wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Pendahuluan dan Epidemiologi di Indonesia

Total questions: 93

Worksheet time: 47mins

Name
Class
Date
1.

Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah penyakit apa? Pilih definisi yang paling tepat.

a)

Gangguan degeneratif sendi akibat penuaan

b)

Penyakit autoimun sistemik yang kompleks dengan keterlibatan multiorgan

c)

Infeksi bakteri akut pada kulit dan ginjal

d)

Kelainan genetik tunggal yang diturunkan secara autosomal dominan

2.

Berdasarkan data epidemiologi Indonesia, bagaimana rasio perempuan dibandingkan laki-laki untuk kejadian SLE?

a)

1 : 1

b)

2 : 1

c)

9,5 : 1

d)

20 : 1

3.

Pada rentang usia berapa awitan gejala dan tanda SLE umumnya muncul, dan kapan puncak usia terjadinya?

a)

Usia 1–8 tahun, puncak 5 tahun

b)

Usia 9–58 tahun, puncak 28 tahun

c)

Usia 30–70 tahun, puncak 55 tahun

d)

Usia 15–25 tahun, puncak 18 tahun

4.

Manakah kombinasi manifestasi klinis yang PALING sering dilaporkan pada SLE di Indonesia menurut data yang diberikan?

a)

Artritis, kelainan kulit dan mukosa, nefritis lupus, kelelahan, demam

b)

Asma, urtikaria akut, otitis media, nyeri punggung bawah, konstipasi

c)

Gagal jantung, stroke, sirosis, ulkus peptikum, katarak

d)

Epilepsi, pneumonia bakterial, psoriasis, divertikulitis, hipotermia

5.

Manakah pernyataan yang benar terkait manifestasi laboratoris tersering pada SLE?

a)

ANA positif sekitar 98,4%, anti-dsDNA positif 47%, limfopenia 75,4%, anemia hemolitik 26,08%

b)

ANA negatif pada sebagian besar pasien, anti-dsDNA 5%, limfositosis 80%, trombositosis 60%

c)

CRP sangat tinggi pada semua pasien, kultur darah positif 50%, neutrofilia 90%, hiperkalemia 70%

d)

HLA-B27 positif 90%, faktor reumatoid 2%, eosinofilia 60%, hipoglikemia 40%

6.

Data kunjungan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Manakah rangkaian persentase yang sesuai untuk 2015 hingga 2017?

a)

10–15% (2015), 12–18% (2016), 15–20% (2017)

b)

17,9–27,2% (2015), 18,7–31,5% (2016), 30,3–58% (2017)

c)

5–10% (2015), 8–12% (2016), 10–14% (2017)

d)

25–30% (2015), 20–25% (2016), 15–20% (2017)

7.

Angka kesintasan SLE di Indonesia yang dilaporkan untuk 5 tahun dan 10 tahun adalah berapa?

a)

95% dan 90%

b)

80% dan 75%

c)

70% dan 60%

d)

50% dan 40%

8.

Komponen genetik SLE: manakah pernyataan yang paling sesuai dengan data yang disajikan terkait kekerabatan dan gen yang berasosiasi?

a)

Risiko sama pada semua orang; tidak ada gen terkait yang diketahui

b)

10% pasien memiliki kerabat derajat pertama yang terdampak; kembaran identik memiliki peluang konkordansi 25%; gen seperti HLA, ITGAM, IRF5, STAT4, dan PTPN22 berasosiasi dengan peningkatan risiko

c)

Hanya kembar tidak identik yang menunjukkan konkordansi tinggi (50%); gen tunggal BLK menjadi satu-satunya penentu SLE

d)

Semua bentuk SLE murni diturunkan autosomal resesif tanpa pengaruh lingkungan; gen HLA tidak terlibat

9.

[DoK 1] Mana dari berikut ini yang termasuk pemicu lingkungan yang DEFINITIF untuk induksi atau aktivasi SLE?

a)

Paparan sinar UV

b)

Asap tembakau

c)

Silika

d)

Beberapa vaksin

10.

[DoK 1] Berdasarkan materi, dua contoh faktor lingkungan yang dikategorikan sebagai POSSIBLE pemicu SLE adalah:

a)

Asap tembakau dan silika

b)

Hidrazin dan tartrazin

c)

Psoralen dari seledri dan buah ara

d)

Infeksi jamur dan virus

11.

[DoK 2] Seorang pasien menggunakan obat resep baru dan kemudian muncul gejala fotosensitivitas. Berdasarkan klasifikasi pemicu lingkungan SLE, penjelasan paling tepat adalah:

a)

Obat resep merupakan pemicu definitif sehingga reaksi ini konsisten dengan aktivasi SLE

b)

Obat resep hanya faktor probable sehingga hubungan tidak mungkin

c)

Fotosensitivitas hanya dipicu oleh makanan mengandung psoralen

d)

Obat resep diklasifikasikan sebagai possible sehingga bukti lemah

12.

[DoK 2] Pasien melaporkan stres fisik/psikologis yang berat dan konsumsi makanan asap. Dalam kategori materi, bagaimana kedua faktor ini diklasifikasikan?

a)

Keduanya probable

b)

Keduanya definitif

c)

Stres probable, makanan asap definitif

d)

Stres possible, makanan asap possible

13.

[DoK 3] Seorang kembar identik mengalami SLE, sedangkan saudara kembarnya baru terpapar sinar UV berlebih dan memakai obat resep. Berdasarkan model patogenesis yang menempatkan ‘stimulus lingkungan’ memicu proliferasi autoimun, strategi pencegahan paling logis adalah:

a)

Mengurangi paparan UV dan meninjau penggunaan obat resep yang berisiko

b)

Meningkatkan konsumsi legum kaya L‑canavanine

c)

Menghindari semua vaksin untuk mencegah aktivasi SLE

d)

Mengonsumsi makanan asap untuk meningkatkan toleransi

14.

[DoK 1] Pada foto klinis ‘lupus arthritis’, temuan khas yang membedakan dari artritis reumatoid menurut keterangan adalah:

a)

Subluksasi MCP dan swan neck yang dapat direposisi tanpa erosi atau kista pada foto rontgen

b)

Erosi marginal ekstensif pada sendi MCP disertai kista subkondral

c)

Deformitas tetap yang tidak dapat direduksi akibat tendon kaku

d)

Nodul reumatoid keras di sepanjang ekstensor

15.

[DoK 3] Pasien dengan predisposisi HLA-DR3 mengalami peningkatan rasio CD4:CD8 dan gangguan pembersihan kompleks imun. Berdasarkan skema patogenesis, konsekuensi imunologis yang paling mungkin berikutnya adalah:

a)

Produksi autoantibodi melalui mekanisme paparan-diri, pengenalan diri, dan reaksi silang

b)

Normalisasi toleransi imun dan penurunan autoantibodi

c)

Eliminasi lengkap kompleks imun sehingga tidak terjadi peradangan

d)

Inaktivasi sel B sehingga menurun semua respon humoral

16.

Perhatikan diagram patogenesis SLE. Pada tahap "Genes", manakah faktor genetik yang secara langsung terkait dengan komponen komplemen menurut gambar?

a)

HLA-D2,3,8

b)

IL-10

c)

C1q, C2, C4

d)

PTPN22

17.

Menurut diagram, stimulus lingkungan yang tercantum sebagai pemicu dalam SLE adalah apa?

a)

Hipertensi kronik dan diet tinggi garam

b)

Paparan sinar UV serta kemungkinan infeksi (termasuk EBV)

c)

Hiperlipidemia dan obesitas

d)

Defisiensi vitamin B12

18.

Pada tahap "Abnormal Immune Response" dalam diagram, sel mana yang berperan dalam memicu produksi autoantibodi oleh B-cell?

a)

Sel dendritik (DC) dan T-cell yang diaktifkan oleh antigen

b)

Sel neutrofil yang melakukan fagositosis bakteri

c)

Sel NK yang mengekspresikan perforin tinggi

d)

Sel eritrosit yang membawa imun kompleks

19.

Diagram menunjukkan aktivasi komplemen (C3, C3a). Konsekuensi langsung dari pembentukan autoantibodi dan kompleks imun terhadap organ adalah apa?

a)

Resolusi inflamasi cepat tanpa gejala

b)

Rash, nefritis, artritis, leukopenia, penyakit CNS, karditis, dan pembekuan

c)

Hanya anemia hemolitik tanpa keterlibatan organ lain

d)

Peningkatan regenerasi jaringan ginjal

20.

Berdasarkan urutan dalam diagram, hasil akhir dari inflamasi kronik dan oksidasi kronik pada SLE paling tepat adalah apa?

a)

Normalisasi imun dan tidak ada kerusakan lebih lanjut

b)

Gagal ginjal, aterosklerosis, fibrosis pulmoner, stroke, serta kerusakan akibat terapi

c)

Hanya peningkatan produksi antibodi pelindung

d)

Regenerasi vaskular yang protektif

21.

Gambar klinis menunjukkan ulkus oral. Berdasarkan slide sebelah kanan, mekanisme imun yang paling terkait dengan lesi ini pada SLE adalah apa?

a)

Hipersenitivitas tipe I yang dimediasi IgE terhadap alergen makanan

b)

Hipersenitivitas tipe III yang dimediasi kompleks imun dengan pembersihan via sistem komplemen

c)

Hipersenitivitas tipe IV yang dimediasi sel T memori terhadap antigen kontak

d)

Sitotoksisitas langsung oleh sel NK terhadap mukosa oral

22.

Menurut poin pada slide "Type III Hypersensitivity Reaction", urutan proses yang paling logis adalah apa?

a)

Pembentukan kompleks imun → hiperaktivitas T/B → pembersihan komplemen → kerusakan jaringan

b)

Hiperaktivitas T dan B-cell → pembentukan kompleks imun → pembersihan via komplemen → kerusakan jaringan

c)

Pembersihan via komplemen → pembentukan kompleks imun → hiperaktivitas sel → penyembuhan

d)

Kerusakan jaringan → pembersihan komplemen → hiperaktivitas sel → pembentukan kompleks imun

23.

Seorang pasien SLE mengalami nefritis. Berdasarkan diagram patogenesis, proses mana yang paling langsung berkontribusi pada kerusakan ginjal?

a)

Produksi autoantibodi dan deposit kompleks imun yang mengaktifkan C3/C3a

b)

Defisiensi besi yang menurunkan eritropoiesis

c)

Alergi makanan yang memicu IgE terhadap protein susu

d)

Mutasi HLA tunggal yang selalu cukup menimbulkan kerusakan ginjal tanpa mediator lain

24.

Gambar menunjukkan ulkus pada mukosa mulut. Pada LES (SLE), ulkus oral paling tepat dikaitkan dengan proses imun apa?

a)

Pembentukan kompleks imun yang mengendap pada jaringan (Hipersensitivitas Tipe III)

b)

Sitotoksisitas langsung oleh sel NK tanpa antibodi (respons innate murni)

c)

Reaksi hipersensitivitas Tipe I yang dimediasi IgE terhadap alergen makanan

d)

Reaksi penolakan transplantasi akut yang dimediasi sel T sitotoksik

25.

Dalam hipersensitivitas Tipe III pada LES, pernyataan mana yang paling benar mengenai peran sel T dan B?

a)

Sel B menghasilkan autoantibodi yang berikatan dengan antigen diri membentuk kompleks imun; sel T membantu aktivasi sel B

b)

Sel T sitotoksik menghancurkan kompleks imun dengan perforin sehingga mencegah deposisi

c)

Sel B hanya memproduksi IgE sehingga memicu degranulasi mast cell sebagai mekanisme utama

d)

Sel T regulatorik meningkatkan toleransi sehingga memperkuat pembentukan kompleks imun patologis

26.

Urutkan peristiwa kunci pada kerusakan jaringan di LES terkait hipersensitivitas Tipe III.

a)

Pembentukan autoantibodi → kompleks imun mengendap pada jaringan → aktivasi komplemen → inflamasi dan kerusakan jaringan

b)

Aktivasi komplemen → produksi autoantibodi → pembersihan kompleks imun total → tidak terjadi inflamasi

c)

Degranulasi mast cell oleh IgE → vasodilatasi → penyembuhan ulkus cepat tanpa kerusakan jaringan

d)

Fagositosis antigen oleh neutrofil → presentasi antigen → toleransi perifer meningkat sehingga tidak ada kerusakan

27.

Seorang perempuan muda mengalami ulkus mulut berulang dan temuan klinis yang melibatkan dua organ. Tindakan klinis paling tepat berdasarkan kewaspadaan LES adalah...

a)

Mencurigai LES dan merujuk untuk pemeriksaan lanjutan ke spesialis terkait keterlibatan organ

b)

Memberikan antibiotik empiris dan menunda evaluasi autoimun hingga gejala memburuk

c)

Mendiagnosis LES hanya berdasarkan ulkus mulut tanpa evaluasi organ lain

d)

Menganggap ulkus mulut sebagai stomatitis sederhana tanpa perlu rujukan

28.

Pada konteks kewaspadaan LES, kriteria umum yang menimbulkan kecurigaan adalah ditemukannya pada perempuan usia muda keluhan/manifes klinis pada berapa banyak organ?

a)

Satu organ saja

b)

Dua organ atau lebih

c)

Tiga organ spesifik (kulit, ginjal, jantung)

d)

Organ tunggal bila disertai anemia berat

29.

Gejala konstitusional yang mendukung kecurigaan LES adalah kombinasi berikut, KECUALI:

a)

Kelelahan yang menetap

b)

Demam tanpa bukti infeksi

c)

Penurunan berat badan

d)

Demam dengan bukti infeksi bakteri jelas

30.

Manifestasi kulit yang paling khas untuk kecurigaan LES adalah:

a)

Ruam kupu-kupu (malar rash)

b)

Urtikaria akibat alergi makanan akut

c)

Striae pada abdomen

d)

Petechie terbatas di tungkai bawah akibat trauma

31.

Keterlibatan ginjal awal pada LES dapat dicurigai bila dijumpai:

a)

Hematuria, proteinuria, silinderuria, atau sindroma nefrotik

b)

Nyeri pinggang mekanik tanpa abnormalitas urin

c)

Batu ginjal dengan kolik

d)

Pielonefritis akut terkonfirmasi kultur

32.

Pada kecurigaan LES, keterlibatan paru yang perlu diwaspadai meliputi:

a)

Pneumonitis, alveolitis, bronkiektasis, penyakit interstisial paru, hipertensi pulmonal, atau emboli pulmonal

b)

Asma alergik musiman saja

c)

Tuberkulosis aktif sebagai satu-satunya diagnosis

d)

Pneumotoraks spontan primer pada remaja sehat

33.

Dari daftar manifestasi hematologik pada LES berikut, manakah yang PALING tepat?

a)

Anemia, leukopenia, limfopenia, trombositopenia

b)

Polisitemia, leukositosis neutrofilik, trombositosis reaktif

c)

Hemofilia A, eritrositosis primer, agranulositosis obat

d)

Talassemia mayor, neutropenia siklik, hemolisis karena malaria

34.

Seorang pasien dengan kejang, psikosis, dan gangguan kognitif tanpa penyebab jelas disertai artralgia. Berdasarkan kriteria kewaspadaan, langkah klinis yang paling tepat adalah:

a)

Mencurigai LES karena ada keterlibatan neuropsikiatri dan muskuloskeletal pada ≥2 sistem organ

b)

Menetapkan diagnosis epilepsi primer dan merujuk ke bedah saraf

c)

Memberikan antibiotik spektrum luas untuk dugaan meningitis bakteri

d)

Menganggap stres psikologis sebagai penyebab tunggal

35.

Berdasarkan ringkasan manifestasi klinis SLE, manakah pasangan organ–manifestasi yang sesuai?

a)

Jantung – perikarditis, miokarditis, kelainan katup

b)

Endokrin – hipertiroidisme berat khas SLE

c)

Okular – katarak kongenital sebagai keluhan utama

d)

Muskoloskeletal – fraktur patologis akibat metastasis

36.

Perhatikan gambar lesi kulit pada pipi pasien. Lesi berbentuk plak eritematosa bertepi tegas dengan skuama tebal di permukaan. Manifestasi kulit SLE apa yang paling sesuai dengan temuan pada gambar?

a)

Malar rash (butterfly rash)

b)

Discoid rash

c)

Photosensitive maculopapular rash difus

d)

Livedo reticularis terkait APS

37.

Pada SLE, discoid rash biasanya memiliki ciri khas berikut, KECUALI:

a)

Plak eritematosa bertepi jelas dengan skuama

b)

Dapat meninggalkan sikatriks/atrofi pascalesi

c)

Distribusi dominan pada area terpapar sinar matahari

d)

Selalu disertai ulkus oral yang nyeri

38.

Seorang pasien dengan SLE datang dengan lesi diskus pada wajah seperti pada gambar. Area anatomi mana yang PALING sering terkena discoid rash?

a)

Area intertriginosa (ketiak, lipat paha)

b)

Area fotoekspos seperti wajah dan kulit kepala

c)

Telapak tangan dan telapak kaki

d)

Mukosa mulut dan hidung bagian dalam

39.

Dalam klasifikasi manifestasi kulit SLE, manakah yang membedakan discoid rash dari malar rash?

a)

Malar rash biasanya meninggalkan sikatriks permanen, sedangkan discoid rash tidak

b)

Discoid rash berupa plak berskuama terlokalisasi, sedangkan malar rash eritema difus pada pipi dan puncak hidung

c)

Malar rash cenderung hanya muncul pada ekstremitas, sedangkan discoid rash pada wajah

d)

Discoid rash khas tidak dipengaruhi paparan sinar, sedangkan malar rash fotosensitif

40.

Temuan mana berikut yang mendukung keterlibatan folikel rambut pada discoid rash di kulit kepala pasien SLE?

a)

Alopecia sikatrik dengan sumbatan folikular

b)

Rambut rontok difus tanpa bekas parut

c)

Hipertrikosis pada area lesi

d)

Tampak telangiektasis menyeluruh pada skalp

41.

Seorang pasien SLE dengan discoid rash mengalami hipopigmentasi sentral pada lesi lama. Interpretasi terbaik adalah:

a)

Tanda peradangan akut yang baru muncul

b)

Perubahan pascainflamasi dan kemungkinan atrofi kulit

c)

Infeksi jamur superfisial yang berdampingan

d)

Efek samping kortikosteroid sistemik jangka pendek

42.

Jika pada evaluasi kulit pasien SLE ditemukan lesi seperti pada gambar dan hasil biopsi menunjukkan hiperkeratosis folikular dengan sumbatan keratin, diagnosis yang paling konsisten adalah:

a)

Malar rash akut

b)

Subacute cutaneous lupus erythematosus (SCLE) annular

c)

Discoid lupus erythematosus (DLE)

d)

Dermatomiositis dengan heliotrope rash

43.

Pada penatalaksanaan lesi discoid pada SLE, intervensi awal yang umumnya direkomendasikan adalah:

a)

Antikoagulan profilaksis untuk mencegah trombosis

b)

Kortikosteroid topikal poten dan fotoproteksi konsisten

c)

Rituksimab intravena sebagai lini pertama

d)

Antibiotik oral jangka panjang untuk mencegah superinfeksi

44.

Manakah daftar yang benar mengenai sistem kriteria klasifikasi LES utama yang digunakan secara historis?

a)

ACR 1997, SLICC 2012, ACR/EULAR 2019

b)

ACR 1980, WHO 2005, EULAR 2010

c)

NIH 1995, SLICC 2000, CDC 2015

d)

EULAR 1992, WHO 2001, ARA 2018

45.

Menurut perbandingan performa, kriteria manakah yang memiliki sensitivitas tertinggi untuk klasifikasi LES?

a)

ACR 1997 (83%)

b)

SLICC 2012 (97%)

c)

ACR/EULAR 2019 (93,38%)

d)

Semua memiliki sensitivitas yang sama

46.

Spesifisitas tertinggi di antara kriteria berikut untuk klasifikasi LES adalah:

a)

ACR 1997 (96%)

b)

SLICC 2012 (84%)

c)

ACR/EULAR 2019 (93,38%)

d)

SLICC 2012 dan ACR/EULAR 2019 sama (93,38%)

47.

Pernyataan berikut yang BENAR terkait kriteria SLICC 2012 adalah:

a)

Klasifikasi memerlukan pemenuhan 4 dari 11 kriteria tanpa syarat lain

b)

Kriteria hanya dapat digunakan bila ANA-IF ≥1:80

c)

Klasifikasi dapat ditegakkan jika memenuhi 4 dari 17 kriteria (minimal 1 klinis dan 1 imunologi) atau bukti nefritis LES pada biopsi dengan ANA atau anti-dsDNA positif

d)

Diperlukan skor total ≥10 dari kriteria berbobot

48.

Pada kriteria ACR/EULAR 2019, syarat awal (entry criterion) sebelum penilaian kriteria tambahan adalah:

a)

Memenuhi 4 dari 11 kriteria klasik

b)

Titer ANA-IF positif ≥1:80 atau setara, tanpa kemungkinan penyebab lain

c)

Adanya nefritis proliferatif pada biopsi ginjal

d)

Adanya anti-dsDNA dan anti-Sm positif secara bersamaan

49.

Dalam skema ACR/EULAR 2019, klasifikasi LES ditegakkan ketika:

a)

Skor total ≥10 dengan minimal satu kriteria klinis

b)

Skor total ≥4 tanpa syarat lain

c)

Semua domain klinis terpenuhi minimal dua kriteria

d)

ANA negatif tetapi anti-dsDNA tinggi

50.

Menurut kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2019 untuk SLE, apa syarat masuk (entry criterion) yang harus dipenuhi sebelum skor domain lainnya dinilai?

a)

Adanya antibodi anti-dsDNA positif pada dua kali pemeriksaan

b)

Kadar komplemen C3 dan C4 rendah secara bersamaan

c)

Hasil antinuclear antibodies (ANA) positif pada titer yang ditentukan

d)

Ditemukan proteinuria persisten ≥0,5 g/24 jam

51.

Dalam sistem ACR/EULAR 2019, manakah yang termasuk ke dalam domain imunologi (immunology domain) saat perhitungan skor klasifikasi SLE?

a)

Anti-dsDNA dan/atau anti-Sm, kadar komplemen rendah, antibodi antifosfolipid

b)

Artritis non-erosif, serositis, dan ruam malar

c)

Kejang, psikosis, dan neuropati perifer

d)

Anemia hemolitik, trombositopenia, dan leukopenia

52.

Bagaimana prinsip penjumlahan skor pada ACR/EULAR 2019 setelah syarat masuk terpenuhi?

a)

Menjumlahkan semua item yang ada, termasuk yang berasal dari domain yang sama bila muncul bersamaan

b)

Mengambil skor tertinggi dari tiap domain dan menjumlahkannya, tanpa menjumlah dua item dalam domain yang sama

c)

Mengalikan skor tiap item dengan jumlah domain aktif

d)

Hanya menghitung skor dari domain klinis tanpa memasukkan domain imunologi

53.

Batas skor akumulatif minimum untuk mengklasifikasikan seseorang sebagai SLE menurut ACR/EULAR 2019 adalah:

a)

≥6 poin setelah ANA positif

b)

≥10 poin tanpa syarat ANA

c)

≥12 poin dengan minimal dua domain klinis

d)

≥10 poin setelah memenuhi syarat ANA positif

54.

Pernyataan yang paling akurat mengenai peran ANA dalam ACR/EULAR 2019 adalah:

a)

ANA merupakan salah satu item yang diberi skor dalam domain imunologi

b)

ANA hanyalah uji skrining dan tidak terkait dengan klasifikasi

c)

ANA wajib positif sebagai kriteria masuk sebelum sistem skor diaplikasikan

d)

ANA dapat menggantikan kebutuhan bukti keterlibatan organ apapun

55.

Pada pasien dengan kecurigaan SLE, pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL) dan laju endap darah (LED) terutama ditujukan untuk mengidentifikasi kelainan hematologi berikut ini.

a)

Anemia, leukopenia/limfopenia, dan trombositosis akibat infeksi akut

b)

Anemia (hemolisis/defisiensi besi/penyakit kronis/perdarahan), leukopenia/limfopenia, dan trombositopenia

c)

Polisitemia, neutrofilia, dan trombositemia reaktif

d)

Anemia megaloblastik, eosinofilia, dan peningkatan faktor koagulasi

56.

Tujuan utama urinalisis lengkap pada kecurigaan SLE adalah…

a)

Menilai kadar hormon tiroid yang memengaruhi nefritis

b)

Mendeteksi kelainan seperti proteinuria, hematuria, piuria, dan kelainan sedimen

c)

Menentukan tipe batu ginjal secara spesifik

d)

Menilai derajat dehidrasi melalui berat jenis saja

57.

Seorang pasien SLE didapati proteinuria positif pada urinalisis cepat. Tindak lanjut yang dianjurkan berdasarkan prosedur adalah…

a)

Melakukan kultur urin untuk menyingkirkan bakteri asimtomatik

b)

Mengulang urinalisis pagi hari selama 7 hari berturut-turut

c)

Melakukan perhitungan protein urin 24 jam secara kuantitatif dan/atau rasio protein/kreatinin urin

d)

Langsung memulai terapi steroid tanpa pemeriksaan tambahan

58.

Komponen pemeriksaan kimia darah yang direkomendasikan pada evaluasi SLE meliputi…

a)

Fungsi ginjal (kreatinin), fungsi hati (SGOT/SGPT), albumin, dan glukosa darah

b)

Asam urat, laktat dehidrogenase, kreatin kinase, dan bilirubin tak langsung

c)

Elektrolit lengkap, kalsium ion, fosfat, dan magnesium

d)

Profil lipid puasa, asam lemak bebas, dan keton darah

59.

Grafik menunjukkan persentase pasien dengan hasil positif sebelum diagnosis untuk berbagai autoantibodi. Berdasarkan visual tersebut, autoantibodi yang paling sering terdeteksi sebelum diagnosis SLE adalah…

a)

Anti-dsDNA

b)

Anti-Ro

c)

ANA

d)

Anti-Sm

60.

Berdasarkan pola pada grafik deteksi autoantibodi pra-diagnosis, manakah pasangan yang tepat antara autoantibodi dan perkiraan frekuensi relatifnya sebelum diagnosis SLE?

a)

Anti-dsDNA lebih sering dari ANA

b)

Anti-Sm lebih sering dari Anti-Ro

c)

aPL lebih jarang daripada Anti-La

d)

Anti-nRNP paling sering dibanding semua lainnya

61.

Seorang klinisi menyusun panel awal untuk evaluasi pasien tersangka SLE. Manakah kombinasi berikut yang paling mencerminkan paket pemeriksaan laboratorium dasar dan penilaian autoantibodi yang relevan?

a)

DPL/LED, urinalisis dengan evaluasi proteinuria, kimia darah (kreatinin, SGOT/SGPT, albumin, glukosa), serta skrining autoantibodi (ANA diikuti panel spesifik seperti anti-dsDNA)

b)

Uji toleransi glukosa, kultur darah, panel trombofilia herediter, dan tes alergi kulit

c)

Hanya ANA; pemeriksaan lain ditunda sampai diagnosis pasti

d)

Panel metabolik ekstensif termasuk profil lipid dan kadar hormon, tanpa urinalisis

62.

DoK 1 – Manakah pernyataan yang benar mengenai antibodi antinuklear (ANA) pada SLE?

a)

ANA positif pada 95–100% pasien SLE dan bukan pemeriksaan skrining SLE

b)

ANA hanya dapat diperiksa dengan metode ELISA dan menjadi tes skrining SLE

c)

Titer ANA 1:20 sudah cukup untuk kecurigaan SLE dan perlu diulang berkala pada pasien stabil

d)

Jika hasil ANA negatif tidak boleh diulang meski ada perubahan gejala klinis

63.

DoK 1 – Metode yang termasuk pemeriksaan anti–double stranded DNA (anti-dsDNA) adalah…

a)

ELISA, Farr assay, dan Crithidia luciliae immunofluorescence test (CLIFT)

b)

Western blot, PCR, dan hemaglutinasi tidak langsung

c)

Nephelometri, turbidimetri, dan imunofiksasi

d)

Agglutinasi lateks, tes Coombs, dan mikroskopi fase kontras

64.

DoK 2 – Pasien dicurigai SLE dengan ANA negatif, namun klinis sangat sugestif. Langkah pemeriksaan yang paling tepat adalah…

a)

Ulangi pemeriksaan ANA untuk menyingkirkan kesalahan atau perubahan gejala

b)

Abaikan ANA dan langsung menegakkan diagnosis SLE

c)

Lakukan pemantauan ANA berkala tanpa pemeriksaan lain

d)

Tunda semua pemeriksaan hingga muncul ruam malar klasik

65.

DoK 2 – Berdasarkan karakteristik uji, kapan pemeriksaan anti-dsDNA tidak dianjurkan?

a)

Ketika tes ANA negatif tanpa kecurigaan negatif palsu

b)

Saat titer ANA ≥1:80 pada pasien asimtomatik

c)

Pada semua pasien dengan dugaan LES karena sensitivitas 90%

d)

Jika diperlukan konfirmasi APS pada pasien hamil

66.

DoK 1 – Manakah pasangan antibodi dan temuannya pada SLE yang benar?

a)

Anti-Sm: sensitivitas 7–41%, spesifisitas 93–100%

b)

Anti-Ro positif pada 25–40% pasien SLE

c)

Antibodi antifosfolipid positif pada 5–11% pasien SLE

d)

Anti-La memiliki sensitivitas 61% dan spesifisitas 80%

67.

DoK 2 – Hasil uji manakah yang paling meningkatkan post-test probability untuk diagnosis SLE menurut materi?

a)

Anti-Sm positif

b)

Anti-Ro positif

c)

APL positif

d)

ANA titer 1:40

68.

DoK 3 – Seorang pasien dicurigai SLE. Untuk penilaian komplement, strategi pemeriksaan yang tepat adalah…

a)

Periksa C3 dan C4 secara simultan karena salah satu saja tidak sesuai kriteria imunologi

b)

Periksa hanya C3 karena lebih sensitif daripada C4

c)

Periksa C4 dahulu, C3 hanya bila C4 rendah

d)

Tidak perlu memeriksa komplement untuk memantau aktivitas penyakit

69.

DoK 3 – Seorang pasien SLE akan memulai terapi imunosupresif. Pemeriksaan penapisan komorbid yang paling tepat dilakukan sebelum terapi adalah…

a)

Skrining HIV, HBV, dan HCV karena insidennya meningkat dan reaktivasi dapat terjadi

b)

Hanya EKG karena risiko gangguan konduksi ventrikel lebih tinggi

c)

Bone Mineral Density saja karena glukokortikoid menyebabkan osteoporosis

d)

Tidak perlu skrining infeksi karena terapi menekan inflamasi

70.

[DoK 1] Manakah yang termasuk dalam daftar diagnosa banding SLE menurut materi ini? Pilih satu jawaban yang paling tepat.

a)

Sindrom Sjögren primer

b)

Diabetes melitus tipe 2

c)

Asma persisten berat

d)

Penyakit arteri koroner stabil

71.

[DoK 1] Pada daftar diagnosa banding SLE, opsi berikut mana yang merupakan gangguan koagulasi autoimun yang dapat menyerupai SLE?

a)

Sindrom antibodi antifosfolipid primer

b)

Hipotiroidisme non-autoimun

c)

Hemofilia A kongenital

d)

Anemia defisiensi besi

72.

[DoK 2] Seorang pasien dengan nyeri muskuloskeletal difus, kelelahan, dan pemeriksaan autoantibodi negatif dipertimbangkan sebagai diagnosa banding SLE. Berdasarkan materi, kondisi mana yang paling sesuai untuk dipertimbangkan terlebih dahulu?

a)

Fibromialgia

b)

Artritis reumatoid erosif lanjut

c)

Keganasan hematologi akut

d)

Vasculitis granulomatosa dengan poliangiitis

73.

[DoK 2] Materi menekankan bahwa infeksi tertentu dapat menyerupai SLE. Manakah kombinasi infeksi yang disebutkan sebagai contoh?

a)

Tuberkulosis, HIV, dan morbus Hansen (MH)

b)

Influenza, campak, dan rubela

c)

Sifilis, gonore, dan klamidia

d)

COVID-19, RSV, dan rotavirus

74.

[DoK 3] Pasien SLE dengan trombositopenia berat dipikirkan mengalami flare. Berdasarkan daftar diagnosa banding, strategi awal yang tepat adalah mempertimbangkan kemungkinan lain sebelum meningkatkan imunosupresi. Kemungkinan apa yang perlu dieksklusi terlebih dahulu?

a)

Purpura trombositopenia idiopatik

b)

Gagal jantung kongestif

c)

Pneumotoraks spontan

d)

Hiperkalsemia karena hiperparatiroid

75.

[DoK 1] Skor aktivitas penyakit SLEDAI 2000 mengklasifikasikan aktivitas sangat berat pada rentang nilai berikut:

a)

≥20

b)

11–19

c)

6–10

d)

1–5

76.

[DoK 2] Pada fasilitas kesehatan dengan keterbatasan pemeriksaan laboratorium imunologi canggih, indeks aktivitas penyakit SLE yang disarankan menurut materi adalah:

a)

MEX-SLEDAI

b)

EULAR Response Index

c)

BILAG penuh versi laboratorium lengkap

d)

CDAI (Clinical Disease Activity Index)

77.

[DoK 1] Dalam SLEDAI 2000, skor berapa yang diberikan untuk kejadian kejang dengan onset baru tanpa penyebab metabolik, infeksi, atau obat-obatan?

a)

8

b)

6

c)

4

d)

2

78.

[DoK 2] Seorang pasien LES memiliki leukosit <3000/mm3 yang tidak disebabkan obat, trombosit <100.000/mm3, demam >38°C dengan eksklusi infeksi, serta proteinuria >0,5 g/24 jam. Berdasarkan SLEDAI 2000, kombinasi mana yang benar mengenai skor masing‑masing temuan ini?

a)

Leukopenia 1, trombositopenia 1, demam 1, proteinuria 4

b)

Leukopenia 2, trombositopenia 1, demam 2, proteinuria 4

c)

Leukopenia 1, trombositopenia 2, demam 1, proteinuria 2

d)

Leukopenia 2, trombositopenia 2, demam 1, proteinuria 4

79.

[DoK 1] Pada MEX‑SLEDAI, manifestasi ruam malar yang baru muncul dinilai dengan skor berapa?

a)

2

b)

4

c)

6

d)

8

80.

[DoK 2] Pasien LES mengalami pleuritis dengan nyeri dada pleuritik dan efusi pleura. Bagaimana pernyataan yang paling sesuai terkait penilaian pada SLEDAI 2000?

a)

Pleuritis diberi skor 4 karena nyeri dada pleuritik dengan efusi atau penebalan pleura

b)

Pleuritis diberi skor 2 karena merupakan kelainan mukosa

c)

Pleuritis diberi skor 6 karena termasuk gangguan neurologis

d)

Pleuritis tidak dinilai jika tidak ada perikarditis

81.

[DoK 3] Seorang pasien LES non‑renal memiliki alopecia difus, ruam kulit terkait lupus yang melibatkan 8% luas permukaan tubuh, dan trombosit 80.000/mm3. Mengacu pada kriteria derajat aktivitas LES non‑renal, kategori apa yang paling tepat dan ambang skor SLEDAI/MEX‑SLEDAI mana yang konsisten dengan kategori tersebut?

a)

LES ringan; SLEDAI <6 atau MEX‑SLEDAI 2–5

b)

LES sedang; SLEDAI 6–12 atau MEX‑SLEDAI 6–9

c)

LES berat; SLEDAI ≥12 atau MEX‑SLEDAI ≥10

d)

Tidak dapat ditentukan tanpa data renal

82.

[DoK 3] Pasien dengan LES menunjukkan psikosis akut, perikarditis dengan rub perikardial dan efusi signifikan, serta ruam kulit >18% luas permukaan tubuh. Berdasarkan tabel penetapan derajat aktivitas LES non‑renal, ke kategori mana kasus ini diklasifikasikan dan rentang skor mana yang sejalan?

a)

LES berat; SLEDAI ≥12 atau MEX‑SLEDAI ≥10

b)

LES sedang; SLEDAI 6–12 atau MEX‑SLEDAI 6–9

c)

LES ringan; SLEDAI <6 atau MEX‑SLEDAI 2–5

d)

LES ringan; SLEDAI 0–2 atau MEX‑SLEDAI 0–1

83.

Berdasarkan kriteria penetapan derajat aktivitas LES nonrenal, manifestasi seperti alopesia difus, artralgia, mialgia, kelelahan, ruam kulit terkait lupus yang melibatkan ≤5% luas permukaan tubuh, ulkus oral, serta trombosit 50–100.000/mm³ paling sesuai diklasifikasikan sebagai derajat aktivitas apa?

a)

LES ringan

b)

LES sedang

c)

LES berat

d)

Tidak dapat diklasifikasikan

84.

Seorang pasien LES nonrenal memiliki SLEDAI = 5. Berdasarkan ambang pada tabel klasifikasi, derajat aktivitas yang paling tepat adalah:

a)

LES ringan (SLEDAI <6)

b)

LES sedang (SLEDAI 6–10)

c)

LES berat (SLEDAI >10)

d)

Tidak dapat ditentukan dari SLEDAI

85.

Anda diminta merancang studi skrining sederhana menggunakan skor. Jika klinik hanya dapat menghitung MEX‑SLEDAI, pasien mana yang sebaiknya diklasifikasikan sebagai LES nonrenal ringan menurut tabel?

a)

MEX‑SLEDAI 0–1

b)

MEX‑SLEDAI 2–5

c)

MEX‑SLEDAI 6–9

d)

MEX‑SLEDAI ≥10

86.

Dalam pengelolaan LES, apa tujuan utama terapi yang harus dicapai untuk menurunkan risiko kekambuhan?

a)

Mencapai remisi atau lupus low disease activity state

b)

Menghentikan semua obat dalam 2 minggu

c)

Meningkatkan dosis kortikosteroid terus-menerus

d)

Mengutamakan pembedahan pada semua kasus

87.

Menurut prinsip umum tatalaksana LES, apa peran utama terapi pendamping (sparing agent)?

a)

Menggantikan kortikosteroid sepenuhnya pada minggu pertama

b)

Mengontrol aktivitas penyakit dan mengurangi kebutuhan serta efek samping kortikosteroid

c)

Meningkatkan respons inflamasi untuk mempercepat penyembuhan

d)

Memberikan efek sedatif untuk memperbaiki tidur

88.

Pernyataan manakah yang benar mengenai penggunaan kortikosteroid pada LES?

a)

Bukan lini pertama, hanya diberikan pada kegagalan terapi lain

b)

Merupakan lini pertama dan perlu perhatian terhadap indikasi, dosis, dan lama pemberian

c)

Selalu diberikan dosis tinggi tanpa batas waktu

d)

Hanya diberikan pada pasien dengan lesi kulit

89.

Komponen pengelolaan pasien LES yang mencakup aspek nonmedik dan medik adalah sebagai berikut:

a)

Edukasi, rehabilitasi, terapi nonfarmakologi dan farmakologi

b)

Hanya farmakoterapi dan pembedahan

c)

Diet ketat tinggi protein saja

d)

Terapi herbal sebagai terapi utama

90.

Untuk aktivitas fisik pada pasien LES, manakah rekomendasi yang paling sesuai?

a)

Olahraga intensitas tinggi dengan interval sprint

b)

Berenang, berjalan kaki, bersepeda, dan aerobik low impact dilakukan berkesinambungan sesuai aktivitas penyakit

c)

Latihan beban berat setiap hari untuk meningkatkan massa otot

d)

Istirahat total sampai remisi penuh tanpa aktivitas

91.

Pedoman nutrisi bagi pasien LES berikut yang tepat adalah:

a)

Batasi semua lemak termasuk lemak tidak jenuh

b)

Penuhi nutrisi optimal (kalori, protein, lemak tidak jenuh, mikronutrien) dan restriksi kalori bila berat badan berlebih

c)

Hindari semua karbohidrat sederhana dan kompleks

d)

Tingkatkan asupan protein tinggi pada nefritis lupus tanpa penyesuaian

92.

Terkait kesehatan perempuan dengan LES, manakah kombinasi yang sebaiknya dihindari pada penderita dengan antibodi antifosfolipid positif?

a)

IUD tembaga sebagai kontrasepsi jangka panjang

b)

Kontrasepsi hormonal kombinasi karena meningkatkan risiko trombosis

c)

Kondom dengan efektivitas sekitar 90%

d)

Kontrasepsi hormonal non-kombinasi (progestin) tanpa pertimbangan risiko

93.

Strategi pemantauan ke dokter yang tepat berdasarkan aktivitas penyakit adalah:

a)

Semua pasien kontrol tiap 6 bulan tanpa kecuali

b)

Pasien dengan penyakit aktif kontrol tiap bulan; bila aktivitas terkendali kontrol tiap 3 bulan

c)

Kontrol hanya saat muncul gejala baru

d)

Kontrol mingguan untuk semua pasien