WorksheetsTPA 78A Part 4
Total questions: 12
Worksheet time: 18mins
Ella dan kawan-kawannya mengelola tempat penampungan kucing terlantar. Beragam jenis kucing dirawat di tempat penampungan ini. Ada kucing ras dan kucing domestik. Kucing-kucing ini ditemukan di berbagai tempat dalam keadaan sakit atau terluka. Kucing yang sudah kembali sehat kemudian diupayakan untuk mendapat adopter atau orang yang bersedia merawat di rumahnya. Usaha menemukan adopter tidaklah mudah. Ella membuat website tentang penampungan kucingnya untuk menawarkan kucing-kucing tersebut. Kucing tersebut akan diberikan secara gratis kepada adopter yang memenuhi persyaratan.
Syarat yang harus dipenuhi calon adopter adalah sanggup menyediakan tempat yang memadai, memberikan pakan, memberikan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan dan khusus kucing domestik harus disteril untuk menekan populasinya. Akibatnya jumlah kucing domestik di tempat penampungan Ella terus bertambah. Saat ini memang sedang trend memelihara kucing ras karena tampilannya lebih menarik meskipun harga pakannya lebih mahal dibandingkan kucing domestik. Selain itu, kucing ras juga lebih rentan terhadap penyakit karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Untuk kucing ras berbulu tebal, perlu disediakan ruangan dengan penyejuk udara. Ella kemudian mencari referensi tentang trend memelihara binatang. Ternyata trend dapat diupayakan berubah antara lain dengan membuka wawasan tentang nilai lebih kucing domestik dan menunjukkan keunikannya dibanding kucing ras.
Berdasarkan bacaan dan tabel, kesimpulan yang paling tepat adalah ....
Jenis kucing domestik lebih banyak yang sakit daripada jenis ras
Sebagian besar kucing ras dipenampungan Ella telah diadopsi
Jumlah kucing ras yang diadopsi tidak berbeda jauh dengan kucing domestik
Jumlah kucing ras di penampungan Ella terus berkurang
Jumlah kucing domestik yang diadopsi terus bertambah setiap bulannya
Ella dan kawan-kawannya mengelola tempat penampungan kucing terlantar. Beragam jenis kucing dirawat di tempat penampungan ini. Ada kucing ras dan kucing domestik. Kucing-kucing ini ditemukan di berbagai tempat dalam keadaan sakit atau terluka. Kucing yang sudah kembali sehat kemudian diupayakan untuk mendapat adopter atau orang yang bersedia merawat di rumahnya. Usaha menemukan adopter tidaklah mudah. Ella membuat website tentang penampungan kucingnya untuk menawarkan kucing-kucing tersebut. Kucing tersebut akan diberikan secara gratis kepada adopter yang memenuhi persyaratan.
Syarat yang harus dipenuhi calon adopter adalah sanggup menyediakan tempat yang memadai, memberikan pakan, memberikan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan dan khusus kucing domestik harus disteril untuk menekan populasinya. Akibatnya jumlah kucing domestik di tempat penampungan Ella terus bertambah. Saat ini memang sedang trend memelihara kucing ras karena tampilannya lebih menarik meskipun harga pakannya lebih mahal dibandingkan kucing domestik. Selain itu, kucing ras juga lebih rentan terhadap penyakit karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Untuk kucing ras berbulu tebal, perlu disediakan ruangan dengan penyejuk udara. Ella kemudian mencari referensi tentang trend memelihara binatang. Ternyata trend dapat diupayakan berubah antara lain dengan membuka wawasan tentang nilai lebih kucing domestik dan menunjukkan keunikannya dibanding kucing ras.
Berdasarkan bacaan, pernyataan berikut merupakan alternatif solusi yang mungkin untuk mengatasi masalah Ella?
Penampungan kucing dibatasi hanya untuk merawat jenis kucing ras
Menggencarkan informasi tentang keunggulan dan kemudahan perawatan kucing domestik
Menggencarkan promosi adopsi gratis kucing domestik melalui berbagai jenis media massa
Menyederhanakan syarat adopsi terutama bagi calon adopter kucing domestik
Mengurangi jumlah populasi kucing domestik dengan cara sterilisasi
Ella dan kawan-kawannya mengelola tempat penampungan kucing terlantar. Beragam jenis kucing dirawat di tempat penampungan ini. Ada kucing ras dan kucing domestik. Kucing-kucing ini ditemukan di berbagai tempat dalam keadaan sakit atau terluka. Kucing yang sudah kembali sehat kemudian diupayakan untuk mendapat adopter atau orang yang bersedia merawat di rumahnya. Usaha menemukan adopter tidaklah mudah. Ella membuat website tentang penampungan kucingnya untuk menawarkan kucing-kucing tersebut. Kucing tersebut akan diberikan secara gratis kepada adopter yang memenuhi persyaratan.
Syarat yang harus dipenuhi calon adopter adalah sanggup menyediakan tempat yang memadai, memberikan pakan, memberikan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan dan khusus kucing domestik harus disteril untuk menekan populasinya. Akibatnya jumlah kucing domestik di tempat penampungan Ella terus bertambah. Saat ini memang sedang trend memelihara kucing ras karena tampilannya lebih menarik meskipun harga pakannya lebih mahal dibandingkan kucing domestik. Selain itu, kucing ras juga lebih rentan terhadap penyakit karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Untuk kucing ras berbulu tebal, perlu disediakan ruangan dengan penyejuk udara. Ella kemudian mencari referensi tentang trend memelihara binatang. Ternyata trend dapat diupayakan berubah antara lain dengan membuka wawasan tentang nilai lebih kucing domestik dan menunjukkan keunikannya dibanding kucing ras.
Berdasarkan bacaan, apa yang mendorong Ella untuk mencari referensi tentang trend memelihara binatang?
Ella kesulitan mencari adopter yang berminat merawat kucing domestik
Ella ingin menjadikan tempat penampungannya lebih dikenal masyarakat luas
Ella perlu menambah pengetahuan tentang cara merawat kucing ras
Ella memerlukan pengetahuan tentang cara merawat berbagai jenis kucing
Ella mempelajari syarat adopsi kucing yang mudah dipenuhi calon adopter
Ella dan kawan-kawannya mengelola tempat penampungan kucing terlantar. Beragam jenis kucing dirawat di tempat penampungan ini. Ada kucing ras dan kucing domestik. Kucing-kucing ini ditemukan di berbagai tempat dalam keadaan sakit atau terluka. Kucing yang sudah kembali sehat kemudian diupayakan untuk mendapat adopter atau orang yang bersedia merawat di rumahnya. Usaha menemukan adopter tidaklah mudah. Ella membuat website tentang penampungan kucingnya untuk menawarkan kucing-kucing tersebut. Kucing tersebut akan diberikan secara gratis kepada adopter yang memenuhi persyaratan.
Syarat yang harus dipenuhi calon adopter adalah sanggup menyediakan tempat yang memadai, memberikan pakan, memberikan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan dan khusus kucing domestik harus disteril untuk menekan populasinya. Akibatnya jumlah kucing domestik di tempat penampungan Ella terus bertambah. Saat ini memang sedang trend memelihara kucing ras karena tampilannya lebih menarik meskipun harga pakannya lebih mahal dibandingkan kucing domestik. Selain itu, kucing ras juga lebih rentan terhadap penyakit karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Untuk kucing ras berbulu tebal, perlu disediakan ruangan dengan penyejuk udara. Ella kemudian mencari referensi tentang trend memelihara binatang. Ternyata trend dapat diupayakan berubah antara lain dengan membuka wawasan tentang nilai lebih kucing domestik dan menunjukkan keunikannya dibanding kucing ras.
Berdasarkan tabel, jika masalah mencari adopter teratasi hal yang paling mungkin terjadi pada bulan April adalah ….
Jumlah kucing domestik di penampungan akan berkurang
Jumlah kucing dipenampungan akan bertambah
Jumlah kucing domestik yang diadopsi akan bertambah
Jumlah kucing ras yang diadopsi akan berkurang
Jumlah kucing domestik yang diadopsi akan berkurang
Desa A merupakan daerah tujuan wisata yang mengangkat budaya tradisional dan keindahan alamnya. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan kesenian daerah sambil menikmati kuliner khas setempat. Selain itu, pengunjung bisa mengunjungi bangunan rumah tradisional sembari menikmati pemandangan alam yang indah berupa pegunungan, sawah dan perkebunan. Sebagian besar penduduk desa terlibat sebagai penyedia kuliner, pengisi pertunjukan atau penyedia lahan sawah dan kebunnya atau rumahnya sebagai lokasi wisata. Para pemuda desa berperan sebagai pengelola. Segala permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Wisatawan yang berkunjung ke Desa A umumnya puas kemudian mereka mempromosikan lokasi tersebut kepada orang lain. Belum banyak yang tahu adanya wisata alam tersebut karena letaknya yang cukup tersembunyi.
Tak jauh dari Desa A terdapat lokasi wisata lainnya yang terletak di kota B. Berbeda dengan Desa A, Kota B tidak memiliki pemandangan alam yang indah. Namun jumlah wisatawan di Kota B terus meningkat. Kota B membangun tempat wisata “Jelajah Dunia” yang menampilkan beragam tiruan miniatur bangunan terkenal dari berbagai negara. Wisata “ Jelajah Dunia” dikelola oleh perusahaan yang menerapkan berbagai standart pengelolaan dan pelayanan. Miniatur bangunan terawat dengan baik, area taman dan jalan selalu bersih, terdapat papan penunjuk arah, fasilitas kesehatan, area kuliner dan pemandu wisata yang berwawasan luas tentang bangunan terkenal didunia. Meskip harga tiket masuk lebih mahal daripada tiket ke desa A, pengunjung rata-rata merasa ingin kembali lagi.
Berdasarkan grafik, jika promosi digencarkan hal yang paling mungkin terjadi pada jumlah wisatawan ke Desa A di bulan Juni adalah ….
Jumlah wisatawan ke desa A akan cenderung turun
Jumlah wisatawan ke desa A akan cenderung stabil di sekitar 50 an
Jumlah wisatawan ke desa A akan melebihi Kota B
Jumlah wisatawan ke desa A sama seperti bulan Mei
Jumlah wisatawan akan meningkat tapi tidak melebihi kota B
Desa A merupakan daerah tujuan wisata yang mengangkat budaya tradisional dan keindahan alamnya. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan kesenian daerah sambil menikmati kuliner khas setempat. Selain itu, pengunjung bisa mengunjungi bangunan rumah tradisional sembari menikmati pemandangan alam yang indah berupa pegunungan, sawah dan perkebunan. Sebagian besar penduduk desa terlibat sebagai penyedia kuliner, pengisi pertunjukan atau penyedia lahan sawah dan kebunnya atau rumahnya sebagai lokasi wisata. Para pemuda desa berperan sebagai pengelola. Segala permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Wisatawan yang berkunjung ke Desa A umumnya puas kemudian mereka mempromosikan lokasi tersebut kepada orang lain. Belum banyak yang tahu adanya wisata alam tersebut karena letaknya yang cukup tersembunyi.
Tak jauh dari Desa A terdapat lokasi wisata lainnya yang terletak di kota B. Berbeda dengan Desa A, Kota B tidak memiliki pemandangan alam yang indah. Namun jumlah wisatawan di Kota B terus meningkat. Kota B membangun tempat wisata “Jelajah Dunia” yang menampilkan beragam tiruan miniatur bangunan terkenal dari berbagai negara. Wisata “ Jelajah Dunia” dikelola oleh perusahaan yang menerapkan berbagai standart pengelolaan dan pelayanan. Miniatur bangunan terawat dengan baik, area taman dan jalan selalu bersih, terdapat papan penunjuk arah, fasilitas kesehatan, area kuliner dan pemandu wisata yang berwawasan luas tentang bangunan terkenal didunia. Meskip harga tiket masuk lebih mahal daripada tiket ke desa A, pengunjung rata-rata merasa ingin kembali lagi.
Berdasarkan bacaan dan grafik, kesimpulan yang paling tepat adalah ....
Wisatawan ke Kota B menurun jumlahnya pada bulan Februari karena harga tiket mahal
Wisatawan ke Desa A tidak sebanyak wisatawan ke Kota B karena tema budaya kurang menarik
Jumlah pengunjung yang puas di Kota B lebih banyak daripada di Desa A karena terlayani dengan baik
Wisatawan ke Desa A cenderung menurun karena lokasinya yang tersembunyi
Wisatawan ke kota B cenderung meningkat karena pengelolaan dan pelayanannya terstandar
Desa A merupakan daerah tujuan wisata yang mengangkat budaya tradisional dan keindahan alamnya. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan kesenian daerah sambil menikmati kuliner khas setempat. Selain itu, pengunjung bisa mengunjungi bangunan rumah tradisional sembari menikmati pemandangan alam yang indah berupa pegunungan, sawah dan perkebunan. Sebagian besar penduduk desa terlibat sebagai penyedia kuliner, pengisi pertunjukan atau penyedia lahan sawah dan kebunnya atau rumahnya sebagai lokasi wisata. Para pemuda desa berperan sebagai pengelola. Segala permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Wisatawan yang berkunjung ke Desa A umumnya puas kemudian mereka mempromosikan lokasi tersebut kepada orang lain. Belum banyak yang tahu adanya wisata alam tersebut karena letaknya yang cukup tersembunyi.
Tak jauh dari Desa A terdapat lokasi wisata lainnya yang terletak di kota B. Berbeda dengan Desa A, Kota B tidak memiliki pemandangan alam yang indah. Namun jumlah wisatawan di Kota B terus meningkat. Kota B membangun tempat wisata “Jelajah Dunia” yang menampilkan beragam tiruan miniatur bangunan terkenal dari berbagai negara. Wisata “ Jelajah Dunia” dikelola oleh perusahaan yang menerapkan berbagai standart pengelolaan dan pelayanan. Miniatur bangunan terawat dengan baik, area taman dan jalan selalu bersih, terdapat papan penunjuk arah, fasilitas kesehatan, area kuliner dan pemandu wisata yang berwawasan luas tentang bangunan terkenal didunia. Meskip harga tiket masuk lebih mahal daripada tiket ke desa A, pengunjung rata-rata merasa ingin kembali lagi.
Berdasarkan bacaan, masalah apa yang paling menyebabkan wisatawan di Desa A tida sebanyak wisatawan di Kota B?
Lokasi Desa A kurang strategis dibanding kota B
Promosi Desa A belum dikelola secara profesional
Harga tiket masuk Desa A belum semahal Kota B
Wisatawan lebih menggemari wisata tiruan daripada alam
Transportasi ke Desa A lebih sulit daripada ke kota B
Desa A merupakan daerah tujuan wisata yang mengangkat budaya tradisional dan keindahan alamnya. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan kesenian daerah sambil menikmati kuliner khas setempat. Selain itu, pengunjung bisa mengunjungi bangunan rumah tradisional sembari menikmati pemandangan alam yang indah berupa pegunungan, sawah dan perkebunan. Sebagian besar penduduk desa terlibat sebagai penyedia kuliner, pengisi pertunjukan atau penyedia lahan sawah dan kebunnya atau rumahnya sebagai lokasi wisata. Para pemuda desa berperan sebagai pengelola. Segala permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. Wisatawan yang berkunjung ke Desa A umumnya puas kemudian mereka mempromosikan lokasi tersebut kepada orang lain. Belum banyak yang tahu adanya wisata alam tersebut karena letaknya yang cukup tersembunyi.
Tak jauh dari Desa A terdapat lokasi wisata lainnya yang terletak di kota B. Berbeda dengan Desa A, Kota B tidak memiliki pemandangan alam yang indah. Namun jumlah wisatawan di Kota B terus meningkat. Kota B membangun tempat wisata “Jelajah Dunia” yang menampilkan beragam tiruan miniatur bangunan terkenal dari berbagai negara. Wisata “ Jelajah Dunia” dikelola oleh perusahaan yang menerapkan berbagai standart pengelolaan dan pelayanan. Miniatur bangunan terawat dengan baik, area taman dan jalan selalu bersih, terdapat papan penunjuk arah, fasilitas kesehatan, area kuliner dan pemandu wisata yang berwawasan luas tentang bangunan terkenal didunia. Meskip harga tiket masuk lebih mahal daripada tiket ke desa A, pengunjung rata-rata merasa ingin kembali lagi.
Berdasarkan bacaan, Upaya yang bisa ditiru pengelolaa wisata Desa A dari Kota B adalah ....
Membuat bangunan tiruan seperti di Kota B
Meningkatkan kebersihan terutama di area persawahan dan perkebunan
Meningkatkan pengelolaan Desa A sebagai tujuan wisata
Melengkapi sarana prasarana yang memadai seperti ruang kuliner
Menyediakan jasa pemandu wisata yang memahami budaya Desa A
Fenomena pernikahan usia dini telah berkurang di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir. Namun, fenomena tersebut masih banyak terjadi di negara berkembang, Indonesia menempati urutan ke-37 dari 158 negara di dunia yang memiliki kasus pernikahan usia dini yang tinggi. Sementara itu, di antara negara ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Kamboja (UN DESA, 2011). Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, 17 persen perempuan yang berusia 20-24 tahun melaporkan bahwa mereka menikah sebelum berusia 18 tahun dan 3 persen lainnya menikah sebelum berusia 15 tahun.
Pernikahan usia dini memiliki beberapa dampak negatif. Semua perempuan yang menikah di usia dini berisiko tinggi untuk bercerai. Hal tersebut dipicu oleh perkembangan emosi yang masih belum matang. Sebagian dari perempuan yang berisiko tinggi untuk bercerai mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu perempuan berusia 10 – 14 tahun berisiko lima kali lipat untuk meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20 – 24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15 – 19 tahun. Ditemukan pula bahwa 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur.
Menurut Nurhayati (2015), pengetahuan akan dampak pernikahan usia dini berkontribusi kuat terhadap sikap dan pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Semakin tinggi pengetahuan perempuan tentang dampak tersebut, sikap terhadap pernikahan usia dini semakin negatif. Ketika seorang perempuan memiliki sikap negatif terhadap pernikahan usia dini, keputusan mereka untuk melakukan pernikahan tersebut dapat dicegah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang sikapnya negatif terhadap pernikahan dini akan memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan pernikahan dini. Salah satu alasannya adalah perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Biasanya, Kelompok ini adalah mereka yang tinggal di kota besar. Data pernikahan dini di Indonesia disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah perempuan usia 20 – 24 tahun yang menikah, menurut daerah tempat tinggal (Dalam Juta).
Berdasarkan paragraf 1, apa yang paling mungkin terjadi di Malaysia?
menempati urutan jumlah kasus pernikahan dini yang lebih tinggi daripada Indonesia.
memiliki persentase perempuan menikah pada usia dini yang lebih tinggi daripada Indonesia.
memiliki angka perceraian yang sangat tinggi pada usia muda.
jumlah pernikahan dini mengalami peningkatan yang lebih tinggi daripada Indonesia.
jumlah perempuan yang menikah di usia muda tergolong tinggi.
Fenomena pernikahan usia dini telah berkurang di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir. Namun, fenomena tersebut masih banyak terjadi di negara berkembang, Indonesia menempati urutan ke-37 dari 158 negara di dunia yang memiliki kasus pernikahan usia dini yang tinggi. Sementara itu, di antara negara ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Kamboja (UN DESA, 2011). Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, 17 persen perempuan yang berusia 20-24 tahun melaporkan bahwa mereka menikah sebelum berusia 18 tahun dan 3 persen lainnya menikah sebelum berusia 15 tahun.
Pernikahan usia dini memiliki beberapa dampak negatif. Semua perempuan yang menikah di usia dini berisiko tinggi untuk bercerai. Hal tersebut dipicu oleh perkembangan emosi yang masih belum matang. Sebagian dari perempuan yang berisiko tinggi untuk bercerai mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu perempuan berusia 10 – 14 tahun berisiko lima kali lipat untuk meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20 – 24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15 – 19 tahun. Ditemukan pula bahwa 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur.
Menurut Nurhayati (2015), pengetahuan akan dampak pernikahan usia dini berkontribusi kuat terhadap sikap dan pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Semakin tinggi pengetahuan perempuan tentang dampak tersebut, sikap terhadap pernikahan usia dini semakin negatif. Ketika seorang perempuan memiliki sikap negatif terhadap pernikahan usia dini, keputusan mereka untuk melakukan pernikahan tersebut dapat dicegah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang sikapnya negatif terhadap pernikahan dini akan memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan pernikahan dini. Salah satu alasannya adalah perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Biasanya, Kelompok ini adalah mereka yang tinggal di kota besar. Data pernikahan dini di Indonesia disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah perempuan usia 20 – 24 tahun yang menikah, menurut daerah tempat tinggal (Dalam Juta).
Manakah pernyataan di bawah ini yang tidak mendukung kalimat bercetak tebal pada paragraf 2?
remaja berusia 17 tahun lebih banyak yang sudah menikah dibandingkan yang berusia 20 tahun
remaja berusia 20 dan 24 tahun memiliki kemungkinan yang sama untuk meninggal saat bersalin
lebih banyak remaja berusia 14 tahun yang meninggal saat bersalin dibandingkan remaja usia 21 tahun
lebih banyak remaja berusia 17 tahun yang meninggal saat hamil dibandingkan remaja usia 24 tahun
lebih sedikit remaja berusia 22 tahun yang meninggal saat hamil dibandingkan remaja usia 18 tahun
Fenomena pernikahan usia dini telah berkurang di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir. Namun, fenomena tersebut masih banyak terjadi di negara berkembang, Indonesia menempati urutan ke-37 dari 158 negara di dunia yang memiliki kasus pernikahan usia dini yang tinggi. Sementara itu, di antara negara ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Kamboja (UN DESA, 2011). Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, 17 persen perempuan yang berusia 20-24 tahun melaporkan bahwa mereka menikah sebelum berusia 18 tahun dan 3 persen lainnya menikah sebelum berusia 15 tahun.
Pernikahan usia dini memiliki beberapa dampak negatif. Semua perempuan yang menikah di usia dini berisiko tinggi untuk bercerai. Hal tersebut dipicu oleh perkembangan emosi yang masih belum matang. Sebagian dari perempuan yang berisiko tinggi untuk bercerai mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu perempuan berusia 10 – 14 tahun berisiko lima kali lipat untuk meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20 – 24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15 – 19 tahun. Ditemukan pula bahwa 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur.
Menurut Nurhayati (2015), pengetahuan akan dampak pernikahan usia dini berkontribusi kuat terhadap sikap dan pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Semakin tinggi pengetahuan perempuan tentang dampak tersebut, sikap terhadap pernikahan usia dini semakin negatif. Ketika seorang perempuan memiliki sikap negatif terhadap pernikahan usia dini, keputusan mereka untuk melakukan pernikahan tersebut dapat dicegah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang sikapnya negatif terhadap pernikahan dini akan memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan pernikahan dini. Salah satu alasannya adalah perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Biasanya, Kelompok ini adalah mereka yang tinggal di kota besar. Data pernikahan dini di Indonesia disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah perempuan usia 20 – 24 tahun yang menikah, menurut daerah tempat tinggal (Dalam Juta).
Berdasarkan tabel, pernikahan usia dini kedua terbanyak baik perkotaan maupun perdesaan terjadi pada tahun ....
2008
2009
2010
2011
2012
Fenomena pernikahan usia dini telah berkurang di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir. Namun, fenomena tersebut masih banyak terjadi di negara berkembang, Indonesia menempati urutan ke-37 dari 158 negara di dunia yang memiliki kasus pernikahan usia dini yang tinggi. Sementara itu, di antara negara ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Kamboja (UN DESA, 2011). Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, 17 persen perempuan yang berusia 20-24 tahun melaporkan bahwa mereka menikah sebelum berusia 18 tahun dan 3 persen lainnya menikah sebelum berusia 15 tahun.
Pernikahan usia dini memiliki beberapa dampak negatif. Semua perempuan yang menikah di usia dini berisiko tinggi untuk bercerai. Hal tersebut dipicu oleh perkembangan emosi yang masih belum matang. Sebagian dari perempuan yang berisiko tinggi untuk bercerai mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu perempuan berusia 10 – 14 tahun berisiko lima kali lipat untuk meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20 – 24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15 – 19 tahun. Ditemukan pula bahwa 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur.
Menurut Nurhayati (2015), pengetahuan akan dampak pernikahan usia dini berkontribusi kuat terhadap sikap dan pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Semakin tinggi pengetahuan perempuan tentang dampak tersebut, sikap terhadap pernikahan usia dini semakin negatif. Ketika seorang perempuan memiliki sikap negatif terhadap pernikahan usia dini, keputusan mereka untuk melakukan pernikahan tersebut dapat dicegah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang sikapnya negatif terhadap pernikahan dini akan memiliki kemungkinan kecil untuk melakukan pernikahan dini. Salah satu alasannya adalah perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Biasanya, Kelompok ini adalah mereka yang tinggal di kota besar. Data pernikahan dini di Indonesia disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah perempuan usia 20 – 24 tahun yang menikah, menurut daerah tempat tinggal (Dalam Juta).
Berdasarkan tabel, jika tren pada tahun berikutnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, apa yang paling mungkin terjadi pada tahun 2013?
jumlah perempuan yang menikah pada usia dini, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan meningkat
jumlah perempuan yang menikah pada usia dini, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan menurun
jumlah perempuan yang menikah pada usia dini di daerah perdesaan lebih sedikit daripada perkotaan
jumlah perempuan yang menikah pada usia dini di kelompok usia 20 – 24 tahun meningkat
jumlah perempuan yang menikah pada usia dini di kelompok usia 20 – 24 tahun di perdesaan menurun
