WorksheetsSOAL LATIHAN BALAGHAH
Total questions: 51
Worksheet time: 46mins
Definisi al-Balaghah menurut ulama Balaghah adalah kesesuaian perkataan dengan...
Tuntutan kaidah Nahwu.
Tuntutan keadaan (Muqtadâ al-Hâl).
Tuntutan kesamaan bunyi.
Tuntutan rima akhir.
Ilmu yang membahas tentang Ahwâl al-Isnâd al-Khabari (kondisi-kondisi kalimat berita) termasuk ruang lingkup kajian Ilmu...
Bayan.
Badi’.
Ma’ani.
‘Arûd.
Kalimat berita (Khabar) yang disampaikan kepada audiens yang ragu-ragu (muznî) disebut Khabar jenis...
Ibtidâ’î.
Inkâri.
Talabî.
Istifhâmî.
Alat Qasr (pembatasan) yang menggunakan dua unsur seperti "إِنَّما ...لَا" adalah jenis alat...
Innâmâ.
Nafy dan Istithnâ’.
‘Athf dengan Lâ.
Taqdîm.
Termasuk makna Balaghah pada kalimat perintah (Amr) dalam ayat Al-Qur’an "كُلُوا وَٱشْرَبُوا" (Makan dan minumlah) adalah...
Wujûb (Kewajiban).
Tahdîd (Ancaman).
Ibâhah (Kebolehan).
Du’â’ (Doa).
Penggunaan Itnâb (memanjangkan kalimat) dengan cara mengulang kata demi penguatan (Takrâr), dinilai baligh (fasih) karena...
Untuk menghilangkan keraguan audiens (Inkâri).
Untuk memberikan perhatian khusus dan penekanan makna.
Untuk menciptakan kesamaan (Musâwât) makna.
Untuk menyembunyikan makna aslinya (Tawriyah).
Mengapa mendahulukan Khabar (predikat) seperti "ناجحٌ الطالبُ" (Nâjihun at-tâlibu) dapat menghasilkan Qasr (pembatasan)?
Karena predikat harus selalu di awal kalimat.
Karena susunan asalnya telah diubah (Taqdîm) untuk mengkhususkan keberhasilan pada subjek tersebut.
Karena ini menjadikan kalimat tersebut menjadi Insyâ’î.
Karena ini adalah syarat Khabar Ibtidâ’.
Kapan pemisahan (Fasl) menggunakan wâw (waw al-‘Athf) di antara dua kalimat terjadi dengan alasan Kamâl al-Inqitâ’?
Ketika kalimat kedua berfungsi sebagai badal (pengganti) dari kalimat pertama.
Ketika kedua kalimat sama sekali tidak memiliki hubungan makna atau kaidah.
Ketika kalimat kedua adalah penjelas kalimat pertama.
Ketika kalimat kedua berfungsi sebagai isti’nâf bayânî (penjelasan).
Perbedaan antara I’jâz al-Qisar (ringkasan pendek) dan Musâwât (kesamaan) adalah...
I’jâz tidak menggunakan adat al-tasybîh, sementara Musâwât menggunakannya.
I’jâz memiliki makna yang jauh lebih banyak daripada lafaznya, sementara Musâwât hanya ada dalam puisi, I’jâz hanya dalam prosa.
I’jâz adalah lebih sedikit lafaz daripada makna. Musâwât adalah lafaz sebanding dengan makna.
I’jâz selalu lebih panjang.
Perintah (Amr) yang dikeluarkan oleh orang yang lebih rendah kedudukannya kepada yang lebih tinggi (seperti manusia kepada Allah) secara Balâghî bermakna...
Tahdîd (Ancaman).
Taj’îz (Melemahkan).
Du’â’ (Doa/Permohonan).
Taswiyah (Penyamaan).
Ubahlah kalimat Khabar Ibtidâ’î "مُحَمَّدٌ مُجْتَهِدٌ" menjadi Khabar Inkâri!
إِنَّ مُحَمَّدًا مُجْتَهِدٌ.
لَيْسَ مُحَمَّدٌ مُجْتَهِدًا.
وَاللّٰهِ لَأَنَّ مُحَمَّدًا مُجْتَهِدٌ.
مُحَمَّدٌ مُجْتَهِدٌ.
Identifikasi jenis Qasr pada ayat: "إِنَّمَا ٱلصَّبْرُ عِندَ ٱلصَّدْمَةِ ٱلْأُولَى" (Innâmâ as-shabru ‘inda as-shadmati al-ûlâ - Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah pada benturan yang pertama).
Qasr Sifah ‘alâ Mausûf.
Qasr Mausûf ‘alâ Sifah.
Qasr Haqîqî.
Qasr Idlâfî dengan Lâ.
Perintah (Amr) dalam "إِلْبِسْ فِي مَكَانِكَ" (Ijlis fî makânik) dari seorang guru kepada murid yang melanggar. Makna Balâghî-nya adalah...
Tahdîd (Ancaman).
Taj’îz (Melemahkan).
Wujûb (Kewajiban/Keharusan).
Taswiyah (Penyamaan).
Terapkan Itnâb bi Zikr al-Khâss ba’da al-‘Amm (menyebutkan yang khusus setelah yang umum) pada tema ibadah!
Saya mencintai semua ibadah, khususnya puasa.
Saya mencintai puasa dan salat.
Puasa, sedekah, dan semua ibadah lainnya.
Semua ibadah.
Analisis susunan Fasl dan Wasl pada: "ٱدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ" (Ud’ûnî astajib lakum - Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan bagimu).
Wasl, karena ada wâw.
Fasl, karena kalimat kedua adalah jawaban (Jawâb at-Talab) dari kalimat pertama.
Fasl, karena keduanya Kamâl al-Inqitâ’.
Wasl, karena keduanya Kamâl al-Ittisâl.
Analisis mengapa ayat "وَلَكُمْ فِي ٱلْقِصَاصِ حَيَاةٌ" (Fî al-qisâshi hayâtun) dinilai sebagai puncak Balāghah dari sisi I'jāz!...
A. Karena menggunakan harf jarr.
B. Karena ungkapan ringkas ini menyangkal pemahaman umum (hukum mati membawa kehidupan) dan memuat banyak makna hikmah.
C. Karena kalimat ini adalah Khabar Ṭalabī.
D. Karena ini adalah Qasr Ṣifah 'alā Mauṣūf.
Puncak Balāghah dari sisi I'jāz!
Analisis dampak Balāghī dari pengulangan kata "لا" (Lā) dalam kalimat: "لا تغفل ولا تكسل!" (Jangan lalai dan jangan malas)!
Menciptakan Jinās Nāqiṣ.
Menegaskan larangan (Nidā), memperkuat makna pentingnya menjaga diri dari dua sifat buruk.
Menunjukkan I'jāz.
Mengindikasikan Khabar Ibtidā’.
Bandingkan perbedaan retoris antara "أنتَ اللَبِقُ" (dengan alif lām) dan "أنتَ لَبِقٌ" (tanpa alif lām)!
Keduanya sama.
Yang pertama (dengan alif lām) menunjukkan Qasr (pembatasan) dan mengklaim seluruh sifat kebranian pada subjek tersebut.
Yang kedua adalah Khabar Inkārī.
Yang pertama adalah Tasybīh Bālīgh.
Ayat "وَإِذَا أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا أَخَذْنَاهُمْ فِي الذُّنُوبِ" (Amarnā mutrafīhā... - Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka berbuat fasik). Makna Balāghī Amr di sini adalah...
Wujūb (Kewajiban).
Taswiyah (Penyamaan).
Tahdīd (Ancaman) atau Ta'jīz (Melemahkan).
Du'ā’ (Doa).
Analisis mengapa terjadi Fasl (pemishahan tanpa waw) dalam dua kalimat: "العِشْرُ جَمِيلٌ، كَمَا لا نَخَافُ شَيْئًا" (Cuaca indah. Kami tidak takut apa-apa).
Kedua kalimat Kamāl al-Ittisāl (Kaitan sempurna).
Kedua kalimat Kamāl al-Inqiṭā’ (Keterputusan sempurna), kedua bukan penjelas.
Kalimat kedua adalah isnād/itaḥ bayānī.
Kalimat kedua adalah badal.
Evaluasi kekuatan Balāghah Qasr pada "إِنَّمَا العَالِمُ زَيْدٌ" (Innamā al-'ālimu Zayd) dibandingkan "ما العَالِمُ إِلَّا زَيْدٌ" (Mā al-'ālimu illā Zayd)!
Keduanya sama.
Kalimat pertama lebih kuat karena menggunakan Innamā yang lebih ringkas.
Kalimat kedua lebih kuat karena menggunakan Nafy dan Istithnā’ yang memberikan penegasan kuat.
Kalimat pertama lebih lemah karena khabar diakhirkan.
Manakah I'jāz berikut yang paling bālīgh, dan mengapa: (A) "إِذْهَبْ الزُّنَبُ" (B) "اذْكُرِ الْكِتَابَ" (dan bagi kalian kecelakaan)?
(A) karena ia adalah I'jāz al-Ḥadhf.
(B) karena merupakan I'jāz al-Qisar yang ringkas lafaẓnya namun mengandung ancaman dan peringatan yang luas.
Keduanya sama.
(A) karena menggunakan kata kerja lampau.
Seorang pembicara menggunakan Istifhām (pertanyaan) "هَلْ جَزَاءُ الإِحْسَانِ إِلَّا الإِحْسَانُ؟" (Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga). Evaluasi makna Balāghī dari Istifhām ini!
Bertanya untuk mencari jawaban.
Nafy (Peniadaan), yaitu meniadakan adanya balasan kebaikan yang lain selain kebaikan juga.
Ta'jīz (Melemahkan).
Tahqīq (Penegasan).
Bandingkan penggunaan Fasl pada: (1) "صَلِّ لِلَّهِ" dan (2) "قُمْ صَلِّ" (Qum ṣallī). Mana yang lebih tepat dan mengapa?
(1) lebih tepat, karena kalimat kedua adalah penjelas.
(2) lebih tepat, karena kalimat kedua adalah jawaban perintah.
(1) lebih tepat, karena keduanya tidak memiliki hubungan.
Keduanya sama-sama salah.
Evaluasi apakah Itnāb dalam bentuk Iḍāh ba'da al-Ibhām (menjelaskan setelah mengaburkan) dapat mengurangi nilai Balāghah karena menambah panjang kalimat!
Ya, selalu mengurangi karena Balāghah menyukai I'jāz.
Tidak, Iḍāh ba'da al-Ibhām adalah Itnāb yang Bālīgh karena membangkitkan perhatian dan memperkuat makna yang sebelumnya kabur.
Ya, kecuali jika digunakan dalam puisi.
Tidak, karena Itnāb adalah bagian dari Ilmu Badī'.
Ciptakan satu kalimat Insyā’ Ṭalabī (perintah) yang bermakna Du'ā’ (Doa) kepada Allah!
Rancang sebuah kalimat menggunakan Qasr Ṣifah 'alā Mausūf dengan ʿAṭf (Lā) pada tema kesuksesan!
Tuliskan sebuah ungkapan yang mengandung I'jāz al-Qisar (padat makna) tentang pentingnya waktu!
Buatlah Kalam Khabar dengan minimal dua mu’akkid (penegas) tentang pentingnya belajar!
Rancang dua kalimat yang wajib di-Fasl (dipisah) di mana kalimat kedua berfungsi Badal!
Ilmu yang membahas tentang Tasybih, Majaz, Kināyah adalah...
Ilmu Badi'.
Ilmu Ma'ani.
Ilmu Bayan.
Ilmu 'Arud.
Manakah dari unsur-unsur Tasybih berikut yang boleh dihilangkan dalam Tasybih?
Musyabbah dan Musyabbah Bih.
Adāt Tasybih dan Wajh Syabah.
Hanya Musyabbah.
Hanya Musyabbah Bih.
Istikārah yang Musyabbah Bih-nya (yang diserupakan) disebutkan, sementara Musyabbah-nya (yang menyerupai) dihilangkan disebut...
Istikārah Tṣriḥiyyah.
Istikārah Makniyyah.
Majaz Mursal.
Kināyah.
Hubungan ('Alāqah) dalam Majaz Mursal selalu bukan hubungan...
Sababiyyah.
Juz'iyyah.
Musyābahah (keserupaan).
Kulliyyah.
"Dia adalah singa di medan perang." Jenis Tasybih apakah ini?
Tasybih Mursal.
Tasybih Mu'akkad.
Tasybih Mujmal.
Tasybih Balīgh.
Identifikasi jenis Istikārah dan alasannya pada: "رَأَيْتُ بَحْرًا يَتَكَلَّمُ" (Saya melihat lautan berbicara).
Tṣriḥiyyah, karena Musyabbah Bih (lautan) disebutkan jelas.
Makniyyah, karena sifat "berbicara" adalah lazim dari Musyabbah Bih yang dihilangkan.
Makniyyah, karena Musyabbah Bih (lautan) disebutkan jelas.
Tṣriḥiyyah, karena Musyabbah (orang alim) dihilangkan.
Tentukan 'Alāqah (hubungan) pada Majaz Mursal di: "نَزَلَ القَوْمُ تَحْتَ سَقْفٍ" (Kaum itu turun di bawah atap). Sīling/atap dimaksudkan rumah.
Kulliyyah (keseluruhan).
Juz'iyyah (sebagian).
Mahalliyyah (tempat).
Sababiyyah (sebab).
Analisis Kināyah pada ungkapan: "هُوَ كَثِيرٌ الأَرْمَادِ" (Dia banyak abunya).
Kināyah 'an Ṣifah (sifat), yaitu kedermawanan (karena sering memasak untuk tamu).
Kināyah 'an Mausūf (makhluk), yaitu pahlawan.
Kināyah 'an Nisbah (penisbatan).
Kināyah 'an al-Halq.
Mengapa "الْعُلَمَاءُ مَصَابِيحُ الأَرْضِ" (Ulama adalah pelita-pelita bumi) merupakan Tasybih Balīgh yang kuat?
Karena menggunakan adāt tasybih tersembunyi.
Karena menempatkan musyabbah (ulama) dan musyabbah bih (pelita) seolah-olah sama tanpa perantara, menunjukkan keserupaan yang mutlak.
Karena menggunakan Majaz Mursal.
Karena wajh syabah-nya jelas.
Rancang sebuah kalimat menggunakan Majaz Mursal dengan hubungan Sababiyyah (sebab) dan tunjukkan maknanya!
Ilmu yang mempelajari wujūh taḥsīn al-kalām (aspek-aspek penghias perkataan) adalah...
Ilmu Bayan.
Ilmu Ma'ani.
Ilmu Badi'.
Ilmu Nahwu.
Menghimpun dua makna yang berlawanan dalam satu kalimat, seperti siang dan malam, disebut...
Muqābalah.
Jinās.
Ṭibāq.
Tauriyyah.
Mempertemukan dua kelompok makna yang berlawanan secara berurutan disebut...
Ṭibāq.
Muqābalah.
Sajā'.
Tauriyyah.
Menggunakan satu kata yang memiliki dua makna, satu dekat (qarīb) dan satu jauh (ba'īd), yang dimaksud adalah makna jauh, disebut...
Jinās.
Tauriyyah.
Murā'at an-Naẓir.
Iltifāt.
"وَقِيلَ لِلْمُسْتَهْزِئِينَ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدَّعُونَ" (Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salaf, yang lalai dari salatnya). Bentuk Badi' ini termasuk...
Rudd al-'Ajz 'ala aṣ-Ṣadr.
I'tirāḍ.
Itnāb.
Iḥtirās.
Analisis jenis Jinās pada kalimat: "كَثُرَ جَرَارُ بَيْتِكُمْ لاَ جَرَارَ الدَّارِ" (Semoga abadi rumah-rumahmu selama negeri ini abadi)!
Jinās Tāmm (sempurna).
Jinās Nāqiṣ (tidak sempurna).
Jinās Muṭlaq.
Jinās Muḥarrif.
Terapkan Muqābalah (kelompok lawan kata) pada tema ilmu dan kebodohan!
Ilmu itu terang dan kebodohan itu gelap.
Ilmu harus dicari.
Orang berilmu berbuat baik, orang bodoh berbuat buruk.
Ilmu dan kebodohan adalah lawan.
Analisis Tauriyyah pada: "قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ" (Dia berkata: Sesungguhnya aku adalah saudaramu, maka janganlah engkau bersedih). Makna dekat (qarīb) dan jauh (ba'īd) adalah...
Dekat: Saudara sekandung, Jauh: Saudara seiman.
Dekat: Saudara seiman, Jauh: Saudara seiman.
Dekat: Saudara sekandung (yang dimaksudkan), Jauh: Hanya bermakna saudara.
Dekat: Teman, Jauh: Saudara.
Apa dampak Balāghī dari Murā'at an-Naẓir (korelasi/keserasi kata) dalam suatu teks?
Untuk menghasilkan Ṭibāq.
Untuk memberikan Qasr.
Untuk menambah estetika dan harmoni makna di antara unsur-unsur yang serasi (tidak berlawanan).
Untuk membuat Istikārah Tṣriḥiyyah.
Ciptakan satu kalimat yang mengandung Ṭibāq Salb (Antitesis negatif)!
