WorksheetsQuiz Pengambilan Sampel Biji-bijian
Total questions: 96
Worksheet time: 51mins
Menurut Pedoman Teknik Pengambilan Sampel Biji-bijian untuk Benih (Barantan, 2007) untuk benih padi maksimum ukuran lot adalah 25 000 kg dan jumlah minimum sampel kiriman adalah
100 g
200 g
300 g
400 g
500 g
Menurut Pedoman Teknik Pengambilan Sampel Biji-bijian untuk Benih (Barantan, 2007) untuk benih jagung maksimum ukuran lot adalah 40 000 kg dan jumlah minimum sampel kiriman adalah
200 g
300 g
400 g
500 g
1000 g
Menurut Pedoman Teknik Pengambilan Sampel Biji-bijian untuk Benih (Barantan, 2007) untuk benih padi maksimum ukuran lot adalah 30 000 kg. Bila berat benih padi dalam kontainer 20 ton, sedangkan jumlah kontainer ada 6, maka dengan asumsi benih homogen jumlah lot sampel adalah
2 lot
3 lot
4 lot
5 lot
6 lot
Menurut ISTA, jumlah sampel kerja minimum uji kesehatan benih padi adalah
400 g
200 g
100 g
1000 butir
400 butir
Pernyataan berikut tentang pengambilan sampel merupakan kegiatan yang penting, adalah benar, kecuali
Pengujian menyeluruh terhadap suatu populasi tidak dapat dilakukan
Hasil pengujian suatu lot ditentukan oleh keakuratan pengambilan sampel
Sumber keragaman hasil uji berasal dari keragaman dalam proses pengambilan sampel
Kesalahan dalam pengambilan sampel berpengaruh kepada hasil pengujian laboratorium
Hasil pengujian hanya berlaku untuk sampel uji, tidak untuk seluruh partai kiriman
Sampel yang dikirim ke laboratorium untuk tujuan pengujian di sebut
Sampel primer
Sampel campuran
Sampel kiriman
Sampel kerja
Sub-sample
Rangkaian proses yang perlu dilakukan terhadap sampel campuran dalam rangka menyiapkan sampel kiriman yang baik, kecuali
Melakukan pencampuran sampel primer menjadi sampel campuran
Melakukan homogenisasi sampel campuran
Menentukan ukuran sampel kiriman
Melakukan pengurangan /pembagian sampel campuran untuk menyiapkan sampel kiriman
Melakukan pengepakan, penyegelan dan pelabelan sampel kiriman
Spesies bakteri berikut adalah OPTK A2
Pantoea stewartii dan Pectobacterium atrosepticum
Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis dan Leifsonia xyli subsp. xyli
Pectobacterium carotovorum dan Pantoea ananatis
Dickeya chrysanthemi dan Pantoea agglomerans
Ralstonia solanacearum dan Liberobacter solanacearum
Proses mendapatkan dan memisahkan bakteri patogen dari microorganisme lain dengan menumbuhkan pada media buatan disebut
Inokulasi
Isolasi
Reproduksi
Infeksi
Kulturisasi
Identifikasi bakteri dengan uji konvensional (diagnostik agar) memerlukan hal-hal sebagai berikut, kecuali
Isolasi dan pemurnian bakteri
Uji morfologi
Uji fisiologi dan biokimia
Uji pathogenisitas
Uji serologi
Bahan dan peralatan yang diperlukan dalam uji ELISA kecuali
Kit antibody
Plate ELISA
Tip dan Mikropipet
Bufer uji ELISA
Mikroskop
Urutan uji ELISA : coating sampel, antibody, konjugat, substrat bufer adalah
Indirect ELISA
Direct ELISA
DAS ELISA
TAS ELISA
DAS Indirect ELISA
Deteksi dan identifikasi dengan uji ELISA maupun PCR terhadap benih, kadang-kadang memerlukan tahap germinasi benih bertujuan untuk?
Meningkatkan sensitifitas pengujian
Meningkatkan jumlah benih terinfeksi
Menghitung daya kecambah
Menghitung vigor benih
Mengetahui kemurnian benih
Bakteri yang mempunyai flagela di kedua ujung selnya dikelompokkan ke dalam?
Monotrik
Ampitrik
Lopotrik
Peritrik
Eksotrik
Gejala penyakit yang disebabkan oleh Phytoplasma antara lain:
Menguning, sapu setan, kerdil, nekrosis
Virescens, phyllody, busuk lunak, nekrosis
Phyllody, sapu setan, menguning, hyperplasia
Menguning, layu pembuluh, kerdil
Cara penularan Phytoplasma yang belum dapat dibuktikan kebenarannya adalah ?
Stek batang/daun
Penyambungan
Tali putri
Benih
Serangga vektor
Ciri-ciri Phytoplasma terkait antibiotik
Tahan terhadap Penisilin dan Tetrasiklin
Sensitif terhadap penisilin dan tetrasiklin
Sensitif terhadap penisilin, tahan terhadap tetrasiklin
Sensitif terhadap tetrasiklin, tahan terhadap penisilin
Sensitif terhadap penisilin, dan toleran terhadap tetrasiklin
Deteksi dan identifikasi Phytoplasma dapat menggunakan metode berikut, kecuali
Sekuensing
Real Time PCR
Nested PCR
RFLP
Fisiologi dan Biokimia
Ekstra kromosomal DNA bakteri
Plastid
Sitokrom
Plasmid
Ribosom
Mitokondria
Bagaimana kondisi penyimpanan antisera agar dapat bertahan lama ?
Suhu ruang
Refrigerator 4 - 8°C
Freezer 0 °C
Freezer - 20°C
Freezer - 70°C
Bagaimana kondisi penyimpanan DNA agar dapat bertahan lama ?
Suhu ruang
Suhu 10-15°C
Refrigerator 4 - 8 °C
Freezer 0 °C
Freezer ≤ - 20°C
Untuk mengambil sampel MP OPTK serealia dalam karung dengan posisi pengambilan miring dapat digunakan alat berikut ?
Sleeve trier
Spatula
Nobbe trier
Sendok
Pelican sampler
Berikut merupakan hal-hal yang perlu dicatat oleh Petugas Pengambil Sampel benih, kecuali?
Ukuran lot
Tujuan pemasukan benih
Nama spesies dan atau varietas benih
Tanggal dan tempat pengambilan sampel
Jumlah dan ukuran kemasan
Berikut termasuk perlengkapan pengambilan sampel, kecuali:
Pakaian seragam karantina
Peralatan pengambilan sampel
Wadah sampel
Alat keselamatan kerja
Sarana dokumentasi
Metode deteksi bersifat kuantitatif
DAS-ELISA
Indirect-ELISA
PCR
qPCR
RT-PCR
Pernyataan yang benar tentang Real-Time PCR kecuali
Tidak memerlukan tahap elektroforesis
Dapat menggunakan mesin PCR biasa
Amplifikasi dapat diamati pada setiap siklus PCR
Deteksi lebih spesifik bila menggunakan DNA probe
Dapat digunakan sebagai quantitatif PCR
Kelebihan metode Blotter test untuk uji kesehatan benih, kecuali
Patogen dapat dideteksi dengan cepat berdasarkan karakter pertumbuhannya
Berguna untuk deteksi cendawan terbawa benih
Berguna untuk deteksi bakteri terbawa benih
Ekonomis
Praktis dan mudah dilakukan
Pernyataan metode cawan agar untuk uji kesehatan benih dengan target bakteri patogen terbawa benih adalah benar, kecuali
Media agar dapat ditambahkan fungisida untuk mencegah pertumbuhan cendawan
Media agar semi selektif/selektif dapat digunakan untuk deteksi bakteri tertentu
Menggunakan cawan petri steril dalam jumlah besar
Sterilisasi permukaan benih perlu dilakukan untuk menghindari pertumbuhan kontaminan
Memerlukan waktu singkat
Uji kesehatan benih dengan target bakteri biasanya memerlukan inkubasi benih dalam buffer saline pada suhu 4°C selama 16 -18 jam sebelum dilakukan plating suspensi benih pada media agar. Tujuan tahap ini adalah, kecuali
Mencegah mikroorganisme kontaminan berkembang biak
Mencegah bakteri target berkembang biak, sehingga diperoleh data populasi yang mendekati nilai benar pada benih
Memberi kesempatan kepada bakteri target untuk keluar dari jaringan benih
Membantu bakteri target berkembang biak
Membantu bakteri target bertahan hidup di dalam larutan buffer
Metode standar yang dapat menjadi acuan pengujian kesehatan benih
Metode pengujian kesehatan benih ISTA
Metode yang dikembangkan oleh laboratorium UPT
Metode dari berbagai jurnal
Metode yang diajarkan di universitas
Semua benar
Gejala tanaman terserang bakteri patogen antara lain, kecuali
Busuk lunak
Layu pembuluh
Hawar
Kanker
Mosaic
Berikut adalah OPTK A1 dari golongan bakteri menurut Permentan 31/2018
Dickeya solani, Dickeya dianthicola
Pseudomonas syringae, Pseudomonas viridiflava
Acidovorax avenae, Acidovorax citrulli
Pantoea stewartii, Pantoea ananatis
Burkholderia glumae, Burkholderia gladioli
Bakteri OPTK berikut termasuk bakteri Gram positif
Pectobacterium atrosepticum
Rhodococcus fascians
Xylella fastidiosa
Ralstonia syzygii subsp. syzygii
Pseudomonas syringae pv. lachrymans
Pada uji ELISA, setiap setelah inkubasi, cairan pada sumuran plate dibuang dan mikroplateplate dicuci dengan menggunakan larutan apa?
PBST
ECI Buffer
Larutan GEB
ECM Buffer
PNPP buffer
Deteksi dan identifikasi bakteri pada benih dapat menggunakan metode?
Pengamatan langsung, Diagnostik Agar, ELISA
Blotter test, Diagnostik Agar, PCR
Diagnostik Agar, PCR, ELISA
Growing on test, Blotter test, Diagnostik Agar
Pengamatan langsung, growing on test, ELISA
Jenis OPT yang merupakan organisme 1 sel
Virus
Viroid
Cendawan
Bakteri
Bakteriofage
Karakter dinding sel suatu bakteri dapat diketahui melalui uji?
Oxidase
Pewarnaan gram
Catalase
Oksidatif/ermentatif
Pewarnaan negatif
Bakteri menempel pada substrat atau inang menggunakan ?
Dinding sel
Membran sel
Flagela
Pili
Kapsul
Protein spesifik dari patogen yang menjadi target uji serologi disebut
Antibodi
Antigen
Cojugate
Substrat
Epitope
Bila dalam pengujian ELISA, terjadi perubahan warna pada sumur kontrol negatif, pernyataan yang tidak benar adalah
Hasil pengujian tidak dapat diterima dan harus diulang
Kemungkinan terjadi kontaminasi
Kemungkinan proses pencucian kurang sempurna
Kemungkinan konsentrasi Antibody terlalu tinggi
Kemungkinan pembacaan terlalu lama dan reaksi tidak dihentikan dengan 3 M NaOH
Dalam pengujian PCR, hasil elektroforesis menunjukan terdapat pita DNA tambahan selain amplikon target, pernyataan yang tidak benar adalah
Kemungkinan primer tidak spesifik
Kemungkinan konsentrasi DNA terlalu tinggi
Kemungkinan konsentrasi primer terlalu tinggi
Kemungkinan annealing terlalu rendah
Kemungkinan mesin elektroforesis bermasalah
Hasil sekuensing menunjukan pada dendogram terdapat banyak double pick, pernyataan yang tidak benar adalah
Kemungkinan terdapat lebih dari satu template pada reaksi
Kemungkinan template tidak dipurifikasi sebelum sekuensing
Kemungkinan konsentrasi template terlalu tinggi
Kemungkinan primer universal
Kemungkinan annealing terlalu rendah
Dalam deteksi OPTK secara molekuler, pengujian sekuensing perlu dilakukan dengan alasan berikut kecuali
Dilakukan pada setiap hasil pengujian PCR positif
Bila ada permintaan konfirmasi lebih lanjut hasil uji PCR positif
Hasil uji PCR suatu kultur bakteri positif menggunakan primer universal
Untuk tujuan penelitian lebih lanjut
Laboratorium perlu mengkonfirmasi hasil uji PCR, bila suatu OPTK pertama kali terdeteksi
Pernyataan yang benar tentang deteksi dan identifikasi bakteri, kecuali
Metode pengujian konvensional memerlukan tahap isolasi dan pemurnian bakteri
Metode ELISA mempunyai kelebihan dapat melakukan pengujian sampel dalam jumlah besar dalam waktu singkat
Deteksi dengan metode konvensional banyak digunakan karena akurat dan cepat
Pengujian PCR merupakan teknik pengujian yang cepat, akurat, sensitif, dan spesifik
Metode PCR dapat digunakan untuk pengujian patogen dari kultur atau langsung dari sampel tanaman
Metode pengujian konvensional memerlukan tahap isolasi dan pemurnian bakteri
Metode ELISA mempunyai kelebihan dapat melakukan pengujian sampel dalam jumlah besar dalam waktu singkat
Deteksi dengan metode konvensional banyak digunakan karena akurat dan cepat
Pengujian PCR merupakan teknik pengujian yang cepat, akurat, sensitif, dan spesifik
Metode PCR dapat digunakan untuk pengujian patogen dari kultur atau langsung dari sampel tanaman
Deteksi dengan metode konvensional banyak digunakan karena akurat dan cepat
OPTK bakteri yang terdapat pada tanaman kentang
Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis
Clavibacter michiganensis subsp. tessellarius
Clavibacter michiganensis subsp. insidiosus
Clavibacter michiganensis subsp. nebrakensis
Clavibacter michiganensis subsp. sepedonicus
Target pengujian ELISA adalah
DNA/RNA
Protein
Asam lemak
Monosakarida
Polisakarida
Berikut ini analisis yang bisa diajukan jika pada pelaksanaan uji ELISA tidak muncul warna kuning pada kontrol positif, kecuali :
Tahapan yang dilakukan tidak lengkap/salah
Buffer yang digunakan tidak tepat
Antiserum dan konjugat yang digunakan sudah kadaluarsa
Positif kontrol yang digunakan sudah lemah atau sudah tidak efektif
Proses pencucian tidak optimal
Berikut pernyataan tentang primer PCR untuk deteksi OPTK yang baik, kecuali
Spesifik terhadap spesies
Perbedaan Tm sepasang primer sebaiknya tidak lebih dari 5oC
Jumlah Basa G dan C (GC content) di dalam primer yang ideal sekitar 40-60%
Hindari terdapatnya struktur sekunder (hairpin, primer dimer)
Panjang optimal primer 10-15 bp
ISPM No. 31 merupakan panduan pengambilan sampel untuk tujuan
Pengujian kesehatan benih
Inspeksi dan pengujian barang kiriman kelompok PSAT
Inspeksi dan pengujian barang kiriman untuk memenuhi persyaratan karantina tumbuhan
Survei dan pemantauan derah sebar OPTK
Pre Shipment Inspection
Metode sampling pada ISPM No. 31, kecuali
Zig Zag Sampling
Simple Random Sampling
Systematic Sampling
Stratified Sampling
Sequential sampling
Pest Free Area (PFA) merupakan salah satu fasilitas pendukung dalam akselerasi ekspor komoditas tumbuhan dan produknya di suatu negara. Standar internasional yang terkait dengan PFA adalah :
ISPM 4 dan ISPM 29
ISPM 26
ISPM 4 dan ISPM 26
ISPM 4, ISPM 26 dan ISPM 29
ISPM 29
Beberapa hal yang mendukung tersedianya lokasi PFA di suantu negara antara lain :
Adanya barrier alami yang mendukung disertai dengan Zona Penyangga (Buffer Zone)
Adanya Sistem Monitoring OPT yang menjadi target PFA
Adanya batas-batas fisik lokasi PFA yang dilengkapi dengan peta wilayah
Jawaban A dan C betul
Jawaban A, B dan C benar
Indonesia sebagai negara pengimpor komoditas buah segar dan sayur buah segar mempunyai kepentingan terhadap informasi teknis penting kondisi PFA di negara asal antara lain, kecuali :
Situasi OPTK di lokasi PFA negara asal
Proses budidaya di lokasi PFA
Proses Pasca Panen dari lokasi PFA dan transportasi di Packing House
Sistem pengelolaan PFA termasuk monitoring OPTK
Jumlah tanaman buah dan sayur buah segar di lokasi PFA
Negara, atau bagian dari suatu negara yang bebas OPTK tertentu berdasarkan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan serta secara resmi dikelola oleh pemerintah disebut
Area Bebas OPTK tertentu
Pest Free Production Site
Kawasan Karantina
Area Low Pest Prefalence
Area Pre Border
Australia mempunyai lokasi Fruit Fly Pest Free Area (FF-PFA). Spesies lalat buah OPTK apa yang menjadi target Negara Indonesia
Ceratitis capitata
Bactrocera tryoni
Bactrocera jarvisi
Jawaban A dan B benar
Spesies lalat buah OPTK apa yang menjadi target Negara Indonesia
Bactrocera jarvisi
Ceratitis capitata
Jawaban A dan B benar
Jawaban A, B dan C benar
Bactrocera tryoni
Beberapa hal yang penting mendukung pemeliharaan lokasi PFA di suantu negara antara lain :
Adanya Packing House
Adanya dukungan anggaran untuk pemeliharaan yang cukup
Adanya sistem monitoring OPT target
Adanya iklim yang cocok dil lokasi PFA
Jawaban A dan C benar
Sebukan komponen utama dalam membangun dan mempertahankan PFA
Jawaban A, B dan C Salah
cek untuk memverifikasi area bebas telah dipertahankan
Jawaban A, B, C Betul
Sistem untuk menetapkan area bebas
Langkah-langkah phytosanitary untuk mempertahankan area bebas
Apabila terjadi outbreak di suatu wilayah FF-PFA, maka tindakan korektif harus dilakukan. Beberapa kegiatan tindakan korektif yang dilakukan antara lain, kecuali :
Menetapkan lokasi luasan area pengendalian dan eradikasi
Melakukan penambahan alat perangkap lalat buah
Melakukan fumigasi pada pertanaman buah
Melakukan treatment kimiawi pada tanah di lokasi tertentu
Melakukan perontokan seluruh buah dalam radius tertentu
What the meaning of A production site in which a specific pest is absent, as demonstrated by scientific evidence, and in which, where appropriate, this condition is being officially maintained for a defined period
Packing House
Pest Free Production Site
Pest Free Area
Area Post Entry Quarantine
Kawasan Karantina
What the meaning of Place of production in which a specific pest is absent as demonstrated by scientific evidence and in which, where appropriate, this condition is being officially maintained for a defined period
Kawasan Karantina
Area Post Entry Quarantine
Pest Free Area
Pest Free Place of Production
Pest Free Production Site
Beberapa negara ini telah mendapatkan pengakuan/recognisi sistem pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan
Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang
Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, Italia
Jepang, Kanada, Afrika Selatan, Korea Selatan
Perancis, Chili, Mesir, Jepang
Argentina, Perancis, Italia, Korea Selatan
Badan Karantina Pertanian mempunyai daftar beberapa negara telah mendapatkan registrasi laboratorium pengujian keamanan pangan segar asal tumbuhan, dengan ruang lingkup pengujian antara lain :
Residu pestisida, logam berat, mikotoksin, mikrobiologi
Residu pestisida, logam berat, mikotoksin, nematologi
Residu pestisida, logam mulia, mikotoksin, mikologi
Residu pestisida, logam mulia, mikotoksin, mikrobiologi
Residu pestisida, akarologi, mikotoksin, mikrobiologi
Dalam buah segar impor, seperti apel mempunyai kemungkinan mengandung cemaran berupa Cyprodinil, Salmonella sp. Cemaran ini tergolong :
Cemaran Kimia dan Biologi
Cemaran Fisik
Cemaran Kimiawi
Cemaran Fisik dan Biologi
Cemaran Biologi
Salah satu persyaratan dalam tata cara registrasi dan perpanjangan registrasi laboratorium pengujian keamanan pangan PSAT suatu negara
Menerapkan GAP dan GHP
Menerapkan kebijakan Good Agriculture Ppractice (GAP)
Laboratorium harus terakreditasi
Menerapkan Good Handling Practice (GHP)
Ruang lingkup pengujian yang terakreditasi minimal sesuai dengan jenis PSAT, jenis bahan aktif pestisida yang digunakan di negara asal dan cemaran lainnya sesuai Lampiran I Permentan 55/2016
Persyaratan dokumen bagi negara yang telah diakui sistem pengawasan keamanan PSAT, selain PC adalah :
Prior Notice (Keterangan PSAT)
Sertifikat Hasil Uji / Certificate of Analysis (CoA)
Sertifikat Keamanan Pangan
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Hasil Uji
Prior N
PSAT, selain PC adalah :
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Hasil Uji
Sertifikat Keamanan Pangan
Sertifikat Hasil Uji / Certificate of Analysis (CoA)
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Keamanan Pangan
Prior Notice (Keterangan PSAT)
Persyaratan dokumen bagi negara yang belum diakui sistem pengawasan keamanan PSAT nya dan memiliki laboratorium penguji yang belum diregistrasi selain PC adalah:
Sertifikat Hasil Uji / Certificate of Analysis (CoA)
Prior Notice (Keterangan PSAT)
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Hasil Uji
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Keamanan Pangan
Sertifikat Keamanan Pangan
Persyaratan dokumen bagi negara memiliki laboratorium penguji keamanan PSAT yang telah diregistrasi selain PC adalah:
Sertifikat Keamanan Pangan
Sertifikat Hasil Uji / Certificate of Analysis (CoA)
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Keamanan Pangan
Prior Notice (Keterangan PSAT)
Prior Notice (Keterangan PSAT) dan Sertifikat Hasil Uji
Bidang Karantina Tumbuhan lingkup Pusat KT dan KHN Badan Karantina Pertanian yang berperan dalam inisiasi registrasi laboratorium keamanan PSAT:
Bidang Keamanan Hayati Nabati
Bidang Benih
Bidang Keamanan Pangan
Bidang Impor
Bidang Non Benih
Mengingat ketersediaan agens hayati di dalam negeri masih terbatas, maka pemerintah dan swasta memandang perlu adanya introduksi agens hayati dari luar negeri. Peraturan perundangan yang mengatur pemasukan agens hayati yaitu :
Kepmentan No 411 Tahun 1995
Permentan No. 42 Tahun 2012
Permentan No. 43 Tahun 2012
Permentan No 09 Tahun 2009
Permentan No 01 Tahun 2018
Pelabuhan laut tempat pemasukan agen hayati sesuai dengan Permentan No 411 tahun 1995 adalah :
Pelabuhan Laut Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Emas
Pelabuhan Udara Soekarno Hatta, Juanda, Ngurah Rai, Ahmad Yani
Pelabuhan Boom Baru, Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas
Pelabuhan Boom Baru, Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak
Kantor Pos Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang
Semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat digunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan lainnya adalah :
Agens Hayati
Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting (OPTP)
Invasive Aliens Species (IAS)
Predator
Organisme Penggaggu Tumbuhan (OPT)
Sesuai dengan Permentan No 411 Tahun 1995, Izin pemasukan agens hayati hanya dapat diberikan apabila dipenuhi syarat-syarat antara lain, kecuali :
Phytosanitary certificate
orang atau badan hukum yang akan memasukkan agens hayati berdomisili di dalam wilayah negara Republik Indonesia
orang atau badan hukum yang akan memasukkan agens hayati memiliki tenaga ahli yang sekurang-kurangnya berijazah sarjana dan/atau sederajat dalam bidang ilmu terkait
dilengkapi dengan surat keterangan yang menyatakan bahwa agens hayati tersebut diproduksi dan/atau dikirim oleh orang atau badan hukum yang diberi izin untuk itu oleh lembaga yang berwenang di negara asalnya
agens tersebut tidak membahayakan hewan, ikan, tumbuhan, keselamatan dan kesehatan manusia serta lingkungan
Sesuai Permentan No 411 tahun 1995 Permohonan izin pemasukan agens hayati harus diajukan secara tertulis oleh orang atau badan hukum yang akan memasukkannya kepada :
Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati
Kepala Badan Karantina Pertanian
Ketua Komisi Agens Hayati
Menteri Pertanian melalui Ketua Komisi Agens Hayati.
Menteri Pertanian
Apabila dari hasil pengamatan agens hayati membahayakan hewan, ikan, tumbuhan, keselamatan dan kesehatan manusia maka:
dilakukan penolakan
dilakukan pelepasan
dilakukan re-ekspor
dilakukan penahanan
dilakukan pemusnahan
Ketentuan dalam Kepmentan No 411 Tahun 1995 tidak berlaku bagi pemasukan
Predator
Agens Hayati serangga
Parasitoid
Parasitoid dan Predator
antibiotika, pestisida biologis dan bahan lainnya yang berasal dari mikro - organisme sejauh bahan tersebut tidak lagi memiliki kemampuan untuk berkembang biak sendiri
What the meaning of Phytosanitary certification and/or clearance in the country of origin, performed by or under the regular supervision of the national plant protection organization of the country of destination
Pre Shipment Inspection
Pre-Border
Pre-Clearence
Pre-Entry Quarantine
Prior Notice
Dalam ketentuan internasional sesuai dengan ISPM 26, untuk mempertahankan status lokasi area bebas lalat buah (Fruit Fly - Pest Free Area), adalah :
A dan B Benar
Melakukan pengendalian terhadap lalu lintas media pembawa ke dalam FF-PFA
A, B, dan C Benar
Adanya corrective action apabila ada deteksi positif dilokasi FF-PFA
Melakukan surveilance
Sesuai dengan ketentuan ISPM 26, berapakah jumlah temuan lalat buah sebagai indikasi pemicu untuk melakukan tindakan koreksi (Corective action) dari spesies target dalam FF-PFA
1 (satu) dewasa atau pradewasa
2 (dua) dewasa atau pradewasa
3 (tiga) dewasa atau pradewasa
4 (empat) dewasa atau pradewasa
5 (lima) dewasa atau pradewasa
Sesuai dengan ketentuan ISPM 26, bahwa frekuensi penggantian trapping dalam suatu area FF-PFA bergantung antara lain dari :
Persistensi atraktan, penempatan trap, kondisi lingkungan, morfologi species lalat buah
Persistensi atraktan, penempatan trap, kondisi lingkungan, biologi species lalat buah
Jenis tanaman, penempatan trap, kondisi lingkungan, biologi species lalat buah
Jenis tanaman, penempatan trap, jenis lalat buah, biologi species lalat buah
Persistensi atraktan, penempatan trap, jenis lalat buah, biologi species lalat buah
Sesuai dengan ketentuan ISPM 26, bahwa frekuensi pemeriksaan trapping secara reguler dalam suatu area FF-PFA bergantung antara lain dari :
Jumlah tangkapan yang diharapkan, tipe trap yang digunakan, jenis atraktan
Jumlah tangkapan yang diharapkan, tipe trap yang digunakan, morfologi lalat buah
Biologi species lalat buah, tipe trap yang digunakan, kondisi cuaca lokasi FF-PFA
Biologi species lalat buah, tipe trap yang digunakan, kondisi pertanaman di lokasi FF-PFA
Biologi species lalat buah, tipe trap yang digunakan, anggaran surveilance
Beberapa peraturan perundangan yang dapat digunakan sebagai acuan kebijakan impor MP OPTK antara lain adalah :
Permentan 42 / 2012, Permentan 43 / 2012, Permentan 09/2009
Permentan 42 / 2012, Permentan 43 / 2012, Permentan 01/2018
Permentan 42 / 2012, Permentan 11 / 2009, Permentan 01/2018
Permentan 42 / 2012, Permentan 43 / 2012, Permentan 11/2009
Permentan 12/2009, Permentan 43 / 2012, Permentan 01/2018
Kegiatan di negara asal yang dapat meminimalkan risiko masuk dan menyebarnya OPTK ke dalam wilayah negara RI adalah :
Kegiatan di negara asal yang dapat meminimalkan risiko masuk dan menyebarnya OPTK ke dalam wilayah negara RI adalah :
Pre-Shipment Inspection, Registrasi lab PSAT, Verifikasi FF-PFA di Luar Negeri
Verifikasi PFA di Negara Asal, Kunjungan Studi banding laboratorium
Pre-Shipment Inspection
Kegiatan in Line Inspection
Registrasi lab PSAT, Verifikasi FF-PFA di Luar Negeri
Sistem yang dipersiapkan dengan tujuan untuk percepatan layanan ekspor dan meminimalkan Notification of Non-Compliance di Negara Tujuan adalah
In-Line Inspection
Sistem Area Low Pest Prevalence
Sistem Post Border
Sistem Pemeriksaan Terpadu
Sistem Pre Border
Dalam rangka mempercepat layanan ekspor, maka harus diprioritaskan terhadap media pembawa yang bersifat :
High Risk
Top Risk
Medium Risk
Midle Risk
Low Risk
Tujuan Sistem In-Line Inspection adalah :
Percepatan layanan ekspor
pengangkutan Media pembawa
Pemeriksaan MP OPT
Alat Pemeriksaan Lab
Menghambat perdagangan
Dalam Sistem In-Line Inspection, pemeriksaan kesehatan terhadap media pembawa OPT dilakukan di
Di Pelabuhan Laut
Di Bandara
di Gudang Pemilik yang belum ditetapkan
Di tempat produksi atau tempat pengemasan MP OPT, di luar tempat pengeluaran
di Kantor UPT -KP
Pelaksana In-Line Inspection dilakukan oleh :
Petugas Karantina atau pihak lain yang ditunjuk Kabarantan
Petugas Karantina
Pihak Ketiga
Pihak Lain
Kepala Bidang Karantina Tumbuhan
Jawaban yang paling tepat terhadap tempat produksi yang digunakan sebagai IKT atau untuk pelaksanaan inline inspection harus memenuhi persyaratan yaitu antara lain :
memiliki tempat pengemasan untuk pengelolaan pasca panen (sortasi, grading dan/atau sanitasi)
A, B, dan C Benar
memiliki tempat penyimpanan yang aman dari reinsfestasi dan kontaminasi OPT
Memiliki SDM dan Sarana/prasarana yang diperlukan untuk TKT
A dan B salah
Informasi penting yang perlu digali pada saat melaksanakan in-line inspection di lahan pertanaman/tempat produuksi antara lain :
Catatan asal benih, OPT yang pernah ditemukan, implementasi GAP
Jarak tanam, jumlah tanaman, catatan asal benih
Program pengendalian OPT, Catatan asal benih, jumlah tanaman
Tata cara panen, pengemasan, Jumlah SDM
Catatan asal benih, OPT yang pernah ditemukan, jumlah tanaman
Informasi penting yang perlu digali pada saat melaksanakan in-line inspection di tempat pengemasan antara lain :
Sanitasi lingkungan tempat pengemasan :ruang penerimaan, ruang tempat proses, peralatan yg digunakan;
SOP pembersihan, penyortiran, dan pengemasan;
Luas Packing house, Jumlah kemasan, jumlah pekerja di Packing House
A, B, dan C Benar
Bentuk,jenis dan bahan yg digunakan sbg kemasan
Peraturan perundangan yang dapat digunakan dalam kebijakan ekspor adalah :
Permentan No 09/2009
Permentan 42/2012
Permentan 43 / 2012
Permentan No 01/2017
Permentan No 12/2009
Beberapa keuntungan penerapan Sistem In-Line Inspection yang paling tepat adalah :
Adanya percepatan layanan ekspor serta peningkatan efektifitas dan efisiensi sumber daya
Peningkatan efektifitas dan efisiensi sumber daya
Adanya percepatan layanan ekspor
Meningkatkan mutu produk tumbuhan, proses lebih sederhana
Menjamin tidak ada Notification of Compliance (NNC) di negara tujuan ekspor
