WorksheetsTEKS HIKAYAT (Bu Faiziya)
Total questions: 20
Worksheet time: 2hrs 40mins
Berikut yang bukan merupakan ciri-ciri teks hikayat adalah ....
anonim
dinamis
istanasentris
mengandung hal yang tidak logis
menceritakan kesaktian tokoh
Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?”
Konjungsi yang menyatakan urutan waktu atau peristiwa pada penggalan hikayat di atas adalah…
kemudian
lalu
maka
setelah itu
selanjutnya
Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa
yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Nilai budaya yang ditunjukkan dalam penggalan hikayat di atas adalah … .
Memperkenalkan ilmu saat anak sudah cukup umur
Mewariskan gelar raja pada keturunan
Mempelajari ilmu agama
Menemukan buluh perindu
Memilih penerus raja melalui sayembara
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.
Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah …
Basmilah jika melihat kejahatan
Jangan menyombongkan diri
Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
Hendaklah menolong orang dalam kesulitan
Bersyukurlah jika mendapat pertolongan
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Kata arkais yang bergaris bawah pada penggalan hikayat di atas memiliki makna…
diusir
diminta
diperintah
diizinkan
diharapkan
uan puteri memandang ke dayang kipas itu. Kesepuluhnya menyembah, lalu mengundurkan diri mengisut ke belakang perlahan-lahan. Bangkitlah Mak Inang, lalu duduk di tepi tilak tujuh bertindih, lalu mengumpulkan bunga melur yang terselit-selit di suara tuan puteri itu.
Nilai yang terdapat pada penggalan tersebut adalah ….
sosial
moral
budaya
agama
pendidikan
Beberapa lama di jalan jalan, sampailah ia pada suatu taman dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba, ia mendengar orang melarangnya memukul gendang itu. Lalu, diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Putri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Putri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain, bersemayam perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera, Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Putri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya.
Bukti kesaktian tokoh yang terdapat dalam kutipan teks hikayat tersebut adalah ....
Syah Peri membunuh Garuda.
Putri Ratna Sari keluar dari gendang.
Syah Peri menikahi Putri Ratna Sari.
Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang.
Putri Ratna Sari bersembunyi di dalam gendang.
Beberapa lama di jalan jalan, sampailah ia pada suatu taman dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba, ia mendengar orang melarangnya memukul gendang itu. Lalu, diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Putri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Putri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain, bersemayam perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera, Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Putri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya.
Konjungsi urutan waktu yang terdapat dalam kutipan teks tersebut adalah ...
tatkala, maka, lalu
maka, lalu, dengan
maka, sampailah, lalu
tatkala, sampailah, lalu
tiba-tiba, maka, dengan
Hal yang membuat teks hikayat tidak diketahui pengarangnya adalah karena teks hikayat ...
berupa cerita rekaan
bertujuan menghibur
merupakan cerita pelipur lara
diceritakan dari mulut ke mulut
hanya berkembang di lingkungan istana
Berikut yang merupakan kaidah kebahasaan teks hikayat adalah menggunakan ...
majas sindiran
kalimat tunggal
kalimat imperatif
kalimat persuasif
konjungsi ururtan waktu
Berikut yang bukan merupakan kata arkais adalah ...
hatta
titah
sujana
enggan
syahdan
(1) Konon, aroma tubuhnya adalah kesturi yang mengcandukan.
(2) Si kaya hendak memberikan segantang beras kepada si fakir.
(3) Tuan putri elok parasnya, bersinar bagai cahaya rembulan.
(4) Dengan penuh rasa kecewa, si Miskin pulang dengan tangan hampa.
(5) Kesaktiannya sudah tersohor demikian cepat seperti angin yang melesat.
Majas antonomasia terdapat dalam kalimat nomor ...
1 dan 2
1 dan 3
2 dan 3
2 dan 4
3 dan 5
(1) Konon, aroma tubuhnya adalah kesturi yang mengcandukan.
(2) Si kaya hendak memberikan segantang beras kepada si fakir.
(3) Tuan putri elok parasnya, bersinar bagai cahaya rembulan.
(4) Dengan penuh rasa kecewa, si Miskin pulang dengan tangan hampa.
(5) Kesaktiannya sudah tersohor demikian cepat seperti angin yang melesat.
Majas simile terdapat dalam kalimat nomor ...
1 dan 2
2 dan 3
3 dan 4
4 dan 5
3 dan 5
Beberapa lama di jalan jalan, sampailah ia pada suatu taman dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba, ia mendengar orang melarangnya memukul gendang itu. Lalu, diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Putri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Putri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orangtuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain, bersemayam perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera, Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Putri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya.
Hal mustahil yang tergambar dalam teks hikayat tersebut adalah ...
Larangan memukul gendang
Syah Peri membunuh garuda.
Syah Peri membuka gendang dengan pisau
Pernikahan Syah Peri dengan Putri Ratna Sari
Masuknya beberapa orang dalam gendang dan cembul.
Para ahli nujum mengatakan, hanya air susu harimauyang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi, "Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami Tuan Putri." Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing dan menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka, ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala.
Pada kehidupan masa kini, istilah ahli nujum sudah tidak digunakan lagi. Padanan kata yang sesuai untuk istilah tersebut adalah ...
dokter
peramal
penasihat
pembantu
dukun bayi
Para ahli nujum mengatakan, hanya air susu harimauyang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi, "Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami Tuan Putri." Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing dan menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka, ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala.
Arti kata "bertitah" pada kutipan teks tersebut adalah ...
bergumam
bercerita
bergegas
bergurau
berkata
"Adapaun yang muda itu perempuan bernama Tuan Putri Ratna Komala: terlalu amat baik parasnya serta dengan arif bijaksananya, barang pekerjaanya dan permainannya yang tiada dapat dikerjakannya oleh orang lain, maka ia pun dapat mengerjakannya."
Berdasarkan kalimat tersebut, sifat menonjol, selain arif bijaksana, yang dimiliki oleh Tuan Putri Ratna Komala adalah ....
kikir
sabar
cakap
pemurah
rendah hati
Hatta maka pada suatu hari, baginda sedang ramai dihadapkan oleh segala raja-raja, menteri hulubalang, rakyat sekaliannya ada di penghadapan. Maka si miskin itupun sampailah ke penghadapan itu, setelah dilihat oleh orang banyak si miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya, maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu maka dilemparnyalah akan si miskin itu, kena tubuhnya habis bengkak-bengkak dan berdarah. Maka segala tubuhnya pun berlumur dengan darah, maka orang pun gemarlah maka titah baginda “Apakah yang gempar diluar itu”. Sembah segala rajaraja itu “Ya tuanku Syah Alam, orang melempar si miskin tuanku”. Maka titah baginda “suruh usir jauh-jauh”.
DI dalam penggalan teks tersebut, nama tokoh di sebuat sebagai "si Miskin". Penyebutan semacam itu termasuk dalam majas ...
simile
hiperbola
metafora
personifikasi
antonomasia
Hatta maka pada suatu hari, baginda sedang ramai dihadapkan oleh segala raja-raja, menteri hulubalang, rakyat sekaliannya ada di penghadapan. Maka si miskin itupun sampailah ke penghadapan itu, setelah dilihat oleh orang banyak si miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya, maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu maka dilemparnyalah akan si miskin itu, kena tubuhnya habis bengkak-bengkak dan berdarah. Maka segala tubuhnya pun berlumur dengan darah, maka orang pun gemarlah maka titah baginda “Apakah yang gempar diluar itu”. Sembah segala rajaraja itu “Ya tuanku Syah Alam, orang melempar si miskin tuanku”.
Maka titah baginda “suruh usir jauh-jauh”.
Berikut kalimat dalam penggalan teks hikayat tersebut ynag menggunakan majas simile adalah ...
Segala tubuhnya pun berlumur dengan darah.
Maka si Miskin itu pun sampailah ke penghadapan itu.
Maka orang banyak itu pun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu.
Setelah dilihat oleh orang bnyak si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya.
Hatta pada suatu hari, baginda sedang ramai dihadapkan oleh segala raja-raja, menteri, hulubalang, dan rakyat sekaliannya.
