Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Teks Anekdot 6

Total questions: 8

Worksheet time: 24mins

Name
Class
Date
1.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya? Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat, kok nggak didengerin?"

 

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

"Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!"

Temukan kalimat yang menyatakan masa lalu sesuai dengan ejaan teks!

4 lines
2.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat, kok nggak didengerin?"

 

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!

Temukan kalimat yang mengandung pertanyaan retoris!

4 lines
3.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat, kok nggak didengerin?"

 

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

"Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!"

Temukan kalimat perintah sesuai ejaan teks!

4 lines
4.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!"

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat suara Tuhan, kok nggak didengerin?"

 

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal: Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!

Temukan kalimat langsung dalam teks sesuai ejaan!

4 lines
5.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak. 

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!”

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat suara Tuhan, kok nggak didengerin?" 

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!

Temukan kalimat yang mengandung konjungsi waktu dan tulis sesuai ejaan teks!

4 lines
6.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!”

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, dengan caption:
"Katanya suara rakyat suara Tuhan, kok nggak didengerin?"

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah!

Temukan kalimat yang mengandung kata kerja aksi dalam teks!

4 lines
7.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!”

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat kok nggak didengerin?"

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah

Temukan kalimat seru sesuai teks!

4 lines
8.

Suatu ketika, di sebuah negara demokrasi, rakyat percaya mereka punya kuasa lewat suara. Tapi kenyataannya... suara itu hanya dipinjam, lalu dikembalikan dalam bentuk keputusan sepihak.

 

Keesokan harinya, saat sedang menikmati gorengan dan kopi sachet, Pak Darto, warga kampung paling melek politik, mendengar kabar mengejutkan dari televisi:
"Bayar pajak yang giat ya! Soal pesta demokrasi, biar kami wakili!”

 

Pak Darto tersedak tempe goreng. "Ini demokrasi atau sulap? Suara rakyat hilang tanpa jejak!"

"Luar biasa! Wakil rakyat sekarang tidak cuma mewakili suara rakyat... tapi juga menggantikan haknya!"

"Demokrasi kita memang hebat. Rakyat cuma penting waktu pemilu, setelah itu? Silakan minggir!"

 

Pak Darto langsung turun ke warung dan mulai ceramah dadakan.

"Jangan biarkan suara kita dikasih gratis! Kalau demokrasi tanpa pilihan, itu namanya bukan demokrasi… itu monopoli!"

Lalu, warga kampung ikut ribut. Ada yang menulis status, ada yang bikin video TikTok dengan backsound “Ojo Dibandingke”, sambil caption:
"Katanya suara rakyat suara Tuhan, kok nggak didengerin?"

 

Setelah drama panjang, keputusan tetap diambil tanpa tanya. Rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyicil utang listrik.

"Ya beginilah, kita cuma rakyat biasa. Tugas kita bayar pajak dan tepuk tangan kalau mereka bilang 'demi kepentingan rakyat'."

Dan sejak itu, Pak Darto menyimpulkan satu hal:

Di negara ini, demokrasi itu seperti sandal jepit. Rakyat yang pakai, wakil yang ngatur arah


Temukan majas sindiran sesuai teks!

4 lines