NEW
Font size
S
M
L
XL
WorksheetsPRETEST & POSTEST TUTORIAL KONAS PERHOMPEDIN 2025
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Name
Class
Date
1.
Manakah dari berikut ini yang merupakan faktor risiko terkait pasien untuk CINV?
a)
Pemberian kemoterapi intravena
b)
Dosis kemoterapi >1500 mg/m²
c)
Usia <50 tahun dan riwayat mabuk perjalanan
d)
Jenis kemoterapi karboplatin
e)
Laki-laki dan usia tua
2.
Kemoterapi intravena manakah yang termasuk kategori HIGH emetogenic risk (>90% risiko CINV)?
a)
Oxaliplatin
b)
Cisplatin
c)
Paclitaxel
d)
Trastuzumab
e)
Nilotinib
3.
Menurut panduan NCCN 2025, apa rejimen antiemetik opsi A yang diberikan pada hari pertama untuk mencegah CINV pada pasien yang mendapat kemoterapi parenteral yang High emetogenic risk?
a)
Olanzapine, Aprepitant, Ondansetron, Dexamethasone
b)
Olanzapine, Aprepitant, Ondansetron
c)
Metoclopramide, Aprepitant, Ondansetron
d)
Dexamethasone, Ondansetron, Diphenhydramine
e)
Dexamethasone, Ondansetron, Ranitidine
4.
Apa mekanisme kerja Ondansetron dalam mencegah muntah?
a)
Menghambat reseptor dopamin
b)
Menghambat reseptor serotonin (5HT3)
c)
Menghambat substansi P
d)
Menghambat proses inflamasi pemicu muntah
e)
Menghambat reseptor GABA
5.
Dalam upaya optimalisasi manajemen mual muntah akibat kemoterapi (CINV) melalui pendekatan kolaboratif, peran apoteker dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait obat (DRPs) sangat krusial. Manakah dari situasi berikut yang paling tepat menggambarkan DRPs yang sering diidentifikasi apoteker terkait terapi antiemetika?
a)
a. Pasien mengeluh nyeri di lokasi infus kemoterapi.
b)
b. Pasien tidak memahami pentingnya minum obat antiemetik meskipun tidak merasa mual.
c)
c. Perawat kesulitan mengakses rekam medis pasien secara elektronik.
d)
d. Dokter meresepkan dosis kemoterapi yang lebih rendah dari standar.
6.
Kolaborasi antara perawat dan apoteker sangat penting dalam memastikan ketepatan waktu pemberian antiemetika premedikasi untuk mencegah CINV akut. Tindakan kolaboratif spesifik manakah yang paling efektif dalam konteks ini?
a)
Perawat hanya memberikan antiemetika saat pasien mulai mengeluh mual.
b)
Apoteker memastikan ketersediaan obat antiemetika di depo farmasi, tanpa interaksi langsung dengan perawat.
c)
Perawat dan apoteker secara proaktif meninjau jadwal kemoterapi dan antiemetika, memastikan pemberian antiemetika 30-60 menit sebelum infus kemoterapi.
d)
Apoteker merekomendasikan penggunaan antiemetika dosis tinggi untuk semua pasien tanpa mempertimbangkan potensi emetogenik kemoterapi.
7.
Dalam evaluasi outcome manajemen CINV, pengukuran kualitas hidup terkait kesehatan (Health-Related Quality of Life - HRQoL) sangat penting untuk memahami dampak gejala dari perspektif pasien. Manakah instrumen berikut yang paling tepat digunakan untuk mengukur outcome kualitas hidup dari CINV?
a)
Skala Analog Visual (VAS) untuk nyeri.
b)
Kuesioner Adherence to Refills and Medications Scale (ARMS).
c)
Functional Living Index-Emesis (FLIE).
d)
Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE).
8.
Peningkatan berkelanjutan dalam manajemen CINV memerlukan siklus evaluasi dan perbaikan. Dalam konteks ini, peran tim multidisiplin (dokter, apoteker, perawat) dalam meninjau data CINV pasien secara rutin sangat krusial. Apa manfaat utama dari tinjauan data CINV secara kolaboratif oleh tim multidisiplin?
a)
Untuk memastikan pasien hanya menerima obat-obatan yang paling mahal.
b)
Untuk mengidentifikasi area perbaikan dalam strategi antiemetik dan alur pelayanan.
c)
Untuk mengurangi interaksi langsung antara pasien dan tenaga kesehatan.
d)
Untuk membandingkan kinerja individu tenaga kesehatan.
9.
Seorang pasien akan menerima kemoterapi dengan potensi emetogenik tinggi. Sesuai pedoman internasional, kombinasi antiemetika profilaksis manakah yang paling tepat untuk mencegah CINV akut dan tertunda?
a)
Hanya deksametason oral.
b)
Antagonis 5-HT3 dan metoclopramide.
c)
Antagonis NK1-RA, antagonis 5-HT3, deksametason, dan olanzapin.
d)
Lorazepam dan akupresur.
10.
Seorang pasien mengalami mual terobosan (breakthrough nausea) meskipun telah menerima profilaksis antiemetika standar. Sebagai tenaga kesehatan, intervensi praktis awal manakah yang paling tepat untuk menangani kondisi ini?
a)
Menghentikan semua antiemetika yang sedang diminum pasien.
b)
Menyarankan pasien untuk menahan mualnya karena itu adalah efek samping yang wajar.
c)
Memberikan obat antiemetika dari kelas yang berbeda dari profilaksis awal (misalnya, olanzapin atau metoclopramide).
d)
Segera merujuk pasien ke unit gawat darurat tanpa penilaian lebih lanjut.
Reset
