WorksheetsFisioNer 200
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Seorang pasien pria berusia 65 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan, tremor, dan kekakuan otot pada ekstremitas bawah. Pasien juga menunjukkan postur tubuh yang membungkuk. Setelah evaluasi, diagnosis yang paling mungkin adalah Parkinson's disease. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Spinal cord injury (SCI)
Stroke hemiplegia
Parkinson's disease
Multiple sclerosis (MS)
Cerebral palsy
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan, otot yang lemah pada ekstremitas bawah, dan refleks tendon yang sangat berkurang. Pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan pada refleks postural dan tonus otot yang menurun. Diagnosis yang paling mungkin adalah spinal muscular atrophy (SMA). Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Cerebral palsy
Duchenne muscular dystrophy
Spinal muscular atrophy (SMA)
Guillain-Barré syndrome
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
Seorang wanita berusia 55 tahun datang dengan keluhan kesulitan dalam berkoordinasi, disertai dengan tremor dan gangguan keseimbangan saat berjalan. Pemeriksaan menunjukkan adanya penurunan tonus otot pada ekstremitas bawah dan gangguan postural. Pasien juga memiliki riwayat diabetes mellitus dan hipertensi. Diagnosis yang paling mungkin adalah multiple sclerosis (MS). Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Multiple sclerosis (MS)
Stroke iskemik
Alzheimer's disease
Parkinson's disease
Cerebellar ataxia
Seorang pasien wanita berusia 42 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan, kelemahan pada ekstremitas bawah, dan penurunan refleks postural. Pemeriksaan menunjukkan adanya penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah, disertai dengan gangguan keseimbangan yang berat. Diagnosis yang paling mungkin adalah stroke hemiplegia. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Cerebral palsy
Stroke hemiplegia
Guillain-Barré syndrome
Spinal cord injury (SCI)
Myasthenia gravis
Seorang pasien pria berusia 60 tahun dengan keluhan kehilangan kekuatan otot ekstremitas bawah, gangguan koordinasi, dan kesulitan dalam menggerakkan tangan kiri. Pemeriksaan menunjukkan tonus otot yang meningkat pada ekstremitas kiri dan kehilangan refleks postural. Diagnosis yang paling mungkin adalah stroke iskemik sisi kanan. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Spinal muscular atrophy (SMA)
Parkinson's disease
Stroke iskemik
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
Transverse myelitis
Seorang pasien wanita berusia 38 tahun datang dengan keluhan penurunan kekuatan pada lengan kanan dan kesulitan berbicara. Pasien juga mengalami gangguan penglihatan dan kehilangan koordinasi pada tangan kanan. Pemeriksaan menunjukkan penurunan refleks postural dan kesulitan dalam menggerakkan ekstremitas kanan. Diagnosis yang paling mungkin adalah multiple sclerosis (MS). Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Stroke iskemik
Guillain-Barré syndrome
Multiple sclerosis (MS)
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
Parkinson's disease
Seorang pria berusia 50 tahun datang dengan keluhan kelemahan ekstremitas bawah, gangguan koordinasi, dan ketidakseimbangan yang memburuk saat berjalan. Pasien juga menunjukkan tremor saat istirahat dan kekakuan pada ekstremitas. Diagnosis yang paling mungkin adalah Parkinson's disease. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Parkinson's disease
Spinal cord injury (SCI)
Stroke hemiplegia
Myasthenia gravis
Muscular dystrophy
Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan, kelemahan pada ekstremitas bawah, dan kesulitan dalam meraih objek dengan tangan. Pemeriksaan menunjukkan tonus otot yang berkurang dan refleks tendon yang sangat rendah. Diagnosis yang paling mungkin adalah cerebral palsy tipe ataksia. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Duchenne muscular dystrophy
Spinal muscular atrophy (SMA)
Cerebral palsy ataksia
Multiple sclerosis (MS)
Spinal cord injury (SCI)
Seorang pasien pria berusia 64 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan, kelemahan otot, dan kesulitan dalam menggerakkan lengan kanan. Pemeriksaan menunjukkan penurunan tonus otot dan refleks postural yang berkurang pada sisi kanan tubuh. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus. Diagnosis yang paling mungkin adalah stroke hemiplegia sisi kanan. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Spinal cord injury (SCI)
Stroke hemiplegia sisi kanan
Guillain-Barré syndrome
Parkinson's disease
Myasthenia gravis
Seorang pria berusia 45 tahun datang dengan keluhan kesulitan berjalan dan penurunan kekuatan pada ekstremitas bawah, serta kehilangan kontrol postural. Pasien juga melaporkan mati rasa pada kaki kanan dan mengalami kesulitan dalam mengatur keseimbangan. Pemeriksaan menunjukkan adanya refleks postural yang berkurang pada ekstremitas kanan. Diagnosis yang paling mungkin adalah Guillain-Barré syndrome. Diagnosis fisioterapi apa yang paling tepat untuk kondisi ini?
Multiple sclerosis (MS)
Guillain-Barré syndrome
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
Cerebral palsy
Spinal muscular atrophy (SMA)
Seorang pasien pria berusia 55 tahun dengan riwayat stroke datang untuk evaluasi fisioterapi. Fisioterapis ingin menilai keseimbangan pasien dalam posisi berdiri dan berjalan. Alat ukur mana yang paling tepat untuk digunakan dalam menilai keseimbangan dinamis dan postural pasien ini?
Berg Balance Scale (BBS)
Timed Up and Go (TUG) test
Functional Reach Test
Dynamic Gait Index (DGI)
Fugl-Meyer Assessment (FMA)
Seorang pasien wanita dengan diagnosis multiple sclerosis (MS) mengalami gangguan koordinasi motorik halus dan kesulitan dengan gerakan sukarela. Alat ukur apa yang paling tepat untuk menilai kemampuan koordinasi motorik halus dan kualitas gerakan pada pasien ini?
Modified Ashworth Scale (MAS)
Nine-Hole Peg Test (NHPT)
Purdue Pegboard Test
Upper Extremity Fugl-Meyer Assessment
Functional Reach Test
Seorang pasien pria berusia 60 tahun dengan Parkinson’s disease mengalami penurunan kecepatan berjalan dan kesulitan mengatur keseimbangan. Untuk menilai kecepatan berjalan dan waktu yang dibutuhkan untuk berjalan 10 meter, alat ukur apa yang paling tepat?
Timed Up and Go (TUG) Test
10-Meter Walk Test (10MWT)
Dynamic Gait Index (DGI)
Fugl-Meyer Assessment
Berg Balance Scale (BBS)
Seorang pasien anak berusia 6 tahun dengan cerebral palsy datang dengan keluhan kesulitan berjalan dan keseimbangan yang buruk. Fisioterapis ingin menilai keseimbangan statis dan dinamis anak tersebut. Alat ukur apa yang paling tepat untuk digunakan?
Pediatric Balance Scale (PBS)
Pediatric Evaluation of Disability Inventory (PEDI)
Gross Motor Function Measure (GMFM)
Timed Up and Go (TUG) Test
Functional Independence Measure (FIM)
Seorang pasien wanita dengan Guillain-Barré Syndrome (GBS) sedang menjalani pemulihan dan membutuhkan evaluasi terkait fungsi motorik dan refleks. Alat ukur mana yang paling tepat untuk menilai fungsi motorik dan kekuatan otot secara objektif pada pasien ini?
Fugl-Meyer Assessment (FMA)
Modified Ashworth Scale (MAS)
Medical Research Council (MRC) Scale for Muscle Strength
Timed Up and Go (TUG) Test
Ashworth Scale
Fisioterapis ingin merencanakan intervensi yang dapat meningkatkan toleransi latihan pasien. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kapasitas paru pasien menunjukkan penurunan FEV1 dan FVC. Setelah melakukan evaluasi, fisioterapis memutuskan untuk merencanakan latihan fisik. Intervensi yang paling tepat adalah?
Latihan penguatan otot ekstremitas bawah dengan beban ringan
Latihan berjalan bertahap dengan pemantauan saturasi oksigen
Latihan aerobik dengan pemantauan detak jantung dan saturasi oksigen
Latihan postural untuk memperbaiki pengaturan tubuh
Latihan fleksibilitas otot-otot dada
Seorang pasien wanita berusia 70 tahun dengan riwayat hipertensi dan gagal jantung kongestif (CHF) datang ke fisioterapis untuk rehabilitasi. Pasien mengeluh cepat lelah dan sering mengalami sesak napas saat beraktivitas. Fisioterapis melakukan pemeriksaan dan menemukan pembengkakan pada ekstremitas bawah serta paru-paru yang terdengar basah pada auskultasi. Fisioterapis memutuskan untuk memberikan intervensi yang tepat untuk meningkatkan fungsi kardiopulmonal pasien. Intervensi yang paling tepat adalah?
Latihan mobilisasi ringan dengan pemantauan detak jantung dan tekanan darah
Latihan interval intensitas tinggi dengan pemantauan ketat
Latihan aerobik ringan dengan pengawasan ketat pada gejala
Latihan fleksibilitas untuk otot dada
Latihan penguatan otot ekstremitas bawah dengan beban ringan
Seorang pasien pria berusia 50 tahun dengan riwayat hipertensi dan infark miokard beberapa bulan yang lalu menjalani rehabilitasi jantung. Pasien mengalami keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari, seperti berjalan jarak jauh dan menaiki tangga. Fisioterapis ingin merencanakan program latihan yang meningkatkan daya tahan pasien dan mengurangi kelelahan. Untuk memulai latihan, fisioterapis memutuskan untuk memberikan intervensi dengan pemantauan detak jantung. Berdasarkan hasil tes latihan, pasien memiliki kapasitas kardiorespiratori yang cukup terbatas dengan VO2 peak 18 ml/kg/menit. Berapa nilai intensitas latihan yang paling sesuai dengan kondisi pasien ini, jika menggunakan rumus Karvonen untuk menentukan target detak jantung?
40-50% dari detak jantung maksimum
50-60% dari detak jantung maksimum
60-70% dari detak jantung maksimum
70-80% dari detak jantung maksimum
80-90% dari detak jantung maksimum
Seorang pasien wanita berusia 63 tahun dengan diagnosis pneumonia datang untuk rehabilitasi pulmonal. Pasien mengeluh kesulitan bernapas dan penurunan kapasitas paru. Fisioterapis memutuskan untuk memberikan intervensi yang dapat membantu pasien untuk meningkatkan kapasitas paru dan mengurangi gejala sesak. Pemeriksaan menunjukkan penurunan suara pernapasan di dasar paru dan sedikit wheezing. Fisioterapis memberikan instruksi untuk latihan pernapasan diafragma dan teknik pernapasan dengan bibir cemberut. Intervensi ini bertujuan untuk?
Meningkatkan rentang gerak dada
Mengurangi edema paru
Memperbaiki ventilasi paru dan mengurangi sesak napas
Meningkatkan tonus otot inspirasi
Mengurangi resistensi jalan napas
Seorang pasien pria berusia 68 tahun dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan riwayat merokok 30 tahun datang ke fisioterapis dengan keluhan dyspnea. Pasien memiliki hasil pemeriksaan fungsi paru yang menunjukkan FEV1 40% dari nilai prediksi, dengan saturasi oksigen yang turun hingga 88% saat aktivitas fisik. Fisioterapis memutuskan untuk melaksanakan program latihan pernapasan dengan tujuan meningkatkan efektivitas pernapasan pasien dan mengurangi sesak. Program latihan yang paling tepat adalah?
Latihan pernapasan dalam menggunakan teknik inspirasi panjang
Latihan mobilisasi dada dengan alat bantu pernapasan
Latihan pernapasan diafragma dan pursed lip breathing
Latihan berjalan dengan pemantauan saturasi oksigen
Latihan fleksibilitas dada untuk meningkatkan ekspansi paru
