NEW
Font size
WorksheetsSoal UTS Administrasi Rekam Medis
Total questions: 50
Worksheet time: 25mins
Fasilitas pelayanan Kesehatan di rumah sakit harus menyelenggarakan rekam medis elektronik. Dalam mengelola RME tersebut, setiap petugas seperti Laila dan Arif harus mempunyai username dan password masing-masing untuk mengaksesnya. Akses tersebut juga akan logout otomatis jika sistem RME tidak diakses atau aktivitas yang digunakan oleh user. Fungsi apa yang diterapkan pada sistem RME tersebut?
Hak akses
Audittrail
Keamanan
Kerahasiaan
Interoperabilitas
Ruang server rekam medis elektronik di rumah sakit dilengkapi berbagai lapis keamanan untuk memasukinya, sehingga tidak sembarangan orang masuk. Aspek keamanan yang diterapkan diantaranya diberlakukan scan ID Card pegawai dan atau finger scan dari petugas yang berhak mengakses. Apakah fitur dasar yang dipenuhi pada kasus tersebut
Confidentiality
Integrity
Authentication
Non-repudiation
Privacy
Di sebuah rumah sakit, semua layanan kesehatan telah menerapkan RME untuk pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Semua data pasien tersimpan dalam RME. Siapakah yang berhak mengelola data yang tersimpan pada RME tersebut?
IT
PMIK
Dokter
Pasien
Petugas asuransi
Di sebuah rumah sakit, petugas administrasi bertanggung jawab untuk melakukan penyelenggaraan rekam medis elektronik dari registrasi pasien hingga transfer data pasien. Peraturan apa yang mendasari penyelenggaraan RME tersebut?
Permenkes 290 tahun 2008
Permenkes 269 tahun 2008
Permenkes 24 tahun 2022
Permenkes 24 tahun 2021
Permenkes 24 tahun 2020
Di sebuah rumah sakit besar, terdapat berbagai tenaga kerja yang berperan penting dalam mengumpulkan, menghasilkan, mengolah, mengubah, dan mengombinasikan informasi medis. Salah satu tenaga kesehatan yang bertanggung jawab untuk mengisi data klinis pasien adalah
IT
PMIK
Dokter
Pasien
Petugas asuransi
Sikap pasien terhadap RM Elektronik umumnya adalah positif : merasa puas bahwa informasi medik mereka lengkap & akurat, tetapi mereka masih belum percaya terkait pengelolaan data mereka yang aman. Kasus tersebut mengindikasikan RME masih khawatir pada aspek
Privacy
Integrity
Interoperability
Non-repudiation
complete and accurate patient data
Dalam sebuah rumah sakit, Fasilitas Kesehatan memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan RME. Komunikasi dan kolaborasi sangat penting di setiap bagian, termasuk bagian front office dan back office. Salah satu bagian yang termasuk back office adalah
Eksekutif, keuangan, pelayanan penunjang dan logistik
Eksekutif, pembayaran, rekam medis dan keuangan
Eksekutif, pembayaran, logistik dan keuangan
Eksekutif, keuangan, gudang dan logistik
Eksekutif, pembayaran, gudang dan logistic
Rekam medis harus memenuhi prinsip keamanan dan informasi meliputi
Confidentiality
Confidentiality dan Integrity
Integrity dan Availability
Integrity, Availability dan Otentifikasi
Confidentiality, Integrity, Availability dan Otentifikasi
Pimpinan fasyankes, Indah, sedang membuat prosedur pemberian hak akses kepada tenaga Kesehatan di rumah sakit. Hak akses yang diberikan meliputi
Penginputan dan perbaikan
Penginputan dan peninjauan
Penginputan, perbaikan dan peninjauan
Penginputan, perbaikan, penghapusan dan peninjauan
Penginputan, perbaikan, penghapusan, peninjauan dan evaluasi
Tenaga Medis dan tenaga kesehatan ingin memastikan bahwa rekam medis elektronik pasiennya disimpan dengan baik. Menurut peraturan yang berlaku, penyimpanan rekam medis elektronik paling singkat berapa tahun dengan mempertimbangkan pembiayaan dan kapasitas penyimpanan?
5 tahun
10 tahun
15 tahun
20 tahun
25 tahun
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan untuk mengembangkan sistem rekam medis elektronik seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dalam menggunakan aplikasi RME yang dikembangkan oleh?
Fasyankes sendiri
Kemenkes
Vendor atau pihak ketiga
Fanyankes sendiri dan kemenkes
Fasyankes sendiri, kemenkes dan vendor atau pihak ketiga
Seorang dokter di rumah sakit, menggunakan RME untuk memudahkan proses permintaan tindakan penunjang. Dengan RME, ia dapat menghasilkan permintaan yang mudah dibaca, lengkap, dan lebih standar. Sistem ini juga secara otomatis mendukung dalam keputusan klinis yang diambilnya. Sistem yang dimaksud adalah
LIS
RIS
PACS
CPOE
HI7
Dalam pendaftaran pasien baru, seorang petugas pendaftaran ingin mengetahui standar tipe data untuk sistem penjajaran pada rekam medis yang harus digunakan. Sistem penjajaran apa yang paling tepat?
Numeric
Karakter
Alphabetical
Alphanumeric
Tanggal, waktu
Setiap fasyankes melakukan penyelenggaraan rekam medis elektronik dan dijelaskan kegiatan yang harus dilakukan oleh dokter, PMIK dan tenaga Kesehatan yang diberikan pelatihan, pasal berapa yang menyebutkan kegiatan dalam penyelenggaraan rekam medis elektronik tersebut
Pasal 9
Pasal 13
Pasal 14
Pasal 24
Pasal 30
Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, seorang kepala rumah sakit, merujuk pada Permenkes 24 tahun 2022 tentang Rekam Medis yang memberi batas waktu hingga dalam pengelenggaraan rekam medis elektronik sampai
31 Desember 2023
31 Desember 2024
31 Desember 2025
01 Januari 2023
01 Januari 2024
Registrasi pelayanan rawat jalan dibuat pada masing-masing unit pelayanan rawat jalan. Apa guna dibuat registrasi ini
Mengetahui jumlah Pengunjung Baru dan Lama yang berobat jalan ke Rumah Sakit sebagai dasar pembuatan laporan RL5.
Mengetahui jumlah Pengunjung Baru dan Lama yang berobat jalan ke Rumah Sakit sebagai dasar pembuatan laporan RL1.
Mengetahui kunjungan baru dan jumlah kunjungan dimasing-masing ruang rawat dan merupakan data dasar pembuatan laporan rawat inap
Mengetahui kunjungan baru dan jumlah kunjungan dimasing-masing poliklinik dan merupakan data dasar pembuatan laporan kegiatan Unit Rawat Jalan.
Mengetahui Pengunjung baru dan jumlah kunjungan dimasing-masing poliklinik dan merupakan data dasar pembuatan laporan kegiatan Unit Rawat Jalan.
Di sebuah rumah sakit menerapkan sistem desentralisasi untuk pengelolaan data pasien. Namun ada beberapa kekurangan dari sistem tersebut. Apa kekurangan dari RM secara desentralisasi?
Mengurangi duplikasi penyimpanan dan Efisiensi petugas RM
Menambah duplikasi pembuatan RM
Tempat penyimpanan harus buka 24 jam penuh
Efisiensi petugas dapat ditingkatkan
Mudah menerapkan sistem unit
Di sebuah rumah sakit, petugas rekam medis sedang memikirkan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengelola rekam medis yang sudah tidak aktif. Apa tujuan dari penyusutan RM inaktif yang akan dia lakukan?
Menyediakan tempat penyimpanan untuk R M baru
Menambah beban rak penjajaran Rekam Medis
Merevisi sistem penjajaran RM
Menghitung jumlah RM aktif
Mengurangi tenaga R M
Di sebuah rumah sakit, petugas rekam medis menyimpan Rekam Medis pasien dalam rak penyimpanan secara berurutan sesuai dengan urutan Nomor Rekam Medis. Contoh: 465053, 465054, 465055, 465056 ... 465099, 465100, 465101, dst. Adalah sistem penyimpanan secara
Straight Numerical Filling System (Sistem Nomor Langsung)
Terminal Digit Filling System (Sistem Angka Akhir)
Middle Digit Filling System (Sistem Angka Tengah)
Alfabetical Filling System (Sistem Abjad)
Numerical Filling System (Sistem Nomor)
Dalam sebuah persidangan, seorang dokter dipanggil sebagai saksi untuk memberikan keterangan mengenai rekam medis pasiennya. Namun, dokter merasa ragu untuk membuka rahasia rekam medis tersebut di hadapan pengadilan. Hukum pidana yang menjelaskan bahwa dokter pertama kali harus menolak membuka rahasia rekam medis di pengadilan yaitu
Pasal 170 KUHAP
Pasal 322 KUHP
Pasal 359 KUHP
Pasal 360 KUHP
Pasal 361 KUHP
Setiap RM pasien harus dibuat identitas pasien dengan lengkap. Penulisan nama pasien, nomor rekam medis dan nomor register pada setiap lembaran rekam medis bertujuan untuk apa
Mengetahui lembaran tersebut milik pasien tersebut
Melengkapi saja karena ada kolomnya
Mengetahui isi RM pasien
Mencatat data pasien
Membuat laporan
Pada komponen identifikasi pasien isi minimal yang harus ada pada tiap lembaran adalah
Nama pasien, nomor RM, jenis kelamin, tanggal lahir
Nama pasien, nomor Registrasi, jenis kelamin, tanggal lahir
Nama pasien, nomor urut, jenis kelamin, alamat
Nama pasien, nomor RM, jenis kelamin, pihak pembayar
Nama pasien, nomor RM, jenis kelamin, tanggal masuk
Sebuah puskesmas di daerah 3T akan merujuk pasien ke rumah sakit pusat. Namun, jaringan internet sering terputus sehingga RME tidak dapat diakses. Petugas perekam medis perlu memastikan data pasien tetap tersedia di fasilitas rujukan. Apa langkah paling tepat yang harus dilakukan petugas?
Menunggu jaringan internet pulih agar data RME dapat dikirim otomatis
Mengirimkan data pasien melalui pesan pribadi tenaga medis via media sosial.
Mengekspor ringkasan medis (discharge summary) dari RME dan mencetaknya sebagai salinan manual untuk dibawa pasien.
Membuat ulang seluruh data pasien di rumah sakit rujukan.
Mengizinkan pasien membawa berkas rekam medis asli milik fasilitas asal.
Seorang petugas perekam medis tidak sengaja menghapus sebagian data tindakan keperawatan dalam RME. Setelah disadari, data tersebut tidak ditemukan di sistem utama. Apa langkah awal yang tepat dilakukan rumah sakit?
Menginput ulang data berdasarkan ingatan petugas.
Melakukan verifikasi database dan memulihkan data dari backup sistem.
Mengabaikan karena data tidak memengaruhi klaim asuransi.
Menyalahkan operator sistem tanpa audit internal.
Menghapus seluruh data pasien untuk menjaga konsistensi sistem.
Pasien meninggal dunia dalam perawatan, dan pihak pengadilan meminta salinan rekam medis untuk keperluan penyelidikan hukum. Namun keluarga pasien menolak data tersebut dibuka. Dalam situasi ini, prinsip mana yang lebih diutamakan?
Privasi pasien, karena keluarga menolak pelepasan data.
Ketersediaan data, karena permintaan berasal dari pihak berwenang untuk kepentingan hukum.
Prinsip persetujuan, karena pasien sudah meninggal.
Kepemilikan data, karena rekam medis milik rumah sakit.
Prinsip keadilan, karena data harus dibuka ke publik.
Sebuah rumah sakit kehilangan seluruh rekam medis akibat bencana dan kegagalan sistem server. Tidak ada backup yang dapat digunakan. Langkah pertama dan terpenting yang harus dilakukan pihak rumah sakit adalah
Membuat laporan resmi kepada pimpinan dan Dinas Kesehatan setempat.
Segera menginput ulang semua data berdasarkan ingatan tenaga medis.
Menyalahkan petugas RME karena lalai dalam menjaga sistem.
Membuat rekam medis baru tanpa investigasi penyebab.
Menghapus catatan administrasi lama agar tidak tercatat sebagai insiden.
Seorang pasien peserta BPJS menerima pelayanan rawat inap di rumah sakit. Namun, klaim pembayaran ditolak oleh BPJS karena terdapat kesalahan pengkodean diagnosis oleh petugas rekam medis. Rumah sakit kemudian berencana menagih biaya pelayanan tersebut langsung kepada pasien. Apa tindakan yang seharusnya dilakukan rumah sakit?
Menagih biaya pelayanan kepada pasien karena klaim ditolak.
Membebankan biaya kepada dokter penanggung jawab pasien.
Menanggung biaya pelayanan karena kesalahan berasal dari pihak rumah sakit.
Menghapus data pelayanan agar tidak tercatat dalam sistem BPJS.
Menolak memberikan hasil pengobatan sampai pasien melunasi biaya.
Bagian keuangan rumah sakit menemukan berkas klaim BPJS yang tidak lengkap. Petugas rekam medis ingin melakukan revisi data agar klaim tetap diterima. Kapan batas waktu revisi klaim BPJS dapat dilakukan oleh rumah sakit?
Maksimal 3 hari kerja setelah pasien pulang.
Maksimal 7 hari kerja setelah klaim dikirim.
Maksimal 14 hari kerja setelah hasil verifikasi diterima dan sebelum masa tutup klaim.
Tidak ada batas waktu revisi selama data tersedia.
Hanya bisa dilakukan setelah laporan tahunan keuangan rumah sakit selesai.
Sebuah rumah sakit kelas B ingin mengadopsi sistem internasional untuk integrasi alat medis dan sentralisasi data pasien. Namun, pelaksanaannya tertunda karena keterbatasan jaringan, biaya, dan sumber daya manusia. Faktor utama yang menjadi hambatan penerapan sistem ini di Indonesia adalah
Kurangnya tenaga kesehatan yang ingin menggunakan teknologi digital.
Tidak adanya regulasi pemerintah yang mendukung penggunaan sistem asing.
Ketidaksiapan infrastruktur teknologi, SDM, dan tingginya biaya investasi.
Penolakan pasien terhadap penyimpanan data elektronik.
Kebijakan Kemenkes yang melarang sistem internasional di RS Indonesia.
Sebuah rumah sakit swasta di kota kecil ingin terhubung dengan platform Satu Sehat Kemenkes agar dapat mengirim data RME secara nasional. Namun, manajemen menanyakan apakah pemerintah memberikan bantuan dana untuk integrasi tersebut. Apa jawaban yang tepat?
Pemerintah memberikan bantuan dana dan teknis penuh untuk semua rumah sakit.
Rumah sakit swasta mendapat bantuan biaya dan teknis dari Kemenkes.
Pemerintah hanya memberikan bantuan teknis dan pelatihan, bukan bantuan biaya bagi rumah sakit swasta.
Tidak ada bantuan sama sekali untuk rumah sakit swasta.
Semua rumah sakit harus menanggung sendiri biaya integrasi tanpa dukungan pemerintah.
Sebuah rumah sakit mengalami kebocoran data pasien karena bagian humas meminta data RME tanpa melalui izin resmi. Hasil audit menunjukkan bahwa tidak ada SOP yang mengatur alur permintaan data antarunit. Apa langkah pencegahan terbaik agar kejadian serupa tidak terulang?
Melarang seluruh unit selain rekam medis mengakses data pasien.
Membuat SOP lintas unit yang mengatur izin akses, tujuan penggunaan data, dan otorisasi.
Menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada kepala bagian humas.
Menghapus seluruh data pasien dari sistem RME.
Menggunakan kertas manual untuk menghindari risiko kebocoran.
Dalam pelaksanaan audit RME nasional, muncul kekhawatiran bahwa standar audit yang sama dapat memberatkan rumah sakit kecil dengan fasilitas terbatas. Bagaimana prinsip penerapan audit RME yang adil di berbagai tipe rumah sakit?
Standar audit sama untuk semua rumah sakit tanpa pengecualian.
Audit dilakukan sesuai kemampuan, tetapi tanpa panduan nasional.
Standar audit bersifat nasional, namun pelaksanaan disesuaikan dengan kelas dan kapasitas rumah sakit.
Audit hanya diwajibkan bagi rumah sakit kelas A dan B.
Audit ditunda sampai rumah sakit kecil memiliki sistem RME sempurna.
Sebuah rumah sakit sedang mempertimbangkan untuk menyimpan seluruh data pasien di cloud storage agar lebih efisien dan mudah diakses. Namun, sebagian staf IT khawatir akan biaya dan risiko keamanan. Apa keuntungan utama penyimpanan data menggunakan cloud dibandingkan server lokal di rumah sakit?
Data lebih mudah dimodifikasi tanpa pengawasan.
Biaya operasional menjadi nol karena ditanggung penyedia cloud.
Data lebih aman dari bencana fisik seperti kebakaran atau banjir.
Rumah sakit tidak perlu membuat perjanjian keamanan data dengan pihak luar.
Akses data tidak terbatas untuk semua karyawan rumah sakit.
Sebuah rumah sakit pendidikan ingin menggunakan beberapa berkas rekam medis pasien sebagai bahan pembelajaran mahasiswa kedokteran. Namun, muncul kekhawatiran bahwa hal ini dapat melanggar privasi pasien. Apa langkah paling tepat agar kegiatan tersebut tetap sesuai etika dan hukum?
Menghapus seluruh isi rekam medis sebelum diberikan ke mahasiswa
Menampilkan data pasien lengkap untuk tujuan akademik.
Menyamarkan identitas pasien (anonimitas) dan memastikan hanya pihak berwenang yang memiliki izin akses.
Menyerahkan data pasien kepada mahasiswa tanpa perjanjian kerahasiaan.
Mengizinkan mahasiswa memfoto langsung data pasien sebagai bahan diskusi.
Seorang auditor internal menemukan beberapa rekam medis pasien yang isinya tidak lengkap dan beberapa diagnosis tampak diubah setelah pasien pulang. Apa tindakan pertama yang harus dilakukan auditor dalam situasi ini?
Langsung melaporkan temuan ke kepolisian.
Melakukan audit kuantitatif dan kualitatif sesuai SOP untuk memastikan ketepatan dan keaslian data.
Menghapus rekam medis yang bermasalah dari sistem.
Memberikan sanksi langsung kepada petugas pengisi data.
Mengganti data diagnosis agar seragam dengan data laboratorium.
Di rumah sakit daerah, ditemukan banyak data pasien ganda dan keterlambatan input rekam medis. Akibatnya, beberapa klaim BPJS ditolak karena data tidak lengkap. Dampak utama kondisi tersebut bagi rumah sakit adalah…
Meningkatkan jumlah pasien baru.
Menurunkan biaya operasional rumah sakit.
Menyebabkan kebocoran biaya (cost leakage) dan gangguan arus keuangan.
Tidak berpengaruh pada kinerja keuangan.
Mempercepat proses klaim dan pencairan dana.
Sebuah klinik pratama sedang menyesuaikan sistem RME-nya agar sesuai dengan standar metadata dari Kementerian Kesehatan. Namun, mereka menghadapi kendala biaya dan kekurangan tenaga IT. Langkah paling realistis agar tetap patuh regulasi tanpa membebani operasional adalah
Menghentikan penggunaan RME dan kembali ke sistem manual.
Menunggu bantuan dana dari pemerintah sebelum memulai penyesuaian.
Menggunakan platform RME open-source yang sudah sesuai standar dan mengikuti program pendampingan teknis dari pemerintah daerah.
Mengabaikan ketentuan metadata karena hanya berlaku untuk rumah sakit besar.
Menyewa vendor luar negeri tanpa memperhatikan regulasi lokal.
Petugas RME menemukan kesalahan input identitas pasien setelah lebih dari 2×24 jam sejak pencatatan. Berdasarkan Permenkes No. 24 Tahun 2022, bagaimana perbaikan tersebut seharusnya dilakukan?
Menghapus data lama dan mengganti dengan data baru tanpa catatan.
Membiarkan data salah agar tidak menyalahi batas waktu.
Mengajukan perbaikan melalui permintaan tertulis dan pencatatan audit trail agar perubahan dapat ditelusuri.
Mengubah langsung di sistem tanpa pemberitahuan.
Memasukkan data baru sebagai pasien berbeda.
Sebuah rumah sakit kecil kesulitan menyimpan data pasien selama 25 tahun seperti diatur oleh Permenkes No. 24 Tahun 2022 karena keterbatasan ruang dan perangkat keras. Apa solusi paling efisien dan aman bagi fasilitas dengan sumber daya terbatas?
Menghapus data pasien setelah 5 tahun untuk menghemat tempat.
Menyimpan semua data di flashdisk pribadi staf IT.
Melakukan backup rutin di dua lokasi (lokal dan cloud) serta bekerja sama dengan vendor tersertifikasi Kemenkes.
Memindahkan data ke sistem luar negeri agar tidak diaudit.
Menyimpan data di media sosial internal rumah sakit.
Sebuah rumah sakit menerapkan sistem pembayaran berbasis kasus menggunakan INA-CBGs. Manajemen rumah sakit menilai sistem ini dapat meningkatkan efisiensi pembiayaan dan keadilan antar pasien. Apa tujuan utama sistem Casemix dalam pembiayaan pelayanan kesehatan?
Meningkatkan pendapatan rumah sakit berdasarkan jumlah kunjungan pasien.
Mengatur biaya pelayanan berdasarkan lama rawat pasien di rumah sakit.
Mengelompokkan pasien dengan diagnosis dan kebutuhan sumber daya yang sejenis untuk menentukan tarif pembayaran yang adil.
Menentukan tarif rumah sakit berdasarkan harga obat dan tindakan terbaru.
Menghapus peran dokter dalam menentukan biaya pelayanan.
Seorang koder menemukan tulisan diagnosis yang tidak jelas pada rekam medis pasien, sehingga ia kesulitan menentukan kode ICD-10 yang tepat. Apa langkah yang harus dilakukan koder sesuai prosedur?
Menebak diagnosis berdasarkan data laboratorium.
Mengubah diagnosis agar sesuai dengan pola klaim BPJS.
Melakukan klarifikasi kepada dokter penulis rekam medis sebelum melakukan pengodean.
Mengosongkan kolom diagnosis sampai verifikator memperbaiki.
Memilih kode acak agar tidak menunda klaim.
Dalam proses klaim BPJS, verifikator menemukan bahwa diagnosis dan tindakan yang ditulis dokter tidak sesuai dengan kode INA-CBG yang diklaim rumah sakit. Apa yang harus dilakukan verifikator sesuai peraturan?
Menolak seluruh klaim tanpa klarifikasi.
Mengoreksi sendiri diagnosis agar sesuai dengan sistem.
Meminta rumah sakit melakukan klarifikasi dan melampirkan dokumen pendukung seperti resume medis dan hasil pemeriksaan.
Mengirim ulang klaim tanpa pemberitahuan ke rumah sakit.
Menyetujui klaim untuk mempercepat pencairan dana.
Dalam audit internal, ditemukan beberapa kasus dengan diagnosis tidak spesifik dan lebih dari satu diagnosis utama sehingga klaim INA-CBGs ditolak oleh BPJS. Apa penyebab utama masalah ini terjadi?
Keterlambatan penginputan data pasien.
Kurangnya komunikasi dan koordinasi antara dokter dan koder dalam penulisan rekam medis.
Kesalahan sistem komputer dalam memproses data.
Pasien menolak menandatangani resume medis.
Adanya perubahan tarif INA-CBG yang tidak diperbarui.
Seorang pasien datang ke rumah sakit dengan surat rujukan dari dokter poliklinik untuk dirawat inap. Namun, tidak ada diagnosa yang tercantum dalam surat rujukan tersebut. Apa tindakan yang harus dilakukan petugas penerimaan pasien rawat inap (TPPRI)?
Menolak pasien karena tidak ada diagnosa dalam surat rujukan.
Menerima pasien dan menentukan diagnosa sendiri.
Menerima pasien setelah dokter rumah sakit menetapkan diagnosa.
Menunda penerimaan hingga pasien membawa kartu BPJS.
Menerima pasien dengan jaminan keluarga.
Seorang pasien datang dalam kondisi nyeri hebat namun tidak gawat darurat. Ruang perawatan penuh sehingga pasien dimasukkan dalam daftar tunggu. Berdasarkan klasifikasi pasien rawat inap, pasien tersebut termasuk kategori
Pasien non-urgen
Pasien gawat darurat
Pasien urgen tetapi tidak gawat
Pasien observasi
Pasien rawat jalan
Pasien dewasa yang akan menjalani operasi mayor telah diberi penjelasan lengkap oleh dokter. Namun, pasien menolak menandatangani formulir persetujuan tindakan medis. Apa langkah yang tepat dilakukan dokter?
Memaksa pasien menandatangani karena sudah dijelaskan.
Tetap melakukan tindakan karena kondisi pasien tidak sadar.
Tidak melakukan tindakan dan mencatat penolakan pasien dalam rekam medis.
Meminta keluarga menandatangani tanpa sepengetahuan pasien.
Melakukan tindakan tanpa persetujuan karena sudah dianggap darurat.
Seorang petugas administrasi rumah sakit memberikan salinan hasil laboratorium pasien kepada pengacara tanpa surat kuasa tertulis. Tindakan yang dilakukan petugas tersebut…
Benar karena pengacara berhak atas data klien
Salah karena harus ada izin tertulis dari pasien dan surat kuasa resmi
Dibenarkan jika pasien sudah meninggal dunia.
Diperbolehkan jika hasil laboratorium bukan diagnosis utama
Tidak masalah jika data diberikan secara lisan
Kapan pembukaan isi rekam medis tanpa izin pasien dapat dilakukan?
Untuk kepentingan pendidikan, audit, atau penegakan hukum sesuai peraturan perundangan
Jika diminta oleh keluarga pasien tanpa surat resmi
Jika pasien menolak tindakan medis
Untuk keperluan promosi rumah sakit
Jika pasien sudah keluar rumah sakit
Seorang dosen meminta mahasiswa menjelaskan siapa tokoh yang pertama kali mendokumentasikan kasus penyakit secara sistematis pada masa Mesir kuno. Tokoh yang dimaksud adalah
Hipocrates
Thoth
Imhotep
Avicena
Aesculapius
Seorang pasien menggugat rumah sakit karena merasa tidak mendapatkan penjelasan yang cukup sebelum menjalani operasi. Dalam proses pengadilan, hakim meminta pihak rumah sakit menghadirkan salinan rekam medis untuk membuktikan apakah terdapat informed consent yang ditandatangani pasien sebelum tindakan dilakukan. Petugas rekam medis kemudian dipanggil untuk memberikan dokumen tersebut di persidangan. Berdasarkan kasus di atas, fungsi rekam medis yang sedang digunakan adalah dari aspek
Administratif
Pendidikan
Penelitian
Hukum
Dokumentasi
