Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

ASESMEN 3 — CERITA PENDEK

Total questions: 20

Worksheet time: 40mins

Name
Class
Date
1.

Setelah lama bersembunyi, aku beranjak dari parit ini menuju markas.

“Dari mana saja kau?” Tanya Martius temanku.

“Nyawaku hampir saja melayang karena ulah serdadu itu,” jawabku.

Martius kaget. Ia memberiku segelas air. Keesokkan harinya, seorang yang terjaga di bukit belantara mendatangi kami.

“Mereka ke sini! Dan akan menyerang kita,” ucapnya dengan napas terengah-engah.

Kami pun bergegas untuk melarikan diri. Tak kusangka secepat ini mereka menemukan persembunyian kami. Mereka sudah terlihat sangat dekat. Suara tembakan mengarah pada kami. Kami pun berlari sekuat tenaga menghindari tembakan itu.

“Jika aku mati sekarang, sia-sia sudah perjuangan selama ini. Aku tak akan mati sebelum mendapatkan apa yang kami mau,” pikirku saat itu.

Tokoh "Aku" dalam kutipan cerpen tersebut memiliki sifat....

a)

mandiri

b)

pantang menyerah

c)

penyayang

d)

percaya diri

e)

tanggung jawab

2.

Setelah lama bersembunyi, aku beranjak dari parit ini menuju markas.

“Dari mana saja kau?” Tanya Martius temanku.

“Nyawaku hampir saja melayang karena ulah serdadu itu,” jawabku.

Martius kaget. Ia memberiku segelas air. Keesokkan harinya, seorang yang terjaga di bukit belantara mendatangi kami.

“Mereka ke sini! Dan akan menyerang kita,” ucapnya dengan napas terengah-engah.

Kami pun bergegas untuk melarikan diri. Tak kusangka secepat ini mereka menemukan persembunyian kami. Mereka sudah terlihat sangat dekat. Suara tembakan mengarah pada kami. Kami pun berlari sekuat tenaga menghindari tembakan itu.

“Jika aku mati sekarang, sia-sia sudah perjuangan selama ini. Aku tak akan mati sebelum mendapatkan apa yang kami mau,” pikirku saat itu.

Suasana dalam kutipan cerpen tersebut adalah....

a)

kacau

b)

sepi

c)

cemas

d)

penasaran

e)

takut

3.

Kerjakan soal pilihan ganda di bawah ini dengan benar! Jumlah kata dalam penulisan cerpen antara 3.000 sampai 4.000 kata disebut…

a)

cerpen mini

b)

cerpen pendek

c)

cerpen panjang

d)

cerpen ideal

e)

cerpen non ideal

4.

Cerpen disebut sebagai sarana hiburan bagi pembaca yang biasa disebut dengan…

a)

rekreatif

b)

didaktif

c)

informatif

d)

komunikatif

e)

representatif

5.

Nilai-nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan individu di dalam masyarakat disebut...

a)

nilai moral

b)

nilai budaya

c)

nilai kepahlawanan

d)

nilai politik

e)

nilai sosial

6.

Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar tempat dalam kutipan cerpen tersebut adalah…

a)

di pura

b)

di pasar

c)

di rumah

d)

di warung

e)

di bawah pohon

7.

Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar waktu dalam kutipan cerpen tersebut...

a)

pagi hari

b)

siang hari

c)

sore hari

d)

senja hari

e)

malam hari

8.

Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar suasana dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

a)

sedih

b)

sendu

c)

muram

d)

bingung

e)

khawatir

9.

“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut adalah…

a)

sudut pandang orang ketiga

b)

sudut pandang orang pertama

c)

sudut pandang orang kedua

d)

sudut pandang orang campuran

e)

sudut pandang orang sampingan

10.

“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Sifat yang dimiliki tokoh Paman Klungsu adalah…

a)

baik

b)

sabar

c)

ramah

d)

perasa

e)

pemalu

11.

           “Yu, uangku cuma seribu lima ratus.”

           “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu   lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.”

          “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?”

          “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?”

           Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul.

           Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Penokohan Yu Binah dalam kutipan dalam kutipan cerpen tersebut digambarkan melalui....

a)

narasi tokoh lain

b)

narasi penulis

c)

ucapan tokoh lain

d)

ucapan tokoh

e)

pemikiran tokoh

12.

“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Nilai sosial dalam kutipan cerpen tersebut adalah…

a)

membantu orang lain

b)

selalu meminta izin

c)

mudah bersykur

d)

menjaga tuturan

e)

bekerja keras

13.

“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Tema kutipan cerpen tersebut adalah…

a)

Kemarahan bapak kepada anaknya

b)

Pertengkaran bapak dengan anak

c)

Kelaparan membuat pertengkaran

d)

Kemiskinan membuat bapak marah

e)

Anak yang kelaparan karena miskin

14.

“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Sifat yang dimiliki tokoh ibu dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

a)

pemarah

b)

pembangkang

c)

penyabar

d)

pengeluh

e)

penyayang

15.

“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Penyebab konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah..

a)

ketidaksabaran tokoh bapak

b)

keangkuhan tokoh bapak

c)

kelaparan tokoh aku

d)

kemiskinan sebuah desa

e)

keributan antaranggota keluarga

16.

Pengenalan tokoh yang dilakukan secara tidak langsung disebut teknik…

a)

analitik

b)

dramatik

c)

sosial budaya

d)

imajiner

e)

panalaran

17.

“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Nilai kehidupan yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah....

a)

budaya

b)

moral

c)

sosial

d)

religi

e)

politik

18.

“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Keterkaitan nilai kehidupan dalam cerpen tersebut dengan kehidupan saat ini adalah....

a)

Pasangan yang akan menikah mengumpulkan uang sebagai modal untuk nikah

b)

Orang tua pihak laki-laki tidak ikut campur dalam menentukan belis mas kawin

c)

Keluarga pihak perempuan mengunjungi pihak lelaki untuk melamar sebelum nikah

d)

Orang tua pihak laki-laki mengunjungi rumah perempuan untuk membicarakan mahar

e)

Calon pengantin perempuan meminta mahar yang memberatkan pihak laki-laki

19.

Suara deru kereta mala mini memutar ingatan delapan tahun yang lalu. Stasiun Tugu menjadi saksi bisu atas ketidakrelaanku saat harus meninggalkan Jogjakarta. Maklum, mahasiswa rantau sepertiku harus menjalani ritual mudik setiap kali liburan semester tiba. Rasanya berat sekali melepaskan kenyamanan untuk kembali menelan keruwetan di kampong halaman, Jakarta. Tetapi, itu dulu. Kini, Stasiun Tugu justru menjadi tempat pelarian tanpa harus takut menimbun rindu. Sumber: Cecilia Gandes PW, “(jog)jakarta” dalam Cerita Para Perambah, Jakarta, Kompas, 2017. Alur yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut...

a)

alur maju

b)

alur mundur

c)

alur campuran

d)

alur bebas

e)

alur

20.

“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Tema kutipan cerpen tersebut adalah....

a)

ketegasan seorang ayah

b)

keraguan seorang ayah

c)

kemarahan seorang ayah

d)

kepedulian seorang kekasih

e)

kekhawatiran seorang anak