NEW
Font size
WorksheetsMID EXAM GADAR 2025
Total questions: 30
Worksheet time: 30mins
Kasus:
IGD RSUD menerima tiga pasien korban tabrakan beruntun:
Pasien 1: Laki-laki 25 tahun, luka robek di dahi, TD 130/80 mmHg, RR 20x/menit, sadar penuh, mengeluh pusing.
Pasien 2: Perempuan 45 tahun, pucat, TD 80/50 mmHg, N 124x/menit, RR 32x/menit, SpO₂ 87%, GCS 13. Luka robek perut bawah dengan perdarahan aktif ±400 ml.
Pasien 3: Anak 9 tahun, menangis, luka lecet di tangan, TD 110/70 mmHg, RR 24x/menit.
Perawat triase menilai menggunakan prinsip Life Saving–Time Saving.
Pertanyaan:
Siapa yang menjadi prioritas pertama untuk ditangani?
Pasien 1 karena cedera kepala dapat memburuk
Pasien 2 karena menunjukkan tanda syok hipovolemik
Pasien 3 karena trauma pada anak memerlukan perhatian khusus
Pasien 1 dan 2 bersamaan karena luka terbuka
Pasien 3 karena masih menangis keras
Kasus:
Tn. R, 40 tahun, korban tabrak lari, tiba tidak sadar. TD 100/70 mmHg, N 90x/menit, RR 8x/menit, SpO₂ 82%, GCS E2V2M4. Terdapat darah di mulut, suara napas gurgling, retraksi otot bantu napas, dan sianosis bibir. Perawat gawat darurat melakukan pengkajian primer (ABCDE).
Pertanyaan:
Tindakan pertama yang harus dilakukan perawat adalah…
Memasang infus RL dua jalur besar
Memberikan oksigen 15 L/menit dengan masker non-rebreathing
Menyiapkan pasien untuk CT-scan kepala
Membersihkan jalan napas dengan suction dan membuka airway dengan jaw-thrust
Melakukan kompresi dada
Kasus:
Seorang pria 55 tahun kolaps di ruang tunggu. Perawat segera memeriksa: pasien tidak sadar, tidak bernapas, nadi karotis tidak teraba, kulit pucat. Monitor menunjukkan asystole.
Pertanyaan:
Tindakan awal yang benar sesuai algoritma CABDE adalah…
Memberi napas buatan 2 kali lalu mengecek nadi ulang
Melakukan kompresi dada 100–120 kali/menit dengan kedalaman 5 cm
Menyiapkan defibrilator untuk shock pertama
Memberikan adrenalin 1 mg IV sebelum RJP
Melakukan posisi Trendelenburg untuk perfusi otak
Kasus:
Ny. A, 33 tahun, datang ke IGD dengan perdarahan hebat pasca melahirkan di rumah.
TD 70/40 mmHg, N 136x/menit, RR 30x/menit, SpO₂ 85%. Pasien tidak sadar, Hb 5 g/dL. Dokter memerintahkan transfusi segera, tetapi keluarga belum tiba dan pasien tidak membawa identitas.
Pertanyaan:
Tindakan keperawatan yang paling sesuai prinsip etik dan hukum adalah…
Menunggu keluarga untuk tanda tangan persetujuan
Menolak tindakan karena tidak ada dokumen resmi
Melakukan transfusi segera dan mencatat alasan tindakan darurat
Memberi cairan saja sambil menunggu keluarga
Menghubungi kepolisian sebelum memulai transfusi
Kasus:
IGD sedang menangani korban kecelakaan bus dengan banyak pasien. Perawat junior tampak panik dan salah menyiapkan dosis obat. Dokter menginstruksikan cepat, sementara keluarga pasien menjerit di luar ruangan. Perawat senior menenangkan tim, mengulang instruksi dokter secara jelas, meminta verifikasi ulang dosis, dan menugaskan satu perawat berkomunikasi dengan keluarga.
Pertanyaan:
Perawat senior tersebut menerapkan prinsip komunikasi dan kepemimpinan yang dikenal sebagai…
Therapeutic communication
Open communication
Vertical communication
Closed-loop communication
Silent leadership
Kasus:
Seorang perawat gawat darurat ditugaskan di posko bencana gempa. Dalam waktu yang sama datang 4 korban:
Korban 1: TD 120/80 mmHg, RR 22x/menit, luka lecet di wajah, sadar penuh.
Korban 2: TD 70/40 mmHg, RR 30x/menit, kulit pucat dingin, GCS 12, perdarahan aktif di paha.
Korban 3: TD 130/80 mmHg, RR 18x/menit, keluhan nyeri bahu.
Korban 4: TD 90/70 mmHg, RR 8x/menit, GCS 6, tidak ada refleks batuk.
Pertanyaan:
Berdasarkan sistem triase darurat (Simple Triage and Rapid Treatment), siapa yang paling tepat diberi label merah (immediate)?
Korban 1
Korban 2
Korban 3
Korban 4
Semua korban dinilai hijau karena masih hidup
Kasus:
Seorang laki-laki 30 tahun, korban perkelahian, dibawa ke IGD dengan luka robek pada wajah dan hidung, terdapat darah di rongga mulut, napas megap-megap, RR 40x/menit, SpO₂ 84%, suara napas “gurgling”. TD 100/60 mmHg, N 110x/menit.
Pertanyaan:
Tindakan awal yang paling tepat dilakukan perawat gawat darurat adalah…
Memasang infus RL dua jalur untuk mencegah syok
Menutup luka wajah menggunakan kasa steril
Membersihkan jalan napas dari darah dengan suction
Melakukan pemasangan ETT segera tanpa evaluasi
Memberikan morfin untuk menenangkan pasien
Kasus:
Tn. D, 56 tahun, mengalami kolaps mendadak di ruang tunggu. Perawat memeriksa: tidak sadar, tidak ada napas, dan nadi karotis tidak teraba. TD tidak terukur, kulit pucat dan dingin.
Pertanyaan:
Langkah pertama yang harus dilakukan sesuai algoritma CABDE adalah…
Melakukan kompresi dada 100–120 kali/menit
Memberikan dua kali napas buatan sebelum RJP
Menyiapkan defibrillator dan melakukan shock pertama
Menilai tingkat kesadaran pasien
Memberikan cairan infus RL segera
Kasus:
Seorang wanita 28 tahun ditemukan tidak sadar di jalan raya dan dibawa ke IGD. TD 60/40 mmHg, N 130x/menit, RR 28x/menit, Hb 6 g/dL. Dokter memerintahkan transfusi segera, namun pasien tidak membawa identitas dan keluarga belum ditemukan.
Pertanyaan:
Tindakan keperawatan yang sesuai dengan prinsip etik beneficence adalah…
Menunggu keluarga untuk menandatangani informed consent
Melakukan transfusi darah segera dan mendokumentasikan alasan tindakan
Menghubungi polisi sebelum melakukan tindakan medis
Memberikan cairan RL sambil menunggu keputusan dokter
Menghentikan tindakan karena tidak ada identitas pasien
Kasus:
Anak laki-laki usia 7 tahun dirawat di IGD akibat luka bakar ringan di lengan. Ia menangis terus, menolak disentuh, dan ibunya tampak cemas serta menyalahkan diri sendiri. Perawat senior menenangkan ibu dan mengajak anak berbicara sambil menjelaskan alat medis yang digunakan.
Pertanyaan:
Pendekatan komunikasi yang digunakan perawat senior tersebut adalah…
Assertive communication
Closed-loop communication
Therapeutic communication
Informative communication
Passive communication
Kasus:
Di IGD, datang empat korban kecelakaan mobil:
Pasien A: Laki-laki 28 tahun, sadar penuh, luka lecet di tangan, RR 25x/menit, N 100x/menit, GCS 15.
Pasien B: Perempuan 40 tahun, pucat, RR 35x/menit, N 120x/menit kecil dan cepat, GCS 14.
Pasien C: Laki-laki 30 tahun, tidak bergerak, TD 0, RR 0, GCS 3.
Pasien D: Anak 12 tahun, sesak berat, distensi vena jugularis, RR 45x/menit, N 140x/menit, GCS 15.
Pertanyaan:
Berdasarkan sistem START Triage, siapa yang dikategorikan Merah (Immediate)?
Pasien A
Pasien B
Pasien C
Pasien D
Semua pasien
Kasus:
Setelah gempa bumi, tim triase menemukan 10 korban: 1 cardiac arrest, 3 syok hipovolemik, 4 luka sedang, 2 luka ringan. Perawat harus menentukan prioritas berdasarkan prinsip keadilan dan manfaat terbesar.
Pertanyaan:
Siapa yang paling tepat dikategorikan Hitam (Expectant)?
Korban cardiac arrest tanpa respons
Korban luka sedang
Korban luka ringan
Korban syok hipovolemik
Semua korban mendapat perlakuan sama
Kasus:
Pasien laki-laki 60 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada mendadak, RR 28x/menit, TD 80/50 mmHg, SpO₂ 86%, tampak gelisah dan diaphoresis.
Pertanyaan:
Menurut sistem ESI (Emergency Severity Index), pasien ini termasuk kategori…
Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Level 5
Kasus:
Seorang pejabat publik tiba di IGD bersamaan dengan pasien syok hipovolemik akibat kecelakaan. Dokter meminta perawat menunda pasien umum demi “prioritas pejabat”.
Pertanyaan:
Sikap etis perawat yang benar sesuai prinsip justice dan beneficence adalah…
Mematuhi permintaan dokter
Memanggil keluarga pejabat untuk negosiasi
Membagi tim agar melayani pejabat lebih cepat
Mendahulukan pasien dengan kondisi paling gawat
Menunda tindakan sampai instruksi tertulis diterima
Kasus:
Ny. L, 70 tahun, kanker metastasis paru, datang ke IGD dalam henti jantung kedua kalinya. Keluarga memohon dilakukan resusitasi penuh. Dokter menilai tindakan agresif tidak bermanfaat lagi.
Pertanyaan:
Sikap perawat yang tepat dalam situasi ini adalah…
Menolak permintaan keluarga secara langsung
Melakukan RJP meski prognosis buruk
Menjelaskan kondisi dan mengadvokasi keputusan comfort care
Meminta keluarga menandatangani surat DNR segera
Membiarkan dokter yang berkomunikasi tanpa peran
Kasus:
Tn. A, 68 tahun, gagal jantung terminal, kesulitan bernapas. Keluarga terus bertanya “apakah ia akan sembuh?”. Perawat ingin menjelaskan tanpa memberi harapan palsu.
Pertanyaan:
Teknik komunikasi yang tepat berdasarkan SPIKES protocol adalah…
Mengalihkan pembicaraan agar keluarga tidak cemas
Menyampaikan kabar buruk dengan jujur dan empati
Menyalahkan kondisi pasien yang memburuk
Menolak menjawab pertanyaan keluarga
Menyerahkan komunikasi sepenuhnya ke dokter
Kasus:
Pasien laki-laki 35 tahun korban kecelakaan motor, TD 90/60 mmHg, N 128x/menit, RR 28x/menit, abdomen tegang dan nyeri tekan, Hb 7 g/dL.
Diagnosis medis: ruptur limpa.
Pertanyaan:
Tindakan prioritas perawat berdasarkan prinsip ABCDE adalah…
Memberikan analgesik kuat untuk nyeri
Memantau intake-output urin pasien
Memastikan airway dan memberikan oksigen
Menganjurkan pasien untuk berbaring miring kiri
Melakukan pemasangan NGT untuk dekompresi
Kasus:
Anak 13 tahun datang dengan sesak berat setelah tertimpa benda berat. RR 50x/menit, TD 80/50 mmHg, SpO₂ 85%, deviasi trakhea ke kiri, distensi vena jugularis.
Pertanyaan:
Tindakan keperawatan yang harus segera dilakukan adalah…
Memberikan oksigen 2 L/menit
Menyiapkan tindakan needle decompression
Memasang bidai pada dada
Menunda tindakan sampai X-ray dilakukan
Memberi cairan infus lambat
Kasus:
Laki-laki 25 tahun, korban jatuh dari motor tanpa helm. GCS E2V2M4, pupil kanan melebar, muntah proyektil, TD 160/90 mmHg, N 50x/menit, RR 10x/menit.
Pertanyaan:
Tindakan prioritas perawat adalah…
Memberikan cairan cepat 1 L RL
Menilai airway dengan proteksi servikal
Memberikan morfin untuk mengurangi nyeri
Miringkan pasien ke kanan untuk muntah
Melakukan kompresi dada
Kasus:
Tn. R, 54 tahun, datang ke IGD dengan nyeri dada kiri menjalar ke lengan, RR 26x/menit, N 110x/menit, TD 85/60 mmHg, SpO₂ 89%. EKG menunjukkan elevasi segmen ST. Dokter jaga sedang menyiapkan trombolitik.
Pertanyaan:
Tindakan keperawatan yang paling tepat dilakukan sambil menunggu terapi adalah…
Menyediakan cairan hipertonik untuk mencegah hipotensi
Memberikan morfin tanpa pemeriksaan
Meminta keluarga menandatangani DNR
Menunda oksigenasi hingga fibrinolisis selesai
Menyiapkan oksigen 3 L/menit dan monitoring EKG kontinu
Kasus:
Pasien laki-laki 65 tahun ditemukan henti jantung di ruang tunggu. Tidak ada nadi, tidak bernapas.
Pertanyaan:
Kriteria CPR berkualitas berdasarkan AHA 2020 adalah…
Kedalaman 3 cm, 80–90 x/menit
Kedalaman > 7 cm, 140 x/menit
Kompresi intermiten setelah 3 menit
Kedalaman 5–6 cm, 100–120 x/menit
Hanya ventilasi tanpa kompresi
Kasus:
Pria 30 tahun korban tabrakan. TD 80/40 mmHg, N 132x/menit, RR 28x/menit, SpO₂ 84%. Luka robek paha, GCS 12.
Pertanyaan:
Prioritas tindakan keperawatan sesuai ATLS adalah…
Menilai airway dengan proteksi servikal dan resusitasi cairan
Memberikan morfin untuk nyeri berat
Menjahit luka terbuka segera
Menunggu hasil laboratorium
Memasang NGT untuk mengurangi distensi
Kasus:
Ny. M, 46 tahun, datang dengan demam tinggi, hipotensi (80/50 mmHg), RR 30x/menit, SpO₂ 90%, laktat 5 mmol/L.
Pertanyaan:
Sesuai Surviving Sepsis Campaign (SSC), intervensi awal dalam 3 jam adalah…
Memberikan antibiotik dalam 1 jam pertama
Menunda antibiotik hingga hasil kultur
Memberikan cairan 10 ml/kg
Menunggu konfirmasi dokter penanggung jawab
Memberikan antipiretik terlebih dahulu
Kasus:
Tn. A, 62 tahun, tiba 2 jam setelah kelemahan mendadak pada sisi kanan. RR 20x/menit, TD 150/90 mmHg, GCS 14, CT-Scan negatif perdarahan.
Pertanyaan:
Tindakan EBP yang tepat adalah…
Pemberian rt-PA (recombinant tissue plasminogen activator) IV
Pemberian NSAID untuk nyeri kepala
Imobilisasi total selama 24 jam
Menunggu 6 jam sebelum terapi
Memberikan cairan hipertonik
Kasus:
Pasien laki-laki 58 tahun dengan PPOK datang sesak, RR 36x/menit, SpO₂ 86%.
Pertanyaan:
Sesuai EBP, tindakan awal yang benar adalah…
Memberikan furosemid intravena
Menghentikan bronkodilator agar tidak takikardi
Memberikan morfine untuk menenangkan pasien
Memberikan O₂ 15 L/menit dengan NRM
Memberikan O₂ dengan masker Venturi FiO₂ 28 % dan NIV awal
Kasus:
Ibu H, 30 tahun, post-melahirkan 10 menit, perdarahan > 700 ml, uterus lembek.
Pertanyaan:
Langkah EBP sesuai AMTSL (Active Management Third Stage of Labor) adalah…
Pemberian oksitosin dan masase uterus
Menunggu kontraksi spontan
Memasang infus RL tanpa oksitosin
Menunda penanganan hingga dokter datang
Memberikan traneksamat dosis tunggal
Kunci Jawaban: ✅ a
Kasus:
Anak 5 tahun, berat 18 kg, henti napas. Perawat menggunakan Broselow tape untuk menentukan ukuran ETT dan dosis adrenalin.
Pertanyaan:
Dosis adrenalin yang sesuai adalah…
0,001 mg/kg BB IV
10 mg/kg BB IV
1 mg/kg BB IV
0,01 mg/kg BB IV
0,1 mg/kg BB IV
Kasus:
Pasien wanita 55 tahun tiba dengan mulut mencong dan bicara pelo.
Pertanyaan:
Langkah awal skrining cepat berdasarkan FAST adalah…
Face – Arterial – Speech – Test
Fall – Action – Stimulus – Triage
Face – Arm – Speech – Time
Finger – Activity – Sensation – Tone
Flex – Arousal – Speech – Trial
Kasus:
Hasil audit menunjukkan keterlambatan antibiotik sepsis dan resusitasi cairan tidak sesuai protokol. Kepala IGD ingin meningkatkan penerapan EBP.
Pertanyaan:
Langkah pertama dalam implementasi EBP adalah…
Melatih staf tanpa evaluasi
Langsung menyusun protokol baru
Mengganti semua guideline dengan standar luar negeri
Menjalankan tindakan berdasarkan pengalaman pribadi
Mengidentifikasi pertanyaan klinis berbasis masalah nyata
Kasus:
RSU Bahari mengalami peningkatan kunjungan IGD hingga 180 pasien/hari. Observasi menunjukkan waktu tunggu rata-rata pasien mencapai 3 jam. Data audit menunjukkan 40% pasien kasus non-urgent tetap datang ke IGD meskipun tersedia klinik rawat jalan. Perawat penanggung jawab IGD berinisiatif mengimplementasikan sistem triase berbasis ESI (Emergency Severity Index) untuk mengurangi kepadatan dan mempercepat keputusan klinis.
Pertanyaan:
Langkah prioritas yang sesuai prinsip evidence-based emergency management adalah…
Mengurangi jumlah tenaga perawat agar beban kerja lebih seimbang
Menolak pasien non-urgent masuk IGD tanpa pemeriksaan awal
Melatih seluruh staf IGD tentang penerapan sistem triase ESI dan melakukan audit waktu tanggap
Menunda penerapan sistem baru sampai ada instruksi dari direktur
Mengubah sistem menjadi first come–first served agar dianggap adil oleh pasien
