Font size
WorksheetsLATIHAN_SOAL_TO_1_PPG_PAI
Total questions: 60
Worksheet time: 33mins
Ibu Nisa adalah guru PAI di sebuah SMP negeri yang mahasiswanya berasal dari latar belakang sosial yang beragam. Dalam pembelajaran tentang pembentukan akhlak karimah, Ibu Nisa menghadapi kenyataan bahwa beberapa siswa menunjukkan perilaku kurang sopan, sering terlambat, dan kurang memiliki rasa hormat kepada guru dan teman sebaya. Sebaliknya, ada juga siswa yang sudah menunjukkan akhlak baik seperti menyapa, membantu teman, dan menjaga kebersihan kelas. Ibu Nisa ingin menyusun tujuan pembelajaran ranah sikap yang tepat agar dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia secara merata dalam kelasnya.
Siswa mampu menghafal definisi akhlak karimah beserta dalil pendukungnya.
Siswa menunjukkan sikap saling menghormati, jujur, dan peduli dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pengamalan iman dan takwa
Siswa mampu menjelaskan pentingnya akhlak karimah dalam kehidupan sosial dan agama.
Siswa dapat mengidentifikasi perilaku negatif yang harus dihindari berdasarkan nilai-nilai akhlak Islam.
Siswa berdiskusi tentang praktik akhlak karimah dalam kehidupan Rasulullah SAW.
Pak Amir adalah guru PAI di sebuah sekolah menengah kejuruan. Suatu hari, dalam diskusi kelas tentang pernikahan dalam Islam, muncul pertanyaan kritis dari siswa tentang praktik nikah siri, nikah muda, dan kawin kontrak. Sebagian siswa menganggapnya sah karena dilakukan dengan wali dan saksi, sementara yang lain mengkritisinya dari aspek keadilan, legalitas negara, dan perlindungan perempuan. Pak Amir ingin memanfaatkan kasus tersebut untuk merancang pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik berpikir kritis terhadap praktik pernikahan kontemporer yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk mendorong kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam konteks kasus di atas adalah:
Manakah tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam merumuskan solusi hukum pernikahan kontemporer?
Siswa mampu membandingkan praktik pernikahan tradisional dan kontemporer berdasarkan dalil syar’i.
Siswa mampu mengevaluasi praktik pernikahan yang bertentangan dengan prinsip keadilan dan perlindungan dalam Islam.
Siswa mampu merumuskan solusi hukum pernikahan kontemporer berdasarkan prinsip maqashid syariah dan peraturan negara.
Siswa mampu menyebutkan contoh pernikahan yang sah dan tidak sah menurut Fiqih Islam.
Bu Rina adalah guru PAI yang tengah membimbing siswanya dalam proyek membedah keabsahan hadis-hadis populer yang banyak beredar di media sosial. Ia membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk mengidentifikasi sanad, menilai kualitas perawi, dan membandingkan dengan kitab-kitab hadits shahih. Dalam proses ini, ia mengamati bahwa kerja sama antarkelompok sangat menentukan keakuratan analisis hadis. Oleh karena itu, ia ingin menyusun tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai untuk meningkatkan semangat gotong royong melalui analisis kriteria hadits shahih adalah:
Siswa mampu menjelaskan lima syarat hadits shahih secara lengkap dan runtut.
Siswa mampu merancang proyek analisis hadits shahih secara kolaboratif dengan membagi peran sesuai struktur sanad.
Siswa mampu membandingkan kualitas perawi dalam kitab shahih dan kitab daif.
Siswa mampu menulis laporan pribadi tentang hadits-hadits daif yang banyak beredar.
Siswa mampu menyebutkan kitab-kitab hadits shahih beserta nama-nama perawinya.
Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling tepat dalam konteks di atas adalah:
Peserta didik mampu menyebutkan macam-macam tradisi lokal di Indonesia yang terkait dengan takdir.
Peserta didik dapat menunjukkan sikap kritis terhadap seluruh bentuk tradisi yang dilakukan masyarakat.
Peserta didik mampu menghindari seluruh tradisi lokal karena berpotensi membawa kepada kesyirikan.
Peserta didik dapat menunjukkan sikap terbuka dan menerima tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip akidah Islam.
Peserta didik mampu menjelaskan hubungan antara qada-qadar dan budaya dalam masyarakat Indonesia.
Siswa mampu menghafal definisi dan ciri-ciri ayat muhkam dan mutasyabihat secara lengkap. Tuliskan definisi dan ciri-ciri ayat muhkam dan mutasyabihat!
Definisi dan ciri-ciri ayat muhkam: Ayat yang maknanya jelas, tegas, tidak mengandung banyak tafsir, dan menjadi dasar hukum. Definisi dan ciri-ciri ayat mutasyabihat: Ayat yang maknanya samar, mengandung banyak tafsir, dan tidak langsung menjadi dasar hukum.
Definisi dan ciri-ciri ayat muhkam: Ayat yang maknanya samar, mengandung banyak tafsir, dan tidak menjadi dasar hukum. Definisi dan ciri-ciri ayat mutasyabihat: Ayat yang maknanya jelas, tegas, dan menjadi dasar hukum.
Definisi dan ciri-ciri ayat muhkam: Ayat yang hanya bisa dipahami oleh para ulama. Definisi dan ciri-ciri ayat mutasyabihat: Ayat yang mudah dipahami oleh semua orang.
Definisi dan ciri-ciri ayat muhkam: Ayat yang selalu berbicara tentang kisah nabi. Definisi dan ciri-ciri ayat mutasyabihat: Ayat yang hanya berisi perintah dan larangan.
Siswa mampu menjelaskan pendapat para ulama klasik tentang perbedaan ayat muhkamat dan mutasyabihat. Kunci Jawaban: d Tujuan pembelajaran yang paling tepat adalah:
Siswa mampu membedakan ayat muhkamat dan mutasyabihat berdasarkan ciri-ciri teks.
Siswa mampu menghafal definisi ayat muhkamat dan mutasyabihat.
Siswa mampu menganalisis ragam pendekatan penafsiran ayat mutasyabihat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah berdasarkan sumber tafsir dan karakter peserta didik.
Siswa mampu menyebutkan mufassir yang mendukung ayat muhkamat dalam sejarah tafsir klasik.
Siswa mampu mencatat pendapat ulama salaf dan khalaf tanpa mendiskusikan maknanya.
Pak Yusuf mengajar materi ayat muhkamat dan mutasyabihat dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Ia menyajikan masalah berupa perbedaan pemahaman umat Islam terhadap ayat-ayat yang mengandung sifat-sifat Allah, seperti “tangan Allah” dan “bersemayam di atas Arsy”. Untuk membantu siswa memahami konteks dan pendekatan para mufassir, Pak Yusuf merancang aktivitas diskusi dan penugasan tafsir dengan struktur keilmuan berbasis tafsir maudhu’i dan tafsir bi al-Ra’yi. Dalam menyusun tujuan pembelajaran, ia ingin mempertimbangkan tingkat kognitif dan karakteristik kognitif siswa di kelas XI yang heterogen.
Siswa mampu membedakan ayat muhkamat dan mutasyabihat berdasarkan ciri-ciri teks.
Siswa mampu menghafal definisi ayat muhkamat dan mutasyabihat.
Siswa mampu menganalisis ragam pendekatan penafsiran ayat mutasyabihat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah berdasarkan sumber tafsir dan karakter peserta didik.
Siswa mampu menyebutkan mufassir yang mendukung ayat muhkamat dalam sejarah tafsir klasik.
Siswa mampu mencatat pendapat ulama salaf dan khalaf tanpa mendiskusikan maknanya.
Pak Alwan menerapkan pendekatan Project Based Learning (PjBL) saat mengajar materi klasifikasi hadis kepada siswa kelas XI. Ia meminta setiap kelompok membuat poster digital yang menjelaskan perbedaan hadits shahih, hasan, dan dhaif berdasarkan struktur sanad, matan, dan kualitas perawi. Siswa berasal dari latar akademik yang beragam: sebagian unggul dalam literasi digital, sementara lainnya lebih kuat dalam pemahaman teks keagamaan. Dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran, Pak Alwan ingin memastikan proyek tersebut mencerminkan capaian yang seimbang antara struktur keilmuan hadis dan karakteristik peserta didik. Tujuan pembelajaran yang paling sesuai dianalisis berdasarkan pelaksanaan kegiatan dan struktur keilmuan hadis dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik adalah:
Siswa mampu menulis ulang definisi hadis shahih, hasan, dan dhaif sesuai buku ajar.
Siswa mampu menyusun poster digital tentang klasifikasi hadis berdasarkan pemahaman struktur sanad dan matan yang disesuaikan dengan kemampuan tiap kelompok.
Siswa mampu menghafal urutan sanad hadis berdasarkan kitab rujukan.
Siswa mampu menjelaskan ulang materi klasifikasi hadis secara lisan di depan kelas.
Siswa mampu mencatat kriteria hadis dhaif dari referensi kitab musthalah hadis.
Evaluasi tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan pendekatan DBL dan karakteristik peserta didik berdasarkan kasus di atas adalah:
Mengukur kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi siswa.
Menilai hafalan materi secara individual.
Fokus pada hasil akhir tanpa memperhatikan proses.
Mengutamakan penilaian tertulis saja.
Siswa mampu menyebutkan definisi takdir dan hari akhir berdasarkan dalil Al-Qur’an.
Siswa mampu menyebutkan definisi takdir dan hari akhir berdasarkan dalil Al-Qur’an.
Siswa mampu membedakan takdir muallaq dan mubram sebagai bentuk perencanaan hidup.
Siswa mampu menganalisis hubungan antara pemahaman takdir dan sikap bertanggung jawab dalam mempersiapkan hari akhir sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir siswa.
Siswa mampu menghafal ayat-ayat tentang qadar dan hari kiamat dari surat Yasin dan Al-Qiyamah.
Siswa mampu menyalin pendapat ulama klasik tentang hubungan qadar dan hari akhir.
Seorang mahasiswa PPG sedang merancang Modul Ajar untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di jenjang SMP. Ia ingin menyusun tujuan pembelajaran yang menekankan pembentukan akhlak karimah melalui pendekatan TPACK. Dalam tahap perencanaan, ia mengamati bahwa siswa di kelasnya memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku tokoh yang mereka kagumi, serta menyukai kegiatan berbasis proyek dan multimedia. Berdasarkan karakteristik peserta didik tersebut, manakah alur perencanaan materi ajar yang paling logis dalam membentuk akhlak karimah sebagai pilar pengembangan karakter bangsa?
Memulai dengan ceramah guru tentang pentingnya akhlak karimah, kemudian memberi tugas menulis makalah tentang tokoh-tokoh Islam
Memberikan tugas hafalan hadis tentang akhlak, kemudian menugaskan siswa membuat poster motivasi
Menayangkan video inspiratif tentang tokoh Islam berakhlak mulia, dilanjutkan proyek membuat vlog refleksi sikap positif di kehidupan sehari-hari
Menguji siswa dengan soal pilihan ganda tentang nilai-nilai moral, lalu mendiskusikan jawabannya secara kelompok
Menggunakan buku teks sebagai sumber utama, dan meminta siswa menjawab pertanyaan dari buku secara tertulis
Dalam sebuah kelas fiqih kontemporer di sebuah lembaga pendidikan, siswa dihadapkan pada dinamika pembelajaran yang menuntut integrasi antara pemahaman konsep fiqih dengan konteks kehidupan modern, seperti transaksi digital dan isu-isu bioetika. Seorang guru bernama Ustadz Farid ingin menerapkan pendekatan Deep Learning agar siswa tidak hanya menghafal hukum, tetapi mampu menganalisis dan mengambil sikap atas persoalan baru yang muncul. Ia mengamati bahwa para siswa berasal dari berbagai latar belakang pesantren dan sekolah umum, serta memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis yang berbeda. Dalam merancang alur materi ajar, ia ingin menyesuaikan urutan penyampaian materi dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik siswa agar hasil pembelajaran maksimal. Jika Anda berada pada posisi Ustadz Farid, bagaimana sebaiknya Anda menyusun alur materi ajar fiqih kontemporer agar mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dengan pendekatan Deep Learning yang sesuai dengan karakteristik siswa?
Memulai pembelajaran dengan diskusi studi kasus kontemporer untuk menggugah minat, lalu dilanjutkan dengan konsep dasar fiqih dan pembahasan dalilnya.
Menyusun materi ajar berdasarkan kronologi sejarah perkembangan fiqih agar siswa memahami akar permasalahan kontemporer.
Mengajarkan terlebih dahulu dalil-dalil hukum fiqih secara mendalam, baru kemudian memberi contoh kasus nyata agar pemahaman menjadi kuat.
Mengelompokkan siswa berdasarkan latar belakang pendidikan, lalu memberikan materi yang berbeda sesuai kemampuan masing-masing.
Fokus pada materi-materi yang sering keluar dalam ujian akhir, agar siswa merasa pembelajaran lebih relevan dan praktis.
Tujuan pembelajaran yang dapat dirancang oleh guru agar siswa lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah adalah...
Meningkatkan kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah
Mendorong siswa untuk bersaing dalam hal kebersihan pribadi
Mengajarkan siswa tentang pentingnya nilai akademik
Membiasakan siswa untuk membawa makanan dari rumah
Dari pilihan berikut, manakah yang paling logis dan tepat untuk mengembangkan materi ajar dalam merencanakan tujuan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik?
Siswa diajak menonton film dokumenter tentang daur ulang sampah, lalu diminta membuat resume
Siswa membuat proposal kegiatan bakti sosial di luar sekolah bersama komunitas lingkungan
Siswa diajak berdiskusi tentang pentingnya hidup hemat dan sehat, kemudian membuat komitmen pribadi
Siswa membuat proyek kebersihan lingkungan sekolah dan mempresentasikan proses serta dampaknya dalam kelompok
Siswa diminta menulis esai panjang tentang pentingnya menjaga lingkungan menurut ajaran agama
Seorang guru PAI di SMP ingin melaksanakan program Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil ‘Alamin (PPRA) melalui pembelajaran berbasis proyek. Tema yang diangkat adalah “Islam sebagai Rahmat bagi Sesama”. Siswa di kelas tersebut terdiri dari latar belakang sosial yang beragam dan seringkali terjadi konflik kecil akibat perbedaan pendapat. Guru ingin mengembangkan materi ajar yang menanamkan nilai toleransi, kasih sayang, dan kepedulian sosial sebagai implementasi tujuan pembelajaran. Manakah strategi pembelajaran berikut yang paling tepat untuk merancang materi ajar PPRA sesuai karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran?
Memberikan tugas membaca buku fiqih dan membuat ringkasan tentang toleransi dalam Islam
Menugaskan siswa menonton ceramah tokoh agama dan mencatat nilai-nilai universal yang disampaikan
Mengajak siswa membuat proyek aksi sosial lintas kelompok untuk membantu siswa yang kurang mampu, lalu menganalisis nilai keislaman yang diterapkan
Memberi soal pilihan ganda tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kasih sayang
Seorang guru PAI di SMA sedang mengangkat topik Islam sebagai agama wasathiyah (moderat) dalam konteks kehidupan masyarakat majemuk. Ia mengamati bahwa beberapa siswa di kelasnya sering mengunggah konten bernuansa intoleran di media sosial, meskipun mereka aktif dalam kegiatan keagamaan sekolah. Guru ingin menyusun kegiatan evaluatif untuk mengembangkan pemahaman siswa tentang moderasi beragama sesuai dengan karakteristik mereka. Manakah strategi evaluasi yang paling logis untuk membentuk pemahaman nilai moderasi beragama dalam konteks tersebut?
Memberikan kuis online tentang ciri-ciri Islam moderat
Menugaskan siswa membuat poster bertema toleransi antarumat beragama
Mengajak siswa menganalisis konten media sosial yang bersifat provokatif dan mendiskusikan respon keislaman yang wasathiyah
Memberikan tugas menulis ringkasan materi tentang Islam wasathiyah dari buku paket
Memutar video ceramah tokoh moderat dan meminta siswa membuat catatan isi ceramah
Seorang guru PAI di SMA mengamati bahwa dalam masyarakat sekitar sekolah terdapat praktik keberagamaan yang sangat eksklusif—kelompok tertentu tidak bersedia menghadiri acara keagamaan warga lainnya hanya karena perbedaan afiliasi ormas Islam. Guru merasa penting untuk menyisipkan materi tentang Islam sebagai agama wasathiyah dalam rencana ajar PAI. Ia ingin menyusun materi dengan alasan pedagogis yang kuat agar siswa memahami pentingnya bersikap moderat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Berdasarkan situasi di atas, manakah alasan yang paling tepat bagi guru dalam memilih pendekatan materi Islam moderat?
Karena nilai-nilai wasathiyah hanya ditemukan dalam budaya masyarakat Indonesia
Karena materi Islam moderat mudah diterima semua siswa dan tidak menyinggung siapa pun
Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pilihan berikut:
Karena Islam moderat dapat mendorong siswa berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk
Karena Islam moderat merupakan kurikulum wajib pemerintah dan harus disampaikan
Karena mayoritas peserta didik berasal dari latar belakang Islam moderat
Dalam suatu kelas Tafsir yang mengajarkan metode tafsir ayat-ayat hukum, guru menginginkan mahasiswa dapat memahami konteks hukum dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan mampu menganalisisnya secara mendalam. Guru tersebut memberikan studi kasus terkait ayat-ayat yang berbicara mengenai hukum waris, dan meminta mahasiswa untuk menemukan berbagai pendekatan tafsir yang berbeda serta mengidentifikasi pemahaman yang dapat diterapkan dalam konteks sosial saat ini. Sebagai seorang pengajar, Anda dihadapkan pada situasi di mana Anda harus merancang pembelajaran berbasis masalah untuk topik ini. Anda berencana untuk mengajak mahasiswa mendiskusikan penerapan hukum waris dalam konteks kehidupan nyata, dan memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi tafsir dengan mengkaji berbagai perbedaan tafsir yang ada.
a. Menggunakan ceramah panjang tentang ayat-ayat hukum waris dan menugaskan mahasiswa untuk membuat ringkasan dari ceramah tersebut.
b. Mengorganisasi diskusi kelompok yang memfokuskan pada perbandingan tafsir klasik dan kontemporer terhadap hukum waris, serta bagaimana penerapannya di masyarakat modern.
c. Memberikan soal ujian tentang tafsir hukum waris dengan jawaban benar-salah untuk menguji pemahaman mahasiswa.
d. Menugaskan mahasiswa untuk mempelajari tafsir ayat waris secara individu dan kemudian menulis esai tentang satu tafsir tertentu yang mereka pilih.
e. Menggunakan metode demonstrasi dengan memberikan contoh konkret penerapan hukum waris, tanpa melibatkan mahasiswa dalam analisis lebih lanjut.
Seorang mahasiswa sedang merancang Modul Ajar untuk pembelajaran materi klasifikasi hadis di MA. Ia ingin menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis masalah agar siswa lebih memahami fungsi klasifikasi hadis dalam kehidupan nyata. Dalam diskusi kelompok, salah satu rekan menyarankan agar siswa diberi proyek membuat skenario ceramah yang membedakan hadis sahih dan dhaif, sementara yang lain mengusulkan pemanfaatan pertanyaan pemantik yang mengarah pada kasus penyebaran hadis palsu di media sosial. Berdasarkan prinsip pedagogik dan struktur keilmuan materi hadis, pendekatan mana yang paling tepat untuk memfasilitasi keterlibatan siswa secara aktif melalui PBL?
Menyajikan teks hadis tanpa konteks untuk dihafalkan dan diklasifikasikan oleh siswa.
Memberikan contoh hadis populer lalu meminta siswa mengidentifikasi sanad dan matannya.
Menugaskan siswa meneliti penyebaran hadis palsu di media sosial dan menyusun laporan analisanya.
Meminta siswa menulis ceramah singkat berdasarkan klasifikasi hadis dari buku teks.
Mengajak siswa berdiskusi tentang hadis-hadis motivasi yang sering disampaikan di sekolah.
Seorang guru PAI di MA merancang pembelajaran interaktif tentang “Hubungan Takdir dengan Iman kepada Hari Akhir” dengan pendekatan PBL dan pemanfaatan teknologi. Ia ingin siswa mengeksplorasi bagaimana peristiwa di dunia digital seperti berita hoaks tentang ramalan kiamat dapat menjadi bahan kajian untuk memahami konsep takdir dan hari akhir. Guru tersebut menyediakan link artikel-artikel berita, kemudian meminta siswa berdiskusi dalam forum daring dan menyusun presentasi digital yang menjelaskan posisi Islam terhadap ramalan seperti itu. Dari langkah-langkah berikut, mana yang paling menggambarkan penerapan pembelajaran berbasis masalah dan pemanfaatan teknologi secara tepat?
Menyuruh siswa mengambil dalil tentang hari kiamat dari Al-Qur’an dan Hadis.
Menyuruh siswa membaca artikel tentang ramalan kiamat dan mendiskusikannya secara daring, lalu membuat presentasi digital tentang posisi Islam terhadap ramalan tersebut.
Menyuruh siswa menulis esai tentang hubungan takdir dan hari akhir.
Menyuruh siswa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an tentang hari kiamat.
Dalam praktik pembelajaran daring, seorang mahasiswa PAI yang sedang menjalani PPL mengajarkan materi “Mu’jizat, Karamah, dan Sihir” kepada siswa kelas XI MA. Ia menyadari bahwa kelas tersebut terdiri dari siswa dengan gaya belajar yang beragam: ada yang lebih cepat memahami melalui penjelasan visual, ada yang senang diskusi, dan ada pula yang cenderung reflektif dan tenang. Untuk memastikan semua siswa memahami perbedaan antara mu’jizat, karamah, dan sihir sesuai struktur keilmuannya, ia ingin menerapkan pendekatan berbasis perbedaan individu. Manakah rancangan pembelajaran yang paling sesuai dengan pendekatan tersebut?
Memberikan ceramah umum dan menugaskan siswa menyalin penjelasan guru dalam buku catatan.
Menyediakan pilihan aktivitas seperti membuat infografis, menulis esai, atau menyusun dialog antara tokoh tentang mu’jizat, karamah, dan sihir.
Menyuruh seluruh siswa membuat ringkasan dari buku teks yang sudah ditentukan.
Menyajikan satu video animasi tentang kisah mu’jizat Nabi Musa, lalu memberikan kuis langsung.
Mengadakan debat kelompok tentang praktik sihir dalam kehidupan modern secara seragam.
Pendekatan manakah yang paling efektif dalam konteks ini?
Menyampaikan kisah tokoh Islam secara naratif dan meminta semua siswa membuat resume yang sama.
Mengadakan debat kelas tentang tantangan akhlak remaja masa kini tanpa mempertimbangkan minat siswa.
Menyediakan media pembelajaran bervariasi (video, teks, podcast) dan memberi kebebasan siswa memilih untuk kemudian merespon melalui refleksi personal atau diskusi kelompok.
Memberikan satu tugas refleksi tertulis bagi semua siswa dengan batasan format dan panjang tertentu.
Mengundang narasumber dan meminta semua siswa menyalin materi ceramah dalam buku catatan.
Seorang guru PAI hendak mengajarkan materi fiqih kontemporer dengan topik Etika Penggunaan Media Sosial dalam Islam. Ia menyadari bahwa kelasnya terdiri dari siswa dengan latar belakang dan kebiasaan digital yang berbeda: ada yang aktif membuat konten, ada yang pasif sebagai pengamat, dan ada pula yang cenderung kritis terhadap isu-isu digital. Guru ingin mengintegrasikan pembelajaran berbasis perbedaan individu dan teknologi, sembari tetap menjaga kesesuaian materi dengan struktur keilmuan fiqih. Pendekatan mana yang paling ideal untuk diterapkan?
Memberikan tugas membuat vlog dakwah untuk semua siswa dengan tema dan durasi yang sama.
Menyuruh siswa membaca fatwa MUI dan menuliskan ulang isinya dalam bentuk laporan individu.
Menyediakan berbagai pilihan aktivitas: membuat video dakwah, menulis opini di blog, atau membuat infografis etika digital, lalu mendiskusikannya dalam forum daring.
Mengunduh artikel dari media online dan meminta siswa menyalin poin pentingnya.
Seorang guru PAI sedang menyusun strategi pembelajaran untuk materi "Hak-Hak Rakyat dalam Perspektif Islam". Ia menyadari bahwa siswa cenderung hanya menghafal definisi atau ayat terkait hak-hak rakyat tanpa memahami nilai substansial seperti keadilan, keterlibatan warga, dan tanggung jawab sosial. Guru ingin membangun pemahaman yang mendalam, sehingga siswa tidak hanya tahu, tetapi mampu merefleksikan dan mengaitkan materi tersebut dengan isu-isu sosial saat ini. Manakah rancangan pembelajaran berikut yang paling tepat untuk mewujudkan pendekatan pembelajaran mendalam sesuai struktur keilmuan Islam?
Menugaskan siswa membuat mind map isi pasal hak rakyat dalam Islam dari buku ajar.
Mengadakan tanya jawab seputar definisi hak dan kewajiban rakyat dalam Al-Qur’an.
Menayangkan dokumenter tentang ketimpangan sosial, lalu meminta siswa mendiskusikan relevansi prinsip keadilan Islam dalam konteks tersebut dan membuat esai reflektif.
Memberikan tugas kelompok untuk membuat poster tentang hak rakyat menurut pandangan Islam.
Menyuruh siswa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an tentang hak rakyat dan menyetorkannya di depan kelas.
Dalam mata kuliah Perencanaan Pembelajaran PAI, mahasiswa diminta menyusun desain pembelajaran yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Islam yang relevan dengan tantangan kepemudaan saat ini. Mahasiswa menyadari bahwa banyak siswa di sekolah mengalami kebingungan dalam memahami konsep kepemimpinan Islami secara praktis karena pendekatan sebelumnya hanya bersifat informatif. Untuk menumbuhkan pemahaman mendalam dan aplikatif, rancangan manakah yang paling sesuai?
Meminta siswa membaca buku sejarah Islam dan merangkum setiap bab secara tertulis kemudian mempresentasikan didepan teman-teman sekelas.
Membagi siswa dalam kelompok untuk mementaskan drama sejarah masa Khulafaur Rasyidin.
Menyajikan studi kasus kepemimpinan pelajar di sekolah, kemudian siswa menganalisis prinsip kepemimpinan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Apa jawaban yang benar dari pilihan berikut?
Memberikan tugas membuat daftar khalifah dan prestasi pemerintahannya.
Menugaskan siswa mencari biografi khalifah Islam dan mempresentasikannya di depan kelas.
Menyajikan studi kasus kepemimpinan pelajar di sekolah, kemudian siswa menganalisis prinsip kepemimpinan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
Menugaskan siswa mencari biografi khalifah Islam dan mempresentasikannya di depan kelas.
Di sebuah sekolah menengah, Ibu Rani sebagai guru PPKn menghadapi dilema ketika siswanya menunjukkan perilaku tidak jujur dalam mengerjakan tugas daring. Ia menyadari bahwa karakter kejujuran penting untuk dibentuk sejak dini. Ibu Rani ingin merancang pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan konten kognitif, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran secara mendalam dengan pendekatan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) dan memanfaatkan teknologi secara efektif. Manakah strategi pembelajaran yang paling tepat diterapkan Ibu Rani agar mampu membentuk karakter kejujuran siswa secara mendalam melalui pemanfaatan teknologi?
Menugaskan siswa membuat jurnal refleksi pribadi tentang kejujuran lalu mengunggahnya di platform LMS sekolah.
Memberikan tugas pilihan ganda tentang kejujuran melalui aplikasi kuis daring seperti Kahoot.
Meminta siswa menonton video edukatif tentang kejujuran dan menuliskan ringkasannya.
Membentuk kelompok diskusi online lalu meminta siswa berdiskusi tentang pentingnya kejujuran dengan panduan soal dari guru.
Memberikan tugas membuat video kampanye tentang kejujuran dan mendiskusikannya dalam forum virtual secara kritis.
Integrasi TPACK dapat membantu pembelajaran yang kontekstual, aktif, dan reflektif dengan cara:
Menggabungkan pengetahuan teknologi, pedagogik, dan konten untuk menciptakan pembelajaran yang relevan dan bermakna.
Menggunakan teknologi tanpa memperhatikan konten dan pedagogi.
Fokus hanya pada penggunaan buku teks dalam pembelajaran.
Mengabaikan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.
Manakah rancangan pembelajaran yang paling tepat dipilih Pak Fikri untuk menciptakan pembelajaran bermakna dengan pendekatan TPACK?
Memberikan tugas makalah tentang konsep moderasi Islam berdasarkan buku teks wajib yang tersedia di perpustakaan kampus.
Menyajikan video dokumenter tentang pluralitas masyarakat Indonesia, lalu meminta mahasiswa membuat vlog refleksi pribadi terkait prinsip moderasi dalam Islam.
Mengadakan kuis online tentang dalil moderasi Islam menggunakan aplikasi kahoot dan memberi reward bagi nilai tertinggi.
Mengajak mahasiswa membaca artikel jurnal internasional tentang moderasi Islam dan mendiskusikannya secara tatap muka.
Menyampaikan ceramah daring melalui Zoom tentang moderasi Islam, kemudian memberikan tugas rangkuman kepada mahasiswa.
Dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam, mahasiswa semester 6 diminta merancang pembelajaran tentang Islam sebagai agama yang moderat (wasathiyah) untuk peserta didik SMA. Dosen mendorong penggunaan pendekatan TPACK agar calon guru mampu mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten secara harmonis. Salah satu mahasiswa, Fikri, berencana menyampaikan materi dengan metode ceramah dan menugaskan siswa menulis esai tanpa menggunakan perangkat digital apa pun. Ketika ditinjau ulang, rencana pembelajarannya dinilai belum mencerminkan pendekatan TPACK secara utuh. Berdasarkan kasus ini, rancangan pembelajaran mana yang lebih sesuai dengan pendekatan TPACK untuk materi Islam moderat?
Menyampaikan materi melalui ceramah konvensional dan menguji siswa melalui tes tulis akhir.
Menugaskan siswa menonton video khutbah dan menulis tanggapan secara tertulis.
Menggunakan platform diskusi daring, metode debat terstruktur, dan media visual untuk mengkaji nilai-nilai Islam moderat.
Mengutamakan tanya jawab kelas dan mencatat poin penting di papan tulis tanpa pendampingan media digital.
Dalam sebuah kelas tafsir, guru menyampaikan kajian tentang peran perempuan dalam Al-Qur'an hanya berdasarkan tafsir klasik tanpa membahas konteks sosial kekinian. Siswa merasa pembelajaran kurang relevan, terutama dalam memahami isu-isu kesetaraan gender dalam masyarakat modern. Guru kemudian mengevaluasi pendekatannya dan ingin mengubah strategi menjadi Problem-Based Learning (PBL) untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aman, kritis, dan membangun karakter unggul. Berdasarkan kasus ini, strategi pembelajaran mana yang paling sesuai untuk digunakan?
Menugaskan siswa menulis ulang tafsir klasik dengan gaya bahasa modern.
Memberikan ceramah tambahan tentang tafsir gender kontemporer tanpa ruang diskusi.
Menyediakan studi kasus tentang praktik diskriminasi perempuan di masyarakat dan meminta siswa mencari solusi berdasarkan ayat dan tafsir kontemporer.
Menginstruksikan siswa untuk membaca kitab tafsir secara individu lalu membuat resume.
Memberikan tugas kelompok untuk membandingkan dua kitab tafsir tanpa menghubungkannya dengan kondisi sosial saat ini.
Seorang guru mata pelajaran Hadis di MA menyampaikan materi klasifikasi hadis dengan pendekatan konvensional melalui ceramah dan hafalan definisi hadis shahih, hasan, dan dhaif. Setelah beberapa pertemuan, sebagian siswa menunjukkan kebosanan dan kurang memahami aplikasi klasifikasi dalam kehidupan nyata. Guru kemudian menyadari bahwa strategi tersebut tidak cukup membentuk karakter unggul dan daya saing abad ke-21. Ia pun ingin menerapkan Project-Based Learning (PjBL) agar siswa lebih aktif, kolaboratif, dan kontekstual. Dari opsi berikut, strategi pembelajaran manakah yang paling tepat digunakan guru untuk memperbaiki proses belajarnya?
Memberikan tugas membuat ringkasan dari kitab Tadrib al-Rawi tentang klasifikasi hadis.
Menugaskan siswa untuk membuat proyek katalog hadis dari sumber digital dengan klasifikasi dan alasan pengelompokan berdasarkan kriteria ilmiah.
Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas XI MA, seorang guru menjelaskan hubungan antara takdir dan iman kepada hari akhir secara teoritis dengan pendekatan ceramah dan satu jenis soal evaluasi tertulis. Beberapa siswa menunjukkan kebingungan karena tidak semua memahami konsep abstrak tersebut dengan cara yang sama. Guru kemudian menyadari bahwa pendekatannya tidak memperhatikan perbedaan gaya belajar dan kesiapan siswa. Untuk menciptakan suasana belajar yang membahagiakan dan membentuk karakter unggul, guru mempertimbangkan penerapan Differentiation Based Learning (DL). Strategi manakah yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut?
Menugaskan seluruh siswa membaca satu buku teks lalu menjawab soal evaluasi yang sama.
Menjelaskan ulang materi dengan gaya bahasa yang lebih sederhana kepada seluruh kelas.
Memberikan pilihan tugas kepada siswa: membuat mind map, menulis refleksi pribadi, atau membuat video pendek tentang takdir dan hari akhir.
Menyuruh siswa menghafal dalil-dalil naqli tentang takdir dan hari akhir sebagai syarat kelulusan.
Membagi siswa dalam kelompok acak dan meminta mereka berdiskusi berdasarkan petunjuk guru tanpa penyesuaian kemampuan.
Dalam pembelajaran Akidah Islamiyah, apa kelemahan utama dari pendekatan tradisional yang hanya berfokus pada narasi kitab klasik tanpa mengaitkan dengan isu-isu kontemporer?
Siswa merasa topik tidak relevan dengan realitas zaman modern
Siswa menjadi lebih aktif dalam diskusi
Materi menjadi lebih mudah dipahami
Guru lebih mudah mengaitkan dengan teknologi
PPG, diminta merancang ulang skenario pembelajaran dengan model yang berorientasi pada Deep Learning agar mahasiswa memahami nilai-nilai spiritual dalam konteks kekinian dan mampu bersikap kritis terhadap fenomena yang menyerupai sihir modern. Pendekatan mana yang paling tepat digunakan?
Menggunakan metode ceramah mendalam disertai penugasan hafalan dalil untuk menguatkan pemahaman dasar.
Menyampaikan materi secara normatif dengan membedakan secara kaku antara mu’jizat, karomah, dan sihir.
Menyusun pembelajaran berbasis proyek, di mana siswa meneliti dan menganalisis fenomena modern yang dikaitkan dengan mu’jizat atau sihir.
Menghindari diskusi kritis untuk menjaga keimanan siswa dan fokus pada pemahaman literal kitab.
Menekankan pada pengalaman spiritual pribadi siswa dan membebaskan interpretasi tanpa acuan akademik.
Dalam pembelajaran akhlak karimah di kelas XI, seorang guru menggunakan metode ceramah dan hafalan nas-nas klasik yang tidak dikaitkan dengan realitas kehidupan siswa masa kini. Akibatnya, beberapa siswa menganggap materi akhlak sebagai sesuatu yang ideal tetapi tidak relevan dalam kehidupan nyata. Dalam evaluasi pembelajaran, guru menyadari kurangnya konektivitas antara teknologi, pedagogi, dan konten dalam pengajaran tersebut. Jika Anda adalah guru tersebut dan ingin mengadaptasi model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan TPACK, langkah terbaik yang dapat Anda ambil adalah:
Menambahkan tugas makalah tentang akhlak dengan kutipan dari kitab klasik.
Mengubah pendekatan ceramah menjadi kuis interaktif berbasis teknologi.
Menyusun proyek pembuatan video pendek tentang akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Meminta siswa membaca biografi tokoh ulama besar dan membuat ringkasan.
Memberikan latihan soal daring dengan format pilihan ganda di platform LMS.
Seorang guru Fiqih kontemporer masih menyampaikan materi dengan pendekatan hukum klasik tanpa membahas isu-isu modern seperti fintech syariah, gaya hidup halal digital, dan persoalan hukum dalam budaya populer. Siswa tampak kebingungan karena tidak melihat keterkaitan antara materi dengan realitas yang mereka alami. Dalam diskusi kelas, beberapa siswa menyampaikan keresahan dan kebingungan mereka, tetapi guru tidak menindaklanjuti secara personal maupun pedagogis. Sebagai seorang guru yang sedang melaksanakan PPG, anda diminta untuk merancang pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan progresif untuk menyampaikan materi tersebut. Dari pilihan berikut, pendekatan mana yang paling mencerminkan penggunaan model pembelajaran berbasis pelayanan bimbingan konseling yang sesuai dengan tujuan pembelajaran progresif dan membentuk lulusan berkarakter unggul?
Menugaskan siswa membaca kitab Fiqih klasik dan merangkum isi bab terkait muamalah.
Mengarahkan siswa untuk mendiskusikan permasalahan Fiqih modern tanpa pembahasan lebih lanjut.
Memberikan ruang curhat terbuka tanpa dikaitkan dengan materi pembelajaran.
Merancang sesi konseling kelompok tematik, di mana siswa berbagi pengalaman tentang isu Fiqih modern yang mereka hadapi, lalu dipandu untuk menemukan solusi berbasis nilai-nilai Islam.
Mengadakan kuis tentang hukum Fiqih tradisional untuk mengukur pengetahuan awal siswa.
Sebagai guru PPG, apa langkah utama yang harus dilakukan untuk memperbaiki pendekatan pembelajaran agar seluruh siswa, termasuk yang memiliki gangguan pendengaran, merasa dihargai dan terlibat?
Menyesuaikan materi dan menyediakan fasilitas pendukung aksesibilitas bagi semua siswa.
Mengurangi diskusi tentang hak digital dan layanan publik.
Fokus hanya pada sistem pemerintahan klasik tanpa perubahan.
Memberikan tugas tambahan kepada siswa dengan kebutuhan khusus.
Dari pilihan berikut, manakah pendekatan yang paling sesuai untuk menciptakan pembelajaran yang akomodatif dan inklusif berdasarkan pelayanan ABK?
Menyediakan ringkasan tertulis dan video pembelajaran dengan subtitle agar dapat diakses oleh semua siswa, termasuk yang memiliki gangguan pendengaran.
Mengarahkan siswa untuk mencatat pembahasan diskusi tanpa fasilitasi tambahan.
Mengurangi topik diskusi agar lebih mudah dicerna oleh siswa berkebutuhan khusus.
Menyediakan pengawas khusus selama ujian akhir bagi siswa dengan disabilitas.
Menyeragamkan metode evaluasi dengan menggunakan soal esai bagi semua siswa.
Dalam sebuah proses pembelajaran Sejarah Perkembangan Kepemimpinan Islam, guru menyampaikan materi yang sangat berfokus pada biografi tokoh-tokoh khulafaur rasyidin secara kronologis, tanpa mengaitkannya dengan tantangan kepemimpinan kontemporer seperti kepemimpinan etis dalam era digital, inklusivitas gender, atau kepemimpinan transformatif. Jika siswa terlihat kurang antusias dan merasa materi terlalu normatif dan kurang aplikatif. Jika anda diminta untuk mendesain ulang pendekatan pembelajaran agar lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan masa kini, maka strategi pembelajaran manakah yang paling mencerminkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman dalam menyampaikan materi kepemimpinan Islam untuk menghasilkan lulusan yang adaptif dan berkarakter?
Menugaskan mahasiswa membaca buku sejarah Islam dan membuat resume setiap pertemuan.
Menyajikan film dokumenter tentang sejarah khilafah tanpa refleksi kontekstual.
Mengembangkan proyek kepemimpinan sosial berbasis nilai Islam yang diintegrasikan dengan isu kontemporer seperti kepemimpinan etis di media sosial.
Mengadakan ujian tulis tengah semester tentang nama dan periode pemerintahan para khalifah.
Melakukan pembelajaran oleh guru sejarah Islam tanpa interaksi aktif.
Dalam proses pembelajaran dengan tema Pendidikan Karakter Islam, seorang guru menggunakan pendekatan hafalan nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, dan tanggung jawab, yang dipelajari secara terpisah dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Seorang guru tersebut tidak mengaitkan materi dengan tantangan zaman seperti budaya instan, hoaks digital, dan budaya konsumtif. Akibatnya, mahasiswa merasa bahwa materi tersebut terlalu normatif dan kurang bermakna. Mahasiswa PPG yang mengikuti kelas tersebut diminta mengevaluasi pendekatan pembelajaran tersebut dan menyusun pendekatan baru yang lebih progresif dan kontekstual.
Memberikan tugas membuat poster tentang nilai-nilai karakter secara teoritis.
Melakukan pembelajaran dengan studi kasus etika sehari-hari berbasis pengalaman nyata mahasiswa dan membahasnya secara reflektif.
Menugaskan mahasiswa menulis definisi setiap nilai karakter dari buku teks.
Menyampaikan ceramah dengan narasi kisah tokoh-tokoh teladan klasik.
Menyuruh mahasiswa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan karakter tanpa penjelasan aplikatif.
Pendekatan pembelajaran manakah yang paling relevan untuk menciptakan pembelajaran Islam moderat yang kontekstual dan membahagiakan?
Pendekatan kontekstual dan humanis
Pendekatan dogmatis dan tekstual
Pendekatan otoriter dan kaku
Pendekatan indoktrinasi tanpa dialog
Pilihlah teknik pembelajaran yang paling efektif untuk menanamkan prinsip moderasi kepada siswa!
Menugaskan siswa menghafal definisi moderasi dan menyebutkan tokoh-tokoh pendukungnya.
Mengajak siswa berdiskusi tentang pengalaman mereka menghadapi perbedaan pandangan agama di media sosial, lalu mengaitkannya dengan prinsip wasathiyah.
Mengadakan kuis mingguan dengan soal-soal pilihan ganda dari materi buku teks.
Menyajikan ceramah panjang tentang moderasi dari tokoh klasik tanpa dialog.
Mengarahkan siswa membuat makalah akademik tanpa presentasi atau diskusi.
Dalam pembelajaran tafsir tematik, seorang guru menggunakan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) dengan topik “Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an”. Siswa diminta mengkaji ayat-ayat yang relevan, mengaitkannya dengan isu kemiskinan struktural, lalu menyusun solusi berbasis nilai Al-Qur’an dalam bentuk proyek sosial sederhana. Selama proses, mahasiswa menunjukkan diskusi aktif, kerja kelompok yang efektif, dan beberapa mengalami konflik dalam menyamakan pendapat. Teknik asesmen manakah yang paling tepat untuk menilai aspek sikap peserta didik dalam pembelajaran tersebut?
Ujian esai individual tentang makna keadilan sosial dalam Al-Qur’an
Kuis daring tentang kandungan ayat-ayat keadilan
Observasi perilaku kolaboratif menggunakan lembar observasi sikap selama diskusi kelompok
Penilaian portofolio tugas akhir proyek sosial mahasiswa
Presentasi lisan tentang hasil analisis tafsir tematik
Salah satu guru yang melaksanakan PPG, Rina, merancang proyek berupa pembuatan video edukatif tentang klasifikasi hadis. Ia bingung memilih instrumen asesmen yang mampu menilai aspek keterampilan dan sikap secara adil untuk semua karakter siswa. Dari pilihan berikut, manakah kombinasi instrumen asesmen yang paling tepat untuk menilai keterampilan dan sikap siswa dalam proyek tersebut?
Tes tertulis dan angket sikap diri
Rubrik performa dan observasi selama kerja kelompok
Kuis daring dan portofolio
Penilaian teman sebaya dan tes pilihan ganda
Lembar refleksi individu dan jurnal harian
Pak Ridwan, guru PAI kelas XI, mengajarkan materi "hubungan antara takdir dan iman kepada hari akhir" menggunakan pendekatan Deep Learning. Ia mendorong siswa untuk menggali secara mendalam makna ikhtiar dan qadha’ qadar melalui diskusi, refleksi diri, dan penugasan proyek yang melibatkan observasi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan belajar kelasnya sangat dinamis dan kolaboratif, dengan siswa berasal dari latar belakang keluarga dan pemahaman keagamaan yang beragam. Di akhir pembelajaran, Pak Ridwan ingin menilai capaian belajar siswa dari ketiga domain: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Teknik asesmen manakah yang paling tepat ia gunakan untuk mengukur hasil belajar secara mendalam dan kontekstual?
Ulangan pilihan ganda dan isian singkat untuk mengukur daya ingat siswa.
Penilaian portofolio yang mencakup jurnal refleksi, hasil proyek, dan observasi sikap.
Pemberian soal uraian tertulis tentang definisi takdir dan hari akhir.
Kuis daring mingguan sebagai bentuk latihan penguatan materi.
Pretest-posttest berbasis aplikasi untuk melihat peningkatan nilai kognitif.
Lingkungan belajar yang dibentuk sangat terbuka dan partisipatif, memfasilitasi setiap siswa untuk berpendapat tanpa takut salah. Setelah pembelajaran berlangsung, Pak Hasyim ingin menilai aspek sikap yang muncul selama proses tersebut. Instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan dalam kondisi tersebut?
Soal uraian tertulis tentang makna mu’jizat dan karomah.
Tes pilihan ganda dengan fokus pada perbedaan konsep.
Rubrik observasi keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok.
Lembar penilaian diri berdasarkan hasil presentasi.
Jurnal harian siswa tentang pengalaman belajar di kelas.
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, seorang guru merancang pembelajaran dengan tujuan agar siswa mampu menunjukkan perilaku jujur dan tanggung jawab sebagai bagian dari implementasi akhlak karimah di kehidupan sehari-hari. Selama pembelajaran, guru menggunakan metode diskusi kelompok dan presentasi studi kasus. Di akhir pertemuan, guru ingin mengevaluasi capaian sikap siswa secara otentik dan berkelanjutan, agar dapat memberikan umpan balik yang bermakna dan membina karakter mahasiswa. Teknik asesmen manakah yang paling tepat digunakan oleh guru untuk mengukur pencapaian sikap mahasiswa dalam pembelajaran tersebut?
Tes esai reflektif terkait nilai-nilai akhlak dalam studi kasus
Penilaian diri (self-assessment) dan teman sejawat (peer assessment) dengan rubrik observasi sikap
Kuis formatif tentang konsep akhlak karimah
Penilaian portofolio tugas tertulis selama satu semester
Observasi perilaku mahasiswa saat ujian tertulis berlangsung
Mahasiswa dibagi dalam kelompok untuk meneliti pandangan ulama, studi kasus di masyarakat, serta implikasi hukum dan sosialnya. Di akhir perkuliahan, mahasiswa diminta menyusun simulasi forum bahtsul masail yang menampilkan argumen hukum Islam secara kritis dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Bu Nisa ingin menetapkan instrumen asesmen yang mampu mengevaluasi ketepatan argumentasi, sikap terhadap perbedaan, dan keterampilan komunikasi hukum Islam. Instrumen asesmen manakah yang paling tepat?
Kuis berbasis studi kasus untuk mengukur ketepatan analisis hukum
Rubrik penilaian performa dalam simulasi bahtsul masail
Tes esai individu tentang hukum fiqh pada kasus bayi tabung
Angket sikap mahasiswa terhadap penerapan fiqih kontemporer
Jurnal reflektif mengenai pandangan pribadi tentang etika reproduksi
Dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Perspektif Islam, Pak Fikri mengajarkan topik hak-hak rakyat dalam Islam, seperti hak hidup, hak memperoleh keadilan, dan hak menyuarakan pendapat. Sebelumnya, ia telah melakukan asesmen awal berupa angket sikap untuk mengetahui pandangan mahasiswa terhadap praktik keadilan sosial di masyarakat mereka masing-masing. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki sikap positif, tetapi masih kurang dalam penguasaan konsep dan kemampuan menyampaikan argumen hukum Islam secara lisan. Untuk menindaklanjuti hasil asesmen awal tersebut, Pak Fikri ingin memilih teknik asesmen sumatif yang dapat menilai perkembangan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam mengaitkan nilai-nilai Islam dengan realitas sosial. Teknik asesmen manakah yang paling tepat ia gunakan?
Tes esai tertulis tentang prinsip-prinsip hak rakyat dalam Al-Qur’an dan hadis
Diskusi terbuka tanpa panduan untuk mengeksplorasi pandangan mahasiswa
Simulasi debat antar kelompok dengan topik penerapan hak rakyat dalam sistem hukum modern
Kuis daring dengan pertanyaan pilihan ganda tentang konsep hak dalam Islam
Jurnal reflektif tentang pengalaman mahasiswa menyuarakan hak dalam masyarakat
Dalam mata kuliah Sejarah Islam, Pak Irham mengajarkan materi perkembangan kepemimpinan Islam dari masa Khulafaur Rasyidin hingga masa Abbasiyah. Sebelumnya, ia telah melakukan asesmen awal berupa tes uraian yang menunjukkan mahasiswa memahami kronologi sejarah dan tokoh-tokoh utama, tetapi belum dapat mengaitkan prinsip kepemimpinan Islam dengan konteks kepemimpinan modern. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sikap reflektif mahasiswa terhadap isu kepemimpinan saat ini, Pak Irham ingin menggunakan teknik asesmen lanjutan yang dapat menilai integrasi pengetahuan historis, sikap terhadap nilai-nilai kepemimpinan Islam, serta keterampilan analisis. Instrumen asesmen manakah yang paling tepat?
Kuis pilihan ganda tentang perbedaan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Harun al-Rasyid
Tes esai tentang kontribusi Khulafaur Rasyidin dalam pembentukan pemerintahan Islam
Presentasi kelompok tentang relevansi prinsip kepemimpinan Islam dengan kepemimpinan masa kini
Jurnal individu tentang pemimpin Muslim favorit sepanjang Sejarah
Diskusi kelas tanpa format untuk mengeksplorasi kepemimpinan dalam Islam
Di sebuah SMP, Bu Nisa sedang mengajar materi "Toleransi dalam Keberagaman" di kelas VIII. Sebelum memulai pembelajaran, ia melakukan asesmen awal berupa angket sikap yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pandangan yang sempit terhadap perbedaan budaya dan agama. Dalam pembelajaran, Bu Nisa menggunakan metode diskusi kelompok dan simulasi peran untuk mengeksplorasi pentingnya menghargai perbedaan. Setelah pembelajaran selesai, Bu Nisa ingin mengevaluasi perubahan sikap siswa serta memahami sejauh mana siswa dapat merefleksikan nilai toleransi secara mendalam. Teknik asesmen manakah yang paling tepat dipilih Bu Nisa untuk menilai keberhasilan pembelajaran berdasarkan hasil asesmen awal tersebut?
Tes pilihan ganda mengenai definisi dan contoh toleransi
Lembar observasi perilaku siswa selama diskusi
Refleksi tertulis tentang pengalaman pribadi dalam menghadapi perbedaan
Pak Amir mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas XI dengan topik “Islam sebagai Agama yang Moderat.” Sebelum pembelajaran dimulai, ia menggunakan angket sikap dan hasilnya menunjukkan bahwa beberapa siswa memiliki kecenderungan memahami Islam secara eksklusif, dengan sikap kurang terbuka terhadap perbedaan pendapat. Dalam proses pembelajaran, Pak Amir menggunakan metode studi kasus dan diskusi terbuka tentang tokoh-tokoh Islam moderat serta praktik moderasi dalam sejarah Islam. Setelah pembelajaran, ia ingin mengukur efektivitas pendekatan tersebut dalam membentuk sikap inklusif siswa. Instrumen asesmen manakah yang paling sesuai digunakan Pak Amir untuk mengukur perubahan sikap siswa secara mendalam setelah proses pembelajaran tersebut?
Tes objektif mengenai ciri-ciri Islam moderat
Lembar observasi perilaku siswa saat diskusi
Angket sikap dengan skala Likert tertutup
Refleksi tertulis mengenai pandangan pribadi sebelum dan sesudah pembelajaran
Rubrik presentasi tentang tokoh-tokoh Islam moderat
Praktik terbaik apa yang seharusnya dilakukan Pak Rahmat untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajarannya secara berkelanjutan?
Melakukan refleksi dan evaluasi secara rutin terhadap proses pembelajaran
Mengabaikan umpan balik dari siswa
Menggunakan metode yang sama tanpa perubahan setiap tahun
Menghindari kolaborasi dengan rekan sejawat
a. Memberikan tugas mandiri kepada mahasiswa agar mencari sendiri kaitan fiqih klasik dan isu kontemporer. b. Membekali mahasiswa dengan kerangka berpikir berbasis maqashid syariah sebelum diskusi. c. Menugaskan mahasiswa membuat laporan tertulis setelah menonton video. d. Mengurangi penggunaan teknologi dan berfokus pada teks fiqih klasik saja. e. Memberi kebebasan penuh tanpa intervensi agar mahasiswa belajar lebih mandiri.
Memberikan tugas mandiri kepada mahasiswa agar mencari sendiri kaitan fiqih klasik dan isu kontemporer.
Membekali mahasiswa dengan kerangka berpikir berbasis maqashid syariah sebelum diskusi.
Menugaskan mahasiswa membuat laporan tertulis setelah menonton video.
Mengurangi penggunaan teknologi dan berfokus pada teks fiqih klasik saja.
Memberi kebebasan penuh tanpa intervensi agar mahasiswa belajar lebih mandiri.
Dalam mata kuliah "Perkembangan Kepemimpinan Islam", Pak Hasan ingin mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Ia menggunakan platform media sosial untuk mengadakan diskusi tentang karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam konteks sosial modern. Mahasiswa diminta mengunggah opini dalam bentuk video pendek. Namun, hasilnya banyak mahasiswa hanya meniru opini populer di internet tanpa menunjukkan pemahaman mendalam terhadap prinsip kepemimpinan Islam. Pak Hasan merasa bahwa penggunaan teknologi sudah maksimal, tetapi hasil pembelajaran belum mencerminkan capaian yang diharapkan. Berdasarkan kasus ini, praktik terbaik apa yang seharusnya dilakukan Pak Hasan agar pelaksanaan pembelajaran lebih berkualitas secara berkelanjutan?
Memberikan kebebasan penuh kepada mahasiswa dalam memilih sumber informasi tanpa batasan.
Membiarkan mahasiswa belajar dari kesalahan mereka secara mandiri melalui eksplorasi.
Mengurangi penggunaan media sosial agar pembelajaran lebih fokus pada teori saja.
Memberikan tugas video tambahan tentang pemimpin Islam kontemporer tanpa arahan lebih lanjut.
Memberikan panduan akademik berbasis sumber primer tentang kepemimpinan Islam sebelum pembuatan video.
Pak Yusuf menyadari bahwa ada ketidaksesuaian antara hasil evaluasi dan perubahan sikap mahasiswa. Berdasarkan kasus ini, apa praktik terbaik yang seharusnya dilakukan Pak Yusuf dalam evaluasi pembelajaran akhlak karimah agar lebih berkualitas secara berkelanjutan?
Menambahkan lebih banyak soal pilihan ganda untuk menguji pengetahuan.
Meningkatkan durasi waktu pengerjaan kuis agar mahasiswa lebih teliti.
Mengulangi materi akhlak karimah lebih sering tanpa evaluasi baru.
Memberikan penilaian berbasis proyek pengalaman akhlak dalam kehidupan nyata.
Menggunakan hanya soal isian singkat agar mengukur pemahaman definisi lebih dalam.
Pak Arif, seorang guru senior, mencoba beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan AI di kelasnya. Ia mulai menggunakan chatbot berbasis AI untuk membantu siswa mengerjakan latihan soal, serta memanfaatkan aplikasi pembelajaran adaptif yang menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa. Namun, saat supervisi, ditemukan bahwa Pak Arif kurang memahami prinsip kerja teknologi tersebut, sehingga ketika terjadi kesalahan dalam rekomendasi pembelajaran dari aplikasi, ia tidak bisa memberikan koreksi atau solusi tepat kepada siswanya. Berdasarkan studi kasus ini, bagaimana seharusnya Pak Arif mengembangkan kemampuannya sebagai modal pengembangan diri berkelanjutan?
Memperdalam literasi digital dan memahami prinsip kerja teknologi yang digunakan.
Mengandalkan sepenuhnya rekomendasi teknologi AI tanpa campur tangan manual.
Mengurangi penggunaan teknologi dan kembali ke metode tradisional sepenuhnya.
Membiarkan siswa menemukan sendiri cara mengatasi masalah teknologi tanpa bimbingan.
Mengganti semua teknologi dengan penggunaan buku cetak agar lebih aman.
