Font size
WorksheetsSMT 4
Total questions: 47
Worksheet time: 45mins
Metode tafsir Double Movement dikembangkan oleh?
Hassan Hanafi
Mohammed Arkoun
Fazlur Rahman
Nasr Hamd Abu Zaid
Metode semantik dalam memahami istilah kunci dalam Al-Qur’an adalah kontribusi dari:
Khaled Abou el-Fadl
Toshihiko Izutsu
M. Abid al-Jabiri
Amin al-Khuli
Istilah logosentrik dan kritik atas nalar tekstual digunakan oleh:
Muhammad Syahrur
Abid al-Jabiri
Nasr Hamid Abu Zaid
Mohammed Arkoun
Tafsir al-Jawahir oleh Thanthawi Jauhari secara unik mengintegrasikan:
Sastra dan Sains
Sains dan Fikih
Tafsir dan Ayat Kauniyah
Gender dan Semiotika
Asy-Sya’rawi dikenal sebagai mufasir yang berhasil mempopulerkan tafsir melalui
Ceramah televisi yang komunikatif
Dialog terbuka di universitas
Penafsiran dalam bentuk puisi sufistik
Penulisan tafsir enciklopedis
Dalam tafsirnya, Asy-Sa’di menekankan aspek moral dari Al-Qur’an. Hal ini terlihat dalam penggunaan:
Metode hermeneutik barat
Analisis maqasid secara filosofis
Bahasa sederhana dan aplikatif
Pendekatan sejarah kontekstual
Ruh al-Ma’ani banyak mengutip tafsir-tafsir sebelumnya. Hal ini menunjukkan pendekatan:
Spekulatif dan simbolik
Historis dan sintetik
Polemis dan konfrontatif
Pragmatis dan aplikatif
Aspek yang paling menonjol dalam tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir adalah
Analisis sufistik terhadap ayat-ayat spiritual
Integrasi ilmu sains modern ke dalam tafsir
Penolakan terhadap tafsir klasik
Penekanan pada dimensi kebahasaan dan maqasid
Dalam karyanya, al-Qasimi sering menyandingkan pendapat mufasir klasik dan modern. Tujuannya adalah:
Menunjukkan kontradiksi tafsir
Menolak pandangan barat
Membangun kesinambungan dan evaluasi kritis
Membedakan tafsir salaf dan khalaf
Salah satu kritik Ibnu ‘Asyur terhadap mufasir sebelumnya adalah
Minimnya penggunaan hadis shahih
Kurangnya kepekaan terhadap tujuan syariat
Terlalu rasional dalam memahami ayat
Tidak memakai metode tafsir isyari
Yang membedakan pendekatan Zainab al-Ghazali dari Binti Syathi’ adalah
Fokus pada aspek biologi perempuan
Penggunaan pendekatan tasawuf
Penekanan pada perjuangan sosial dan iman
Pembacaan filsafat barat
Siapakah mufasir yang menyatakan bahwa tafsir tidak boleh hanya berhenti pada teks, tetapi harus menyentuh ‘maqasid’ dan realitas?
Asy-Sya’rawi
Mahmud al-Alusi
Ibnu ‘Asyur
Zainab al-Ghazali
Berikut ini yang bukan karakteristik tafsir Adwa’ al-Bayan adalah:
Pendekatan fiqh yang kuat
Penolakan terhadap qiyas
Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an
Penyusunan sistematis berbasis ayat
Siapakah dari para mufasir berikut yang bukan berasal dari wilayah Mesir?
As-Sa’di
Asy-Sya’rawi
Binti Syathi’
Zainab al-Ghazali
Aisyah binti Syathi’ berbeda dari mufasir klasik karena:
Menghapus otoritas ulama
Menolak tafsir bil ma’tsur
Mengabaikan konteks sosial ayat
Menghadirkan pengalaman perempuan dalam tafsir
Tafsir dengan semangat reformis, rasional, dan kontekstual dapat dilihat dalam karya
Mahasin at-Ta’wil
Adwa’ al-Bayan
Tafsir asy-Sya’rawi
Ruh al-Ma’ani
Dalam Ruh al-Ma‘ani, al-Alusi ketika menafsirkan QS al-Fatihah:7 menjelaskan makna “al-maghdhubi ‘alayhim” dengan menyebut Yahudi karena pengetahuan mereka tidak membawa kepada amal. Penafsiran ini mencerminkan:
Pendekatan historis-politik modern
Tafsir saintifik berbasis bukti empiris
Pendekatan tasawuf dan batiniah
Pengaruh tafsir klasik dan semangat polemik
Ibnu ‘Asyur menyebut bahwa ta’lil al-ahkam (rasionalisasi hukum syariat) adalah bagian dari maqasid syariah. Hal ini tampak saat ia menafsirkan ayat tentang qishash (QS al-Baqarah:179) sebagai upaya:
Menjaga nyawa dan stabilitas sosial
Menundukkan masyarakat terhadap hukum ilahi
Membentuk rasa takut kepada azab akhirat
Menegaskan superioritas hukum Islam
Dalam tafsir Adwa’ al-Bayan, Asy-Syanqithi membahas QS al-Baqarah:275 dengan membandingkan berbagai ayat tentang riba, lalu mengaitkannya dengan prinsip larangan kezhaliman. Ini merupakan contoh dari:
Tafsir sosial-politik
Pendekatan tafsir sufistik simbolis
Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an
Tafsir dengan pendekatan maudhu‘i modern
Saat menafsirkan kisah Nabi Musa dan Firaun, Zainab al-Ghazali memfokuskan pada perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan, yang ia maknai sebagai panggilan bagi aktivisme Muslimah. Hal ini mencerminkan pendekatan tafsir:
Teologis spekulatif
Feminisme radikal sekuler
Hermeneutika sosial dan spiritual
Historis dan filologis
Dalam menafsirkan QS al-‘Alaq:1-5, Ibnu ‘Asyur menekankan bahwa perintah iqra’ adalah simbol transformasi masyarakat melalui ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa tafsirnya
Mengabaikan makna kebahasaan ayat
Terjebak dalam simbolisme Barat
Menganut tafsir batiniah
Menghubungkan wahyu dengan proyek peradaban
Yang tidak termasuk karakter tafsir Ibnu ‘Asyur adalah...
Berorientasi pada maqashid syari’ah
Menekankan makna harfiah semata
Kontekstual terhadap zaman modern
Memuat pendekatan linguistik mendalam
Tokoh berikut dikenal menggunakan pendekatan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an, kecuali...
Muhammad al-Amin asy-Syanqithi
Abdurrahman as-Sa’di
Mahmud Syukri al-Alusi
Fakhruddin al-Razi
Yang bukan termasuk keunggulan tafsir Taisir ar-Rahman karya as-Sa’di adalah
Bahasa sederhana dan mudah dipahami
Cenderung panjang dan filosofis
Menekankan aplikasi dalam kehidupan
Menghindari tafsir yang spekulatif
Yang bukan ciri tafsir Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi adalah...
Dialogis dan retoris
Banyak mengutip sains empiris
Memikat secara spiritual
Penekanan pada tadabbur makna
Yang tidak termasuk pendekatan tafsir dalam Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi adalah...
Pendekatan sastra dan kebahasaan
Analisis kontekstual terhadap pendapat ulama
Mengikuti tafsir salaf
Penekanan pada sains dan eksperimen
Semua berikut ini merupakan tema dominan dalam al-Tahrir wa at-Tanwir, kecuali...
Maqashid syariah
Linguistik Arab
Rasionalitas dan reformisme
Hermeneutika Kritis
Di bawah ini yang bukan termasuk tokoh salaf modernis adalah...
Jamaluddin al-Qasimi
Muhammad Abduh
Mahmud Syukri al-Alusi
Ibnu Taimiyah
Semua berikut ini termasuk tokoh mufasir wanita, kecuali...
Aisyah binti Syathi’
Amina Wadud
Nawal El-Saadawi
Zainab al-Ghazali
Yang bukan termasuk tokoh yang menulis tafsir lengkap terhadap seluruh Al-Qur’an adalah...
Muhammad al-Amin asy-Syanqithi
Jamaluddin al-Qasimi
Aisyah binti Syathi’
Mahmud Syukri al-Alusi
Ciri utama tafsir Adwa’ al-Bayan adalah sebagai berikut, kecuali...
Penafsiran berbasis maqashid syariah
Memfokuskan tafsir dengan ayat lain
Kuat dalam pendekatan fikih
Tidak terlalu memperluas aspek sains
Yang tidak tepat sebagai ciri tafsir Tafsir asy-Sya’rawi adalah...
Mengandalkan tadabbur dan pengalaman rohani
Banyak membahas rincian ilmu astronomi
Bersifat komunikatif dan retoris
Ditujukan untuk konsumsi publik luas
Yang bukan merupakan sumbangan Ruh al-Ma’ani terhadap tafsir modern adalah...
Pendekatan ensiklopedis
Kritik terhadap Israiliyat
Sintesis antara tafsir salaf dan khalaf
Tafsir dengan metode sosiologi kritis
Tokoh berikut dikenal menulis tafsir yang sangat tebal dengan penekanan pada ilmu pengetahuan, kecuali...
Thanthawi Jauhari
Muhammad Abduh
Muhammad asy-Sya’rawi
Mahmud Syukri al-Alusi
Yang bukan merupakan perbedaan antara tafsir klasik dan tafsir modern adalah...
Tafsir klasik cenderung tekstual
Tafsir modern membuka ruang ijtihad lebih luas
Tafsir modern menekankan konteks sosial
Tafsir klasik menggunakan hermeneutika Barat
Yang tidak termasuk kategori pendekatan tafsir tematik modern adalah...
Tafsir dengan penekanan terhadap satu topik
Tafsir sosial tentang keadilan atau lingkungan
Tafsir ayat-ayat hukum dalam satu tema
Tafsir berdasarkan urutan turunnya ayat
Perhatikan gambar dari kutipan tafsir berikut ini. Berdasarkan penafsiran tersebut, mana yang bukan termasuk pendekatan tafsir yang digunakan?
Linguistik
Balaghah Quran
Teologis
sosio-politik
cupilkan tafsir Ibnu Asyur tersebut menggunakan pendekatan apa?
historis
sains
linguistik
sufi
Berdasarkan kutipan tersebut, di bawah ini adalah muatan metode dan pendekatan yang digunakan, kecuali?
fiqhi
qira'āt
riwayah
isyari
Gambar tersebut adalah cupilkan kitab Ruh al-Ma'ani. Apa pendekatan yang digunakan mufassir?
kalam/teologis
sains
linguistik
fiqhi
Thahir ibn ‘Asyur menekankan pentingnya maqasid syariah dalam penafsiran. Dalam konteks Indonesia hari ini, bagaimana Anda melihat peran nilai-nilai maqasid (seperti keadilan, kemaslahatan, kebebasan) dalam menafsirkan ayat-ayat sosial?
Abdurrahman as-Sa’di dikenal dengan gaya tafsir yang lugas, sederhana, dan langsung ke tujuan. Dalam suasana akademik yang sering kompleks, menurut Anda apakah gaya seperti ini masih relevan untuk mahasiswa masa kini? Mengapa atau mengapa tidak?
Asy-Sya’rawi mengajak pembaca untuk merenung dan merasa terhadap ayat, bukan sekadar memahaminya secara rasional. Sebagai mahasiswa, pernahkah Anda merasa tersentuh atau tergerak oleh ayat tertentu selama perkuliahan ini? Ceritakan momen tersebut dan refleksi pribadi Anda.
Aisyah Abdurrahman binti Syathi’ membawa perspektif perempuan dalam tafsirnya. Dalam tradisi Anda sendiri (keluarga, pesantren, atau masyarakat), bagaimana posisi perempuan dalam memahami agama diperlakukan? Apakah pandangan Binti Syathi’ menginspirasi perubahan dalam cara Anda menilai hal tersebut?
Dari semua tokoh yang telah Anda pelajari, siapakah yang paling memengaruhi cara Anda memahami Al-Qur’an secara pribadi? Mengapa? Ceritakan proses perubahan atau pertumbuhan pemikiran Anda selama perkuliahan berlangsung.
Zainab al-Ghazali menafsirkan Al-Qur’an dari kacamata aktivisme dan perjuangan sosial. Jika Anda menjadi bagian dari gerakan sosial hari ini, nilai apa dari tafsir beliau yang akan Anda perjuangkan? Bagaimana Anda akan menyampaikannya kepada generasi muda?
Dalam Mahasin at-Ta’wil, Jamaluddin al-Qasimi berusaha menyatukan tradisi klasik dan semangat modern. Jika Anda hidup di zaman beliau, pendekatan seperti apa yang akan Anda lakukan untuk menjembatani dua kutub ini? Apakah Anda akan lebih condong ke tradisi atau pembaruan?
