WorksheetsASESMEN 3 — CERITA PENDEK
Total questions: 20
Worksheet time: 40mins
Setelah lama bersembunyi, aku beranjak dari parit ini menuju markas.
“Dari mana saja kau?” Tanya Martius temanku.
“Nyawaku hampir saja melayang karena ulah serdadu itu,” jawabku.
Martius kaget. Ia memberiku segelas air. Keesokkan harinya, seorang yang terjaga di bukit belantara mendatangi kami.
“Mereka ke sini! Dan akan menyerang kita,” ucapnya dengan napas terengah-engah.
Kami pun bergegas untuk melarikan diri. Tak kusangka secepat ini mereka menemukan persembunyian kami. Mereka sudah terlihat sangat dekat. Suara tembakan mengarah pada kami. Kami pun berlari sekuat tenaga menghindari tembakan itu.
“Jika aku mati sekarang, sia-sia sudah perjuangan selama ini. Aku tak akan mati sebelum mendapatkan apa yang kami mau,” pikirku saat itu.
Tokoh "Aku" dalam kutipan cerpen tersebut memiliki sifat....
mandiri
pantang menyerah
penyayang
percaya diri
tanggung jawab
Setelah lama bersembunyi, aku beranjak dari parit ini menuju markas.
“Dari mana saja kau?” Tanya Martius temanku.
“Nyawaku hampir saja melayang karena ulah serdadu itu,” jawabku.
Martius kaget. Ia memberiku segelas air. Keesokkan harinya, seorang yang terjaga di bukit belantara mendatangi kami.
“Mereka ke sini! Dan akan menyerang kita,” ucapnya dengan napas terengah-engah.
Kami pun bergegas untuk melarikan diri. Tak kusangka secepat ini mereka menemukan persembunyian kami. Mereka sudah terlihat sangat dekat. Suara tembakan mengarah pada kami. Kami pun berlari sekuat tenaga menghindari tembakan itu.
“Jika aku mati sekarang, sia-sia sudah perjuangan selama ini. Aku tak akan mati sebelum mendapatkan apa yang kami mau,” pikirku saat itu.
Suasana dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
kacau
sepi
cemas
penasaran
takut
Kerjakan soal pilihan ganda di bawah ini dengan benar! Jumlah kata dalam penulisan cerpen antara 3.000 sampai 4.000 kata disebut…
cerpen mini
cerpen pendek
cerpen panjang
cerpen ideal
cerpen non ideal
Cerpen disebut sebagai sarana hiburan bagi pembaca yang biasa disebut dengan…
rekreatif
didaktif
informatif
komunikatif
representatif
Nilai-nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan individu di dalam masyarakat disebut...
nilai moral
nilai budaya
nilai kepahlawanan
nilai politik
nilai sosial
Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar tempat dalam kutipan cerpen tersebut adalah…
di pura
di pasar
di rumah
di warung
di bawah pohon
Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar waktu dalam kutipan cerpen tersebut...
pagi hari
siang hari
sore hari
senja hari
malam hari
Senja yang remang telah menggelap dan makin menggelap dan memunculkan bintang di samping bulan. Orang itu tersenyum memandang Candri yang menyeruput bubur kacang ijonya dengan lahap. Candri, Candri, apa sajakah kerjamu sepanjang hari ini, Candri? Kau telah menjual daun-daun ketelamu ke Ubud. Kau telah lelah seharian bergantung di akar-akar pohon beringin di muka pura, melompat-lompat di tangga kalangan dan apakah yang terjadi padamu Candri ketika kulihat kamu termenung di tangga masuk dalam pura? Sumber: Seno Gumira Ajidarma, “Aku dan Bayanganmu” dalam Senja dan Cinta yang Berdarah, Jakarta, Kompas, 2014. Latar suasana dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
sedih
sendu
muram
bingung
khawatir
“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut adalah…
sudut pandang orang ketiga
sudut pandang orang pertama
sudut pandang orang kedua
sudut pandang orang campuran
sudut pandang orang sampingan
“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Sifat yang dimiliki tokoh Paman Klungsu adalah…
baik
sabar
ramah
perasa
pemalu
“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.”
“Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.”
“Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?”
“Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?”
Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul.
Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Penokohan Yu Binah dalam kutipan dalam kutipan cerpen tersebut digambarkan melalui....
narasi tokoh lain
narasi penulis
ucapan tokoh lain
ucapan tokoh
pemikiran tokoh
“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.” “Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.” “Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?” “Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?” Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. Kemudian, hati Paman Klungsu merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga. Nilai sosial dalam kutipan cerpen tersebut adalah…
membantu orang lain
selalu meminta izin
mudah bersykur
menjaga tuturan
bekerja keras
“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Tema kutipan cerpen tersebut adalah…
Kemarahan bapak kepada anaknya
Pertengkaran bapak dengan anak
Kelaparan membuat pertengkaran
Kemiskinan membuat bapak marah
Anak yang kelaparan karena miskin
“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Sifat yang dimiliki tokoh ibu dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
pemarah
pembangkang
penyabar
pengeluh
penyayang
“Mak, aku lapar…” “Tahan dulu sebentar, Nak. Kita tunggu sampai perjuangan usai. Kau jangan dulu merengek,” kata Emak. “Mau makan saja harus menunggu perjuangan selesai?” Bapak membentak. “Lebih baik kita segera pinjam uang atau beras ke tetangga! Gadaikan saja apa yang kita punya!” “Jangan dulu, Pak! Sabar dulu! Kalau kita menggadaikan apa yang kita punya, besok lusa kita menjadi gelandangan!” Emak membantah. “Tetapi sekarang kita sudah seperti gelandangan! Kita miskin! Anak kita kelaparan!” Bapak membentak lagi. Lalu Bapak pergi, membanting pintu. Ema tak menangis. Mungkin sudah habis air matanya. Mungkin dia piker menangis hanya menghabiskan tenaga, karena rasa lapar sudah membuat tubuh kami lunglai. Aku terpejam. Sumber: Zaky Yamani, Waktu Helena, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2020. Penyebab konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah..
ketidaksabaran tokoh bapak
keangkuhan tokoh bapak
kelaparan tokoh aku
kemiskinan sebuah desa
keributan antaranggota keluarga
Pengenalan tokoh yang dilakukan secara tidak langsung disebut teknik…
analitik
dramatik
sosial budaya
imajiner
panalaran
“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Nilai kehidupan yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
budaya
moral
sosial
religi
politik
“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Keterkaitan nilai kehidupan dalam cerpen tersebut dengan kehidupan saat ini adalah....
Pasangan yang akan menikah mengumpulkan uang sebagai modal untuk nikah
Orang tua pihak laki-laki tidak ikut campur dalam menentukan belis mas kawin
Keluarga pihak perempuan mengunjungi pihak lelaki untuk melamar sebelum nikah
Orang tua pihak laki-laki mengunjungi rumah perempuan untuk membicarakan mahar
Calon pengantin perempuan meminta mahar yang memberatkan pihak laki-laki
Suara deru kereta mala mini memutar ingatan delapan tahun yang lalu. Stasiun Tugu menjadi saksi bisu atas ketidakrelaanku saat harus meninggalkan Jogjakarta. Maklum, mahasiswa rantau sepertiku harus menjalani ritual mudik setiap kali liburan semester tiba. Rasanya berat sekali melepaskan kenyamanan untuk kembali menelan keruwetan di kampong halaman, Jakarta. Tetapi, itu dulu. Kini, Stasiun Tugu justru menjadi tempat pelarian tanpa harus takut menimbun rindu. Sumber: Cecilia Gandes PW, “(jog)jakarta” dalam Cerita Para Perambah, Jakarta, Kompas, 2017. Alur yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut...
alur maju
alur mundur
alur campuran
alur bebas
alur
“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini kepada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah. Tema kutipan cerpen tersebut adalah....
ketegasan seorang ayah
keraguan seorang ayah
kemarahan seorang ayah
kepedulian seorang kekasih
kekhawatiran seorang anak
