WorksheetsKuis Pertemuan 6 KDM
Total questions: 20
Worksheet time: 7mins
Salah satu data subjektif yang dapat ditemukan saat mengkaji pasien dengan retensi urin adalah:
Distensi kandung kemih
Rasa penuh dan nyeri di perut bawah
Produksi urin berlebihan
Bau urin tidak sedap
Diagnosa keperawatan yang tepat untuk pasien dengan gangguan defekasi adalah
Risiko infeksi berhubungan dengan luka pembedahan
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Konstipasi berhubungan dengan kurangnya asupan serat
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
Intervensi keperawatan utama untuk pasien dengan konstipasi adalah:
Membatasi asupan cairan
Meningkatkan konsumsi serat dan cairan
Menunda keinginan untuk BAB
Memberikan diet rendah residu
Pada pasien dengan inkontinensia urin, salah satu tujuan asuhan keperawatan adalah:
Mengurangi asupan cairan agar tidak BAK
Membantu pasien mempertahankan kontinensia urin
Membatasi aktivitas pasien
Memberikan diuretik untuk meningkatkan BAK
Pemeriksaan diagnostik yang sering digunakan untuk mengevaluasi gangguan eliminasi urin adalah:
Rontgen kepala
Elektrokardiogram (EKG)
Urinalisis
Spirometri
Intervensi keperawatan untuk membantu pasien dengan inkontinensia fekal meliputi:
Membatasi serat dalam diet
Memberikan pelatihan latihan otot dasar panggul
Menahan BAB selama mungkin
Membatasi asupan air
Pada pasien dengan diare berat, masalah keperawatan yang perlu diprioritaskan adalah:
Risiko aspirasi
Defisit cairan
Perfusi jaringan tidak efektif
Resiko Cedera
Evaluasi keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan eliminasi dapat dinilai melalui
Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi
BAB tetap tidak teratur
Penurunan berat badan drastis
Produksi urin berkurang
Frekuensi normal buang air kecil (BAK) pada orang dewasa sehat dalam 24 jam adalah sekitar:
1–2 kali
3–4 kali
5–7 kali
6–8 kali
Yang termasuk faktor yang memengaruhi frekuensi dan karakteristik buang air besar (BAB) adalah, kecuali:
Pola makan
Aktivitas Fiisk
Suhu lingkungan
Warna Pakaian
Apa langkah pertama yang harus dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilitas?
Memberikan alat bantu jalan
Menilai tingkat kemampuan aktivitas pasien
Memberikan obat pereda nyeri
Menyuruh pasien istirahat total di tempat tidur
Faktor yang paling sering menyebabkan gangguan mobilitas fisik pada pasien adalah:
Hipertensi
Fraktur atau cedera muskuloskeletal
Diabetes mellitus
Asma bronkial
Diagnosa keperawatan yang paling tepat untuk pasien dengan penurunan kemampuan bergerak adalah:
Risiko infeksi
Gangguan mobilitas fisik
Gangguan citra tubuh
Risiko disfungsi neurovaskular
Salah satu intervensi utama untuk mencegah kekakuan sendi pada pasien imobilisasi adalah:
Memberikan antibiotik
Meningkatkan asupan protein
Melakukan latihan rentang gerak (ROM)
Membatasi cairan pasien
Upaya keperawatan untuk mencegah luka tekan (dekubitus) pada pasien imobilisasi adalah:
Memberikan makanan rendah protein
Menjaga kulit tetap lembab
Melakukan perubahan posisi setiap 2 jam
Mengurangi asupan cairan pasien
Alat bantu yang dapat digunakan untuk membantu pasien dengan gangguan berjalan adalah:
Alat monitor EKG
Walker atau tongkat
Kasur tekanan udara rendah
Nebulizer
Salah satu indikator keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien gangguan mobilitas adalah:
Pasien mengalami kekakuan sendi
Pasien mampu bergerak dengan bantuan minimal
Pasien tetap tirah baring tanpa bergerak
Pasien menunjukkan ketergantungan penuh pada perawat
Apa yang dimaksud dengan intoleransi aktivitas dalam keperawatan?
Ketidakmampuan pasien memahami pentingnya aktivitas fisik
Ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas fisik dalam tingkat yang diharapkan karena faktor fisik atau psikologis
Ketidakmauan pasien untuk bergerak karena ketidaknyamanan
Kehilangan kekuatan otot akibat kurangnya latihan
Salah satu tanda dan gejala dari intoleransi aktivitas adalah:
Kenaikan berat badan secara drastis
Peningkatan denyut jantung saat beraktivitas ringan
Penurunan suhu tubuh saat berolahraga
Hiperglikemia setelah aktivitas
Diagnosa keperawatan 'Intoleransi aktivitas' biasanya ditetapkan setelah perawat menemukan:
Pasien dapat menyelesaikan semua aktivitas tanpa kelelahan
Tanda vital pasien stabil setelah aktivitas
Kelelahan berlebihan setelah aktivitas ringan
Pasien tidak mau mengikuti program latihan
