WorksheetsUlangan Harian BAB. 1 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Total questions: 12
Worksheet time: 37mins
Bacalah teks berikut ini!
Persaingan antarpedagang Belanda ataupun dengan pedagang asing lainnya, seperti Portugal dan Inggris, dalam perniagaan rempah-rempah tertentu saja sangat tidak menguntungkan Belanda. Persaingan tersebut sangat tidak menguntunkan Belanda. Persaingan tersebut mengakibatkan merosotnya keuntungan Perusahaan-perusahaan pelayaran niaga Belanda. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat, dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai Perusahaan niaga yang terbesar di enam kota di Belanda. Pada 20 maret 1602, perserikatan tersebut resmi dibentuk dengan nama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)
Sumber: dihimpun dari berbagai sumber
Berdasarkan bacaan teks diatas, tujuan dibentuknya VOC adalah…
Ingin bekerja sama dengan Portugis dan Spanyol dalam mencari jalur-jalur baru di Asia
Memenuhi keinginan pemerintah Belanda untuk mempunyai satu badan dagang
Memperkuat posisi kongsi Belanda dalam perniagaan rempah-rempah
Menjadikan Belanda sebagai pusat penjualan rempah-rempah di dunia
Meningkatkan kemampuan teknologi pelayaran bangsa Belanda
Bacalah teks berikut ini!
Imperialisme merupakan istilah yang merujuk pada sistem perluasan kekuasaan suatu negara kaya dan berkuasa di luar daerah negara tersebut. Kata imperialisme sendiri berasal dari bahasa latin imperium yang berarti kekuasaan, pemerintahan, dan kedaulatan. Lantas, apa pengertian imperialisme dan bagaimana sejarah kemunculannya?
Pada mulanya, istilah ini digunakan untuk merujuk sistem perluasan kekuasaan yang dilakukan kerajaan Inggris di kawasan Asia-Afrika pada abad ke-19. Imperialisme memiliki tujuan utama untuk mendapatkan sumber daya secara murah dengan mendirikan pemerintahan imperialis di wilayah jajahan yang dianggap miskin dan terbelakang namun kaya akan sumber daya.
Dilansir Britannica, demi mendapatkan tujuan tersebut, negara imperialis menggunakan berbagai cara, mulai dari ekspansi militer hingga cara yang lebih halus, misalnya penerapan budaya negara imperialis di wilayah jajahan. Eksploitasi ekonomi tersebut seringkali dibarengi dengan klaim bahwa negara imperialis tengah membantu wilayah jajahannya untuk keluar dari jerat kemiskinan dan keterbelakangan lewat imperialisme. Klaim tersebut sering kali diiringi dengan menyebarnya sistem peradaban Barat yang memperkenalkan kemajuan teknologi dan tata kelola pemerintahan di wilayah-wilayah jajahan. Perspektif yang etnosentris tersebut sering kali berujung pada penerapan kebijakan-kebijakan di wilayah jajahan yang berlandaskan pada segregasi rasial masyarakat.
Selain itu, imperialisme yang dilakukan Barat turut dipengaruhi faktor agama yang lekat dalam sistem kehidupan bangsa Eropa. Negara imperialis percaya bahwa imperialisme merupakan salah satu bentuk pengamalan tugas suci keagamaan, berupa penyebaran agama Nasrani. Kepercayaan bangsa imperialis ini sering kali disebut dengan istilah The White Man Burden. Sejauh ini, penerapan imperialisme terbagi menjadi 2 kategori menurut waktu berlangsungnya imperialisme, yakni imperialisme kuno dan Imperialisme modern.
Imperialisme Kuno
Imperialisme kuno merujuk pada praktik imperialisme yang dilakukan negara-negara besar atas negara-negara di luar batas teritorinya sebelum Revolusi Industri pada 1870. Beberapa imperium yang muncul sebelum 1870 antara lain imperium Romawi, Turki Usmani, Cina, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, atau Perancis. Imperium-imperium tersebut telah sejak lama memperluas daerah kekuasaannya di wilayah Asia, Afrika, dan Amerika. Imperialisme kuno juga dapat dilihat dari tujuan khasnya, yang tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperluas pengaruh keagamaan dan kejayaan atau dikenal dengan semangat 3G (Gold, Glory, dan Gospel).
Imperialisme Modern
Berbeda dari imperialisme kuno yang telah dijelaskan di atas, imperialisme modern merujuk pada praktik imperialisme yang terjadi pasca Revolusi Industri 1870. Revolusi Industri yang menjanjikan efektivitas dan produktivitas sektor industri membuat wilayah Eropa mengalami surplus modal dan barang. Keadaan ini kemudian mendorong negara-negara Barat melakukan ekspansi ke luar wilayah kekuasaannya. Corak imperialisme modern yang terjadi usai Revolusi Industri lebih menekankan pada aspek eksploitasi ekonomi wilayah terjajah. Pasca 1870, praktik imperialisme difokuskan untuk mendapatkan kekuasaan atas wilayah-wilayah yang kaya akan bahan baku untuk keperluan industri Eropa. Bangsa-bangsa Eropa kemudian melakukan penjelajahan ke berbagai benua (terutama benua Asia, Afrika, dan Amerika) untuk mencari bahan baku murah. Selain itu, wilayah-wilayah jajahan juga dijadikan sebagai jejaring pasar produk-produk industri Barat.
Sumber: https://tirto.id/ada-itu-imperialisme-dan-sejarah-kemunculannya-gsi1
Berdasarkan bacaan teks, tentukanlah pernyataan yang benar berikut ini tentang imperialisme modern …
Kemunculan imperialisme modern merupakan dampak dari suksesnya penerapan imperialisme kuno bangsa Barat
Lahirnya Revolusi Industri mengubah pola penjajahan menjadi lebih eksploitatif terhadap penduduk pribumi
Upaya untuk meningkatkan komoditas perdagangan dengan negara besar merupakan contoh imperialisme modern
Perkembangan agama Kristen yang masif di daerah jajahan mempermudah penerimaan masyarakat terhadap kedatangan bangsa Barat
Upaya untuk memperkaya diri sendiri melalui kepemilikan logam mulia merupakan ciri-ciri kehidupan bangsa Barat sebelum Revolusi Industri
Perhatikan wacana berikut!
Situs Ombilin, Tambang Batu Bara Tertua di Indonesia
Tambang batu bara pertama di Indonesia terletak di Ombilin, Sawahlunto, Sumatra Barat. Pada
2019 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan
tambang batu bara Ombilin sebagai salah satu situs warisan dunia.
Sawahlunto terletak 95 kilometer arah timur laut Kota Padang. Sebelum menjadi daerah
pertambangan, Sawahlunto merupakan lembah subur yang difungsikan sebagai sawah oleh
warga. Lembah tersebut dibelah oleh aliran Sungai Lunto. Hingga pada 1868 seorang ahli
geologi Belanda, Willem Hendrik de Grevee menemukan kandungan batu bara di Ombilin.
Pada 1871 laporan ke Batavia mengenai penemuan ini disusun dengan judul Het Ombilin
kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Weskust.
Setelah mengetahui kandungan sumber daya alam serta potensi ekonominya, pemerintah
Hindia Belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi. Pada 1872, de Greeve melakukan
eksplorasi lanjutan di Sumatra Barat. Akan tetapi, ia meninggal setelah mengalami kecelakaan
di Sungai Indragiri saat melakukan penelitian. Penelitian de Graeeve dilanjutkan oleh dua
insinyur tambang asal Belanda, Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Daniel David Veth pada
1874. Veth kemudian menulis laporan berjudul The Expedition to Central Sumatra.
Sebagai fasilitas pendukung dibangun pula infrastruktur tambang batu bara di Sawahlunto.
Salah satunya jalur rel kereta dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur).
Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan pada 1883–1894. Setelah pembangunan
infrastruktur selesai hasil tambang batu bara diangkut menggunakan kereta api. Selanjutnya,
hasil tambang diekspor menggunakan kapal uap SS Sawahlunto dan SS Ombillin-Nederland.
Manakah pernyataan-pernyataan berikut yang sesuai dengan isi bacaan mengenai Situs Ombilin…
Laporan berjudul The Expedition to Central Sumatra ditulis oleh Hendrik de Grevee.
Jalur kereta api di wilayah Sawahlunto dibangun untuk mempermudah mobilitas hasil tambang
Pulau Sumatra menyimpan cadangan batu bara yang potensial bagi perkembangan perekonomian Indonesia
Penelitian kandungan sumber daya alam di wilayah Sawahlunto dilakukan pemerintah Hindia Belanda sejak abad XVIII
Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Hendrik de Grevee menjalin kerja sama untuk melakukan eksplorasi lanjutan di wilayah Sumatra Barat
Bacalah penggalan artikel di bawah ini!
Dampak kolonialisme dan Imperialisme di Bidang Politik
Bangsa Eropa membawa dampak yang cukup besar dalam dunia politik Indonesia pada masa penjajahan. Dampak kolonialisme bangsa Eropa diantaranya sebagai berikut:
1. Dasar pemerintahan yang modern yang dibuat Daendels atau Raffles membuat kedudukan Bupati berubah menjadi pegawai negeri dan digaji, yang semula merupakan kedudukan adalah turun temurun dan mendapat upeti dari rakyat menurut adat istiadat.
2. Bupati dijadikan alat kekuasaan pemerintah kolonial. Pamong praja yang dahulu berdasarkan garis keturunan sekarang menjadi sistem kepegawaian.
3. Jawa dijadikan tempat pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektuf.
4. Intervensi terhadap persoalan kerajaan yang dilakukan oleh Belanda dan Inggris, contohnya tentang pemilihan raja sehingga imperialis mendominasi politik di Indonesia. Yang mengakibatkan peranan elite kerajaan berkurang dalam politik, dan kekuasaan pribumi melemah.
5. Hukum yang dulu menggunakan hukum adat diubah menggunakan sistem hukum barat modern.
6. Belanda ikut campur dalam pengambilan kebijakan raja.
7. Perubahan dalam politik pemerintahan kembali terjadi akibat kebijakan politik Pax Nederlanica di akhir abad 19 menuju awal abad 20. Jawa menjadi pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektuf.
Dampak kolonialisme dan imperialisme penjajah juga masih berpengaruh hingga sekarang. Hal ini terlihat dari sistem pemerintahan di Indonesia sekarang yang merupakan warisan dari penerapan ajaran Trias Politica yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dalam badan yudikatif dalam struktur tersebut, pemerintahan kolonial Belanda membagi badan peradilan menjadi tiga kelompok berdasarkan golongan masyarakat di Hindia-Belanda. Badan peradilan tersebut terdiri dari peradilan untuk orang Eropa, peradilan orang Timur Asing, dan peradilan orang pribumi. Dalam badan legislatif, pemerintah kolonial Belanda membentuk Volksraad atau Dewan Rakyat tahun 1918.
Manakah pernyataan berikut ini yang benar tentang dampak politik kolonialisme yang hingga sekarang ini masih dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia…
Sistem pemerintahan presidential
Penerapan ajaran Trias Politica
Munculnya berbagai peradilan modern
Penerapan sistem demokrasi dalam berpolitik
Pembagian wilayah-wilayah perfektur
Bacalah teks berikut ini!
Penjelajahan Samudra yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa disertai semangat 3G, yaitu gold (kekayaan), glory (kejayaan), gospel (menyebarkan agama Kristen).
1. Gold
Gold berarti keinginan untuk memperoleh kekayaan di wilayah-wilayah baru yang ditemukan, yaitu emas, perak dan bahan tambang serta bahan-bahan lain yang sangat berharga. Kekayaan yang dieksploitasi dari daerah baru itu kemudian digunakan untuk kepentingan Kerajaan atau negara penjajah.
2. Glory
Glory diartikan sebagai kejayaan atau untuk menguasai wilayah yang didatangi dan dijadikan sebagai koloni. Selain itu, glory juga merupakan semboyan memburu kejayaan, superioritas, dan kekuasaan melalui penjajahan.
3. Gospel
Gospel merupakan misi menyebarkan ajaran Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Misionaris bangsa-bangsa Eropa menyebarkan agamanya di wilayah-wilayah baru yang mereka datangi. Setiap kapal milik bangsa-bangsa Eropa yang melakukan penjelajahan Samudra selalu diikuti kelompok misionaris, yang menganggap penyebaran ajaran Injil merupakan panggilan hidup dan tugas mulia. Mereka kemudian memanfaatkan daerah koloni sebagai tempat menjalankan misi tersebut.
Sumber:https//www.gramedia.com/literasi/latar-belakang-bangsa-eropa-melakukan-penjelajahan-samudra
Berdasarkan bacaan teks diatas, tentukan pernyataan yang Benar adalah…
Portugis dan Spanyol datang ke Nusantara dengan membawa semboyan 3 G (gold, glory, dan gospel)
Gold dan Gospel merupakan hal yang ditekankan oleh bangsa Eropa karena hal itu merupakan perintah dari pihak Gereja
Glory merupakan bentuk persaingan negara-negara Eropa untuk bisa menjadi pemegang kekuasaan di Eropa dengan mengumpulkan emas di negaranya
Perhatikan informasi teks berikut!
Situs Ombilin, Tambang Batu Bara Tertua di Indonesia
Tambang batu bara pertama di Indonesia terletak di Ombilin, Sawahlunto, Sumatra Barat. Pada
2019 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan
tambang batu bara Ombilin sebagai salah satu situs warisan dunia.
Sawahlunto terletak 95 kilometer arah timur laut Kota Padang. Sebelum menjadi daerah
pertambangan, Sawahlunto merupakan lembah subur yang difungsikan sebagai sawah oleh
warga. Lembah tersebut dibelah oleh aliran Sungai Lunto. Hingga pada 1868 seorang ahli
geologi Belanda, Willem Hendrik de Grevee menemukan kandungan batu bara di Ombilin.
Pada 1871 laporan ke Batavia mengenai penemuan ini disusun dengan judul Het Ombilin
kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Weskust.
Setelah mengetahui kandungan sumber daya alam serta potensi ekonominya, pemerintah
Hindia Belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi. Pada 1872, de Greeve melakukan
eksplorasi lanjutan di Sumatra Barat. Akan tetapi, ia meninggal setelah mengalami kecelakaan
di Sungai Indragiri saat melakukan penelitian. Penelitian de Graeeve dilanjutkan oleh dua
insinyur tambang asal Belanda, Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Daniel David Veth pada
1874. Veth kemudian menulis laporan berjudul The Expedition to Central Sumatra.
Sebagai fasilitas pendukung dibangun pula infrastruktur tambang batu bara di Sawahlunto.
Salah satunya jalur rel kereta dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur).
Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan pada 1883–1894. Setelah pembangunan
infrastruktur selesai hasil tambang batu bara diangkut menggunakan kereta api. Selanjutnya,
hasil tambang diekspor menggunakan kapal uap SS Sawahlunto dan SS Ombillin-Nederland.
Berdasarkan informasi diatas, tentukan pernyataan berikut yang Benar adalah…
Sebelum menjadi daerah pertambangan, masyarakat Sawahlunto memanfaatkan lahan untuk kegiatan pertanian
Penelitian situs tambang batu bara Ombilin pertama kali dilakukan oleh Daniel David Veth
Eksplorasi lanjutan Hendrik de Grevee di Sumatra Barat pada 1872 menuai keberhasilan
Bacalah teks berikut ini!
Mengapa Semboyan 3G Berdampak Negatif bagi Bangsa Timur?
Apabila ditelusuri, semboyan 3G pertama kali dicetuskan oleh Paus Alexander VI dari Vatikan setelah menyelesaikan perselisihan antara Portugis dan Spanyol dengan Perjanjian Tordesilas pada 1494. Sejak saat itu, Portugis dan Spanyol melakukan penjelajahan samudra dengan mengusung semboyan 3G, yaitu untuk memperoleh kekayaan (Gold), kejayaan (Glory), dan menyebarkan agama (Gospel)
Istilah Gold merujuk pada kekayaan yang ingin diraih oleh bangsa Barat dalam pelayarannya ke negeri Timur, berupa emas, perak dan bahan tambang lain yang berharga. Semboyan Glory berarti kejayaan, yang meyakini kejayaan sebuah bangsa dilihat dari banyaknya wilayah koloni yang dimiliki.
Petualangan bangsa Eropa ke dunia Timur tidak semata-mata mencari keuntungan tetapi ingin menyebarkan agama Nasrani atau disebut dengan Gospel. Kedatangan bangsa Barat ke negeri Timur juga membawa misi suci dari gereja, yaitu menyebarkan ajaran injil atau disebut Gospel. Bahkan setiap kapal yang melakukan penjelajahan samudra selalu diikuti kelompok misionaris, yang menganggap menyebarkan ajaran injil merupakan panggilan hidup dan tugas mulia. Mereka kemudian memanfaatkan daerah koloni sebagai tempat menjalankan misi tersebut.
Dampak negatif 3G bagi bangsa Timur
Dalam perkembangannya, semboyan 3G terbukti membawa dampak negatif terhadap negeri Timur, khususnya istilah Gold dan Glory. Sebab, dalam istilah Gold, suatu negara dikatakan makmur apabila mempunyai kekayaan yang melimpah. Hal ini mendorong bangsa Barat untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dari negeri Timur, termasuk di Indonesia dengan menguasai rempah-rempahnya. Selain itu, semboyan Glory mendorong bangsa Eropa untuk memiliki daerah kekuasaan yang luas.
Untuk itu, raja-raja di Eropa berupaya untuk bisa mengembangkan wibawa dan negara mereka dengan cara memperluas daerah jajahan. Dengan beitu, jelas bahwa dampak dari adanya semboyan Gold, Glory dan Gospel adalah munculnya penjajahan dan eksploitas besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Selama masa kolonialisme berlangsung, rakyat daerah jajahan pun menderita karena banyaknya peraturan dan program kerja yang mengeksploitasi tenaga bahkan memonopoli harta benda mereka.
Tentukan pernyataan yang benar berdasarkan teks diatas...
Apabila ditelusuri, semboyan 3G pertama kali dicetuskan oleh Paus Alexander VI dari Vatikan setelah menyelesaikan perselisihan antara Portugis dan Spanyol dengan Perjanjian Saragosa pada 1494
Semboyan Glory berarti kejayaan, yang meyakini kejayaan sebuah bangsa dilihat dari banyaknya wilayah koloni yang dimiliki
Kedatangan bangsa Barat ke negeri Timur juga membawa misi suci dari gereja, yaitu menyebarkan ajaran injil atau disebut Gospel
Bacalah teks berikut ini!
Sejarah Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa di Indonesia
Masa kekuasaan VOC (1602-1799)
Banyak pedagang dari beberapa negara Eropa bersaing untuk menguasai perdagangan di Nusantara, termasuk Belanda. Persaingan juga terjadi di antar perusahaan dagang orang-orang Belanda. Hal itulah yang menjadi perhatian pemerintah dan parlemen Belanda, sebab persaingan itu tentu juga akan merugikan pemerintahan Belanda sendiri.
Guna menyaingi Inggris yang membentuk EIC (East India Company), pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda membentuk kongsi (persatuan) dagang VOC. Persekutuan dagang VOC tersebut merupakan hasil penyatuan atau merger dari beberapa serikat dagang yang ada di Belanda. Serikat dagang VOC ini merupakan singkatan dari Verenigde Oost-Indische Compagnie. Dalam bahasa Indonesia VOC disebut Persekutuan Dagang Hindia-Timur. VOC pertama kali berpusat di Ambon. Tujuan dibentuknya VOC ini antara lain untuk:
Menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pengusaha dagang Belanda di Nusantara
Membantu keuangan pemerintah Belanda.
Menyaingi pedagang-pedagang lain dari negara Eropa lainnya, terutama Inggris dan Portugis.
Memperkuat posisi sehingga dapat melaksanakan monopoli perdagangan.
Menjalankan pemerintahan sebagai wakil pemerintah Belanda di Hindia Timur.
VOC merupakan organisasi yang mengurusi masalah perdagangan Belanda di Hindia Timur (Indonesia). Meskipun demikian, VOC bertindak seperti sebuah negara. Dalam menjalankan tugasnya VOC mendapat wewenang istimewa dari pemerintah Belanda berupa hak oktroi. Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (piagam/charter) tanggal 20 Maret 1602 memerintah daerah-daerah tersebut. Keberhasilan VOC berhasil mengusir Portugis di Maluku pada tahun 1605 mendorong VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Karena kekuasaanya yang semakin besar, kerajaan Belanda mengangkat seorang gubernur jendral untuk memimpin VOC. Gubernur jendral yang pernah menjabat VOC adalah Pieter Both (1610-1614) dan Jan Pieterzoon Coen (1619-1623). Kebijakan Piterzoon Coen yaitu menerapkan ekstirpasi, yaitu menebang sejumlah tanaman agar produksinya tidak berlebihan sehingga harga bisa dipertahankan. Tanaman yang dikurangi produksinya adalah rempah-rempah.
Masa Hindia Belanda di Bawah Pemerintahan Belanda-Prancis (1800-1811)
Setelah VOC dibubarkan pada 1799, tanggung jawabnya diambil alih oleh Hindia Belanda (Nederlands Indies), yaitu wilayah pemerintahan jajahan di bawah Kerajaaan Belanda. Pengambilan kekuasaan ini bertujuan agar wilayah Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda. Pemerintahan Belanda hanya bertahan sampai 1806, saat itu Belanda yang menggantikan VOC harus menanggung hutang-hutang VOC.
Nusantara pada saat ini dikenal dengan nama Hindia Belanda (Nederlandsch–Indische), karena wilayah Indonesia pada masa tersebut langsung diperintah oleh Belanda. Pada masa ini masih berdiri kerajaan-kerajaan daerah yang memiliki kedaulatannya masing-masing, walaupun beberapa kerajaan daerah sudah dikontrol atau dikuasai oleh Belanda.
Pada tahun 1792–1802 terjadi perang Revolusi Prancis di Eropa. Belanda turut mengalami peperangan melawan Prancis. Akhirnya pada tahun 1806, Prancis menguasai pemerintahan Belanda yang ada di Eropa. Pemerintahan Hindia Belanda diambil alih oleh Perancis pada tahun 1808. Dengan demikian, secara tidak langsung Indonesia pernah dikuasai oleh Prancis.
Herman Willem Daendels diutus oleh Lodewijk (Louis) Napoleon untuk menjadi Gubernur yang menjabat di Batavia dengan tugas utama yaitu mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Tuntutan pemerintahan Belanda kepada Daendels hanyalah pada sektor pertahanan dan ketentaraan.
Masa Pemerintahan Kerajaan Inggris (1811-1816)
Inggris menyerbu Pulau Jawa pada tahun 1811, Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Inggris melalui Kapitulasi Tuntang. Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut.
Pada masa ini, Indonesia diperintah oleh Thomas Stamford Raffles, sebagai wakil gubernur jenderal yang berkedudukan di Kakuta, India. Namun, dalam pelaksanaannya Raffles berkuasa penuh di Indonesia sehingga Raffles sering dianggap juga sebagai gubernur jenderal di Indonesia yang pada waktu itu dinamakan British East Hindia (Hindia Timur Inggris).
Pada awalnya, pemerintahan Raffles di Indonesia cenderung mendapat tanggapan positif dari para raja dan rakyat Indonesia karena hal berikut ini.
Para raja dan rakyat Indonesia tidak menyukai pemerintahan Daendels yang sewenang-wenang dan kejam.
Ketika masih berkedudukan di Penang, Malaysia, Raffles beberapa kali melakukan misi rahasia ke kerajaan-kerajaan yang anti Belanda di Indonesia, seperti Palembang, Banten, dan Yogyakarta dengan janji akan memberikan hak-hak lebih besar kepada kerajaan-kerajaan tersebut.
Raffles memiliki kepribadian yang simpatik. Ia menjalankan politik dengan lebih sabar, walaupun dalam praktiknya terkadang agak berlainan.
Masa Hindia Belanda Langsung di Bawah Pemerintahan Kerajaan Belanda (1816-1942)
Setelah Inggris hengkang dari beberapa wilayah di Indonesia pada tahun 1816, pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia kembali dijalankan oleh pemerintahan yang disebut Pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsch–Indische) yang berada di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Hal ini terjadi karena Belanda sudah merdeka dari Prancis pada tahun 1815.
Hindia Belanda diperintah oleh Ratu atau Raja Belanda dengan seorang Gubernur Jendral sebagai perwakilannya yang memiliki kekuasaan penuh untuk menjalankan pemerintahan di tanah jajahannya. Hindia Belanda secara hukum dianggap merupakan wilayah Kerajaan Belanda sesuai dalam Undang-undang Kerajaan Belanda tahun 1814.
Pemerintahan Komisaris Jenderal
Pada awalnya, pemerintahan ini dijalankan tiga orang komisaris jenderal, yaitu Flout, Buyskess, dan van der Capellen. Pemerintahan bersama itu bertugas melakukan normalisasi keadaan d Indonesia untuk menjaga peralihan kekuasan lama dari Inggris pada Belanda berjalan lancar. Setelah masa peralihan selam tiga tahun (1816-1819) itu berakhir. Kepala pemerintahan Hindia Belanda setelah itu mulai dipegang oleh seorang Gubernur Jendral. Gubernur Jenderal pertama yang memerintah Hindia Belanda antara tahun 1816-1814 adalah Van der Capellen.
Dalam menjalankan pemerintahannya, komisaris jenderal melakukan langkah-langkah sebagai berikut.
Sistem pembagian daerah residen tetap dipertahankan,
Kedudukan para bupati sebagai penguasa tanah (feodal) tetap dipertahankan,
Desa sebagai satu kesatuan unit tetap dipertahankan dan para penguasanya dimanfaatkan untuk pelaksanaan pemungutan pajak dan hasil bumi,
Dalam bidang ekonomi memberikan kesempatan kepada pengusaha-pengusaha asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van der Capellen ada usaha untuk melindungi hak-hak penduduk nusantara, namun ada juga tekanan dari para pengusaha-pengusaha swasta Belanda supaya mendapatkan kebebasan menerapkan usaha. Hal ini mengancam kehidupan penduduk nusantara.
Sementara itu, kondisi ekonomi di negeri Belanda semakin memburuk akibat perang di Eropa. Oleh karena itu, gubernur selanjutnya, Van den Bosch melaksanakan cultuurstelsel (tanam paksa), untuk memberikan keuntungan yang besar bagi Belanda.
Sumber: https://vanlith1.sdstrada.sch.id/2023/04/25/sejarah-penjajahan-bangsa-bangsa-eropa-di-indonesia/
Berdasarkan bacaan teks tersebut pasangkan nama pemerintahan kolonial dengan Gubernur Jendral yang pernah memerintah di Indonesia…
VOC
Pieter Both
Pemerintahan Belanda-Prancis
Gubernur Jendral Daendels
Pemerintahan Kerajaan Inggris
Thomas Stamford Raffles
Pemerintahan Kerajaan Belanda
Johannes Van den Bosch
Perhatikan informasi teks berikut!
Situs Ombilin, Tambang Batu Bara Tertua di Indonesia
Tambang batu bara pertama di Indonesia terletak di Ombilin, Sawahlunto, Sumatra Barat. Pada
2019 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan
tambang batu bara Ombilin sebagai salah satu situs warisan dunia.
Sawahlunto terletak 95 kilometer arah timur laut Kota Padang. Sebelum menjadi daerah
pertambangan, Sawahlunto merupakan lembah subur yang difungsikan sebagai sawah oleh
warga. Lembah tersebut dibelah oleh aliran Sungai Lunto. Hingga pada 1868 seorang ahli
geologi Belanda, Willem Hendrik de Grevee menemukan kandungan batu bara di Ombilin.
Pada 1871 laporan ke Batavia mengenai penemuan ini disusun dengan judul Het Ombilin
kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Weskust.
Setelah mengetahui kandungan sumber daya alam serta potensi ekonominya, pemerintah
Hindia Belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi. Pada 1872, de Greeve melakukan
eksplorasi lanjutan di Sumatra Barat. Akan tetapi, ia meninggal setelah mengalami kecelakaan
di Sungai Indragiri saat melakukan penelitian. Penelitian de Graeeve dilanjutkan oleh dua
insinyur tambang asal Belanda, Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Daniel David Veth pada
1874. Veth kemudian menulis laporan berjudul The Expedition to Central Sumatra.
Sebagai fasilitas pendukung dibangun pula infrastruktur tambang batu bara di Sawahlunto.
Salah satunya jalur rel kereta dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur).
Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan pada 1883–1894. Setelah pembangunan
infrastruktur selesai hasil tambang batu bara diangkut menggunakan kereta api. Selanjutnya,
hasil tambang diekspor menggunakan kapal uap SS Sawahlunto dan SS Ombillin-Nederland.
Berdasarkan informasi teks di atas pasangkan (jodohkan) pernyataan-pernyataan berikut ini…
Kandungan sumber daya alam yang tersimpan di daerah Sawahlunto, Sumatra Barat.
Batu Bara
Moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil tambang dari situs Ombilin hingga ke pelabuhan.
Kereta Api
Tokoh yang mempublikasikan kandungan potensi ekonomi yang tersimpan di tanah Sawahlunto kepada pemerintah Hindia Belanda
Hendrik de Grevee
Lokasi kecelakaan Hendrik de Grevee saat melakukan eksplorasi lanjutan di Sumatra Barat.
Sungai Indragiri
Bacalah teks berikut ini!
Sejarah Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa di Indonesia
Masa kekuasaan VOC (1602-1799)
Banyak pedagang dari beberapa negara Eropa bersaing untuk menguasai perdagangan di Nusantara, termasuk Belanda. Persaingan juga terjadi di antar perusahaan dagang orang-orang Belanda. Hal itulah yang menjadi perhatian pemerintah dan parlemen Belanda, sebab persaingan itu tentu juga akan merugikan pemerintahan Belanda sendiri.
Guna menyaingi Inggris yang membentuk EIC (East India Company), pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda membentuk kongsi (persatuan) dagang VOC. Persekutuan dagang VOC tersebut merupakan hasil penyatuan atau merger dari beberapa serikat dagang yang ada di Belanda. Serikat dagang VOC ini merupakan singkatan dari Verenigde Oost-Indische Compagnie. Dalam bahasa Indonesia VOC disebut Persekutuan Dagang Hindia-Timur. VOC pertama kali berpusat di Ambon. Tujuan dibentuknya VOC ini antara lain untuk:
Menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pengusaha dagang Belanda di Nusantara
Membantu keuangan pemerintah Belanda.
Menyaingi pedagang-pedagang lain dari negara Eropa lainnya, terutama Inggris dan Portugis.
Memperkuat posisi sehingga dapat melaksanakan monopoli perdagangan.
Menjalankan pemerintahan sebagai wakil pemerintah Belanda di Hindia Timur.
VOC merupakan organisasi yang mengurusi masalah perdagangan Belanda di Hindia Timur (Indonesia). Meskipun demikian, VOC bertindak seperti sebuah negara. Dalam menjalankan tugasnya VOC mendapat wewenang istimewa dari pemerintah Belanda berupa hak oktroi. Hak-hak istimewa yang tercantum dalam Oktrooi (piagam/charter) tanggal 20 Maret 1602 memerintah daerah-daerah tersebut. Keberhasilan VOC berhasil mengusir Portugis di Maluku pada tahun 1605 mendorong VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Karena kekuasaanya yang semakin besar, kerajaan Belanda mengangkat seorang gubernur jendral untuk memimpin VOC. Gubernur jendral yang pernah menjabat VOC adalah Pieter Both (1610-1614) dan Jan Pieterzoon Coen (1619-1623). Kebijakan Piterzoon Coen yaitu menerapkan ekstirpasi, yaitu menebang sejumlah tanaman agar produksinya tidak berlebihan sehingga harga bisa dipertahankan. Tanaman yang dikurangi produksinya adalah rempah-rempah.
Masa Hindia Belanda di Bawah Pemerintahan Belanda-Prancis (1800-1811)
Setelah VOC dibubarkan pada 1799, tanggung jawabnya diambil alih oleh Hindia Belanda (Nederlands Indies), yaitu wilayah pemerintahan jajahan di bawah Kerajaaan Belanda. Pengambilan kekuasaan ini bertujuan agar wilayah Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda. Pemerintahan Belanda hanya bertahan sampai 1806, saat itu Belanda yang menggantikan VOC harus menanggung hutang-hutang VOC.
Nusantara pada saat ini dikenal dengan nama Hindia Belanda (Nederlandsch–Indische), karena wilayah Indonesia pada masa tersebut langsung diperintah oleh Belanda. Pada masa ini masih berdiri kerajaan-kerajaan daerah yang memiliki kedaulatannya masing-masing, walaupun beberapa kerajaan daerah sudah dikontrol atau dikuasai oleh Belanda.
Pada tahun 1792–1802 terjadi perang Revolusi Prancis di Eropa. Belanda turut mengalami peperangan melawan Prancis. Akhirnya pada tahun 1806, Prancis menguasai pemerintahan Belanda yang ada di Eropa. Pemerintahan Hindia Belanda diambil alih oleh Perancis pada tahun 1808. Dengan demikian, secara tidak langsung Indonesia pernah dikuasai oleh Prancis.
Herman Willem Daendels diutus oleh Lodewijk (Louis) Napoleon untuk menjadi Gubernur yang menjabat di Batavia dengan tugas utama yaitu mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Tuntutan pemerintahan Belanda kepada Daendels hanyalah pada sektor pertahanan dan ketentaraan.
Masa Pemerintahan Kerajaan Inggris (1811-1816)
Inggris menyerbu Pulau Jawa pada tahun 1811, Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Inggris melalui Kapitulasi Tuntang. Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut.
Pada masa ini, Indonesia diperintah oleh Thomas Stamford Raffles, sebagai wakil gubernur jenderal yang berkedudukan di Kakuta, India. Namun, dalam pelaksanaannya Raffles berkuasa penuh di Indonesia sehingga Raffles sering dianggap juga sebagai gubernur jenderal di Indonesia yang pada waktu itu dinamakan British East Hindia (Hindia Timur Inggris).
Pada awalnya, pemerintahan Raffles di Indonesia cenderung mendapat tanggapan positif dari para raja dan rakyat Indonesia karena hal berikut ini.
Para raja dan rakyat Indonesia tidak menyukai pemerintahan Daendels yang sewenang-wenang dan kejam.
Ketika masih berkedudukan di Penang, Malaysia, Raffles beberapa kali melakukan misi rahasia ke kerajaan-kerajaan yang anti Belanda di Indonesia, seperti Palembang, Banten, dan Yogyakarta dengan janji akan memberikan hak-hak lebih besar kepada kerajaan-kerajaan tersebut.
Raffles memiliki kepribadian yang simpatik. Ia menjalankan politik dengan lebih sabar, walaupun dalam praktiknya terkadang agak berlainan.
Masa Hindia Belanda Langsung di Bawah Pemerintahan Kerajaan Belanda (1816-1942)
Setelah Inggris hengkang dari beberapa wilayah di Indonesia pada tahun 1816, pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia kembali dijalankan oleh pemerintahan yang disebut Pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsch–Indische) yang berada di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Hal ini terjadi karena Belanda sudah merdeka dari Prancis pada tahun 1815.
Hindia Belanda diperintah oleh Ratu atau Raja Belanda dengan seorang Gubernur Jendral sebagai perwakilannya yang memiliki kekuasaan penuh untuk menjalankan pemerintahan di tanah jajahannya. Hindia Belanda secara hukum dianggap merupakan wilayah Kerajaan Belanda sesuai dalam Undang-undang Kerajaan Belanda tahun 1814.
Pemerintahan Komisaris Jenderal
Pada awalnya, pemerintahan ini dijalankan tiga orang komisaris jenderal, yaitu Flout, Buyskess, dan van der Capellen. Pemerintahan bersama itu bertugas melakukan normalisasi keadaan d Indonesia untuk menjaga peralihan kekuasan lama dari Inggris pada Belanda berjalan lancar. Setelah masa peralihan selam tiga tahun (1816-1819) itu berakhir. Kepala pemerintahan Hindia Belanda setelah itu mulai dipegang oleh seorang Gubernur Jendral. Gubernur Jenderal pertama yang memerintah Hindia Belanda antara tahun 1816-1814 adalah Van der Capellen.
Dalam menjalankan pemerintahannya, komisaris jenderal melakukan langkah-langkah sebagai berikut.
Sistem pembagian daerah residen tetap dipertahankan,
Kedudukan para bupati sebagai penguasa tanah (feodal) tetap dipertahankan,
Desa sebagai satu kesatuan unit tetap dipertahankan dan para penguasanya dimanfaatkan untuk pelaksanaan pemungutan pajak dan hasil bumi,
Dalam bidang ekonomi memberikan kesempatan kepada pengusaha-pengusaha asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van der Capellen ada usaha untuk melindungi hak-hak penduduk nusantara, namun ada juga tekanan dari para pengusaha-pengusaha swasta Belanda supaya mendapatkan kebebasan menerapkan usaha. Hal ini mengancam kehidupan penduduk nusantara.
Sementara itu, kondisi ekonomi di negeri Belanda semakin memburuk akibat perang di Eropa. Oleh karena itu, gubernur selanjutnya, Van den Bosch melaksanakan cultuurstelsel (tanam paksa), untuk memberikan keuntungan yang besar bagi Belanda.
Sumber: https://vanlith1.sdstrada.sch.id/2023/04/25/sejarah-penjajahan-bangsa-bangsa-eropa-di-indonesia/
Berdasarkan teks, hubungan yang tepat antara gubernur jendral dan kebijakan yang diterapkannya ditunjukkan pada pernyataan…..
Jan Piterszoon Coen menerapkan kebijakan ekstirpasi
Herman Willem Daendels Menghapus system preangerstelsel
Thomas Stamford Raffles Menerapkan kerja wajib (verplichtediensten) serta penyerahan hasil bumi wajib (verplichte leverantie)
van der Capellen menerapkan Cultuur procenten
Pieter Both menerapkan Tanam Paksa (Cultuurstelsel)
Bacalah teks berikut ini!
Jalur Pelayaran Portugis ke Indonesia
Bangsa Eropa pertama yang melakukan pelayaran adalah Bangsa Portugis di bawah pimpinan Bartholomeus Diaz. Penjelajahan pertama yang dilakukan oleh Portugis hanya sampai berlayar ke ujung Afrika Selatan yaitu Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) pada tahun 1496. Sesampainya di sana, pelayaran yang dilakukan oleh rombongan Bartholomeus Diaz tidak meneruskan perjalanan dan memutuskan untuk kembali.
Selanjtunya, Bangsa Portugis meneruskan penjelajahan samudera di bawah pimpinan Vasco De Gama melalui jalur pelayaran yang sebelumnya ditempuh oleh rombongan Bartholomeus Diaz. Pelayaran yang dilakukan oleh romobongan Bangsa Portugis kali ini berhasil mendarat di Kalkuta (India) pada tahun 1498. Di tempat ini, romobongan pelayaran Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Vasco de Gama berhasil menemukan salah satu tujuan utamanya yaitu menemukan daerah penghasil rempah-rempah.
Setelah cukup lama menduduki India, Bangsa Portugias melanjutkan jalur pelayaran ke arah Timur hingga sampai Malaka. Armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso D’Albuquerque berhasil merebut Malaka pada tahun 1511. Pada waktu itu, kerajaan Malaka di impin oleh Sultan Mahmud Syah.
Selanjutnya, Bangsa Portugis terus meneruskan penjelajahannya ke arah timur dengan tujuan mendapatkan sendiri pusat rempah-rempah yang ada di Kepulauan Maluku. Pelayaran dari Malaka ke Maluku dipimpin oleh Antonio de Abreu dan Francisco Serrao pada tahun 1512. Wilayah Maluku pada waktu itu disebut-sebut sebagai asal mula rempah-rempah.
Sumber: https://idschool.net/sma/jalur-pelayaran-bangsa-eropa/
Berdasarkan teks diatas tentukan satu pernyataan yang benar mengenai rute jalur pelayaran Portugis ke Indonesia berikut ini…
Vasco da Gamma jalur pelayaran: Portugis →Tanjung Harapan → kembali
Alfonso de Albuquerque jalur pelayaran: Portugis → Tanjung Harapan → Kalkuta (India) → Gowa → Malaka
Bartolomeus Diaz jalur pelayaran: Portugis → Kalkuta (India) → Malaka
Antonio de Abreu dan Francisco Serrao jalur pelayaran: Malaka → Maluku
Bartolomeus Diaz jalur pelayaran: Portugis → Tanjung Harapan
Bacalah teks berikut ini!
Jalur Pelayaran Spanyol ke Indonesia
Jalur pelayaran Bangsa Eropa berikutnya adalah jalur yang dilalui Bangsa Spanyol. Spanyol memiliki jalur pelayaran Bangsa Eropa yang berbeda dengan Portugis karena Spanyol mendapat hak ekslusif menguasai kawasan bagian barat. Sedangkan Portugis mendapatkan hak menguasai kawasan bagian Timur, sebagaimana kesepakatan dalam Perjanjian Tordesilas.
Pelayaran oleh Spanyol dipelopori oleh Christopher Colombus, namun romobongan ini tidak sampai ke Indonesia. Rombongan Christopher Columbus hanya berhasil sampai di Haiti, kepulauan Karibia. Pelayaran yang dilakukan oleh Christopher Colombus menghasilkan pengetahuan akan benua baru yang sekarang dikenal dengan Benua Amerika. Sehingga, Christopher Colombus sering disebut-sebut sebagai penemu Benua Amerika.
Pelayaran bangsa Spanyol berhasil sampai ke Indonesia melalui jalur Barat di bawah pimpinan Ferdinand Magelhans dan Sebastian de Elcano. Di mana, Ferdinan Magelhaens melakukan pelayaran dai Spanyol menuju Barat melalui samudera atlantik dan sampai pada sebuah selat Magellen. Setelah melewati Samudera Pasifik, romobongan ini berhasil mencapai Kepulauan Massava (Filipina). Sayangnya, Ferdinan Maghellans tewas di Filipina dan perlayaran dilanjutkan oleh Juan Sebastian Elcano.
Di bawah pimpinan Juan Sebastian Elcano, rombongan pelayaran Spanyol kali ini berhasil mencapai Maluku. Rombongan pelayaran Spanyol meneruskan perjalanan dan kembali ke Spanyol melalui Tanjung Harapan. Sehingga dapat dikatakan bahwa rombongan pelayaran Bangsa Spanyol telah mengelilingi Bumi. Di mana, Spanyol berangkat menuju jalur barat dan kembali dengan jalur yang berbeda dari arah timur.
Sumber: https://idschool.net/sma/jalur-pelayaran-bangsa-eropa/
Berdasarkan teks diatas tentukan satu pernyataan yang benar mengenai rute jalur pelayaran Spanyol ke Indonesia berikut ini…
Christophorus Columbus jalur pelayaran: Spanyol → Samudra Atlantik → San Salvador:
Ferdinand Maghellans dan Juan Sebastian del Cano jalur pelayaran: Spanyol → Samudra Atlantik → Selat Maghellans → Samudera Pasifi → Filipina → Maluku
Cornelis de Houtman. jalur pelayaran: Inggris → Tanjung Harapan → Samudera Hindia → Selat Sunda → Pelabuhan Banten
Francis Drake dan Thomas Cavendish jalur pelayaran: Inggris → Samudera Atlantik → Selat Maghellans →Samudera Pasifik → Filipina → Maluku (Ternate)
Ferdinand Maghellans jalur pelayaran: Inggris → Tanjung Harapan → Samudera Hindia → Selat Sunda
