Font size
WorksheetsRMO Mock Test III
Total questions: 100
Worksheet time: 2hrs 40mins
Berikut ini bukan merupakan indikasi merujuk pasien dengan hipertensi esensial ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (FKTL), yaitu ...
Kecurigaan ke arah hipertensi sekunder
Terdapat tanda kerusakan organ target akibat hipertensi (hypertension-mediated organ damage) yang mempengaruhi pengobatan
Hipertensi resisten
Pasien tua >40 tahun dengan hipertensi derajat 2 keatas
Hipertensi mendadak dengan riwayat TD normal sebelumnya
Laki-laki 17 tahun datang dengan keluhan suara serak sejak 5 hari terakhir. Sebelumnya teman-teman satu kelasnya baru-baru ini mengalami gejala batuk pilek. Keluhan demam, sesak napas, dan gangguan menelan tidak ada. Riwayat infeksi tenggorokan dengan hasil tes antibodi heterofil positif 2 tahun lalu. Pemeriksaan fisik compos mentis, tanda vital stabil, stridor (-), pembesaran KGB (-). Pemeriksaan dengan kaca laring menunjukkan adanya edema dan eritema pada vocal cords, tidak tampak tanda perdarahan atau pus. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien diatas?
Prednison oral selama 3 hari dan rehidrasi oral yang cukup
Klindamisin oral selama 3 hari dan rehidrasi oral yang cukup
Klindamisin oral selama 7 hari dan rehidrasi oral yang cukup
Vocal rest dan rehidrasi oral yang cukup
Pemeriksaan ulang tes antibodi heterofil dan bed rest sampai hasil keluar
Pria 65 tahun dibawa berobat dengan keluhan sesak napas yang terus memberat selama 6 bulan terakhir. Pasien dulunya adalah perokok aktif dan menggemari hobi burung bersiul. Kedua anaknya memiliki riwayat asma. Pada pemeriksaan fisik ditebukan wheezing dan rhonki kasar di akhir inspirasi. Foto x-ray thorax menunjukkan perubahan difusa non-spesifik yang konsisten dengan penyakit paru. Apakah pemeriksaan penunjang yang sesuai untuk menyimpulkan diagnosis pada kasus ini?
Bronchoalveolar lavage
Presiptins serum
Spirometri dengan tes reversibilitas
Conventional chest CT
Electrocardiogram
Pria 47 tahun mengeluh batuk berdahak sejak 5 hari lalu disertai sakit tenggorokan, pilek, pegal-pegal dan meriang. Pasien pernah didiagnosa dengan diabetes melitus. Sekitar 6 bulan lalu sudah mendapatkan vaksin influenza dan pneumokokus sesuai anjuran dokter. Saat ini tekanan darah 120/90 mmHg, HR 96x/menit, RR 18x/menit dan suhu 37,0 C. Auskultasi thorax ditemukan rhonki kasar bilateral, pemeriksaan foto thorax masih dalam batas normal. Apa penyebab yang paling mungkin menyebabkan keluhan pasien?
Influenza A
Influenza B
Rhinovirus
Mycoplasma pneumoniae
Mycobacterium tuberculosis
Bayi berusia 2 bulan dibawa ibunya dengan sulit menyusui, rinorea dan batuk sejak 3 hari terakhir. Riwayat lahir spontan di usia kehamilan 36 minggu. Saat diperiksa frekuensi napas 72x/menit, suhu 37,0 C dan saturasi oksigen 92% room air. Terdengar wheezing ringan pada pemeriksaan fisik. Apa tatalaksana awal yang sesuai untuk bayi ini?
Kortikosteroid
Bronkodilator
Antibiotik
Hidrasi dan suctioning
Oksigenasi
Tn. Rian, 45 tahun, dirujuk ke Poliklinik Interna dari puskesmas dengan diagnosis hipertensi sekunder akibat Chronic Kidney Disease stadium 3b. Setelah 3 bulan pengobatan bersama internis, TD stabil di kisaran 130/80 mmHg dengan minum Amlodipin 10 mg dan kontrol fungsi ginjal tiap bulan. Pemeriksaan laboratorium terakhir ureum 40 mg/dL, kreatinin 1,8 mg/dL, proteinuria negatif. Pasien tinggal di wilayah dengan akses mudah ke fasilitas pelayanan primer. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat sesuai pedoman layanan? (Berat badan Tn. Rian 60 kg)
Lanjut perawatan di Poliklinik Interna untuk pemantauan lanjutan
Rujuk ke subspesialis nefrologi untuk pemeriksaan lebih lanjut
Rujuk balik ke puskesmas dengan rencana pemantauan berkala
Berhenti pengobatan amlodipin karena tekanan darah sudah stabil
Memberikan tambahan terapi asam amino untuk perbaikan kondisi ginjal
Nn. Diana, 35 tahun, mengeluh sering bersin-bersin, pilek, hidung mampet dan meriang sejak 1 malam sebelumnya. Ia juga mengeluhkan badanya terasa pegal-pegal dan nyeri kepala bagian depan. Riwayat merokok 1-2 bungkus sehari. Tekanan darah 130/75 mmHg, HR 105x/menit, RR 20x/menit, suhu 37,7 C, kedua mata merah, faring hiperemis dan membran mukosa kering. Rapid test influenza B hasilnya positif. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?
Berikan Amantadine 2x100 mg selama 5 hari
Berikan Oseltamivir 2x75 mg selama 5 hari
Berikan tatalaksana simtomatik
Berikan vaksinasi influenza
Tidak perlu terapi karena self-limiting disease
Anak laki-laki 7 tahun dibawa ibunya ke IGD karena batuk kuat selama 1 minggu ini dan tidak membaik dengan obat batuk hitam. Riwayat imunisasi tidak jelas. Batuk terdengar keras dan berat, dimana setiap episode disertai inspiratory whooping dan kadang-kadang muntah. Awalnya hanya demam, pilek-pilek dan mata merah saja. Pemeriksaan fisik ditemukan suhu 37,2 C, tekanan darah 110/90 mmHg, HR 89x/menit. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien?
Ciprofloxacin 10-20 mg/kgBB dibagi 2 dosis
Penicillin G 50 mg/kgBB intramuskular selama 10 hari
Azitromisin 10 mg/kgBB di hari I, selanjutnya 5 mg/kgBB di hari 2-5
Gentamisin 4 mg/kgBB 2 kali sehari selama 3 hari
Meropenem 20 mg/kgBB setiap 8 jam, titrasi sesuai tingkat keparahan penyakit
Seorang anak perempuan 7 tahun diantar ibunya ke Puskesmas karena nyeri tenggorokan disertai demam dan malas makan sejak 3 hari terakhir. Tidak ada batuk, penurunan berat badan dan keluarga dengan batuk lama. Demam turun setelah diberikan Paracetamol, namun naik kembali dalam beberapa jam. Pemeriksaan fisik: suhu 37,8 C, tampak faring hiperemis disertai eksudat pada tonsil, teraba juga benjolan pada leher. Apa langkah berikutnya yang harus dilakukan?
Tidak perlu antibiotik, cukupi hidrasi dan terapi simtomatik
Antibiotik empirik untuk Group A beta-hemolitikus streptococcus (GABS)
Kultur tenggorokan untuk penegakan diagnosis
Cek darah lengkap, menentukan kausa bakteri atau virus
Pemeriksaan antibodi heterofil untuk Epstein-Barr virus (EBV)
Laki-laki 17 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri tenggorokan hebat yang memburuk dalam 3 hari terakhir. Ia mengalami demam tinggi, sulit menelan, dan nyeri menjalar ke telinga kiri. Pasien berbicara dengan suara sengau dan mengeluh sulit membuka mulut. Pada pemeriksaan faring ditemukan tonsil kiri membesar dan terdorong ke garis tengah, dengan uvula mengalami deviasi ke kanan. Pasien tampak kesakitan dan trismus ringan. Apa penatalaksanaan awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Rawat jalan dengan antibiotik oral dan kontrol ulang 3 hari
Rujuk ke spesialis THT untuk tonsilektomi elektif
Aspirasi abses dan pemberian antibiotik intravena
Biopsi lesi tonsil untuk menyingkirkan keganasan
Pemeriksaan kultur tenggorokan sebelum terapi antibiotik
Seorang pria berusia 63 tahun datang dengan keluhan batuk berdahak, hemoptisis ringan, dan sesak napas yang semakin memberat. Riwayat gejala infeksi paru berulang. Pemeriksaan fisik didapatkan jari tabuh (clubbing), wasting, dan wheezing. Hasil CT scan thorax menunjukkan adanya gambaran signet-ring sign. Apa makna dari temuan radiologis tersebut?
Adanya sel-sel signet-ring atipikal
Dilatasi bronkus
Metastasis tumor ke paru
Striktur saluran napas
Produksi mukus berlebihan di trakea
Seorang pria usia 55 tahun datang ke Poliklinik Paru mengeluh batuk berdahak lama yang memberat sejak 7 hari terakhir. Dahaknya lebih banyak, kental, dan berbau. Selain itu juga demam, mudah lelah, dan nyeri dada kanan saat batuk. Riwayat pengobatan TB paru sebelumnya. Terdengar rhonki kasar dan wheezing pada paru kanan bawah. CT scan toraks menunjukkan bronkiektasis silindris di lobus bawah kanan. Pemeriksaan sputum dominasi leukosit dan bakteri gram negatif berbentuk batang(+). Menurut dokter, kondisi pasien stabil dan bisa rawat jalan. Apa antibiotik empiris oral yang paling tepat diberikan saat ini?
Amoxicillin 3x500 mg selama 7 hari
Eritromisin 4x250 mg selama 10 hari
Levofloxacin 1x500 mg selama 7-10 hari
Kotrimoksazol 2x960 mg selama 10 hari
Clindamisin 3x300 mg selama 10 hari
Penyebab tersering pneumonia pada bayi usia 2 sampai 12 bulang dengan status imunitas baik (imunokompeten) adalah ...
Respiratory synctial virus
Parainfluenza
Streptococcus
Staphylococcus
Estein-Barr virus
Laki-laki 67 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang memberat disertai demam, batuk berdahak. Pasien tampak bingung saat diajak bicara. Tekanan darah 80/60 mmHg, frekuensi napas 32 kali/menit, suhu 38,5°C, dan saturasi oksigen 90% tanpa alat bantu na[as. Hasil lab menunjukkan leukosit 15.000/uL, ureum 55 mg/dL, kreatinin 1,0 mg.dL. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?
Rawat jalan, antibiotik oral
Rawat inap di bangsal perawatan umum
Rawat inap di ruang isolasi
Rawat inap di ruang isolasi, nebulisasi dan steroid
Rawat di ICU dengan antibiotik IV spektrum luas
Perempuan 30 tahun mengeluh batuk berdahak selama 3 bulan terakhir, namun dalam seminggu terakhir disertai darah. Ia juga mengeluhkan penurunan berat badan dan nafsu makan menurun. Suhu 36,9°C, TD 90/70 mmHg, HR 102 kali/menit, dan RR 22 kali/menit. Pemeriksaan fisik: ronki dan suara napas bronkial pada lobus atas kedua paru serta pembesaran KGB supraklavikula kiri 2 cm. Foto thoraks: kavitas di kedua apeks paru dan limfadenopati paratrakeal. Hasil laboratorium: Leukosit 7000 sel/μL, LED 70 mm/jam, dan albumin serum 3 g/L. Tes tuberkulin indurasi 18 mm setelah 72 jam. Faktor manakah yang paling mendukung dugaan kasus reaktivasi TB paru?
Limfadenopati
Lesi kavitas
Usia pasien masih produktif
LED meningkat
Gejala respiratorik dan sistemik
Tn. Toni, 28 tahun, menjalani pemeriksaan kesehatan rutin sebelum diterima bekerja di rumah sakit. Ia tidak memiliki keluhan dan tampak sehat. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Riwayat imunisasi BCG pada usia balita. Hasil uji Mantoux menunjukkan indurasi sebesar 17 mm setelah 72 jam. Foto toraks tidak ada kelainan. Riwayat batuk, demam, penurunan berat badan, atau keringat malam disangkal. Pasien juga belum pernah pengobatan TB sebelumnya dan belum pernah kontak erat dengan pasien TB yang diketahui. Apa penatalaksanaan paling tepat untuk pasien ini?
Tidak perlu tindakan lebih lanjut karena sudah menerima vaksin BCG
Lakukan tes sputum untuk BTA, kultur, dan NAAT
Berikan terapi isoniazid 6 bulan setelah memastikan tidak ada TB aktif
Lakukan interferon-gamma release assay (IGRA) untuk konfirmasi TB laten
Rujuk ke spesialis paru untuk bronkoskopi dan biopsi jaringan
Pria 46 tahun datang dengan keluhan bengkak pada tungkai kiri selama 2 minggu terakhir, yang memburuk dalam 3 hari terakhir. Terdapat pembengkakan lingkar betis sebesar 10 cm dibandingkan dengan tungkai kontralateral. Pulsasi nadi perifer masih baik, teraba hangat dan kemerahan. USG doppler menunjukkan adanya trombosis superfisial disertai inflamasi, dan lokasi trombus berada kurang dari 1 cm dari pertemuan vena saphena dengan vena femoralis (saphenofemoral junction). Apa tatalaksana yang paling tepat untuk kasus ini?
Fondaparinux
Warfarin
Ibuprofen dan kompres hangat
Ceftriaxone injeksi
Aspirin 325 mg 2 kali sehari selama 7 hari
Tn. Surya, 65 tahun datang ke puskesmas karena mengeluh mati rasa di kedua kakinya sejak 7 hari terakhir. Saat ini pasien sedang kontrol 1 bulan pertama pasca didiagnosa dengan tuberkulosis paru aktif. Obat yang dikonsumsi Rifampisin, Isoniazide, Pirazinamide dan Etambutol sesuai dosis. Namun pasien juga meminum Metformin untuk diabetes, juga Amlodipin dan Lisinopril untuk hipertensinya. Pasie mengaku ada minum alkohol 3 minggu yang lalu dan belum berhenti merokok (total 20 tahun). TD 130/90 mmHg, GDS stik 125 mg/dL. Apa penyebab paling mungkin dari keluhan utama pasien diatas?
Peripheral arterial disease
Alcohol dependence
Diabetes melitus
Defisiensi vitamin
Penyakit kaki diabetikz
Pria 27 tahun dibawa ke IGD karena sesak napas. Sebelumnya mengeluh demam dan batuk-batuk 4 hari yang lalu. TD 100/70 mmHg, HR 115x/men, RR 40x/men, suhu 37,8 C, SpO2 93% room air. Pemeriksaan thorax didapatkan ekspansi dada simetris, perkusi redup, suara napas menurun, fremitus vokal dan taktil menurun di sisi kanan. X-ray dada menunjukkan obliterasi pada sudut kostofrenikus kanan. USG thorax terdapat akumulasi cairan 250 mL. Manakah dari kriteria berikut ini yang menggolongkan ke dalam eksudat?
Rasio protein cairan pleura/protein serum >0,5
Rasio protein cairan pleura/protein serum <0,5
Jumlah cairan di sudut kostofrenikus >200 mL
Rasio LDH pleura/LDH serum >0,5
Cairan lebih dominan di sisi kanan
Remaja 17 tahun datang dengan kesulitan bernapas dan nyeri dada sesaat sebelum ke IGD, tidak ada riwayat sesak sebelumnya. TD 135/85 mmHg, HR 90x/menit, RR 20x/menit, saturasi O2 94% free air. Pemeriksaan fisik didapatkan tubuh yang tinggi dan proporsional, trakea berada di tengah, apex di ICS V linea midclavicula sinistra. Suara paru menghilang di dada kiri, perkusi hipersonor. Apa langkah berikutnya yang tepat?
Foto x-ray thorax cito
Ambil dan periksa AGD (analisa gas darah)
CT pulmonary angiogram (CTPA)
Tube thoracostomy
Persiapan open thoracotomy
Ketika pasien jatuh pada kondisi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), maka tatalaksana berfokus pada oksigenasi pasien tanpa menambah kerusakan paru. Apa kunci utama tatalaksana pasien dengan ARDS dengan bantuan napas melalui ventilasi?
Menaikkan laju ventilasi
Meenggunakan volume tidal yang rendah
Menurunkan PEEP
Menempatkan pasien dalam posisi Trendelenburg
Memposisikan pasien pronasi
Tn. Darius, 55 tahun, sedang dalam pengobatan gagal jantung NYHA II masuk ke IGD karena sesak napas dan didiagnosa dengan acute decompensated heart failure. Obat-obatan yang dikonsumsi Sacubitril-Valsartan, Carvedilol, dan Furosemide. Setelah diberikan injeksi diretik, kondisi membaik. Ekokardiogram menunjukan ejection fraction (EF) 35%. TD 120/70 mmHg, HR 60x/menit dan EKG irama sinus. Pasien direncanakan pemberian selective sinus node inhibitor (SSNI). Apa kontraindikasi pemberian SSNI yang dimiliki oleh pasien?
Penggunaan bersama dengan Carvediol
Irama sinus pada EKG
Heart rate 60 bpm
Ejection fraction 35%
Perbaikan dengan diuretik
Perempuan 33 tahun datang dengan berdebar-debar, pusing dan sulit bernapas sejak 30 menit yang lalu. Tidak pernah ada keluhan serupa yang disadari, riwayat trauma kepala dan serangan stroke sebelumnya disangkal. Kesadaran compos mentis, TD 80/60 mmHg, HR 186x/menit, tidak ditemukan bruit pada pemeriksaan leher. Hasil EKG didapatkan takikardia dengan kompleks QRS sempit dan reguler tanpa gelombang P yang terlihat. Apa langkah berikutnya yang paling tepat?
Unsynchronized cardioversion 50 J
Synchronized cardioversion 100 J
Massage sinus karotis
Adenosine 6 mg IV bolus
Adenosine 12 mg IV bolus
Pria 67 tahun mengeluh sering kram-kram di kakinya saat berjalan dan menghilang saat istirahat. Riwayat hipertensi dan diabetes melitus diketahui. Pemeriksaan lokalis ditemukan hair loss pada ekstremitas bawah, pulsasi a. dorsalis pedis melemah, dan tidak teraba arteri tibialis posterior. Apa komorbid tersering yang ditemui bersamaan diagnosis pasien tersebut?
Giant cell arteritis
Hipertiroidisme
Coronary artery disease
Gagal ginjal
Small cell lung carcinoma
Tn. Abel, 44 tahun, datang dengan keluhan nyeri sendi, mudah lelah, dan sesak napas yang semakin memburuk. Ia juga mengeluhkan perubahan warna pada jarinya saat terpapar udara dingin. Riwayat hiperlipidemia dan GERD. Hasil EKG menunjukkan deviasi aksis kanan, gelombang R dominan di V1, dan gelombang S dominan di V6. Manakah dari temuan berikut pada rontgen dada yang paling mungkin berkorelasi dengan temuan EKG tersebut?
Kerley B line
Kongesti vena pulmonal di lobus atas
Siluet jantung yang membesar dengan pelebaran karina
Pembesaran arteri pulmonalis sentral
Left ventricle hypertrophy
Tn. Bernard, 65 tahun, dirawat karena sesak napas yang terus memburuk. Riwayat lama menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan riwayat merokok 20 tahun. Pasien juga mengeluhkan pembengkakan pada kedua tungkai bawah. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sesak dengan distensi vena jugularis. EKG menunjukkan tanda-tanda hipertrofi jantung sisi kanan. Tanda klinis manakah yang berhubungan dengan gangguan yang mendasari pasien ini?
S3 Gallop
Hepatomegali
Friction rub
Bounding pulses
Scrotal edema
Anak laki-laki 10 tahun dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Tidak ada keluhan yang dirasakan. Tekanan darahnya tercatat 130/85 mmHg. Berat badan 45 kg dan tinggi badan 140 cm (persentil ke-75 sesuai usia). Pemeriksaan fisik dan laboratorium rutin dalam batas normal. Berdasarkan grafik tekanan darah anak menurut usia, jenis kelamin, dan tinggi badan, tekanan darah anak tersebut berada pada persentil ke-97. Apa diagnosis yang paling tepat untuk pasien ini?
Hipertensi primer
Hipertensi sekunder
Prehipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2
Tn. Christoper, 68 tahun, datang ke klinik jantung untuk kontrol penyakit hipertensi-nya. Riwayat 20 tahun menderita diabetes melitus dan hipertensi, serta mengaku tidak patuh minum obat. Pada pemeriksaan, TD 162/88 mmHg dan HR 83x/menit. Pada pemeriksaan prekordial, terdengar bunyi jantung S4. Tes manakah berikut ini yang paling memberikan gambaran tentang lamanya dan tingkat keparahan penyakit jantung hipertensif pada pasien ini?
Exercise tolerance test
Elektrokardiogram
Pemeriksaan oftalmologi
Holter monitoring
Ankle brachial index
Seorang laki-laki 27 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan demam, nyeri, dan kemerahan pada lengan kanan sejak 2 hari yang lalu. Sebelumnya ada luka lecet kecil saat bekerja sebagai petani. Pada pemeriksaan fisik ditemukan garis merah memanjang dari luka di pergelangan tangan menuju ke arah lengan atas, disertai nyeri tekan sepanjang jalur tersebut. Ketiak terasa nyeri dan terdapat pembesaran kelenjar getah bening. Apa diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
Tromboflebitis superfisial
Limfangitis
Selulitis
Erisipelas
Abses subkutan
Kondisi-kondisi medis dibawah ini tidak termasuk dalam kategori hipertensi sekunder, yaitu ...
Pria dewasa dengan IMT >30 kg/m2, rutin konsumsi alkohol
Tumor adrenal dengan hiperaldosteronisme
Pemakaian rutin kortikosteroid hingga terjadi Cushing syndrome
Ibu rumah tangga yang biasa memakai kontrasepsi oral
Pasien gagal ginjal kronik dengan GFR >90
Anak laki-laki 16 tahun didiagnosa dengan penyakit jantung setelah infeksi saluran napas atas sebelumnya. Tanda vital HR 97x/men, TD 108/62 mmHg, RR 25x/men, suhu 37,7 C. Pemeriksaan fisik didapatkan murmur dan edema tungkai bilateral. Manakah katup jantung yang paling terserang oleh kondisi ini?
Aorta
Pulmonar
Trikuspid
Mitral
Vena kava
Tn. Dennis, 60 tahun, seorang perokok berat, datang ke IGD dengan nyeri hebat dan mendadak pada tungkai kiri sejak 3 jam yang lalu. Kakinya menjadi dingin, pucat, dan tidak bisa digerakkan. Riwayat pernah didiagnosa dengan penyakit jantung hipertensif. Pemeriksaan fisik menunjukkan tungkai kiri tampak pucat, dingin, tidak teraba nadi femoralis maupun dorsalis pedis. Sensasi dan motorik pada tungkai tersebut sangat menurun. Tidak ditemukan luka terbuka. Apa tatalaksana awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Pemberian aspirin oral
Kompres hangat dan elevasi ekstremitas
Pemberian heparin intravena bolus
Amputasi segera
Terapi antibiotik spektrum luas
Tn. Eko, 65 tahun, riwayat merokok selama 40 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat dan perubahan warna pada tungkai kanan. Kakinya menjadi dingin dan mati rasa selama 6 jam terakhir. Riwayat diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit ginjal kronik (eGFR 30), dan alergi terhadap aspirin. Pemeriksaan fisik menunjukkan tidak ada denyut nadi yang teraba di bawah lipat paha kanan. Hasil CT angiografi menunjukkan kalsifikasi, stenosis multipel pada arteri femoralis superfisial, trombosis di arteri femoralis superfisial proksimal, dan rekanalisasi di arteri poplitea. Vena safena magna dinilai masih cukup baik. Langkah pengobatan terbaik berikutnya adalah ...
Endarterektomi femoralis, trombektomi mekanik, dan fasciotomi
Bypass femoral ke poplitea dan fasciotomi
Aterektomi endovaskular dan fasciotomi
Trombolisis terarah kateter, aterektomi, dan fasciotomi
Trombektomi embolektomi terbuka dan fasciotomi darurat
Nn. Finka 23 tahun datang dengan keluhan kemerahan, nyeri, dan bengkak pada kaki kiri yang menjalar hingga betis bagian tengah. Ia melaporkan pembengkakan intermiten di tungkai kiri bagian bawah yang telah berlangsung selama kurang lebih 15 tahun. Tanda vital: suhu 39°C, nadi 96 kali/menit, TD 120/78 mmHg, RR 16 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema tidak nyeri, non-pitting edema dari selangkangan hingga kaki. Eritema konsisten dengan selulitis di kaki. Tidak ditemukan ulkus. Apa penyebab paling mungkin dari edema kronik pasien ini?
Deep vein thrombosis
Limfedema primer
Post thrombotic syndrome
Obstruksi vena femoralis
Obstruksi arteri femoralis
Ny. Givana, 75 tahun, datang dengan keluhan kemerahan yang muncul perlahan pada kedua tungkai, kadang disertai rasa gatal yang membuatnya agak tidak nyaman. Riwayat hipertensi, gagal jantung kongestif, dan pembengkakan tungkai bawah yang memburuk pada siang hari serta sebagian membaik di malam hari. Pemeriksaan fisik: edema pitting dan nyeri di bawah lutut, perubahan warna kulit simetris pada kedua tungkai bawah, nadi sulit teraba. Langkah berikutnya yang paling tepat untuk pasien ini adalah ...
Pemberian cilostazol
Pengukuran ankle-brachial index (ABI)
Stenting pada vena yang terkena
Terapi kompresi
Pemberian heparin intravena
An. Inayah, 8 tahun, dibawa ke poliklinik dengan keluhan nyeri tenggorokan berulang sejak 2 tahun terakhir. Ibu pasien mengatakan anaknya telah mengalami 7 kali kunjungan dengan penyakit yang sama dalam 1 tahun terakhir. Keluhan disertai demam, odinofagia, dan pembesaran tonsil bilateral yang berulang. Setiap episode didiagnosis oleh dokter dan diterapi dengan antibiotik. Pemeriksaan fisik saat ini menunjukkan tonsil hiperemis dan membesar derajat 2. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien ini?
Observasi dan kontrol berkala
Tonsilektomi elektif
Antibiotik jangka panjang profilaksis
Kortikosteroid oral dan gargle antiseptik
Pemeriksaan kultur tonsil sebelum terapi lebih lanjut
Nn. Jannah, 21 tahun, datang dengan keluhan demam, menggigil, malaise, pegal-pegal, serta nyeri di leher dan telinga sebelah kiri. Ia mengeluhkan sakit tenggorokan yang telah berlangsung selama 1 minggu dan semakin memburuk. Ia tidak mengalami batuk atau sesak napas. Suhu tubuh: 38,7 °C, Tekanan darah: 120/75 mmHg,
Denyut jantung: 110 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tampak gelisah dan tidak bisa membuka mulut sepenuhnya tanpa bantuan karena nyeri, tonsil kiri terdorong ke depan dan ke arah tengah, menyebabkan deviasi uvula ke kanan. Tidak ditemukan kelainan pada membran timpani. Kelenjar getah bening leher teraba nyeri. Apa langkah penatalaksanaan yang paling tepat berikutnya?Insisi dan drainase transoral
Insisi dan drainase transoral
Antibiotik oral dan kontrol dalam 1 hari
Antibiotik oral dan kontrol dalam 1 minggu
CT scan leher dengan kontras
Terapi simtomatik antiinflamasi dan antipiretik
Perempuan 27 tahun datang dengan sesak napas, demam, dan nyeri otot. Ia didiagnosis dengan pneumonia dan dirawat di ICU karena gagal napas hipoksik akut yang memerlukan ventilasi mekanik. Pada hari ke-6 ventilasi mekanik, pasien mengalami demam 39,4 °C, FiO₂ 80%, leukosit 18.000/mm³, sekret purulen melalui endotrakeal. Foto toraks menunjukkan infiltrat baru di lobus bawah kanan. Tindakan mana yang paling efektif dalam menurunkan risiko komplikasi ini pada pasien dengan intubasi?
Suctioning nasofaring terjadwal
Nebulisasi beta-agonis
Intubasi nasofaring
Memposisikan pasien dalam posisi semi-reclining (semi-recumbent)
Extubasi ETT
Seorang pria usia 46 tahun datang ke poliklinik paru dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 6 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak. Riwayat pengobatan TB 2 tahun yang lalu selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh. Tidak ada riwayat merokok atau paparan polutan. Pemeriksaan fisik didapatkan wheezing ekspirasi pada kedua lapang paru. Spirometri menunjukkan FEV₁/FVC < 70% setelah bronkodilator. Foto toraks menunjukkan gambaran fibrosis paru kanan atas. Apa diagnosis paling mungkin pada pasien ini?
PPOK
Bronkiektasis
Asma bronkial
Post Tuberculosis Obstructive Syndrome
Penyakit paru interstisial
Wanita 28 tahun, G2P1A0, usia kehamilan 16 minggu, datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak lebih dari 3 minggu, disertai penurunan berat badan dan keringat malam. Suami pasien pernah menjalani pengobatan TB 1 tahun yang lalu. Hasil uji tuberkulin menunjukkan indurasi 17 mm. Pemeriksaan dahak BTA 2 kali hasilnya positif (++). Pasien tidak memiliki keluhan mual muntah berlebihan dan nafsu makan masih baik. Apa terapi yang paling tepat untuk pasien ini?
Menunda pengobatan TB sampai trimester ketiga
Memberikan pengobatan TB fase intensif dengan HRZE
Memberikan isoniazid profilaksis selama kehamilan
Cukup diberikan Rifampisin dan Isoniazid
Memberikan pengobatan TB setelah persalinan
Pria 32 tahun dengan HIV positif terdiagnosis sejak 2 bulan lalu datang ke IGD karena demam tinggi, batuk memberat, dan nyeri dada sejak 5 hari terakhir. Pasien mulai terapi OAT kategori 1 3 minggu yang lalu, dan memulai terapi antiretroviral 1 minggu setelah itu. Pasien tampak sesak dan lemah. Hasil pemeriksaan CD4 awal adalah 45 sel/mm³. Foto toraks menunjukkan infiltrat bilateral yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Apa diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
Kegagalan pengobatan TB
Reinfeksi TB
Resistensi OAT
Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome
Pneumocystis jirovecii pneumonia (PJP)
Pria 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak lebih dari 3 minggu disertai darah. Pasien juga mengalami demam sore hari, keringat malam, dan penurunan berat badan. Tidak ada riwayat pengobatan TB sebelumnya. Pemeriksaan dahak langsung tidak tersedia, sehingga dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM). Hasil TCM menunjukkan Mycobacterium tuberculosis TERDETEKSI dan Resistensi Rifampisin TIDAK TERDETEKSI. Apa talaksana paling tepat untuk pasien ini?
Memulai terapi OAT kategori 2 selama 8 bulan
Memulai terapi OAT kategori 1 (HRZE) selama 6 bulan
Menunggu hasil kultur sebelum memulai pengobatan
Rujuk ke rumah sakit rujukan TB-MDR
Berikan isoniazid dan rifampisin saja selama 4 bulan
Nn. Karlina, 24 tahun, datang ke puskesmas mengeluh benjolan di leher kiri yang membesar perlahan selama 2 bulan terakhir, tidak nyeri, namun tidak menghilang dengan pengobatan antibiotik sebelumnya. Pasien juga mengalami penurunan berat badan, demam ringan di malam hari, dan keringat malam. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening servikal kiri berdiameter 3 cm, konsistensi kenyal, mobile, tidak nyeri tekan. Hasil FNAB menunjukkan gambaran sel epitelioid dan nekrosis kaseosa. Apa talaksana paling tepat untuk pasien ini?
Memberikan antibiotik selama 14 hari dan evaluasi ulang
Melakukan eksisi total kelenjar dan menunggu hasil histopatologi
Memberikan terapi OAT kategori 1 selama 6 bulan
Rujuk untuk kemoterapi dan radioterapi
Melakukan pemeriksaan CT scan leher
Pria 40 tahun datang ke poliklinik ortopedi dengan keluhan nyeri punggung bawah sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri bersifat tumpul, tidak menjalar, makin berat saat malam hari, dan tidak membaik dengan analgesik. Pasien juga mengeluhkan penurunan berat badan dan keringat malam. Pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan pada vertebra lumbalis, tidak ada defisit neurologis. Hasil rontgen thorak menunjukkan fibrosis paru kanan atas. MRI tulang belakang menunjukkan destruksi korpus vertebra L3 dan L4 dengan abses paravertebra. Apa diagnosis paling mungkin pada pasien ini?
Osteomielitis piogenik
Metastasis vertebra
Spondilitis tuberkulosa
Hernia nukleus pulposus
Fraktur patologis
Tn. Paris, 36 tahun, datang setelah terlempar dari mobil akibat kecelakaan lalu lintas. Pasien segera mendapatkan resusitasi dan tidak ditemukan cedera yang signifikan, sehingga ia dipulangkan dengan resep pereda nyeri. Dua minggu kemudian, pasien kembali dengan keluhan demam, nyeri dada samar, dan batuk berdahak. Pada pemeriksaan fisik ditemukan perkusi redup di sisi kiri dan penurunan suara napas di basal paru kiri. Langkah selanjutnya yang paling tepat dalam penatalaksanaan adalah ...
Pemasangan chest tube
Torakosentesis
Mulai antibiotik empiris segera
Foto thorax diikuti dengan CT thorax
Bronkoskopi untuk evalusasi jalan napas
Tn. Lambert, 65 tahun, datang dengan keluhan demam tinggi, keringat berlebih, dan sesak napas progresif selama 1 minggu terakhir. Pasien menjelaskan bahwa ia pernah mengalami luka tembak di dada kanan dan pemasangan chest tube sebulan yang lalu. Pasien sudah dipulangkan setelah dirawat selama 5 hari. Foto rontgen dada dan CT scan dada menunjukkan efusi pleura kanan. Manakah dari berikut ini yang merupakan penyebab tanda dan gejala pasien tersebut?
Penempatan chest tube
Pneumonia
Trauma
Atelektasis
Pneumothorax
Tn. Mandala, 76 tahun, datang dengan keluhan sesak napas 1 hari setelah menjalani operasi elektif untuk hernia. Prosedur bedah dan anestesi berjalan tanpa komplikasi. Nyeri abdomen dapat ditoleransi, dan pasien sudah bisa makan makanan padat. Saturasi oksigen 90% room air. Pada pemeriksaan fisik, suara napas terdengar jelas, namun menurun di bagian dasar paru kanan. Luka operasi tampak sembuh dengan baik tanpa tanda infeksi. Manakah dari pernyataan berikut yang benar terkait penyebab sesak napas pasien ini?
Ini adalah komplikasi pascaoperasi yang jarang terjadi
Ditandai oleh hiperinflasi paru-paru
Opsi pengobatan terbaik adalah bed rest
Perlu dilakukan incentive spirometer
Jika dilakukan foto thorax dapat ditemukan meniscus sign
Tn. Nano, 53 tahun, datang dengan demam dan malaise generalis. Pasien stabil secara hemodinamik. Foto toraks sesuai gambar terlampir. Tidak ditemukan organisme pada pewarnaan Gram sputum, dan kultur masih menunggu hasil. Terapi empiris yang diberikan adalah injeksi Ampisilin-Sulbaktam. Dua hari kemudian, pasien masih demam, mengalami hipotensi, dan kondisi pernapasan memburuk. Foto toraks ulang menunjukkan perburukan kondisi dan terdapat fluid air level di dalamnya. Langkah terbaik selanjutnya dalam penatalaksanaan pasien ini adalah ...
Torakotomi untuk reseksi lobus yang mengalami abses
Bronkoskopi untuk irigasi bronkoalveolar
Drainase perkutan untuk dekompresi dan kultur
Infiltrasi perkutan massa dengan antibiotik
Melanjutkan antibiotik empiris dan pemantauan ketat pasien
Ny. Olivia, 65 tahun, mengeluh kelelahan, batuk kronis, suara serak, batuk darah, dan sesak napas. Ia juga menyadari bahwa pakaiannya terasa lebih longgar meskipun tidak sedang diet. Riwayat napza (-), riw. merokok 1 bungkus/hari selama 25 tahun.
TD 139/80 mmHg, N 77 kali/menit, RR 17 kali/menit, suhu 36,7°C. Suara napas menurun di lobus atas kiri. Hasil laboratorium kalsium serum 12,9 mg/dL, lainnya dalam batas normal. CT toraks : massa di lobus atas kiri dengan kavitasi dan limfadenopati mediastinal. Hasil biopsi : lembaran sel poligonal, mutiara keratin (keratin pearls), intercellular bridging, dan pewarnaan p63 positif. Berdasarkan diagnosis paling mungkin, hormon manakah yang paling berhubungan dengan kondisi pasien ini?
Beta-human chorionic gonadotropin (ß-hCG)
Parathyroid hormone-related peptide (PTHrP)
Adrenocorticotropic hormone (ACTH)
Antidiuretic hormone (ADH)
B-type natriuretic peptide (BNP)
Pasien laki-laki 25 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan berkendara. Pasien mengeluh napasnya sesak dan nyeri di dada kanan. Foto thorax menunjukkan fraktur segmental pada tulang iga pertama sebelah kanan. Pada pemeriksaan fisik, pasien mengeluh nyeri, kelemahan, dan rasa baal di lengan atas kanan. Gejala memburuk saat lengan kanan diangkat. Selain itu, lengan terasa hangat, nadi radialis teraba baik, dan tidak ditemukan pembengkakan yang signifikan pada lengan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada kasus ini?
Venous thoracic outlet syndrome
Arterial thoracic outlet syndrome
Sindrom kompartemen
Neurogenic thoracic outlet syndrome
Cedera pleksus brakialis pascatrauma
Tn. Oliver, 55 tahun, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Saat tiba di UGD, ia mengeluhkan sesak napas saat istirahat. HR 115 bpm, TD 95/62 mmHg, RR 24 kali/menit, dan SpO2 92% tanpa bantuan oksigen. Primary survey tidak menunjukkan kelainan, meskipun dokter yang mendengarkan suara dada mengatakan bahwa suara di IGD trauma terlalu keras untuk memastikan adanya bunyi napas di sisi kiri. Secondary survey menunjukkan seatbelt sign positif. Foto thorax trauma posisi supine tidak menunjukkan kelainan. Apa langkah selanjutnya yang tepat?
Extended-Focused Assessment with Sonography in Trauma (eFAST)
Intubasi endotrakeal
Computed tomography of the chest
Pemasangan chest tube segera
Observasi ketat dan pemeriksaan fisik berkala
Pria 65 tahun datang ke IGD setelah mengalami 2 episode batuk darah segar dalam 24 jam terakhir. Tidak ada demam, batuk kronis, nyeri dada, atau sesak napas. Sekitar satu bulan sebelumnya, ia mengalami episode serupa yang hilang secara spontan. Riwayat menyelesaikan pengobatan TBC paru selama satu tahun pada usia 7 tahun. CT-scan dada menunjukkan adanya lesi kavitas berukuran 4,1 × 3,8 cm di lobus atas paru kiri yang mengandung suatu massa. Pasien dirawat di ruang isolasi untuk menyingkirkan kemungkinan TBC aktif. Tiga sampel dahak diambil untuk pemeriksaan, dan bronkoskopi dengan bilasan bronkoalveolar serta biopsi tidak menunjukkan temuan spesifik. Hasil pemeriksaan serologi HIV negatif, dan fungsi paru dinyatakan normal. Apakah terapi yang paling tepat untuk pasien ini?
Melanjutkan observasi dan monitoring
Reseksi bedah pada lesi kavitas
Pemberian antifungal sistemik
Instilasi antifungal transkateter
Embolisasi arteri bronkial
Pria berusia 32 tahun dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien tidak sadar, TD 87/56 mmHg, HR 109 kali/menit, dan RR 25 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan trakea berada di midline, suara napas menurun, dan perkusi redup di hemitoraks kanan. Pemeriksaan FAST dilakukan. Manakah dari temuan berikut yang paling mungkin ditemukan?
Gambaran ruang anekoik diantara perikardium dan jantung
Ruang anekoik dan poor echo diantara difragma dan pleura parietalis di sudut kostofrenikus
Tidak tampak kolom vertebra torakalis di belakang sudut kostofrenikus
Gambaran ekoik diantara perikardium dan jantung
Ruang ekoik diantara difragma dan pleura parietalis di sudut kostofrenikus
Pria 30 tahun datang ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien sadar, tetapi tampak gelisah dan mengeluh nyeri dada kiri. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 120 kali/menit, napas 28 kali/menit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan deviasi trakea ke kanan, suara napas menurun di hemitoraks kiri, dan perkusi redup. Hasil foto toraks menunjukkan bayangan homogen di hemitoraks kiri dengan pergeseran mediastinum ke kanan.
Apa penatalaksanaan awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Observasi ketat dan pemberian oksigen
Aspirasi jarum toraks pada sela iga ke-2 linea midklavikularis kiri
Pemasangan chest tube pada sela iga ke-5 linea midaksilaris kiri
Torakotomi eksploratif segera
Intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik
Pria 38 tahun mengalami benturan pada dada akibat tertimpa benda berat. Saat bernapas, terlihat bagian dari hemitoraks kanan bergerak ke dalam saat inspirasi dan keluar saat ekspirasi. Tidak ditemukan pergeseran trakea atau bunyi napas yang hilang. Diagnosis yang paling tepat adalah ...
Pneumotoraks terbuka
Tension pneumothorax
Hematotoraks
Flail chest
Kontusio pulmonum
Anak laki-laki berusia 5 tahun datang dengan keluhan sakit tenggorokan dan hidung tersumbat selama 4 hari. Pemeriksaan mulut menunjukkan edema faring dengan selaput berwarna abu-abu seperti membran menutupi tonsil dan uvula. Saat selaput tersebut dikerok, mukosa di bawahnya mulai berdarah. Ditemukan limfadenopati servikal. Apa komplikasi yang paling mungkin dari penyakit pasien ini?
Miokarditis
Abses peritonsilar
Kolitis
Otitis media
Ca nasofaring
Pria 73 tahun datang ke IGD dengan nyeri dada. HR 112 bpm dan TD 72/43 mmHg. Saat ini dirawat di unit perawatan intensif. Kateter arteri pulmonalis dipasang dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: Central venous pressure (CVP) 13 mmHg, Pulmonary artery pressure (PAP) 52/27 mmHg (mean 35 mmHg), Pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) 27 mmHg, Systemic vascular resistance (SVR) 1900 dynes/sec/cm⁵, Tekanan darah 75/45 mmHg, dan heart rate 120 bpm. Termasuk dalam kategori syok manakah pada pasien ini?
Syok kardiogenik
Syok septik
Syok hipovolemik
Syok anafilaktik
Syok neurogenik
Pria 35 tahun dirawat di Intensive Burn Unit dengan luka bakar mencakup lebih dari 75% tubuhnya. Denyut jantung 106 bpm, tekanan darah 86/57 mmHg, laju pernapasan 20 kali/menit, dan suhu 38,2 °C. Hasil laboratorium menunjukkan WBC sebesar 17.500/μL. Apa penyebab paling umum dari kumpulan gejala pasien ini?
Candida auris
Staphylococcus aureus
Pseudomonas aeruginosa
Escherichia coli
Streptococcus pneumoniae
Remaja laki-laki berusia 16 tahun mengalami kecelakaan kendaraan bermotor dan dibawa ke IGD dengan trauma multiorgan. Saat tiba TD 78/50 mmHg, HR 52 bpm, RR 22 kali/menit, dan suhu 37,6 °C, disorientasi dengan skor Glasgow Coma Scale sebesar 9. Abdomen tidak distensi, dan tungkai terasa hangat. Nadi terasa lemah (thready pulse), dan tekanan vena sentral (CVP) 9 mmHg. Apa penyebab paling mungkin dari keadaan syok pada pasien ini?
Closed head injury
Ongoing intraabdominal hemorrhage
Pneumothorax
Cedera korda spinalis
Syok hipovolemik
Pejalan kaki berusia 36 tahun tertabrak mobil dan dibawa ke IGD, lalu jalan napas diamankan dan terpasang 2 jalur intravena berukuran besar, serta diberikan saline normal. Setelah pemberian 1 liter cairan, HR 110 bpm, TD 80/55 mmHg, dan RR 18 kali/menit. Kesadaran GCS 9, anggota gerak dingin, dan nadi lemah. Pemeriksaan USG FAST menunjukkan cairan dalam rongga intraabdominal. Langkah manajemen selanjutnya yang paling tepat adalah ...
Lanjutkan pemberian saline normal secara intravena dan merencanakan laparotomi darurat
Beralih dari saline normal ke larutan Ringer laktat dan merencankan laparotomi darurat
Beralih dari saline normal ke dekstrosa 5% dalam air (D5W) dan merencanakan laparotomi darurat
Beralih dari saline normal ke transfusi whole blood dan merencanakan laparotomi darurat
Beralih dari saline normal ke transfusi hydroxyethyl starch dan merencanakan laparotomi darurat
Seorang pria 66 tahun dengan riwayat diabetes tipe 2, hiperlipidemia, dan penyakit arteri perifer datang ke klinik rawat jalan untuk evaluasi nyeri dada. Ia mengeluhkan nyeri dada retrosternal selama satu bulan terakhir yang muncul saat aktivitas seperti naik tangga atau berjalan cepat. Nyeri cukup parah hingga membuatnya berhenti sampai reda. Riwayat merokok selama 30 tahun. TD 148/82 mm Hg, HR 78 bpm, RR 16 kali/menit, SpO2 98% tanpa oksigen tambahan, suhu 36,8 °C. Pemeriksaan fisik: murmur sistolik grade 2/6 di apex, paru bersih, dan tidak ada edema perifer. EKG sesuai gambar. Echokardiografi menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri ringan, atrium kiri membesar, dan regurgitasi mitral sedang, ruang jantung kanan dalam batas normal. Apa langkah penanganan berikutnya yang paling tepat?
Aspirin 320 mg dan rujuk pasien ke fasilitas PCI untuk evaluasi lebih lanjut
Aspirin 80 mg, bisoprolol 2,5 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublingual sesuai kebutuhan, lalu evaluasi ulang dalam 2 minggu
Memberikan aspirin, bisoprolol 2,5 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublingual jika diperlukan, lalu dijadwalkan stress test
Memberikan aspirin, metoprolol 50 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublinguals, lalu periksa profil lipid dan evaluasi ulang dalam 2 minggu
Aspirin 240 mg, Clopidogren 300 mg, lalu rujuk ke fasilitas PCI terdekat untuk evaluasi lebih lanjut
Pria 67 tahun datang dengan nyeri dada yang sangat hebat dan terasa seperti diremas, menjalar ke leher serta rahangnya. Ia mengeluhkan mual dan merasa cemas. Riwayat hipertensi dengan hidroklorotiazid 25 mg setiap hari. Pada pemeriksaan, pasien sadar namun terlihat kesakitan. Tekanan darahnya 110/60 mm Hg, nadi 82 kali per menit dengan irama teratur, dan laju pernapasan 20 kali per menit. Elektrokardiogram menunjukkan elevasi segmen ST sebesar 3 mm pada lead V2, V3, dan V4. Berdasarkan dugaan diagnosis, komplikasi katup mana yang paling sering terjadi pada kondisi pasien ini?
Stenosis trikuspid
Regurgitasi aorta
Stenosis pulmonal
Regurgitasi mitral
Regurgitasi trikuspid
Tn. Xabiru, 65 tahun, mengeluh nyeri dada terbakar yang timbul tiba-tiba saat dia sedang bermain kartu dengan teman-temannya. Riwayat hipertensi, diabetes, dan hiperlipidemia. Tanda vital menunjukkan TD 166/78 mmHg, HR 88 kali per menit, dan SpO2 98% dengan udara ruangan. Elektrokardiogram menunjukkan elevasi segmen ST pada lead I, aVL, V5, dan V6. Kondisi pasien ini paling mungkin disebabkan oleh penyumbatan pada arteri ...
Arteri koroner kanan
Cabang marginal arteri koroner kanan
Cabang septal dari left anterior descending artery (LAD)
Arteri sirkumfleksus kiri
Left anterior descending artery (LAD)
Tn. Randy, 65 tahun, datang ke rumah sakit karena sesak napas saat beraktivitas dan merasa mudah lelah. Riwayat hipertensi, hiperkolesterolemia, dan riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner. TD 136/82 mmHg, RR 15 kali/menit, N 65 kali/menit, dan SpO2 98% dengan kanula nasal 3 liter/menit. Kreatinin serum 1,1 mg/dL. Ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi 35–40%. Kateterisasi jantung kiri dan kanan menunjukkan: stenosis 60% pada arteri descenden posterior kanan, stenosis 40% pada bagian distal arteri descenden anterior kiri. Ventriculogram kiri menunjukkan fraksi ejeksi 35% dengan hipokinesis global. Apa langkah selanjutnya yang tepat untuk menangani sesak napas pasien ini?
Percutaneous coronary intervention (PCI) pada LAD
Percutaneous coronary intervention (PCI) pada RCA cabang posterior
Lisinopril 10 mg per oral
Furosemide 1 mg/kgBB IV bolus
Spironolakton 50 mg per oral
Tn. Sandy, 59 tahun, datang ke klinik untuk kontrol rutin. Ia mengeluhkan sesak napas yang sudah berlangsung selama satu tahun, batuk malam hari, dan sesak membaik dengan duduk condong ke depan. Riwayat hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes melitus. Pemeriksaan fisik didapatkan rhonki dan bunyi jantung S3. EKG menunjukkan interval QTc yang memanjang. Foto thoraks menunjukkan efusi pleura kanan ringan. Ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi (EF) sebesar 45%. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?
Heart failure with reduced ejection fraction (HFrEF)
Heart failure with mildly reduced ejection fraction (HFmrEF)
Heart failure with preserved ejection fraction (HFpEF)
Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)
Cor pulmonale dengan dekompensasi
Manakah dari pernyataan berikut yang termasuk dalam Panduan Bantuan Hidup Lanjutan oleh AHA 2020 (American Heart Association) mengenai penggunaan kapnografi selama pertolongan henti jantung?
Bukan cara yang dipercaya untuk mengonfirmasi dan memantau penempatan ETT yang benar, karena hampir 25% dari ETT yang dipasang dengan benar menunjukkan kadar karbon dioksida (CO₂) yang salah tinggi
Tekanan parsial CO2 akhir ekspirasi (ETCO₂) berhubungan dengan cardiac output selama RJP asalkan ventilasi relatif konstan
Pada pasien yang terintubasi, kegagalan mencapai ETCO₂ >20 mmHg setelah 10 menit resusitasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu syarat menghentikan resusitasi
Pada pasien yang terintubasi, jika ETCO₂ >10 mmHg setelah 20 menit resusitasi berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik
ETCO₂ tidak berguna selama CPR dan sebaiknya tidak digunakan untuk mengevaluasi efektivitas resusitasi atau prognosis pasien
Pria muda tanpa identitas (Mr. X) tiba-tiba pingsan di depan sebuah klinik, tidak didapatkan denyut nadi dan napas. Resusitasi jantung paru (RJP) segera dilakukan oleh orang yang berada di sekitar. Defibrillator eksternal otomatis (AED) digunakan dan berhasil didefibrilasi. Pasien kembali memiliki sirkulasi spontan setelah 10 menit resusitasi, tetapi tetap tidak responsif meskipun hemodinamiknya normal. Pasien kemudian dibawa ke UGD dan EKG 12 sadapan menunjukkan sinus takikardia tanpa bukti infark miokard. Apa tatalaksana berikutnya yang tepat?
Angiografi koroner emergensi
Targeted temperature management
Ekokardiogram transtorakal
Amiodarone IV bolus
Titrasi kortikosteroid intravena
Ny, Tara, 35 tahun, pekerja di pabrik pemrosesan ayam dibawa ke IGD saat terjadi wabah H7N9 merebak. Suhu tubuh 38,8 °C, N 110 kali/menit, RR 24 kali/menit, SPo2 95%, dan TD 100/55 mmHg. Pemeriksaan laboratorium awal menunjukkan leukositosis ringan, natrium 136 mEq/L, kalium 4,1 mEq/L, klorida 105 mEq/L, glukosa 115 mg/dL, BUN 38 mg/dL, bikarbonat 24 mEq/L, dan kreatinin 1,7 mg/dL. Langkah awal paling tepat dalam tata laksana pasien ini adalah ...
Intubasi endotrakeal
Pemberian cairan intravena dan obat antipiretik
Pemeriksaan antigen cepat untuk avian influenza
Pemberian amantadin loading dose
Pemeriksaan swab nasofaring untuk kultur dan PCR
Ny. Wanda, 37 tahun, datang dengan keluhan pusing dan mudah lelah. Riwayat diabetes melitus tipe 2 dan hiperlipidemia. Tanda vital menunjukkan tekanan darah 90/66 mmHg, laju napas 18 kali/menit, dan suhu tubuh 37 °C. Elektrokardiogram (EKG) ditampilkan pada gambar. Manakah dari pilihan berikut yang paling tepat untuk tata laksana pasien ini?
Oksigen dan lidokaine
Oksigen dan atropine
Oksigen dan verapamil
Verapamil dan morfin
Atrofin dan morfin
Jenis blok atrioventrikular (AV) manakah di bawah ini yang ditandai dengan penundaan konduksi AV yang disertai dengan pola pemanjangan interval PR secara progresif diikuti oleh satu denyut jantung yang hilang (dropped beat)?
Blok AV derajat pertama
Blok AV derajat kedua, tipe Mobitz 1
Blok AV derajat kedua, tipe Mobitz 2
Blok AV derajat ketiga
Total AV blok
Ny. Vania, 65 tahun, datang ke rumah sakit setelah pingsan di supermarket. Dalam tiga bulan terakhir, ia sudah dua kali datang ke IGD dengan keluhan yang sama. Riwayat hipertensi dan infark miokard 10 tahun lalu. Obat-obatan saat ini meliputi lisinopril, aspirin, dan rosuvastatin. TD 95/65 mmHg, nadi 35 kali/menit reguler, dan pemeriksaan sistemik tidak menunjukkan kelainan. Setelah pemberian atropin 1 mg, denyut jantung pasien tidak membaik. EKG ditunjukkan pada gambar. Apa langkah paling penting yang harus dilakukan selanjutnya?
Rawat jalan dan kontrol kembali 1 minggu
Tambahkan bolus Atrofin sampai maksimal 3 mg IV
Pemasangan pacemaker permanen
Kardioversi elektrik
Dopamine 2-20 mcg/kgBB/men
Bayi 6 bulan dibawa karena malas menyusu dan tampak lesu. Berat badan 8 kg. Bayi bernapas spontan namun hanya merespons rangsang nyeri. Nadi tidak teraba. Monitor jantung menunjukkan takikardia supraventrikular dengan denyut 250 kali per menit. Oksigen tambahan telah diberikan. Tindakan apa yang harus segera dilakukan?
Berikan verapamil 0,1 mg/kg IV perlahan
Lakukan kardioversi tersinkronisasi segera dengan 4 Joule
Berikan digoksin 0,02 mg/kg IV
Lakukan defibrilasi segera dengan 16 Joule
Berikan adenosin bolus cepat diikuti dengan flush salin
Ny. Yenitha, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan berdebar-debar dan pusing. Ia menyatakan bahwa gejala dimulai setelah jogging dan telah berlangsung selama 15 menit. TD 80/50 mmHg, HR 145 kali/menit, RR 25 kali/menit, dan SpO₂ 85% dalam udara ruangan. Pada pemeriksaan, pasien tampak berkeringat dingin dan sesak. Ia telah diberikan oksigen tambahan dan infus cairan. Monitor menunjukkan takikardia kompleks lebar yang teratur. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?
Pemberian dosis awal amiodaron 150 mg selama 10 menit
Kardioversi tersinkronisasi dengan 100 Joule
Kardioversi tidak tersinkronisasi dengan 200 Joule
Bolus metoprolol intravena 5 mg
Pemasangan alat pacu jantung eksternal transkutan
Ny. Zaskia, 65 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada mendadak dan sesak napas. Riwayat diabetes melitus dengan terapi insulin selama 5 tahun terakhir. HR 88 bpm, TD 115/64 mmHg, RR 19 kali/menit, dan suhu 37°C. Tiba-tiba, pasien menjadi tidak responsif, dengan tidak ada nadi yang teraba. Hasil EKG menunjukkan gelombang polimorfik. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?
Memulai CPR (resusitasi jantung paru) berkualitas tinggi dan memberikan epinefrin intravena
Memulai CPR berkualitas tinggi dan memberikan adenosin intravena
Memulai CPR berkualitas tinggi dan melakukan kardioversi tersinkronisasi menggunakan defibrillator eksternal secepatnya
Memulai CPR berkualitas tinggi dan melakukan defibrilasi jantung menggunakan defibrillator eksternal secepatnya
Memberikan magnesium sulfat intravena tanpa defibrilasi awal
Tn. Arkan, 70 tahun, pernah didiagnosa dengan kardiomiopati non-iskemik kronik dan hipertensi datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang muncul sejak 2 hari lalu. Fraksi ejeksi terakhir yang diketahui adalah 40%. Tanda vital: Tekanan darah 110/60 mmHg, Nadi 125 bpm, laju napas 20 kali/menit, saturasi oksigen 94% dengan udara ruangan. Monitor menunjukkan gambar diatas. Apa pengobatan paling tepat untuk aritmia pasien ini saat ini?
Diltiazem
Amiodarone
Digoksin
Metoprolol
Kardioversi
Tn. Bernard, 65 tahun, mengeluh sesak napas memberat sejak 1 jam terakhir. Riwayat obesitas dengan komplikasi obstructive sleep apnea (OSA). Pasien telah menggunakan CPAP di malam hari, walau tidak rutin setiap hari. Tekanan darahnya 118/84 mmHg. EKG menunjukkan gambaran tertentu (lihat gambar). Pasien masih merasa sesak napas meskipun menggunakan 2 liter oksigen lewat kanula hidung dengan saturasi oksigen 98%. Intervensi apa yang paling tepat untuk memperbaiki gejalanya?
Memulai terapi antikoagulan
Mengendalikan laju ventrikel
Mengendalikan laju atrium
Mempertahankan tekanan darah
Memasang CPAP saat ini
Bayi laki-laki 2 bulan dibawa ke klinik dengan keluhan sianosis sejak lahir dan napas cepat. Pada pemeriksaan ditemukan murmur sistolik keras di tepi kiri bawah sternum dan jari tangan tampak membulat (clubbing). Pasien sering mengalami episode sianosis hebat yang membuatnya sulit bernapas dan menjadi pucat. Terapi medis awal yang diberikan untuk mengurangi frekuensi dan keparahan episode sianosis ini adalah ...
Diuretik
Prostaglandin E1
Manuver squatting atau posisi jongkok
Beta-blocker seperti propranolol
Oksigen melalui nasal kanula
Ny. Chelsea, 67 tahun, datang dengan keluhan nyeri dada tembus ke belakang. Elektrokardiogram (EKG) menunjukkan gambaran infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI), yang ditangani dengan intervensi koroner perkutan. Pasien diberikan obat untuk profilaksis trombosis yang menghambat enzim siklooksigenase. Obat apa yang diberikan untuk pasien diatas?
Clopidogrel
Warfarin
Heparin
Aspirin
Ticagrelol
Tn. Dean, 65 tahun, dibawa ke UGD dengan keluhan nyeri dada hebat yang mulai sekitar satu jam yang lalu saat naik tangga. Nyeri tersebut disertai mual, muntah, dan berkeringat. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung iskemik. Riwayat merokok selama 40 tahun. Saat perjalanan ke rumah sakit, pasien diberikan aspirin kunyah. EKG menunjukkan depresi segmen ST dan gelombang R yang menonjol pada lead V1-V3. Gelombang T normal. Biomarker masih menunggu hasil. Manakah dari berikut ini yang paling mungkin menjadi penyebab kondisi pasien ini?
Perikarditis akut
Inflamasi pada miokardium
Iskemia subendokardial
Infark miokard dinding posterior
Angina prinzmetal
Ny. Eklesia, 59 tahun, datang dengan keluhan nyeri dada sejak 2 jam yang lalu. Nyeri tersebut disertai dengan muntah, mual, dan diaforesis (keringat berlebihan). Pasien memiliki riwayat nyeri serupa yang biasanya membaik dengan istirahat. Namun, kali ini nyeri terasa terus-menerus. Manakah dari kondisi berikut yang paling dapat membedakan antara infark miokard non-ST elevasi (NSTEMI) dengan angina tidak stabil pada pasien ini?
Deskripsi gejala
Perubahan gambaran elektrokardiografi
Adanya faktor risiko tertentu
Kadar troponin yang meningkat
Respon terhadap pengobatan nitrogliserin
Manakah dari berikut ini yang termasuk kriteria diagnostik untuk hipertensi maligna?
Papiledema
Adanya tumor ganas
Tekanan darah diastolik lebih dari 120 mmHg
Tekanan darah sistolik lebih dari 180 mmHg
Respon terhadap pemberian nitrat baik
Nn. Felicia, 25 tahun, dengan luka tusuk di lengan bawah kiri ke IGD. Saat tiba, tekanan darah 105/65 mmHg, denyut nadi 110 bpm, laju napas 22 kali/menit, saturasi oksigen 98%, dan suhu 37,2 °C. Sekilas terpasang tourniquet di bawah siku, dengan perban yang menutupi luka tusuk, tampak dressing berwarna merah cerah di volar antebrachii kiri, namun tidak ditemukan perdarahan aktif. Langkah selanjutnya yang paling tepat dalam menangani kondisi pasien ini adalah ...
Evaluasi luka bedside di IGD
Eksplorasi luka di ruang operasi
Lakukan CT angiogram pada ekstremitas atas kiri
Periksa airway
Lakukan pemeriksaan foto antebrachii AP/lateral
Anak laki-laki berusia 2 tahun datang dengan demam dan batuk selama 2 hari. Ia tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya dan sudah mendapatkan vaksinasi lengkap. Suhu 38,1 °C, laju pernapasan 25 kali/menit, dan saturasi oksigen 97%. Pemeriksaan fisik tampak batuk seperti gonggongan. Membran mukosa lembap, orofaring tanpa eksudat, dan membran timpani jernih. Paru-paru bersih, tanpa wheezing, crackles, retraksi dinding dada, atau stridor inspirasi. Langkah terbaik berikutnya dalam penanganan adalah ...
Deksametason
Nebulisasi epinefrin
Suplementasi oksigen
Foto rontgen dada
Spirometri
Anak perempuan 6 tahun yang telah menerima semua imunisasi rutin datang dengan suara serak dan batuk keras berdahak. Beberapa hari sebelumnya dia didiagnosis dengan infeksi saluran napas atas akibat viral. Suhu tubuhnya 39,5 °C dan tampak sakit berat. Pemeriksaan fisik menunjukkan anak tersebut membungkuk ke depan, sedikit berliuran (drooling), stridor inspirasi, dan suara paru jernih. Leukosit 22.000 sel/mm³, dengan 69% neutrofil dan 20% batang. Foto rontgen leher lateral menunjukkan steeple sign dengan iregularitas dinding trakea. Berdasarkan diagnosis yang paling mungkin, manakah penyebab paling umum dari kondisi anak ini?
Respiratory syncytial virus
Staphylococcus aureus
Streptococcus pyogenes
Haemophilus influenzae tipe B
Moraxella catarrhalis
Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan batuk keras, suara serak, dan napas tersengal setelah diduga menelan mainan kecil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan stridor inspirasi, suara napas kasar, dan retraksi dinding dada. Tidak ada suara napas yang menurun di kedua sisi dada. Posisi obstruksi benda asing yang paling mungkin berdasarkan temuan fisik tersebut adalah ...
Laring atau trakea atas
Trakea distal
Main bronchus kanan
Main bronchus kiri
Bronkiolus
Anak laki-laki 12 tahun dibawa oleh ibunya ke klinik karena sesak napas dan batuk kering selama 1 minggu. Menurut ibu, batuk anaknya semakin buruk pada malam hari, terutama saat cuaca dingin di rumah. Pemeriksaan fisik didapatkan wheezing bilateral di area paru atas. Sampel dahak pasien diperiksa di laboratorium dan ditemukan sumbatan berbentuk spiral yang berasal dari saluran kelenjar subepitelial. Apa nama temuan khas ini, dan penyakit apa yang berhubungan dengannya?
Multinucleate giant cells, Bronkitis alergika
Curschmann spirals, Asma
Orphan Annie-eyed nucleated cells, Lupus
Psammoma bodies, Marfan syndrome
Charcot-Leyden crystals, Trakeobronkitisakut
Tn. Gilbert, 60 tahun, datang untuk evaluasi batuk berdahak dan demam selama 2 minggu terakhir. Riwayat penyakit jantung iskemik dan diabetes mellitus tipe 2. Ia juga memiliki riwayat reaksi anafilaksis terhadap obat-obatan golongan penisilin. Suhu 38 °C, TD 115/70 mm Hg, RR 20 kali/menit, HR 98 bpm, dan SpO2 95% tanpa oksigen. Pemeriksaan fisik tampak badan kurus dengan ronki bilateral. Foto rontgen dada sesuai gambar. Apa pilihan antibiotik untuk rawat jalan yang direkomendasikan untuk pasien ini?
Vankomisin
Amoxicillin-clavulanate
Levofloksasin
Klindamisin
Azitromisin
Nn. Hita, 17 tahun, mengeluh batuk berdahak selama 2 hari, nyeri dada, dan sesak napas sejak beberapa jam terakhir setelah baru saja dirawat di rumah sakit untuk apendektomi. TD 100/80 mmHg, RR 24 kali/menit, HR 104 bpm, suhu 38,3 °C, dan SpO2 89% tanpa oksigen. Pemeriksaan fisik dada didapatkan perkusi redup (dullness) di sisi kanan. Foto rontgen dada terlihat di gambar. Pewarnaan Gram kemungkinan besar akan menunjukkan patogen dari kelompok manakah?
Gram-negative bacilli
Gram-positive bacilli
Gram-negative cocci
Gram-positive coccobacilli
Acid-fast bacilli
Nn. Ivana, 25 tahun, datang ke UGD dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 2 jam yang lalu. Pasien tampak kesulitan berbicara dalam 1 kalimat penuh, RR 32 kali/menit, HR 120 kali/menit, dan SpO2 90% dengan oksigen 3 liter via nasal kanula. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya penggunaan otot bantu pernapasan dan wheezing ekspirasi yang terdengar jelas. Berdasarkan kriteria klinis, tingkat keparahan serangan asma pasien ini adalah ...
Serangan ringan
Serangan sedang
Serangan berat
Serangan sangat berat
Status asthmaticus
Tn. Kendrick, 65 tahun, mantan perokok berat, datang ke poliklinik dengan keluhan sesak napas progresif sejak 1 tahun terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan barrel chest dan penurunan suara napas. Hasil foto toraks PA (sesuai gambar) terlihat peningkatan transparansi paru, diafragma mendatar, dan pelebaran sela iga. Jantung tampak vertikal dan sempit (pendulum). Temuan radiologis tersebut paling sesuai dengan diagnosis ...
Pneumotoraks
Gagal jantung kiri
Emfisema paru
Asma bronkial
Cor pulmonale
Ny. Putri, 59 tahun, datang untuk kontrol penyakit paru kronis yang dideritanya. Pasien sudah berhenti merokok 5 tahun yang lalu. Obat-obatan yang dikonsumsinya meliputi inhaler kombinasi yang mengandung long-acting muscarinic antagonist (LAMA) dan long-acting β-adrenergic agonist (LABA). Ia juga menggunakan short-acting β-adrenergic agonist (SABA) jika sesak napas timbul. Inhaler SABA telah digunakan sebanyak 3 kali/minggu dalam 4 minggu terakhir. Hasil tes fungsi paru menunjukkan penyakit paru obstruktif ringan dengan efek bronkodilator yang signifikan. Apa langkah berikutnya yang paling tepat dalam tatalaksana pasien ini?
Memulai steroid oral dosis rendah
Menambahkan inhaler steroid dosis sedang
Dirujuk untuk rehabilitasi paru
Menghentikan inhalasi LAMA
Menambahkan leucotrient receptor antagonist
Pria 55 tahun tiba-tiba datang dengan sesak napas sejak 2 jam lalu. Tidak ada keluhan nyeri dada maupun keringat dingin. Tanda vital: suhu 37,4 °C, HR 105 kali/men, RR 24 kali/menit, TD 215/110 mmHg, dan SpO2 90% room air. Pasien tampak gelisah dan napas cepat, ronki halus di kedua sisi paru, dan edema tungkai (-). Foto thoraks menunjukkan kongesti vaskular dan edema paru. EKG menunjukkan sinus takikardia tanpa perubahan segmen ST-T. Hasil pemeriksaan BNP 530. Pemeriksaan urine menunjukkan hasil positif untuk kokain.
Memulai pemasangan bilevel positive airway pressure (BiPAP)
Infus Nitrogliserin atau Nitroprusside dan diruretik
Pemeriksaan blood gas analysis (BGA)
Infus Labetalol dan diuretik segera
Beta-blocker per oral jangka panjang untuk pencegahan perburukan
Tn. Lontar, 25 tahun, mengeluh demam selama 1 minggu, batuk kering, dan sesak napas. Riwayat medis menunjukkan dia mengalami diare kronis dan penurunan berat badan selama 6 bulan terakhir. Pasien memiliki banyak pasangan seksual dan kadang menggunakan kontrasepsi penghalang. Suhu 39 °C, HR 100 kali/menit, TD 130/80 mmHg, RR 26 kali/menit, SpO2 88% room air. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya plak putih keabu-abuan di rongga mulut serta ronki kedua paru. Kadar laktat dehidrogenase serum meningkat menjadi 350 U/L, dan ditemukan kadar beta-D-glukan serum yang juga meningkat. Foto toraks menunjukkan infiltrat retikulonodular difus bilateral. Pewarnaan Gram dan kultur sputum tidak menunjukkan adanya organisme. Terapi medis apa yang paling sesuai untuk pasien ini?
Trimethoprim-sulfamethoxazole
Ceftriaxone
Acyclovir
Azithromycin
Isoniazid
Tn. Lontar, 25 tahun, mengeluh demam selama 1 minggu, batuk kering, dan sesak napas. Riwayat medis menunjukkan dia mengalami diare kronis dan penurunan berat badan selama 6 bulan terakhir. Pasien memiliki banyak pasangan seksual dan kadang menggunakan kontrasepsi penghalang. Suhu 39 °C, HR 100 kali/menit, TD 130/80 mmHg, RR 26 kali/menit, SpO2 88% room air. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya plak putih keabu-abuan di rongga mulut serta ronki kedua paru. Kadar laktat dehidrogenase serum meningkat menjadi 350 U/L, dan ditemukan kadar beta-D-glukan serum yang juga meningkat. Foto toraks menunjukkan infiltrat retikulonodular difus bilateral. Pewarnaan Gram dan kultur sputum tidak menunjukkan adanya organisme. Terapi medis apa yang paling sesuai untuk pasien ini?
Trimethoprim-sulfamethoxazole
Ceftriaxone
Acyclovir
Azithromycin
Isoniazid
Tn. Maxwel, 58 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang memburuk sejak pagi. Pasien memiliki riwayat PPOK dan baru pulang dari rawat inap karena pneumonia. Pemeriksaan menunjukkan RR 30 kali/menit, SpO₂ 84% tanpa oksigen, dan cyanosis perifer. Analisis gas darah menunjukkan pH 7,47 | PaCO₂ 32 mmHg | PaO₂ 55 mmHg | HCO₃⁻ 23 mEq/L. Berdasarkan data di atas, diagnosis gangguan pernapasan yang paling tepat adalah ...
Gagal napas tipe 1
Gagal napas tipe 2
Asidosis respiratorik akut
Alkalosis metabolik
Asidosis metabolik kompensasi respiratorik
Tn. Nando, 65 tahun, memang memiliki PPOK berat datang ke IGD karena sesak napas yang memburuk sejak kemarin. Pasien tampak mengantuk dan bingung. Pemeriksaan menunjukkan RR 10 kali/menit, SpO₂ 88% dengan nasal kanula 3 L/menit, auskultasi terdengar napas lemah, wheezing minimal. Pemeriksaan AGD didapatkan pH 7,28 | PaCO₂ 68 mmHg | PaO₂ 58 mmHg | HCO₃⁻ 28 mEq/L. Diagnosis gangguan pernapasan yang paling tepat berdasarkan data di atas adalah ...
Gagal napas tipe 1 (hipoksemik)
Gagal napas tipe 2 (hiperkapnik)
Asidosis metabolik kompensasi respiratorik
Alkalosis respiratorik akut
Gagal ventilasi tipe sentral
Ny. Natalia, 61 tahun, mengeluh batuk kering dan sesak napas saat beraktivitas yang berlangsung selama 8 bulan terakhir. Pemeriksaan fisik tidak didapatkan temuan berarti kecuali adanya sedikit keringat berlebih (diaforesis) di telapak tangan. Foto rontgen dada menunjukkan pelebaran mediastinum. CT scan dada dengan kontras didapatkan tumor berukuran 1,2 cm dengan komponen kistik dan nekrotik di mediastinum anterior, serta efusi pleura bilateral dalam jumlah kecil. Diagnosis banding apa yang paling mungkin dipertimbangkan untuk kondisi ini?
Kista bronkogenik
Neuroblastoma
Limfangioma
Timoma
Karsinoid bronkus
Seorang pria berusia 65 tahun yang pernah bekerja sebagai penambang batu bara datang dengan keluhan sesak napas, penurunan toleransi aktivitas, dan batuk tidak produktif yang muncul secara perlahan. Sebelumnya ia sehat dan tidak pernah merokok. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea, ronki akhir inspirasi, dan mengi. Berdasarkan diagnosis yang paling mungkin, temuan radiografis manakah yang paling sesuai pada foto rontgen dada pasien ini?
Konsolidasi lobar di paru
Plak pleura pada paru
Limfadenopati bilateral
Nodul interstisial kecil di paru
Cavitas pada lobus atas paru
Seorang pria berusia 23 tahun ditikam dengan pisau. Saat pemeriksaan, terdapat luka robek tipis sepanjang 1 cm di garis tengah dada sejajar dengan sternum. Foto rontgen dada lateral menunjukkan adanya benda logam berukuran 5 mm dengan bentuk runcing dan sudut tajam yang tampak berada di bagian paling anterior dari jantung, kemungkinan merupakan potongan dari pisau yang digunakan untuk menikam pasien. Di bagian manakah dari jantung fragmen logam ini paling mungkin berada?
Atrium kanan
Ventrikel kanan
Atrium kiri
Ventrikel kiri
Katup mitral
Seorang pria berusia 60 tahun dibawa oleh Emergency Medical Service (EMS) setelah kehilangan kesadaran di rumah. Ia memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. Denyut jantungnya adalah 167 bpm. Pemeriksaan fisik menunjukkan nadi yang tidak teratur dan tidak beraturan. Pasien kemudian diberikan propranolol. Apa alasan otot jantung dapat berkontraksi secara serempak?
Diskus interkalaris
Adanya mitokondria
Adanya sel pacemaker
Ukuran sel yang kecil
Tidak ada sarkomer
