Font size
WorksheetsUAS EKONOMI MONETER I
Total questions: 100
Worksheet time: 1hrs 15mins
Apa tujuan utama dari kebijakan moneter?
Meningkatkan ekspor
Menstabilkan harga dan nilai mata uang
Mengurangi ketergantungan impor
Menstimulasi konsumsi pemerintah
Lembaga yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia adalah:
Kementerian Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan
Bank Indonesia
Bursa Efek Indonesia
Salah satu instrumen kebijakan moneter adalah:
Pajak
Subsidi
Operasi pasar terbuka
Anggaran belanja negara
Kebijakan moneter ekspansif dilakukan ketika:
Terjadi inflasi tinggi
Terjadi deflasi atau resesi
Nilai tukar terlalu kuat
Ekspor lebih tinggi dari impor
Menaikkan suku bunga acuan oleh bank sentral akan menyebabkan:
Meningkatnya jumlah uang beredar
Turunnya inflasi
Naiknya konsumsi masyarakat
Menurunnya nilai mata uang
Tujuan dari operasi pasar terbuka adalah:
Mengatur suku bunga pinjaman
Mengendalikan cadangan devisa
Mengatur jumlah uang beredar
Mengurangi defisit anggaran
Jika bank sentral menjual surat berharga, maka dampaknya adalah:
Uang beredar meningkat
Nilai tukar melemah
Uang beredar berkurang
Konsumsi meningkat
Instrumen kebijakan moneter yang bersifat langsung adalah:
Operasi pasar terbuka
Penetapan suku bunga
Penetapan batas kredit
Rasio cadangan wajib
Rasio cadangan wajib (reserve requirement) adalah:
Cadangan devisa yang dimiliki negara
Jumlah dana yang wajib disimpan bank di bank sentral
Jumlah kredit yang boleh disalurkan bank
Suku bunga minimum yang ditetapkan bank
Kebijakan moneter yang bertujuan mengurangi jumlah uang beredar disebut:
Moneter ekspansif
Moneter defisit
Moneter kontraktif
Moneter stabil
Salah satu dampak dari kebijakan moneter yang longgar adalah:
Penurunan konsumsi
Meningkatnya pengangguran
Naiknya inflasi
Turunnya investasi
Dalam situasi inflasi, kebijakan moneter yang tepat adalah:
Meningkatkan jumlah uang beredar
Menurunkan suku bunga
Menaikkan suku bunga
Meningkatkan subsidi
Jika bank sentral menurunkan suku bunga, maka dampaknya adalah:
Uang beredar berkurang
Investasi menurun
Konsumsi meningkat
Inflasi langsung menurun
Kebijakan moneter dapat memengaruhi semua hal berikut, kecuali:
Tingkat inflasi
Tingkat suku bunga
Anggaran pendapatan dan belanja negara
Jumlah uang beredar
Bank sentral melakukan intervensi di pasar uang melalui:
Obligasi negara
Surat berharga bank sentral
Pinjaman luar negeri
Kredit usaha rakyat
Dalam sebuah studi kasus, Bank Sentral negara X menurunkan suku bunga acuannya dari 5% menjadi 3%. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kondisi ekonomi yang mengalami perlambatan. Apa tujuan utama dari kebijakan ini?
Mengendalikan inflasi yang tinggi
Meningkatkan nilai tukar mata uang
Mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dan investasi
Mengurangi cadangan devisa negara
Negara Y mengalami inflasi yang tinggi selama beberapa bulan berturut-turut. Bank Sentral memutuskan untuk menjual Surat Berharga Negara (SBN) ke pasar. Apa dampak dari kebijakan ini?
Meningkatkan jumlah uang beredar
Menurunkan suku bunga acuan
Menyerap likuiditas dari pasar untuk mengendalikan inflasi
Meningkatkan daya beli masyarakat
Dalam studi kasus, kebijakan moneter ekspansif diterapkan oleh negara Z. Kebijakan ini kemungkinan besar mencakup:
Peningkatan suku bunga dan pengurangan jumlah uang beredar
Penurunan cadangan wajib minimum bank
Penjualan obligasi pemerintah
Pengenaan pajak konsumsi baru
Jika Bank Sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestik, maka tindakan ini merupakan bagian dari:
Kebijakan fiskal
Kebijakan moneter kuantitatif
Operasi pasar terbuka
Kebijakan moneter eksternal
Sebuah studi menunjukkan bahwa setelah diterapkannya kebijakan moneter kontraktif, laju inflasi menurun, namun tingkat pengangguran meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa:
Kebijakan moneter selalu berhasil menurunkan inflasi tanpa dampak sampingan
Ada trade-off antara inflasi dan pengangguran dalam kebijakan moneter
Pengangguran tidak terpengaruh oleh kebijakan moneter
Kebijakan moneter hanya berdampak pada sektor keuangan
Krisis moneter terjadi ketika:
Produksi barang dan jasa meningkat
Nilai tukar mata uang menguat signifikan
Terjadi ketidakseimbangan besar dalam sektor keuangan dan moneter
Cadangan devisa meningkat pesat
Krisis moneter 1997-1998 di Indonesia ditandai dengan:
Nilai rupiah yang stabil terhadap dolar
Inflasi yang sangat rendah
Nilai tukar rupiah yang anjlok tajam
Sektor perbankan yang menguat
Salah satu penyebab utama krisis moneter adalah:
Pengeluaran pemerintah yang tinggi
Cadangan devisa berlebih
Ketergantungan pada utang luar negeri jangka pendek
Neraca perdagangan yang selalu surplus
Krisis moneter seringkali berakibat pada:
Menurunnya suku bunga bank
Menguatnya mata uang lokal
Meningkatnya tingkat pengangguran dan inflasi
Meningkatnya pendapatan masyarakat
Dana Moneter Internasional (IMF) sering dilibatkan saat krisis moneter untuk:
Menaikkan pajak ekspor
Menyediakan bantuan keuangan dan program stabilisasi
Menentukan nilai tukar tetap
Menurunkan cadangan devisa negara
Contoh negara selain Indonesia yang mengalami krisis moneter tahun 1997 adalah:
Jepang
Australia
Thailand
Inggris
Krisis moneter dapat memicu krisis ekonomi karena:
Naiknya cadangan devisa
Terjadinya kelangkaan barang mewah
Terganggunya sistem perbankan dan investasi
Harga-harga bahan pokok turun drastis
Salah satu langkah awal untuk mengatasi krisis moneter adalah:
Membekukan aktivitas ekspor
Melemahkan nilai tukar
Menaikkan suku bunga acuan
Mengurangi cadangan devisa
Kebijakan moneter saat krisis sering bersifat:
Ekspansif
Netral
Kontraktif
Proteksionis
Salah satu ciri krisis moneter adalah:
Fluktuasi harga saham yang stabil
Perbankan yang tumbuh cepat
Penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat dari bank
Menurunnya volume ekspor
Krisis moneter 1998 menyebabkan sektor perbankan Indonesia mengalami:
Pertumbuhan pesat
Kenaikan laba
Gelombang kebangkrutan dan nasionalisasi bank
Penurunan suku bunga kredit
Contoh dampak sosial dari krisis moneter adalah:
Naiknya ekspor
Meningkatnya pengangguran dan kemiskinan
Turunnya harga bahan pokok
Stabilnya pendapatan riil
Bank sentral dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar selama krisis dengan:
Mengabaikan inflasi
Tidak melakukan intervensi apapun
Menjamin stabilitas sistem keuangan
Menurunkan cadangan wajib minimum
Krisis moneter terjadi ketika mata uang domestik:
Menguat terhadap dolar
Mengalami depresiasi tajam
Tetap pada posisi tetap
Tidak berubah dalam jangka waktu lama
Krisis utang luar negeri yang berlebihan dapat menyebabkan:
Arus masuk modal
Kestabilan ekonomi
Ketergantungan dan kerentanan ekonomi
Nilai tukar tetap
Pada krisis moneter 1997-1998 di Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah drastis. Apa penyebab utama krisis tersebut?
Penurunan produksi pertanian secara signifikan
Utang luar negeri swasta yang tinggi dan pelarian modal asing secara besar-besaran
Kenaikan ekspor yang terlalu cepat
Penurunan konsumsi rumah tangga akibat kenaikan pajak
Salah satu dampak dari krisis moneter terhadap sektor perbankan adalah:
Kenaikan laba perbankan akibat kenaikan suku bunga
Likuiditas yang melimpah di pasar uang
Gagal bayar dan kebangkrutan sejumlah bank akibat utang luar negeri dan tekanan nilai tukar
Meningkatnya investasi asing ke sektor keuangan
Untuk mengatasi krisis moneter, pemerintah Indonesia saat itu meminta bantuan dari:
Bank Dunia (World Bank)
Asian Development Bank
Dana Moneter Internasional (IMF)
OPEC
Salah satu langkah yang diambil oleh Bank Indonesia dalam menghadapi krisis moneter adalah:
Menurunkan suku bunga acuan secara drastis
Membiarkan rupiah terapresiasi secara alami
Melakukan intervensi pasar dan menaikkan suku bunga untuk menahan pelarian modal
Meningkatkan subsidi energi secara besar-besaran
Salah satu pelajaran penting dari studi kasus krisis moneter adalah:
Ketergantungan pada utang luar negeri jangka pendek dapat memicu krisis keuangan
Nilai tukar tetap (fixed rate) lebih aman daripada nilai tukar mengambang
Inflasi yang tinggi selalu menyebabkan krisis moneter
Krisis moneter hanya berdampak pada sektor ekspor dan impor
Krisis moneter di Indonesia dimulai pada tahun:
1995
1996
1997
1999
Krisis moneter 1997 di Indonesia dipicu pertama kali oleh krisis mata uang di negara:
Malaysia
Thailand
Filipina
Korea Selatan
Faktor utama penyebab krisis moneter di Indonesia adalah:
Cadangan devisa berlebih
Defisit perdagangan luar negeri
Utang luar negeri jangka pendek sektor swasta
Tingkat pendidikan rendah
Selama krisis moneter, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS:
Tetap stabil
Menguat drastis
Melemah tajam
Tidak terpengaruh
Lembaga internasional yang memberikan bantuan kepada Indonesia selama krisis moneter adalah:
WTO
World Bank
IMF
ASEAN
Salah satu syarat IMF dalam pemberian bantuan ke Indonesia adalah:
Meningkatkan subsidi BBM
Menerapkan kebijakan proteksionisme
Melakukan reformasi di sektor perbankan
Menurunkan ekspor
Dampak sosial utama dari krisis moneter di Indonesia adalah:
Naiknya upah buruh
Stabilnya daya beli
Meningkatnya kemiskinan dan pengangguran
Peningkatan konsumsi masyarakat
Puncak krisis moneter di Indonesia terjadi pada tahun:
1996
1997
1998
1999
Krisis moneter di Indonesia memicu krisis politik yang menyebabkan:
Pemilu dipercepat
Mundurnya Presiden Soeharto
Dibubarkannya MPR
Peningkatan kekuasaan militer
Bank-bank bermasalah selama krisis moneter ditangani melalui:
Restrukturisasi melalui BPPN
Diberikan subsidi langsung
Diprivatisasi ke asing
Dibekukan operasionalnya tanpa pengawasan
Krisis moneter menyebabkan harga barang kebutuhan pokok:
Menurun drastis
Stabil dalam jangka panjang
Melonjak tajam
Tidak terpengaruh
Penyebab melemahnya nilai rupiah waktu itu adalah:
Intervensi pasar oleh pemerintah
Kelangkaan barang
Kepanikan pasar dan aksi spekulatif
Tingkat konsumsi yang rendah
Peran Bank Indonesia dalam krisis 1997-1998 sangat penting dalam:
Menyusun APBN
Menaikkan gaji PNS
Mengendalikan inflasi dan stabilitas moneter
Membuka ekspor baru
Salah satu akibat jangka panjang dari krisis moneter adalah:
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Deindustrialisasi dan meningkatnya PHK
Nilai tukar tetap terhadap dolar
Berkurangnya utang luar negeri
Untuk mengatasi krisis, pemerintah Indonesia menerapkan program:
BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia)
BLT (Bantuan Langsung Tunai)
BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
PKH (Program Keluarga Harapan)
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998 ditandai dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Apa faktor utama yang memicu krisis ini?
Penurunan tajam harga minyak dunia
Ketergantungan tinggi terhadap utang luar negeri jangka pendek dan lemahnya fundamental ekonomi
Kenaikan ekspor yang tidak terkendali
Kebijakan pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri secara besar-besaran
Dampak paling nyata dari krisis moneter 1998 di Indonesia terhadap sektor riil adalah:
Kenaikan pendapatan masyarakat secara signifikan
Penurunan suku bunga pinjaman bank
Kebangkrutan perusahaan dan meningkatnya angka PHK massal
Meningkatnya investasi asing secara drastis
Bagaimana peran Dana Moneter Internasional (IMF) dalam penanganan krisis moneter di Indonesia tahun 1998?
Menasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta besar
Menyediakan paket bantuan keuangan dan mendorong reformasi ekonomi
Mencetak uang untuk mengganti cadangan devisa Indonesia
Menghapus seluruh utang luar negeri Indonesia
Salah satu kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia saat itu untuk mengendalikan inflasi dan menahan arus modal keluar adalah:
Menurunkan suku bunga dan mendevaluasi rupiah
Menaikkan suku bunga secara tajam dan memperketat likuiditas
Memberikan subsidi impor dalam jumlah besar
Membekukan seluruh simpanan nasabah bank
Apa pelajaran penting dari krisis moneter Indonesia tahun 1998 bagi kebijakan ekonomi masa depan?
Pemerintah harus menghapuskan sistem nilai tukar mengambang
Bank sentral sebaiknya tidak memiliki peran dalam pengawasan bank
Pentingnya stabilitas makroekonomi, transparansi perbankan, dan kehati-hatian dalam utang luar negeri
Negara harus menolak semua bentuk bantuan internasional
Inflasi adalah suatu kondisi di mana:
Harga barang dan jasa turun secara umum dan terus-menerus
Produksi barang melebihi konsumsi
Harga barang dan jasa naik secara umum dan terus-menerus
Uang kehilangan fungsinya sebagai alat tukar
Penyebab utama inflasi dari sisi permintaan (demand-pull inflation) adalah:
Kenaikan biaya produksi
Penurunan nilai tukar
Permintaan agregat melebihi penawaran agregat
Kenaikan suku bunga
Cost-push inflation terjadi karena:
Kenaikan permintaan barang
Penurunan pajak
Kenaikan biaya produksi
Penurunan belanja pemerintah
Inflasi ringan berada pada kisaran:
Di bawah 5% per tahun
5-10% per tahun
10-30% per tahun
Di atas 100% per tahun
Inflasi berdampak negatif terhadap:
Kreditur tetap
Peminjam (debitur)
Pengusaha eksportir
Pelaku investasi properti
Salah satu dampak inflasi yang tinggi adalah:
Daya beli masyarakat meningkat
Pendapatan riil menurun
Harga-harga menjadi stabil
Nilai uang bertambah
Instrumen kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi antara lain:
Menurunkan tarif pajak
Menambah belanja pemerintah
Menaikkan suku bunga acuan
Memberikan subsidi harga
Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi adalah:
GDP per kapita
Indeks Harga Konsumen (IHK)
Nilai tukar riil
Neraca perdagangan
Inflasi yang tidak terkontrol dan sangat tinggi disebut:
Inflasi ringan
Inflasi sedang
Hiperinflasi
Deflasi
Hiperinflasi pernah terjadi di negara berikut ini, kecuali:
Zimbabwe
Jerman (1920-an)
Venezuela
Singapura
Salah satu penyebab inflasi dari sisi ekspektasi adalah:
Adanya ekspektasi bahwa harga akan naik di masa depan
Pemerintah menurunkan subsidi
Terjadi surplus perdagangan
Cadangan devisa naik
Inflasi inti (core inflation) tidak memperhitungkan:
Suku bunga
Harga barang-barang pokok yang stabil
Harga makanan dan energi yang bergejolak
Nilai tukar dolar
Kebijakan fiskal untuk menurunkan inflasi bisa dilakukan dengan cara:
Meningkatkan belanja negara
Menurunkan suku bunga
Menurunkan pengeluaran pemerintah dan menaikkan pajak
Menaikkan subsidi
Jika laju inflasi lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan nominal, maka:
Daya beli masyarakat meningkat
Daya beli masyarakat menurun
Konsumsi masyarakat stabil
Tidak ada pengaruh apapun
Inflasi yang terjadi karena adanya peningkatan jumlah uang beredar disebut:
Demand-pull inflation
Cost-push inflation
Monetary inflation
Structural inflation
Dalam sebuah studi kasus, tingkat inflasi di suatu negara naik tajam karena kenaikan harga bahan bakar dan pangan. Jenis inflasi yang terjadi adalah:
Inflasi permintaan (demand-pull inflation)
Inflasi biaya (cost-push inflation)
Inflasi struktural
Inflasi moneter
Negara X mengalami inflasi sebesar 9% dalam satu tahun. Pemerintah dan bank sentral mengambil kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan ini kemungkinan besar melibatkan:
Menurunkan pajak dan menaikkan belanja negara
Menurunkan suku bunga dan meningkatkan pinjaman bank
Menaikkan suku bunga dan mengurangi jumlah uang beredar
Meningkatkan subsidi untuk sektor energi
Dalam studi kasus, inflasi tinggi menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Apa dampak paling umum dari kondisi ini terhadap kelompok berpenghasilan tetap?
Pendapatan riil meningkat
Konsumsi rumah tangga bertambah
Kemampuan membeli barang dan jasa menurun
Tabungan meningkat secara signifikan
Pemerintah negara Y menghadapi inflasi yang terus meningkat akibat terlalu banyak uang beredar di pasar. Apa kebijakan paling tepat untuk mengatasi kondisi ini?
Menambah jumlah uang beredar
Menurunkan tarif impor barang konsumsi
Menarik uang dari masyarakat melalui penjualan obligasi negara
Menurunkan suku bunga agar konsumsi meningkat
Salah satu indikator utama yang digunakan dalam studi kasus inflasi adalah:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Indeks Harga Konsumen (IHK)
Produk Domestik Bruto (PDB)
Neraca Perdagangan
Yang dimaksud dengan sistem moneter internasional adalah:
Sistem keuangan dalam negeri yang diatur oleh Bank Indonesia
Sistem pertukaran barang antarnegara
Sistem yang mengatur hubungan keuangan antarnegara, termasuk nilai tukar dan neraca pembayaran
Sistem pinjaman luar negeri
Sistem moneter internasional pertama yang diterapkan secara global adalah:
Sistem Bretton Woods
Sistem kurs mengambang
Sistem standar emas
Sistem euro
Dalam sistem standar emas, nilai mata uang ditentukan oleh:
Permintaan dan penawaran
Cadangan emas yang dimiliki negara
Suku bunga pasar
Kurs tetap IMF
Konferensi Bretton Woods dilaksanakan pada tahun:
1914
1929
1944
1971
Tujuan utama sistem Bretton Woods adalah:
Membatasi perdagangan internasional
Mendorong proteksionisme
Menstabilkan nilai tukar dan mendorong kerja sama ekonomi internasional
Menghapus cadangan emas
Salah satu hasil dari Konferensi Bretton Woods adalah dibentuknya:
ASEAN
WTO
IMF dan World Bank
APEC
Sistem Bretton Woods runtuh pada tahun:
1944
1965
1971
1985
Presiden Amerika Serikat yang mengakhiri konvertibilitas dolar ke emas adalah:
John F. Kennedy
Lyndon B. Johnson
Richard Nixon
Ronald Reagan
Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods, dunia beralih ke sistem:
Kurs tetap
Kurs mengambang bebas
Standar emas kembali
Kurs ganda
Fungsi utama IMF adalah:
Membangun infrastruktur negara berkembang
Menetapkan tarif perdagangan
Menyediakan bantuan keuangan dan menjaga stabilitas moneter global
Mengatur perdagangan bebas
Mata uang yang paling banyak digunakan sebagai cadangan devisa dunia adalah:
Euro
Yen Jepang
Yuan Tiongkok
Dolar Amerika Serikat
Sistem kurs tetap mengharuskan pemerintah:
Membiarkan nilai tukar berfluktuasi
Menyesuaikan kurs berdasarkan permintaan pasar
Menjaga nilai tukar pada tingkat tertentu terhadap mata uang lain
Tidak ikut campur dalam pasar valuta asing
Salah satu kelemahan dari sistem kurs tetap adalah:
Inflasi yang tinggi
Ketidakpastian nilai tukar
Ketergantungan pada cadangan devisa
Kelebihan ekspor
Sistem kurs mengambang bebas artinya:
Kurs ditetapkan oleh IMF
Kurs ditentukan pemerintah pusat
Kurs berfluktuasi sesuai mekanisme pasar
Kurs disamakan dengan negara tetangga
Hak penarikan khusus (SDR) dikeluarkan oleh:
World Bank
WTO
IMF
OPEC
Sistem moneter internasional adalah suatu kerangka kerja yang mengatur:
Hubungan perdagangan domestik antarprovinsi
Penggunaan pajak dan subsidi dalam perekonomian
Mekanisme nilai tukar, pembayaran internasional, dan aliran modal antarnegara
Pengelolaan dana desa oleh pemerintah lokal
Sistem Bretton Woods yang berlaku pasca-Perang Dunia II menetapkan:
Nilai tukar mata uang yang fleksibel berdasarkan pasar bebas
Emas sebagai satu-satunya alat tukar dalam perdagangan internasional
Nilai tukar tetap (fixed exchange rate) dengan dolar AS sebagai acuan yang dikaitkan dengan emas
Tidak adanya campur tangan pemerintah dalam nilai tukar mata uang
Salah satu kelemahan utama sistem Bretton Woods yang menyebabkan runtuhnya sistem tersebut pada awal 1970-an adalah:
Kekurangan emas di negara berkembang
Ketergantungan sistem pada cadangan emas yang dimiliki oleh Amerika Serikat
Meningkatnya konflik antarnegara berkembang
Terlalu banyak negara yang menerapkan sistem nilai tukar mengambang
Dalam sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate), nilai mata uang suatu negara ditentukan oleh:
Pemerintah secara sepihak
Nilai tukar tetap terhadap emas
Mekanisme permintaan dan penawaran di pasar valuta asing
Kesepakatan antara negara-negara G7
Dana Moneter Internasional (IMF) dibentuk dalam sistem moneter internasional dengan tujuan utama:
Memberi pinjaman jangka panjang untuk proyek pembangunan
Mengatur tarif pajak internasional
Menyediakan bantuan keuangan kepada negara yang mengalami krisis neraca pembayaran
Menjamin stabilitas harga barang di seluruh dunia
