wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Soal UAS Penalaran Legal Drafting

Total questions: 40

Worksheet time: 20mins

Name
Class
Date
1.

Mengapa penting bagi penyusun legal drafting untuk memahami asas lex superior derogat legi inferiori?

a)

Agar dapat menulis pasal yang banyak

b)

Supaya dapat menyusun hukum secara linguistik

c)

Untuk menjamin hierarki norma hukum yang benar

d)

Karena asas tersebut menyangkut pidana ringan

2.

Jika sebuah pasal dalam peraturan daerah bertentangan dengan undang-undang, maka menurut asas hukum perundang-undangan:

a)

Pasal tersebut tetap berlaku

b)

Perlu dilakukan judicial review

c)

Undang-undang menyesuaikan perda

d)

Pasal perda tersebut bisa dijadikan yurisprudensi

3.

Dalam proses legal drafting, pemilihan diksi hukum yang tepat diperlukan karena:

a)

Agar terdengar resmi

b)

Menghindari multitafsir dan memperjelas norma

c)

Supaya terkesan akademis

d)

Untuk mempersingkat naskah

4.

Apa akibat jika penyusunan norma hukum dalam legal drafting tidak mengikuti sistematika?

a)

Hukum tidak dapat ditegakkan

b)

Masyarakat akan menolaknya

c)

Norma menjadi sulit dipahami dan diterapkan

d)

Draf akan mudah disahkan

5.

Ketika menyusun kontrak kerja, penyusun menambahkan klausul "ketentuan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa persetujuan para pihak". Secara prinsip legal drafting, hal ini:

a)

Benar karena fleksibel

b)

Salah karena melanggar asas kepastian hukum dan kesepakatan

c)

Benar karena disahkan notaris

d)

Tidak relevan

6.

Jika dalam suatu kontrak terdapat ketentuan ganda yang saling bertentangan, maka:

a)

Kedua ketentuan tetap berlaku

b)

Klausul tersebut batal demi hukum

c)

Pengadilan menentukan mana yang berlaku

d)

Penyusunan ulang kontrak tidak diperlukan

7.

Seorang penyusun RUU menyisipkan pasal yang menguntungkan pihak tertentu secara sepihak. Dalam konteks legal drafting, hal ini melanggar prinsip:

a)

Efisiensi

b)

Netralitas dan keadilan hukum

c)

Kekuasaan pemerintah

d)

Penafsiran autentik

8.

Tujuan utama menyusun norma hukum dalam bentuk yang jelas, eksplisit, dan tidak multitafsir adalah untuk:

a)

Mempercepat legislasi

b)

Menarik investor

c)

Menjamin kepastian dan efektivitas hukum

d)

Mendapatkan subsidi

9.

Legal drafting yang mengabaikan asas lex specialis derogat legi generali berisiko menghasilkan:

a)

Norma yang konsisten

b)

Hukum yang hierarkis

c)

Benturan norma antar peraturan

d)

Kepastian hukum yang kuat

10.

Ketika menyusun peraturan daerah tentang retribusi, tim penyusun tidak mencantumkan dasar hukum dari undang-undang yang relevan. Ini melanggar prinsip:

a)

Teknik argumentatif

b)

Legalitas formal

c)

Ejaan dan sintaksis

d)

Konstitusionalitas

11.

Mengapa penyusunan norma hukum harus menghindari istilah yang bersifat evaluatif seperti "wajar", "cukup", atau "sebaiknya"?

a)

Tidak ilmiah

b)

Terlalu panjang

c)

Memicu multitafsir dan subjektivitas penegak hukum

d)

Tidak sesuai bahasa hukum

12.

Dalam legal drafting, struktur pasal yang baik mencerminkan:

a)

Kecepatan legislasi

b)

Konsistensi logika dan sistematika hukum

c)

Bahasa akademik

d)

Retorika politis

13.

Mengapa peraturan perundang-undangan harus dilengkapi penjelasan pasal per pasal?

a)

Untuk menambah halaman

b)

Agar terlihat rumit

c)

Memberikan makna autentik dan menghindari salah tafsir

d)

Supaya dapat diubah sewaktu-waktu

14.

Apa fungsi utama dari konsiderans dalam dokumen peraturan?

a)

Menjelaskan logika politik

b)

Memberikan latar belakang filosofis, sosiologis, dan yuridis

c)

Menarik perhatian pembaca

d)

Sebagai lampiran non-hukum

15.

Dalam legal drafting, asas "clear and unambiguous" penting karena:

a)

Menjamin kekuasaan lembaga penyusun

b)

Mendorong debat publik

c)

Memastikan norma tidak multitafsir dan dapat ditegakkan

d)

Memberi ruang interpretasi luas bagi pejabat

16.

Jika sebuah pasal memberikan kewenangan tanpa batas kepada pejabat, maka hal itu melanggar prinsip:

a)

Efektivitas redaksional

b)

Prinsip checks and balances dan rule of law

c)

Prosedur legislasi

d)

Legalitas administratif

17.

Ketika menyusun naskah akademik, bagian urgensi pengaturan harus memuat:

a)

Rencana pembahasan pasal

b)

Alasan empiris, filosofis, dan yuridis perlunya regulasi

c)

Usulan lembaga pelaksana

d)

Anggaran pelaksanaan

18.

Mengapa prinsip "kesesuaian antara materi muatan dengan bentuk peraturan" harus ditegakkan?

a)

Agar bentuk peraturan terlihat bervariasi

b)

Untuk memperjelas tanggung jawab hukum

c)

Supaya peraturan mudah direvisi

d)

Untuk mempercepat pengesahan

19.

Dalam menyusun peraturan perundang-undangan, siapa yang berwenang menyatakan bahwa suatu pasal bertentangan dengan konstitusi?

a)

Presiden

b)

Menteri Hukum dan HAM

c)

Mahkamah Konstitusi

d)

DPR

20.

Apa alasan logis mengapa penyusun peraturan harus menghindari pasal karet?

a)

Pasal karet memperpendek teks

b)

Tidak semua pembaca memahami istilah hukum

c)

Mengakibatkan ketidakpastian dan penyalahgunaan kewenangan

d)

Tidak sesuai dengan tata bahasa

21.

Legal drafting yang menyisipkan pasal dengan maksud diskriminatif secara tidak langsung melanggar prinsip:

a)

Efisiensi administratif

b)

Persamaan di hadapan hukum

c)

Formulasi linguistik

d)

Asas supremasi sipil

22.

Apabila suatu peraturan bertentangan dengan asas non-retroaktif (tidak berlaku surut), maka konsekuensinya:

a)

Berlaku jika disetujui presiden

b)

Tidak sah dan dapat dibatalkan

c)

Tetap berlaku di daerah tertentu

d)

Hanya berlaku untuk korporasi

23.

Salah satu indikator kualitas legal drafting adalah:

a)

Panjangya peraturan

b)

Tergantung siapa yang menyusunnya

c)

Tingkat konsistensi dan kesesuaian antar pasal

d)

Banyaknya istilah asing

24.

Jika suatu norma hukum mengandung dua atau lebih makna berbeda, maka:

a)

Norma tersebut kuat karena fleksibel

b)

Rentan menimbulkan ketidakpastian hukum

c)

Cocok untuk diterapkan di berbagai daerah

d)

Dapat ditafsirkan sesuai kebutuhan

25.

Ketika menyusun naskah akademik, pendekatan yuridis bertujuan untuk:

a)

Menganalisis karakter masyarakat

b)

Membandingkan praktik antar negara

c)

Mengkaji dasar hukum yang ada dan relevansi perubahan

d)

Menilai dampak ekonomi

26.

Legal drafting yang menggunakan kalimat pasif berlebihan cenderung:

a)

Meningkatkan objektivitas

b)

Membingungkan pembaca dan menurunkan efektivitas

c)

Membuat teks hukum lebih profesional

d)

Menyederhanakan struktur kalimat

27.

B. Membingungkan pembaca dan menurunkan efektivitas

a)

Membingungkan pembaca dan menurunkan efektivitas

b)

Membuat teks hukum lebih profesional

c)

Menyederhanakan struktur kalimat

28.

Suatu norma berbunyi: "Setiap warga dapat memperoleh bantuan hukum sesuai kebutuhan." Kekurangan dari rumusan ini adalah:

a)

Sudah cukup jelas

b)

Tidak menunjuk pihak pelaksana

c)

Menggunakan istilah terlalu teknis

d)

Menyalahi asas umum hukum

29.

Dalam penyusunan norma sanksi, legal drafter harus memperhatikan:

a)

Efek psikologis terhadap pelanggar

b)

Tingkat ketegasan dan proporsionalitas

c)

Pendapat masyarakat umum

d)

Hukum adat lokal

30.

Suatu norma menyebut "pihak yang lalai dikenakan sanksi administratif." Untuk efektivitas hukum, norma ini perlu ditambahkan:

a)

Sumber pembiayaan

b)

Penegas siapa yang menjatuhkan sanksi dan bentuk sanksinya

c)

Riwayat hidup pelaku

d)

Pertimbangan sosial

31.

Jika norma hukum disusun tanpa merujuk pada peraturan induk yang relevan, maka norma tersebut:

a)

Tetap dapat berlaku

b)

Memerlukan konsultasi publik

c)

Berpotensi inkonstitusional atau ultra vires

d)

Harus diterbitkan di media massa

32.

Tujuan penggunaan struktur pasal yang baku dalam peraturan perundang-undangan adalah:

a)

Membingungkan pembaca awam

b)

Meningkatkan estetika teks

c)

Menjamin sistematika dan akurasi hukum

d)

Mengurangi risiko politik

33.

Ketentuan umum dalam peraturan bertujuan untuk:

a)

Menguraikan maksud pembuat

b)

Menjelaskan pengertian istilah hukum yang dipakai

c)

Menjelaskan filosofi peraturan

d)

Menentukan sanksi hukum

34.

Mengapa setiap jenis norma hukum harus dibedakan antara norma larangan, perintah, dan sanksi?

a)

Agar mudah dipahami oleh anak-anak

b)

Untuk menciptakan struktur logika hukum yang jelas

c)

Supaya dapat diubah dengan mudah

d)

Agar dapat diserahkan ke eksekutif

35.

Mengapa norma hukum tidak boleh terlalu rinci dan teknis dalam peraturan tingkat tinggi seperti UU?

a)

Untuk mempercepat perumusan

b)

Karena hal teknis lebih tepat diatur dalam peraturan pelaksana

c)

Agar tampak sederhana

d)

Supaya mudah dihafal

36.

Legal drafting yang terlalu banyak mengacu pada istilah asing tanpa penjelasan akan:

a)

Memudahkan internasionalisasi

b)

Membingungkan pengguna hukum dan menurunkan aksesibilitas

c)

Meningkatkan kualitas redaksi

d)

Menguntungkan pihak ahli hukum

37.

Apa risiko dari norma yang tidak menyebutkan siapa subjek pelaksana?

a)

Tidak ada

b)

Norma tersebut tetap berlaku mutlak

c)

Tidak dapat diterapkan secara efektif

d)

Dapat ditafsirkan oleh publik

38.

Prinsip harmonisasi dalam legal drafting bertujuan untuk:

a)

Menyatukan format dokumen

b)

Menyelaraskan peraturan baru dengan yang sudah ada

c)

Mengurangi jumlah pasal

d)

Memperbanyak peraturan pelaksana

39.

Dalam penulisan naskah akademik, pendekatan sosiologis digunakan untuk:

a)

Menjelaskan yurisprudensi

b)

Menilai konsekuensi sosial dari suatu regulasi

c)

Membandingkan sistem hukum

d)

Menghitung biaya legislasi

40.

Mengapa peraturan perundang-undangan perlu diuji publik sebelum disahkan?

a)

Untuk mengikuti tradisi

b)

Agar proses hukum terhambat

c)

Untuk menjamin keterbukaan dan partisipasi masyarakat

d)

Karena syarat administratif