wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

SOAL BOARD REMATO

Total questions: 40

Worksheet time: 20mins

Name
Class
Date
1.

Seorang wanita, 30 tahun, datang dengan keluhan demam subfebris yang tidak jelas sumbernya selama 3 minggu, ruam malar akut, artritis non-erosif pada pergelangan tangan bilateral, dan ulkus oral yang tidak nyeri. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan ANA IFA positif titer 1:320 pola homogen. Hasil lain: Leukopenia (3.500/mm3), Trombositopenia (80.000/mm3), dan C3/C4 keduanya rendah. Berdasarkan Kriteria Klasifikasi EULAR/ACR 2019, berapakah skor total pasien ini, dan apakah pasien ini dapat diklasifikasikan sebagai LES?

a)

Skor 17, dapat diklasifikasikan sebagai LES.

b)

Skor 22, tidak dapat diklasifikasikan sebagai LES karena harus memiliki minimal satu kriteria imunologi spesifik (Anti-dsDNA/Anti-Sm).

c)

Skor 13, dapat diklasifikasikan sebagai LES.

d)

Skor 21, dapat diklasifikasikan sebagai LES.

e)

Skor 22, dapat diklasifikasikan sebagai LES.

2.

Seorang pasien LES, 45 tahun, didiagnosis 5 tahun lalu. Saat ini sedang dalam terapi Hidroksiklorokuin (200 mg/hari) dan Prednison (5 mg/hari). Hasil pemeriksaan laboratorium: SLEDAI-2K = 4 (hanya karena C3 rendah dan Anti-dsDNA positif), PGA = 1,2, tidak ada manifestasi organ mayor baru dalam 6 bulan terakhir. Apakah status pasien ini saat ini berdasarkan target terapi LES?

a)

Kekambuhan (Flare) LES Organ Mayor.

b)

Remisi menurut DORIS (Definition of Remission in SLE).

c)

Status Aktivitas Penyakit Lupus Rendah (LLDAS) yang tercapai.

d)

Aktivitas Penyakit Lupus Sedang (Moderate Disease Activity).

e)

Aktivitas Penyakit Lupus Ringan (Low Disease Activity).

3.

Seorang wanita, 28 tahun, LES yang baru didiagnosis, datang dengan gejala Nefropati Lupus (NL) kelas IV-G (Global) aktif pada biopsi ginjal. Fungsi ginjal sedikit menurun (LFG 70 mL/menit/1,73m2) dan proteinuria masif (4,5 g/hari). Protokol induksi apa yang paling sesuai untuk kasus ini berdasarkan rekomendasi terkini?

a)

Glukokortikoid dosis rendah (5 mg Prednison per hari) dikombinasikan dengan Hidroksiklorokuin (HCQ).

b)

Siklofosfamid (CYC) regimen Euro-Lupus dikombinasikan dengan Glukokortikoid dosis tinggi.

4.

Seorang pasien LES, 35 tahun, sedang hamil 10 minggu dan datang dengan trombosis vena dalam (DVT) pada ekstremitas bawah kanan yang pertama kali terjadi. Pemeriksaan menunjukkan Lupus Antikoagulan (LA) positif, Anti-Kardiolipin IgG positif (tinggi), dan Anti-β2 GP1 IgG positif (tinggi) pada dua kali pemeriksaan berjarak 12 minggu. Manakah tatalaksana akut dan pencegahan sekunder yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Heparin Tak Terfraksi (UFH) atau Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH) dosis terapi (full dose) hingga 6 minggu pasca persalinan.

b)

Warfarin (VKA) dengan target INR 2,0–3,0 seumur hidup.

c)

Aspirin dosis rendah (LDA) saja.

d)

Pemberian Glukokortikoid dosis tinggi untuk mengatasi aktivitas LES yang memicu trombosis.

e)

Direk Oral Antikoagulan (DOAC) seperti Apixaban.

5.

Seorang pasien LES dengan manifestasi kulit kronis Lupus Eritematosus Diskoid (LED) yang luas dan resisten terhadap terapi topikal serta Hidroksiklorokuin (HCQ). Pasien telah mencoba Metotreksat (MTX) tanpa perbaikan yang signifikan dan mengeluhkan efek samping gastrointestinal. Manakah pilihan terapi imunosupresan lini kedua yang paling tepat dan telah didukung untuk kasus manifestasi mukokutan resisten?

a)

Rituksimab (Rituximab) dosis tinggi setiap 6 bulan.

b)

Pemberian Siklofosfamid (CYC) IV bulanan regimen NIH.

c)

Mofetil Mikofenolat (MMF) atau Azatioprin (AZA).

d)

Takrolimus per oral sebagai lini pertama.

e)

Monoterapi Aspirin Dosis Rendah (LDA) dan Vitamin E.

6.

Pasien LES, 22 tahun, didapatkan hasil pemeriksaan darah menunjukkan neutropenia berat (800/mm3) tanpa gejala infeksi (asimtomatik) dan tanpa ada peningkatan aktivitas LES pada organ lain. Pemeriksaan lain tidak menunjukkan kelainan (DL normal, ANA/Anti-dsDNA stabil). Apa rekomendasi tatalaksana yang paling tepat untuk kondisi ini?

a)

Pemantauan ketat (DL berkala) dan peninjauan kembali obat yang berpotensi myelosupresif, tanpa memulai imunosupresan baru.

b)

Memulai pemberian G-CSF (Granulocyte-Colony Stimulating Factor).

c)

Menghentikan semua obat imunosupresan yang mungkin menyebabkan leukopenia dan menunggu perbaikan.

d)

Menambahkan Hidroksiklorokuin (HCQ) dosis penuh sebagai terapi utama.

e)

Segera memulai Glukokortikoid (GC) dosis tinggi (seperti Prednison 1 mg/kgBB/hari) untuk mengatasi neutropenia autoimun.

7.

Seorang pasien LES berusia 30 tahun merencanakan kehamilan dan memiliki riwayat SLE aktif sedang (SLEDAI-2K: 8) 6 bulan yang lalu, yang saat ini telah mencapai remisi selama 4 bulan dengan terapi Azatioprin (AZA), Glukokortikoid (5 mg/hari), dan Hidroksiklorokuin (HCQ). Pemeriksaan Anti-dsDNA dan C3/C4 stabil. Apa saran terbaik mengenai waktu untuk merencanakan kehamilan?

a)

Kehamilan dapat segera direncanakan karena pasien sudah menggunakan AZA yang aman untuk kehamilan.

b)

Tidak diperbolehkan hamil karena riwayat SLE aktif sedang 6 bulan lalu.

c)

Meningkatkan dosis Glukokortikoid menjadi 10 mg/hari dan segera hamil.

d)

Menunggu remisi yang stabil selama minimal 6 bulan sebelum kehamilan direncanakan.

e)

Mengganti Azatioprin dengan Mofetil Mikofenolat (MMF) sebelum merencanakan kehamilan.

8.

Seorang pasien LES, 25 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas V (membranosa) yang baru didiagnosis dan memiliki proteinuria masif (7 g/7 hari) dengan fungsi ginjal normal (LFG 95 mL/menit/1,73m2). Selain Glukokortikoid, manakah pilihan terapi induksi yang memiliki bukti efikasi tinggi untuk kasus ini, khususnya NL Kelas V?

a)

Intravenous Immunoglobulin (IVIG).

b)

Rituksimab (Rituximab) monoterapi.

c)

Siklofosfamid (CYC) IV dosis tinggi.

d)

Metotreksat (MTX) dosis tinggi.

e)

Mofetil Mikofenolat (MMF) atau Calcineurin Inhibitor (CNI) seperti siklosporin.

9.

Seorang wanita LES, 38 tahun, datang dengan keluhan nyeri kepala hebat, disertai demam, dan kejang fokal yang baru terjadi. Dalam anamnesis, pasien sedang menjalani terapi Prednison dosis tinggi karena artritis berat dan mialgia yang aktif, dan Anti-dsDNA-nya tinggi. Setelah menyingkirkan penyebab metabolik dan infeksi, diagnosis Neuropsikiatri LES (NPSLE) ditegakkan. Manakah yang merupakan terapi induksi lini pertama yang paling tepat untuk manifestasi NPSLE jenis kejang?

a)

Antikonvulsan dan Glukokortikoid dosis tinggi (IV pulse/oral) diikuti imunosupresan.

b)

Antikonvulsan dan Glukokortikoid dosis rendah (≤5 mg/hari) saja.

c)

Antikonvulsan dan antikoagulan (Warfarin).

d)

Perlu dilakukan 'plasma exchange' segera.

e)

Azatioprin (AZA) dosis penuh dan antikonvulsan.

10.

Pasien LES, 20 tahun, dengan riwayat anemia hemolitik autoimun (AIHA) yang berhasil diinduksi remisi. Saat ini pasien berada dalam fase pemeliharaan dan berencana melakukan perjalanan internasional. Dokter menyarankan pasien untuk melakukan vaksinasi COVID-19. Manakah pernyataan yang paling tepat mengenai rekomendasi vaksinasi untuk pasien LES dalam kondisi ini?

a)

Pasien harus menerima vaksin hidup yang dilemahkan (live-attenuated) untuk mendapatkan respons imun terbaik.

b)

Hanya vaksinasi flu yang direkomendasikan, vaksin COVID-19 harus dihindari.

c)

Vaksinasi harus dilakukan meskipun pasien sedang mengalami flare LES berat.

d)

Semua vaksin harus dihindari karena pasien LES berisiko tinggi mengalami flare pasca vaksinasi.

e)

Pasien harus mendapatkan vaksin yang tidak hidup (inactivated/mRNA/subunit) selama LES dalam kondisi inaktif/remisi atau aktivitas rendah.

11.

Seorang wanita LES, 29 tahun, datang dengan keluhan sesak napas yang progresif dan batuk kering. Pemeriksaan menunjukkan efusi pleura bilateral, dan tes fungsi paru menunjukkan penurunan DLCO (<70%). Ditemukan adanya peningkatan antibodi Anti-dsDNA dan C3/C4 yang rendah. Setelah menyingkirkan infeksi, diagnosis Serositis (Pleuritis) Lupus aktif ditegakkan. Manakah regimen terapi lini pertama yang paling sesuai?

a)

Hidroksiklorokuin (HCQ) monoterapi.

b)

Azatioprin (AZA) monoterapi.

c)

Glukokortikoid dosis sedang (misalnya Prednison 15–30 mg/hari) dan OAINS dosis penuh.

d)

Diuretik dan Antikoagulan dosis penuh.

e)

Siklofosfamid (CYC) IV pulse dosis tinggi.

12.

Seorang wanita LES, 40 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas III. Setelah menjalani terapi induksi dengan Mofetil Mikofenolat (MMF) dan Glukokortikoid (GC) selama 6 bulan, pasien menunjukkan remisi parsial: Proteinuria turun menjadi 1,5 g/hari, fungsi ginjal stabil. Pasien tidak memiliki rencana kehamilan. Manakah pilihan terapi pemeliharaan (maintenance) yang paling direkomendasikan untuk kasus ini?

a)

Menghentikan semua obat imunosupresan dan melanjutkan Hidroksiklorokuin (HCQ) saja.

b)

Mengganti MMF dengan Rituksimab.

c)

Melanjutkan MMF dosis pemeliharaan (1–2 g/hari) atau mengganti dengan Azatioprin (AZA) dan GC dosis rendah (5 mg/hari).

d)

Mengganti MMF dengan Siklofosfamid (CYC) IV setiap 3 bulan.

e)

Meningkatkan dosis GC menjadi 20 mg/hari.

13.

Seorang pasien LES, 27 tahun, dengan riwayat trombositopenia imun (ITP) sekunder yang refrakter terhadap Glukokortikoid dosis tinggi. Saat ini pasien mengalami trombositopenia berat (<20.000/mm3) dengan perdarahan mukosa ringan. Setelah menyingkirkan Thrombotic Microangiopathy (TMA), manakah pilihan terapi lini kedua yang paling tepat dan ampuh untuk mencapai remisi trombositopenia?

a)

Hidroksiklorokuin (HCQ) dosis penuh.

b)

Azatioprin (AZA) per oral dosis standar.

c)

Siklofosfamid (CYC) per oral dosis harian.

14.

Seorang wanita LES, 33 tahun, yang aktif merokok, datang dengan keluhan nyeri lutut, siku, dan pergelangan tangan yang intermiten, yang disertai kekakuan sendi pagi hari ≥30 menit. Tidak ditemukan adanya erosi sendi pada radiografi. Hasil ANA positif ≥1:80. Manakah kombinasi terapi lini pertama yang paling tepat untuk manifestasi Muskuloskeletal (Artritis) LES?

a)

OAINS dan Injeksi Glukokortikoid Intraartikular (IA) pada sendi yang meradang.

b)

Metotreksat (MTX) dosis tinggi dan Siklofosfamid (CYC).

c)

Hidroksiklorokuin (HCQ) monoterapi.

d)

OAINS dan Glukokortikoid (GC) dosis rendah (≤7,5 mg/hari Prednison) ditambahkan pada Hidroksiklorokuin (HCQ).

e)

OAINS dan Injeksi GC Intramuskular (IM) dosis tinggi.

15.

Seorang pasien LES, 25 tahun, sedang dalam terapi Mofetil Mikofenolat (MMF) dan Prednison 10 mg/hari. Pasien ini berencana menggunakan kontrasepsi. Pasien tidak memiliki riwayat trombosis atau Anti-Fosfolipid Antibodi (aPL) positif. Manakah metode kontrasepsi yang paling direkomendasikan untuk pasien ini?

a)

Intra Uterine Device (IUD) yang hanya mengandung Progestin (misalnya Mirena) atau IUD Non-Hormonal (Copper IUD).

b)

Kontrasepsi Oral Progestin Saja (POP).

c)

Kontrasepsi Hormonal Kombinasi (mengandung Estrogen) dosis tinggi.

d)

Mengandalkan metode kalender (pantang berkala).

e)

Kontrasepsi Oral Kombinasi (COC) dosis standar.

16.

Seorang pasien LES, 35 tahun, direncanakan menjalani operasi besar. Pasien telah menggunakan Prednison 15 mg/hari selama 6 bulan terakhir. Apa terapi yang paling tepat untuk mencegah krisis adrenal pada pasien ini?

a)

Hanya diberikan injeksi GC intraartikular, tidak diperlukan GC sistemik.

b)

Mengganti Prednison dengan Hidroksiklorokuin (HCQ) dosis tinggi selama periode perioperatif.

c)

Pemberian Glukokortikoid intravena (stress dose) saat perioperatif dan dilanjutkan dengan penurunan dosis cepat hingga kembali ke dosis awal.

d)

Menghentikan Prednison secara mendadak 1 hari sebelum operasi untuk mencegah infeksi luka.

e)

Melanjutkan Prednison 15 mg/hari dan tidak perlu diberikan GC tambahan (stress dose).

17.

Seorang pasien LES, 28 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas IV yang sedang dalam remisi penuh. Pasien didapatkan Anti-dsDNA negatif dan C3/C4 normal. Ia merencanakan penggunaan pil KB kombinasi estrogen-progestin untuk kontrasepsi. Apa prasyarat utama sebelum pasien ini dapat menggunakan kontrasepsi oral kombinasi?

a)

Tidak ada riwayat Lupus Nefritis Kelas IV sebelumnya.

b)

Memiliki Anti-dsDNA negatif dan C3/C4 normal selama minimal 12 bulan.

c)

Hanya jika pasien berusia >40 tahun.

d)

Lesi kulit harus sudah sembuh total tanpa jaringan parut.

e)

Memastikan tidak adanya Antibodi Anti-Fosfolipid (aPL) positif dan tidak ada riwayat trombosis.

18.

Seorang pasien LES, 55 tahun, dengan riwayat penggunaan Glukokortikoid dosis tinggi jangka panjang. Pasien datang dengan keluhan mialgia dan peningkatan kadar Kreatin Kinase (CK) dan Laktat Dehidrogenase (LDH) yang signifikan, serta kelemahan otot proksimal. Pemeriksaan MRI menunjukkan gambaran inflamasi otot. Setelah menyingkirkan penyebab lain, diagnosis Miositis Lupus aktif ditegakkan. Manakah terapi lini pertama yang paling tepat untuk manifestasi Miositis Lupus?

a)

Siklofosfamid (CYC) IV pulse sebagai monoterapi.

b)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi (seperti Prednison 1 mg/kgBB/hari atau IV pulse) dikombinasikan dengan Metotreksat (MTX) atau Azatioprin (AZA).

c)

Hidroksiklorokuin (HCQ) dan OAINS dosis penuh.

d)

Terapi fisik intensif dan suplemen protein.

e)

Penghentian Glukokortikoid secara bertahap karena dicurigai Miopati Steroid.

19.

Seorang pasien LES, 28 tahun, dalam terapi pemeliharaan dengan Azatioprin (AZA) dan Prednison 5 mg/hari, didiagnosis menderita Tuberkulosis (TB) paru aktif. Apa manajemen yang paling tepat terkait terapi imunosupresan pasien ini?

a)

Menghentikan Azatioprin (AZA), melanjutkan Prednison 5 mg/hari dan Hidroksiklorokuin (HCQ), serta memulai OAT.

b)

Menaikkan dosis Prednison menjadi 20 mg/hari untuk mengatasi inflamasi TB.

c)

Mengganti AZA dengan Mofetil Mikofenolat (MMF) dan memulai OAT.

d)

Menghentikan total semua imunosupresan (AZA dan Prednison) segera dan memulai OAT (Obat Anti Tuberkulosis) saja.

e)

Melanjutkan semua imunosupresan sambil memulai OAT dosis penuh.

20.

Pasien LES, 40 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas IV yang sedang menjalani terapi pemeliharaan Mofetil Mikofenolat (MMF). Hasil skrining rutin sebelum terapi menunjukkan Tuberculin Skin Test (TST) positif dan foto toraks normal, tanpa gejala TB aktif. Manakah rekomendasi manajemen yang paling tepat terkait TB laten ini?

a)

Melakukan Tes Cepat Molekuler (TCM) pada sputum untuk mengkonfirmasi TB aktif.

b)

Menghentikan MMF dan menunda terapi pencegahan TB sampai LES flare.

c)

Tidak perlu tindakan apa-apa, karena TB Laten tidak berisiko reaktivasi pada LES.

d)

Mulai OAT penuh 6 bulan sambil melanjutkan MMF dosis pemeliharaan.

e)

Memberikan terapi profilaksis TB (misalnya Isoniazid) dan melanjutkan MMF dosis pemeliharaan.

21.

Seorang pasien LES, 20 tahun, datang dengan ruam annular dan papuloskuamosa di area dada dan punggung atas yang sering terpapar sinar matahari. Lesi tidak meninggalkan jaringan parut (scarring). Pemeriksaan Anti-Ro/SSA positif. Manakah diagnosis manifestasi mukokutan LES yang paling mungkin, dan bagaimana terapi?

a)

Diagnosis: Subacute Cutaneous Lupus Erythematosus (SCLE)

b)

Terapi: fotoproteksi, topikal steroid, dan/atau antimalaria (misal HCQ)

22.

Seorang pasien dengan diagnosis Lupus Eritematosus Kutaneus Subakut (SCLE) datang ke poliklinik. Terapi lini pertamanya?

a)

Lupus Eritematosus Kutaneus Subakut (SCLE); Terapi: Glukokortikoid Topikal Poten dan Hidroksiklorokuin (HCQ).

b)

Ruam Malar Akut; Terapi: Glukokortikoid Sistemik dosis tinggi.

c)

Vaskulitis Leukositoklastik; Terapi: Azatioprin (AZA).

d)

Lupus Eritematosus Diskoid (LED) Kronis; Terapi: Glukokortikoid Topikal Poten dan Hidroksiklorokuin (HCQ).

e)

Lupus Eritematosus Tumidus (LET); Terapi: Siklosporin per oral.

23.

Pasien LES, 35 tahun, dengan Lupus Nefritis Kelas IV aktif, baru memulai terapi induksi Mofetil Mikofenolat (MMF) dan Glukokortikoid (GC) IV pulse. Pasien mengeluhkan dispepsia, nausea, dan diare yang signifikan setelah memulai MMF. Manakah strategi manajemen yang paling tepat untuk mengatasi efek samping MMF ini?

a)

Menurunkan dosis MMF, atau mengganti MMF dengan Asam Mikofenolat (MPA) enteric-coated/Myfortic.

b)

Mengganti MMF dengan Siklofosfamid (CYC) IV regimen NIH segera.

c)

Mengganti MMF dengan Azatioprin (AZA) sebagai induksi.

d)

Menambahkan PPI (Penghambat Pompa Proton) dosis tinggi dan melanjutkan MMF dosis penuh.

e)

Menghentikan MMF total dan melanjutkan monoterapi GC IV pulse.

24.

Seorang pasien LES, 25 tahun, memiliki riwayat Anti-Fosfolipid Antibodi (aPL) positif tanpa riwayat trombosis (APS non-trombosis). Pasien ini akan menjalani prosedur bedah gigi besar. Selain terapi LES rutinnya, manakah manajemen perioperatif untuk pencegahan trombosis yang paling tepat?

a)

Memberikan Glukokortikoid (GC) dosis tinggi (stress dose) untuk menekan inflamasi yang dapat memicu trombosis.

b)

Memberikan Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH) dosis terapi 1 hari sebelum operasi.

c)

Tidak diperlukan pencegahan trombosis karena tidak ada riwayat trombosis sebelumnya.

25.

24. Pasien LES, 20 tahun, datang dengan keluhan Ulkus Mulut yang nyeri pada palatum dan mukosa bukal. Pasien memiliki riwayat Ruam Malar Kronis. Pasien saat ini hanya dalam terapi Hidroksiklorokuin (HCQ). Manakah strategi terapi lini pertama yang paling sesuai untuk Ulkus Mulut yang nyeri ini?

a)

Siklofosfamid (CYC) per oral.

b)

Metotreksat (MTX) mingguan.

c)

Glukokortikoid (GC) topikal potensi tinggi dan optimasi dosis HCQ (hingga 5 mg/kgBB/hari).

d)

Menghentikan HCQ karena dicurigai menyebabkan ulkus.

e)

Glukokortikoid (GC) sistemik dosis tinggi (Prednison 1 mg/kgBB/hari).

26.

Seorang pasien LES, 30 tahun, didiagnosis menderita Pulmonary Arterial Hypertension (PAH) sekunder akibat LES. Penyakit LES-nya sendiri dalam remisi penuh. Manakah yang merupakan terapi spesifik PAH yang paling tepat untuk kondisi ini?

a)

Terapi kombinasi Vasodilator Pulmonal (misalnya Sildenafil, Bosentan) sesuai dengan klasifikasi WHO Functional Class.

b)

Hidroksiklorokuin (HCQ) dosis penuh dan Azatioprin (AZA).

c)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi dan Siklofosfamid (CYC) IV.

d)

Transplantasi paru segera.

e)

Antikoagulan dosis penuh (Warfarin) saja.

27.

Pasien dengan riwayat APS obstetrik, sedang merencanakan kehamilan. Manakah tatalaksana profilaksis yang paling tepat untuk pasien ini selama kehamilan?

a)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi (Prednison 1 mg/kgBB/hari) dan Hidroksiklorokuin (HCQ).

b)

Aspirin Dosis Rendah (LDA) dan Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH) dosis profilaksis sejak didapatkan kehamilan.

c)

Warfarin (VKA) dengan target INR 2,5 seumur hidup.

d)

Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH) dosis terapi (full dose) dan Aspirin Dosis Rendah (LDA).

e)

Tidak diperlukan tatalaksana apa pun karena tidak ada riwayat trombosis.

28.

Pasien LES, 22 tahun, datang dengan Proteinuria 0,8 g/hari (melalui UPCR) tanpa dismorfik eritrosit atau silinder seluler. Fungsi ginjal normal. Pemeriksaan Anti-dsDNA dan komplemen stabil. Pasien tidak memiliki edema. Manakah tindakan evaluasi selanjutnya yang paling tepat untuk kasus ini?

a)

Memulai terapi pencegahan TB (profilaksis) segera.

b)

Memberikan ACE Inhibitor/ARB dan mengobservasi proteinuria selama 3 bulan, tanpa biopsi ginjal segera.

c)

Melakukan biopsi ginjal segera untuk menentukan kelas Nefritis Lupus.

d)

Segera memulai terapi induksi Lupus Nefritis Kelas III/IV dengan MMF dan GC IV pulse.

e)

Meningkatkan dosis Hidroksiklorokuin (HCQ) menjadi 400 mg/hari.

29.

Seorang pasien LES, 30 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas IV/V yang berhasil mencapai remisi. Saat ini pasien sedang dalam terapi pemeliharaan Azatioprin (AZA) 2 mg/kgBB/hari. Pasien mengeluhkan gejala konstitusional, artritis ringan, dan hasil laboratorium menunjukkan Anti-dsDNA yang meningkat tajam dengan C3/C4 yang menurun signifikan. Manakah diagnosis yang paling tepat, dan apa langkah tatalaksana pertama yang harus dilakukan?

a)

Aktivitas penyakit SLE (Flare); Memulai terapi induksi baru dengan Siklofosfamid (CYC) IV.

b)

Serokonversi; Mengganti AZA dengan Mofetil Mikofenolat (MMF).

30.

Seorang pasien LES datang dengan gejala kaku dan nyeri sendi yang parah (Artritis) yang tidak merespons Glukokortikoid dosis rendah dan OAINS. Pasien memiliki riwayat TB laten yang telah mendapat profilaksis Isoniazid yang lengkap. Manakah agen Disease-Modifying Antirheumatic Drug (DMARDs) lini kedua yang paling sesuai untuk manifestasi muskuloskeletal LES yang refrakter ini?

a)

Siklofosfamid (CYC) IV.

b)

Klorokuin (CQ) dosis penuh.

c)

Rituksimab (Rituximab).

d)

Metotreksat (MTX).

e)

Tacrolimus (TAC).

31.

Seorang pasien LES, 25 tahun, telah didiagnosis dan saat ini berada dalam kondisi remisi selama 12 bulan hanya dengan Hidroksiklorokuin (HCQ). Pasien telah dirujuk balik ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Manakah peran yang paling tepat untuk dokter umum di FKTP terkait pasien ini?

a)

Melakukan pemeriksaan Anti-dsDNA dan komplemen setiap bulan.

b)

Melanjutkan terapi pemeliharaan HCQ dan pemantauan kepatuhan pengobatan serta edukasi pola hidup sehat.

c)

Merujuk pasien kembali ke Spesialis Penyakit Dalam/Reumatologi setiap 3 bulan untuk evaluasi aktivitas penyakit.

d)

Mengganti HCQ dengan Aspirin Dosis Rendah (LDA) sebagai terapi pemeliharaan.

e)

Menghentikan HCQ karena LES sudah remisi dan tidak ada gejala.

32.

Seorang pasien LES, 30 tahun, didiagnosis Lupus Antikoagulan (LA) positif, Anti-Kardiolipin IgG positif, dan Anti-β2 GP1 IgG positif pada dua kali pemeriksaan berjarak 12 minggu. Pasien ini didiagnosis menderita Pulmonary Arterial Hypertension (PAH) sekunder akibat LES. Penyakit LES-nya sendiri inaktif. Manakah tatalaksana yang paling tepat untuk PAH yang terkait dengan Antiphospholipid Syndrome (APS) ini?

a)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi (seperti Metilprednisolon IV pulse) dan Siklofosfamid (CYC).

b)

Antikoagulan dosis penuh (Warfarin target INR 2,0–3,0) dikombinasikan dengan Terapi Vasodilator Pulmonal.

c)

Terapi Vasodilator Pulmonal (misalnya dual Endothelin Receptor Antagonist dan PDE5 Inhibitor).

d)

Hanya Hidroksiklorokuin (HCQ) dan Aspirin Dosis Rendah (LDA).

e)

Terapi target IL-6 Inhibitor (Tocilizumab).

33.

Seorang pasien LES, 29 tahun, mengalami kekambuhan Lupus Nefritis Kelas IV yang berat dengan Kreatinin 2,5 mg/dL (naik dari 0,9 mg/dL) dan Proteinuria 6 g/hari. Pasien saat ini sedang hamil 18 minggu. Manakah regimen induksi yang paling tepat dan aman untuk kasus ini?

a)

Metilprednisolon IV pulse diikuti Azatioprin (AZA) per oral (2 mg/kgBB/hari).

b)

Metilprednisolon IV pulse diikuti Siklofosfamid (CYC) regimen Euro-Lupus IV.

c)

Metilprednisolon IV pulse diikuti Mofetil Mikoferolat (MMF) per oral.

d)

Mengganti Glukokortikoid dengan Direk Oral Antikoagulan (DOAC) seperti Rivaroxaban.

e)

Monoterapi Glukokortikoid dosis tinggi (Prednison 1 mg/kgBB/hari) per oral.

34.

Seorang pria, 40 tahun, dengan Spondiloartritis Aksial (AxSpA) non-radiografik yang aktif (ASDAS-CRP 2,5). Pasien sudah gagal terhadap 2 jenis Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) dosis penuh. Pasien juga memiliki riwayat Psoriasis pada kulit yang luas. Manakah agen Biologic Disease-Modifying Anti-Rheumatic Drug (bDMARD) lini pertama yang paling tepat untuk pasien ini?

a)

Anakinra (Anakinra) (IL-1 Inhibitor).

b)

Sekukinumab (Sekukinumab) atau Ikekizumab (Ikekizumab).

c)

Sulfasalazin (SSZ) monoterapi.

d)

Tofacitinib (Tofacitinib) atau Upadacitinib (Upadacitinib).

e)

Adalimumab (Adalimumab) atau Etanercept (Etanercept).

35.

Seorang wanita, 68 tahun, dengan riwayat sakit kepala berat unilateral yang baru terjadi, klaudikasio rahang, dan peningkatan laju endap darah (LED) 85 mm/jam. Dokter menduga Giant Cell Arteritis (GCA). Pasien tiba-tiba mengeluhkan penurunan penglihatan cepat pada satu mata. Manakah tindakan manajemen yang paling tepat saat ini?

a)

Melakukan biopsi arteri temporalis segera untuk konfirmasi diagnosis sebelum memulai terapi.

b)

Memulai Glukokortikoid (GC) intravena pulse (Metilprednisolon 500–1000 mg/hari) segera, sebelum biopsi arteri temporalis.

c)

Memulai Glukokortikoid (GC) per oral dosis tinggi (Prednison 40–60 mg/hari) dan segera menjadwalkan biopsi arteri temporalis.

d)

Memulai terapi IL-6 inhibitor (Tocilizumab) monoterapi.

e)

Memulai Methotrexate (MTX) mingguan sebagai agen penghemat steroid.

36.

Seorang pasien, 45 tahun, didiagnosis Granulomatosis dengan Poliangiitis (GPA) dengan ANCA positif (Proteinase 3 - PR3). Pasien datang dengan Kreatinin 4,0 mg/dL dan temuan biopsi ginjal menunjukkan 'crescentic glomerulonephritis' (GN) yang luas. Manakah protokol induksi yang paling tepat untuk mencapai remisi pada manifestasi yang mengancam nyawa ini?

a)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi dan Mofetil Mikofenolat (MMF).

b)

Glukokortikoid (GC) dosis tinggi dan Rituksimab (Rituximab) atau Siklofosfamid (Cyclophosphamide).

37.

Seorang pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES), 30 tahun, dengan riwayat Nefritis Lupus Kelas III yang berhasil mencapai remisi. Pasien sedang dalam terapi pemeliharaan Azatioprin (AZA). Ia mengeluhkan artritis baru, ruam, dan hasil lab menunjukkan peningkatan Anti-dsDNA yang signifikan dan penurunan C3/C4, tanpa Proteinuria atau hematuria baru. Manakah yang merupakan strategi tatalaksana yang paling tepat untuk flare LES non-renal sedang ini?

a)

Meningkatkan dosis Glukokortikoid (GC) dosis sedang (misalnya Prednison 15–30 mg/hari) dan/atau mengoptimalkan dosis AZA/MMF.

b)

Menghentikan AZA dan mengganti dengan Metotreksat (MTX) monoterapi.

c)

Menambahkan Belimumab (BLYS) dan melanjutkan AZA dan Hidroksiklorokuin (HCQ).

d)

Memulai Siklofosfamid (CYC) IV pulse 6 bulan.

e)

Hanya meningkatkan dosis HCQ menjadi 400 mg/hari.

38.

Seorang pria, 30 tahun, didiagnosis Psoriatic Arthritis (PsA) dominan Arthritis Mutilans (AM) yang progresif cepat, dengan mutilasi sendi interphalangeal yang signifikan. Pasien tidak merespons Metotreksat (MTX) dosis penuh. Manakah pilihan terapi lini kedua yang paling tepat dan paling agresif untuk mencegah kerusakan sendi lebih lanjut pada AM?

a)

Inhibitor TNF (TNF-i) seperti Adalimumab atau Etanercept.

b)

Inhibitor IL-6 (Tocilizumab).

c)

Prednison oral dosis rendah (5 mg/hari).

d)

Leflunomide (Leflunomide) monoterapi.

e)

Sulfasalazin (SSZ) dosis penuh.

39.

Seorang pasien LES dengan riwayat trombosis Vena Dalam (DVT) dan Anti-Fosfolipid Antibodi (aPL) positif (APS trombosis) telah berada dalam terapi Warfarin (VKA) dengan target INR 2,0–3,0. Pasien ini mengalami kekambuhan DVT saat INR-nya berada pada 2,2. Manakah tatalaksana jangka panjang yang paling tepat untuk APS trombosis refrakter ini?

a)

Mengganti Warfarin dengan Direk Oral Antikoagulan (DOAC) seperti Apixaban.

b)

Meningkatkan target International Normalized Ratio (INR) Warfarin menjadi 3,0–4,0.

c)

Menambahkan Glukokortikoid (GC) dosis tinggi dan imunosupresan.

d)

Menambahkan Aspirin Dosis Rendah (LDA) ke Warfarin.

e)

Mengganti Warfarin dengan Heparin Berat Molekul Rendah (LMWH) subkutan seumur hidup.

40.

Seorang wanita, 35 tahun, dengan Sclerosis Sistemik (SSc) difus, datang ke UGD dengan ensefalopati, hipertensi maligna (200/120 mmHg), Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) anjlok, dan anemia hemolitik mikroangiopati (MAHA). Manakah manajemen kegawatdaruratan farmakologis yang paling penting untuk kondisi ini?

a)

Memulai Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE-I) dosis tinggi secara agresif.

b)

Memulai Rituksimab (Rituximab) dan Plasma Exchange (PLEX) segera.

c)

Memulai Terapi Kombinasi Vasodilator Pulmonal (Sildenafil dan Bosentan).

d)

Memulai Glukokortikoid (GC) dosis tinggi segera untuk mengatasi inflamasi vaskular.

e)

Memulai Siklofosfamid (CYC) IV pulse.