NEW
Font size
WorksheetsASESMEN AWAL CARA PEMBERIAN OBAT TA 2025/2026
Total questions: 15
Worksheet time: 15mins
Seorang pasien dewasa didiagnosis dengan infeksi bakteri berat dan memerlukan terapi antibiotik dosis tinggi dengan onset kerja yang sangat cepat. Pasien juga mengalami mual dan muntah parah sehingga tidak dapat menelan. Berdasarkan kondisi ini, metode pemberian obat manakah yang paling TEPAT dan mengapa?
Oral, karena ini adalah rute yang paling umum dan mudah untuk pemberian antibiotik.
Intravena (IV), karena memastikan absorpsi obat 100% dan efek yang cepat, serta menghindari rute oral yang sulit.
Sublingual, karena obat akan cepat diserap melalui pembuluh darah di bawah lidah.
Intramuskular (IM), karena memberikan efek yang lebih cepat daripada oral dan dapat digunakan meskipun pasien mual.
Seorang perawat harus memberikan obat topikal kepada pasien dengan luka bakar tingkat dua. Sebelum mengaplikasikan salep, perawat membersihkan area luka. Tindakan perawat ini paling utama bertujuan untuk?
Meningkatkan kenyamanan pasien selama proses pemberian obat.
Mengurangi risiko infeksi lebih lanjut pada area luka bakar.
Memastikan absorpsi obat yang optimal dengan menghilangkan debris dan jaringan nekrotik.
Menghemat jumlah salep yang digunakan agar tidak terbuang sia-sia.
Seorang perawat menemukan resep dokter yang berbunyi:
'Berikan obat X 200 mg, secara p.o. setiap 8 jam'.
Pasien tidak mampu menelan karena masalah disfagia. Tindakan Farmasis yang paling TEPAT adalah?
Menghancurkan obat dan mencampurnya dengan makanan agar pasien bisa menelan
Menunda pemberian obat sampai pasien bisa menelan.
Memberikan obat secara rektal karena lebih aman daripada menghancurkan obat.
Menghubungi dokter untuk mengklarifikasi resep dan meminta petunjuk mengenai rute pemberian yang alternatif.
Seorang perawat akan memberikan obat subkutan (SC) kepada pasien. Setelah menyuntikkan jarum ke dalam jaringan subkutan, perawat tidak melakukan aspirasi (menarik spuit sebelum injeksi). Apa potensi bahaya dari prosedur ini?
Terbentuknya hematoma besar di lokasi suntikan.
Obat akan bocor kembali ke permukaan kulit setelah jarum ditarik.
Obat dapat secara tidak sengaja masuk ke dalam pembuluh darah, menyebabkan efek yang tidak diinginkan dan potensi toksisitas.
Absorpsi obat akan menjadi lebih lambat daripada yang diharapkan.
Pasien menderita luka bakar yang luas dan kulitnya telah rusak parah. Dokter meresepkan obat topikal. Apa tantangan utama yang dihadapi farmasis dalam pemberian obat ini?
Obat topikal akan kurang efektif karena tidak bisa mencapai jaringan yang lebih dalam.
Penyebaran salep secara merata pada area yang luas sangat sulit
Absorpsi obat dapat meningkat secara drastis melalui kulit yang rusak, berpotensi menyebabkan efek samping sistemik atau toksisitas.
Risiko infeksi pada luka bakar sangat tinggi, sehingga perlu kehati-hatian ekstra.
Pasien anak berusia 5 tahun membutuhkan pemberian obat melalui rute intravena. Farmasis harus mempertimbangkan perbedaan fisiologis anak-anak dibandingkan orang dewasa. Faktor manakah yang paling penting untuk diperhatikan dalam kasus ini?
Kecenderungan anak untuk menolak prosedur medis.
Dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan, bukan hanya usia.
Kecilnya ukuran pembuluh darah, yang membuat insersi jarum lebih sulit.
Fungsi ginjal yang belum matang, yang dapat memperlambat eliminasi obat dan meningkatkan risiko toksisitas.
Seorang pasien di ruang gawat darurat memerlukan obat anti-alergi yang harus bekerja dalam hitungan menit untuk mencegah syok anafilaksis. Rute pemberian obat yang paling cepat dan dapat diandalkan adalah?
Injeksi subkutan (SC).
Injeksi intravena (IV).
Sublingual.
Injeksi intramuskular (IM).
Seorang pasien yang menderita asma diberikan obat inhalasi. Alasan utama mengapa rute inhalasi dipilih untuk obat asma adalah?
Rute ini memungkinkan obat untuk bekerja secara lokal di paru-paru dengan efek samping sistemik yang minimal.
Absorpsi obat melalui rute ini sangat lambat, sehingga memberikan efek jangka panjang.
Rute inhalasi adalah rute yang paling mudah dan nyaman bagi pasien.
Obat memiliki efek sistemik yang kuat dan merata di seluruh tubuh.
Ketika memberikan injeksi intrakutan (IC), perawat harus membuat sudut yang sangat dangkal (10-15 derajat). Apa yang akan terjadi jika sudut injeksi terlalu dalam?
Obat akan diserap lebih lambat karena diberikan ke jaringan subkutan.
Pasien akan mengalami reaksi alergi sistemik yang parah.
Obat tidak akan menimbulkan efek lokal yang diinginkan karena diberikan ke lapisan kulit yang salah.
Timbulnya benjolan (wheal) yang terlalu besar dan menyakitkan.
Seorang pasien dengan demam tinggi dan diare tidak bisa menelan obat oral. Dokter meresepkan supositoria rektal. Mengapa rute ini sering dipilih dalam kasus ini?
Rute rektal dipilih karena semua obat yang diberikan melalui rute ini memiliki efek lokal.
Karena rute rektal memiliki absorpsi yang sangat cepat dan hampir seefektif intravena.
Karena rute rektal sangat nyaman dan disukai oleh sebagian besar pasien.
Karena dapat menghindari degradasi obat oleh asam lambung dan metabolisme lintas pertama di hati, serta digunakan saat rute oral tidak memungkinkan.
Pernyataan: Pemberian obat secara intramuskular (IM) memiliki onset kerja yang lebih cepat dan lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan pemberian secara intravena (IV).
BENAR
SALAH
Pernyataan: Metabolisme lintas pertama (first-pass metabolism) adalah proses yang terjadi di ginjal dan dapat mengurangi konsentrasi obat aktif sebelum mencapai sirkulasi sistemik.
BENAR
SALAH
Pernyataan: Membersihkan area kulit sebelum mengoleskan obat topikal tidak diperlukan jika luka pasien tampak bersih.
BENAR
SALAH
Pernyataan: Pemberian injeksi intrakutan (IC) harus dilakukan dengan sudut 90 derajat agar obat masuk ke lapisan kulit yang paling dalam.
BENAR
SALAH
Pernyataan: Pemberian obat sublingual (SL) cocok untuk semua jenis obat karena menawarkan absorpsi yang cepat.
BENAR
SALAH
