Font size
WorksheetsAsesmen Novel XII MIPA 3
Total questions: 50
Worksheet time: 25mins
“Selesaikan pelajaranmu dulu, Manen. Zaman sekarang, seorang wanita sebaiknya dapat berdiri sendiri, apalagi kalau ia dapat membangun masyarakat.”
amanat yang paling tepat untuk penggalan novel diatas adalah...
Wanita sebaiknya dapat mandiri
Wanita harus bermasyarakat
Pendidikan suami istri harus seimbang
Wanita tidak boleh kalah oleh pria
Cita-cita jangan sampai gagal
Peran lawan yang seringkali menjadi musuh dan menyebabkan konflik itu terjadi disebut...
Protagonis
Antagonis
Tritagonis
Deutragonis
Figuran
teenlit merupakan pengklasifikasian jenis novel berdasarkan...
isi dan penokohan
genre
Kebenaran cerita
Latar belakang
Fiksi
Bacalah Kutipan novel berikut!
Lamunan Kabul putus karena pintu depan terbuka. Sri, pelayan warung Mak Sumeh, masuk membawa kopi dan pisang goreng. Sri segera berlalu dan menutup pintu dari luar. Namun hanya dalam hitungan detik pintu kembali terbuka. Wati masuk, memberi salam dengan suara tenggorokan. Sejak masuk kembali sesudah sakit, wajah Wati seperti bunga pot yang terlambat disiram. Malah jelas sekali tubuh Wati jadi lebih kurus.
Kabul menggulung kembali gambaran jembatan itu, menggulung kembali pikiran liar yang mengambra-ambra. Dan entahlah, suara Wati yang serak parau tiba-tiba menyita perhatiannya.
“Kamu sudah benar-benar sembuh kan, Wat?” tanya Kabul sambil memperhatikan Wati yang sedang melap meja kerja.
“Sudah kok, Mas” jawab Wati tanpa menoleh. Wajahnya nol. “Tapi aku belum berani naik motor. Jadi aku masih diantar Bani, adkku.”
“Kata dokter, kamu sakit apa?”
Wati menggigit bibir. Menunduk. Jelas sekali dia enggan menjawab pertanyaan Kabul. Merengut. Ah, selalu jantung Kabul menyentak dalam detik-detik Wati merengut. Dan detik yang mendebarkan itu cepat berlalu, karena Wati menoleh dan berusaha tersenyum.
“Dokter hanya bilang aku harus istirahat, itu saja.”
“Yang kamu rasakan?”
Wati kembali menunduk. Menelan ludah. Kemudian tanpa menoleh Wati menjawab lirih.
“Hanya lemas; dan anu ... sering berdebar-debar.”
Suasana kembali gagap. Kabul memasukkan gulungan gambar ke laci. Menoleh ke Wati yang masih menunduk sambil membuka-buka catatan.
Dikutip dari: Ahmad Tohari, Di Kaki Bukit Cibalak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014
Situasi dalam penggalan novel tersebut adalah ...
menakutkan
menegangkan
menyedihkan
mengkhawatirkan
membingungkan
Perhatikan penggalan novel berikut!
Di rumah Eyang Wira yang terletak di sebuah pedukuhan kecil, seorang sedang bertamu. Pemilik rumah serta tamunya duduk di ruang dalam. Malam hari di pedukuhan yang sepi membuat alam kelihatan akrab. Bulan mendaulat langit dengan latar belakang kedipan bintang-bintang. Awan yang melayang rendah membuat bayang-bayang raksasa di atas tanah. Bila tidak ada yang mengalingi, sinar bulan mencapai tanah dengan daya pantul yang penuh. Dari atas pohon rasamala, anak burung hantu memanggil-manggil induknya dengan suara berat.
Dikutip dari: Ahmad Tohari, Di Kaki Bukit Cibalak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014
Penggalan novel tersebut merupakan unsur intrinsik berupa ...
tema
latar
alur
penokohan
sudut pandang
Bacalah Kutipan cerita berikut!
“Tuhan! Kepada-Mu kami bergantung! Kepada-Mu kami mengadukan segala jeritan hati. Sadarkanlah mereka yang telah berbuat angkara murka. Terimalah amal mereka yang telah menjadi korban keganasan itu. Selamatkanlah negeri kami, Maluku tercinta!” ucap Bapak Pendeta.
“Amin!” sambutan hadirin.
Dikutip dari: Arsyad Siddik, Pattimura Pejuang yang Berakhir di Tiang Gantungan, Jakarta, Karya Unipress, 1984
Latar tempat pada kutipan cerita tersebut adalah ...
masjid
gereja
pura
vihara
klenteng
“Anak kecil!” Dia tertawa mengejekku. “Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.” Tangannya melambai, lalu mendekat berjalan ke arah belakang bangku-bangku.
“Tidak, Pak! Di sini saja, “Jawabku. Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.
“Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran?” tanyanya. Seisi kelas tertawa.
“Tidak, Pak,” kataku lagi. “Supaya dapat melihat orang-orang lain.” Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.
Watak tokoh “aku” dideskripsikan dengan cara
pelukisan bentuk fisik tokoh
penggambaran lingkungan sekitar tokoh
pengungkapan jalan pikiran tokoh
dialog antartokoh
Tanggapan tokoh lain
Bacalah Kutipan cerita berikut!
Sampai sore pertempuran masih terus berlangsung. Korban kedua belah pihak berjatuhan. Para pejuang satu per satu gugur sebagai kusuma bangsa. Darah mereka membasahi bumi pertiwi.
Kapitan Pattimura mengundurkan diri ke sebuah kampung. Kampung itu terletak di tengah hutan Negeri Booi. Kapitan Pattimura dan para pembantunya beristirahat pada sebuah rumah.
Rupanya, tempat persembunyian Kapitan Pattimura dan para pembantunya diketahui oleh Raja Booi. Cepat-cepat ia melaporkan tempat itu kepada Kapten Mayer.
“Jika Tuan mempercayai saya, akan kutunjukkan di mana Kapitan Pattimura bersembunyi,” kata Raja Booi.
Alangkah gembiranya Raja Booi. Pangkat dan jabatannya tetap berada di pundaknya. Oleh karena itu, ia berusaha menangkap Kapitan Pattimura. Padahal, Raja Booi sendiri telah menyatakan kebulatan tekad untuk membantu perjuangan Kapitan Pattimura. Bahkan, ia pula yang mengangkat pemuda Matulessi sebagai kapitan.
Dikutip dari: Arsyad Siddik, Pattimura Pejuang yang Berakhir di Tiang Gantungan, Jakarta, Karya Unipress, 1984
Latar waktu yang disebutkan pada kutipan cerita tersebut adalah ...
subuh
pagi
siang
sore
malam
“Anak kecil!” Dia tertawa mengejekku. “Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.” Tangannya melambai, lalu mendekat berjalan ke arah belakang bangku-bangku.
“Tidak, Pak! Di sini saja, “Jawabku. Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.
“Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran?” tanyanya. Seisi kelas tertawa.
“Tidak, Pak,” kataku lagi. “Supaya dapat melihat orang-orang lain.” Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.
Latar tempat dalam kutipan novel tersebut adalah ….
warung
kelas
sekolah
kantin
Ruang seni
Serba susah, serba salah. Ini tak kuat, ini tak sanggup. Dan sementara itu pikiran dan semangat selalu dikacaukan dan diharubirukan oleh sesal tak putus, sedih tak berkesudahan. Teringat sawah dan rumah pusaka bapak, yang telah dijual dan dihabiskan! Terkenang kebaikan istri, yang telah meninggalkan dunia karena makan hati oleh perbuatan dan kelakukan diri sendiri. Di mana tinggal kemegahan selama ini.
Akan pelengah-lengah pikiran dan akan pembeli nasi Mak Iyah mau tak mau. Ia pun bekarja juga menganyam topidari pandan seperti pada malam itu.
Akan tetapi perasaannya selalu tergoda, semangatnya senantiasa terganggu!
Konflik yang tersirat pada penggalan novel tersebut lebih didasarkan pada masalah….
Sosial
Budaya
Kejiwaan
Politik
Lingkungan
Bacalah kutipan novel berikut dengan seksama!
Empat hari kemudian aku duduk di samping sopir truk yang membawa hasil panen dari desa ke kota. Waktu itu umurku hampir enam belas tahun. Sudah dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan peraturan yang harus diturut tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada waktu itu aku menerimanya dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku orang yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dalam lingkungan adat kepala tunduk untuk mengiyakan semua orang tua. Tidak melihat alasan apa pun buat membantahnya. Padahal waktu itu aku khawatir. Tetapi juga gembira. Keduanya disebabkan karena aku akan tinggal di kota ….
Nilai adat (budaya) yang menonjol dalam penggalan novel tersebut adalah ....
kebiasaan mengangkut hasil panen dari desa ke kota
anak perempuan yang beranjak remaja ditentukan jodohnya
orang tua yang menyerahkan anak gadisnya kepada orang lain
ayah menentukan kehidupan anaknya dan haranaknyaus dituruti oleh anaknya
orang tua yang memberi doa yang baik kepada anaknya
“Apapun yang kamu katakan terhadapku, kutak peduli. Walau kaucaci maki, kaukutuki, aku terima. Tapi, untuk membiarkan Math dan Arcy hidup sebagai suami istri, padahal Tuhan telah melarangnya, o ... o... o .... itu telah melanggar prinsip hidup setiap orang yang percaya pada-Nya. Kau memang telah berbuat sesuatu yang benar sebagai ibu yang mau memelihara kebahagiaan anaknya. Tapi, ada lagi kebenaran yang lebih mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi, yakni kebenaran yang dikatakan Tuhan dalam kitab-Nya. Prinsip hidup segala manusialah menjunjung kebenaran Tuhan”
Nilai agama yang terdapat dalam kutipan novel tersebut ...
Segala keputusan hendaknya selalu dikembalikan pada ajaran agama.
Kesabaran seorang ayah dalam menghadapi perilaku anakanaknya
Tuhan melarang perkawinan beda agama.
Keikhlasan seorang ibu dalam membahagiakan anaknya.
Melanggar prinsip agarna mendatangkan kesengsaraan.
Perhatikan kutipan novel berikut!
Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bamboo itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. [ … .] Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks novel tersebut adalah …
Bapak memotret senja itu.
Bapak tertidur Karen alelah.
Bapak selalu menikmatinya.
Bapak dan ibu duduk berdua.
Bapak berharap kakak datang.
(1) Gak lama kemudian gue dan Trisna berangkat ke bioskop.
(2) Trisna memang tergila-gila sama Harry Potter semua blognya penuh dengan tulisan Harry Potter.
(3) Di buku hariannya di SMA di kolom cita-cita Trisna menulis pengen ketemu Harry Potterku untuk menyihirku menjadi gadisnya yang cantik.
Konjungsi temporal terdapat dalam kalimat nomor ...
1
2
3
1dan 2
2 dan 3
Di sela-sela kejombloan gue Trisna mengajak gue untuk nonton Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Gue menunggu dia di depan pagar rumahnya tak lama Trisna muncul dengan baju seperti mau kepesta dansa. Gue sampai bisa melihat partikel-partikel bedak yang dipakai terlalu tebal sampai harus terbawa angin. Aroma parfum Vera Wang yang dipakai langsung mengalahkan AC mobil gue yang sudah beberapa tidak di ganti.
Radit : “Parfum lo kenapa banyak amat sih? Ini kalo gue tutup mata, gue berasa di Taman Bunga Mekarsari. Ini kita sebenarnya mau ke prom night atau ke bioskop ya?”
Trisna : “Lo gak usah ngeledek deh, kita mau nonton film Harry Potter paling baru! Ini momen istimewa buat gue!”
Dari kutipan novel diatas dapat kita ketahui aliran yang digunakan penulis adalah ...
Komedi
Romance
Horor
Patriotisme
Religius
Begitulah takdir membentuk suatu kisah yang sangat panjang hanya untuk menyatukan kedua orang tersebut. Setelah melalui banyak kesedihan, waktu, akhirnya mereka diberi kesempatan untuk bersama.
Kalimat dalam kutipan novel diatas merupakan ...
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
Koda
Evaluasi
Bacalah kutipan novel “Sunset Bersama Rosie” di bawah ini!
(1) Perahu terombang-ambing pelan (2) Jasmine memperbaiki posisi snorkel (3) Tegar meneriakkan agar tidak jauh-jauh (4) Jasmine mengacungkan tangannya (5) Dari sini terlihat betul betapa senangnya Jasmine.
Kalimat yang menunjukkan latar tempat terdapat dalam nomor ...
1
2
3
4
5
Novel “Sunset Bersama Rosie” karya Tere Liye menceritakan tentang persahabatan sekaligus kisah cinta segitiga. Tokoh Tegar diceritakan harus patah hati melihat sahabat sekaligus gadis Rosie yang dicintainya dilamar oleh teman nya sendiri bernama Nathan. Namun setelah mereka menikah, bencana datang yaitu Nathan harus kehilangan nyawanya karena peristiwa Bom Bali. Setelah kejadian tersebut Rosie menjadi depresi dan anak-anaknya sangat sedih, Tegar tidak kuasa melihat keluarga Rosie. Ia pun menolong nya sampai keadaan putih, sampai dia harus membatalkan pernikannya dengan Sekar. Berjalannya waktu keluarga Rosie pulih seperti dahulu kala. Takdir menyatukan Tegar dan Rosie untuk bersatu.
Amanat yang dapat kita ambil dalam kutipan novel diatas ...
Menolong siapa pun untuk mendapat keuntungan
Kasihanilah mereka yang kita cintai
Bersenanglah karena dibalik musibah seseorang, terdapat peluang untuk kita
Tolonglah teman yang tertimpa musibah, walaupun itu berupa hal yang sangat kecil
Berbuat jujurlah atas perasaan yang kita punyai
Namun takdir berkata lain, dimalam sebelum pertunangan mereka, Bali terserang Bom (Bom Jimbaran) dan keluarga Rosie menjadi korban. Nathan meninggal, Rosie yang tak mampu menahan kehilangan depresi dan bersikap seperti orang gila.
Suasana yang terdapat dalam novel tersebut adalah ...
Gunda
Sedih
Tegang
Khusyuk
Hening
Tegar, seorang pemuda sukses dengan tingkat kemapanan luar biasa, bertanggung jawab, jujur, tampan, tubuh atletis, tak kurang suatu apa pun, namun belum menikah hingga usianya sudah 35 tahun. Tegar pernah patah hati, menyaksikan pujaan hatinya, Rosie (yang telah dia cinta selama 20 tahun) dilamar oleh sahabatnya sendiri yang baru dikenalkannya pada Rosie dua bulan yang lalu. Rosie amat sangat menyukai sunset, tak pernah sekalipun wajahnya berpaling saat 47 detik sunset berlangsung, kecuali saat Nathan melamarnya di atas puncak Gunung Rinjani. Rosie memandang wajah Nathan. Tegar tak kuasa lebih lama lagi menyaksikan hal menyakitkan tersebut dan langsung memutuskan untuk menghilang dari kehidupan mereka berdua.
Karakter tokoh Tegar dalam kutipan novel tersebut dapat diketahui melalui ...
Dialog antartokoh
Penjelasan langsung
Pikiran tokoh
Tindakan tokoh
Tanggapan tokoh lain
Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Gaya bahasa pada kalimat yang bercetak miring kutipan cerpen tersebut yaitu....
personifikasi
ironi
litotes
personifikasi
Metafora
“Huek, pahit, Nek. Dinda nggak suka. Nggak mau kopi ah!”
Nenek Aida tetap tersenyum. Ia teruskan kegiatannya membuat kopi. Setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu.
“Dinda nggak mau kopinya, Nek... pahit... kopi Dinda buat Nenek aja deh....”
“Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kejadian. Tahukah Dinda, semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup lebih istimewa. Mengerti?”
Pesan dalam kutipan cerpen tersebut yaitu....
Dalam kehidupan ini kita akan mengalami berbagai kejadian yang menyenangkan.
Hidup yang istimewa adalah hidup yang dapat menerima kepedihan.
Kita harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup ada peristiwa membahagiakan dan menyedihkan.
Dalam hidup dengarkanlah nasehat orang tua yang sudah berpengalaman dalam hidup.
Seringlah membaca buku psikologi
Bukti tokoh Aku memiliki watak menyesali perbuatannya terdapat pada kalimat....
Aku tetap memeluk lutut di pojok.
Aku tak tahu jam berapa lampu tiba-tiba dimatikan.
Kegelapan mengerikan menyelimuti diriku.
Tapi aku kehilangan waktu.
Kulihat ada manusia tapi tak punya hati
Pukul 11.20
“Enggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”
Besok Papa bisa antar Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
“Ngantar ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
“Ke mana?”
“Ke rumah Pak Pos.”
Latar tempat kutipan cerpen tersebut....
kamar tidur
dapur
ruang tamu
ruang makan
Kelas
(1) Aku ingin menumpahkan dendam setelah lama aku siapkan. (2) Dua puluh lima tahun. (3) Aku bergelar sarjana hukum dan pengacara termuda tersohor di negeri ini. (4) Aku punya uang dan tangan yang siap membalaskan dendamku. (5) Hanya saja, setiap niat itu aku beritahukan kepada kedua saudaraku, keduanya akan berkhutbah kepadaku, “Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan.”
Bukti watak tokoh Aku pendendam ditandai dengan kalimat nomor....
(1) dan (2)
(1) dan (4)
(2) dan (5)
(3) dan (4)
(2) dan (3)
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
Sudut pandang pengarang pada kutipan cerpen tersebut....
sudut pandang orang ketiga
sudut pandang orang pertama
sudut pandang orang kedua
sudut pandang campuran
Sudut pandang serba tahu
Gerimis halus masih turun dari langit. Masdudin berbalik dan mengikuti langkah istrinya ke ruang tamu.
“Mengapa Abang tiba-tiba kepingin makan kue gemblong Mak Sainah?” Asyura bertanya ketika Masdudin tengah mengatur nafas.
Masdudin berpikir untuk mencari jawaban yang pas. Dia sendiri tidak tahu mengapa pagi itu, ia ingat Mak Sainah yang biasanya menjajakan kue gemblong ke rumahnya. Tidak setiap hari juga. Dalam sepekan, dua sampai tiga kali Mak Sainah datang ke rumahnya.
Latar waktu kutipan cerpen tersebut yaitu....
A. pagi hari
B. siang hari
C. sore hari
D. malam hari
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci. Telapak kaki tangannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram.
Gaya bahasa pada kalimat: Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya, yaitu gaya bahasa....
A. personifikasi
B. hiperbola
C. litotes
D. simile
“Aku maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk tangan, berdeham-deham, membuat bunyi-bunyian agar ia merayap pergi.
“Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak’kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini.
(Dikutip dari novel "Laskar Pelangi")
Watak tokoh Lintang dalam kutipan novel tersebut adalah....
A. penakut
B. pemberani
C. ragu-ragu
D. tidak percaya diri
“Ah, salahku juga,”pikirku. Mengeluh berat, sambil menyenderkan badan pada senderan jautenil. Kepala terkulai lemah, sedang mata kabur-kabur melihat ke kejauhan orang yang tidak tertentu. Kukatupkan kedua belah tangan di atas pangkuan. Tulang dengkul memonclot tegap di bawah strip-strip celana piyamaku. “Ya. Alangkah kurusnya badanku sekarang, salahku juga!” Bergemalah lagi seolah-olah suara hatiku itu. “Mengapa aku sekarang begitu mudah naik darah?”
Ya setiap kali aku habis bertengkar, mestilah aku ditimpah oleh perasaan sesal yang mendalam, mestilah aku megakui bahwa aku lekas marah, terlalu lekas mengayunkan tangan atau menghamburkan kutuk.
Amanat yang tepat dari penggalan novel tersebut adalah……………
Emosi yang mendalam sehingga menyesal di akhir
Berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak agar tidak menyesal
Mengeluh terasa berat mendapatkan tugas yang dibebankan
Menyesal kemudian tidak berguna, maka berhati-hatilah sebelumnya
Perasaan sesal yang mendalam ketika aku lekas marah
Cermatilah penggalan novel di bawah ini!
Rapiah dan mertuanya tidak pernah keluar rumah. Sekalian orang yang dating bertandang sudah mengetahui bahwa mereka tak usah lagi mengetuk pintu atau berseru di beranda muka, melainkan bolehlah terus ke belakang saja buat menemui orang rumah.
Seorang pun diantara segala sahabat Hanafi tak dating ke rumahnya, karena selama ini yang dicari oleh mereka hanyalah Hanafi saja, sedang ahli rumahnya yang lain hanyalah berguna buat menyediakan hidangan belaka.
Kedua perempuan itu, mertua dan menantu, sedang asyik bekerja di dapur. Syafei tidur nyenyak dalam buaian di beranda belakang, diayuayun oleh si Buyung.
Unsur budaya minangkabau yang tersirat dalam penggalan novel diatas adalah…………..
Masuk rumah orang perlu minta izin dulu
Mertua dan menantu harus rukun dan damai
Seorang menantu harus taat pada mertua
Perempuan lebih banyak berperan dalam berumah tangga
Tamu yang diterima hanya untuk suami saja
Bacalah kutipan novel berikut!
Sang dewi malam begitu sedih. Dia hendak menangis melihat wajah bumiya yang carut-marut. Untung awan melindunginya sehingga dewi malam yang jelita tak sempat menyaksikan ulah anak-anak manusia.
Perkuburan kota ini betul-betul akan bergejolak!
( tembang kampong halaman )
Berikut ini analisis yang sesuai dengan kutipan novel tersebut, yaiu…….
Tokoh utamanya sang Dewi Malam
Menggunakan sudut pandang orang pertama (acuan)
Kegelisahan sang dewi malam menyaksikan bumi yang gersang
Pengarang banyak menggunakan majas dalam karyanya
Menggunakan alur maju
Bacalah penggalan novel berikut dengan seksama!
“Ne khabar?”Tanya Hadji Murat kepada lelaki tua tersebut, artinya, “Ada berita apa?”
“Khabar ‘yok tidak ada,”jawab lelaki tua tadi, memandang dengan matanya yang merah dan lesu bukan ke wajah Hadji Murat, tetapi ke dadanya. “Aku tinggal di kebun lebah, aku baru mengunjungi putraku hari ini. Dia yang tahu.”
Hadji Murat tahu bahwa lelaki tua itu tidak mau mengatakan apa yang diketahui dan apa yang perlu diketahui Hadji Murat,dan dengan mengangguk kecil dia tidak bertanya lagi.
Isi yang tersirat dalam penggalan novel tersebut adalah………..
Haji Murat bertamu kepada sahabatnya
Orang kaya menindas orang miskin
Lelaki tua tidak mau menceritakan sesuatu yang diketahuinya kepada Hadji Murat
Lelaki tua tidak mau membuka rahasia Hadji Murat
Hadji Murat sedang menyelidiki apa yang dirahasiakan oleh lelaki tua
Bacalah kutipan novel berikut ini!
Dengan santun kemal mencium tangan ayah dan ibunya dibalas ciuman di keningnya. Meski telah menjadi perwira polisi, kemal tetap seorang anak yang berbakti, tak banyak perubahan yang mencolok dari perilakunya. Di luar rumah, kemal harus menempatkan diri sebagai seorang perwira yang berwibawa, tak lagi boleh konyol, tidak boleh berbicara sembarangan tanpa dihitung dan ditimbang, tetapi bila di rumah, tetap saja kemal anak yang suka bermanja-manja kepada ibunya.
Watak kemal dalam penggalan novel tersebut adalah…………..
Pemarah
Rendah hati
Pendiam
Pemalu
Sombong
Berikut ini merupakan cara pengarang agar pembaca memahami watak-watak tiap-tiap tokoh dalam karya sastra, kecuali……….
Melukiskan jalan pikiran tokoh-tokohnya
Melukiskan bentuk lahirpara tokohnya
Mengakhiri konflik pelaku-pelakunya
Menggambarkan cara berdialog tokoh
Menggambarkan reaksi tokoh-tokoh tambahan terhadap tokoh utama
Cermati paragraf berikut!
Mereka terkejut melihat harimau ... melepaskan Pak Balam dari cengkeramannya. Harimau itu menghilang ke dalam hutan yang sangat gelap tengah malam itu. Dengan cepat mereka berlari dan menuju ke tempat Pak Balam terbaring. Dalam cahaya samar-samar dari potongan kayu yang menyala, mereka melihat betapa kaki kiri Pak Balam lukanya ..., betisnya terkena gigitan harimau, daging dan otot betisnya koyak hingga terlihat tulang yang putih, dan darah yang mengalir...
Frasa berikut yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah...
sangat besar, besar benar, teramat banyak
sangat besar, amat parah, amat banyak
cukup besar, sakit sekali, bagaikan air
agak besar, dalam sekali, tak tertahankan
tinggi besar, paling besar, seperti air
Cermatilah paragraf berikut!
Malam terasa dingin. Rasa dingin membuatku takut. Lolongan anjing yang terus menerus menyurutkan keberanianku untuk bangun. Perlahan-lahan kuselimuti tubbuhku dengan sarung, lalu kucoba berlindung di balik bantal. Terasa tegak hangat tubuhku.
Perbaikan kalimat yang tidak padu yang bercetak miring pada paragraf tersebut adalah...
Angin malam berhembus ke arahku.
Angin membuatku kedinginan.
Hembusan angin malam itu begitu kencang.
Semilir angin membangunkan bulu kudukku.
Hembusan angin dari luar pintu terasa dingin.
Cermati kutipan novel berikut dengan baik!
Wiraatmaja menggelengkan kepalanya. "Anak-anak berlainan dengan kita: apa yang kita katakan baik, katanya tidak baik." "Bukan begitu Bapak!" kata Tuti pula menyambung kata ayahnya. "Bukan mereka sengaja hendak bertentangan dengan orang tua. Yang bertentangan itu hanyalah pendapat tentang bahagia, tentang arti hidup kita sebagai manusia. Emang berkata bahwa bahagia itu ialah pekerjaan kemudian hari, pendeknya hidup yang senang.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan tersebut adalah...
Orang pertama sebagai pelaku pertama
Orang ketiga serba tahu
Orang pertama sebagai pengamat
Orang ketiga terarah
Orang ketiga bukan tokoh utama
Cermati kutipan novel berikut!
Dari lantai dua ini, kalian bisa melihat pekerja konstruksi bakal town square dua ratus meter di sisi kiri gerai foto kopian tadi. Beberapa remaja berkumpul ramai di sana. Para pekerja yang memakai helm tak peduli dengan hujan. Mereka sedang mengejar target peresmian enam bulan lagi. Bersaing dengan dua pusat perbelanjaan lainnya yang serempak dibangun. Kota ini maju sekali meskipun itu harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan.
Keterkaitan isi novel tersebut dengan kehidupan masyarakat saat ini adalah...
Kemajuan kota terkadang harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan.
Para pekerja kontruksi harus siap bekerja di mana pun dan kapan pun.
Para pekerja kontruksi tetap bekerja meskipun kondisi hujan.
Adanya persaingan antara toko dengan pusat perbelanjaan.
Para remaja sering berkumpul di toko cuci cetak foto.
Cermati teks berikut!
(1) Kehidupan di Lhok Nga mulai bergerak remang. (2) Cahaya matahari menyemburat dari balik bukit yang memagari kota. (3) Orang-orang sudah dari tadi kembali dari meunasah (beribadah). (4) Orang-orang mulai beranjak mengukir hari. (5) Yang berdagang pergi ke pasar, membuka toko-toko. (6) Yang bekerja di kantoran mandi, bersiap diri. (7) Yang sekolah menyiapkan buku-buku dan peralatan lainnya. (Hafalan Surat Delisa, Tere Liye)
Kalimat bermajas dalam paragraf tersebut terdapat pada kalimat bernomor...
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(2) dan (4)
(6) dan (7)
(2) dan (7)
"Awalnya, aku mau berteman dengan siapa saja, namun setelah mengetahui kelebihanku, aku mulai memilih teman yang bisa dekat denganku. Apalagi dengan otakku yang pandai, semakin banyak teman yang menyukaiku. Maka, aku pun mulai memilih teman dari golongan menengah ke atas. Aku tidak lagi mau berteman dengan anak yang setara padaku" (Kutipan Cerpen "Penyesalanku" karya Dian Indria A)
Nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah...
Moral
Pendidikan
Sosial
Budaya
Agama
"Sebenarnya sangat banyak kejadian seperti itu yang terjadi kepadaku, sangat sering. Terkadang aku bingung dengan orang-orang yang tak peduli untuk menutup aurat mereka. Sungguh, sebenarnya apa arti jilbab bagi mereka?" (Kutipan Cerpen "Apa Arti Jilbab Bagimu" karya Lamia N S)
Nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah...
Budaya
Sosial
Agama
Pendidikan
Moral
"Agaknya selama turun menurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan akibat kebodohan, komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak lelaki tertuanya Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya" (Kutipan Novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata)
Nilai yang terkandung dalam kutipan tersebut adalah...
Sosial
Moral
Pendidikan
Budaya
Agama
"Dua penumpang laki-laki, saat melihat Lail dan ibunya masuk, berdiri memberikan tempat duduk, "Terimakasih". Lail dan ibunya segera duduk" (Kutipan Novel "Hujan" karya Tere Liye)
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel di atas mengandung...
Sosial
Moral
Budaya
Agama
Pendidikan
Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel di atas adalah...
Moral
Sosial
Pendidikan
Agama
Budaya
Adi terus menerus menyesali kebodohannya yang begitu mudah terjebak dalam perangkap busuk yang dibuat Melly. Nasi telah menjadi bubur, ia menyesal telah begitu emosional memutuskan cintanya dengan Susan hanya karena mulut manis Melly yang ternyata berbisa. Adi sibuk berpikir, akankah Susan menerimanya kembali kalau ia mau mengakui kesalahannya. Perang dingin Susan dan Vivi masih berlanjut. Montir-montir baru yang direkrut Vivi, kerap berkomentar sinis yang membuat panas hati Susan. Namun Susan selalu dapat mengendalikan emosinya, justru Vivi lah yang kerap terpancing amarahnya.
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel di atas adalah...
Moral
Sosial
Budaya
Pendidikan
Agama
"Abu Bakar menangis. Ia tersedu dan gemetar hebat. Ia menahan amarah, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap Pak Yahudi. Lalu dengan terbata-bata, ia sampaikan sebuah rahasia. Kata Abu Bakar kepadanya: Tahukah Bapak, siapa orang yang selalu menyuapimu dengan sabar dan penuh kasih sayang itu? Dialah Rasulullah Muhammad yang engkau benci, yang setiap hari engkau maki. Tapi dia tak pernah sakit hati atau dendam kepadamu, justru memperlakukanmu melebihi cinta kerabatmu."
Nilai-nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah...
Moral dan budaya
moral dan psikologi
moral dan agama
agama dan budaya
moral dan pendidikan
Perkataan itu terdengar oleh sekalian isi kantor. Semua pesuruh berdiri dari bangku kedudukannya, memandang Kosim tenang-tenang. Warna muka orang muda itu merah padam, matanya bersinar-sinar. Bukan main marahnya karena ia dihinakan. Ia pun berkata dengan gagap, “Saya bu…bukan bujang, juragan.”
“Aku kepalamu, tuanmu, tahu? Kepadaku engkau minta izin jika hendak ke mana-mana dari kantor ini.”
“Keras kepala, bin… engkau! Ini manteri kabupaten, Manteri Surya, mengerti? Awas…”
Kosim gemetar, kedua bibirnya bertaut dan matanya terbelalak berapi-api. Ia melangkah menuju meja manteri dan membulatkan tinjunya.
Seketika itu juga tangannya dipegang oleh Suminta cepat-cepat lalu ia ditariknya keluar.
“Sudah Juragan Kosim,” katanya perlahan-lahan. Pergilah, ah…mana gelas itu Juragan Manteri? Saya cuci, saya beli kopi sekali?"
Nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah...
Moral
Sosial
Pendidikan
Agama
Budaya
Kenari merasa malu dan kurang percaya diri kalau berkumpul dengan teman-temannya. Tubuhnya kecil dan mengeluarkan bau tak sedap. Teman-temannya sering meledek dan menggodanya. Kenari ingin penampilannya berubah. Dia ingin buktikan kepada teman-temannya bahwa ia bisa tampil bersih dan tidak kalah besar. Kenari pun bangun pagi dan rajin membersihkan diri. Ia tidak malas lagi mencari makan. Berkat ejekan teman-temannya, dirinya membuang jauh-jauh sifat malasnya.
Nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah...
SOSIAL
MORAL
BUDAYA
PENDIDIKAN
AGAMA
Kemudian Pak Balam membuka matanya dan memandang mencari muka Wak Katok. Ketika pandangan mereka bertaut. Pak Balam berkata kepada Wak Katok. “Akuilah dosa-dosamu, Wak Katok, dan sujudlah ke hadirat Tuhan. Mintalah ampun kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun, akuilah dosa-dosamu, juga supaya kalian dapat selamat keluar dari rimba ini, jauh dari bahaya yang dibawa hariman ... biarlah aku yang jadi korban ...”
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel tersebut...
MORAL
SOSIAL
AGAMA
PENDIDIKAN
BUDAYA
