NEW
Font size
WorksheetsKuis 1 Kimed
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Kimia medisinal mempelajari hubungan antara:
Obat dan penyakit
Struktur kimia dan aktivitas biologis
Pasien dan efek samping
Senyawa dan metode sintesis
Prinsip Structure-Activity Relationship (SAR) digunakan untuk:
Menentukan metode isolasi bahan alam
Mengetahui efek toksik obat pada hewan
Menilai pengaruh perubahan struktur kimia terhadap aktivitas obat
Memprediksi metabolisme obat di hati
Tujuan utama derivatisasi obat adalah:
Memperpanjang waktu paruh dan mengurangi efek samping
Meningkatkan harga jual obat
Menurunkan kelarutan obat dalam air
Mengurangi dosis efektif menjadi nol
Berikut ini termasuk contoh obat hasil modifikasi struktur adalah:
Penicillin G
Ampicillin
Aspirin alami
Quinine
Bidang ilmu yang paling erat kaitannya dengan kimia medisinal adalah:
Farmakologi dan biokimia
Patologi dan anatomi
Fisika dan matematika
Histologi dan sitologi
Reseptor merupakan:
Protein intraseluler yang mengatur metabolisme
Molekul target yang berikatan dengan obat untuk menimbulkan efek biologis
Enzim yang selalu menguraikan obat
Hanya terdapat di membran sel
Interaksi obat dengan reseptor terutama terjadi melalui:
Ikatan kovalen permanen
Ikatan hidrogen, ionik, dan hidrofobik
Degradasi kimia reseptor
Perubahan struktur DNA
Agonis parsial adalah ligan yang:
Tidak menimbulkan respons sama sekali
Menimbulkan respons maksimal
Menimbulkan respons tetapi tidak maksimal
Menghambat reseptor secara irreversibel
Antagonis kompetitif bekerja dengan cara:
Berikatan pada reseptor pada sisi yang berbeda dari agonis
Berikatan pada tempat yang sama dengan agonis dan mencegah ikatan agonis
Menghancurkan reseptor
Menstimulasi reseptor secara berlebihan
Contoh reseptor ion channel adalah:
Reseptor adrenergik
Reseptor nikotinik asetilkolin
Reseptor insulin
Reseptor steroid
Uji praklinis biasanya dilakukan pada:
Manusia sehat
Pasien sakit
Hewan percobaan
Relawan mahasiswa
Tujuan utama uji praklinis adalah:
Menentukan efektivitas pada pasien
Menentukan keamanan dan toksisitas sebelum uji klinis
Menjual obat ke masyarakat
Menentukan harga obat
Salah satu parameter yang dinilai dalam uji praklinis adalah:
LD50
Efek placebo
Efek samping jangka panjang pada manusia
Kepatuhan pasien
Hasil uji praklinis yang baik memungkinkan obat untuk:
Langsung dipasarkan
Masuk ke tahap uji klinis
Diberikan ke hewan lain saja
Tidak perlu diteliti lebih lanjut
Uji praklinis biasanya melibatkan:
Studi farmakokinetika dan toksisitas pada hewan
Survei kepuasan pasien
Analisis statistik pasien
Wawancara dokter
Uji klinis fase I biasanya dilakukan pada:
Pasien dengan penyakit target
Hewan laboratorium
Relawan sehat
Anak-anak
Tujuan utama uji klinis fase II adalah:
Menentukan keamanan awal pada manusia
Menguji efektivitas pada pasien target
Menentukan harga obat di pasaran
Mengukur placebo effect
Uji klinis fase III dilakukan untuk:
Mengevaluasi efek samping jangka panjang
Membandingkan efektivitas dengan terapi standar
Menentukan dosis letal
Menguji toksisitas pada hewan
Setelah obat lolos fase III, tahap selanjutnya adalah:
Pemasaran obat setelah persetujuan otoritas regulasi
Pengujian pada hewan ulang
Penentuan struktur kimia baru
Penghentian penelitian
Uji klinis fase IV dilakukan untuk:
Penentuan farmakokinetika dasar
Evaluasi efek samping dan keamanan pasca pemasaran
Uji coba awal pada relawan sehat
Uji banding dengan placebo
