WorksheetsUjian Akhir Manajemen Ritel
Total questions: 50
Worksheet time: 25mins
Apa yang dimaksud dengan 'retailing'?
Proses produksi barang
Aktivitas menjual produk langsung kepada konsumen
Distribusi barang ke pengecer
Membangun merek
Semua di atas
Apa yang menjadi fokus utama dalam strategi segmentasi pasar dalam bisnis retail?
Penetapan harga produk
Identifikasi kebutuhan konsumen
Pemilihan lokasi toko
Promosi produk
Penentuan jenis produk
Dalam konteks retail, apa yang dimaksud dengan 'omnichannel strategy'?
Menggunakan satu saluran distribusi
Mengintegrasikan berbagai saluran untuk pengalaman konsumen yang lebih baik
Fokus pada penjualan online saja
Memanfaatkan strategi pemasaran tradisional
Mengurangi pengalaman belanja fisik
Mengapa analisis SWOT penting dalam perencanaan bisnis retail?
Untuk mengurangi biaya operasional
Untuk memberikan wawasan tentang posisi kompetitif
Untuk meningkatkan penjualan saja
Untuk meningkatkan produksi
Untuk meminimalkan risiko investasi
Apa tujuan dari 'merchandising' dalam retail?
Menetapkan harga jual produk
Meningkatkan visibilitas dan daya tarik produk
Mengelola sumber daya manusia
Mengurangi biaya produksi
Meningkatkan jumlah produk yang dijual
Apa yang menjadi tantangan utama dalam bisnis retail saat menghadapi krisis ekonomi?
Meningkatkan pengeluaran promosi
Mengurangi jumlah karyawan
Menjaga penjualan dan loyalitas pelanggan
Mengubah lokasi toko
Menambah variasi produk
Dalam konteks manajemen retail, konsep customer experience mencakup seluruh perjalanan pelanggan dari awal hingga akhir. Berikut ini yang paling tepat menggambarkan pengaruh teknologi dalam customer experience adalah:
Teknologi mengurangi kebutuhan akan personalisasi karena proses otomatis sudah cukup
Teknologi meningkatkan interaksi manusia melalui penggunaan chatbots berbasis AI
Teknologi hanya digunakan dalam tahap pembayaran dan tidak mempengaruhi tahap lain
Teknologi mengurangi biaya operasional tetapi tidak berhubungan langsung dengan kepuasan pelanggan.
Teknologi dapat meningkatkan interaksi langsung dengan pelanggan, tetapi membatasi pengalaman interaktif.
Dalam pengelolaan hubungan dengan pelanggan, penerapan Customer Relationship Management (CRM) yang efektif dapat meningkatkan loyalitas pelanggan. Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi CRM di sektor retail adalah:
Kesulitan dalam memproses data pelanggan secara otomatis
Kurangnya pemahaman tentang pentingnya integrasi sistem
Kurangnya teknologi yang memadai untuk pelacakan interaksi pelanggan
Kemampuan staf untuk melakukan analisis data secara manual
Ketergantungan pada teknik pemasaran tradisional yang sudah tidak relevan lagi
Apa dampak utama dari 'omnichannel retailing' terhadap layanan pelanggan di era digital?
Membuat pelanggan lebih memilih saluran fisik dibandingkan saluran online
Memungkinkan pelanggan untuk berinteraksi hanya di satu saluran saja
Memberikan pelanggan fleksibilitas untuk bertransaksi di berbagai saluran dengan pengalaman yang konsisten
Menurunkan biaya operasional secara keseluruhan dengan mengurangi penggunaan teknologi
Meningkatkan ketergantungan pada saluran online tanpa memperhatikan saluran fisik
Dalam konteks manajemen retail, personalization dalam pengalaman pelanggan dapat meningkatkan tingkat konversi. Salah satu pendekatan untuk menerapkan personalisasi yang efektif adalah dengan:
Menawarkan produk yang sama untuk semua pelanggan tanpa memperhatikan preferensi pribadi.
Menggunakan data pelanggan untuk memberikan rekomendasi produk yang relevan berdasarkan riwayat pembelian dan perilaku browsing.
Mengabaikan data pelanggan untuk fokus pada pemasaran massal.
Hanya memberikan diskon besar tanpa memperhatikan kebutuhan pelanggan.
Menyediakan pengalaman yang konsisten meskipun tidak ada data pelanggan yang tersedia.
Salah satu strategi untuk membuat pelanggan merasa dihargai di toko retail adalah dengan:
Menghindari interaksi dengan pelanggan agar mereka tidak merasa terganggu
Memberikan pelayanan yang cepat tanpa memperhatikan kualitas pengalaman pelanggan
Menawarkan program loyalitas yang memungkinkan pelanggan mendapatkan hadiah atau keuntungan tambahan berdasarkan pembelian mereka
Memastikan bahwa hanya pelanggan yang membeli produk premium yang mendapat perhatian khusus
Membatasi interaksi dengan pelanggan untuk memfokuskan pada proses transaksi yang cepat.
Dalam pengalaman pelanggan di retail, konsep customer experience management (CEM) melibatkan:
Fokus pada strategi penjualan yang hanya memperhatikan volume transaksi tanpa memperhatikan pengalaman pelanggan.
Pengelolaan setiap interaksi pelanggan dengan tujuan menciptakan pengalaman yang memuaskan dan meningkatkan loyalitas.
Mengabaikan feedback pelanggan untuk mempercepat proses transaksi.
Mengutamakan produk yang lebih murah meskipun mengorbankan kualitas layanan.
Mempercepat transaksi tanpa memperhatikan kualitas layanan.
Salah satu cara untuk mengukur kepuasan pelanggan dalam konteks ritel adalah dengan menggunakan Net Promoter Score (NPS), yang mengukur:
Berapa banyak produk yang dibeli oleh pelanggan dalam satu transaksi.
Seberapa besar pelanggan merekomendasikan toko atau produk kepada teman atau kolega mereka.
Seberapa cepat pelanggan dapat menyelesaikan transaksi di toko.
Berapa banyak iklan yang dikonsumsi pelanggan sebelum mereka membeli produk.
Seberapa sering pelanggan datang ke toko tanpa membeli apapun.
Customer retention dalam manajemen layanan pelanggan mengacu pada:
Upaya untuk menarik pelanggan baru melalui diskon besar-besaran
Usaha untuk mempertahankan pelanggan lama dengan memberikan pengalaman dan layanan yang memuaskan
Menjual produk dalam jumlah besar untuk meningkatkan volume transaksi
Fokus hanya pada meminimalkan biaya layanan pelanggan
Mengabaikan umpan balik pelanggan dan hanya berfokus pada penjualan
Salah satu tren terbaru dalam retail yang dikenal dengan Retail-as-a-Service (RaaS), pada dasarnya memungkinkan retailer untuk:
Menyediakan platform untuk perusahaan lain yang ingin menawarkan produk atau layanan mereka tanpa memiliki toko fisik
Menggunakan teknologi blockchain untuk mengurangi biaya transaksi di seluruh rantai pasok
Mengoptimalkan penggunaan toko fisik dengan cara menurunkan harga sewa toko
Fokus pada pengembangan toko offline tanpa memperhatikan kebutuhan online
Menggunakan sistem manajemen inventaris yang sepenuhnya manual.
Social commerce merupakan bagian dari tren terbaru yang menggunakan media sosial untuk berjualan. Salah satu alasan mengapa social commerce bisa sukses adalah karena:
Pelanggan lebih percaya pada iklan tradisional daripada rekomendasi teman
Media sosial memberikan pengalaman berbelanja yang lebih privat tanpa interaksi sosial
Konsumen dapat berinteraksi langsung dengan penjual dan mendapatkan rekomendasi berbasis data
Social commerce mengurangi pengaruh influencer dalam pemasaran
Platform sosial tidak memerlukan integrasi dengan sistem pembayaran digital
Salah satu dampak negatif yang sering ditemui akibat implementasi big data dalam bisnis retail adalah:
Penyimpanan data yang murah dan mudah diakses.
Ketergantungan yang berlebihan pada analisis data yang mungkin tidak selalu akurat
Meningkatnya keterlibatan pelanggan dalam proses pengambilan keputusan
Mengurangi kemungkinan kesalahan manusia dalam pengelolaan inventaris
Semua pelanggan mendapat pengalaman yang sama dalam setiap interaksi.
Dalam era e-commerce, click-and-collect adalah strategi yang digunakan oleh retailer untuk:
Menjual produk secara eksklusif melalui situs web tanpa melibatkan toko fisik.
Menyediakan opsi pengambilan produk di toko setelah melakukan pembelian online, meningkatkan kenyamanan pelanggan
Memfokuskan semua penjualan pada aplikasi mobile tanpa menyediakan opsi lainnya
Mengurangi biaya pengiriman dengan mengharuskan pelanggan untuk datang langsung ke toko
Meningkatkan biaya pengiriman karena produk harus dikirim ke alamat pelanggan.
Dalam industri retail, customer segmentation bertujuan untuk:
Menjual produk yang sama kepada semua segmen pelanggan tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhan
Mengelompokkan pelanggan berdasarkan karakteristik tertentu untuk menyesuaikan produk dan promosi sesuai dengan preferensi mereka
Fokus hanya pada segmen pelanggan dengan daya beli tertinggi, mengabaikan segmen lainnya
Menurunkan kualitas produk untuk menarik lebih banyak pelanggan dari berbagai segmen
Mengabaikan analisis pelanggan dan berfokus hanya pada volume penjualan.
Augmented reality (AR) dalam retail memberikan keuntungan dengan cara:
Meningkatkan pengalaman berbelanja pelanggan dengan memungkinkan mereka mencoba produk secara virtual
Mengurangi biaya produksi dengan menggantikan produk fisik dengan elemen digital
Menghilangkan kebutuhan akan toko fisik, hanya mengandalkan pengalaman online
Membatasi interaksi pelanggan dengan produk secara langsung untuk mempercepat proses transaksi
Menggunakan teknologi untuk meningkatkan pengiriman produk tanpa memperhatikan pengalaman pelanggan.
Salah satu tantangan dalam penerapan artificial intelligence (AI) untuk layanan pelanggan di retail adalah:
AI lebih murah daripada staf manusia, yang mengurangi kualitas layanan pelanggan
Pelanggan cenderung merasa tidak puas dengan interaksi otomatis, yang mengurangi tingkat loyalitas
AI tidak dapat diintegrasikan dengan teknologi lain yang digunakan dalam retail
AI tidak dapat digunakan untuk menganalisis data pelanggan yang relevan
Semua jawaban di atas benar.
Dalam konteks ritel, retailtainment adalah strategi yang bertujuan untuk:
Menyediakan produk dengan harga terendah untuk menarik pelanggan
Menggunakan elemen hiburan dan pengalaman interaktif untuk menarik pelanggan ke toko fisik
Menghindari penggunaan teknologi dalam toko fisik untuk menjaga atmosfer tradisional
Fokus pada penjualan produk yang memiliki kualitas terbaik tanpa mempertimbangkan pengalaman pelanggan
Mengurangi pengalaman berbelanja dengan menekan biaya hiburan di toko.
Teknologi blockchain dapat digunakan dalam manajemen rantai pasok retail untuk:
Meningkatkan ketidakpastian dalam transaksi dengan pemasok.
Memastikan transparansi dan keamanan data transaksi, memungkinkan pelacakan produk secara real-time.
Mengurangi jumlah data yang dikumpulkan selama transaksi produk.
Meningkatkan biaya operasional dengan menambah kompleksitas dalam sistem pengiriman.
Menghindari penggunaan data pelanggan dalam setiap transaksi.
Subscription model dalam retail merupakan strategi yang mengharuskan pelanggan untuk:
Membeli produk satu kali saja tanpa komitmen lebih lanjut.
Membayar biaya berulang untuk mendapatkan akses atau produk secara teratur
Mengurangi biaya melalui penawaran satu kali diskon besar
Fokus hanya pada produk musiman untuk dijual tanpa keterikatan lebih lanjut
Menawarkan pengiriman gratis tanpa biaya tambahan.
Just-in-time (JIT) adalah strategi yang digunakan dalam manajemen rantai pasok untuk mengurangi biaya persediaan. Salah satu risiko utama dari penerapan JIT dalam retail adalah:
Peningkatan biaya inventaris karena terlalu banyak barang yang harus disimpan
Terjadi kekurangan stok karena ketergantungan pada pengiriman yang tepat waktu
Peningkatan kualitas barang yang diterima karena pembelian dalam jumlah besar
Stok barang yang tidak terjual akan mempengaruhi reputasi merek
Penurunan efisiensi operasional karena ketergantungan pada pengelolaan manual.
Untuk mengoptimalkan supply chain visibility, sebuah retailer harus mampu melacak aliran barang dari pemasok hingga pelanggan akhir. Teknologi yang sering digunakan untuk tujuan ini adalah:
Sistem ERP yang hanya mencakup manajemen inventaris
RFID (Radio Frequency Identification) yang memungkinkan pelacakan barang secara real-time
Sistem CRM yang digunakan untuk memantau interaksi dengan pelanggan
Software akuntansi yang fokus pada perhitungan biaya barang
Email marketing untuk menginformasikan status pengiriman kepada pelanggan.
Dalam pengelolaan rantai pasok, konsep supply chain resilience bertujuan untuk:
Mengurangi fleksibilitas dalam merespons perubahan permintaan pasar
Memastikan bahwa perusahaan dapat dengan cepat mengatasi gangguan atau risiko yang dapat mempengaruhi kelancaran pasokan
Menghindari penggunaan teknologi baru untuk mengurangi ketergantungan pada sistem digital
Menjaga biaya rantai pasok tetap tinggi untuk memastikan keuntungan maksimal
Fokus pada pengurangan risiko melalui pengurangan stok yang berlebihan.
Vendor-managed inventory (VMI) dalam manajemen rantai pasok memungkinkan pemasok untuk:
Mengatur sendiri tingkat persediaan di gudang ritel berdasarkan permintaan dan data penjualan
Menghindari kontrol kualitas dalam proses pengiriman barang
Mengatur harga barang agar lebih menguntungkan bagi retailer tanpa mempengaruhi permintaan
Mengurangi pengawasan terhadap stok barang karena retailer yang harus menangani semuanya
Fokus pada pengurangan volume barang yang harus dijual ke pelanggan.
Dalam manajemen rantai pasok, konsep supply chain synchronization merujuk pada:
Penggunaan sistem otomatis untuk memastikan bahwa produk selalu tersedia tanpa perlu mengelola stok
Penyelarasan seluruh aktivitas dalam rantai pasok untuk memastikan setiap langkah berjalan efisien dan selaras, mengurangi keterlambatan dan biaya
Peningkatan stok barang untuk menghindari kekurangan pasokan
Pengabaian hubungan dengan pemasok dan fokus hanya pada pengelolaan gudang
Penerapan teknologi untuk mengurangi keterlibatan manusia dalam pengelolaan pasokan
Salah satu metode untuk mengukur kinerja rantai pasok secara efektif adalah dengan menggunakan Key Performance Indicators (KPIs). KPI yang paling relevan untuk mengevaluasi efisiensi dalam manajemen rantai pasok adalah:
Waktu siklus order, tingkat ketersediaan produk, dan biaya logistik per unit
Hanya biaya pengiriman yang terlibat dalam proses distribusi
Jumlah stok yang tersedia di setiap titik distribusi
Lama waktu untuk melaksanakan promosi pemasaran produk
Jumlah transaksi yang terjadi dalam sistem pembayaran.
Salah satu indikator kunci yang sering digunakan oleh manajer retail untuk mengukur kinerja keuangan adalah return on investment (ROI). Salah satu tantangan terbesar dalam menghitung ROI untuk proyek-proyek retail adalah:
Mengabaikan biaya tidak langsung yang tidak terukur
Menghitung pengembalian investasi dalam jangka waktu yang sangat panjang
Mencakup semua biaya operasional, termasuk yang tidak terkait dengan proyek
Tidak mempertimbangkan risiko yang terlibat dalam investasi
Semua jawaban di atas.
Salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan cash flow dalam retail adalah dengan:
Menunda pembayaran kepada pemasok untuk mengurangi pengeluaran
Meningkatkan harga jual tanpa memperhatikan daya beli pelanggan
Mengoptimalkan manajemen persediaan untuk mengurangi biaya persediaan
Mengurangi pengeluaran untuk pemasaran dan promosi
Fokus hanya pada penjualan produk premium yang menghasilkan keuntungan lebih besar.
Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan retail adalah gross margin return on investment (GMROI). Salah satu alasan mengapa GMROI penting adalah:
GMROI menunjukkan seberapa baik perusahaan mengelola arus kas jangka panjang
GMROI mengukur keuntungan yang dihasilkan dari setiap unit persediaan yang dibeli dan dijual, mengabaikan biaya operasional
GMROI berfokus pada pendapatan bersih yang dihasilkan dari penjualan produk
GMROI digunakan untuk menentukan tingkat pengembalian dari investasi jangka panjang dalam real estat
GMROI memberikan gambaran jelas tentang likuiditas jangka pendek perusahaan
Financial leverage dalam pengelolaan keuangan ritel mengacu pada:
Penggunaan modal ekuitas untuk mengurangi utang perusahaan
Penggunaan utang dalam struktur modal untuk meningkatkan potensi pengembalian atas ekuitas
Penurunan penggunaan utang untuk menghindari risiko keuangan
Pembayaran utang dengan menggunakan dana yang tidak melibatkan ekuitas
Peningkatan dana ekuitas melalui penawaran saham untuk meningkatkan permodalan
Dalam dunia ritel, breakeven analysis adalah alat penting yang digunakan untuk:
Menghitung berapa banyak produk yang perlu dijual untuk menutupi biaya tetap dan variabel
Menentukan harga jual produk yang paling menguntungkan
Mengidentifikasi sumber pendapatan yang paling menguntungkan dalam sebuah toko
Memperkirakan pengaruh dari fluktuasi harga bahan baku terhadap keuntungan
Menentukan produk mana yang harus dipromosikan untuk memaksimalkan volume penjualan
Salah satu cara untuk mengelola risiko keuangan dalam retail adalah dengan:
Mengurangi pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan kas dan persediaan
Mengalihkan seluruh fokus pada pemasaran tanpa mempertimbangkan keseimbangan keuangan
Menggunakan diversifikasi dalam sumber pendapatan dan pasar untuk mengurangi ketergantungan pada satu segmen
Fokus hanya pada penurunan biaya operasional tanpa memperhatikan pendapatan
Mengabaikan analisis keuangan dan bergantung pada intuisi untuk mengambil keputusan
Dalam manajemen keuangan ritel, inventory turnover adalah indikator yang digunakan untuk:
Mengukur seberapa cepat perusahaan dapat mengubah persediaan menjadi penjualan
Menentukan jumlah utang yang dimiliki perusahaan
Mengukur tingkat pengembalian dari investasi perusahaan dalam jangka panjang
Menilai seberapa banyak biaya operasional yang dikeluarkan untuk memelihara persediaan
Menentukan seberapa besar margin keuntungan dari setiap penjualan.
Dalam perencanaan keuangan ritel, working capital management bertujuan untuk:
Mengelola arus kas yang diperlukan untuk menjalankan operasi harian tanpa menghadapi likuiditas yang buruk
Menghindari investasi dalam aset tetap untuk mengurangi risiko
Mengurangi ketergantungan pada pasokan barang dengan mengurangi tingkat persediaan
Fokus hanya pada peningkatan keuntungan dalam jangka pendek tanpa memperhatikan likuiditas
Meningkatkan hutang jangka panjang untuk membiayai operasi perusahaan.
Dalam manajemen keuangan ritel, debt-to-equity ratio mengukur:
Rasio antara utang jangka panjang dan ekuitas perusahaan, yang menunjukkan seberapa besar ketergantungan perusahaan pada utang untuk membiayai operasi dan ekspansi
Berapa banyak ekuitas yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan persediaan yang ada di gudang
Jumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam periode tertentu
Rasio antara biaya operasional dan pendapatan yang dihasilkan
Rasio antara penjualan dan biaya barang yang terjual
Cash flow forecasting dalam manajemen keuangan ritel penting untuk:
Menentukan kapan perusahaan harus melakukan pengeluaran besar atau investasi dalam pengembangan produk
Meramalkan kapan dan berapa banyak uang tunai yang dibutuhkan untuk membayar kewajiban dan investasi
Menghitung pengembalian atas investasi dalam real estat ritel
Menghindari penggunaan sistem pembayaran digital dalam transaksi
Mengurangi jumlah pengeluaran yang dikeluarkan untuk pemasaran.
Salah satu tantangan utama dalam menerapkan etika bisnis dalam retail adalah:
Meningkatkan harga jual untuk menutupi biaya yang lebih tinggi
Mengabaikan regulasi lingkungan demi keuntungan yang lebih besar
Memastikan bahwa keputusan bisnis tidak merugikan karyawan, pelanggan, atau masyarakat
Fokus pada penurunan standar kualitas produk untuk mengurangi biaya
Meningkatkan keuntungan dengan menekan upah pekerja.
Dalam konteks greenwashing, perilaku yang paling tepat menggambarkan praktik ini dalam industri retail adalah:
Menggunakan klaim lingkungan yang tidak dapat dibuktikan untuk menarik pelanggan
Memastikan seluruh rantai pasok menggunakan sumber daya terbarukan
Mengembangkan produk yang ramah lingkungan dengan biaya yang lebih tinggi
Menyediakan informasi yang jelas mengenai dampak lingkungan produk
Mendorong pelanggan untuk membeli lebih banyak barang meskipun tidak dibutuhkan
Dalam retail, perusahaan yang mempraktikkan fair trade memastikan bahwa:
Mereka memperoleh keuntungan lebih besar dengan mengabaikan standar hak pekerja
Mereka memberikan upah yang layak dan bekerja sama dengan produsen di negara berkembang dengan ha
Salah satu prinsip penting dalam corporate social responsibility (CSR) di sektor retail adalah:
Menurunkan kualitas produk untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan
Mengabaikan masalah sosial dan lingkungan yang terkait dengan produk
Menjaga keseimbangan antara profit dan kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan
Fokus hanya pada keuntungan jangka pendek tanpa memperhatikan dampak sosial
Menghindari komunikasi transparan dengan pelanggan mengenai isu-isu sosial dan lingkungan
Tindakan yang termasuk dalam etika pemasaran di industri retail adalah:
Mengiklankan produk dengan klaim yang tidak dapat dibuktikan atau menyesatkan
Menyediakan informasi yang akurat dan jujur tentang produk, termasuk risiko dan manfaatnya
Menekan harga produk secara agresif hingga merugikan pemasok
Menggunakan data pelanggan tanpa izin untuk tujuan pemasaran
Mengabaikan masalah keberlanjutan dalam rantai pasok untuk mengurangi biaya
Penerapan transparansi harga dalam retail dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan. Hal ini dapat dicapai dengan:
Menjaga harga produk tetap sama di seluruh saluran tanpa memperhitungkan biaya distribusi
Mengungkapkan rincian harga dan biaya produksi yang mendasari harga jual produk
Menurunkan harga secara radikal tanpa mengkomunikasikan perubahan biaya kepada pelanggan
Menyembunyikan informasi harga dari pelanggan agar mereka merasa tertarik membeli lebih banyak
Fokus pada harga yang sangat rendah tanpa mempertimbangkan kualitas produk.
Conflict of interest (konflik kepentingan) dalam manajemen retail sering terjadi ketika:
Manajer memilih untuk membeli produk dari pemasok yang memberikan hadiah atau komisi pribadi
Semua keputusan bisnis diambil berdasarkan data pasar yang obyektif
Perusahaan mengadopsi kebijakan harga yang adil bagi seluruh pelanggan
Manajer atau eksekutif memiliki kepentingan pribadi yang tidak memengaruhi keputusan bisnis
Semua pihak terkait mengikuti pedoman etika perusahaan dalam setiap transaksi
Penerapan kode etik bisnis yang kuat dalam perusahaan retail bertujuan untuk:
Menghindari regulasi yang ketat dari pemerintah dan asosiasi industri
Mengurangi transparansi dalam operasional dan pengelolaan staf
Mendorong praktek bisnis yang tidak adil dan mengeksploitasi pekerja
Meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan pelanggan dengan memastikan bisnis dijalankan secara etis
Menurunkan biaya operasional dengan mengurangi upah dan hak-hak pekerja.
Praktik ethical sourcing dalam manajemen retail bertujuan untuk:
Mengutamakan harga murah dalam memilih pemasok meskipun ada risiko pelanggaran hak asasi manusia
Memastikan bahwa barang yang dibeli berasal dari sumber yang tidak hanya mengutamakan keuntungan tetapi juga memperhatikan kondisi kerja yang adil dan keberlanjutan lingkungan
Meningkatkan ketergantungan pada satu pemasok dengan biaya produksi yang tinggi.
Fokus pada pengurangan harga barang dengan mengabaikan standar etika dalam proses produksi
Menghindari penggunaan pemasok lokal untuk mengurangi biaya produksi.
Dalam konteks etika bisnis ritel, diversity and inclusion di tempat kerja berarti:
Mengabaikan perbedaan individu dan hanya memfokuskan pada satu jenis pekerja
Membuat keputusan yang berdasarkan pada preferensi pribadi tanpa mempertimbangkan keberagaman latar belakang
Memastikan bahwa semua individu, terlepas dari latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam perusahaan
Mempromosikan diskriminasi untuk meningkatkan efisiensi di tempat kerja
Fokus hanya pada keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan karyawan
