas.

e)

Memperbaiki nilai-nilainya pada caturwulan mendatang

9.

Bacalah kutipan novel berikut.

“Ulanganmu merosot tajam. Kita akan segera menghadapi ulangan caturwulan ketiga. Setelah itu, caturwulan terakhir menghadapi Ebtanas. Nilaimu bahkan tak memenuhi syarat untuk melalui caturwulan tiga ini. Jika nanti ujian antaramu masih seperti ini, ibunda tidak akan mengizinkanmu ikut kelas caturwulan terakhir, itu artinya kamu tidak boleh Ebtanas.”

…..

Suasana kelas menjadi tegang. Kami harap Mahar segera minta maaf dan menyatakan pertobatan, tapi sungguh sial, ia malah menjawab dengan nada bantahan.

“Aku mencari hikmah dari dunia gelap, Ibunda, dan penasaran karena keingintahuan. Tuhan akan memberiku pendamping dangan cara yang misterius …”

Kurang ajar betul. Bu Mus bersusah payah menahan emosinya. Aku tahu beliau sebenarnya ingin langsung melabrak Mahar. Air mukanya yang sabar menjadi merah. Beliau segera keluar ruangan menenangkan dirinya.

(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)      

          Mendengar nasihat dari Bu Mus, Mahar bersikap …..                     

a)

tunduk

b)

membantah

c)

menurut

d)

mengindahkan

e)

patuh

10.

Cermati puisi berikut!

Sebuah pulau bisa jadi hanya setitik tinta

Di tengah luasnya samudera. Begitu juga pulau ini

Pulau setitik tinta hijau ini tidak  kelihatan dalam peta

Namun setiap lekuknya jelas tergambar di pelupuk mata

Dikutip dari: Acep Zamzam Noor, “Ternate” dalam Berguru kepada Rindu, Yogyakarta, Diva Press, 2017

Makna setitik tinta dalam puisi tersebut adalah ….

a)

tidak ada

b)

tidak nyata

c)

tidak kekal

d)

tidak terlihat

e)

tidak dianggap

11.

Perhatikan novel berikut!

Agung, Arya, dan Ayu beserta teman-teman dari Kintamani tampak khusuk beribadah di Pura Jati. Sudah pasti aku mengabadikan momen yang sangat langka ini. Sudah menjadi adat setiap  warga Bali yang akan mendaki Gunung Batur, mereka akan bersembahyang terlebih dahulu di Pura Jati.

Dikutip dari: Andika Hendra, Indonesia Berkerabat, Yogyakarta, Laksana, 2017

Makna kata khusuk pada kutipan novel tersebut adalah ….

a)

penuh perhatian

b)

penuh penjiwaan

c)

penuh penyerahan

d)

penuh penghayatan

e)

penuh pengharapan

12.

Cermati kutipan novel berikut!

Sepulang dari Bulusaraung, Baduy mengincar Taka Bonerate, kepulauan kecil di daerah Selayar, sebagai objek kunjungan selanjutnya. Alasannya tentu saja terkait taman laut indah yang harus ia salami. Biarpun nama Taka Bonerate belum seterkenal Wakatobi atau Raja Ampat di negaranya sendiri, tapi kepulauan tersebut sudah mencuri perhatian banyak turis asing. Taka Bonerate bahkan disebut-sebut sebagai seratus tempat di muka bumi yang harus dikunjungi sebelum meninggal.

Dikutip dari: Fiersa Besari, Arah Langkah, Jakarta, Mediakita, 2018

Kutipan novel tersebut menceritakan ….

a)

Keindahan pemandangan bawah laut Taka Bonerate.

b)

Kegigihan tokoh Baduy untuk dapat ke Taka Bonerate.

c)

Kondisi Taka Bonerate tidak kalah dengan Raja Ampat.

d)

Kepopuleran Taka Bonerate di kalangan turis mancanegara.

e)

Keinginan tokoh Baduy untuk mengunjungi Taka Bonerate.

13.

Perhatikan kutipan novel berikut!

“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “Pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.

“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kemabali bergejolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampong kami ini; di Bacukikki, jantung Afdelling Parepare.

Dikutip dari: Faisal Oddang, “Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon” dalam Sawerigading Datang dari Laut, Yogyakarta, Diva Press, 2019

Isi kutipan cerpen tersebut adalah ….

a)

Kedatangan pasukan tambahan Sekutu dan KNIL di Sulawesi Selatan.

b)

Ketakutan tokoh Rahing dengan penyerangan pasukan Sekutu di Makassar.

c)

Kecemasan yang terjadi di daerah pusat perlawanan warga di Makassar.

d)

Kecemasan yang terjadi di daerah pusat perlawanan warga di Makassar.

e)

Kekuatan pasukan khusus Depot Speciale Troepen-DST yang mulai bergerak ke Bacukikki.

14.

Cermati kutipan cerpen berikut.

Ketika Hasibuan, anak muda yang menumpang di kamar depan, menceritakan kesulitannya, dengan penuh perhatian, ia mendengarkan. Memang, selama wajahnya kelihatan sungguh-sungguh, bila setiap orang mengemukakan kesulitannya untuk meminta sekedar nasihat yang berharga. Sikapnya ini menyenangkan hati orang. Sedang rambut dan kumisnya yang lebat dan telah putih seluruhnya itu memberikan keyakinan dalam setiap hati yang dilanda kerisauan bahwa dari padanya saja nasihat yang baik memancar.

Pada setiap perkumpulan namanya pastilah tercantum sebagai penasihat. Kalau tidak diminta, ia sendiri akan menawarkan dirinya. Dan tak satu pun dari perkumpulan itu yang menolak. Meski di antara perkumpulan itu saling berlawanan asas.

Dan ketika Hasibuan, anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan  kesulitannya demikian hilang akal, ia tidak tersenyum melecehkan. Segalanya dipandangnya berat walau kadang-kadang ia tahu soalnya adalah tetek bengek saja.

“Itulah semua,” ujar Hasibuan dengan nada putus asa. “Berilah aku nasihat. Apa yang harus kulakukan lagi?”

                                                                             (“Nasihat-Nasihat” karya AA. Navis)

Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….

a)

Janganlah menawarkan pertolongan seakan-akan kita mampu menolong.

b)

Mintalah nasihat yang tepat kepada orang-orang tua di sekitar kita.

c)

Orang tua yang kita hormati biasanya selalu disebut dalam perkumpulan RT.

d)

Jangan melecehkan orang yang mau meminta tolong kepada kita.

e)

Janganlah berputus asa dalam meminta tolong kepada siapa pun.

15.

Perhatikan kutipan cerpen berikut ini!

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bual ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan, sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi, sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau karena ia begitu mahir dengan keahliannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedangkan ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi, yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

 

Nilai-nilai kehidupan yang diangkat ke dalam karya sastra seperti cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis ini menggambarkan realitas kehidupan suatu masyarakat. Nilai kehidupan tersebut menjadikan pembacanya mengambil suatu pelajaran tertentu. Sebagaimana yang terdapat di dalam kutipan cerpen di atas, nilai moral yang digambarkan melalui watak tokoh utama yang paling menonjol adalah ....

a)

menjaga surau

b)

berbagi zakat fitrah Id

c)

mahir mengasah pisau

d)

tidak meminta imbalan

e)

memberikan imbalan