NEW
Font size
WorksheetsSOAL UTS PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI
Total questions: 48
Worksheet time: 27mins
Seorang apoteker di rumah sakit sedang menyusun rencana pengadaan obat untuk tahun depan. Ia menggunakan data penggunaan obat selama 12 bulan terakhir dan menambahkan buffer stock dan lead time. Metode yang ia gunakan adalah:
Metode epidemiologi
Metode konsumsi
Metode kombinasi
Metode just in time
Seorang petugas farmasi di Puskesmas mengalami kesulitan menentukan jumlah kebutuhan obat hipertensi. Ia kemudian mengacu pada jumlah kasus hipertensi di wilayah kerja dan standar pengobatannya. Metode yang digunakan adalah:
Metode konsumsi
Metode kombinasi
Metode epidemiologi
Metode penghitungan cepat
Seorang apoteker ingin memesan kembali insulin yang masuk dalam kategori obat penyelamat nyawa. Dalam metode VEN, insulin termasuk ke dalam kategori:
N
E
V
C
Dalam proses perencanaan obat, apoteker rumah sakit mengelompokkan obat berdasarkan konsumsi dan nilai rupiahnya. Metode yang digunakan adalah:
Metode DOEN
Metode VEN
Metode ABC/Pareto
Metode FIFO
Apoteker kepala di rumah sakit ingin memesan obat berdasarkan kejadian penyakit terkini dan protokol terapi. Ia memadukan metode perhitungan kebutuhan. Metode yang digunakan adalah:
Just in time
Kombinasi
Konsumsi
Epidemiologi
Dalam pengadaan perbekalan farmasi, apoteker menggunakan sistem penawaran terbuka melalui lelang karena nilainya lebih dari 100 juta. Metode ini disebut:
Tender tertutup
Kontrak langsung
Tender terbuka
Konsinyasi
Seorang staf farmasi rumah sakit menerima obat yang dibeli dari distributor. Ia memastikan kesesuaian dengan kontrak, termasuk mutu dan jumlah. Kegiatan ini termasuk tahap:
Perencanaan
Penerimaan
Pengadaan
Penyimpanan
Dalam penyimpanan obat, seorang petugas menyusun obat berdasarkan masa kedaluwarsa agar yang lebih dulu expired digunakan terlebih dahulu. Prinsip ini dikenal sebagai:
FIFO
FEFO
LIFO
FENO
Seorang petugas menemukan sisa stok vaksin yang perlu disimpan pada suhu tertentu. Berdasarkan klasifikasi suhu penyimpanan, vaksin disimpan pada:
Suhu kamar
Suhu sejuk
Suhu dingin
Suhu beku
Dalam sistem distribusi rawat inap, apoteker menyiapkan obat sesuai dengan kebutuhan pasien per dosis. Sistem ini disebut:
Sistem UDD
Sistem individual prescribing
Floor stock
Just in time
Seorang apoteker puskesmas menyalurkan obat ke posyandu dan pustu. Untuk kegiatan ini, ia harus mencatat dalam:
LPLPO dan surat kiriman obat
Kartu stok dan laporan keuangan
Buku kas dan rekapitulasi bulanan
r puskesmas menyalurkan obat ke posyandu dan pustu. Untuk kegiatan ini, ia harus mencatat dalam:
LPLPO dan surat kiriman obat
Kartu stok dan laporan keuangan
Buku kas dan rekapitulasi bulanan
Buku tamu dan nota pengeluaran
Dalam proses penghapusan, apoteker menyiapkan berita acara dan mencatat nama obat serta saksinya. Proses ini merupakan bagian dari:
Distribusi
Evaluasi
Pemusnahan
Pengendalian
Dalam penyimpanan narkotika di RS, menurut peraturan, lemari penyimpanan harus memenuhi syarat. Salah satunya adalah:
Dibuat dari kaca
Memiliki satu anak kunci
Harus dikendalikan oleh kepala instalasi gizi
Tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain
Seorang petugas instalasi farmasi rumah sakit menyusun perencanaan pengadaan berdasarkan DOEN, anggaran, dan pola penyakit. Ini merupakan prinsip dari:
Sistem distribusi
Sistem penyimpanan
Sistem perencanaan
Sistem akreditasi
Dalam sistem floor stock, perbekalan farmasi disimpan lengkap di setiap ruangan. Apa keuntungan utama sistem ini?
Penggunaan obat terkendali
Waktu pelayanan lebih cepat
Resiko obat kedaluwarsa rendah
Apoteker lebih efisien bekerja
Di puskesmas, penyimpanan dilakukan dengan prinsip FIFO dan berdasarkan abjad. Tujuan utama pengaturan ini adalah:
Meningkatkan jumlah stok
Mempermudah pencatatan
Menjaga mutu dan mencegah kerusakan
Menghemat ruang penyimpanan
Saat monitoring dan evaluasi di puskesmas, supervisor meninjau catatan dan stok obat langsung ke gudang. Tujuan kegiatan ini adalah:
Meningkatkan biaya operasional
Menyusun RKO
Menilai manajemen obat
Mengganti petugas gudang
Dalam proses pencatatan, staf farmasi menggunakan kartu stok untuk satu jenis obat dan satu sumber anggaran. Tujuan dari kartu stok ini adalah:
Menyusun laporan keuangan
Membantu distribusi luar wilayah
Mengetahui mutasi dan ketersediaan
Mengajukan insentif pegawai
Seorang apoteker rumah sakit melakukan analisis pengendalian stok untuk memastikan tidak terjadi kekurangan atau kelebihan. Salah satu indikator yang dihitung adalah:
Sisa stok minimum
Waktu tunggu (lead time)
Jumlah pasien
Biaya perawatan
Dalam sistem just in time, pembelian obat dilakukan:
Berdasarkan RKO
Berdasarkan LPLPO
Saat pasien membutuhkan
Berdasarkan proyeksi epidemi
Pihak rumah sakit mendapati bahwa mereka sering kehabisan insulin, padahal obat ini krusial untuk pasien. Dalam klasifikasi VEN, insulin tergolong:
E
N
C
V
Rumah sakit mengelompokkan obat berdasarkan nilai dan volume penggunaannya. Obat dengan harga mahal dan sering digunakan berada dalam kelompok:
A
B
C
D
Seorang petugas pengadaan ingin memesan obat untuk pasien baru yang datang hari itu. Ia hanya membeli sesuai kebutuhan pasien. Metode ini dikenal sebagai:
Konsumsi
Epidemiologi
Just in time
Kombinasi
Sebuah rumah sakit melakukan pembelian obat senilai Rp120 juta melalui sistem lelang terbuka. Metode ini disebut:
Direct procurement
Restricted tender
Open tender
Competitive negotiation
Apoteker memesan obat langsung ke PBF karena nilainya kurang dari 50 juta dan butuh cepat. Namun ia menyadari harga tidak stabil dan administrasi rumit. Ini adalah metode:
Tender terbuka
Tender tertutup
Kontrak
Pembelian langsung
Seorang apoteker harus menentukan kebutuhan pengadaan tahun berikutnya. Rumus perhitungannya adalah A = (B + C + D) - E. Huruf B dalam rumus ini menunjukkan:
Sisa stok
Lead time
Pemakaian rata-rata tahunan
Buffer stock
Seorang petugas farmasi menemukan bahwa banyak obat di gudang telah melewati masa kedaluwarsa. Ia menyadari bahwa prinsip penggunaan produk yang kadaluarsa lebih awal belum dijalankan. Prinsip yang seharusnya diterapkan adalah:
FIFO
LIFO
FEFO
LEFO
Saat melakukan stok opname, ditemukan perbedaan antara catatan dan jumlah fisik obat. Apa yang sebaiknya dilakukan?
Langsung membuang obat yang berlebih
Mengganti seluruh catatan inventaris
Menyesuaikan catatan dan membuat berita acara koreksi
Mengembalikan ke distributor
Dalam penyimpanan vaksin, suhu yang disarankan untuk menjaga stabilitasnya adalah:
15° - 30° C
8° - 15° C
2° - 8° C
-10° - -20° C
Ruangan penyimpanan obat seharusnya memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Hal ini bertujuan untuk:
Memudahkan pengawasan
Mencegah kontaminasi silang
Menjaga kondisi lingkungan yang sesuai
Meningkatkan tampilan ruang
Obat psikotropika dan narkotika disimpan di tempat khusus. Salah satu syarat penyimpanan adalah:
Terbuka untuk umum
Tanpa ventilasi
Memiliki kunci ganda dan tidak boleh dicampur dengan obat lain
Disimpan di ruangan pendingin
Saat menyimpan obat cair dan padat, tindakan yang benar adalah:
Mencampurnya agar hemat tempat
Menyimpan terbalik untuk keamanan
Memisahkan karena risiko kontaminasi
Membuangnya setelah dibuka
Apoteker baru melakukan pemeriksaan fisik gudang dan mendapati kelembaban sangat tinggi. Risiko utama kondisi ini adalah:
Efektivitas antibiotik meningkat
Obat padat menjadi lembek dan rusak
Stabilitas obat cair meningkat
Tidak ada risiko berarti
Stok opname rutin sangat penting dilakukan. Tujuan utamanya adalah:
Mengganti petugas lama
Membuat
Stok opname rutin sangat penting dilakukan. Tujuan utamanya adalah:
Mengganti petugas lama
Membuat laporan audit
Mencocokkan data dengan kondisi riil
Mengurangi permintaan
Seorang petugas menemukan sediaan farmasi yang rusak akibat suhu ekstrem. Tindakan tepat yang harus dilakukan adalah:
Menjualnya dengan diskon
Digunakan untuk pasien BPJS
Dimusnahkan sesuai prosedur
Dicampur dengan obat lain
Obat-obatan kadaluarsa harus dimusnahkan dengan prosedur yang sah. Salah satu komponen wajib dalam pemusnahan adalah:
Saksi dan berita acara
Surat edaran
Nota distributor
Daftar belanja
Seorang supervisor meminta laporan pemusnahan. Laporan tersebut wajib mencantumkan:
Waktu, tempat, nama obat, jumlah, dan saksi
Hasil laboratorium
Foto kemasan
Nomor batch saja
Dalam penyimpanan menggunakan sistem inventaris, alat bantu yang umum digunakan adalah:
Laporan kunjungan pasien
Kartu stok dan sistem komputerisasi
Termometer dan tensimeter
Surat izin edar
Untuk menjamin keamanan dan akurasi stok, rumah sakit disarankan menerapkan sistem:
Kasir tunggal
Manajemen persediaan digital
Penulisan manual
Rotasi bulanan
Salah satu tujuan dari penyimpanan yang benar adalah mencegah:
Laporan berlebih
Kelebihan SDM
Kadaluarsa dan kerusakan produk
Kenaikan harga
Petugas farmasi menggunakan lampu dengan intensitas tinggi untuk menerangi seluruh ruang obat. Namun beberapa produk harus disimpan di tempat gelap. Produk tersebut kemungkinan adalah:
Tablet hisap
Produk fotosensitif
Obat herbal
Vitamin C
Setiap akhir bulan, tim farmasi diminta melaporkan sediaan yang sudah atau hampir kadaluarsa. Tujuan dari pelaporan ini adalah:
Mengajukan tender ulang
Memperoleh subsidi
Menyiapkan rencana pemusnahan
Menyebarkan produk
Dalam penyimpanan menggunakan prinsip FEFO, urutan pemakaian obat berdasarkan:
Tanggal produksi
Tanggal kedatangan
Tanggal kadaluarsa
Tanggal permintaan
Petugas instalasi farmasi menyusun laporan distribusi dan penyimpanan. Laporan ini digunakan untuk:
Audit dan evaluasi
Gaji pegawai
Rencana pembangunan RS
Pengadaan alat laboratorium
Salah satu syarat lemari penyimpanan narkotika adalah:
Terbuat dari kaca transparan
Harus dibaut ke tembok/lantai jika berukuran kecil
Bebas digunakan semua petugas
Ditaruh di dekat ruang tunggu
Apoteker menemukan stok obat rusak karena kebocoran AC. Untuk mencegah hal serupa, tindakan yang disarankan adalah:
Menutup AC saat malam
Memindahkan obat ke ruang rawat
Pemeriksaan berkala sarana penyimpanan
Mengatur suhu dengan kipas angin
