Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Soal Kolaborasi Tim Kesehatan

Total questions: 25

Worksheet time: 19mins

Name
Class
Date
1.

Di ruang rawat penyakit dalam, Pak Hasan dirawat karena hipertensi tidak terkontrol. Dokter meminta apoteker untuk meninjau ulang obat yang digunakan. Apoteker menemukan pasien sering lupa minum obat malam hari. Langkah kolaboratif yang tepat adalah:

a)

Apoteker menulis catatan tanpa berdiskusi dengan tim lain

b)

Dokter mengganti obat tanpa informasi dari apoteker

c)

Apoteker menyarankan perubahan jadwal minum obat dan mendiskusikannya dengan tim

d)

Perawat mengingatkan pasien tanpa koordinasi dengan apoteker

2.

Ibu Sari menderita diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi. Ahli gizi dan perawat berdiskusi tentang menu makanan pasien. Perawat menyampaikan pasien masih sering membawa makanan manis dari luar. Peran utama ahli gizi dalam tim ini adalah:

a)

Mengatur porsi makan pasien tanpa edukasi

b)

Memberikan edukasi gizi dan menyusun rencana diet sesuai kondisi pasien

c)

Melarang keluarga membawa makanan tanpa alasan medis

d)

Mengatur jam makan saja

3.

Seorang dokter keluarga bekerja sama dengan apoteker dan perawat dalam program manajemen penyakit kronis. Mereka membuat jadwal kontrol rutin dan edukasi bersama. Tujuan utama kolaborasi ini adalah:

a)

Mengurangi beban kerja dokter

b)

Meningkatkan kepatuhan pasien dan hasil terapi

c)

Menambah biaya pelayanan

d)

Membagi tugas administratif

4.

Di Puskesmas, tim interprofesional mengadakan “Kelas Hipertensi”. Dokter menjelaskan penyakit, perawat memeriksa tekanan darah, dan apoteker menjelaskan obat. Kolaborasi ini termasuk jenis:

a)

Kolaborasi pendidikan

b)

Kolaborasi pelayanan klinik

c)

Kolaborasi administratif

d)

Kolaborasi penelitian

5.

Pak Junaidi, pasien hipertensi dan diabetes, sering lupa waktu minum obat. Apoteker dan perawat berkoordinasi untuk membuat reminder harian. Manfaat utama kolaborasi ini adalah:

a)

Menghemat waktu pelayanan

b)

Meningkatkan kepatuhan dan hasil pengobatan pasien

c)

Mengurangi biaya pengobatan

d)

Menggantikan peran dokter

6.

Dalam rapat tim, dokter menyampaikan rencana mengganti obat antihipertensi karena efek samping. Apoteker memberikan masukan tentang interaksi dengan obat diabetes yang sedang dikonsumsi pasien. Peran apoteker dalam kolaborasi ini adalah:

a)

Menentukan dosis akhir

b)

Memberikan rekomendasi rasionalisasi terapi

c)

Menentukan jadwal kontrol

d)

Mengatur pola makan pasien

7.

Ibu Lina dirawat karena hipertensi krisis. Dokter sudah menstabilkan tekanan darahnya. Perawat mendapati pasien cemas dan tidak mau makan. Langkah kolaboratif yang tepat adalah:

a)

Perawat memberi obat tambahan tanpa izin

b)

Melaporkan kondisi ke dokter dan ahli gizi untuk intervensi bersama

c)

Mengabaikan karena tekanan darah sudah stabil

d)

Menunggu keluarga datang

8.

Dokter menyarankan penambahan insulin untuk pasien diabetes dengan tekanan darah tinggi. Apoteker mengingatkan tentang potensi hipoglikemia jika pasien tidak sarapan tepat waktu. Kolaborasi ini menggambarkan aspek:

a)

Pencegahan efek samping obat

b)

Evaluasi laboratorium

c)

Promosi kesehatan

d)

Dokumentasi pasien

9.

Ahli gizi menemukan pasien hipertensi tidak mengikuti diet rendah garam. Perawat melaporkan pasien sering mendapat makanan asin dari keluarga. Tindakan kolaboratif yang paling tepat:

a)

Memberi sanksi pada keluarga pasien

b)

Mengedukasi keluarga bersama tim kesehatan

c)

Menolak makanan dari luar

d)

Mengganti seluruh menu tanpa penjelasan

10.

Dalam program “Posbindu Lansia”, tenaga kesehatan lintas profesi bekerja bersama memantau tekanan darah dan gula darah lansia. Tujuan interprofesional di komunitas ini adalah:

a)

Promosi kesehatan dan pencegahan komplikasi

b)

Mengurangi jumlah kunjungan ke puskesmas

c)

Meningkatkan pendapatan fasilitas kesehatan

d)

Mempercepat pelayanan administrasi

11.

Pasien diabetes mengalami luka di kaki. Dokter meresepkan antibiotik, dan perawat merawat luka setiap hari. Apoteker memantau efek obat dan memberi edukasi kepatuhan. Kolaborasi ini berfokus pada:

a)

Rehabilitasi

b)

Pencegahan infeksi dan perawatan luka kronis

c)

Skrining awal

d)

Pelaporan statistik

12.

Dalam pelatihan interprofesional, mahasiswa kedokteran dan farmasi melakukan simulasi pasien hipertensi. Mereka berdiskusi menentukan regimen terapi. Manfaat kegiatan ini adalah:

a)

Mengembangkan kompetensi kolaboratif sejak dini

b)

Melatih kemandirian profesi

c)

Mengurangi beban dosen

d)

Menilai kemampuan individu

13.

Dalam praktik klinik, dokter menanyakan saran apoteker untuk menyesuaikan dosis obat antihipertensi pasien dengan gangguan ginjal. Ini mencerminkan prinsip kolaborasi yaitu:

a)

Mutual respect dan shared decision making

b)

Hierarki profesi

c)

Pembagian peran administratif

d)

Komunikasi satu arah

14.

Tim interprofesional melakukan home visit kepada pasien hipertensi yang jarang kontrol. Peran perawat dalam kunjungan ini adalah:

a)

Menyediakan obat cadangan

b)

Memantau tekanan darah dan mengobservasi kepatuhan pasien

c)

Menentukan diagnosis

d)

Mengubah terapi tanpa diskusi

15.

Ahli gizi menemukan pasien hipertensi juga mengalami obesitas. Dokter dan apoteker setuju untuk meninjau kembali obat yang dapat meningkatkan berat badan. Kolaborasi ini menekankan aspek:

a)

Manajemen gaya hidup dan terapi farmakologis terpadu

b)

Evaluasi laboratorium

16.

Seorang pasien diabetes mengeluh pusing setelah meminum obat. Apoteker meninjau obatnya dan menemukan interaksi antara dua antihipertensi. Dokter segera menyesuaikan resep. Kolaborasi ini menggambarkan:

a)

Pencegahan medication error

b)

Penilaian diet pasien

c)

Promosi aktivitas fisik

d)

Pelatihan staf

17.

Dalam sesi edukasi kelompok, perawat dan ahli gizi bekerja sama memberikan materi “Pola Makan Sehat untuk Tekanan Darah dan Gula Darah Seimbang.” Tujuan utama kegiatan ini adalah:

a)

Menambah pengetahuan pasien dan meningkatkan kepatuhan

b)

Mengganti jadwal kontrol

c)

Menurunkan beban kerja dokter

d)

Memperluas data penelitian

18.

Pasien hipertensi mengeluh efek samping obat menyebabkan batuk kering. Apoteker melaporkan ke dokter untuk mempertimbangkan penggantian obat. Langkah ini menunjukkan:

a)

Komunikasi interprofesional efektif

b)

Pengambilan keputusan sepihak

c)

Perawatan tanpa koordinasi

d)

Kesalahan administrasi

19.

Dalam tim perawatan kronis, semua tenaga kesehatan berkomitmen menghormati peran masing-masing, berbagi tanggung jawab, dan memprioritaskan keselamatan pasien. Prinsip yang mendasari kolaborasi ini adalah:

a)

Etika profesi dan patient-centered care

b)

Pembagian tugas administratif

c)

Keuntungan finansial

d)

Kompetisi antar profesi

20.

Dalam rapat tim kesehatan, ahli gizi menyampaikan bahwa pasien lansia dengan hipertensi dan diabetes perlu diet rendah garam dan gula. Farmasis menambahkan agar memperhatikan efek obat terhadap kadar gula darah. Diskusi ini mencerminkan…

a)

Komunikasi kolaboratif antarprofesi

b)

Pengambilan keputusan sepihak

c)

Edukasi pasien tanpa koordinasi

d)

Pengawasan dokter terhadap profesi lain

21.

Seorang lansia mengeluh sering lupa minum obat. Farmasis berinisiatif membuat jadwal obat dengan warna berbeda untuk pagi, siang, dan malam. Perawat membantu memantau kepatuhan pasien di rumah. Tindakan ini menonjolkan nilai…

a)

Kolaborasi dalam keberlanjutan pelayanan

b)

Kompetisi antarprofesi

c)

Tanggung jawab individu tanpa koordinasi

d)

Pengawasan satu arah

22.

Dalam rapat tim puskesmas, farmasis melaporkan adanya efek samping obat pada pasien lansia yang menggunakan banyak obat (polifarmasi). Dokter meninjau ulang resep, sedangkan perawat memantau tekanan darah. Proses ini disebut…

a)

Evaluasi kolaboratif interprofesional

b)

Koordinasi administratif

c)

Konsultasi satu arah

d)

Supervisi farmasi

23.

Dokter meminta farmasis menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai efek samping obat antihipertensi. Farmasis memberikan edukasi dengan bahasa sederhana. Hal ini menunjukkan nilai

a)

Ketergantungan antarprofesi

b)

Komunikasi satu arah

c)

Pengabaian peran pasien

d)

Kolaborasi berbasis saling menghargai peran

24.

Farmasis menemukan bahwa pasien lansia mengalami efek interaksi antara obat herbal dan resep dokter. Ia segera berkoordinasi dengan dokter untuk menyesuaikan terapi. Ini menunjukkan aspek

a)

Ketidakterlibatan antarprofesi

b)

Kemandirian profesi tanpa komunikasi

c)

Keamanan pasien melalui kolaborasi

d)

Pemantauan administratif

25.

Di Puskesmas Bahagia, seorang lansia bernama Ibu Sitti datang dengan keluhan nyeri lutut dan kesulitan berjalan. Dokter umum memberikan diagnosis awal osteoartritis, sementara perawat mencatat adanya tekanan darah tinggi. Farmasis menyarankan penyesuaian dosis obat antihipertensi. Kolaborasi ini menunjukkan prinsip

a)

Tanggung jawab individual tanpa komunikasi

b)

Kerja sama multidisiplin yang berfokus pada pasien

c)

Pembagian tugas tanpa koordinasi

d)

Delegasi sepihak dari dokter kepada tenaga lain