WorksheetsUAS Manajemen Keuangan
Total questions: 70
Worksheet time: 1hrs 10mins
Apa tujuan utama laporan keuangan?
Mengukur tingkat efisiensi karyawan
Memberikan informasi keuangan kepada pihak berkepentingan
Menentukan target penjualan tahunan
Mengurangi biaya operasional
Elemen utama laporan laba rugi meliputi:
Aset, liabilitas, ekuitas
Pendapatan, beban, laba atau rugi
Kas masuk dan kas keluar
Modal pemilik
Komponen utama neraca adalah:
Pendapatan, beban, ekuitas
Arus kas operasi, investasi, pendanaan
Aset, liabilitas, ekuitas
Penjualan, kas, piutang
Dalam laporan arus kas, pembayaran dividen dicatat dalam aktivitas:
Operasi
Investasi
Pendanaan
Laba bersih
Laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu adalah:
Laporan Laba Rugi
Neraca
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan
Laporan yang berfungsi untuk menjelaskan arus masuk dan keluar kas perusahaan adalah:
Neraca
Laporan Laba Rugi
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan
Rasio keuangan sering dihitung menggunakan data dari:
Catatan Akuntansi
Laporan Keuangan
Surat Keterangan Pajak
Laporan Manajemen
Beban penyusutan biasanya tercatat dalam laporan:
Arus kas
Laba rugi
Neraca
Catatan atas laporan keuangan
Dalam neraca, aset lancar meliputi:
Gedung, mesin, inventaris
Piutang, persediaan, kas
Utang usaha, laba ditahan, saham
Obligasi, ekuitas pemilik, utang pajak
Informasi yang biasanya tidak disajikan dalam laporan keuangan adalah:
Kinerja keuangan masa lalu
Proyeksi pendapatan masa depan
Posisi keuangan saat ini
Informasi terkait arus kas
Rasio lancar (current ratio) dihitung dengan rumus:
Total Aset / Total Kewajiban
Aset Lancar / Kewajiban Lancar
Aset Tetap / Kewajiban Jangka Panjang
Pendapatan Bersih / Total Aset
Rasio profitabilitas yang mengukur seberapa besar laba bersih terhadap penjualan adalah:
Rasio Lancar
Rasio Utang terhadap Ekuitas
Margin Laba Bersih
Return on Assets (ROA)
Jika quick ratio < 1, maka kondisi perusahaan menunjukkan:
Likuiditas tinggi
Kesulitan membayar kewajiban jangka pendek tanpa menjual persediaan
Kemampuan laba yang rendah
Ketergantungan besar pada utang jangka panjang
Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan membayar bunga utang disebut:
Current Ratio
Debt-to-Equity Ratio
Times Interest Earned Ratio
Quick Ratio
Rasio solvabilitas mengukur:
Likuiditas perusahaan
Kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka panjang
Efisiensi penggunaan aset
Tingkat profitabilitas perusahaan
Debt-to-equity ratio dihitung dengan rumus:
Total Kewajiban / Total Aset
Total Kewajiban / Ekuitas Pemilik
Total Aset / Total Pendapatan
Ekuitas Pemilik / Total Kewajiban
Rasio yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset disebut:
Current Ratio
Return on Equity (ROE)
Inventory Turnover
Debt-to-Equity Ratio
Return on Assets (ROA) dihitung dengan:
Laba Bersih / Total Penjualan
Laba Operasi / Total Aset
Laba Bersih / Total Aset
Ekuitas Pemilik / Total Pendapatan
Gross profit margin dihitung dengan rumus:
Pendapatan Bersih / Total Aset
Laba Kotor / Total Penjualan
Laba Bersih / Ekuitas Pemilik
Total Penjualan / Laba Operasi
Semakin tinggi current ratio, maka:
Perusahaan memiliki likuiditas lebih baik
Perusahaan lebih berisiko gagal bayar
Perusahaan lebih efisien dalam penggunaan aset
Perusahaan memiliki tingkat utang tinggi
Rasio cepat (quick ratio) tidak memperhitungkan komponen berikut ini:
Kas
Piutang
Persediaan
Kewajiban lancar
Rasio yang menunjukkan proporsi utang terhadap total aset disebut:
Debt Ratio
Gross Profit Margin
Times Interest Earned
Quick Ratio
Rasio pengembalian ekuitas (Return on Equity) dihitung dengan:
Laba Bersih / Total Penjualan
Laba Bersih / Ekuitas Pemilik
Total Penjualan / Total Aset
Laba Operasi / Total Utang
Semakin tinggi rasio utang terhadap aset (Debt-to-Asset Ratio), maka:
Perusahaan memiliki leverage yang tinggi
Perusahaan memiliki solvabilitas lebih baik
Rasio likuiditas meningkat
Efisiensi operasional lebih baik
Rasio efisiensi yang mengukur kecepatan pengumpulan piutang disebut:
Inventory Turnover
Accounts Receivable Turnover
Debt-to-Equity Ratio
Quick Ratio
Rasio laba operasi terhadap total aset disebut:
Return on Assets (ROA)
Operating Profit Margin
Gross Profit Margin
Times Interest Earned
Semakin tinggi inventory turnover, maka:
Persediaan lebih cepat terjual
Perusahaan menghadapi risiko kelebihan stok
Penjualan kredit meningkat
Aset tetap lebih produktif
Rasio solvabilitas tidak mencakup:
Debt-to-Equity Ratio
Current Ratio
Debt-to-Asset Ratio
Times Interest Earned
Rasio profitabilitas yang fokus pada laba operasional adalah:
Gross Profit Margin
Net Profit Margin
Operating Profit Margin
Return on Equity
Manfaat utama dari rasio keuangan adalah:
Menunjukkan tren operasional perusahaan
Membantu menganalisis kinerja keuangan perusahaan
Mengidentifikasi risiko non-keuangan
Meningkatkan pengelolaan utang secara otomatis
Analisis common size digunakan untuk:
Membandingkan perubahan total aset setiap tahun
Menstandarisasi laporan keuangan dalam bentuk persentase
Menghitung rasio solvabilitas
Mengidentifikasi pengeluaran operasional
Pada laporan laba rugi, analisis common size menyatakan setiap elemen dalam:
Persentase terhadap penjualan bersih
Persentase terhadap laba bersih
Persentase terhadap total kewajiban
Persentase terhadap total aset
Trend analysis membantu dalam:
Membandingkan laporan keuangan antar perusahaan
Melacak kinerja perusahaan selama beberapa periode
Menghitung rasio efisiensi
Menganalisis struktur biaya operasional
Data yang digunakan untuk analisis trend biasanya:
Data internal operasional
Data laporan keuangan dari periode waktu yang berbeda
Data pelanggan dan pasar
Hasil survei kepuasan pelanggan
Dalam analisis common size neraca, semua elemen dinyatakan sebagai persentase dari:
Total Penjualan
Total Aset
Laba Operasi
Kewajiban Lancar
Manfaat utama dari analisis trend adalah:
Mengidentifikasi rasio likuiditas
Menunjukkan pola pertumbuhan atau penurunan kinerja perusahaan
Menghitung rasio utang perusahaan
Menganalisis kompetitor langsung
Salah satu kekurangan analisis common size adalah:
Tidak memberikan data persentase
Hanya cocok untuk perusahaan kecil
Tidak mempertimbangkan faktor eksternal
Membutuhkan data yang terlalu kompleks
Jika analisis trend menunjukkan peningkatan biaya operasional tanpa peningkatan pendapatan, maka:
Profitabilitas meningkat
Perusahaan dalam risiko laba menurun
Perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi
Rasio likuiditas membaik
Analisis common size membantu mengidentifikasi:
Struktur biaya operasional dalam laporan laba rugi
Total aset perusahaan dibandingkan pesaing
Laba bersih dibandingkan dengan tahun lalu
Alokasi sumber daya manusia
Hasil analisis trend disajikan dalam bentuk:
Grafik garis atau tabel perubahan persentase
Rasio efisiensi
Laporan laba rugi biasa
Ringkasan kebijakan manajemen
Pada analisis common size laporan laba rugi, pendapatan bersih sering digunakan sebagai:
Dasar pembagian persentase
Indikator solvabilitas
Ukuran efisiensi operasional
Faktor penentu kebijakan kredit
Analisis common size membantu membandingkan perusahaan dengan:
Laporan keuangan periode sebelumnya
Perusahaan lain dalam industri yang sama
Tren makroekonomi
Anggaran yang telah ditetapkan
Salah satu kelemahan analisis trend adalah:
Sulit diterapkan untuk perusahaan besar
Tidak mempertimbangkan perubahan nilai uang dari waktu ke waktu
Memerlukan data keuangan yang sangat terperinci
Tidak memberikan informasi tentang profitabilitas
Analisis trend bermanfaat untuk:
Membandingkan likuiditas antara dua perusahaan
Mengetahui arah kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa periode
Menilai kebijakan kredit perusahaan
Menentukan nilai pasar perusahaan
Analisis common size cocok untuk:
Menentukan arus kas jangka panjang
Membandingkan struktur keuangan antar perusahaan
Meningkatkan manajemen aset
Menentukan efisiensi distribusi
Analisis common size menggunakan angka dasar berikut ini untuk neraca:
Total Ekuitas
Total Penjualan
Total Aset
Total Pendapatan Bersih
Dalam analisis trend, peningkatan kewajiban lancar selama 3 tahun dapat mengindikasikan:
Solvabilitas perusahaan meningkat
Risiko likuiditas lebih tinggi
Efisiensi keuangan membaik
Penjualan kredit lebih efektif
Grafik analisis trend biasanya menampilkan:
Nilai absolut laporan keuangan
Perubahan persentase dari periode ke periode
Rasio solvabilitas
Skor kredit perusahaan
Dalam laporan keuangan common size, kewajiban dinyatakan sebagai persentase dari:
Pendapatan Bersih
Total Penjualan
Total Aset
Ekuitas Pemilik
Trend analysis tidak cocok digunakan untuk:
Mengidentifikasi pola pertumbuhan pendapatan
Mengukur profitabilitas masa depan
Menentukan nilai pasar perusahaan saat ini
Melacak perubahan laba dari waktu ke waktu
Manajemen piutang yang baik bertujuan untuk:
Meningkatkan total utang perusahaan
Mempercepat siklus kas dan mengurangi risiko gagal bayar
Mengurangi penjualan kredit
Meningkatkan total kewajiban jangka panjang
Piutang usaha dicatat dalam laporan keuangan sebagai:
Aset Lancar
Kewajiban Jangka Pendek
Ekuitas Pemilik
Pendapatan Lain-lain
Umur piutang (accounts receivable turnover) dihitung dengan:
Penjualan Kredit / Rata-rata Piutang
Total Piutang / Laba Bersih
Piutang Lancar / Total Penjualan
Piutang Kotor / Total Kewajiban
Langkah penting dalam mengelola piutang adalah:
Memperketat syarat kredit
Mengurangi pembayaran tunai
Meningkatkan biaya operasional
Menaikkan harga produk
Perusahaan yang memiliki piutang tinggi tetapi lambat tertagih mungkin menghadapi masalah:
Likuiditas
Profitabilitas
Solvabilitas
Efisiensi
Rasio umur piutang yang rendah menunjukkan:
Piutang tertagih dengan cepat
Tingkat utang tinggi
Pengelolaan kas buruk
Kelebihan aset tetap
Kebijakan kredit yang terlalu longgar dapat menyebabkan:
Likuiditas yang lebih baik
Risiko gagal bayar yang tinggi
Peningkatan pendapatan langsung
Penurunan beban operasional
Penagihan piutang yang efisien dapat dicapai dengan:
Meningkatkan batas waktu pembayaran
Menyediakan diskon pembayaran awal
Memberikan kredit tanpa batas
Mengabaikan piutang kecil
Analisis umur piutang membantu:
Mengukur efisiensi penagihan kredit
Mengidentifikasi profitabilitas total
Menentukan nilai pasar perusahaan
Mengurangi rasio likuiditas
Jika rasio perputaran piutang (accounts receivable turnover) tinggi, ini menunjukkan:
Perusahaan lambat menagih piutang
Penjualan kredit tertagih dengan cepat
Kredit macet meningkat
Efisiensi operasional menurun
Syarat kredit yang terlalu longgar dapat menyebabkan:
Peningkatan likuiditas
Risiko gagal bayar yang tinggi
Penjualan tunai meningkat
Penurunan pendapatan bersih
Diskon pembayaran awal dirancang untuk:
Mengurangi total penjualan kredit
Mempercepat arus kas masuk
Meningkatkan total piutang
Mengurangi biaya operasional
Piutang dagang sering kali menjadi bagian dari:
Aset Tetap
Aset Lancar
Kewajiban Jangka Panjang
Ekuitas Pemilik
Rasio perputaran piutang dihitung dengan:
Total Piutang / Total Penjualan
Penjualan Kredit / Rata-rata Piutang
Piutang Lancar / Total Utang
Pendapatan Bersih / Total Aset
Rasio umur piutang yang tinggi dapat menunjukkan:
Efisiensi manajemen kredit
Penagihan piutang yang lambat
Risiko gagal bayar lebih rendah
Tingkat likuiditas meningkat
Kebijakan kredit yang ketat biasanya menghasilkan:
Risiko kredit meningkat
Penjualan lebih rendah tetapi piutang lebih sehat
Peningkatan kredit macet
Penurunan total kas masuk
Faktor utama yang mempengaruhi efektivitas manajemen piutang adalah:
Total Aset
Kebijakan Kredit dan Penagihan
Ekuitas Pemilik
Nilai Tukar Mata Uang
Perusahaan dapat mengelola piutang dengan lebih baik melalui:
Penghapusan piutang macet secara langsung
Penggunaan software manajemen piutang
Penjualan kredit tanpa batas
Peningkatan investasi dalam persediaan
Peningkatan perputaran piutang menunjukkan:
Penjualan tunai meningkat
Pengelolaan piutang lebih efisien
Penurunan kredit macet
Penurunan total pendapatan
Rasio perputaran piutang yang rendah menunjukkan:
Tingkat likuiditas tinggi
Pengumpulan piutang yang lambat
Penjualan kredit lebih efektif
Risiko kredit macet menurun
