wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

RMO Mock Test III

Total questions: 100

Worksheet time: 2hrs 40mins

Name
Class
Date
1.

Berikut ini bukan merupakan indikasi merujuk pasien dengan hipertensi esensial ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (FKTL), yaitu ...

a)

Kecurigaan ke arah hipertensi sekunder

b)

Terdapat tanda kerusakan organ target akibat hipertensi (hypertension-mediated organ damage) yang mempengaruhi pengobatan

c)

Hipertensi resisten

d)

Pasien tua >40 tahun dengan hipertensi derajat 2 keatas

e)

Hipertensi mendadak dengan riwayat TD normal sebelumnya

2.

Laki-laki 17 tahun datang dengan keluhan suara serak sejak 5 hari terakhir. Sebelumnya teman-teman satu kelasnya baru-baru ini mengalami gejala batuk pilek. Keluhan demam, sesak napas, dan gangguan menelan tidak ada. Riwayat infeksi tenggorokan dengan hasil tes antibodi heterofil positif 2 tahun lalu. Pemeriksaan fisik compos mentis, tanda vital stabil, stridor (-), pembesaran KGB (-). Pemeriksaan dengan kaca laring menunjukkan adanya edema dan eritema pada vocal cords, tidak tampak tanda perdarahan atau pus. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien diatas?

a)

Prednison oral selama 3 hari dan rehidrasi oral yang cukup

b)

Klindamisin oral selama 3 hari dan rehidrasi oral yang cukup

c)

Klindamisin oral selama 7 hari dan rehidrasi oral yang cukup

d)

Vocal rest dan rehidrasi oral yang cukup

e)

Pemeriksaan ulang tes antibodi heterofil dan bed rest sampai hasil keluar

3.

Pria 65 tahun dibawa berobat dengan keluhan sesak napas yang terus memberat selama 6 bulan terakhir. Pasien dulunya adalah perokok aktif dan menggemari hobi burung bersiul. Kedua anaknya memiliki riwayat asma. Pada pemeriksaan fisik ditebukan wheezing dan rhonki kasar di akhir inspirasi. Foto x-ray thorax menunjukkan perubahan difusa non-spesifik yang konsisten dengan penyakit paru. Apakah pemeriksaan penunjang yang sesuai untuk menyimpulkan diagnosis pada kasus ini?

a)

Bronchoalveolar lavage

b)

Presiptins serum

c)

Spirometri dengan tes reversibilitas

d)

Conventional chest CT

e)

Electrocardiogram

4.

Pria 47 tahun mengeluh batuk berdahak sejak 5 hari lalu disertai sakit tenggorokan, pilek, pegal-pegal dan meriang. Pasien pernah didiagnosa dengan diabetes melitus. Sekitar 6 bulan lalu sudah mendapatkan vaksin influenza dan pneumokokus sesuai anjuran dokter. Saat ini tekanan darah 120/90 mmHg, HR 96x/menit, RR 18x/menit dan suhu 37,0 C. Auskultasi thorax ditemukan rhonki kasar bilateral, pemeriksaan foto thorax masih dalam batas normal. Apa penyebab yang paling mungkin menyebabkan keluhan pasien?

a)

Influenza A

b)

Influenza B

c)

Rhinovirus

d)

Mycoplasma pneumoniae

e)

Mycobacterium tuberculosis

5.

Bayi berusia 2 bulan dibawa ibunya dengan sulit menyusui, rinorea dan batuk sejak 3 hari terakhir. Riwayat lahir spontan di usia kehamilan 36 minggu. Saat diperiksa frekuensi napas 72x/menit, suhu 37,0 C dan saturasi oksigen 92% room air. Terdengar wheezing ringan pada pemeriksaan fisik. Apa tatalaksana awal yang sesuai untuk bayi ini?

a)

Kortikosteroid

b)

Bronkodilator

c)

Antibiotik

d)

Hidrasi dan suctioning

e)

Oksigenasi

6.

Tn. Rian, 45 tahun, dirujuk ke Poliklinik Interna dari puskesmas dengan diagnosis hipertensi sekunder akibat Chronic Kidney Disease stadium 3b. Setelah 3 bulan pengobatan bersama internis, TD stabil di kisaran 130/80 mmHg dengan minum Amlodipin 10 mg dan kontrol fungsi ginjal tiap bulan. Pemeriksaan laboratorium terakhir ureum 40 mg/dL, kreatinin 1,8 mg/dL, proteinuria negatif. Pasien tinggal di wilayah dengan akses mudah ke fasilitas pelayanan primer. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat sesuai pedoman layanan? (Berat badan Tn. Rian 60 kg)

a)

Lanjut perawatan di Poliklinik Interna untuk pemantauan lanjutan

b)

Rujuk ke subspesialis nefrologi untuk pemeriksaan lebih lanjut

c)

Rujuk balik ke puskesmas dengan rencana pemantauan berkala

d)

Berhenti pengobatan amlodipin karena tekanan darah sudah stabil

e)

Memberikan tambahan terapi asam amino untuk perbaikan kondisi ginjal

7.

Nn. Diana, 35 tahun, mengeluh sering bersin-bersin, pilek, hidung mampet dan meriang sejak 1 malam sebelumnya. Ia juga mengeluhkan badanya terasa pegal-pegal dan nyeri kepala bagian depan. Riwayat merokok 1-2 bungkus sehari. Tekanan darah 130/75 mmHg, HR 105x/menit, RR 20x/menit, suhu 37,7 C, kedua mata merah, faring hiperemis dan membran mukosa kering. Rapid test influenza B hasilnya positif. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?

a)

Berikan Amantadine 2x100 mg selama 5 hari

b)

Berikan Oseltamivir 2x75 mg selama 5 hari

c)

Berikan tatalaksana simtomatik

d)

Berikan vaksinasi influenza

e)

Tidak perlu terapi karena self-limiting disease

8.

Anak laki-laki 7 tahun dibawa ibunya ke IGD karena batuk kuat selama 1 minggu ini dan tidak membaik dengan obat batuk hitam. Riwayat imunisasi tidak jelas. Batuk terdengar keras dan berat, dimana setiap episode disertai inspiratory whooping dan kadang-kadang muntah. Awalnya hanya demam, pilek-pilek dan mata merah saja. Pemeriksaan fisik ditemukan suhu 37,2 C, tekanan darah 110/90 mmHg, HR 89x/menit. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien?

a)

Ciprofloxacin 10-20 mg/kgBB dibagi 2 dosis

b)

Penicillin G 50 mg/kgBB intramuskular selama 10 hari

c)

Azitromisin 10 mg/kgBB di hari I, selanjutnya 5 mg/kgBB di hari 2-5

d)

Gentamisin 4 mg/kgBB 2 kali sehari selama 3 hari

e)

Meropenem 20 mg/kgBB setiap 8 jam, titrasi sesuai tingkat keparahan penyakit

9.

Seorang anak perempuan 7 tahun diantar ibunya ke Puskesmas karena nyeri tenggorokan disertai demam dan malas makan sejak 3 hari terakhir. Tidak ada batuk, penurunan berat badan dan keluarga dengan batuk lama. Demam turun setelah diberikan Paracetamol, namun naik kembali dalam beberapa jam. Pemeriksaan fisik: suhu 37,8 C, tampak faring hiperemis disertai eksudat pada tonsil, teraba juga benjolan pada leher. Apa langkah berikutnya yang harus dilakukan?

a)

Tidak perlu antibiotik, cukupi hidrasi dan terapi simtomatik

b)

Antibiotik empirik untuk Group A beta-hemolitikus streptococcus (GABS)

c)

Kultur tenggorokan untuk penegakan diagnosis

d)

Cek darah lengkap, menentukan kausa bakteri atau virus

e)

Pemeriksaan antibodi heterofil untuk Epstein-Barr virus (EBV)

10.

Laki-laki 17 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri tenggorokan hebat yang memburuk dalam 3 hari terakhir. Ia mengalami demam tinggi, sulit menelan, dan nyeri menjalar ke telinga kiri. Pasien berbicara dengan suara sengau dan mengeluh sulit membuka mulut. Pada pemeriksaan faring ditemukan tonsil kiri membesar dan terdorong ke garis tengah, dengan uvula mengalami deviasi ke kanan. Pasien tampak kesakitan dan trismus ringan. Apa penatalaksanaan awal yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Rawat jalan dengan antibiotik oral dan kontrol ulang 3 hari

b)

Rujuk ke spesialis THT untuk tonsilektomi elektif

c)

Aspirasi abses dan pemberian antibiotik intravena

d)

Biopsi lesi tonsil untuk menyingkirkan keganasan

e)

Pemeriksaan kultur tenggorokan sebelum terapi antibiotik

11.

Seorang pria berusia 63 tahun datang dengan keluhan batuk berdahak, hemoptisis ringan, dan sesak napas yang semakin memberat. Riwayat gejala infeksi paru berulang. Pemeriksaan fisik didapatkan jari tabuh (clubbing), wasting, dan wheezing. Hasil CT scan thorax menunjukkan adanya gambaran signet-ring sign. Apa makna dari temuan radiologis tersebut?

a)

Adanya sel-sel signet-ring atipikal

b)

Dilatasi bronkus

c)

Metastasis tumor ke paru

d)

Striktur saluran napas

e)

Produksi mukus berlebihan di trakea

12.

Seorang pria usia 55 tahun datang ke Poliklinik Paru mengeluh batuk berdahak lama yang memberat sejak 7 hari terakhir. Dahaknya lebih banyak, kental, dan berbau. Selain itu juga demam, mudah lelah, dan nyeri dada kanan saat batuk. Riwayat pengobatan TB paru sebelumnya. Terdengar rhonki kasar dan wheezing pada paru kanan bawah. CT scan toraks menunjukkan bronkiektasis silindris di lobus bawah kanan. Pemeriksaan sputum dominasi leukosit dan bakteri gram negatif berbentuk batang(+). Menurut dokter, kondisi pasien stabil dan bisa rawat jalan. Apa antibiotik empiris oral yang paling tepat diberikan saat ini?

a)

Amoxicillin 3x500 mg selama 7 hari

b)

Eritromisin 4x250 mg selama 10 hari

c)

Levofloxacin 1x500 mg selama 7-10 hari

d)

Kotrimoksazol 2x960 mg selama 10 hari

e)

Clindamisin 3x300 mg selama 10 hari

13.

Penyebab tersering pneumonia pada bayi usia 2 sampai 12 bulang dengan status imunitas baik (imunokompeten) adalah ...

a)

Respiratory synctial virus

b)

Parainfluenza

c)

Streptococcus

d)

Staphylococcus

e)

Estein-Barr virus

14.

Laki-laki 67 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang memberat disertai demam, batuk berdahak. Pasien tampak bingung saat diajak bicara. Tekanan darah 80/60 mmHg, frekuensi napas 32 kali/menit, suhu 38,5°C, dan saturasi oksigen 90% tanpa alat bantu na[as. Hasil lab menunjukkan leukosit 15.000/uL, ureum 55 mg/dL, kreatinin 1,0 mg.dL. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?

a)

Rawat jalan, antibiotik oral

b)

Rawat inap di bangsal perawatan umum

c)

Rawat inap di ruang isolasi

d)

Rawat inap di ruang isolasi, nebulisasi dan steroid

e)

Rawat di ICU dengan antibiotik IV spektrum luas

15.

Perempuan 30 tahun mengeluh batuk berdahak selama 3 bulan terakhir, namun dalam seminggu terakhir disertai darah. Ia juga mengeluhkan penurunan berat badan dan nafsu makan menurun. Suhu 36,9°C, TD 90/70 mmHg, HR 102 kali/menit, dan RR 22 kali/menit. Pemeriksaan fisik: ronki dan suara napas bronkial pada lobus atas kedua paru serta pembesaran KGB supraklavikula kiri 2 cm. Foto thoraks: kavitas di kedua apeks paru dan limfadenopati paratrakeal. Hasil laboratorium: Leukosit 7000 sel/μL, LED 70 mm/jam, dan albumin serum 3 g/L. Tes tuberkulin indurasi 18 mm setelah 72 jam. Faktor manakah yang paling mendukung dugaan kasus reaktivasi TB paru?

a)

Limfadenopati

b)

Lesi kavitas

c)

Usia pasien masih produktif

d)

LED meningkat

e)

Gejala respiratorik dan sistemik

16.

Tn. Toni, 28 tahun, menjalani pemeriksaan kesehatan rutin sebelum diterima bekerja di rumah sakit. Ia tidak memiliki keluhan dan tampak sehat. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Riwayat imunisasi BCG pada usia balita. Hasil uji Mantoux menunjukkan indurasi sebesar 17 mm setelah 72 jam. Foto toraks tidak ada kelainan. Riwayat batuk, demam, penurunan berat badan, atau keringat malam disangkal. Pasien juga belum pernah pengobatan TB sebelumnya dan belum pernah kontak erat dengan pasien TB yang diketahui. Apa penatalaksanaan paling tepat untuk pasien ini?

a)

Tidak perlu tindakan lebih lanjut karena sudah menerima vaksin BCG

b)

Lakukan tes sputum untuk BTA, kultur, dan NAAT

c)

Berikan terapi isoniazid 6 bulan setelah memastikan tidak ada TB aktif

d)

Lakukan interferon-gamma release assay (IGRA) untuk konfirmasi TB laten

e)

Rujuk ke spesialis paru untuk bronkoskopi dan biopsi jaringan

17.

Pria 46 tahun datang dengan keluhan bengkak pada tungkai kiri selama 2 minggu terakhir, yang memburuk dalam 3 hari terakhir. Terdapat pembengkakan lingkar betis sebesar 10 cm dibandingkan dengan tungkai kontralateral. Pulsasi nadi perifer masih baik, teraba hangat dan kemerahan. USG doppler menunjukkan adanya trombosis superfisial disertai inflamasi, dan lokasi trombus berada kurang dari 1 cm dari pertemuan vena saphena dengan vena femoralis (saphenofemoral junction). Apa tatalaksana yang paling tepat untuk kasus ini?

a)

Fondaparinux

b)

Warfarin

c)

Ibuprofen dan kompres hangat

d)

Ceftriaxone injeksi

e)

Aspirin 325 mg 2 kali sehari selama 7 hari

18.

Tn. Surya, 65 tahun datang ke puskesmas karena mengeluh mati rasa di kedua kakinya sejak 7 hari terakhir. Saat ini pasien sedang kontrol 1 bulan pertama pasca didiagnosa dengan tuberkulosis paru aktif. Obat yang dikonsumsi Rifampisin, Isoniazide, Pirazinamide dan Etambutol sesuai dosis. Namun pasien juga meminum Metformin untuk diabetes, juga Amlodipin dan Lisinopril untuk hipertensinya. Pasie mengaku ada minum alkohol 3 minggu yang lalu dan belum berhenti merokok (total 20 tahun). TD 130/90 mmHg, GDS stik 125 mg/dL. Apa penyebab paling mungkin dari keluhan utama pasien diatas?

a)

Peripheral arterial disease

b)

Alcohol dependence

c)

Diabetes melitus

d)

Defisiensi vitamin

e)

Penyakit kaki diabetikz

19.

Pria 27 tahun dibawa ke IGD karena sesak napas. Sebelumnya mengeluh demam dan batuk-batuk 4 hari yang lalu. TD 100/70 mmHg, HR 115x/men, RR 40x/men, suhu 37,8 C, SpO2 93% room air. Pemeriksaan thorax didapatkan ekspansi dada simetris, perkusi redup, suara napas menurun, fremitus vokal dan taktil menurun di sisi kanan. X-ray dada menunjukkan obliterasi pada sudut kostofrenikus kanan. USG thorax terdapat akumulasi cairan 250 mL. Manakah dari kriteria berikut ini yang menggolongkan ke dalam eksudat?

a)

Rasio protein cairan pleura/protein serum >0,5

b)

Rasio protein cairan pleura/protein serum <0,5

c)

Jumlah cairan di sudut kostofrenikus >200 mL

d)

Rasio LDH pleura/LDH serum >0,5

e)

Cairan lebih dominan di sisi kanan

20.

Remaja 17 tahun datang dengan kesulitan bernapas dan nyeri dada sesaat sebelum ke IGD, tidak ada riwayat sesak sebelumnya. TD 135/85 mmHg, HR 90x/menit, RR 20x/menit, saturasi O2 94% free air. Pemeriksaan fisik didapatkan tubuh yang tinggi dan proporsional, trakea berada di tengah, apex di ICS V linea midclavicula sinistra. Suara paru menghilang di dada kiri, perkusi hipersonor. Apa langkah berikutnya yang tepat?

a)

Foto x-ray thorax cito

b)

Ambil dan periksa AGD (analisa gas darah)

c)

CT pulmonary angiogram (CTPA)

d)

Tube thoracostomy

e)

Persiapan open thoracotomy

21.

Ketika pasien jatuh pada kondisi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), maka tatalaksana berfokus pada oksigenasi pasien tanpa menambah kerusakan paru. Apa kunci utama tatalaksana pasien dengan ARDS dengan bantuan napas melalui ventilasi?

a)

Menaikkan laju ventilasi

b)

Meenggunakan volume tidal yang rendah

c)

Menurunkan PEEP

d)

Menempatkan pasien dalam posisi Trendelenburg

e)

Memposisikan pasien pronasi

22.

Tn. Darius, 55 tahun, sedang dalam pengobatan gagal jantung NYHA II masuk ke IGD karena sesak napas dan didiagnosa dengan acute decompensated heart failure. Obat-obatan yang dikonsumsi Sacubitril-Valsartan, Carvedilol, dan Furosemide. Setelah diberikan injeksi diretik, kondisi membaik. Ekokardiogram menunjukan ejection fraction (EF) 35%. TD 120/70 mmHg, HR 60x/menit dan EKG irama sinus. Pasien direncanakan pemberian selective sinus node inhibitor (SSNI). Apa kontraindikasi pemberian SSNI yang dimiliki oleh pasien?

a)

Penggunaan bersama dengan Carvediol

b)

Irama sinus pada EKG

c)

Heart rate 60 bpm

d)

Ejection fraction 35%

e)

Perbaikan dengan diuretik

23.

Perempuan 33 tahun datang dengan berdebar-debar, pusing dan sulit bernapas sejak 30 menit yang lalu. Tidak pernah ada keluhan serupa yang disadari, riwayat trauma kepala dan serangan stroke sebelumnya disangkal. Kesadaran compos mentis, TD 80/60 mmHg, HR 186x/menit, tidak ditemukan bruit pada pemeriksaan leher. Hasil EKG didapatkan takikardia dengan kompleks QRS sempit dan reguler tanpa gelombang P yang terlihat. Apa langkah berikutnya yang paling tepat?

a)

Unsynchronized cardioversion 50 J

b)

Synchronized cardioversion 100 J

c)

Massage sinus karotis

d)

Adenosine 6 mg IV bolus

e)

Adenosine 12 mg IV bolus

24.

Pria 67 tahun mengeluh sering kram-kram di kakinya saat berjalan dan menghilang saat istirahat. Riwayat hipertensi dan diabetes melitus diketahui. Pemeriksaan lokalis ditemukan hair loss pada ekstremitas bawah, pulsasi a. dorsalis pedis melemah, dan tidak teraba arteri tibialis posterior. Apa komorbid tersering yang ditemui bersamaan diagnosis pasien tersebut?

a)

Giant cell arteritis

b)

Hipertiroidisme

c)

Coronary artery disease

d)

Gagal ginjal

e)

Small cell lung carcinoma

25.

Tn. Abel, 44 tahun, datang dengan keluhan nyeri sendi, mudah lelah, dan sesak napas yang semakin memburuk. Ia juga mengeluhkan perubahan warna pada jarinya saat terpapar udara dingin. Riwayat hiperlipidemia dan GERD. Hasil EKG menunjukkan deviasi aksis kanan, gelombang R dominan di V1, dan gelombang S dominan di V6. Manakah dari temuan berikut pada rontgen dada yang paling mungkin berkorelasi dengan temuan EKG tersebut?

a)

Kerley B line

b)

Kongesti vena pulmonal di lobus atas

c)

Siluet jantung yang membesar dengan pelebaran karina

d)

Pembesaran arteri pulmonalis sentral

e)

Left ventricle hypertrophy

26.

Tn. Bernard, 65 tahun, dirawat karena sesak napas yang terus memburuk. Riwayat lama menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan riwayat merokok 20 tahun. Pasien juga mengeluhkan pembengkakan pada kedua tungkai bawah. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sesak dengan distensi vena jugularis. EKG menunjukkan tanda-tanda hipertrofi jantung sisi kanan. Tanda klinis manakah yang berhubungan dengan gangguan yang mendasari pasien ini?

a)

S3 Gallop

b)

Hepatomegali

c)

Friction rub

d)

Bounding pulses

e)

Scrotal edema

27.

Anak laki-laki 10 tahun dibawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Tidak ada keluhan yang dirasakan. Tekanan darahnya tercatat 130/85 mmHg. Berat badan 45 kg dan tinggi badan 140 cm (persentil ke-75 sesuai usia). Pemeriksaan fisik dan laboratorium rutin dalam batas normal. Berdasarkan grafik tekanan darah anak menurut usia, jenis kelamin, dan tinggi badan, tekanan darah anak tersebut berada pada persentil ke-97. Apa diagnosis yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Hipertensi primer

b)

Hipertensi sekunder

c)

Prehipertensi

d)

Hipertensi tahap 1

e)

Hipertensi tahap 2

28.

Tn. Christoper, 68 tahun, datang ke klinik jantung untuk kontrol penyakit hipertensi-nya. Riwayat 20 tahun menderita diabetes melitus dan hipertensi, serta mengaku tidak patuh minum obat. Pada pemeriksaan, TD 162/88 mmHg dan HR 83x/menit. Pada pemeriksaan prekordial, terdengar bunyi jantung S4. Tes manakah berikut ini yang paling memberikan gambaran tentang lamanya dan tingkat keparahan penyakit jantung hipertensif pada pasien ini?

a)

Exercise tolerance test

b)

Elektrokardiogram

c)

Pemeriksaan oftalmologi

d)

Holter monitoring

e)

Ankle brachial index

29.

Seorang laki-laki 27 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan demam, nyeri, dan kemerahan pada lengan kanan sejak 2 hari yang lalu. Sebelumnya ada luka lecet kecil saat bekerja sebagai petani. Pada pemeriksaan fisik ditemukan garis merah memanjang dari luka di pergelangan tangan menuju ke arah lengan atas, disertai nyeri tekan sepanjang jalur tersebut. Ketiak terasa nyeri dan terdapat pembesaran kelenjar getah bening. Apa diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

a)

Tromboflebitis superfisial

b)

Limfangitis

c)

Selulitis

d)

Erisipelas

e)

Abses subkutan

30.

Kondisi-kondisi medis dibawah ini tidak termasuk dalam kategori hipertensi sekunder, yaitu ...

a)

Pria dewasa dengan IMT >30 kg/m2, rutin konsumsi alkohol

b)

Tumor adrenal dengan hiperaldosteronisme

c)

Pemakaian rutin kortikosteroid hingga terjadi Cushing syndrome

d)

Ibu rumah tangga yang biasa memakai kontrasepsi oral

e)

Pasien gagal ginjal kronik dengan GFR >90

31.

Anak laki-laki 16 tahun didiagnosa dengan penyakit jantung setelah infeksi saluran napas atas sebelumnya. Tanda vital HR 97x/men, TD 108/62 mmHg, RR 25x/men, suhu 37,7 C. Pemeriksaan fisik didapatkan murmur dan edema tungkai bilateral. Manakah katup jantung yang paling terserang oleh kondisi ini?

a)

Aorta

b)

Pulmonar

c)

Trikuspid

d)

Mitral

e)

Vena kava

32.

Tn. Dennis, 60 tahun, seorang perokok berat, datang ke IGD dengan nyeri hebat dan mendadak pada tungkai kiri sejak 3 jam yang lalu. Kakinya menjadi dingin, pucat, dan tidak bisa digerakkan. Riwayat pernah didiagnosa dengan penyakit jantung hipertensif. Pemeriksaan fisik menunjukkan tungkai kiri tampak pucat, dingin, tidak teraba nadi femoralis maupun dorsalis pedis. Sensasi dan motorik pada tungkai tersebut sangat menurun. Tidak ditemukan luka terbuka. Apa tatalaksana awal yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Pemberian aspirin oral

b)

Kompres hangat dan elevasi ekstremitas

c)

Pemberian heparin intravena bolus

d)

Amputasi segera

e)

Terapi antibiotik spektrum luas

33.

Tn. Eko, 65 tahun, riwayat merokok selama 40 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat dan perubahan warna pada tungkai kanan. Kakinya menjadi dingin dan mati rasa selama 6 jam terakhir. Riwayat diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit ginjal kronik (eGFR 30), dan alergi terhadap aspirin. Pemeriksaan fisik menunjukkan tidak ada denyut nadi yang teraba di bawah lipat paha kanan. Hasil CT angiografi menunjukkan kalsifikasi, stenosis multipel pada arteri femoralis superfisial, trombosis di arteri femoralis superfisial proksimal, dan rekanalisasi di arteri poplitea. Vena safena magna dinilai masih cukup baik. Langkah pengobatan terbaik berikutnya adalah ...

a)

Endarterektomi femoralis, trombektomi mekanik, dan fasciotomi

b)

Bypass femoral ke poplitea dan fasciotomi

c)

Aterektomi endovaskular dan fasciotomi

d)

Trombolisis terarah kateter, aterektomi, dan fasciotomi

e)

Trombektomi embolektomi terbuka dan fasciotomi darurat

34.

Nn. Finka 23 tahun datang dengan keluhan kemerahan, nyeri, dan bengkak pada kaki kiri yang menjalar hingga betis bagian tengah. Ia melaporkan pembengkakan intermiten di tungkai kiri bagian bawah yang telah berlangsung selama kurang lebih 15 tahun. Tanda vital: suhu 39°C, nadi 96 kali/menit, TD 120/78 mmHg, RR 16 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema tidak nyeri, non-pitting edema dari selangkangan hingga kaki. Eritema konsisten dengan selulitis di kaki. Tidak ditemukan ulkus. Apa penyebab paling mungkin dari edema kronik pasien ini?

a)

Deep vein thrombosis

b)

Limfedema primer

c)

Post thrombotic syndrome

d)

Obstruksi vena femoralis

e)

Obstruksi arteri femoralis

35.

Ny. Givana, 75 tahun, datang dengan keluhan kemerahan yang muncul perlahan pada kedua tungkai, kadang disertai rasa gatal yang membuatnya agak tidak nyaman. Riwayat hipertensi, gagal jantung kongestif, dan pembengkakan tungkai bawah yang memburuk pada siang hari serta sebagian membaik di malam hari. Pemeriksaan fisik: edema pitting dan nyeri di bawah lutut, perubahan warna kulit simetris pada kedua tungkai bawah, nadi sulit teraba. Langkah berikutnya yang paling tepat untuk pasien ini adalah ...

a)

Pemberian cilostazol

b)

Pengukuran ankle-brachial index (ABI)

c)

Stenting pada vena yang terkena

d)

Terapi kompresi

e)

Pemberian heparin intravena

36.

An. Inayah, 8 tahun, dibawa ke poliklinik dengan keluhan nyeri tenggorokan berulang sejak 2 tahun terakhir. Ibu pasien mengatakan anaknya telah mengalami 7 kali kunjungan dengan penyakit yang sama dalam 1 tahun terakhir. Keluhan disertai demam, odinofagia, dan pembesaran tonsil bilateral yang berulang. Setiap episode didiagnosis oleh dokter dan diterapi dengan antibiotik. Pemeriksaan fisik saat ini menunjukkan tonsil hiperemis dan membesar derajat 2. Apa tatalaksana yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Observasi dan kontrol berkala

b)

Tonsilektomi elektif

c)

Antibiotik jangka panjang profilaksis

d)

Kortikosteroid oral dan gargle antiseptik

e)

Pemeriksaan kultur tonsil sebelum terapi lebih lanjut

37.

Nn. Jannah, 21 tahun, datang dengan keluhan demam, menggigil, malaise, pegal-pegal, serta nyeri di leher dan telinga sebelah kiri. Ia mengeluhkan sakit tenggorokan yang telah berlangsung selama 1 minggu dan semakin memburuk. Ia tidak mengalami batuk atau sesak napas. Suhu tubuh: 38,7 °C, Tekanan darah: 120/75 mmHg,

  • Denyut jantung: 110 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tampak gelisah dan tidak bisa membuka mulut sepenuhnya tanpa bantuan karena nyeri, tonsil kiri terdorong ke depan dan ke arah tengah, menyebabkan deviasi uvula ke kanan. Tidak ditemukan kelainan pada membran timpani. Kelenjar getah bening leher teraba nyeri. Apa langkah penatalaksanaan yang paling tepat berikutnya?Insisi dan drainase transoral

a)

Insisi dan drainase transoral

b)

Antibiotik oral dan kontrol dalam 1 hari

c)

Antibiotik oral dan kontrol dalam 1 minggu

d)

CT scan leher dengan kontras

e)

Terapi simtomatik antiinflamasi dan antipiretik

38.

Perempuan 27 tahun datang dengan sesak napas, demam, dan nyeri otot. Ia didiagnosis dengan pneumonia dan dirawat di ICU karena gagal napas hipoksik akut yang memerlukan ventilasi mekanik. Pada hari ke-6 ventilasi mekanik, pasien mengalami demam 39,4 °C, FiO₂ 80%, leukosit 18.000/mm³, sekret purulen melalui endotrakeal. Foto toraks menunjukkan infiltrat baru di lobus bawah kanan. Tindakan mana yang paling efektif dalam menurunkan risiko komplikasi ini pada pasien dengan intubasi?

a)

Suctioning nasofaring terjadwal

b)

Nebulisasi beta-agonis

c)

Intubasi nasofaring

d)

Memposisikan pasien dalam posisi semi-reclining (semi-recumbent)

e)

Extubasi ETT

39.

Seorang pria usia 46 tahun datang ke poliklinik paru dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 6 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak. Riwayat pengobatan TB 2 tahun yang lalu selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh. Tidak ada riwayat merokok atau paparan polutan. Pemeriksaan fisik didapatkan wheezing ekspirasi pada kedua lapang paru. Spirometri menunjukkan FEV₁/FVC < 70% setelah bronkodilator. Foto toraks menunjukkan gambaran fibrosis paru kanan atas. Apa diagnosis paling mungkin pada pasien ini?

a)

PPOK

b)

Bronkiektasis

c)

Asma bronkial

d)

Post Tuberculosis Obstructive Syndrome

e)

Penyakit paru interstisial

40.

Wanita 28 tahun, G2P1A0, usia kehamilan 16 minggu, datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak lebih dari 3 minggu, disertai penurunan berat badan dan keringat malam. Suami pasien pernah menjalani pengobatan TB 1 tahun yang lalu. Hasil uji tuberkulin menunjukkan indurasi 17 mm. Pemeriksaan dahak BTA 2 kali hasilnya positif (++). Pasien tidak memiliki keluhan mual muntah berlebihan dan nafsu makan masih baik. Apa terapi yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Menunda pengobatan TB sampai trimester ketiga

b)

Memberikan pengobatan TB fase intensif dengan HRZE

c)

Memberikan isoniazid profilaksis selama kehamilan

d)

Cukup diberikan Rifampisin dan Isoniazid

e)

Memberikan pengobatan TB setelah persalinan

41.

Pria 32 tahun dengan HIV positif terdiagnosis sejak 2 bulan lalu datang ke IGD karena demam tinggi, batuk memberat, dan nyeri dada sejak 5 hari terakhir. Pasien mulai terapi OAT kategori 1 3 minggu yang lalu, dan memulai terapi antiretroviral 1 minggu setelah itu. Pasien tampak sesak dan lemah. Hasil pemeriksaan CD4 awal adalah 45 sel/mm³. Foto toraks menunjukkan infiltrat bilateral yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Apa diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

a)

Kegagalan pengobatan TB

b)

Reinfeksi TB

c)

Resistensi OAT

d)

Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome

e)

Pneumocystis jirovecii pneumonia (PJP)

42.

Pria 29 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak lebih dari 3 minggu disertai darah. Pasien juga mengalami demam sore hari, keringat malam, dan penurunan berat badan. Tidak ada riwayat pengobatan TB sebelumnya. Pemeriksaan dahak langsung tidak tersedia, sehingga dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM). Hasil TCM menunjukkan Mycobacterium tuberculosis TERDETEKSI dan Resistensi Rifampisin TIDAK TERDETEKSI. Apa talaksana paling tepat untuk pasien ini?

a)

Memulai terapi OAT kategori 2 selama 8 bulan

b)

Memulai terapi OAT kategori 1 (HRZE) selama 6 bulan

c)

Menunggu hasil kultur sebelum memulai pengobatan

d)

Rujuk ke rumah sakit rujukan TB-MDR

e)

Berikan isoniazid dan rifampisin saja selama 4 bulan

43.

Nn. Karlina, 24 tahun, datang ke puskesmas mengeluh benjolan di leher kiri yang membesar perlahan selama 2 bulan terakhir, tidak nyeri, namun tidak menghilang dengan pengobatan antibiotik sebelumnya. Pasien juga mengalami penurunan berat badan, demam ringan di malam hari, dan keringat malam. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening servikal kiri berdiameter 3 cm, konsistensi kenyal, mobile, tidak nyeri tekan. Hasil FNAB menunjukkan gambaran sel epitelioid dan nekrosis kaseosa. Apa talaksana paling tepat untuk pasien ini?

a)

Memberikan antibiotik selama 14 hari dan evaluasi ulang

b)

Melakukan eksisi total kelenjar dan menunggu hasil histopatologi

c)

Memberikan terapi OAT kategori 1 selama 6 bulan

d)

Rujuk untuk kemoterapi dan radioterapi

e)

Melakukan pemeriksaan CT scan leher

44.

Pria 40 tahun datang ke poliklinik ortopedi dengan keluhan nyeri punggung bawah sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri bersifat tumpul, tidak menjalar, makin berat saat malam hari, dan tidak membaik dengan analgesik. Pasien juga mengeluhkan penurunan berat badan dan keringat malam. Pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan pada vertebra lumbalis, tidak ada defisit neurologis. Hasil rontgen thorak menunjukkan fibrosis paru kanan atas. MRI tulang belakang menunjukkan destruksi korpus vertebra L3 dan L4 dengan abses paravertebra. Apa diagnosis paling mungkin pada pasien ini?

a)

Osteomielitis piogenik

b)

Metastasis vertebra

c)

Spondilitis tuberkulosa

d)

Hernia nukleus pulposus

e)

Fraktur patologis

45.

Tn. Paris, 36 tahun, datang setelah terlempar dari mobil akibat kecelakaan lalu lintas. Pasien segera mendapatkan resusitasi dan tidak ditemukan cedera yang signifikan, sehingga ia dipulangkan dengan resep pereda nyeri. Dua minggu kemudian, pasien kembali dengan keluhan demam, nyeri dada samar, dan batuk berdahak. Pada pemeriksaan fisik ditemukan perkusi redup di sisi kiri dan penurunan suara napas di basal paru kiri. Langkah selanjutnya yang paling tepat dalam penatalaksanaan adalah ...

a)

Pemasangan chest tube

b)

Torakosentesis

c)

Mulai antibiotik empiris segera

d)

Foto thorax diikuti dengan CT thorax

e)

Bronkoskopi untuk evalusasi jalan napas

46.

Tn. Lambert, 65 tahun, datang dengan keluhan demam tinggi, keringat berlebih, dan sesak napas progresif selama 1 minggu terakhir. Pasien menjelaskan bahwa ia pernah mengalami luka tembak di dada kanan dan pemasangan chest tube sebulan yang lalu. Pasien sudah dipulangkan setelah dirawat selama 5 hari. Foto rontgen dada dan CT scan dada menunjukkan efusi pleura kanan. Manakah dari berikut ini yang merupakan penyebab tanda dan gejala pasien tersebut?

a)

Penempatan chest tube

b)

Pneumonia

c)

Trauma

d)

Atelektasis

e)

Pneumothorax

47.

Tn. Mandala, 76 tahun, datang dengan keluhan sesak napas 1 hari setelah menjalani operasi elektif untuk hernia. Prosedur bedah dan anestesi berjalan tanpa komplikasi. Nyeri abdomen dapat ditoleransi, dan pasien sudah bisa makan makanan padat. Saturasi oksigen 90% room air. Pada pemeriksaan fisik, suara napas terdengar jelas, namun menurun di bagian dasar paru kanan. Luka operasi tampak sembuh dengan baik tanpa tanda infeksi. Manakah dari pernyataan berikut yang benar terkait penyebab sesak napas pasien ini?

a)

Ini adalah komplikasi pascaoperasi yang jarang terjadi

b)

Ditandai oleh hiperinflasi paru-paru

c)

Opsi pengobatan terbaik adalah bed rest

d)

Perlu dilakukan incentive spirometer

e)

Jika dilakukan foto thorax dapat ditemukan meniscus sign

48.

Tn. Nano, 53 tahun, datang dengan demam dan malaise generalis. Pasien stabil secara hemodinamik. Foto toraks sesuai gambar terlampir. Tidak ditemukan organisme pada pewarnaan Gram sputum, dan kultur masih menunggu hasil. Terapi empiris yang diberikan adalah injeksi Ampisilin-Sulbaktam. Dua hari kemudian, pasien masih demam, mengalami hipotensi, dan kondisi pernapasan memburuk. Foto toraks ulang menunjukkan perburukan kondisi dan terdapat fluid air level di dalamnya. Langkah terbaik selanjutnya dalam penatalaksanaan pasien ini adalah ...

a)

Torakotomi untuk reseksi lobus yang mengalami abses

b)

Bronkoskopi untuk irigasi bronkoalveolar

c)

Drainase perkutan untuk dekompresi dan kultur

d)

Infiltrasi perkutan massa dengan antibiotik

e)

Melanjutkan antibiotik empiris dan pemantauan ketat pasien

49.

Ny. Olivia, 65 tahun, mengeluh kelelahan, batuk kronis, suara serak, batuk darah, dan sesak napas. Ia juga menyadari bahwa pakaiannya terasa lebih longgar meskipun tidak sedang diet. Riwayat napza (-), riw. merokok 1 bungkus/hari selama 25 tahun.
TD 139/80 mmHg, N 77 kali/menit, RR 17 kali/menit, suhu 36,7°C. Suara napas menurun di lobus atas kiri. Hasil laboratorium kalsium serum 12,9 mg/dL, lainnya dalam batas normal. CT toraks : massa di lobus atas kiri dengan kavitasi dan limfadenopati mediastinal. Hasil biopsi : lembaran sel poligonal, mutiara keratin (keratin pearls), intercellular bridging, dan pewarnaan p63 positif. Berdasarkan diagnosis paling mungkin, hormon manakah yang paling berhubungan dengan kondisi pasien ini?

a)

Beta-human chorionic gonadotropin (ß-hCG)

b)

Parathyroid hormone-related peptide (PTHrP)

c)

Adrenocorticotropic hormone (ACTH)

d)

Antidiuretic hormone (ADH)

e)

B-type natriuretic peptide (BNP)

50.

Pasien laki-laki 25 tahun dibawa ke IGD setelah kecelakaan berkendara. Pasien mengeluh napasnya sesak dan nyeri di dada kanan. Foto thorax menunjukkan fraktur segmental pada tulang iga pertama sebelah kanan. Pada pemeriksaan fisik, pasien mengeluh nyeri, kelemahan, dan rasa baal di lengan atas kanan. Gejala memburuk saat lengan kanan diangkat. Selain itu, lengan terasa hangat, nadi radialis teraba baik, dan tidak ditemukan pembengkakan yang signifikan pada lengan. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada kasus ini?

a)

Venous thoracic outlet syndrome

b)

Arterial thoracic outlet syndrome

c)

Sindrom kompartemen

d)

Neurogenic thoracic outlet syndrome

e)

Cedera pleksus brakialis pascatrauma

51.

Tn. Oliver, 55 tahun, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Saat tiba di UGD, ia mengeluhkan sesak napas saat istirahat. HR 115 bpm, TD 95/62 mmHg, RR 24 kali/menit, dan SpO2 92% tanpa bantuan oksigen. Primary survey tidak menunjukkan kelainan, meskipun dokter yang mendengarkan suara dada mengatakan bahwa suara di IGD trauma terlalu keras untuk memastikan adanya bunyi napas di sisi kiri. Secondary survey menunjukkan seatbelt sign positif. Foto thorax trauma posisi supine tidak menunjukkan kelainan. Apa langkah selanjutnya yang tepat?

a)

Extended-Focused Assessment with Sonography in Trauma (eFAST)

b)

Intubasi endotrakeal

c)

Computed tomography of the chest

d)

Pemasangan chest tube segera

e)

Observasi ketat dan pemeriksaan fisik berkala

52.

Pria 65 tahun datang ke IGD setelah mengalami 2 episode batuk darah segar dalam 24 jam terakhir. Tidak ada demam, batuk kronis, nyeri dada, atau sesak napas. Sekitar satu bulan sebelumnya, ia mengalami episode serupa yang hilang secara spontan. Riwayat menyelesaikan pengobatan TBC paru selama satu tahun pada usia 7 tahun. CT-scan dada menunjukkan adanya lesi kavitas berukuran 4,1 × 3,8 cm di lobus atas paru kiri yang mengandung suatu massa. Pasien dirawat di ruang isolasi untuk menyingkirkan kemungkinan TBC aktif. Tiga sampel dahak diambil untuk pemeriksaan, dan bronkoskopi dengan bilasan bronkoalveolar serta biopsi tidak menunjukkan temuan spesifik. Hasil pemeriksaan serologi HIV negatif, dan fungsi paru dinyatakan normal. Apakah terapi yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Melanjutkan observasi dan monitoring

b)

Reseksi bedah pada lesi kavitas

c)

Pemberian antifungal sistemik

d)

Instilasi antifungal transkateter

e)

Embolisasi arteri bronkial

53.

Pria berusia 32 tahun dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien tidak sadar, TD 87/56 mmHg, HR 109 kali/menit, dan RR 25 kali/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan trakea berada di midline, suara napas menurun, dan perkusi redup di hemitoraks kanan. Pemeriksaan FAST dilakukan. Manakah dari temuan berikut yang paling mungkin ditemukan?

a)

Gambaran ruang anekoik diantara perikardium dan jantung

b)

Ruang anekoik dan poor echo diantara difragma dan pleura parietalis di sudut kostofrenikus

c)

Tidak tampak kolom vertebra torakalis di belakang sudut kostofrenikus

d)

Gambaran ekoik diantara perikardium dan jantung

e)

Ruang ekoik diantara difragma dan pleura parietalis di sudut kostofrenikus

54.

Pria 30 tahun datang ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien sadar, tetapi tampak gelisah dan mengeluh nyeri dada kiri. Tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 120 kali/menit, napas 28 kali/menit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan deviasi trakea ke kanan, suara napas menurun di hemitoraks kiri, dan perkusi redup. Hasil foto toraks menunjukkan bayangan homogen di hemitoraks kiri dengan pergeseran mediastinum ke kanan.

Apa penatalaksanaan awal yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Observasi ketat dan pemberian oksigen

b)

Aspirasi jarum toraks pada sela iga ke-2 linea midklavikularis kiri

c)

Pemasangan chest tube pada sela iga ke-5 linea midaksilaris kiri

d)

Torakotomi eksploratif segera

e)

Intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik

55.

Pria 38 tahun mengalami benturan pada dada akibat tertimpa benda berat. Saat bernapas, terlihat bagian dari hemitoraks kanan bergerak ke dalam saat inspirasi dan keluar saat ekspirasi. Tidak ditemukan pergeseran trakea atau bunyi napas yang hilang. Diagnosis yang paling tepat adalah ...

a)

Pneumotoraks terbuka

b)

Tension pneumothorax

c)

Hematotoraks

d)

Flail chest

e)

Kontusio pulmonum

56.

Anak laki-laki berusia 5 tahun datang dengan keluhan sakit tenggorokan dan hidung tersumbat selama 4 hari. Pemeriksaan mulut menunjukkan edema faring dengan selaput berwarna abu-abu seperti membran menutupi tonsil dan uvula. Saat selaput tersebut dikerok, mukosa di bawahnya mulai berdarah. Ditemukan limfadenopati servikal. Apa komplikasi yang paling mungkin dari penyakit pasien ini?

a)

Miokarditis

b)

Abses peritonsilar

c)

Kolitis

d)

Otitis media

e)

Ca nasofaring

57.

Pria 73 tahun datang ke IGD dengan nyeri dada. HR 112 bpm dan TD 72/43 mmHg. Saat ini dirawat di unit perawatan intensif. Kateter arteri pulmonalis dipasang dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: Central venous pressure (CVP) 13 mmHg, Pulmonary artery pressure (PAP) 52/27 mmHg (mean 35 mmHg), Pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) 27 mmHg, Systemic vascular resistance (SVR) 1900 dynes/sec/cm⁵, Tekanan darah 75/45 mmHg, dan heart rate 120 bpm. Termasuk dalam kategori syok manakah pada pasien ini?

a)

Syok kardiogenik

b)

Syok septik

c)

Syok hipovolemik

d)

Syok anafilaktik

e)

Syok neurogenik

58.

Pria 35 tahun dirawat di Intensive Burn Unit dengan luka bakar mencakup lebih dari 75% tubuhnya. Denyut jantung 106 bpm, tekanan darah 86/57 mmHg, laju pernapasan 20 kali/menit, dan suhu 38,2 °C. Hasil laboratorium menunjukkan WBC sebesar 17.500/μL. Apa penyebab paling umum dari kumpulan gejala pasien ini?

a)

Candida auris

b)

Staphylococcus aureus

c)

Pseudomonas aeruginosa

d)

Escherichia coli

e)

Streptococcus pneumoniae

59.

Remaja laki-laki berusia 16 tahun mengalami kecelakaan kendaraan bermotor dan dibawa ke IGD dengan trauma multiorgan. Saat tiba TD 78/50 mmHg, HR 52 bpm, RR 22 kali/menit, dan suhu 37,6 °C, disorientasi dengan skor Glasgow Coma Scale sebesar 9. Abdomen tidak distensi, dan tungkai terasa hangat. Nadi terasa lemah (thready pulse), dan tekanan vena sentral (CVP) 9 mmHg. Apa penyebab paling mungkin dari keadaan syok pada pasien ini?

a)

Closed head injury

b)

Ongoing intraabdominal hemorrhage

c)

Pneumothorax

d)

Cedera korda spinalis

e)

Syok hipovolemik

60.

Pejalan kaki berusia 36 tahun tertabrak mobil dan dibawa ke IGD, lalu jalan napas diamankan dan terpasang 2 jalur intravena berukuran besar, serta diberikan saline normal. Setelah pemberian 1 liter cairan, HR 110 bpm, TD 80/55 mmHg, dan RR 18 kali/menit. Kesadaran GCS 9, anggota gerak dingin, dan nadi lemah. Pemeriksaan USG FAST menunjukkan cairan dalam rongga intraabdominal. Langkah manajemen selanjutnya yang paling tepat adalah ...

a)

Lanjutkan pemberian saline normal secara intravena dan merencanakan laparotomi darurat

b)

Beralih dari saline normal ke larutan Ringer laktat dan merencankan laparotomi darurat

c)

Beralih dari saline normal ke dekstrosa 5% dalam air (D5W) dan merencanakan laparotomi darurat

d)

Beralih dari saline normal ke transfusi whole blood dan merencanakan laparotomi darurat

e)

Beralih dari saline normal ke transfusi hydroxyethyl starch dan merencanakan laparotomi darurat

61.

Seorang pria 66 tahun dengan riwayat diabetes tipe 2, hiperlipidemia, dan penyakit arteri perifer datang ke klinik rawat jalan untuk evaluasi nyeri dada. Ia mengeluhkan nyeri dada retrosternal selama satu bulan terakhir yang muncul saat aktivitas seperti naik tangga atau berjalan cepat. Nyeri cukup parah hingga membuatnya berhenti sampai reda. Riwayat merokok selama 30 tahun. TD 148/82 mm Hg, HR 78 bpm, RR 16 kali/menit, SpO2 98% tanpa oksigen tambahan, suhu 36,8 °C. Pemeriksaan fisik: murmur sistolik grade 2/6 di apex, paru bersih, dan tidak ada edema perifer. EKG sesuai gambar. Echokardiografi menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri ringan, atrium kiri membesar, dan regurgitasi mitral sedang, ruang jantung kanan dalam batas normal. Apa langkah penanganan berikutnya yang paling tepat?

a)

Aspirin 320 mg dan rujuk pasien ke fasilitas PCI untuk evaluasi lebih lanjut

b)

Aspirin 80 mg, bisoprolol 2,5 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublingual sesuai kebutuhan, lalu evaluasi ulang dalam 2 minggu

c)

Memberikan aspirin, bisoprolol 2,5 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublingual jika diperlukan, lalu dijadwalkan stress test

d)

Memberikan aspirin, metoprolol 50 mg dua kali sehari, dan nitrogliserin sublinguals, lalu periksa profil lipid dan evaluasi ulang dalam 2 minggu

e)

Aspirin 240 mg, Clopidogren 300 mg, lalu rujuk ke fasilitas PCI terdekat untuk evaluasi lebih lanjut

62.

Pria 67 tahun datang dengan nyeri dada yang sangat hebat dan terasa seperti diremas, menjalar ke leher serta rahangnya. Ia mengeluhkan mual dan merasa cemas. Riwayat hipertensi dengan hidroklorotiazid 25 mg setiap hari. Pada pemeriksaan, pasien sadar namun terlihat kesakitan. Tekanan darahnya 110/60 mm Hg, nadi 82 kali per menit dengan irama teratur, dan laju pernapasan 20 kali per menit. Elektrokardiogram menunjukkan elevasi segmen ST sebesar 3 mm pada lead V2, V3, dan V4. Berdasarkan dugaan diagnosis, komplikasi katup mana yang paling sering terjadi pada kondisi pasien ini?

a)

Stenosis trikuspid

b)

Regurgitasi aorta

c)

Stenosis pulmonal

d)

Regurgitasi mitral

e)

Regurgitasi trikuspid

63.

Tn. Xabiru, 65 tahun, mengeluh nyeri dada terbakar yang timbul tiba-tiba saat dia sedang bermain kartu dengan teman-temannya. Riwayat hipertensi, diabetes, dan hiperlipidemia. Tanda vital menunjukkan TD 166/78 mmHg, HR 88 kali per menit, dan SpO2 98% dengan udara ruangan. Elektrokardiogram menunjukkan elevasi segmen ST pada lead I, aVL, V5, dan V6. Kondisi pasien ini paling mungkin disebabkan oleh penyumbatan pada arteri ...

a)

Arteri koroner kanan

b)

Cabang marginal arteri koroner kanan

c)

Cabang septal dari left anterior descending artery (LAD)

d)

Arteri sirkumfleksus kiri

e)

Left anterior descending artery (LAD)

64.

Tn. Randy, 65 tahun, datang ke rumah sakit karena sesak napas saat beraktivitas dan merasa mudah lelah. Riwayat hipertensi, hiperkolesterolemia, dan riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner. TD 136/82 mmHg, RR 15 kali/menit, N 65 kali/menit, dan SpO2 98% dengan kanula nasal 3 liter/menit. Kreatinin serum 1,1 mg/dL. Ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi 35–40%. Kateterisasi jantung kiri dan kanan menunjukkan: stenosis 60% pada arteri descenden posterior kanan, stenosis 40% pada bagian distal arteri descenden anterior kiri. Ventriculogram kiri menunjukkan fraksi ejeksi 35% dengan hipokinesis global. Apa langkah selanjutnya yang tepat untuk menangani sesak napas pasien ini?

a)

Percutaneous coronary intervention (PCI) pada LAD

b)

Percutaneous coronary intervention (PCI) pada RCA cabang posterior

c)

Lisinopril 10 mg per oral

d)

Furosemide 1 mg/kgBB IV bolus

e)

Spironolakton 50 mg per oral

65.

Tn. Sandy, 59 tahun, datang ke klinik untuk kontrol rutin. Ia mengeluhkan sesak napas yang sudah berlangsung selama satu tahun, batuk malam hari, dan sesak membaik dengan duduk condong ke depan. Riwayat hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes melitus. Pemeriksaan fisik didapatkan rhonki dan bunyi jantung S3. EKG menunjukkan interval QTc yang memanjang. Foto thoraks menunjukkan efusi pleura kanan ringan. Ekokardiogram menunjukkan fraksi ejeksi (EF) sebesar 45%. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini?

a)

Heart failure with reduced ejection fraction (HFrEF)

b)

Heart failure with mildly reduced ejection fraction (HFmrEF)

c)

Heart failure with preserved ejection fraction (HFpEF)

d)

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)

e)

Cor pulmonale dengan dekompensasi

66.

Manakah dari pernyataan berikut yang termasuk dalam Panduan Bantuan Hidup Lanjutan oleh AHA 2020 (American Heart Association) mengenai penggunaan kapnografi selama pertolongan henti jantung?

a)

Bukan cara yang dipercaya untuk mengonfirmasi dan memantau penempatan ETT yang benar, karena hampir 25% dari ETT yang dipasang dengan benar menunjukkan kadar karbon dioksida (CO₂) yang salah tinggi

b)

Tekanan parsial CO2 akhir ekspirasi (ETCO₂) berhubungan dengan cardiac output selama RJP asalkan ventilasi relatif konstan

c)

Pada pasien yang terintubasi, kegagalan mencapai ETCO₂ >20 mmHg setelah 10 menit resusitasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu syarat menghentikan resusitasi

d)

Pada pasien yang terintubasi, jika ETCO₂ >10 mmHg setelah 20 menit resusitasi berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik

e)

ETCO₂ tidak berguna selama CPR dan sebaiknya tidak digunakan untuk mengevaluasi efektivitas resusitasi atau prognosis pasien

67.

Pria muda tanpa identitas (Mr. X) tiba-tiba pingsan di depan sebuah klinik, tidak didapatkan denyut nadi dan napas. Resusitasi jantung paru (RJP) segera dilakukan oleh orang yang berada di sekitar. Defibrillator eksternal otomatis (AED) digunakan dan berhasil didefibrilasi. Pasien kembali memiliki sirkulasi spontan setelah 10 menit resusitasi, tetapi tetap tidak responsif meskipun hemodinamiknya normal. Pasien kemudian dibawa ke UGD dan EKG 12 sadapan menunjukkan sinus takikardia tanpa bukti infark miokard. Apa tatalaksana berikutnya yang tepat?

a)

Angiografi koroner emergensi

b)

Targeted temperature management

c)

Ekokardiogram transtorakal

d)

Amiodarone IV bolus

e)

Titrasi kortikosteroid intravena

68.

Ny, Tara, 35 tahun, pekerja di pabrik pemrosesan ayam dibawa ke IGD saat terjadi wabah H7N9 merebak. Suhu tubuh 38,8 °C, N 110 kali/menit, RR 24 kali/menit, SPo2 95%, dan TD 100/55 mmHg. Pemeriksaan laboratorium awal menunjukkan leukositosis ringan, natrium 136 mEq/L, kalium 4,1 mEq/L, klorida 105 mEq/L, glukosa 115 mg/dL, BUN 38 mg/dL, bikarbonat 24 mEq/L, dan kreatinin 1,7 mg/dL. Langkah awal paling tepat dalam tata laksana pasien ini adalah ...

a)

Intubasi endotrakeal

b)

Pemberian cairan intravena dan obat antipiretik

c)

Pemeriksaan antigen cepat untuk avian influenza

d)

Pemberian amantadin loading dose

e)

Pemeriksaan swab nasofaring untuk kultur dan PCR

69.

Ny. Wanda, 37 tahun, datang dengan keluhan pusing dan mudah lelah. Riwayat diabetes melitus tipe 2 dan hiperlipidemia. Tanda vital menunjukkan tekanan darah 90/66 mmHg, laju napas 18 kali/menit, dan suhu tubuh 37 °C. Elektrokardiogram (EKG) ditampilkan pada gambar. Manakah dari pilihan berikut yang paling tepat untuk tata laksana pasien ini?

a)

Oksigen dan lidokaine

b)

Oksigen dan atropine

c)

Oksigen dan verapamil

d)

Verapamil dan morfin

e)

Atrofin dan morfin

70.

Jenis blok atrioventrikular (AV) manakah di bawah ini yang ditandai dengan penundaan konduksi AV yang disertai dengan pola pemanjangan interval PR secara progresif diikuti oleh satu denyut jantung yang hilang (dropped beat)?

a)

Blok AV derajat pertama

b)

Blok AV derajat kedua, tipe Mobitz 1

c)

Blok AV derajat kedua, tipe Mobitz 2

d)

Blok AV derajat ketiga

e)

Total AV blok

71.

Ny. Vania, 65 tahun, datang ke rumah sakit setelah pingsan di supermarket. Dalam tiga bulan terakhir, ia sudah dua kali datang ke IGD dengan keluhan yang sama. Riwayat hipertensi dan infark miokard 10 tahun lalu. Obat-obatan saat ini meliputi lisinopril, aspirin, dan rosuvastatin. TD 95/65 mmHg, nadi 35 kali/menit reguler, dan pemeriksaan sistemik tidak menunjukkan kelainan. Setelah pemberian atropin 1 mg, denyut jantung pasien tidak membaik. EKG ditunjukkan pada gambar. Apa langkah paling penting yang harus dilakukan selanjutnya?

a)

Rawat jalan dan kontrol kembali 1 minggu

b)

Tambahkan bolus Atrofin sampai maksimal 3 mg IV

c)

Pemasangan pacemaker permanen

d)

Kardioversi elektrik

e)

Dopamine 2-20 mcg/kgBB/men

72.

Bayi 6 bulan dibawa karena malas menyusu dan tampak lesu. Berat badan 8 kg. Bayi bernapas spontan namun hanya merespons rangsang nyeri. Nadi tidak teraba. Monitor jantung menunjukkan takikardia supraventrikular dengan denyut 250 kali per menit. Oksigen tambahan telah diberikan. Tindakan apa yang harus segera dilakukan?

a)

Berikan verapamil 0,1 mg/kg IV perlahan

b)

Lakukan kardioversi tersinkronisasi segera dengan 4 Joule

c)

Berikan digoksin 0,02 mg/kg IV

d)

Lakukan defibrilasi segera dengan 16 Joule

e)

Berikan adenosin bolus cepat diikuti dengan flush salin

73.

Ny. Yenitha, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan berdebar-debar dan pusing. Ia menyatakan bahwa gejala dimulai setelah jogging dan telah berlangsung selama 15 menit. TD 80/50 mmHg, HR 145 kali/menit, RR 25 kali/menit, dan SpO₂ 85% dalam udara ruangan. Pada pemeriksaan, pasien tampak berkeringat dingin dan sesak. Ia telah diberikan oksigen tambahan dan infus cairan. Monitor menunjukkan takikardia kompleks lebar yang teratur. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?

a)

Pemberian dosis awal amiodaron 150 mg selama 10 menit

b)

Kardioversi tersinkronisasi dengan 100 Joule

c)

Kardioversi tidak tersinkronisasi dengan 200 Joule

d)

Bolus metoprolol intravena 5 mg

e)

Pemasangan alat pacu jantung eksternal transkutan

74.

Ny. Zaskia, 65 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada mendadak dan sesak napas. Riwayat diabetes melitus dengan terapi insulin selama 5 tahun terakhir. HR 88 bpm, TD 115/64 mmHg, RR 19 kali/menit, dan suhu 37°C. Tiba-tiba, pasien menjadi tidak responsif, dengan tidak ada nadi yang teraba. Hasil EKG menunjukkan gelombang polimorfik. Apa langkah selanjutnya yang paling tepat?

a)

Memulai CPR (resusitasi jantung paru) berkualitas tinggi dan memberikan epinefrin intravena

b)

Memulai CPR berkualitas tinggi dan memberikan adenosin intravena

c)

Memulai CPR berkualitas tinggi dan melakukan kardioversi tersinkronisasi menggunakan defibrillator eksternal secepatnya

d)

Memulai CPR berkualitas tinggi dan melakukan defibrilasi jantung menggunakan defibrillator eksternal secepatnya

e)

Memberikan magnesium sulfat intravena tanpa defibrilasi awal

75.

Tn. Arkan, 70 tahun, pernah didiagnosa dengan kardiomiopati non-iskemik kronik dan hipertensi datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang muncul sejak 2 hari lalu. Fraksi ejeksi terakhir yang diketahui adalah 40%. Tanda vital: Tekanan darah 110/60 mmHg, Nadi 125 bpm, laju napas 20 kali/menit, saturasi oksigen 94% dengan udara ruangan. Monitor menunjukkan gambar diatas. Apa pengobatan paling tepat untuk aritmia pasien ini saat ini?

a)

Diltiazem

b)

Amiodarone

c)

Digoksin

d)

Metoprolol

e)

Kardioversi

76.

Tn. Bernard, 65 tahun, mengeluh sesak napas memberat sejak 1 jam terakhir. Riwayat obesitas dengan komplikasi obstructive sleep apnea (OSA). Pasien telah menggunakan CPAP di malam hari, walau tidak rutin setiap hari. Tekanan darahnya 118/84 mmHg. EKG menunjukkan gambaran tertentu (lihat gambar). Pasien masih merasa sesak napas meskipun menggunakan 2 liter oksigen lewat kanula hidung dengan saturasi oksigen 98%. Intervensi apa yang paling tepat untuk memperbaiki gejalanya?

a)

Memulai terapi antikoagulan

b)

Mengendalikan laju ventrikel

c)

Mengendalikan laju atrium

d)

Mempertahankan tekanan darah

e)

Memasang CPAP saat ini

77.

Bayi laki-laki 2 bulan dibawa ke klinik dengan keluhan sianosis sejak lahir dan napas cepat. Pada pemeriksaan ditemukan murmur sistolik keras di tepi kiri bawah sternum dan jari tangan tampak membulat (clubbing). Pasien sering mengalami episode sianosis hebat yang membuatnya sulit bernapas dan menjadi pucat. Terapi medis awal yang diberikan untuk mengurangi frekuensi dan keparahan episode sianosis ini adalah ...

a)

Diuretik

b)

Prostaglandin E1

c)

Manuver squatting atau posisi jongkok

d)

Beta-blocker seperti propranolol

e)

Oksigen melalui nasal kanula

78.

Ny. Chelsea, 67 tahun, datang dengan keluhan nyeri dada tembus ke belakang. Elektrokardiogram (EKG) menunjukkan gambaran infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI), yang ditangani dengan intervensi koroner perkutan. Pasien diberikan obat untuk profilaksis trombosis yang menghambat enzim siklooksigenase. Obat apa yang diberikan untuk pasien diatas?

a)

Clopidogrel

b)

Warfarin

c)

Heparin

d)

Aspirin

e)

Ticagrelol

79.

Tn. Dean, 65 tahun, dibawa ke UGD dengan keluhan nyeri dada hebat yang mulai sekitar satu jam yang lalu saat naik tangga. Nyeri tersebut disertai mual, muntah, dan berkeringat. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung iskemik. Riwayat merokok selama 40 tahun. Saat perjalanan ke rumah sakit, pasien diberikan aspirin kunyah. EKG menunjukkan depresi segmen ST dan gelombang R yang menonjol pada lead V1-V3. Gelombang T normal. Biomarker masih menunggu hasil. Manakah dari berikut ini yang paling mungkin menjadi penyebab kondisi pasien ini?

a)

Perikarditis akut

b)

Inflamasi pada miokardium

c)

Iskemia subendokardial

d)

Infark miokard dinding posterior

e)

Angina prinzmetal

80.

Ny. Eklesia, 59 tahun, datang dengan keluhan nyeri dada sejak 2 jam yang lalu. Nyeri tersebut disertai dengan muntah, mual, dan diaforesis (keringat berlebihan). Pasien memiliki riwayat nyeri serupa yang biasanya membaik dengan istirahat. Namun, kali ini nyeri terasa terus-menerus. Manakah dari kondisi berikut yang paling dapat membedakan antara infark miokard non-ST elevasi (NSTEMI) dengan angina tidak stabil pada pasien ini?

a)

Deskripsi gejala

b)

Perubahan gambaran elektrokardiografi

c)

Adanya faktor risiko tertentu

d)

Kadar troponin yang meningkat

e)

Respon terhadap pengobatan nitrogliserin

81.

Manakah dari berikut ini yang termasuk kriteria diagnostik untuk hipertensi maligna?

a)

Papiledema

b)

Adanya tumor ganas

c)

Tekanan darah diastolik lebih dari 120 mmHg

d)

Tekanan darah sistolik lebih dari 180 mmHg

e)

Respon terhadap pemberian nitrat baik

82.

Nn. Felicia, 25 tahun, dengan luka tusuk di lengan bawah kiri ke IGD. Saat tiba, tekanan darah 105/65 mmHg, denyut nadi 110 bpm, laju napas 22 kali/menit, saturasi oksigen 98%, dan suhu 37,2 °C. Sekilas terpasang tourniquet di bawah siku, dengan perban yang menutupi luka tusuk, tampak dressing berwarna merah cerah di volar antebrachii kiri, namun tidak ditemukan perdarahan aktif. Langkah selanjutnya yang paling tepat dalam menangani kondisi pasien ini adalah ...

a)

Evaluasi luka bedside di IGD

b)

Eksplorasi luka di ruang operasi

c)

Lakukan CT angiogram pada ekstremitas atas kiri

d)

Periksa airway

e)

Lakukan pemeriksaan foto antebrachii AP/lateral

83.

Anak laki-laki berusia 2 tahun datang dengan demam dan batuk selama 2 hari. Ia tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya dan sudah mendapatkan vaksinasi lengkap. Suhu 38,1 °C, laju pernapasan 25 kali/menit, dan saturasi oksigen 97%. Pemeriksaan fisik tampak batuk seperti gonggongan. Membran mukosa lembap, orofaring tanpa eksudat, dan membran timpani jernih. Paru-paru bersih, tanpa wheezing, crackles, retraksi dinding dada, atau stridor inspirasi. Langkah terbaik berikutnya dalam penanganan adalah ...

a)

Deksametason

b)

Nebulisasi epinefrin

c)

Suplementasi oksigen

d)

Foto rontgen dada

e)

Spirometri

84.

Anak perempuan 6 tahun yang telah menerima semua imunisasi rutin datang dengan suara serak dan batuk keras berdahak. Beberapa hari sebelumnya dia didiagnosis dengan infeksi saluran napas atas akibat viral. Suhu tubuhnya 39,5 °C dan tampak sakit berat. Pemeriksaan fisik menunjukkan anak tersebut membungkuk ke depan, sedikit berliuran (drooling), stridor inspirasi, dan suara paru jernih. Leukosit 22.000 sel/mm³, dengan 69% neutrofil dan 20% batang. Foto rontgen leher lateral menunjukkan steeple sign dengan iregularitas dinding trakea. Berdasarkan diagnosis yang paling mungkin, manakah penyebab paling umum dari kondisi anak ini?

a)

Respiratory syncytial virus

b)

Staphylococcus aureus

c)

Streptococcus pyogenes

d)

Haemophilus influenzae tipe B

e)

Moraxella catarrhalis

85.

Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan batuk keras, suara serak, dan napas tersengal setelah diduga menelan mainan kecil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan stridor inspirasi, suara napas kasar, dan retraksi dinding dada. Tidak ada suara napas yang menurun di kedua sisi dada. Posisi obstruksi benda asing yang paling mungkin berdasarkan temuan fisik tersebut adalah ...

a)

Laring atau trakea atas

b)

Trakea distal

c)

Main bronchus kanan

d)

Main bronchus kiri

e)

Bronkiolus

86.

Anak laki-laki 12 tahun dibawa oleh ibunya ke klinik karena sesak napas dan batuk kering selama 1 minggu. Menurut ibu, batuk anaknya semakin buruk pada malam hari, terutama saat cuaca dingin di rumah. Pemeriksaan fisik didapatkan wheezing bilateral di area paru atas. Sampel dahak pasien diperiksa di laboratorium dan ditemukan sumbatan berbentuk spiral yang berasal dari saluran kelenjar subepitelial. Apa nama temuan khas ini, dan penyakit apa yang berhubungan dengannya?

a)

Multinucleate giant cells, Bronkitis alergika

b)

Curschmann spirals, Asma

c)

Orphan Annie-eyed nucleated cells, Lupus

d)

Psammoma bodies, Marfan syndrome

e)

Charcot-Leyden crystals, Trakeobronkitisakut

87.

Tn. Gilbert, 60 tahun, datang untuk evaluasi batuk berdahak dan demam selama 2 minggu terakhir. Riwayat penyakit jantung iskemik dan diabetes mellitus tipe 2. Ia juga memiliki riwayat reaksi anafilaksis terhadap obat-obatan golongan penisilin. Suhu 38 °C, TD 115/70 mm Hg, RR 20 kali/menit, HR 98 bpm, dan SpO2 95% tanpa oksigen. Pemeriksaan fisik tampak badan kurus dengan ronki bilateral. Foto rontgen dada sesuai gambar. Apa pilihan antibiotik untuk rawat jalan yang direkomendasikan untuk pasien ini?

a)

Vankomisin

b)

Amoxicillin-clavulanate

c)

Levofloksasin

d)

Klindamisin

e)

Azitromisin

88.

Nn. Hita, 17 tahun, mengeluh batuk berdahak selama 2 hari, nyeri dada, dan sesak napas sejak beberapa jam terakhir setelah baru saja dirawat di rumah sakit untuk apendektomi. TD 100/80 mmHg, RR 24 kali/menit, HR 104 bpm, suhu 38,3 °C, dan SpO2 89% tanpa oksigen. Pemeriksaan fisik dada didapatkan perkusi redup (dullness) di sisi kanan. Foto rontgen dada terlihat di gambar. Pewarnaan Gram kemungkinan besar akan menunjukkan patogen dari kelompok manakah?

a)

Gram-negative bacilli

b)

Gram-positive bacilli

c)

Gram-negative cocci

d)

Gram-positive coccobacilli

e)

Acid-fast bacilli

89.

Nn. Ivana, 25 tahun, datang ke UGD dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 2 jam yang lalu. Pasien tampak kesulitan berbicara dalam 1 kalimat penuh, RR 32 kali/menit, HR 120 kali/menit, dan SpO2 90% dengan oksigen 3 liter via nasal kanula. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya penggunaan otot bantu pernapasan dan wheezing ekspirasi yang terdengar jelas. Berdasarkan kriteria klinis, tingkat keparahan serangan asma pasien ini adalah ...

a)

Serangan ringan

b)

Serangan sedang

c)

Serangan berat

d)

Serangan sangat berat

e)

Status asthmaticus

90.

Tn. Kendrick, 65 tahun, mantan perokok berat, datang ke poliklinik dengan keluhan sesak napas progresif sejak 1 tahun terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan barrel chest dan penurunan suara napas. Hasil foto toraks PA (sesuai gambar) terlihat peningkatan transparansi paru, diafragma mendatar, dan pelebaran sela iga. Jantung tampak vertikal dan sempit (pendulum). Temuan radiologis tersebut paling sesuai dengan diagnosis ...

a)

Pneumotoraks

b)

Gagal jantung kiri

c)

Emfisema paru

d)

Asma bronkial

e)

Cor pulmonale

91.

Ny. Putri, 59 tahun, datang untuk kontrol penyakit paru kronis yang dideritanya. Pasien sudah berhenti merokok 5 tahun yang lalu. Obat-obatan yang dikonsumsinya meliputi inhaler kombinasi yang mengandung long-acting muscarinic antagonist (LAMA) dan long-acting β-adrenergic agonist (LABA). Ia juga menggunakan short-acting β-adrenergic agonist (SABA) jika sesak napas timbul. Inhaler SABA telah digunakan sebanyak 3 kali/minggu dalam 4 minggu terakhir. Hasil tes fungsi paru menunjukkan penyakit paru obstruktif ringan dengan efek bronkodilator yang signifikan. Apa langkah berikutnya yang paling tepat dalam tatalaksana pasien ini?

a)

Memulai steroid oral dosis rendah

b)

Menambahkan inhaler steroid dosis sedang

c)

Dirujuk untuk rehabilitasi paru

d)

Menghentikan inhalasi LAMA

e)

Menambahkan leucotrient receptor antagonist

92.

Pria 55 tahun tiba-tiba datang dengan sesak napas sejak 2 jam lalu. Tidak ada keluhan nyeri dada maupun keringat dingin. Tanda vital: suhu 37,4 °C, HR 105 kali/men, RR 24 kali/menit, TD 215/110 mmHg, dan SpO2 90% room air. Pasien tampak gelisah dan napas cepat, ronki halus di kedua sisi paru, dan edema tungkai (-). Foto thoraks menunjukkan kongesti vaskular dan edema paru. EKG menunjukkan sinus takikardia tanpa perubahan segmen ST-T. Hasil pemeriksaan BNP 530. Pemeriksaan urine menunjukkan hasil positif untuk kokain.

a)

Memulai pemasangan bilevel positive airway pressure (BiPAP)

b)

Infus Nitrogliserin atau Nitroprusside dan diruretik

c)

Pemeriksaan blood gas analysis (BGA)

d)

Infus Labetalol dan diuretik segera

e)

Beta-blocker per oral jangka panjang untuk pencegahan perburukan

93.

Tn. Lontar, 25 tahun, mengeluh demam selama 1 minggu, batuk kering, dan sesak napas. Riwayat medis menunjukkan dia mengalami diare kronis dan penurunan berat badan selama 6 bulan terakhir. Pasien memiliki banyak pasangan seksual dan kadang menggunakan kontrasepsi penghalang. Suhu 39 °C, HR 100 kali/menit, TD 130/80 mmHg, RR 26 kali/menit, SpO2 88% room air. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya plak putih keabu-abuan di rongga mulut serta ronki kedua paru. Kadar laktat dehidrogenase serum meningkat menjadi 350 U/L, dan ditemukan kadar beta-D-glukan serum yang juga meningkat. Foto toraks menunjukkan infiltrat retikulonodular difus bilateral. Pewarnaan Gram dan kultur sputum tidak menunjukkan adanya organisme. Terapi medis apa yang paling sesuai untuk pasien ini?

a)

Trimethoprim-sulfamethoxazole

b)

Ceftriaxone

c)

Acyclovir

d)

Azithromycin

e)

Isoniazid

94.

Tn. Lontar, 25 tahun, mengeluh demam selama 1 minggu, batuk kering, dan sesak napas. Riwayat medis menunjukkan dia mengalami diare kronis dan penurunan berat badan selama 6 bulan terakhir. Pasien memiliki banyak pasangan seksual dan kadang menggunakan kontrasepsi penghalang. Suhu 39 °C, HR 100 kali/menit, TD 130/80 mmHg, RR 26 kali/menit, SpO2 88% room air. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya plak putih keabu-abuan di rongga mulut serta ronki kedua paru. Kadar laktat dehidrogenase serum meningkat menjadi 350 U/L, dan ditemukan kadar beta-D-glukan serum yang juga meningkat. Foto toraks menunjukkan infiltrat retikulonodular difus bilateral. Pewarnaan Gram dan kultur sputum tidak menunjukkan adanya organisme. Terapi medis apa yang paling sesuai untuk pasien ini?

a)

Trimethoprim-sulfamethoxazole

b)

Ceftriaxone

c)

Acyclovir

d)

Azithromycin

e)

Isoniazid

95.

Tn. Maxwel, 58 tahun, datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang memburuk sejak pagi. Pasien memiliki riwayat PPOK dan baru pulang dari rawat inap karena pneumonia. Pemeriksaan menunjukkan RR 30 kali/menit, SpO₂ 84% tanpa oksigen, dan cyanosis perifer. Analisis gas darah menunjukkan pH 7,47 | PaCO₂ 32 mmHg | PaO₂ 55 mmHg | HCO₃⁻ 23 mEq/L. Berdasarkan data di atas, diagnosis gangguan pernapasan yang paling tepat adalah ...

a)

Gagal napas tipe 1

b)

Gagal napas tipe 2

c)

Asidosis respiratorik akut

d)

Alkalosis metabolik

e)

Asidosis metabolik kompensasi respiratorik

96.

Tn. Nando, 65 tahun, memang memiliki PPOK berat datang ke IGD karena sesak napas yang memburuk sejak kemarin. Pasien tampak mengantuk dan bingung. Pemeriksaan menunjukkan RR 10 kali/menit, SpO₂ 88% dengan nasal kanula 3 L/menit, auskultasi terdengar napas lemah, wheezing minimal. Pemeriksaan AGD didapatkan pH 7,28 | PaCO₂ 68 mmHg | PaO₂ 58 mmHg | HCO₃⁻ 28 mEq/L. Diagnosis gangguan pernapasan yang paling tepat berdasarkan data di atas adalah ...

a)

Gagal napas tipe 1 (hipoksemik)

b)

Gagal napas tipe 2 (hiperkapnik)

c)

Asidosis metabolik kompensasi respiratorik

d)

Alkalosis respiratorik akut

e)

Gagal ventilasi tipe sentral

97.

Ny. Natalia, 61 tahun, mengeluh batuk kering dan sesak napas saat beraktivitas yang berlangsung selama 8 bulan terakhir. Pemeriksaan fisik tidak didapatkan temuan berarti kecuali adanya sedikit keringat berlebih (diaforesis) di telapak tangan. Foto rontgen dada menunjukkan pelebaran mediastinum. CT scan dada dengan kontras didapatkan tumor berukuran 1,2 cm dengan komponen kistik dan nekrotik di mediastinum anterior, serta efusi pleura bilateral dalam jumlah kecil. Diagnosis banding apa yang paling mungkin dipertimbangkan untuk kondisi ini?

a)

Kista bronkogenik

b)

Neuroblastoma

c)

Limfangioma

d)

Timoma

e)

Karsinoid bronkus

98.

Seorang pria berusia 65 tahun yang pernah bekerja sebagai penambang batu bara datang dengan keluhan sesak napas, penurunan toleransi aktivitas, dan batuk tidak produktif yang muncul secara perlahan. Sebelumnya ia sehat dan tidak pernah merokok. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea, ronki akhir inspirasi, dan mengi. Berdasarkan diagnosis yang paling mungkin, temuan radiografis manakah yang paling sesuai pada foto rontgen dada pasien ini?

a)

Konsolidasi lobar di paru

b)

Plak pleura pada paru

c)

Limfadenopati bilateral

d)

Nodul interstisial kecil di paru

e)

Cavitas pada lobus atas paru

99.

Seorang pria berusia 23 tahun ditikam dengan pisau. Saat pemeriksaan, terdapat luka robek tipis sepanjang 1 cm di garis tengah dada sejajar dengan sternum. Foto rontgen dada lateral menunjukkan adanya benda logam berukuran 5 mm dengan bentuk runcing dan sudut tajam yang tampak berada di bagian paling anterior dari jantung, kemungkinan merupakan potongan dari pisau yang digunakan untuk menikam pasien. Di bagian manakah dari jantung fragmen logam ini paling mungkin berada?

a)

Atrium kanan

b)

Ventrikel kanan

c)

Atrium kiri

d)

Ventrikel kiri

e)

Katup mitral

100.

Seorang pria berusia 60 tahun dibawa oleh Emergency Medical Service (EMS) setelah kehilangan kesadaran di rumah. Ia memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. Denyut jantungnya adalah 167 bpm. Pemeriksaan fisik menunjukkan nadi yang tidak teratur dan tidak beraturan. Pasien kemudian diberikan propranolol. Apa alasan otot jantung dapat berkontraksi secara serempak?

a)

Diskus interkalaris

b)

Adanya mitokondria

c)

Adanya sel pacemaker

d)

Ukuran sel yang kecil

e)

Tidak ada sarkomer