NEW
Font size
WorksheetsTUGAS TERSTRUKTUR KELAS XI: INTOLERANSI, DISKRIMINASI & BULLYING
Total questions: 20
Worksheet time: 20mins
Dalam survei nasional 2024 terhadap 1.500 pelajar SMA di 10 provinsi, ditemukan bahwa 37% responden pernah menyaksikan teman sekelas mengalami perlakuan tidak adil karena perbedaan keyakinan, sedangkan 22% mengaku pernah menjadi korban ejekan fisik dan sosial secara langsung. Sebagian besar siswa menganggap tindakan tersebut “bukan masalah besar” karena sudah dianggap hal biasa di lingkungan sekolah. Berdasarkan data tersebut, fenomena yang paling menggambarkan situasi tersebut adalah ...
Intoleransi dan ketimpangan sosial
Diskriminasi dan eksklusivisme
Bullying dan diskriminasi
Intoleransi dan bullying
Diskriminasi dan intoleransi
Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa 50% responden merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang dari latar belakang etnis yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya ...
Rasisme, karena adanya prasangka terhadap kelompok etnis tertentu.
Diskriminasi, karena ketidaknyamanan terhadap perbedaan etnis.
Intoleransi, karena penolakan untuk berinteraksi dengan kelompok lain.
Bullying, karena tindakan mengucilkan orang berdasarkan etnis.
Eksklusivisme, karena hanya ingin bergaul dengan kelompok sendiri.
Sebuah perusahaan hanya merekrut karyawan berkulit terang dengan alasan “penampilan profesional lebih mudah diterima konsumen”. Beberapa pelamar berkulit gelap yang memenuhi kualifikasi justru tidak lolos seleksi tanpa alasan jelas. Kasus tersebut paling tepat dikategorikan sebagai ...
Eksklusivisme
Nepotisme
Diskriminasi
Intoleransi
Bullying
Seorang siswa dikeluarkan dari grup proyek karena menolak mengikuti doa bersama sesuai agama mayoritas. Teman-temannya menganggap ia “tidak menghargai kebersamaan” dan menolak bekerja sama dengannya. Fenomena ini termasuk ...
Diskriminasi, karena siswa tidak mau mengikuti doa bersama sesuai agama mayoritas.
Intoleransi, karena ada penolakan terhadap perbedaan keyakinan dan pandangan.
Bullying, karena siswa diasingkan oleh kelompok teman sekelasnya setelah menolak.
Diskriminasi, karena kebijakan sekolah yang hanya mendukung satu agama mayoritas.
Bullying, karena tindakan dilakukan dengan cara menjauhi korban dengan dikeluarkan dari grup.
Hasil survei lembaga sosial menunjukkan 45% remaja di perkotaan pernah diejek atau dipermalukan di media sosial karena gaya hidup mereka dianggap berbeda. Sekitar 25% di antaranya mengaku mengalami stres dan menarik diri dari lingkungan. Fenomena tersebut paling sesuai dengan ...
Intoleransi dan eksklusivisme
Bullying dan superior kelompok
Diskriminasi dan bullying
Intoleransi dan bullying
Diskriminasi dan intoleransi
Dalam sebuah rapat organisasi, hanya pengurus laki-laki yang diperbolehkan menyampaikan pendapat sementara anggota perempuan diminta “diam saja dulu”. Situasi seperti ini masih banyak ditemukan di beberapa lembaga sosial menurut survei BPS 2024. Berdasarkan deskripsi tersebut, kasus ini merupakan ...
Intoleransi
Diskriminasi
Bullying
Eksklusivisme
Patriarki
Dalam survei Kominfo 2024 terhadap 3.000 responden muda, ditemukan bahwa 42% dari mereka pernah menyebarkan konten yang tanpa sadar bagian dari konten yang mengandung ujaran kebencian, terutama di platform video pendek. Banyak dari mereka menganggap hal itu “candaan ringan” dan bukan bentuk diskriminasi. Fenomena ini menunjukkan salah satu penyebab utama tumbuhnya sikap intoleransi, yaitu ...
Fanatisme terhadap kelompok sendiri yang mendorong keinginan mempertahankan dominasi sosial.
Ketakutan terhadap kelompok yang dianggap asing sehingga muncul keengganan berinteraksi.
Pengaruh media sosial yang menyebarkan ujaran kebencian secara tidak sadar dan berulang.
Kurangnya pendidikan moral di keluarga yang menyebabkan rendahnya empati sosial.
Kurangnya pemahaman terhadap perbedaan budaya dan agama yang menimbulkan salah tafsir terhadap candaan.
Sebuah sekolah menolak izin kegiatan kebudayaan daerah dan keagamaan dengan alasan “tidak sesuai dengan nilai mayoritas siswa”. Keputusan itu memicu reaksi dari siswa minoritas yang merasa tradisi mereka dianggap aneh dan tidak pantas. Berdasarkan ilustrasi tersebut, penyebab utama munculnya sikap tersebut adalah ...
Ketakutan terhadap hal-hal yang dianggap asing dan berbeda dari kebiasaan umum.
Fanatisme berlebihan terhadap kelompok sendiri yang menolak pengaruh luar.
Kurangnya pemahaman terhadap perbedaan budaya dan agama di lingkungan sekolah.
Pengaruh media sosial yang memperkuat stereotip terhadap budaya daerah tertentu.
Ketidakmampuan lembaga pendidikan memahami makna keragaman sebagai kekuatan sosial.
Survei Wahid Foundation tahun 2024 menunjukkan bahwa 38% responden muda mengaku enggan berteman dengan orang berbeda agama karena takut menyinggung perasaan. Akibatnya, pergaulan sosial di sekolah dan kampus semakin terbatas pada kelompok seagama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak sosial berupa ...
Meningkatnya kohesi sosial karena setiap kelompok lebih nyaman berinteraksi secara homogen.
Menurunnya integrasi sosial karena batas antar kelompok agama menjadi semakin tegas.
Meningkatnya kesadaran ajaran agama karena masyarakat belajar menghargai keyakinan berbeda.
Terjadinya paksaan interaksi karena kelompok minoritas menyesuaikan diri dengan mayoritas.
Menurunnya konflik sosial karena masyarakat menghindari perdebatan keagamaan.
Sebuah perusahaan memecat karyawan karena gaya berpakaian dan potongan rambutnya dianggap tidak sesuai “citra korporat”. Keputusan ini menuai kritik di media sosial karena dianggap menyalahi prinsip keberagaman di tempat kerja. Dampak sosial dari kasus tersebut yang paling mungkin muncul adalah ...
Meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya kebebasan berekspresi dan kesetaraan.
Berkurangnya profesionalisme kerja karena karyawan terlalu menuntut kebebasan pribadi.
Terbentuknya solidaritas antarpekerja untuk menolak aturan berpakaian formal.
Menurunnya citra perusahaan di mata masyarakat karena dianggap otoriter dan diskriminatif.
Tumbuhnya budaya kerja baru yang lebih konservatif dan patuh terhadap norma perusahaan.
Sebuah sekolah mencatat meningkatnya konflik antar siswa akibat perbedaan pandangan politik di media sosial. Untuk mengatasinya, sekolah mengadakan program “Ruang Bicara Lintas Pandangan” yang mendorong siswa berdiskusi tanpa saling menyalahkan. Upaya tersebut menunjukkan langkah konkret dalam ...
Mencegah disintegrasi sosial dengan memperkuat komunikasi antarsiswa.
Menegakkan disiplin sosial dengan memaksa antarsiswa saling berinteraksi.
Menghilangkan perbedaan pandangan budaya agar tercipta keseragaman nilai.
Meningkatkan rasa cinta terhadap kelompok pandangan mayoritas.
Membangun ketertiban sosial dengan menghindari topik-topik sensitif di sekolah.
Gerakan Black Lives Matter muncul sebagai bentuk protes terhadap tindakan kekerasan sistemik terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat. Akar permasalahan ini tidak hanya bersumber dari perilaku individu, tetapi juga dari struktur sosial dan budaya yang menormalisasi perlakuan berbeda terhadap kelompok ras tertentu. Berdasarkan konteks tersebut, faktor pendorong utama munculnya diskriminasi dalam kasus ini adalah ...
Adanya stereotip negatif dan prasangka rasial yang diwariskan melalui sistem sosial dan media massa selama berabad-abad.
Ketimpangan ekonomi yang muncul akibat minimnya akses kelompok kulit hitam terhadap sumber daya publik dan peluang kerja.
Dominasi politik kelompok mayoritas yang mempertahankan struktur kekuasaan melalui wacana sosial dan kebijakan keamanan publik.
Pola sosialisasi budaya yang menanamkan rasa superioritas ras mayoritas sejak dini melalui pendidikan formal dan informal.
Persepsi kultural yang memandang kelompok minoritas sebagai ancaman terhadap stabilitas sosial dan identitas nasional.
Sebuah riset global tahun 2024 menemukan bahwa lebih dari 60% pekerja di berbagai negara masih menganggap warna kulit berpengaruh terhadap persepsi profesionalisme di dunia kerja. Persepsi ini diperkuat oleh media dan sistem sosial yang secara halus menampilkan orang berkulit terang sebagai “standar ideal”. Akibatnya, diskriminasi rasial terus berlangsung tanpa disadari oleh pelaku maupun korban. Berdasarkan kasus tersebut, faktor utama yang memengaruhi munculnya diskriminasi rasial adalah ...
Pengaruh budaya dan media yang menormalisasi perbedaan status sosial berdasarkan warna kulit.
Ketimpangan ekonomi global melalui sistem rekrutmen yang menimbulkan persaingan antar kelompok ras.
Kurangnya pendidikan formal yang mengajarkan nilai-nilai multikulturalisme yang ada di masyarakat.
Kuatnya Primordialisme kelompok mayoritas terhadap sistem nilai tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Kebijakan perusahaan yang tidak tegas dalam menerapkan kesetaraan gender dan ras di tempat kerja.
Dalam survei global World Economic Forum 2024, tercatat bahwa perempuan masih menempati kurang dari 30% posisi kepemimpinan di perusahaan besar. Banyak budaya di dunia, termasuk di Asia, masih memegang pandangan bahwa laki-laki dianggap lebih rasional dan cocok memimpin, sementara perempuan lebih baik berfokus pada ranah domestik. Pandangan tersebut memperkuat sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan di berbagai sektor kehidupan. Berdasarkan konteks tersebut, faktor kultural yang menjadi pendorong utama diskriminasi gender adalah ...
Warisan nilai patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan sosial dan pengambil keputusan.
Ketimpangan kesempatan yang menyebabkan akses perempuan terhadap pendidikan lebih rendah daripada laki-laki.
Pengaruh modernisasi yang memperluas kesenjangan antara peran publik dan domestik bagi perempuan.
Kebijakan perusahaan yang mengutamakan efisiensi tanpa mempertimbangkan kesetaraan gender.
Perubahan gaya hidup masyarakat modern yang masih bias terhadap kemampuan emosional perempuan.
Sebuah survei global tahun 2024 yang dilakukan oleh WHO menemukan bahwa 1 dari 2 orang di dunia memiliki pandangan negatif terhadap kelompok usia tertentu, baik terhadap anak muda maupun lansia. Di banyak masyarakat, pandangan seperti “anak muda belum cukup bijak” atau “orang tua pasti sulit beradaptasi dengan teknologi” menjadi hal yang dianggap wajar. Padahal, pola pikir seperti ini secara tidak langsung membentuk budaya yang menormalkan perlakuan tidak setara berdasarkan usia. Berdasarkan konteks tersebut, dampak kultural yang paling mungkin timbul dari ageisme adalah ...
Terbentuknya norma sosial yang menghambat generasi muda dan tua untuk berkontribusi secara setara dalam masyarakat.
Meningkatnya peluang kerja bagi kelompok usia muda karena dianggap lebih inovatif dan produktif ketimbang kelompok usia tua.
Terjadinya pergeseran nilai budaya yang menempatkan anak muda sebagai simbol kemajuan teknologi ketimbang orang-orang tua.
Hilangnya rasa hormat terhadap orang tua karena pengaruh budaya global yang menonjolkan kebebasan individu pada anak muda.
Meningkatnya solidaritas dalam satu generasi karena kesamaan usia sehingga melengkapi dan memperkaya pengalaman sosial.
Sekelompok pencari kerja yang berasal dari kelompok usia muda sering menghadapi ketidakpastian dalam proses rekrutmen. Kasus tokenism sering kali muncul ketika perusahaan hanya mempekerjakan beberapa orang dari kelompok minoritas demi citra keberagaman tanpa memberi kesempatan yang setara. Dalam konteks ini, langkah preventif yang paling efektif untuk menghindari diskriminasi pekerjaan (tokenism) dalam dunia kerja adalah...
Menetapkan kuota representasi kelompok minoritas dalam perusahaan agar menunjukkan komitmen perusahaan pada keadilan sosial.
Mendorong perusahaan membuat program diversity hiring tanpa evaluasi kinerja agar memperbanyak jumlah pekerja dari kelompok minoritas.
Mengembangkan sistem rekrutmen berbasis kompetensi yang transparan disertai pengawasan publik untuk memastikan keadilan kesempatan kerja.
Memberikan penghargaan kepada perusahaan yang memiliki jumlah pekerja minoritas terbanyak tanpa melihat proses perekrutan pekerjanya.
Membuka peluang kerja hanya bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan untuk memperbaiki citra kesetaraan dalam jangka pendek.
Data BPS tahun 2020-2021 menunjukkan penurunan jumlah pekerja penyandang disabilitas dari 7,67 juta menjadi 7,04 juta jiwa. Penurunan paling besar terjadi pada kategori “dibantu buruh tidak tetap” dan “berusaha sendiri”, sementara peningkatan kecil tampak pada pekerja bebas nonpertanian. Jika tren ini mencerminkan kondisi struktural di pasar kerja Indonesia, maka faktor penyebab paling rasional dari fenomena tersebut adalah...
Menurunnya minat penyandang disabilitas untuk bekerja mandiri akibat banyak perusahaan yang lebih memilih calon pekerja yang normal secara fisik.
Keterbatasan akses teknologi dan pelatihan kerja inklusif yang menyebabkan disabilitas kehilangan daya saing di sektor informal selama pandemi.
Adanya kebijakan pemerintah yang lebih banyak membuka lapangan kerja industri padat karya di daerah industri sehingga mendorong laju urbanisasi.
Penurunan jumlah pekerja disabilitas akibat kebijakan perusahaan yang mengutamakan efisiensi tenaga kerja selama masa transisi ekonomi digital.
Adanya pergeseran minat penyandang disabilitas dari sektor formal ke sektor kreatif digital akibat meningkatnya peluang pekerjaan online.
Perundungan di Indonesia paling banyak terjadi pada tingkat SD dan SMP dengan bentuk yang dominan berupa penghinaan, pencurian barang, dan penyebaran rumor. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku bullying tidak hanya muncul karena lingkungan sekolah yang permisif, tetapi juga karena faktor psikologis dalam diri pelaku dan korban. Jika ditinjau dari penyebab internal, faktor yang paling mungkin mendorong maraknya bullying di kalangan pelajar tersebut adalah...
Kurangnya pengawasan sekolah terhadap interaksi sosial antar siswa yang menyebabkan kontrol sosial melemah.
Rendahnya kepercayaan diri, serta kebutuhan akan pengakuan diri yang diekspresikan melalui dominasi terhadap teman sebaya.
Pengaruh media digital yang menormalisasi kekerasan verbal dan membuat siswa meniru perilaku negatif yang ada di media digital.
Ketimpangan relasi kekuasaan antara guru yang dominan dan siswa yang terdominasi memperkuat budaya hierarkis di sekolah.
Kegagalan penerapan kebijakan anti-perundungan di sekolah akibat lemahnya sistem pelaporan dan tindak lanjut pada masyarakat.
Seorang siswa menjadi korban penyebaran foto pribadi yang disertai komentar merendahkan di media sosial. Akibatnya, korban mengalami stres, prestasi menurun, dan kepercayaan terhadap teman berkurang drastis. Upaya preventif paling efektif untuk mencegah kasus serupa adalah...
Membatasi akses siswa terhadap media sosial mereka agar mengurangi peluang konflik daring.
Meningkatkan literasi digital dan empati siswa melalui pendidikan karakter berbasis teknologi.
Memberi sanksi hukum berat kepada pelaku karena membuat korban mengalami gangguan mental.
Meningkatkan pemantauan guru terhadap akun pribadi siswa di dunia maya agar dapat terkontrol.
Mengajarkan siswa untuk tidak menanggapi komentar negatif agar terhindar dari tekanan sosial.
Dalam beberapa lembaga pendidikan, perilaku bullying sering dibenarkan dengan alasan “mendidik mental” siswa baru melalui kegiatan orientasi siswa baru. Pola ini terus berulang karena dianggap bagian dari tradisi sosial dan simbol status senioritas. Strategi paling efektif untuk mengatasi bentuk bullying rasional seperti ini adalah...
Memberlakukan hukuman berat kepada pelaku agar mendapat efek jera atas perbuatan.
Menghapus kegiatan orientasi sekolah dan menggantinya dengan pembinaan moral siswa.
Melakukan rekonstruksi budaya sekolah agar nilai disiplin tidak lagi disamakan dengan kekerasan.
Meningkatkan pelatihan guru dalam mengenali tanda kekerasan fisik dan perundungan pada siswa baru.
Mengadakan kampanye publik tentang bahaya kekerasan simbolik bagi seluruh warga sekolah.
