WorksheetsPENGANTAR CODING PGSD
Total questions: 16
Worksheet time: 26mins
Dalam Kurikulum Nasional terbaru, mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dirancang bukan sekadar untuk mengenalkan teknologi, tetapi juga untuk…
Mengarahkan siswa agar mampu bekerja menggunakan perangkat lunak industri profesional
Mengembangkan kemampuan berpikir komputasional sebagai fondasi untuk memahami masalah secara sistematis
Melatih siswa menulis sintaks program yang sesuai standar industri digital global
Dalam pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, elemen utama yang harus dikuasai peserta didik pada tahap awal adalah...
Kemampuan menulis kode dengan berbagai bahasa pemrograman
Pemahaman logika, pola, dan algoritma sederhana dalam pemecahan masalah
Penerapan langsung konsep machine learning pada proyek mini siswa
Seorang mahasiswa PGSD ingin menggunakan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk membuat infografis edukatif tentang pentingnya mencuci tangan bagi siswa SD.
Tujuannya adalah menghasilkan konten yang relevan secara pendidikan, mudah dipahami anak-anak, dan memiliki pesan ajakan yang kuat.
Mahasiswa tersebut ingin mencoba dua pendekatan prompt berbeda:
Zero-Shot Prompt: langsung memerintahkan AI tanpa contoh.
Few-Shot Prompt: memberikan satu atau dua contoh hasil yang diinginkan sebelum meminta AI membuat versinya sendiri.
Dari pilihan berikut, manakah strategi prompt yang paling tepat digunakan untuk mencapai hasil terbaik dalam konteks pembelajaran dasar?
Zero-Shot Prompt:
“Buat infografis tentang pentingnya mencuci tangan.”
(Cepat dan langsung, tanpa memberi contoh.)
Few-Shot Prompt:
“Berikut contoh infografis edukatif untuk anak SD tentang menjaga kebersihan gigi: berisi gambar lucu, kalimat pendek, dan ajakan positif.
Sekarang buat infografis serupa, tetapi topiknya adalah pentingnya mencuci tangan.”
Zero-Shot Prompt:
“Tampilkan infografis ilmiah tentang prosedur mencuci tangan berdasarkan jurnal WHO.”
Dalam konteks pembelajaran bahasa, penggunaan perangkat Kecerdasan Artifisial (KA) untuk menyunting teks siswa bertujuan utama untuk...
Menggantikan sepenuhnya peran guru dalam memberikan umpan balik tulisan siswa
Membantu siswa mengenali kesalahan dan memahami cara memperbaikinya secara mandiri
Menilai hasil tulisan siswa berdasarkan skor otomatis tanpa pertimbangan konteks
Seorang guru bernama Pak Andi meminta siswanya menulis karangan naratif. Setelah itu, ia menggunakan perangkat Kecerdasan Artifisial (KA) penyunting teks untuk membantu memberi umpan balik. Namun, Pak Andi menyadari bahwa beberapa saran dari perangkat tersebut mengubah makna asli tulisan siswa, meskipun secara tata bahasa menjadi lebih baik.
Dalam situasi ini, tindakan yang paling tepat dilakukan oleh Pak Andi adalah...
Mengikuti semua saran dari perangkat KA karena dianggap lebih benar secara teknis
Mengabaikan seluruh saran dari perangkat KA agar tulisan siswa tetap orisinal
Meninjau saran dari perangkat KA secara kritis dan mendiskusikannya bersama siswa
Perhatikan paragraf karya siswa berikut ini:
“Waktu pelajaran daring kemaren, aku ngerasa agak males buat buka laptop. Tapi setelah liat tugas dari guru, aku jadi semangat lagi karena tugasnya gampang banget.”
Sebagai guru yang menggunakan perangkat Kecerdasan Artifisial (KA) penyunting teks, tindakan yang paling tepat untuk membantu siswa memperbaiki paragraf di atas adalah...
Mengizinkan perangkat KA memperbaiki semua kata tidak baku secara otomatis tanpa penjelasan
Menggunakan perangkat KA untuk menyoroti kata tidak baku, lalu mendiskusikan bersama siswa alasan perbaikannya
Membiarkan paragraf tersebut karena sudah mudah dipahami meskipun ada kata tidak baku
Bu Rina menggunakan fitur Prompt AI di Quizizz untuk membuat soal topik “Sistem Pernapasan Manusia”. Setelah sistem menghasilkan 10 soal otomatis, Bu Rina menemukan bahwa beberapa pertanyaan sudah bagus, tetapi sebagian lainnya kurang sesuai dengan capaian pembelajaran.
Tindakan yang paling tepat untuk dilakukan Bu Rina adalah...
Mengedit sebagian soal agar sesuai dengan kurikulum, dan memanfaatkan sisanya untuk inspirasi pembuatan soal baru
Menghapus semua soal dan menulis ulang dari awal agar hasilnya lebih orisinal
Menggunakan semua soal tanpa perubahan agar terlihat konsisten dengan hasil AI
Pak Dani sedang membuat soal di Quizizz menggunakan fitur Prompt berbasis AI. Ia mengetik perintah:
“Buatkan soal pilihan ganda tentang Energi Panas untuk siswa SD kelas 4.”
Hasilnya: AI menghasilkan 10 soal, tetapi sebagian belum menggunakan bahasa yang sesuai tingkat berpikir anak SD.
Langkah terbaik yang seharusnya dilakukan oleh Pak Dani adalah...
Mengedit bahasa pada soal agar lebih sederhana dan sesuai dengan kemampuan literasi siswa.
Menghapus hasil AI karena sudah tidak bisa digunakan untuk pembelajaran tingkat dasar.
Menjalankan kembali perintah Prompt dengan topik baru yang lebih mudah dipahami siswa.
Bu Lestari menggunakan aplikasi berbasis Kecerdasan Artifisial untuk mengolah data nilai ulangan siswa secara otomatis. Aplikasi tersebut mampu menghitung rata-rata, mencari nilai tertinggi–terendah, dan memberikan analisis tren pencapaian belajar.
Namun, hasil analisis AI menunjukkan ada satu siswa yang “berisiko gagal mencapai KKM” berdasarkan pola data sebelumnya.
Tindakan paling tepat yang seharusnya dilakukan Bu Lestari adalah...
Menggunakan hasil analisis AI sebagai pertimbangan awal, lalu memverifikasi dengan observasi dan catatan perilaku belajar siswa.
Langsung menetapkan hasil AI sebagai dasar keputusan remedi, karena sistem sudah memproses data secara objektif.
Mengabaikan hasil AI karena keputusan guru tidak boleh dipengaruhi oleh teknologi.
Pak Arif menggunakan sistem AI berbasis dashboard analitik untuk meninjau perkembangan nilai siswa selama satu semester. AI menampilkan grafik perbandingan antar siswa dan memberikan rekomendasi tindakan, seperti “beri tugas tambahan kepada siswa dengan skor di bawah rata-rata kelas.”
Namun, Pak Arif menyadari bahwa ada beberapa siswa dengan nilai rendah karena faktor non-akademik seperti kondisi keluarga dan kesehatan.
Langkah terbaik yang seharusnya dilakukan Pak Arif adalah...
Menggunakan hasil analisis AI sebagai bahan pertimbangan, lalu mengombinasikannya dengan pemahaman pribadi terhadap kondisi tiap siswa sebelum menentukan tindak lanjut.
Mengikuti semua rekomendasi AI karena datanya sudah berbasis algoritma yang objektif dan bebas bias manusia.
Mengabaikan rekomendasi AI agar keputusan sepenuhnya berdasarkan penilaian guru terhadap karakter siswa.
Setelah menggunakan perangkat Kecerdasan Artifisial (KA) untuk membantu proses penyuntingan teks dan analisis nilai siswa, Bu Rani diminta menulis refleksi pembelajaran. Dalam refleksi itu, ia menyadari bahwa beberapa perangkat AI sering memberikan hasil yang tidak sesuai konteks, dan ia merasa kebingungan menentukan cara terbaik untuk menyesuaikannya dalam pembelajaran.
Dalam menulis refleksinya, fokus utama yang seharusnya ditulis Bu Rani agar refleksinya bermakna dan mengembangkan kemampuan problem-solving adalah...
Menguraikan kelemahan perangkat KA yang digunakan dan menyarankan agar guru lain berhati-hati saat memakainya.
Menjelaskan pengalaman pribadi menggunakan KA, tantangan yang dihadapi, serta strategi konkret yang akan diterapkan untuk mengatasi kendala serupa di masa depan.
Menuliskan kembali langkah-langkah teknis penggunaan perangkat KA secara detail agar mudah diikuti oleh guru lain.
Pak Joko ingin mengajarkan siswanya membuat proyek digital berbasis Kecerdasan Artifisial, yaitu “Mendesain Poster Edukasi Hemat Energi Menggunakan AI.”
Agar hasilnya optimal, Pak Joko menggunakan prompt multi-langkah, yang terdiri dari:
1️⃣ Menjelaskan tujuan proyek kepada AI.
2️⃣ Meminta AI memberi ide desain.
3️⃣ Meminta AI menulis teks poster.
4️⃣ Menyempurnakan hasil akhir berdasarkan umpan balik siswa.
Namun, hasil akhirnya masih belum sesuai konteks pembelajaran yang diinginkan.
Langkah paling tepat untuk memperbaiki prompt multi-langkah tersebut adalah...
Mengubah urutan langkah menjadi lebih sederhana agar AI tidak bingung memahami konteks instruksi.
Menambahkan instruksi eksplisit pada setiap tahap, termasuk kriteria keberhasilan dan gaya desain yang diinginkan.
Menghapus tahap umpan balik siswa agar hasil AI lebih konsisten dengan respons awal sistem.
Dalam proyek “Membuat Video Edukasi Berbasis AI”, Pak Andi meminta siswa menggunakan prompt multi-langkah untuk menghasilkan konten edukatif tentang lingkungan.
Beberapa siswa justru memilih tema “Kucing Lucu di Sekitar Sekolah”, karena menurut mereka itu lebih menarik perhatian audiens.
Agar proyek tetap edukatif tanpa mematikan kreativitas siswa, langkah paling tepat yang seharusnya dilakukan Pak Andi adalah...
Meminta siswa mengganti tema sepenuhnya menjadi topik lingkungan agar sesuai dengan tujuan awal proyek.
Mengarahkan siswa untuk mengaitkan tema yang mereka pilih dengan nilai edukatif, misalnya perilaku merawat hewan dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Membiarkan siswa melanjutkan tema awal tanpa intervensi agar ide mereka berkembang secara alami.
Dalam proyek “Membuat Cerita Edukatif dengan Bantuan AI”,
Ibu Nanda meminta siswa menggunakan prompt multi-langkah untuk mendesain karakter utama.
Beberapa siswa langsung meminta AI membuat karakter dengan deskripsi lengkap tanpa menentukan nilai moral atau sifat tokoh terlebih dahulu.
Akibatnya, karakter yang dihasilkan tampak menarik secara visual, tetapi tidak mencerminkan pesan edukatif yang diinginkan.
Langkah paling tepat yang seharusnya dilakukan Ibu Nanda adalah...
Mengarahkan siswa agar menambahkan deskripsi nilai dan sifat karakter dalam prompt, seperti kejujuran, tanggung jawab, atau rasa ingin tahu.
Meminta siswa menggunakan template karakter dari AI agar hasilnya konsisten dan cepat selesai.
Menilai hasil karakter siswa berdasarkan kreativitas visual semata, karena AI sudah membantu menghasilkan aspek moral secara implisit.
Dalam proyek “Menulis Cerita Edukatif dengan Bantuan AI”,
Pak Ridho meminta siswa mendesain latar (setting) menggunakan prompt multi-langkah agar cerita terasa lebih hidup.
Beberapa siswa langsung memerintahkan AI membuat latar yang “indah dan menarik”, tanpa menjelaskan hubungan antara latar dan pesan moral cerita.
Akibatnya, latar yang dihasilkan memang estetis, tetapi tidak mendukung isi cerita secara edukatif.
Langkah paling tepat yang seharusnya dilakukan Pak Ridho agar siswa dapat membuat latar yang selaras dengan nilai pendidikan adalah...
Meminta siswa menambahkan unsur waktu, tempat, dan suasana dalam prompt agar AI menghasilkan latar yang realistis dan detail.
Mengarahkan siswa untuk menautkan latar dengan konteks moral atau pesan edukatif, misalnya lingkungan sekolah sebagai tempat menanamkan nilai disiplin.
Menyarankan siswa memilih latar populer dari hasil AI agar cerita lebih mudah dipahami dan menarik perhatian pembaca.
Seorang mahasiswa PGSD sedang merancang proyek video edukatif tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Ia menggunakan perangkat kecerdasan artifisial untuk membantu membuat storyboard sederhana.
Dalam prompt awal, mahasiswa menuliskan:
“Buat storyboard singkat tentang kebersihan sekolah, tampilkan siswa sedang membuang sampah dan guru memberikan pujian.”
AI kemudian menghasilkan storyboard dengan gambar dan teks, tetapi hasilnya terasa kurang menggambarkan alur pesan edukatif secara menyeluruh.
Langkah terbaik agar hasil storyboard lebih bermakna dan terarah adalah...
Menambahkan detail teknis pada prompt, seperti jumlah adegan, sudut kamera, dan ekspresi tokoh agar storyboard terlihat lebih realistis.
Menyusun ulang prompt dengan menekankan alur cerita edukatif — mulai dari masalah kebersihan, tindakan siswa, hingga perubahan perilaku positif di akhir.
Meminta AI menambahkan efek visual dan warna cerah agar storyboard terlihat lebih menarik bagi anak-anak SD.
