WorksheetsKuis Adaptasi Fisiologi BBL
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Sirkulasi fetal dirancang untuk melewatkan (shunting) paru-paru karena janin mendapat oksigen dari plasenta. Struktur anatomis yang menghubungkan atrium kanan dan atrium kiri pada sirkulasi fetal disebut:
Duktus Venosus
Foramen Ovale
Duktus Arteriosus
Vena Umbilikalis
Stimulus kimiawi (internal) utama yang memicu napas pertama bayi baru lahir setelah penjepitan tali pusat adalah:
Peningkatan O2 (Hiperoksia) dan penurunan CO2 (Hipokapnia)
Peningkatan pH darah (Alkalosis)
Penurunan O2 (Hipoksia), peningkatan CO2 (Hiperkapnia), dan penurunan pH (Asidosis)
Peningkatan suhu tubuh (Hipertermia)
Fungsi utama dari surfaktan yang melapisi alveoli pada paru-paru bayi baru lahir adalah:
Membersihkan sisa cairan ketuban dari alveoli
Membantu penutupan foramen ovale
Mencegah kolapsnya alveoli pada saat ekspirasi
Merangsang produksi lemak coklat
Perubahan sirkulasi paling fundamental setelah bayi bernapas adalah penurunan resistensi vaskular paru (PVR) dan peningkatan resistensi vaskular sistemik (SVR). Perubahan tekanan ini secara langsung menyebabkan:
Penutupan fungsional Duktus Arteriosus
Penutupan fungsional Foramen Ovale
Penutupan fungsional Duktus Venosus
Peningkatan aliran darah ke plasenta
Penutupan fungsional Duktus Arteriosus (DA) setelah lahir sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu:
Penurunan O2 darah dan peningkatan Prostaglandin
Peningkatan O2 darah dan penurunan Prostaglandin
Peningkatan O2 darah dan peningkatan Prostaglandin
Penurunan O2 darah dan penurunan Prostaglandin
Bayi baru lahir (BBL) sangat rentan hipotermia. Mekanisme utama BBL untuk memproduksi panas saat kedinginan adalah:
Menggigil (shivering thermogenesis)
Vasodilatasi pembuluh darah perifer
Menangis kuat dan aktivitas motorik
Termogenesis non-menggigil (metabolisme lemak coklat)
Seorang bidan segera mengeringkan bayi baru lahir yang basah oleh air ketuban menggunakan handuk hangat. Tindakan ini bertujuan utama untuk mencegah kehilangan panas melalui mekanisme:
Konduksi
Konveksi
Radiasi
Evaporasi
BBL berisiko tinggi mengalami hipoglikemia pada jam-jam pertama kehidupan. Hal ini terutama disebabkan oleh:
Cadangan glikogen di hati (hepar) yang terbatas dan cepat habis
Fungsi ginjal yang belum matang dalam menyaring glukosa
Produksi insulin yang berlebihan pada semua bayi
Ketidakmampuan usus menyerap laktosa
Pemberian injeksi Vitamin K1 profilaksis pada BBL segera setelah lahir bertujuan untuk:
Mencegah terjadinya ikterus (jaundice) fisiologis
Membantu pematangan fungsi hati
Membantu sintesis faktor pembekuan darah di hati
Meningkatkan cadangan zat besi bayi
Menurut teori masa transisi Desmond, periode 30–60 menit pertama kehidupan di mana bayi sangat waspada (alert), mata terbuka lebar, dan refleks isap kuat disebut:
Periode Reaktivitas Pertama (First Period of Reactivity)
Periode Tidur (Period of Decreased Responsiveness)
Periode Reaktivitas Kedua (Second Period of Reactivity)
Periode Stabilisasi Fisiologis
Bayi Ny. A lahir 1 menit yang lalu, bugar, menangis kuat, frekuensi jantung 150x/menit, dan frekuensi napas 55x/menit. Bidan mengeringkan bayi dan meletakkannya di dada ibu (SSC). Tanda-tanda vital ini menunjukkan bayi sedang berada dalam fase:
Periode Reaktivitas Pertama
Periode Reaktivitas Kedua
Periode Tidur
Gagal adaptasi pernapasa
Bidan akan menimbang BBL di ruang bersalin. Bayi telanjang diletakkan di atas timbangan digital yang tidak dialasi kain. Ruangan bersalin menggunakan AC. Bayi ini berisiko kehilangan panas melalui dua mekanisme utama, yaitu:
Evaporasi dan Radiasi
Konduksi dan Konveksi
Radiasi dan Konduksi
Konveksi dan Evaporasi
Bayi lahir dengan BBL 2.400 gram (BBLR). Pada pemeriksaan 2 jam post partum, bidan mendapati suhu aksila bayi 36.1°C (Hipotermia). Bayi juga tampak jitteriness (tremor/gemetar halus). Kondisi jitteriness ini paling mungkin disebabkan oleh:
Hipertermia
Hipokalsemia
Hipoglikemia
Kejang
Bayi lahir melalui Seksio Sesarea (SC) elektif. Dalam 1 jam, bayi tampak bernapas cepat (75x/menit) dan merintih (grunting). Kondisi Transient Tachypnea of the Newborn (TTN) ini lebih sering terjadi pada bayi SC karena:
Bayi SC umumnya prematur dan kekurangan surfaktan
Efek sisa anestesi ibu yang menekan pusat napas bayi
Tidak adanya “efek perasan spons” dari jalan lahir yang membantu mengeluarkan cairan paru
Penutupan duktus arteriosus yang tertunda akibat SC
Bidan mengkaji bayi usia 72 jam. Ibu mengeluh ASI-nya belum lancar. Kulit bayi tampak kuning di wajah dan dada. Kondisi ini merupakan manifestasi dari adaptasi hepar yang imatur dalam:
Memproduksi faktor pembekuan
Menyimpan glikogen
Mengkonjugasi bilirubin indirek menjadi direk
Mensintesis albumin
Bayi lahir dari ibu dengan Preeklampsia Berat (PEB), BBL 2.100 gram (KMK). Adaptasi metabolisme yang paling harus diwaspadai bidan pada jam-jam pertama kehidupan bayi ini adalah:
Hiperkalsemia
Polisitemia
Hipoglikemia
Hipotermia
Bidan memutuskan untuk melakukan Penundaan Penjepitan Tali Pusat (Delayed Cord Clamping/DCC) selama 2 menit pada bayi yang lahir bugar. Praktik berbasis bukti ini terbukti bermanfaat untuk adaptasi BBL karena:
Mencegah hipotermia dengan memperlama kontak dengan ibu
Mempercepat keluarnya mekonium
Memberikan “transfusi plasenta” tambahan yang meningkatkan volume darah dan cadangan zat besi
Merangsang napas pertama bayi lebih kuat
Bidan sedang mengkaji bayi Ny. S usia 20 jam. Ibu cemas karena bayinya belum juga Buang Air Besar (BAB). Bidan memeriksa data: bayi sudah BAK 3x. Edukasi yang tepat oleh bidan adalah:
Bayi harus segera diberi pencahar ringan
Ini tanda bahaya, kemungkinan ada sumbatan usus
Feses pertama (mekonium) normalnya keluar dalam 24–48 jam pertama kehidupan
Bayi kekurangan cairan, ibu harus menambah asupan ASI
Bayi usia 5 jam, yang sebelumnya tidur pulas selama 2 jam, kini mulai bangun, menggeliat, mata terbuka, dan mengeluarkan banyak lendir (gumoh). Fase transisi yang sedang dialami bayi adalah:
Periode Reaktivitas Pertama
Periode Reaktivitas Kedua
Periode Tidur
Tanda awal cold stress
Bayi Ny. F lahir 12 jam yang lalu, Apgar Skor 8/9. Pada 4 jam pertama, bayi tampak aktif dan merah muda. Namun, saat bidan melakukan observasi, ibu mengeluh bayinya tampak kebiruan di sekitar bibir dan ujung kuku (sianosis sentral) saat menangis. Bidan melakukan pemeriksaan dan mendengar adanya bising jantung (murmur) yang jelas. Kondisi ini paling mungkin disebabkan oleh kegagalan adaptasi kardiovaskular, yaitu:
Kegagalan absorpsi cairan paru (TTN)
Peningkatan cepat bilirubin indirek (Ikterus)
Persistensi sirkulasi fetal (misal: Duktus Arteriosus atau Foramen Ovale yang tetap terbuka)
Hipoglikemia berat akibat cadangan glikogen habis
