wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

09 Reaksi PCR dan thermal cycler

Total questions: 64

Worksheet time: 32mins

Name
Class
Date
1.

Seorang mahasiswa D3 TLM sedang melakukan uji PCR untuk mendeteksi gen penyebab tuberkulosis dari sampel dahak pasien. Ia telah menambahkan semua komponen reaksi seperti primer, buffer, MgCl₂, Taq DNA polymerase, dan dNTP. Namun, hasil amplifikasi menunjukkan pita yang sangat lemah setelah elektroforesis. Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan dalam optimasi reaksi adalah memeriksa:

a)

Konsentrasi primer

b)

Volume total reaksi

c)

Jenis pipet yang digunakan

d)

Jumlah siklus PCR

e)

Suhu penyimpanan enzim

2.

Seorang analis melakukan PCR untuk mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi luka. Semua reagen telah ditambahkan, tetapi hasil elektroforesis tidak menunjukkan adanya pita DNA. Setelah evaluasi, diketahui bahwa konsentrasi MgCl₂ yang digunakan jauh lebih rendah dari standar. Kondisi ini paling mungkin menyebabkan:

a)

Denaturasi DNA yang tidak sempurna

b)

Aktivitas Taq polymerase tidak optimal

c)

Primer terdegradasi oleh nuklease

d)

Konsentrasi dNTP berlebihan

e)

Jumlah siklus terlalu sedikit

3.

Dalam penelitian skrining genetik, mahasiswa merancang program PCR dengan tahapan: denaturasi 94°C selama 30 detik, annealing 45°C selama 30 detik, dan ekstensi 72°C selama 1 menit. Namun, hasil elektroforesis menunjukkan banyak pita non-spesifik. Perbaikan yang paling tepat untuk meningkatkan spesifisitas adalah:

a)

Menurunkan jumlah siklus

b)

Meningkatkan suhu annealing

c)

Memperpendek waktu ekstensi

d)

Menambah volume template

e)

Mengurangi konsentrasi primer

4.

Seorang teknisi laboratorium melakukan PCR deteksi virus dengan konsentrasi primer yang lebih tinggi dari rekomendasi protokol. Setelah proses selesai, hasil menunjukkan pita DNA non-spesifik dan smear pada gel. Penyebab paling mungkin fenomena ini adalah:

a)

Jumlah dNTP terlalu rendah

b)

Primer mengalami mispairing dengan DNA non-target

c)

Konsentrasi MgCl₂ terlalu tinggi

d)

Suhu annealing terlalu tinggi

e)

Volume template terlalu kecil

5.

Dalam pemeriksaan molekuler infeksi saluran pernapasan, seorang analis yakin bahwa semua komponen PCR sudah benar tetapi hasil tetap negatif. Ia mencurigai adanya kerusakan pada termal sikler. Fungsi utama alat ini dalam reaksi PCR adalah:

a)

Mendeteksi hasil amplifikasi

b)

Mengatur perubahan suhu secara siklik sesuai tahapan PCR

c)

Menyimpan hasil DNA

d)

Menambahkan enzim ke dalam reaksi

e)

Menyaring DNA kontaminan

6.

Saat mengoptimasi reaksi PCR untuk mendeteksi gen resistansi antibiotik, seorang mahasiswa menambahkan konsentrasi MgCl₂ lebih tinggi dari rekomendasi. Hasil amplifikasi menunjukkan munculnya pita DNA tambahan yang tidak diharapkan. Fenomena ini kemungkinan disebabkan oleh:

a)

Aktivitas Taq polymerase yang terlalu tinggi

b)

dNTP menjadi tidak stabil

c)

Primer mengalami degradasi

d)

Denaturasi tidak sempurna

e)

Template tidak terikat

7.

Dalam sebuah penelitian genetik, mahasiswa merancang primer untuk PCR deteksi mutasi gen. Hasilnya gagal menunjukkan amplifikasi yang baik, dan diketahui bahwa suhu annealing terlalu rendah dibandingkan titik leleh primer. Keberhasilan tahap annealing sangat bergantung pada:

a)

Panjang DNA target

b)

Konsentrasi MgCl₂

c)

Suhu yang sesuai dengan titik leleh primer

d)

Jumlah siklus PCR

e)

Volume reaksi total

8.

Seorang analis melakukan PCR untuk mengidentifikasi virus dengue tetapi lupa menambahkan dNTP ke dalam campuran reaksi. Setelah amplifikasi, hasil elektroforesis tidak menunjukkan pita DNA. Hal ini terjadi karena:

a)

Primer tidak berikatan

b)

Tidak ada bahan dasar untuk sintesis DNA baru

c)

Enzim menjadi inaktif

d)

Denaturasi tidak terjadi

e)

Suhu terlalu rendah

9.

fikasi gen housekeeping, tahap ekstensi biasanya dilakukan pada suhu 72°C. Pemilihan suhu ini didasarkan pada alasan bahwa:

a)

Suhu tersebut adalah suhu optimum aktivitas Taq polymerase

b)

Suhu ini mempercepat denaturasi DNA

c)

Suhu ini memastikan primer tidak terlepas

d)

Suhu ini menurunkan aktivitas dNTP

e)

Suhu ini meningkatkan stabilitas template

10.

Seorang mahasiswa mendapati hasil PCR yang tidak spesifik meskipun semua suhu telah disesuaikan dengan protokol. Setelah analisis lebih lanjut, ia menemukan bahwa primer yang dirancang memiliki homologi tinggi dengan sekuens non-target. Kesalahan dalam desain primer dapat menyebabkan:

a)

Tidak adanya amplifikasi

b)

Ikatan ke lokasi non-target

c)

Peningkatan konsentrasi dNTP

d)

Denaturasi tidak lengkap

e)

Penurunan aktivitas enzim

11.

Dalam proses PCR deteksi patogen darah, seorang analis mempertanyakan fungsi buffer dalam campuran reaksi. Komponen ini berperan penting karena:

a)

Menyediakan lingkungan pH yang optimal bagi enzim

b)

Mengikat primer ke DNA target

c)

Menstabilkan dNTP

d)

Menurunkan suhu annealing

e)

Menghambat aktivitas nuklease

12.

Saat merancang program PCR untuk skrining genetik, mahasiswa lupa memasukkan tahap denaturasi awal. Setelah amplifikasi, hasil menunjukkan tidak ada pita DNA. Hal ini paling mungkin terjadi karena:

a)

Tidak terjadi pemisahan untaian DNA ganda menjadi tunggal

b)

Primer terdegradasi

c)

Aktivitas enzim meningkat

d)

Annealing tidak terjadi

e)

Pita menjadi lebih tebal

13.

Dalam uji deteksi gen virulensi, hasil PCR menunjukkan pita yang sangat lemah. Seorang analis memutuskan untuk meningkatkan jumlah siklus dari 30 menjadi 40. Tindakan ini dapat membantu karena:

a)

Menambah jumlah salinan DNA target yang terbentuk

b)

Mengubah titik leleh primer

c)

Menstabilkan aktivitas enzim

d)

Menurunkan konsentrasi dNTP

e)

Meningkatkan pH reaksi

14.

Pada pemeriksaan PCR untuk identifikasi bakteri anaerob, pita tambahan muncul selain target yang diharapkan. Salah satu penyebab umum masalah ini adalah:

a)

Suhu ekstensi terlalu rendah

b)

Primer menempel pada lokasi yang mirip dengan target

c)

Jumlah template terlalu sedikit

d)

Volume reaksi terlalu besar

e)

Jumlah siklus terlalu rendah

15.

Seorang mahasiswa menggunakan primer yang hanya berukuran 12 basa dalam PCR untuk mendeteksi gen toksin. Hasil elektroforesis menunjukkan tidak adanya pita. Kemungkinan penyebab kegagalan ini adalah:

a)

Primer terlalu panjang

b)

Primer terlalu pendek untuk spesifisitas yang baik

c)

MgCl₂ terlalu tinggi

d)

dNTP terlalu sedikit

e)

Jumlah siklus terlalu banyak

16.

Dalam PCR untuk analisis genetik, konsentrasi dNTP yang digunakan terlalu tinggi. Hasil amplifikasi menunjukkan pita yang tidak spesifik. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena:

a)

Aktivitas Taq polymerase menurun

b)

Penurunan spesifisitas amplifikasi akibat kompetisi ikatan

c)

Denaturasi menjadi tidak sempurna

d)

Suhu annealing meningkat

e)

Peningkatan degradasi primer

17.

Seorang analis ingin mengamplifikasi fragmen DNA yang panjang (>2 kb) menggunakan PCR. Untuk mencapai hasil optimal, ia perlu:

a)

Memperpendek waktu ekstensi

b)

Memperpanjang waktu ekstensi

c)

Menaikkan suhu annealing

d)

Menurunkan jumlah siklus

e)

Menurunkan suhu ekstensi

18.

Dalam uji PCR identifikasi gen bakteri, primer menjadi salah satu komponen penting. Fungsi utama primer adalah:

a)

Menyediakan energi untuk sintesis DNA

b)

Menentukan lokasi awal sintesis DNA oleh Taq polymerase

c)

Mengatur pH reaksi

d)

Menstabilkan enzim

e)

Meningkatkan suhu annealing

19.

Dalam uji diagnostik molekuler, penggunaan Taq DNA polymerase menjadi esensial. Hal ini karena enzim tersebut:

a)

Mampu bertahan dan tetap aktif pada suhu tinggi selama siklus PCR

b)

Mengikat primer ke template DNA

c)

Menyediakan dNTP untuk sintesis

d)

Menurunkan suhu annealing

e)

Memecah DN

20.

Seorang analis menemukan bahwa hasil amplifikasi PCR sangat bervariasi meskipun protokol sama. Setelah evaluasi, ia menyimpulkan bahwa kesalahan pipetasi saat menyiapkan campuran reaksi adalah penyebabnya. Masalah seperti ini dapat menyebabkan:

a)

Suhu ekstensi terlalu tinggi

b)

Variasi jumlah produk DNA antara replikasi

c)

Primer terlalu panjang

d)

Template terlalu murni

e)

Jumlah siklus terlalu sedikit

21.

Dalam uji PCR klinis, Adi, seorang mahasiswa biologi, memastikan DNA template yang akan digunakan dalam penelitiannya benar-benar murni. Langkah ini penting karena:

a)

Kontaminan dapat menghambat aktivitas enzim dan menurunkan efisiensi amplifikasi

b)

DNA murni mengubah titik leleh primer

c)

DNA murni meningkatkan pH

d)

DNA murni mempercepat denaturasi

e)

DNA murni mengurangi jumlah siklus

22.

Seorang analis menggunakan termal sikler dengan fitur gradien suhu annealing untuk optimasi PCR. Fitur ini berguna untuk:

a)

Menentukan suhu annealing optimal yang menghasilkan amplifikasi paling spesifik

b)

Menurunkan suhu ekstensi

c)

Menambah jumlah siklus

d)

Menstabilkan buffer

e)

Menghemat penggunaan dNTP

23.

Dalam optimasi PCR, seorang mahasiswa meningkatkan jumlah siklus dari 30 menjadi 55. Namun, hasil menunjukkan pita non-spesifik dan artefak. Hal ini terjadi karena:

a)

Pita menjadi lebih tajam

b)

Produk non-spesifik terakumulasi akibat siklus yang terlalu banyak

c)

Suhu ekstensi menurun

d)

Aktivitas enzim meningkat

e)

Tidak ada amplifikasi

24.

Saat mendesain primer untuk amplifikasi gen tertentu, mahasiswa harus memastikan bahwa sekuensnya tidak membentuk struktur sekunder seperti hairpin. Hal ini penting karena:

a)

Hairpin dapat menghambat pengikatan primer ke template DNA

b)

Hairpin meningkatkan aktivitas enzim

c)

Hairpin mempercepat denaturasi

d)

Hairpin menurunkan pH

e)

Hairpin meningkatkan jumlah siklus

25.

Dalam percobaan PCR, mahasiswa menggunakan jumlah template DNA yang sangat tinggi untuk memastikan hasil positif. Namun, hasil menunjukkan amplifikasi yang tidak konsisten. Kemungkinan penyebabnya adalah:

a)

Peningkatan spesifisitas

b)

Inhibisi reaksi akibat kompetisi antar template DNA

c)

Peningkatan efisiensi amplifikasi

d)

Tidak ada efek pada hasil PCR

e)

Penurunan aktivitas Taq polymerase

26.

Seorang mahasiswa TLM sedang melakukan reaksi PCR untuk mendeteksi gen virulensi bakteri. Saat menyiapkan campuran reaksi, ia menggunakan primer, buffer, MgCl₂, dNTP, dan Taq polymerase. Namun, hasil amplifikasi menunjukkan pita yang sangat lemah pada gel elektroforesis. Setelah dianalisis, diketahui bahwa suhu annealing yang digunakan terlalu rendah dari perhitungan Tm primer. Apa dampak langsung dari kondisi ini terhadap hasil PCR?

a)

Tidak terbentuknya pita karena primer gagal menempel

b)

Terbentuknya pita nonspesifik karena primer menempel pada lokasi acak

c)

Terjadi denaturasi enzim Taq polymerase sebelum siklus selesai

d)

dNTP tidak terintegrasi dalam rantai DNA baru

e)

MgCl₂ terdegradasi sehingga reaksi berhenti

27.

Dalam sebuah praktikum, mahasiswa menyiapkan reaksi PCR dengan volume total 25 µL. Mereka menambahkan 2,5 µL buffer, 1 µL MgCl₂, 0,5 µL Taq polymerase, dan 1 µL primer masing-masing. Setelah dijalankan, tidak ada pita yang terlihat pada hasil elektroforesis. Setelah pemeriksaan ulang, diketahui bahwa dNTP tidak ditambahkan. Apa peran utama dNTP dalam reaksi PCR?

a)

Menyediakan ion divalen untuk enzim Taq polymerase

b)

Berfungsi sebagai template DNA

c)

Menjadi bahan dasar pembentukan rantai DNA baru

d)

Mempercepat proses denaturasi

e)

Menstabilkan primer selama annealing

28.

Seorang analis mencoba mendeteksi DNA patogen menggunakan PCR. Ia mendesain primer baru, namun hasil amplifikasi menunjukkan banyak pita nonspesifik. Setelah evaluasi, diketahui bahwa primer memiliki GC content terlalu rendah. Mengapa hal ini dapat menyebabkan hasil nonspesifik?

a)

Primer dengan GC rendah terlalu stabil sehingga sulit terlepas

b)

Primer mudah terlepas dari template sehingga menempel pada lokasi acak

c)

Primer gagal menempel karena suhu annealing terlalu tinggi

d)

Primer membentuk struktur sekunder sehingga tidak berfungsi

e)

Primer bereaksi dengan dNTP membentuk kompleks

29.

Dalam percobaan optimasi PCR, peneliti mencoba berbagai konsentrasi MgCl₂. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi tinggi menghasilkan pita tambahan selain target utama. Apa alasan utama fenomena ini?

a)

MgCl₂ menghambat aktivitas enzim polimerase

b)

Konsentrasi tinggi meningkatkan ikatan nonspecific primer

c)

MgCl₂ merusak template DNA

d)

MgCl₂ menghambat annealing primer

e)

MgCl₂ menyebabkan dNTP habis lebih cepat

30.

Seorang mahasiswa melakukan PCR menggunakan DNA genomik sebagai template. Ia menjalankan program termal dengan suhu denaturasi 85°C selama 15 detik, annealing 50°C selama 20 detik, dan ekstensi 60°C selama 30 detik. Hasilnya menunjukkan tidak ada amplifikasi. Apa kesalahan utama pada program termal tersebut?

a)

Suhu annealing terlalu tinggi

b)

Suhu denaturasi terlalu rendah

c)

Suhu ekstensi terlalu tinggi

d)

Waktu annealing terlalu lama

e)

Waktu ekstensi terlalu lama

31.

Seorang peneliti menggunakan dua primer dalam reaksi PCR, namun hasil elektroforesis menunjukkan tidak ada pita. Ia memeriksa kembali dan menemukan bahwa salah satu primer tidak ditambahkan. Apa yang paling mungkin terjadi pada proses PCR?

a)

DNA akan tetap teramplifikasi meskipun lambat

b)

Amplifikasi akan berhenti setelah siklus pertama

c)

Taq polymerase tetap bekerja menghasilkan fragmen acak

d)

Amplifikasi tetap terjadi dengan efisiensi tinggi

e)

Primer tunggal membentuk dimer yang memperkuat sinyal

32.

Dalam reaksi PCR untuk mendeteksi virus RNA, seorang analis menggunakan primer yang dirancang spesifik. Namun, hasil menunjukkan tidak ada amplifikasi. Setelah evaluasi, diketahui bahwa proses reverse transcription tidak dilakukan. Apa konsekuensi dari kesalahan ini?

a)

Primer tidak akan menempel karena tidak ada DNA target

b)

dNTP tidak akan berikatan dengan template RNA

c)

MgCl₂ tidak akan berfungsi pada RNA

d)

RNA akan teramplifikasi secara tidak spesifik

e)

Taq polymerase akan menghancurkan RNA

33.

Seorang mahasiswa mengatur jumlah siklus PCR menjadi 15 siklus untuk menghemat waktu. Namun, hasil menunjukkan pita sangat lemah. Apa alasan ilmiah di balik hasil tersebut?

a)

Terjadi degradasi primer akibat terlalu sedikit siklus

b)

Jumlah produk DNA yang terbentuk terlalu sedikit

c)

Taq polymerase kehilangan aktivitas

d)

Template DNA tidak terdenaturasi sempurna

e)

MgCl₂ habis sebelum siklus selesai

34.

Dalam optimasi suhu annealing, peneliti menemukan bahwa pada suhu lebih tinggi dari Tm primer, tidak terbentuk pita. Apa penjelasan yang paling tepat?

a)

Primer terlalu cepat menempel sebelum denaturasi selesai

b)

Primer gagal menempel pada template

c)

Taq polymerase terinaktivasi pada suhu annealing

d)

Template DNA terdegradasi

e)

MgCl₂ berikatan dengan primer

35.

Seorang teknisi mempersiapkan campuran PCR namun lupa menambahkan buffer. Reaksi dijalankan tetapi tidak ada hasil amplifikasi. Apa fungsi utama buffer dalam reaksi PCR?

a)

Menyediakan substrat untuk enzim

b)

Menjaga pH optimal untuk aktivitas enzim

c)

Meningkatkan konsentrasi DNA

d)

Menstabilkan struktur primer

e)

Menyediakan ion untuk polimerase

36.

Dalam pengaturan PCR untuk amplifikasi fragmen kecil (100 bp), waktu ekstensi diatur selama 5 menit. Apa konsekuensi dari pengaturan ini?

a)

Tidak ada amplifikasi

b)

Amplifikasi tetap terjadi tetapi waktu tidak efisien

c)

DNA akan terdegradasi

d)

Primer gagal menempel

e)

Produk terlalu panjang

37.

Dalam desain primer, seorang mahasiswa menggunakan primer dengan GC content 90%. Setelah PCR, tidak terbentuk pita. Apa alasan ilmiah dari hasil tersebut?

a)

Primer terlalu tidak stabil

b)

Primer terlalu kuat menempel sehingga gagal melepas

c)

Primer tidak dikenali oleh polimerase

d)

Primer bereaksi dengan dNTP

e)

MgCl₂ terinaktivasi

38.

Dalam eksperimen, suhu denaturasi ditingkatkan menjadi 100°C. Setelah PCR, hasil menunjukkan tidak ada amplifikasi. Apa penyebab utama kondisi ini?

a)

Primer tidak menempel

b)

Taq polymerase terdenaturasi

c)

Template DNA terfragmentasi

d)

MgCl₂ terurai

e)

dNTP bereaksi cepat

39.

Seorang mahasiswa menggunakan konsentrasi template DNA terlalu tinggi dalam reaksi PCR. Hasil menunjukkan pita tebal namun nonspesifik. Mengapa hal ini terjadi?

a)

Enzim bekerja terlalu cepat

b)

Terjadi kompetisi primer antar fragmen target

c)

Primer gagal menempel

d)

MgCl₂ tidak berfungsi

e)

dNTP habis lebih cepat

40.

Dalam proses PCR, mahasiswa lupa menambahkan primer reverse. Hasil elektroforesis menunjukkan pita yang sangat kecil. Apa penjelasan paling mungkin?

a)

Amplifikasi berhenti setelah satu siklus

b)

Hanya satu untai DNA yang terbentuk berulang kali

c)

Primer forward membentuk dimer

d)

Enzim tidak bekerja

e)

Tidak ada ekstensi yang terjadi

41.

Seorang mahasiswa TLM sedang melakukan PCR untuk mendeteksi gen penyandi toksin bakteri. Ia menggunakan campuran standar yang terdiri dari primer, buffer, MgCl₂, dNTP, dan Taq polymerase. Namun, hasil elektroforesis menunjukkan pita amplifikasi sangat lemah. Setelah evaluasi diketahui bahwa konsentrasi template DNA sangat rendah. Apa efek langsung dari kondisi ini terhadap reaksi PCR?

a)

Tidak terjadi denaturasi DNA

b)

Jumlah produk DNA yang terbentuk menjadi sedikit

c)

Primer gagal menempel pada template

d)

dNTP tidak dapat digunakan oleh enzim

e)

Suhu annealing menjadi tidak relevan

42.

Dalam sebuah percobaan, mahasiswa mencoba mempercepat siklus PCR dengan mengurangi waktu annealing menjadi 5 detik. Hasil amplifikasi menunjukkan banyak pita nonspecific. Apa alasan ilmiah kondisi ini?

a)

Primer menempel pada daerah yang tidak homolog

b)

dNTP terpolimerisasi terlalu cepat

c)

Template DNA terfragmentasi

d)

Enzim tidak bekerja efisien

e)

MgCl₂ menjadi tidak aktif

43.

Seorang teknisi menggunakan Taq polymerase dari sumber yang berbeda untuk reaksi PCR. Hasil menunjukkan produk amplifikasi lebih sedikit dari biasanya. Setelah pemeriksaan, diketahui bahwa enzim memiliki aktivitas lebih rendah. Apa solusi terbaik untuk masalah ini?

a)

Meningkatkan suhu denaturasi

b)

Menambah jumlah siklus PCR

c)

Menurunkan konsentrasi primer

d)

Mengurangi volume template

e)

Menurunkan suhu annealing

44.

Dalam percobaan optimasi PCR, peneliti menemukan bahwa menaikkan konsentrasi primer menghasilkan pita nonspesifik. Namun, menurunkannya terlalu rendah menyebabkan tidak ada amplifikasi. Apa alasan utama diperlukan optimasi konsentrasi primer?

a)

Untuk mencegah degradasi template

b)

Untuk menyeimbangkan kecepatan denaturasi

c)

Untuk memastikan penempelan primer yang tepat dan efisien

d)

Untuk mempercepat polimerisasi dNTP

e)

Untuk mencegah kerusakan Taq polymerase

45.

Dalam eksperimen PCR, pita target berukuran lebih kecil dari seharusnya. Setelah analisis diketahui primer menempel pada lokasi lain di dekat target. Apa istilah untuk fenomena ini?

a)

Primer dimer

b)

Mispriming

c)

Reannealing

d)

Template switching

e)

Nonspecific denaturation

46.

Seorang analis laboratorium mengatur suhu ekstensi pada 50°C. Setelah siklus selesai, tidak ada produk amplifikasi. Apa penyebab utama kondisi tersebut?

a)

Suhu terlalu rendah untuk aktivitas optimal Taq polymerase

b)

Primer tidak mengalami annealing

c)

Template DNA rusak

d)

MgCl₂ terdenaturasi

e)

dNTP tidak berikatan

47.

Dalam pengujian PCR, pita hasil amplifikasi terlihat sangat kuat, tetapi ukurannya lebih besar dari target. Apa kemungkinan besar penyebabnya?

a)

Primer menempel pada lokasi yang lebih jauh

b)

Template DNA terlalu sedikit

c)

Suhu denaturasi terlalu rendah

d)

Waktu ekstensi terlalu pendek

e)

Konsentrasi dNTP terlalu rendah

48.

Seorang mahasiswa menambahkan MgCl₂ dua kali lipat dari jumlah seharusnya. Hasil PCR menunjukkan pita target dan pita tambahan lain. Mengapa kondisi ini terjadi?

a)

Ion Mg²⁺ berlebih meningkatkan ikatan nonspecific primer

b)

Mg²⁺ menghambat polimerase

c)

Mg²⁺ merusak template DNA

d)

Mg²⁺ menyebabkan primer gagal menempel

e)

Mg²⁺ menurunkan Tm primer

49.

Dalam eksperimen PCR, mahasiswa lupa menambahkan template DNA. Hasil elektroforesis menunjukkan tidak ada pita. Apa penjelasan ilmiah dari hasil ini?

a)

Taq polymerase menjadi tidak aktif

b)

Tidak ada substrat untuk sintesis DNA baru

c)

Primer terdegradasi

d)

MgCl₂ tidak berfungsi

e)

Suhu ekstensi tidak tercapai

50.

Dalam uji PCR klinis, hasil amplifikasi menunjukkan pita target yang sangat kuat meskipun template DNA sangat sedikit. Setelah analisis, ditemukan adanya kontaminasi DNA dari sampel sebelumnya. Apa penyebab masalah ini?

a)

Tidak dilakukan dekontaminasi peralatan

b)

Primer terlalu spesifik

c)

Konsentrasi dNTP terlalu tinggi

d)

Suhu ekstensi terlalu tinggi

e)

MgCl₂ terlalu sedikit

51.

Seorang analis menjalankan PCR menggunakan template DNA dengan banyak urutan repetitif. Hasilnya menunjukkan amplifikasi yang tidak stabil antar replikasi. Apa penyebab fenomena ini?

a)

Pembentukan struktur sekunder pada template

b)

Konsentrasi primer terlalu rendah

c)

Ion Mg²⁺ tidak mencukupi

d)

dNTP tidak berikatan

e)

Primer terlalu pendek

52.

Dalam optimasi PCR, peneliti menemukan bahwa menurunkan suhu annealing 5°C dari Tm meningkatkan jumlah produk tetapi menurunkan spesifisitas. Apa alasan ilmiah kondisi ini?

a)

Primer menempel lebih cepat pada target yang tepat

b)

Primer menempel juga pada daerah yang tidak homolog

c)

Taq polymerase bekerja lebih cepat

d)

MgCl₂ lebih aktif pada suhu rendah

e)

Template menjadi lebih mudah terdenaturasi

53.

Dalam uji PCR, pita hasil amplifikasi terlihat tetapi sangat tebal dan menyebar. Setelah evaluasi diketahui jumlah template DNA terlalu tinggi. Apa efek utama dari kondisi ini?

a)

Primer tidak bekerja

b)

Amplifikasi terjadi terlalu cepat dan tidak spesifik

c)

dNTP menjadi tidak cukup

d)

Taq polymerase rusak

e)

Denaturasi gagal

54.

Seorang mahasiswa menggunakan primer forward dan reverse yang saling komplementer sebagian. Hasil menunjukkan pita tak terduga berukuran kecil. Apa penyebab utama kondisi ini?

a)

Primer membentuk dimer

b)

Primer gagal menempel

c)

dNTP tidak cukup

d)

MgCl₂ bereaksi dengan primer

e)

Template rusak

55.

Dalam eksperimen PCR, pita target terlihat tetapi intensitasnya menurun pada replikasi selanjutnya. Apa penyebab kemungkinan besar fenomena ini?

a)

dNTP habis sebelum siklus selesai

b)

Taq polymerase kehilangan aktivitas seiring siklus

c)

Primer tidak lagi menempel

d)

MgCl₂ terdenaturasi

e)

Template rusak

56.

Seorang teknisi menyiapkan PCR untuk amplifikasi gen panjang 3 kb tetapi menggunakan waktu ekstensi 20 detik. Hasil menunjukkan pita yang lebih pendek dari target. Apa alasan ilmiah kondisi ini?

a)

Waktu ekstensi tidak cukup untuk menyintesis fragmen penuh

b)

Primer terlalu pendek

c)

Suhu annealing terlalu tinggi

d)

MgCl₂ tidak mencukupi

e)

Template terfragmentasi

57.

Dalam uji PCR, pita target tidak terbentuk tetapi muncul pita kecil berukuran sekitar 50 bp. Apa kemungkinan besar penyebabnya?

a)

Primer dimer terbentuk selama reaksi

b)

Template tidak digunakan

c)

MgCl₂ terlalu rendah

d)

dNTP tidak tersedia

e)

Suhu ekstensi terlalu tinggi

58.

Seorang analis mencoba melakukan PCR dengan template RNA tetapi lupa menambahkan langkah reverse transcription. Hasil menunjukkan tidak ada amplifikasi. Apa kesimpulan yang tepat?

a)

RNA tidak dapat diperbanyak langsung oleh Taq polymerase

b)

Primer tidak kompatibel dengan RNA

c)

MgCl₂ bereaksi dengan RNA

d)

RNA terdenaturasi terlalu cepat

e)

Annealing tidak terjadi

59.

Dalam optimasi PCR, peneliti menemukan bahwa menurunkan konsentrasi dNTP meningkatkan fidelitas hasil. Apa alasan ilmiah kondisi ini?

a)

dNTP yang sedikit memperlambat polimerisasi sehingga meningkatkan akurasi

b)

dNTP yang sedikit meningkatkan kecepatan enzim

c)

dNTP yang sedikit memperkuat ikatan primer

d)

dNTP yang sedikit meningkatkan suhu annealing

e)

dNTP yang sedikit mencegah primer dimer

60.

Dalam percobaan PCR, hasil menunjukkan pita target yang lemah meskipun semua komponen benar. Setelah evaluasi diketahui template DNA mengandung EDTA. Apa dampaknya terhadap reaksi?

a)

EDTA mengikat Mg²⁺ sehingga menghambat aktivitas enzim

b)

EDTA merusak template

c)

EDTA menginaktivasi primer

d)

EDTA meningkatkan suhu denaturasi

e)

EDTA memperlambat ekstensi

61.

Seorang mahasiswa mengatur suhu annealing 10°C lebih rendah dari Tm. Hasil menunjukkan pita yang kuat namun banyak pita tambahan. Apa kesimpulan yang tepat?

a)

Primer menempel pada banyak lokasi nonspesifik

b)

Taq polymerase berhenti bekerja

c)

MgCl₂ tidak berfungsi

d)

Template DNA rusak

e)

dNTP habis lebih cepat

62.

Dalam reaksi PCR, mahasiswa menggunakan buffer dengan pH terlalu rendah. Hasil menunjukkan tidak ada amplifikasi. Apa penyebab kondisi ini?

a)

Taq polymerase kehilangan aktivitas pada pH tidak optimal

b)

Primer terdenaturasi

c)

dNTP tidak dapat terpolimerisasi

d)

Template terfragmentasi

e)

MgCl₂ tidak bereaksi

63.

Dalam uji PCR, pita target muncul tetapi ukurannya sedikit lebih besar dari yang diharapkan. Setelah evaluasi diketahui primer menempel sedikit di luar wilayah target. Apa istilah untuk fenomena ini?

a)

Primer slippage

b)

Overamplification

c)

Off-target priming

d)

Template switching

e)

Noncanonical extension

64.

Seorang teknisi mencoba mendeteksi gen patogen dengan PCR, tetapi hasilnya menunjukkan pita target sangat tipis meskipun jumlah siklus cukup. Setelah diperiksa, diketahui bahwa jumlah Taq polymerase sangat sedikit. Apa dampak utama kondisi ini?

a)

Denaturasi tidak terjadi

b)

Jumlah DNA baru yang terbentuk menjadi terbatas

c)

Primer gagal menempel

d)

dNTP tidak digunakan

e)

MgCl₂ menjadi tidak aktif