WorksheetsCerita Pendek
Total questions: 30
Worksheet time: 2hrs 16mins
Lengkapilah kalimat berikut!
Cerita pendek memberikan kesan tunggal atau fokus pada satu tokoh, mempunyai jumlah kata sekitar ... kata.
500-5.000
10.000-12.000
15.000-20.000
20.000-23.000
35.000-40.000
Berikut nilai-nilai yang selalu berkaitan dengan cerita pendek dalam kehidupan sehari-hari, kecuali...
Nilai Moral
Nilai Budaya
Nilai Sosial
Nilai Agama
Nilai acak
Tokoh "Aku" dalam penulisan cerita pendek termasuk ke dalam bagian unsur intrinsik, yaitu...
Gaya Bahasa
Tema cerita
Sudut Pandang
Alur cerita
Amanat cerita
Berikut ini komponen/unsur intrinsik dalam cerpen yang tepat, kecuali...
Tema-alur-latar
Tokoh dan watak
Amanat-sudut pandang
Gaya bahasa
Biografi
Umumnya menggunakan kata ganti seperti aku atau saya dalam sebuah cerita khususnya cerpen. Dalam sudut pandang cerita seolah-olah terlibat dalam cerita adalah pengertian dari sudut pandang orang ....
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Berikut ini yang tidak termasuk dalam sudut pandang yang digunakan penulis dalam sebuah cerita pendek adalah....
Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang ketiga
Sudut pandang orang pertama pelaku utama
Sudut pandang orang keempat
Sudut pandang orang ketiga serba tahu
6. Pesan moral yang disisipkan pengarang dalam cerpen adalah....
Pepatah
Petuah
Amanat
Syair
Simpulan
Fungsi cerpen yang memberikan nilai moral sehingga pembaca mengerti moral yang baik dan tidak baik untuk dirinya. Fungsi tersebut merupakan salah satu fungsi cerpen, yaitu menempati fungsi ...
Estetis
Moralitas
Rekreatif
Religiusitas
Sosialisme
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… Tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
Banyak siswa membela Dita.
Latar dalam cerita dibedakan menjadi 3 yaitu....
Tempat, waktu, perasaan
Tempat, waktu, keadaan
Tempat, waktu, suasana
Tempat, waktu, letak
Suasana, cuaca, waktu
Aku duduk sendirian di halte depan sekolah, menunggu angkot yang akan mengantarku pulang, kini aku harus membiasakan diri karena tak ada lagi mobil mewah dan sopir pribadi.
(Utami Panca Dewi, "Luka Hati Sabrina")
Latar tempat pada kutipan teks diatas adalah...
Halaman rumah
Terminal
Halte dekat Rumah
Halte dekat sekolah
Pasar
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.
Watak tokoh “aku” dalam penggalan cerita tersebut adalah …
Percaya diri
Sombong
Rajin berusaha
Mudah dipengaruhi
Peduli
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Nenek tua
Lelaki Muda
Kakek tua
Ibu pejabat
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong. ”Begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya, ”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
Tubuhnya digerogoti penyakit
Susahnya menjadi orang miskin
Banyak bangsal yang kosong
Buruknya pelayanan rumah sakit
Orang miskin menjadi prioritas
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan Bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorongku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku. “Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica. Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
Ica
Bunda
Nanda
Seorang Siswa
Dosen
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah . . . .
Mentari meredup
Ketika kerumunan tidak bersama
Pucuk daun di sebelah barat
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Seperti yang kau utarakan kemarin
(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).
Bukti bahwa watak tokoh "dia" pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor...
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (5)
(1) dan (5)
Ia sendiri tersenyum lebar mengenakan toga dan memegang ijazah kelulusan. Rambutnya telah dipotong pendek. Alangkah Syahdunya subuh itu datang sementara suara sember masih saja terdengar dari tape recorder yang disetel penjual roti bakar.
Nilai yang menonjol dari kutipan teks berikut adalah . . .
Pendidikan
Budaya
Agama
Sosial
Estetika
Tetapi rasa gundah gulanaku kali ini bukan lagi karena mengenang Bang Rizani. Aku telah melepas kepergiannya dengan segala kesucian hati dan kejernihan asa. Aku tidak mungkin membohongi naluri keperempuananku. Sepuluh tahun menyendiri, bukan waktu yang sekejap. Aku merasa bagaikan sepotong pualam yang tidak boleh tergores sedikitpun agar selalu berharga di mata orang banyak.
Nilai moral yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dalam kutipan tersebut adalah . . .
Seorang istrinya selalu mengenang suaminya yang telah meninggal.
Seorang istri yang setia sampai mati terhadap suaminya.
Seorang wanita ibarat sepotong pualam yang sewaktu-waktu dapat pecah.
Seorang wanita yang telah ditinggal mati suaminya dapat menjaga diri.
Seorang wanita yang setia terhadap suaminya.
Bacalah teks berikut dengan saksama!
Brek! Via menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Air matanya meleleh membasahi bantal. Hati Via betul-betul terluka mendengar omongan Bi Jum.
“Lho, kenapa menangis?” tanya Eyang Putri cemas. Beliau meletakkan obat dan segelas air putih di meja.
Via diam tidak menjawab. Isaknya semakin jelas terdengar.
“Eyang, benarkah Bunda tidak mau mengurus Via?” tanyanya terpatah-patah.
“Siapa bilang?”
“Tadi di puskesmas Bi Jum bercerita kepada orang. Katanya, Bunda tidak mau mengurus Via.
Pengarang pada kutipan tersebut menggunakan sudut pandang ...
Orang pertama pelaku utama
Orang pertama pelaku sampingan
Orang kedua
Orang ketiga
Orang keempat
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
Kemudian mendadak muncul puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kupu-kupu aneka warna berterbangan dan memenuhi pandanganku. Istriku berteriak dan memegang tanganku, kurasakan pegangannya terlepas dan tak kudengar lagi suaraku sendiri.
Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut yaitu....
Damai
Sedih
Ketakutan
Sepi
Kegundahan
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
”Pak, pohon pepaya di pekaranganku telah dirobohkan dengan semena-mena. Tidaklah sepatutnya hal itu kulaporkan?”
”Itu benar, tapi jangan melebih-lebihkan. Ingat, yang harus diutamakan ialah kerukunan kampung. Soal kecil yang dibesar-besarkan bisa mengakibatkan kericuhan dalam kampung. Setiap soal mesti diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh main seruduk. Masih ingatkah kau pada peristiwa Dullah dan Bidin tempo hari? Hanya karena soal dua kilo beras, seorang kehilangan nyawa dan yang lain meringkuk di penjara.”
(Gerhana, Muhammad Ali)
Unsur intrinsik yang paling dominan dalam cerita di atas adalah
Alur
Latar
Amanat
Tema
Gaya bahasa
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Santi. Diɑ merɑsɑ sulit bernɑpɑs tɑtkɑlɑ melihɑt isi lemɑri berɑntɑkɑn. Uang dan perhiasaan telah lenyap. Selain itu, televisi dan beberapa peralatan elektronik ada di ruang tengah. Bu Santi terduduk lemas tatkala melihat sebuah catatan kecil di atas bantal. “Sekɑrɑng kɑliɑn tɑhu siɑpɑ pengirim kɑrcis itu.”
Tema kutipan cerpen diatas adalah..
Kehilangan uang, perhiasan dan peralatan elektronik
Pencurian
Catatan kecil
Pemberian karcis pertunjukan
Bu Santi terduduk lemas
"Di akhirat, Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyaknya orang yang diperiksa."
Nilai yang dominan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
Agama
Budaya
Moral
Sosial
Pendidikan
"Siapa yang akan peduli. Masyarakat sedang senang-senangnya melihat pemakan suap digebuki. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi."
Berdasarkan kutipan di atas, penerapan yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah ...
Langsung tembak mati ketika melihat orang lain melakukan korupsi
Berupaya untuk tidak melakukan tindakan korupsi
Senang melihat pemakan suap digebuki
Peduli kepada masyarakat yang sedang senang
Bersenang-senang saat korupsi
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Akan tetapi tibalah satu bencana. Ketika suatu malam Badri bertandang lagi, Lena tidak membiarkannya masuk. Malah berkata seperti hendak mengusirnya. “Jangan kemari lagi”. Terpana Badri mendengar ucapan gadis itu. Lebih terpana lagi dia ketika Lena menyebutkan nama Rosni, seorang gadis yang sering juga dibawanya keluar malam untuk menonton film. “Aku tidak serius dengan dia”, kata Badri menangis. “Enak benar jadi laki-laki. Begitu sering membawa seorang gadis keluar malam, tapi kalau ditanya oleh gadis lain, lalu dibilang aku tidak serius dengan dia,” umpat Lena dengan kesal. Lalu sebelum Badri memberi alasan, pintu ditutup dan dikuncinya dari dalam. Tinggallah Badri terperanga di anak tangga.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
Badri tidak boleh bertandang lagi ke rumah Lena
Badri bingung ingin memilih Lena atau Rosni
Badri sering keluar malam bersama teman-temannya
Badri dan Lena sering keluar malam untuk menonton film
Lena dan Rosni bertengkar merebutkan Badri
Struktur teks cerpen teridiri atas...
Orientasi - insiden - interpretasi
Orientasi - komplikasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - evaluasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - resolusi - interpretasi
Abstrak - komplikasi - evaluasi - koda
Bacalah kutipan teks cerpen berikut!
Saya tak bisa diam, setengah tahun saya ditempatkan di sekolah ini pengelolaan BK saya ubah secara mendasar. Mulai dari administrasi, cara penanganan siswa, termasuk ruang konsultasi siswa. Namun langkahku membuat seseorang terusik, terutama dalam kasus Diah. Ia telah banyak menerima penderitaan, anak itu perlu bimbingan dan kasih sayang bukan penghakiman.
Tema dalam cerpen tersebut adalah ….
Kehidupan seorang guru BK di sekolah
Guru BK yang ingin membantu mengatasi suatu masalah siswanya
Memerlukan bantuan khusus
Kesedihan seorang guru BK melihat kondisi siswanya
Keinginan seorang guru BK untuk melaksanakan tuganya dengan baik
Cermati kutipan cerpen berikut!
Ibu menunjuk purnama yang benderang. Aku mengikuti telunjuknya. Batinku terasa lebih segar. Rembulan merah jambu … itukah yang diinginkan Ibu, menjadi seseorang. Menjadi orang dalam arti sebenarnya. Punya karakter dan prinsip yang berbeda. Siap mengarungi kerasnya selama ini? Hatiku berbunga-bunga. Semua kehampaan, kebencian, dan kekesalanku pada wanita tua itu tiba-tiba terbang ke awan. Aku tak lagi membencinya! Ternyata aku cukup punya arti di mata Ibu. Aku rembulan di hatinya! Tanpa ragu, kupeluk Ibu erat. Bersama-sama, kami menghabiskan waktu yang tak terlupakan di beranda memandangi langit, (Rembulan di Mata Ibu, Asma Nadia).
Makna kata hatiku berbunga-bunga dalam kutipan cerpen tersebut menyimbolkan...
Bahagia dan keceriaan
Kesedihan dan duka
Kehampaan dan kesendirian
Kehilangan dan kesedihan
Pengorbanan dan keterpurukan
