Font size
WorksheetsPendahuluan dan Epidemiologi di Indonesia
Total questions: 93
Worksheet time: 47mins
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah penyakit apa? Pilih definisi yang paling tepat.
Gangguan degeneratif sendi akibat penuaan
Penyakit autoimun sistemik yang kompleks dengan keterlibatan multiorgan
Infeksi bakteri akut pada kulit dan ginjal
Kelainan genetik tunggal yang diturunkan secara autosomal dominan
Berdasarkan data epidemiologi Indonesia, bagaimana rasio perempuan dibandingkan laki-laki untuk kejadian SLE?
1 : 1
2 : 1
9,5 : 1
20 : 1
Pada rentang usia berapa awitan gejala dan tanda SLE umumnya muncul, dan kapan puncak usia terjadinya?
Usia 1–8 tahun, puncak 5 tahun
Usia 9–58 tahun, puncak 28 tahun
Usia 30–70 tahun, puncak 55 tahun
Usia 15–25 tahun, puncak 18 tahun
Manakah kombinasi manifestasi klinis yang PALING sering dilaporkan pada SLE di Indonesia menurut data yang diberikan?
Artritis, kelainan kulit dan mukosa, nefritis lupus, kelelahan, demam
Asma, urtikaria akut, otitis media, nyeri punggung bawah, konstipasi
Gagal jantung, stroke, sirosis, ulkus peptikum, katarak
Epilepsi, pneumonia bakterial, psoriasis, divertikulitis, hipotermia
Manakah pernyataan yang benar terkait manifestasi laboratoris tersering pada SLE?
ANA positif sekitar 98,4%, anti-dsDNA positif 47%, limfopenia 75,4%, anemia hemolitik 26,08%
ANA negatif pada sebagian besar pasien, anti-dsDNA 5%, limfositosis 80%, trombositosis 60%
CRP sangat tinggi pada semua pasien, kultur darah positif 50%, neutrofilia 90%, hiperkalemia 70%
HLA-B27 positif 90%, faktor reumatoid 2%, eosinofilia 60%, hipoglikemia 40%
Data kunjungan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Manakah rangkaian persentase yang sesuai untuk 2015 hingga 2017?
10–15% (2015), 12–18% (2016), 15–20% (2017)
17,9–27,2% (2015), 18,7–31,5% (2016), 30,3–58% (2017)
5–10% (2015), 8–12% (2016), 10–14% (2017)
25–30% (2015), 20–25% (2016), 15–20% (2017)
Angka kesintasan SLE di Indonesia yang dilaporkan untuk 5 tahun dan 10 tahun adalah berapa?
95% dan 90%
80% dan 75%
70% dan 60%
50% dan 40%
Komponen genetik SLE: manakah pernyataan yang paling sesuai dengan data yang disajikan terkait kekerabatan dan gen yang berasosiasi?
Risiko sama pada semua orang; tidak ada gen terkait yang diketahui
10% pasien memiliki kerabat derajat pertama yang terdampak; kembaran identik memiliki peluang konkordansi 25%; gen seperti HLA, ITGAM, IRF5, STAT4, dan PTPN22 berasosiasi dengan peningkatan risiko
Hanya kembar tidak identik yang menunjukkan konkordansi tinggi (50%); gen tunggal BLK menjadi satu-satunya penentu SLE
Semua bentuk SLE murni diturunkan autosomal resesif tanpa pengaruh lingkungan; gen HLA tidak terlibat
[DoK 1] Mana dari berikut ini yang termasuk pemicu lingkungan yang DEFINITIF untuk induksi atau aktivasi SLE?
Paparan sinar UV
Asap tembakau
Silika
Beberapa vaksin
[DoK 1] Berdasarkan materi, dua contoh faktor lingkungan yang dikategorikan sebagai POSSIBLE pemicu SLE adalah:
Asap tembakau dan silika
Hidrazin dan tartrazin
Psoralen dari seledri dan buah ara
Infeksi jamur dan virus
[DoK 2] Seorang pasien menggunakan obat resep baru dan kemudian muncul gejala fotosensitivitas. Berdasarkan klasifikasi pemicu lingkungan SLE, penjelasan paling tepat adalah:
Obat resep merupakan pemicu definitif sehingga reaksi ini konsisten dengan aktivasi SLE
Obat resep hanya faktor probable sehingga hubungan tidak mungkin
Fotosensitivitas hanya dipicu oleh makanan mengandung psoralen
Obat resep diklasifikasikan sebagai possible sehingga bukti lemah
[DoK 2] Pasien melaporkan stres fisik/psikologis yang berat dan konsumsi makanan asap. Dalam kategori materi, bagaimana kedua faktor ini diklasifikasikan?
Keduanya probable
Keduanya definitif
Stres probable, makanan asap definitif
Stres possible, makanan asap possible
[DoK 3] Seorang kembar identik mengalami SLE, sedangkan saudara kembarnya baru terpapar sinar UV berlebih dan memakai obat resep. Berdasarkan model patogenesis yang menempatkan ‘stimulus lingkungan’ memicu proliferasi autoimun, strategi pencegahan paling logis adalah:
Mengurangi paparan UV dan meninjau penggunaan obat resep yang berisiko
Meningkatkan konsumsi legum kaya L‑canavanine
Menghindari semua vaksin untuk mencegah aktivasi SLE
Mengonsumsi makanan asap untuk meningkatkan toleransi
[DoK 1] Pada foto klinis ‘lupus arthritis’, temuan khas yang membedakan dari artritis reumatoid menurut keterangan adalah:
Subluksasi MCP dan swan neck yang dapat direposisi tanpa erosi atau kista pada foto rontgen
Erosi marginal ekstensif pada sendi MCP disertai kista subkondral
Deformitas tetap yang tidak dapat direduksi akibat tendon kaku
Nodul reumatoid keras di sepanjang ekstensor
[DoK 3] Pasien dengan predisposisi HLA-DR3 mengalami peningkatan rasio CD4:CD8 dan gangguan pembersihan kompleks imun. Berdasarkan skema patogenesis, konsekuensi imunologis yang paling mungkin berikutnya adalah:
Produksi autoantibodi melalui mekanisme paparan-diri, pengenalan diri, dan reaksi silang
Normalisasi toleransi imun dan penurunan autoantibodi
Eliminasi lengkap kompleks imun sehingga tidak terjadi peradangan
Inaktivasi sel B sehingga menurun semua respon humoral
Perhatikan diagram patogenesis SLE. Pada tahap "Genes", manakah faktor genetik yang secara langsung terkait dengan komponen komplemen menurut gambar?
HLA-D2,3,8
IL-10
C1q, C2, C4
PTPN22
Menurut diagram, stimulus lingkungan yang tercantum sebagai pemicu dalam SLE adalah apa?
Hipertensi kronik dan diet tinggi garam
Paparan sinar UV serta kemungkinan infeksi (termasuk EBV)
Hiperlipidemia dan obesitas
Defisiensi vitamin B12
Pada tahap "Abnormal Immune Response" dalam diagram, sel mana yang berperan dalam memicu produksi autoantibodi oleh B-cell?
Sel dendritik (DC) dan T-cell yang diaktifkan oleh antigen
Sel neutrofil yang melakukan fagositosis bakteri
Sel NK yang mengekspresikan perforin tinggi
Sel eritrosit yang membawa imun kompleks
Diagram menunjukkan aktivasi komplemen (C3, C3a). Konsekuensi langsung dari pembentukan autoantibodi dan kompleks imun terhadap organ adalah apa?
Resolusi inflamasi cepat tanpa gejala
Rash, nefritis, artritis, leukopenia, penyakit CNS, karditis, dan pembekuan
Hanya anemia hemolitik tanpa keterlibatan organ lain
Peningkatan regenerasi jaringan ginjal
Berdasarkan urutan dalam diagram, hasil akhir dari inflamasi kronik dan oksidasi kronik pada SLE paling tepat adalah apa?
Normalisasi imun dan tidak ada kerusakan lebih lanjut
Gagal ginjal, aterosklerosis, fibrosis pulmoner, stroke, serta kerusakan akibat terapi
Hanya peningkatan produksi antibodi pelindung
Regenerasi vaskular yang protektif
Gambar klinis menunjukkan ulkus oral. Berdasarkan slide sebelah kanan, mekanisme imun yang paling terkait dengan lesi ini pada SLE adalah apa?
Hipersenitivitas tipe I yang dimediasi IgE terhadap alergen makanan
Hipersenitivitas tipe III yang dimediasi kompleks imun dengan pembersihan via sistem komplemen
Hipersenitivitas tipe IV yang dimediasi sel T memori terhadap antigen kontak
Sitotoksisitas langsung oleh sel NK terhadap mukosa oral
Menurut poin pada slide "Type III Hypersensitivity Reaction", urutan proses yang paling logis adalah apa?
Pembentukan kompleks imun → hiperaktivitas T/B → pembersihan komplemen → kerusakan jaringan
Hiperaktivitas T dan B-cell → pembentukan kompleks imun → pembersihan via komplemen → kerusakan jaringan
Pembersihan via komplemen → pembentukan kompleks imun → hiperaktivitas sel → penyembuhan
Kerusakan jaringan → pembersihan komplemen → hiperaktivitas sel → pembentukan kompleks imun
Seorang pasien SLE mengalami nefritis. Berdasarkan diagram patogenesis, proses mana yang paling langsung berkontribusi pada kerusakan ginjal?
Produksi autoantibodi dan deposit kompleks imun yang mengaktifkan C3/C3a
Defisiensi besi yang menurunkan eritropoiesis
Alergi makanan yang memicu IgE terhadap protein susu
Mutasi HLA tunggal yang selalu cukup menimbulkan kerusakan ginjal tanpa mediator lain
Gambar menunjukkan ulkus pada mukosa mulut. Pada LES (SLE), ulkus oral paling tepat dikaitkan dengan proses imun apa?
Pembentukan kompleks imun yang mengendap pada jaringan (Hipersensitivitas Tipe III)
Sitotoksisitas langsung oleh sel NK tanpa antibodi (respons innate murni)
Reaksi hipersensitivitas Tipe I yang dimediasi IgE terhadap alergen makanan
Reaksi penolakan transplantasi akut yang dimediasi sel T sitotoksik
Dalam hipersensitivitas Tipe III pada LES, pernyataan mana yang paling benar mengenai peran sel T dan B?
Sel B menghasilkan autoantibodi yang berikatan dengan antigen diri membentuk kompleks imun; sel T membantu aktivasi sel B
Sel T sitotoksik menghancurkan kompleks imun dengan perforin sehingga mencegah deposisi
Sel B hanya memproduksi IgE sehingga memicu degranulasi mast cell sebagai mekanisme utama
Sel T regulatorik meningkatkan toleransi sehingga memperkuat pembentukan kompleks imun patologis
Urutkan peristiwa kunci pada kerusakan jaringan di LES terkait hipersensitivitas Tipe III.
Pembentukan autoantibodi → kompleks imun mengendap pada jaringan → aktivasi komplemen → inflamasi dan kerusakan jaringan
Aktivasi komplemen → produksi autoantibodi → pembersihan kompleks imun total → tidak terjadi inflamasi
Degranulasi mast cell oleh IgE → vasodilatasi → penyembuhan ulkus cepat tanpa kerusakan jaringan
Fagositosis antigen oleh neutrofil → presentasi antigen → toleransi perifer meningkat sehingga tidak ada kerusakan
Seorang perempuan muda mengalami ulkus mulut berulang dan temuan klinis yang melibatkan dua organ. Tindakan klinis paling tepat berdasarkan kewaspadaan LES adalah...
Mencurigai LES dan merujuk untuk pemeriksaan lanjutan ke spesialis terkait keterlibatan organ
Memberikan antibiotik empiris dan menunda evaluasi autoimun hingga gejala memburuk
Mendiagnosis LES hanya berdasarkan ulkus mulut tanpa evaluasi organ lain
Menganggap ulkus mulut sebagai stomatitis sederhana tanpa perlu rujukan
Pada konteks kewaspadaan LES, kriteria umum yang menimbulkan kecurigaan adalah ditemukannya pada perempuan usia muda keluhan/manifes klinis pada berapa banyak organ?
Satu organ saja
Dua organ atau lebih
Tiga organ spesifik (kulit, ginjal, jantung)
Organ tunggal bila disertai anemia berat
Gejala konstitusional yang mendukung kecurigaan LES adalah kombinasi berikut, KECUALI:
Kelelahan yang menetap
Demam tanpa bukti infeksi
Penurunan berat badan
Demam dengan bukti infeksi bakteri jelas
Manifestasi kulit yang paling khas untuk kecurigaan LES adalah:
Ruam kupu-kupu (malar rash)
Urtikaria akibat alergi makanan akut
Striae pada abdomen
Petechie terbatas di tungkai bawah akibat trauma
Keterlibatan ginjal awal pada LES dapat dicurigai bila dijumpai:
Hematuria, proteinuria, silinderuria, atau sindroma nefrotik
Nyeri pinggang mekanik tanpa abnormalitas urin
Batu ginjal dengan kolik
Pielonefritis akut terkonfirmasi kultur
Pada kecurigaan LES, keterlibatan paru yang perlu diwaspadai meliputi:
Pneumonitis, alveolitis, bronkiektasis, penyakit interstisial paru, hipertensi pulmonal, atau emboli pulmonal
Asma alergik musiman saja
Tuberkulosis aktif sebagai satu-satunya diagnosis
Pneumotoraks spontan primer pada remaja sehat
Dari daftar manifestasi hematologik pada LES berikut, manakah yang PALING tepat?
Anemia, leukopenia, limfopenia, trombositopenia
Polisitemia, leukositosis neutrofilik, trombositosis reaktif
Hemofilia A, eritrositosis primer, agranulositosis obat
Talassemia mayor, neutropenia siklik, hemolisis karena malaria
Seorang pasien dengan kejang, psikosis, dan gangguan kognitif tanpa penyebab jelas disertai artralgia. Berdasarkan kriteria kewaspadaan, langkah klinis yang paling tepat adalah:
Mencurigai LES karena ada keterlibatan neuropsikiatri dan muskuloskeletal pada ≥2 sistem organ
Menetapkan diagnosis epilepsi primer dan merujuk ke bedah saraf
Memberikan antibiotik spektrum luas untuk dugaan meningitis bakteri
Menganggap stres psikologis sebagai penyebab tunggal
Berdasarkan ringkasan manifestasi klinis SLE, manakah pasangan organ–manifestasi yang sesuai?
Jantung – perikarditis, miokarditis, kelainan katup
Endokrin – hipertiroidisme berat khas SLE
Okular – katarak kongenital sebagai keluhan utama
Muskoloskeletal – fraktur patologis akibat metastasis
Perhatikan gambar lesi kulit pada pipi pasien. Lesi berbentuk plak eritematosa bertepi tegas dengan skuama tebal di permukaan. Manifestasi kulit SLE apa yang paling sesuai dengan temuan pada gambar?
Malar rash (butterfly rash)
Discoid rash
Photosensitive maculopapular rash difus
Livedo reticularis terkait APS
Pada SLE, discoid rash biasanya memiliki ciri khas berikut, KECUALI:
Plak eritematosa bertepi jelas dengan skuama
Dapat meninggalkan sikatriks/atrofi pascalesi
Distribusi dominan pada area terpapar sinar matahari
Selalu disertai ulkus oral yang nyeri
Seorang pasien dengan SLE datang dengan lesi diskus pada wajah seperti pada gambar. Area anatomi mana yang PALING sering terkena discoid rash?
Area intertriginosa (ketiak, lipat paha)
Area fotoekspos seperti wajah dan kulit kepala
Telapak tangan dan telapak kaki
Mukosa mulut dan hidung bagian dalam
Dalam klasifikasi manifestasi kulit SLE, manakah yang membedakan discoid rash dari malar rash?
Malar rash biasanya meninggalkan sikatriks permanen, sedangkan discoid rash tidak
Discoid rash berupa plak berskuama terlokalisasi, sedangkan malar rash eritema difus pada pipi dan puncak hidung
Malar rash cenderung hanya muncul pada ekstremitas, sedangkan discoid rash pada wajah
Discoid rash khas tidak dipengaruhi paparan sinar, sedangkan malar rash fotosensitif
Temuan mana berikut yang mendukung keterlibatan folikel rambut pada discoid rash di kulit kepala pasien SLE?
Alopecia sikatrik dengan sumbatan folikular
Rambut rontok difus tanpa bekas parut
Hipertrikosis pada area lesi
Tampak telangiektasis menyeluruh pada skalp
Seorang pasien SLE dengan discoid rash mengalami hipopigmentasi sentral pada lesi lama. Interpretasi terbaik adalah:
Tanda peradangan akut yang baru muncul
Perubahan pascainflamasi dan kemungkinan atrofi kulit
Infeksi jamur superfisial yang berdampingan
Efek samping kortikosteroid sistemik jangka pendek
Jika pada evaluasi kulit pasien SLE ditemukan lesi seperti pada gambar dan hasil biopsi menunjukkan hiperkeratosis folikular dengan sumbatan keratin, diagnosis yang paling konsisten adalah:
Malar rash akut
Subacute cutaneous lupus erythematosus (SCLE) annular
Discoid lupus erythematosus (DLE)
Dermatomiositis dengan heliotrope rash
Pada penatalaksanaan lesi discoid pada SLE, intervensi awal yang umumnya direkomendasikan adalah:
Antikoagulan profilaksis untuk mencegah trombosis
Kortikosteroid topikal poten dan fotoproteksi konsisten
Rituksimab intravena sebagai lini pertama
Antibiotik oral jangka panjang untuk mencegah superinfeksi
Manakah daftar yang benar mengenai sistem kriteria klasifikasi LES utama yang digunakan secara historis?
ACR 1997, SLICC 2012, ACR/EULAR 2019
ACR 1980, WHO 2005, EULAR 2010
NIH 1995, SLICC 2000, CDC 2015
EULAR 1992, WHO 2001, ARA 2018
Menurut perbandingan performa, kriteria manakah yang memiliki sensitivitas tertinggi untuk klasifikasi LES?
ACR 1997 (83%)
SLICC 2012 (97%)
ACR/EULAR 2019 (93,38%)
Semua memiliki sensitivitas yang sama
Spesifisitas tertinggi di antara kriteria berikut untuk klasifikasi LES adalah:
ACR 1997 (96%)
SLICC 2012 (84%)
ACR/EULAR 2019 (93,38%)
SLICC 2012 dan ACR/EULAR 2019 sama (93,38%)
Pernyataan berikut yang BENAR terkait kriteria SLICC 2012 adalah:
Klasifikasi memerlukan pemenuhan 4 dari 11 kriteria tanpa syarat lain
Kriteria hanya dapat digunakan bila ANA-IF ≥1:80
Klasifikasi dapat ditegakkan jika memenuhi 4 dari 17 kriteria (minimal 1 klinis dan 1 imunologi) atau bukti nefritis LES pada biopsi dengan ANA atau anti-dsDNA positif
Diperlukan skor total ≥10 dari kriteria berbobot
Pada kriteria ACR/EULAR 2019, syarat awal (entry criterion) sebelum penilaian kriteria tambahan adalah:
Memenuhi 4 dari 11 kriteria klasik
Titer ANA-IF positif ≥1:80 atau setara, tanpa kemungkinan penyebab lain
Adanya nefritis proliferatif pada biopsi ginjal
Adanya anti-dsDNA dan anti-Sm positif secara bersamaan
Dalam skema ACR/EULAR 2019, klasifikasi LES ditegakkan ketika:
Skor total ≥10 dengan minimal satu kriteria klinis
Skor total ≥4 tanpa syarat lain
Semua domain klinis terpenuhi minimal dua kriteria
ANA negatif tetapi anti-dsDNA tinggi
Menurut kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2019 untuk SLE, apa syarat masuk (entry criterion) yang harus dipenuhi sebelum skor domain lainnya dinilai?
Adanya antibodi anti-dsDNA positif pada dua kali pemeriksaan
Kadar komplemen C3 dan C4 rendah secara bersamaan
Hasil antinuclear antibodies (ANA) positif pada titer yang ditentukan
Ditemukan proteinuria persisten ≥0,5 g/24 jam
Dalam sistem ACR/EULAR 2019, manakah yang termasuk ke dalam domain imunologi (immunology domain) saat perhitungan skor klasifikasi SLE?
Anti-dsDNA dan/atau anti-Sm, kadar komplemen rendah, antibodi antifosfolipid
Artritis non-erosif, serositis, dan ruam malar
Kejang, psikosis, dan neuropati perifer
Anemia hemolitik, trombositopenia, dan leukopenia
Bagaimana prinsip penjumlahan skor pada ACR/EULAR 2019 setelah syarat masuk terpenuhi?
Menjumlahkan semua item yang ada, termasuk yang berasal dari domain yang sama bila muncul bersamaan
Mengambil skor tertinggi dari tiap domain dan menjumlahkannya, tanpa menjumlah dua item dalam domain yang sama
Mengalikan skor tiap item dengan jumlah domain aktif
Hanya menghitung skor dari domain klinis tanpa memasukkan domain imunologi
Batas skor akumulatif minimum untuk mengklasifikasikan seseorang sebagai SLE menurut ACR/EULAR 2019 adalah:
≥6 poin setelah ANA positif
≥10 poin tanpa syarat ANA
≥12 poin dengan minimal dua domain klinis
≥10 poin setelah memenuhi syarat ANA positif
Pernyataan yang paling akurat mengenai peran ANA dalam ACR/EULAR 2019 adalah:
ANA merupakan salah satu item yang diberi skor dalam domain imunologi
ANA hanyalah uji skrining dan tidak terkait dengan klasifikasi
ANA wajib positif sebagai kriteria masuk sebelum sistem skor diaplikasikan
ANA dapat menggantikan kebutuhan bukti keterlibatan organ apapun
Pada pasien dengan kecurigaan SLE, pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL) dan laju endap darah (LED) terutama ditujukan untuk mengidentifikasi kelainan hematologi berikut ini.
Anemia, leukopenia/limfopenia, dan trombositosis akibat infeksi akut
Anemia (hemolisis/defisiensi besi/penyakit kronis/perdarahan), leukopenia/limfopenia, dan trombositopenia
Polisitemia, neutrofilia, dan trombositemia reaktif
Anemia megaloblastik, eosinofilia, dan peningkatan faktor koagulasi
Tujuan utama urinalisis lengkap pada kecurigaan SLE adalah…
Menilai kadar hormon tiroid yang memengaruhi nefritis
Mendeteksi kelainan seperti proteinuria, hematuria, piuria, dan kelainan sedimen
Menentukan tipe batu ginjal secara spesifik
Menilai derajat dehidrasi melalui berat jenis saja
Seorang pasien SLE didapati proteinuria positif pada urinalisis cepat. Tindak lanjut yang dianjurkan berdasarkan prosedur adalah…
Melakukan kultur urin untuk menyingkirkan bakteri asimtomatik
Mengulang urinalisis pagi hari selama 7 hari berturut-turut
Melakukan perhitungan protein urin 24 jam secara kuantitatif dan/atau rasio protein/kreatinin urin
Langsung memulai terapi steroid tanpa pemeriksaan tambahan
Komponen pemeriksaan kimia darah yang direkomendasikan pada evaluasi SLE meliputi…
Fungsi ginjal (kreatinin), fungsi hati (SGOT/SGPT), albumin, dan glukosa darah
Asam urat, laktat dehidrogenase, kreatin kinase, dan bilirubin tak langsung
Elektrolit lengkap, kalsium ion, fosfat, dan magnesium
Profil lipid puasa, asam lemak bebas, dan keton darah
Grafik menunjukkan persentase pasien dengan hasil positif sebelum diagnosis untuk berbagai autoantibodi. Berdasarkan visual tersebut, autoantibodi yang paling sering terdeteksi sebelum diagnosis SLE adalah…
Anti-dsDNA
Anti-Ro
ANA
Anti-Sm
Berdasarkan pola pada grafik deteksi autoantibodi pra-diagnosis, manakah pasangan yang tepat antara autoantibodi dan perkiraan frekuensi relatifnya sebelum diagnosis SLE?
Anti-dsDNA lebih sering dari ANA
Anti-Sm lebih sering dari Anti-Ro
aPL lebih jarang daripada Anti-La
Anti-nRNP paling sering dibanding semua lainnya
Seorang klinisi menyusun panel awal untuk evaluasi pasien tersangka SLE. Manakah kombinasi berikut yang paling mencerminkan paket pemeriksaan laboratorium dasar dan penilaian autoantibodi yang relevan?
DPL/LED, urinalisis dengan evaluasi proteinuria, kimia darah (kreatinin, SGOT/SGPT, albumin, glukosa), serta skrining autoantibodi (ANA diikuti panel spesifik seperti anti-dsDNA)
Uji toleransi glukosa, kultur darah, panel trombofilia herediter, dan tes alergi kulit
Hanya ANA; pemeriksaan lain ditunda sampai diagnosis pasti
Panel metabolik ekstensif termasuk profil lipid dan kadar hormon, tanpa urinalisis
DoK 1 – Manakah pernyataan yang benar mengenai antibodi antinuklear (ANA) pada SLE?
ANA positif pada 95–100% pasien SLE dan bukan pemeriksaan skrining SLE
ANA hanya dapat diperiksa dengan metode ELISA dan menjadi tes skrining SLE
Titer ANA 1:20 sudah cukup untuk kecurigaan SLE dan perlu diulang berkala pada pasien stabil
Jika hasil ANA negatif tidak boleh diulang meski ada perubahan gejala klinis
DoK 1 – Metode yang termasuk pemeriksaan anti–double stranded DNA (anti-dsDNA) adalah…
ELISA, Farr assay, dan Crithidia luciliae immunofluorescence test (CLIFT)
Western blot, PCR, dan hemaglutinasi tidak langsung
Nephelometri, turbidimetri, dan imunofiksasi
Agglutinasi lateks, tes Coombs, dan mikroskopi fase kontras
DoK 2 – Pasien dicurigai SLE dengan ANA negatif, namun klinis sangat sugestif. Langkah pemeriksaan yang paling tepat adalah…
Ulangi pemeriksaan ANA untuk menyingkirkan kesalahan atau perubahan gejala
Abaikan ANA dan langsung menegakkan diagnosis SLE
Lakukan pemantauan ANA berkala tanpa pemeriksaan lain
Tunda semua pemeriksaan hingga muncul ruam malar klasik
DoK 2 – Berdasarkan karakteristik uji, kapan pemeriksaan anti-dsDNA tidak dianjurkan?
Ketika tes ANA negatif tanpa kecurigaan negatif palsu
Saat titer ANA ≥1:80 pada pasien asimtomatik
Pada semua pasien dengan dugaan LES karena sensitivitas 90%
Jika diperlukan konfirmasi APS pada pasien hamil
DoK 1 – Manakah pasangan antibodi dan temuannya pada SLE yang benar?
Anti-Sm: sensitivitas 7–41%, spesifisitas 93–100%
Anti-Ro positif pada 25–40% pasien SLE
Antibodi antifosfolipid positif pada 5–11% pasien SLE
Anti-La memiliki sensitivitas 61% dan spesifisitas 80%
DoK 2 – Hasil uji manakah yang paling meningkatkan post-test probability untuk diagnosis SLE menurut materi?
Anti-Sm positif
Anti-Ro positif
APL positif
ANA titer 1:40
DoK 3 – Seorang pasien dicurigai SLE. Untuk penilaian komplement, strategi pemeriksaan yang tepat adalah…
Periksa C3 dan C4 secara simultan karena salah satu saja tidak sesuai kriteria imunologi
Periksa hanya C3 karena lebih sensitif daripada C4
Periksa C4 dahulu, C3 hanya bila C4 rendah
Tidak perlu memeriksa komplement untuk memantau aktivitas penyakit
DoK 3 – Seorang pasien SLE akan memulai terapi imunosupresif. Pemeriksaan penapisan komorbid yang paling tepat dilakukan sebelum terapi adalah…
Skrining HIV, HBV, dan HCV karena insidennya meningkat dan reaktivasi dapat terjadi
Hanya EKG karena risiko gangguan konduksi ventrikel lebih tinggi
Bone Mineral Density saja karena glukokortikoid menyebabkan osteoporosis
Tidak perlu skrining infeksi karena terapi menekan inflamasi
[DoK 1] Manakah yang termasuk dalam daftar diagnosa banding SLE menurut materi ini? Pilih satu jawaban yang paling tepat.
Sindrom Sjögren primer
Diabetes melitus tipe 2
Asma persisten berat
Penyakit arteri koroner stabil
[DoK 1] Pada daftar diagnosa banding SLE, opsi berikut mana yang merupakan gangguan koagulasi autoimun yang dapat menyerupai SLE?
Sindrom antibodi antifosfolipid primer
Hipotiroidisme non-autoimun
Hemofilia A kongenital
Anemia defisiensi besi
[DoK 2] Seorang pasien dengan nyeri muskuloskeletal difus, kelelahan, dan pemeriksaan autoantibodi negatif dipertimbangkan sebagai diagnosa banding SLE. Berdasarkan materi, kondisi mana yang paling sesuai untuk dipertimbangkan terlebih dahulu?
Fibromialgia
Artritis reumatoid erosif lanjut
Keganasan hematologi akut
Vasculitis granulomatosa dengan poliangiitis
[DoK 2] Materi menekankan bahwa infeksi tertentu dapat menyerupai SLE. Manakah kombinasi infeksi yang disebutkan sebagai contoh?
Tuberkulosis, HIV, dan morbus Hansen (MH)
Influenza, campak, dan rubela
Sifilis, gonore, dan klamidia
COVID-19, RSV, dan rotavirus
[DoK 3] Pasien SLE dengan trombositopenia berat dipikirkan mengalami flare. Berdasarkan daftar diagnosa banding, strategi awal yang tepat adalah mempertimbangkan kemungkinan lain sebelum meningkatkan imunosupresi. Kemungkinan apa yang perlu dieksklusi terlebih dahulu?
Purpura trombositopenia idiopatik
Gagal jantung kongestif
Pneumotoraks spontan
Hiperkalsemia karena hiperparatiroid
[DoK 1] Skor aktivitas penyakit SLEDAI 2000 mengklasifikasikan aktivitas sangat berat pada rentang nilai berikut:
≥20
11–19
6–10
1–5
[DoK 2] Pada fasilitas kesehatan dengan keterbatasan pemeriksaan laboratorium imunologi canggih, indeks aktivitas penyakit SLE yang disarankan menurut materi adalah:
MEX-SLEDAI
EULAR Response Index
BILAG penuh versi laboratorium lengkap
CDAI (Clinical Disease Activity Index)
[DoK 1] Dalam SLEDAI 2000, skor berapa yang diberikan untuk kejadian kejang dengan onset baru tanpa penyebab metabolik, infeksi, atau obat-obatan?
8
6
4
2
[DoK 2] Seorang pasien LES memiliki leukosit <3000/mm3 yang tidak disebabkan obat, trombosit <100.000/mm3, demam >38°C dengan eksklusi infeksi, serta proteinuria >0,5 g/24 jam. Berdasarkan SLEDAI 2000, kombinasi mana yang benar mengenai skor masing‑masing temuan ini?
Leukopenia 1, trombositopenia 1, demam 1, proteinuria 4
Leukopenia 2, trombositopenia 1, demam 2, proteinuria 4
Leukopenia 1, trombositopenia 2, demam 1, proteinuria 2
Leukopenia 2, trombositopenia 2, demam 1, proteinuria 4
[DoK 1] Pada MEX‑SLEDAI, manifestasi ruam malar yang baru muncul dinilai dengan skor berapa?
2
4
6
8
[DoK 2] Pasien LES mengalami pleuritis dengan nyeri dada pleuritik dan efusi pleura. Bagaimana pernyataan yang paling sesuai terkait penilaian pada SLEDAI 2000?
Pleuritis diberi skor 4 karena nyeri dada pleuritik dengan efusi atau penebalan pleura
Pleuritis diberi skor 2 karena merupakan kelainan mukosa
Pleuritis diberi skor 6 karena termasuk gangguan neurologis
Pleuritis tidak dinilai jika tidak ada perikarditis
[DoK 3] Seorang pasien LES non‑renal memiliki alopecia difus, ruam kulit terkait lupus yang melibatkan 8% luas permukaan tubuh, dan trombosit 80.000/mm3. Mengacu pada kriteria derajat aktivitas LES non‑renal, kategori apa yang paling tepat dan ambang skor SLEDAI/MEX‑SLEDAI mana yang konsisten dengan kategori tersebut?
LES ringan; SLEDAI <6 atau MEX‑SLEDAI 2–5
LES sedang; SLEDAI 6–12 atau MEX‑SLEDAI 6–9
LES berat; SLEDAI ≥12 atau MEX‑SLEDAI ≥10
Tidak dapat ditentukan tanpa data renal
[DoK 3] Pasien dengan LES menunjukkan psikosis akut, perikarditis dengan rub perikardial dan efusi signifikan, serta ruam kulit >18% luas permukaan tubuh. Berdasarkan tabel penetapan derajat aktivitas LES non‑renal, ke kategori mana kasus ini diklasifikasikan dan rentang skor mana yang sejalan?
LES berat; SLEDAI ≥12 atau MEX‑SLEDAI ≥10
LES sedang; SLEDAI 6–12 atau MEX‑SLEDAI 6–9
LES ringan; SLEDAI <6 atau MEX‑SLEDAI 2–5
LES ringan; SLEDAI 0–2 atau MEX‑SLEDAI 0–1
Berdasarkan kriteria penetapan derajat aktivitas LES nonrenal, manifestasi seperti alopesia difus, artralgia, mialgia, kelelahan, ruam kulit terkait lupus yang melibatkan ≤5% luas permukaan tubuh, ulkus oral, serta trombosit 50–100.000/mm³ paling sesuai diklasifikasikan sebagai derajat aktivitas apa?
LES ringan
LES sedang
LES berat
Tidak dapat diklasifikasikan
Seorang pasien LES nonrenal memiliki SLEDAI = 5. Berdasarkan ambang pada tabel klasifikasi, derajat aktivitas yang paling tepat adalah:
LES ringan (SLEDAI <6)
LES sedang (SLEDAI 6–10)
LES berat (SLEDAI >10)
Tidak dapat ditentukan dari SLEDAI
Anda diminta merancang studi skrining sederhana menggunakan skor. Jika klinik hanya dapat menghitung MEX‑SLEDAI, pasien mana yang sebaiknya diklasifikasikan sebagai LES nonrenal ringan menurut tabel?
MEX‑SLEDAI 0–1
MEX‑SLEDAI 2–5
MEX‑SLEDAI 6–9
MEX‑SLEDAI ≥10
Dalam pengelolaan LES, apa tujuan utama terapi yang harus dicapai untuk menurunkan risiko kekambuhan?
Mencapai remisi atau lupus low disease activity state
Menghentikan semua obat dalam 2 minggu
Meningkatkan dosis kortikosteroid terus-menerus
Mengutamakan pembedahan pada semua kasus
Menurut prinsip umum tatalaksana LES, apa peran utama terapi pendamping (sparing agent)?
Menggantikan kortikosteroid sepenuhnya pada minggu pertama
Mengontrol aktivitas penyakit dan mengurangi kebutuhan serta efek samping kortikosteroid
Meningkatkan respons inflamasi untuk mempercepat penyembuhan
Memberikan efek sedatif untuk memperbaiki tidur
Pernyataan manakah yang benar mengenai penggunaan kortikosteroid pada LES?
Bukan lini pertama, hanya diberikan pada kegagalan terapi lain
Merupakan lini pertama dan perlu perhatian terhadap indikasi, dosis, dan lama pemberian
Selalu diberikan dosis tinggi tanpa batas waktu
Hanya diberikan pada pasien dengan lesi kulit
Komponen pengelolaan pasien LES yang mencakup aspek nonmedik dan medik adalah sebagai berikut:
Edukasi, rehabilitasi, terapi nonfarmakologi dan farmakologi
Hanya farmakoterapi dan pembedahan
Diet ketat tinggi protein saja
Terapi herbal sebagai terapi utama
Untuk aktivitas fisik pada pasien LES, manakah rekomendasi yang paling sesuai?
Olahraga intensitas tinggi dengan interval sprint
Berenang, berjalan kaki, bersepeda, dan aerobik low impact dilakukan berkesinambungan sesuai aktivitas penyakit
Latihan beban berat setiap hari untuk meningkatkan massa otot
Istirahat total sampai remisi penuh tanpa aktivitas
Pedoman nutrisi bagi pasien LES berikut yang tepat adalah:
Batasi semua lemak termasuk lemak tidak jenuh
Penuhi nutrisi optimal (kalori, protein, lemak tidak jenuh, mikronutrien) dan restriksi kalori bila berat badan berlebih
Hindari semua karbohidrat sederhana dan kompleks
Tingkatkan asupan protein tinggi pada nefritis lupus tanpa penyesuaian
Terkait kesehatan perempuan dengan LES, manakah kombinasi yang sebaiknya dihindari pada penderita dengan antibodi antifosfolipid positif?
IUD tembaga sebagai kontrasepsi jangka panjang
Kontrasepsi hormonal kombinasi karena meningkatkan risiko trombosis
Kondom dengan efektivitas sekitar 90%
Kontrasepsi hormonal non-kombinasi (progestin) tanpa pertimbangan risiko
Strategi pemantauan ke dokter yang tepat berdasarkan aktivitas penyakit adalah:
Semua pasien kontrol tiap 6 bulan tanpa kecuali
Pasien dengan penyakit aktif kontrol tiap bulan; bila aktivitas terkendali kontrol tiap 3 bulan
Kontrol hanya saat muncul gejala baru
Kontrol mingguan untuk semua pasien
