Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Asesmen Harian SEJARAH

Total questions: 4

Worksheet time: 9mins

Name
Class
Date
1.

Faktor politik yang memperburuk situasi ketegangan antar kelompok ideologis di Indonesia periode 1948-1965 pada persaingan kekuasaan adalah ....

a)
  • Berbagai partai politik bersaing, terutama antara PKI dan partai nasionalis, menciptakan suasana ketegangan. PKI berusaha mendapatkan pengaruh lebih besar dalam pemerintahan, yang membuat kelompok nasionalis merasa terancam.

Pemerintah pun berusaha mempertahankan keseimbangan dengan memperkuat posisi kelompok nasionalis dan mengurangi pengaruh PKI, meskipun kadang-kadang dengan cara yang represif

b)
  • Identitas kultural dan etnis sering kali digunakan dalam politik, memperburuk perpecahan antara kelompok-kelompok ideologis. Politisi menggunakan isu-isu identitas untuk mendapatkan dukungan, yang memperdalam ketegangan.

Beberapa kebijakan diambil pemerintah untuk mempromosikan persatuan nasional, tetapi ini kadang-kadang dianggap sebagai bentuk dominasi oleh kelompok tertentu.

c)
  • Tindakan represif terhadap gerakan-gerakan pro-komunis meningkatkan ketegangan, karena banyak pendukung PKI merasa terpinggirkan dan diintimidasi.

Tindakan represif tetap menjadi pilihan utama pemerintah untuk menanggulangi ancaman dari PKI. Meskipun pemerintah berupaya untuk meredakan konflik dengan dialog,

d)
  • Media digunakan sebagai alat politik untuk mendukung satu ideologi dan menyerang yang lain, yang dapat memperburuk ketegangan.

Pemerintah berusaha mengontrol narasi media untuk membatasi pengaruh kelompok tertentu, meskipun ini kadang-kadang memicu backlash dari masyarakat

e)
  • Kejadian-kejadian bersejarah, seperti pemberontakan Madiun 1948 dan pemberontakan DI/TII, menciptakan trauma kolektif yang memperburuk ketegangan antara kelompok.

Pemerintah berusaha untuk menyelesaikan konflik tersebut, tetapi sering kali dengan pendekatan yang represif, yang tidak menyelesaikan akar masalah.

2.

Faktor sosial yang mendorong ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat mendorong munculnya berbagai pemberontakan dan gerakan separatis di daerah-daerah tertentu adalah ....

a)

Kondisi pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur memicu kemarahan masyarakat yang merasa tidak mendapatkan layanan yang layak dari pemerintah

b)

Perbedaan ideologi antara kelompok lokal dan pemerintah pusat dapat menciptakan ketegangan. Misalnya, kelompok yang menginginkan negara berbasis agama atau ideologi tertentu mungkin merasa terpinggirkan.

c)
  • Pemerintah pusat dianggap korup, tidak responsif, atau tidak adil, kepercayaan masyarakat akan berkurang.

Masyarakat merasa tidak ada saluran yang efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan

d)

Kepentingan lokal tidak didengar atau dipertimbangkan., sehingga daerah merasa tidak terwakili dalam pengambilan keputusan baik politik maupun ekonomi

e)

Kebijakan pembangunan sering kali terpusat di daerah tertentu, meninggalkan daerah lain yang kurang berkembang. Ketidakadilan dalam distribusi sumber daya ekonomi menciptakan rasa frustrasi di masyarakat.

3.

Bagaimana analisis perbedaan ideologi antara nasionalisme dan Islamisme dalam konteks pergolakan internal dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang disintegrasi bangsa Indonesia?

a)

Perbedaan Tujuan pada Kebijakan Publik : Nasionalisme cenderung mendukung sistem sekuler yang inklusif, sedangkan Islamisme mendorong penerapan syariah. Ketidaksesuaian ini sering kali memicu konflik kebijakan, seperti pendidikan, hukum, dan kebebasan beragama.

  • sehingga kebijakan tersebut dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan dapat mendorong gerakan protes dan pemberontakan.

b)

Nasionalisme yang dominan dapat menyebabkan kelompok Islam merasa terpinggirkan, sedangkan kelompok nasionalis khawatir akan potensi Islamisme untuk mengubah struktur negara.

c)
  • Nasionalisme berupaya menyatukan berbagai etnis dan budaya di Indonesia, sedangkan Islamisme sering kali menekankan identitas agama yang kuat; sehingga

  • perbedaan dalam nilai-nilai budaya dan agama ini dapat menciptakan ketegangan dalam masyarakat yang beragam, memperburuk potensi disintegrasi.

d)

Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat menjadi pemicu penting bagi munculnya pemberontakan dan gerakan separatis karena masyarakat merasa bahwa hak-hak mereka diabaikan, kepentingan lokal tidak diperhatikan, dan kondisi kehidupan mereka tidak membaik. Untuk mencegah konflik, pemerintah perlu mendengarkan aspirasi daerah dan merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan adil.

e)
  • Kenangan akan penindasan atau konflik masa lalu dapat memperburuk rasa ketidakpuasan. Masyarakat yang mengalami trauma sejarah cenderung lebih sensitif terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil;

  • sehingga trauma ini sering kali mendorong munculnya gerakan yang ingin memperjuangkan hak-hak mereka atau membalas pengalaman buruk di masa lalu.

4.

Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950 memiliki dampak yang signifikan terhadap upaya mempertahankan kesatuan wilayah Indonesia. Berikut merupakan dampak ketegangan antar etnis dan ideologi

a)

Pemberontakan RMS juga memperburuk ketegangan antara kelompok yang mendukung kemerdekaan RMS dengan mereka yang setia kepada NKRI. Konflik ini menciptakan polarisasi politik dan sosial di Maluku, serta memperburuk hubungan antar kelompok etnis di wilayah tersebut.

b)
  1. Terjadinya pemberontakan RMS menunjukkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap kebijakan pemerintah pusat, terutama terkait dengan pengelolaan otonomi daerah dan distribusi kekuasaan politik. Hal ini menurunkan kepercayaan daerah-daerah lain terhadap pemerintah pusat, memicu potensi pemberontakan serupa di wilayah lain.

c)

Pemberontakan RMS merupakan ancaman serius bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena RMS berusaha memisahkan Maluku Selatan dari Indonesia dan mendirikan negara merdeka. Ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi di wilayah-wilayah lain.

d)

Pemerintah Indonesia berusaha menekan dukungan internasional terhadap gerakan separatisme ini. RMS mendapat simpati dari beberapa negara di luar negeri, terutama Belanda, yang menampung para pemimpin RMS. Pemerintah Indonesia menggunakan jalur diplomasi untuk menekan Belanda agar tidak memberikan dukungan lebih lanjut kepada gerakan RMS.

e)
  1. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno segera merespon pemberontakan RMS dengan operasi militer besar-besaran. Operasi ini dinamakan Operasi Senopati dan dipimpin oleh Kolonel Alex Kawilarang, yang bertujuan untuk menghancurkan kekuatan RMS secara langsung. Pada Desember 1950, pemerintah berhasil merebut kembali Ambon, ibu kota pemberontak, dan menghentikan perlawanan utama RMS.