WorksheetsGastro 1.1
Total questions: 94
Worksheet time: 47mins
Tn. Mike, usia 40 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pada lidahnya dan tidak bisa menelan. Pasien adalah seorang perokok dan sering mengonsumsi alkohol. TD 100/71 mmHg, HR 84 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 37,6°C. Pemeriksaan fisik ditemukan lidah tampak kemerahan, atrofi papil lidah. Apakah kondisi yang sesuai dengan kasus di atas?
Oral ulcer
Candidiasis oral
Stomatitis herpetik
Glositis
Leukoplakia
An. Moci, usia 12 tahun datang ke RS dengan keluhan bengkak di rahang bawah terasa nyeri sejak 5 hari yang lalu. Pasien mengaku teman sekolahnya ada yang memiliki keluhan serupa. Pemeriksaan fisik TD 110/80 mmHg, RR 22 kali/menit, HR 90 kali/menit, T 38°C. Didapatkan adanya benjolan pada rahang bawah, berwarna kemerahan, teraba lunak. Diagnosis yang tepat?
Tonsilitis
Parotitis epidemika
Abses mandibula
Angina Ludwig
Difteri
An. Tenni usia 13 tahun datang ke Puskesmas diantar ibunya dengan keluhan bengkak didaerah telinga kiri. Keluhan dialami sejak 3 hari ini dan bengkak makin besar. Anak juga mengeluh nyeri saat mengunyah sehingga tidak mau makan namun minum masih mau. Pasien juga mengeluh demam dan sakit kepala. Pasien mengatakan sebelumnya di sekolah ada beberapa temannya yang mengalami keluhan serupa. Pemeriksaan tanda vital TD 120/80 mmHg, Nadi 102 kali/menit, Suhu 38°C. Pemeriksaan fisik tampak edema dan eritema di daerah pre-auricular hingga mandibula sinistra disertai nyeri tekan. Apakah terapi pada kasus ini?
Antibiotik
Antijamur
Antivirus
Imunomodulator
Analgetik/antipiretik
An. Shaha usia 9 tahun diantar ibunya ke klinik dokter umum dengan keluhan sulit mengunyah dan membuka mulut sejak 2 hari yang lalu. Keluhan berawal 4 hari yang lalu, dimana pipi kanan pasien membengkak dan terdapat demam. Beberapa teman satu kelas pasien juga memiliki keluhan serupa. Tanda vital: Nadi 102 kali/menit, Suhu 38°C. Pemeriksaan fisik tampak edema dan eritema di daerah pre-auricular, angulus mandibula tidak terlihat. Apakah terapi pada kasus ini?
Amoksisilin
Nystatin drops
Asiklovir
Ceftriaxone
Paracetamol
An. Nino, usia 12 tahun dibawa ke Puskesmas dengan keluhan demam, lemas dan nyeri pada kedua sisi wajah sejak 2 hari yang lalu. Keluarga pasien baru pindah dari daerah terpencil sehingga anak tidak pernah imunisasi. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 80 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 38,2°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan edema, eritema dan nyeri tekan pada glandula parotid kiri dan kanan. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada kasus ini?
Mumps
Ensefalitis
Epididimitis
Abses tonsil
Orchitis
Tn. Latte, 31 tahun datang dengan keluhan terdapat bercak putih pada area mukosa mulut dan lidah. Pasien juga mengeluhkan belakangan makanan terasa hambar sehingga harus menambahkan garam lebih banyak. Berat badan pasien cenderung menurun disertai dengan diare yang tidak kunjung sembuh. Pasien tidak mau menjawab pertanyaan mengenai pekerjaannya. Pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80, nadi 100 kali/menit, RR 27 kali/menit, suhu 36,7°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan plak putih pada mukosa buccal dan lidah yang meninggalkan bercak eritem saat dikikis. Apakah pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan dokter tersebut?
Tes Giemsa
Potassium hydroxide test
Uji Woor
Biopsi lidah
Western blot
Ny. Elizabeth usia 46 tahun datang ke RS dengan keluhan gatal pada mulut sejak 1 minggu lalu. Keluhan disertai rasa panas di mulut dan rasa kepeu menurun. Pasien memiliki riwayat penyakit DM. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda vital TD 120/80 mmHg, Nadi 90/ menit, RR 20/ mnt, Suhu 37,4°C ditemukan bercak merah disekitar mulut dan selaput berwarna putih pada mulut pasien. Dokter melakukan pemeriksaan penunjang dan didapatkan hasil pseudohifa. Apakah diagnosis yang tepat pada pasien?
Ulkus mulut
Kandidiasis oral
Stomatitis aftosa
Hairy leukoplakia
Glossitis migratory
Tn. Abi, usia 33 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan bercak putih pada lidah yang dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Pasien merupakan penderita asma sejak 5 tahun yang lalu dan rutin menggunakan inhaler symbicord. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 80 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 38,2°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan lesi mulut berupa selaput putih kekuningan yang menutupi mukosa bukal dan lidah. Saat dilakukan pemeriksaan KOH dijumpai blastospora. Apakah patogen yang kemungkinan menyebabkan keadaan tersebut?
Candida albicans
Stafilokokus sp.
Virus herpes simpleks
EBV
Malassezia furfur
Tn. Giordan, usia 47 tahun, datang ke klinik dokter umum dengan keluhan muncul adanya putih-putih pada rongga mulut yang sudah dirasakan 2 minggu terakhir. Penurunan berat badan disangkal. Pasien sendiri merupakan penderita asma yang rutin menggunakan obat. Obat asma tersebut dikatakan pasien juga dapat membuat nyeri-nyeri sendi pada pasien membaik. Tanda vital TD: 120/80 mmHg, Nadi 80 kali/menit, RR: 20 kali/menit, S: 37,0°C. Pada pemeriksaan mulut didapatkan hasil lesi putih yang jika diangkat meninggalkan dasar eritem. Penyebab penyakit pasien yang paling tepat adalah...
Infeksi oleh Corynebacterium diphteriae
Imunodefisiensi akibat penggunaan steroid
Infeksi oleh HIV
Kebiasaan bernapas lewat mulut
Efek samping penggunaan beta agonis
Ny. Kim, usia 12 bulan, dibawa oleh orang tuanya ke Puskesmas karena muncul bercak putih pada rongga mulut yang menutupi bagian depan lidahnya saja sejak 2 minggu lalu. Keluhan dirasakan semakin meluas sehingga khawatir anaknya menjadi sulit makan jika keluhan dibiarkan. Keluhan seperti ini sudah pernah diderita pasien sebelumnya namun akhirnya dapat hilang sendiri. Pada saat pemeriksaan fisik, apabila dipersiksa dan diangkat terdapat massa pada mukosa. Tatalaksana yang dapat diberikan pada kasus tersebut adalah...
Flukonazol intravena
Antibiotik oral
Nistatin topikal
Chlorhexidine gluconate 0,2%
Kortikosteroid topikal
An. Dominic, usia 9 tahun diantar ke klinik dokter umum dengan keluhan sulit makan sejak 2 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan Tanda vital Nadi 80 kali/menit, RR 20 kali/menit, S 37,0°C tampak bercak putih di rongga mulut. Bercak putih berdarah bila diangkat. Diketahui bahwa anak suka ngempeng. Apa tatalaksana yang sesuai dengan kasus di atas?
Ketokonazol
Gentian violet
Griseofulvin
Flukonazol
Mupirosin
Tn. Zayn, usia 27 tahun, datang ke Puskesmas dengan keluhan luka pada mulut sejak 2 hari yang lalu. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 100/70 mmHg, HR 84 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 37,6°C. Keluhan sudah terjadi berulang kali. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ulkus dangkal pada mukosa bukal, tepi hiperemis, berbatas tegas. Apakah diagnosis yang tepat pada kondisi di atas?
Oral ulcer
Candidiasis oral
Stomatitis herpetik
Stomatitis aftosa
Leukoplakia
Tn Aldi berusia 51 tahun, datang ke RS dengan keluhan berupa bercak keputihan pada lidah dan mulut sejak 1 minggu yang lalu. Pasien merupakan seorang perokok sejak 20 tahun lalu. Pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80, nadi 100 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,3°C. Tampak bercak keputihan pada mukosa mulut yang tidak bisa diangkat dan tidak nyeri. Diagnosis yang paling mungkin ialah...
Candidiasis oral
Stomatitis aftosa
Stomatitis herpetika
Leukoplakia
Tn. Rizzi, 26 tahun datang ke klinik dokter umum dengan keluhan terdapat luka di mulut sejak 4 hari yang lalu. Sejak 1 tahun yang lalu, pasien seperti 2 kali mengalami hal serupa dan menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu 10 hari tanpa pengobatan. Pada pemeriksaan didapatkan vital TD 120/70 mmHg, HR 80 kali/menit, RR 18 kali/menit, suhu 37,6°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan lesi bulat keputihan pada mukosa mulut dengan tepi eritema seperti perih. Apakah diagnosis yang paling tepat pada kasus ini?
Emfigus vulgaris
Herpes labialis
Oral candidiasis
Stomatitis aftosa
Leukoplakia
Tn. Mike, usia 39 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri dada yang terasa terbakar setelah makan. Nyeri dirasakan hampir setiap hari, terutama setelah minum kopi dan terkadang menyebabkan pasien terbangun dari tidur. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 67 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,9°C, pemeriksaan fisik dalam batas normal. Dokter melakukan endoskopi dan ditemukan eritema esofagus distal dengan lesi erosiva pada mukosa esofagus. Pada pemeriksaan histopatologi tidak tampak adanya dysplasia sel. Diagnosis yang tepat adalah ...
Adenokarsinoma esofagus
Akalasia
Striktur esofagus
Esofagitis korosif
Esofagitis erosif
Nn. Lucy usia 20 tahun, dibawa ke UGD RS karena menelan cairan pembersih toilet sekitar 6 jam yang lalu. Pasien mengeluh nyeri tenggorokan. Pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 kali/menit, respirasi 20 kali/menit, dan suhu 38,8°C. Apakah kontraindikasi pada endoskopi yang paling mungkin ditemukan pada kasus ini?
Lead pipe sign
Skip lesion pada colon
Mukosa esofagus tampak hiperemis
Bird beak sign
Penyempitan sfingter esophagus
Nn. Pamarai, 25 tahun datang ke RS dengan keluhan dada terasa panas dan terbakar sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga merasakan perutnya terasa tidak nyaman terutama setelah makan. Pasien mengaku pernah merasakan keluhan serupa pada saat hamil dengan UK 32–33 minggu. Pemeriksaan TTV dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Apakah komplikasi yang paling mungkin terjadi pada kasus ini?
Striktur esofagus
Akalasia
Esophageal web
Pankreatitis
Kolesistitis
Nn. Fannya usia 26 tahun datang ke klinik dokter umum dengan keluhan nyeri dada terasa seperti terbakar tembus hingga ke punggung sejak 30 menit yang lalu. Keluhan disertai rasa mensesak, mual dan pahit dimulut. Pasien merupakan karyawan yang sering lembur sehingga selalu mengonsumsi kopi dan terlambat makan. Diketahui pasien juga memiliki kebiasaan berbaring setelah makan. Tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 78 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,8°C. Dari pemeriksaan fisik dalam batas normal. Diagnosis yang tepat?
GERD
Ulkus gaster
Ulkus duodenum
Sindrom dispepsia
Pankreatitis
Tn. Osborn, usia 45 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan rasa panas pada dada yang hilang timbul sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan dirasakan semakin sering dan terkadang terasa pahit di mulut terutama saat pasien berbaring setelah selesai makan. Belakangan pasien juga terkadang merasakan nyeri saat menelan. Pemeriksaan TD 120/80, nadi 100 kali/menit, RR 24 kali/menit, suhu 36,7°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan BMI 31 kg/m², nyeri tekan epigastrium (+). Apakah pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada pasien ini?
Manometri esofagus
Monitor pH esofagus 24 jam
Koloskopi
Barium swallow
Esofagogastroduodenoskopi
Tn. Michael, usia 32 tahun datang poli penyakit dalam dengan keluhan nyeri dada yang terasa panas saat menelan air. Nyeri dada tidak dipengaruhi oleh aktivitas. Nyeri dirasakan panas seperti terbakar dan menjalar sampai ke tenggorokan hingga mulut terasa asam. Pasien diketahui rutin minum alkohol 1–2 cangkir setiap harinya. Pemeriksaan tanda vital dan status generalis dalam batas normal. Pasien kemudian diberikan terapi Omeprazole 2x20 mg/hari selama 4 minggu lalu evaluasi dan disarankan untuk endoskopi. Apakah hasil endoskopi yang paling mungkin ditemukan pada kasus ini?
Lead pipe sign
Skip lesion pada colon
Mukosa esofagus tampak hiperemis
Bird beak sign
Penyempitan sfingter esophagus
Nn. Gabriella usia 22 tahun datang ke klinik dokter umum dengan keluhan nyeri dada sejak 6 hari yang lalu. Nyeri dirasakan semakin hebat apabila setelah makan. Keluhan disertai rasa pahit dan asam pada lidah. Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah. Tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 78 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,0°C. Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan epigastrium. Apa tatalaksana awal yang sebaiknya diberikan?
Ranitidin 1 x 150 mg selama 4 minggu
Esomeprazole 1 x 20 mg selama 2 minggu
Pantoprazole 2 x 40 mg selama 2 minggu
Omeprazole 2 x 20 mg selama 4 minggu
Lansoprazole 1 x 30 mg selama 4 minggu
Tn. Doni, usia 64 tahun datang ke rumah sakit keluhan berupa nyeri ulu hati disertai dengan rasa panas di dada dan rasa asam dan pahit di lidah sejak lama. Tanda vital TD 120/80, HR 79 kali/menit, RR 22 kali/menit, Suhu 37,0°C. Pada pemeriksaan endoskopi tidak ditemukan adanya ulkus baik pada gaster maupun pada duodenum, namun ditemukan adanya penonjolan mukosa berwarna kemerahan pada area proksimal dari gastroesophageal junction. Biopsi pada daerah tersebut menunjukkan metaplasia intestinal kolumnar dengan sel goblet. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
Esofagitis refluks
GERD
Gastritis non-erosive
Barrett’s esofagus
Achalasia
Ny. Sonya berusia 54 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pada ulu hati sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan terutama setelah makan. Pasien sering terbangun pada malam hari karena nyeri. Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah 2–3 kali perhari. Sebelumnya pasien sudah pernah berobat dan mengonsumsi omeprazole selama 1 minggu namun tidak ada perubahan. BAB dan BAK normal. TD 130/80 mmHg, HR 82 kali/menit, RR 22 kali/menit, suhu 37,0°C. Pemeriksaan laboratorium Hb 12,8 g/dL, leukosit 8500/mm³, Plt 250.000/mm³, LED 15 mm/jam, serum amilase dan lipase dalam batas normal. Apakah usulan pemeriksaan penunjang yang paling tepat?
USG Abdomen
CT scan abdomen
Gastroskopi
Barium enema
Barium meal
Nn. Liana usia 20 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan seringnya merasa begah setelah makan sejak 4 minggu yang lalu. Keluhan disertai cepat kenyang. Ketika makan disertai sering bersendawa, mual (-). Riwayat konsumsi obat anti nyeri atau steroid disangkal. Pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 85 kali/menit, RR 16 kali/menit, suhu 36,8°C. Hasil pemeriksaan fisik didapatnya nyeri tekan epigastric (+), perkusi hipertimpani. Dari pemeriksaan endoskopi tidak didapatkan kelainan. Apa tatalaksana yang tepat untuk pasien saat ini?
Antasida
Lansoprazole
Sucralfate
Ranitidine
Metoclopramid
Nn. Ailin, usia 23 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri ulu hati disertai mual muntah sejak 2 hari sebelumnya. Pasien mengaku sering terlambat makan dan suka mengonsumsi makanan pedas. Pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 85 kali/menit, RR 16 kali/menit, suhu 36,8°C. Dari hasil pemeriksaan fisik nyeri tekan epigastric (+), hepar lien tak teraba. Dokter memberikan obat antasida dan ranitidin. Apa fungsi obat ranitidin pada pasien?
Menghambat produksi asam lambung dengan menghambat pompa ion H+
Melapisi dan melindungi mukosa lambung yang luka
Memblok reseptor histamin
Menetralkan pH asam lambung
Meningkatkan peristaltik lambung
Tn. Gwen usia 43 tahun dibawa oleh keluarganya ke IGD dengan keluhan mual sejak 1 hari yang lalu. Darah berwarna kehitaman dan disertai nyeri perut di ulu hati. Pasien memiliki riwayat sering mengonsumsi obat anti nyeri dan radang di apotik. Pemeriksaan fisik: keadaan umum compos mentis, TD 130/90 mmHg, HR 86 kali/menit, RR 20 kali/menit, T 37,1°C, konjungtiva anemis (-), sklera icterus (-), nyeri tekan epigastric (+). Apakah diagnosis yang tepat?
Infeksi Helicobacter pylori
Peptic ulcer
Gastritis
Esophageal varices
Mallory Weiss syndrome
Ny Rachel, usia 38 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri ulu hati sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri perut dirasakan saat perut sedang keadaan kosong dan nyeri bertambah parah pada saat setelah makan. Riwayat minum minuman beralkohol disangkal. Nyeri perut yang dirasakan terutama saat malam hari sehingga membuat pasien terbangun. Keluhan kadang disertai mual muntah. Pada pemeriksaan tanda vital TD 120/80, HR 87 kali/menit, RR 22 kali/menit, T 37,1°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekan epigastrium. Diagnosis yang tepat pada kasus ini adalah...
Kolesistitis
Gastritis
Dispepsia fungsional tipe ulcer
Ulkus gaster
Ulkus duodenum
Ny. Camelia, usia 34 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri ulu hati hebat, disertai dengan muntah darah sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien diketahui telah mengonsumsi NSAID selama 1 bulan. Tanda vital TD 120/80, HR 92 kali/menit, RR 22 kali/menit, T 37,6°C. Dokter menduga pasien mengalami ulkus peptikum. Bagaimanakah mekanisme terjadinya ulkus tersebut ...
Penurunan pepsin oleh NSAID
Peningkatan sekresi gastrin oleh NSAID
Penurunan mucus gaster oleh NSAID
Iritasi langsung NSAID pada mukosa gaster
Peningkatan sekresi asam lambung
Tn. Ryan, berusia 69 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan nyeri perut yang dirasakan di atas perut kanan pada perut sejak 3 bulan lalu. Pasien juga mengeluh mual dan muntah saat malam hari. Pemeriksaan tanda vital TD 110/80 mmHg, HR 82 kali/menit, RR 21 kali/menit, suhu 36,8°C. Pada pemeriksaan fisik nyeri tekan epigastrium. Gambaran EKG irama sinus normal. Terapi lini pertama yang tepat untuk pasien ini?
Antasida
Omeprazole + Sukralfat sirup
Omeprazol
Lansoprazole + domperidone
Metoclopramide
Tn. Zedd, usia 49 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri dada yang terasa terbakar setelah makan. Nyeri dirasakan hampir setiap hari, terutama setelah minum kopi dan kadang menyebabkan pasien terbangun dari tidur. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 67 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,9°C, pemeriksaan fisik dalam batas normal. Apakah kemungkinan diagnosis pasien tersebut?
Mallory Weiss tear
Kolesistitis
Gastritis erosiva
GERD
Pankreatitis akut
Ny. Jenni, usia 59 tahun, datang ke IGD karena muntah darah sejak 2 jam. Pasien juga mengalami BAB berwarna hitam selama beberapa hari terakhir. Pasien memiliki riwayat konsumsi asam mefenamat yang dibeli di warung karena penyakit radang sendinya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 112/70 mmHg, HR 110/menit, RR 16/menit dan suhu 36,7°C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan epigastrium. Pada pemeriksaan lab didapatkan Hb 6,8 g/dL, trombosit 130.000, leukosit 9.500, Na 140 mEq/L, K 3,4 mEq/L, bikarbonat 26 mEq/L. Kemungkinan diagnosis pasien tersebut adalah
Gastritis kronik
Ruptur varises esofagus
Mallory–Weiss syndrome
Ulkus peptikum
Gastropati NSAID
Tn. Tea, usia 59 tahun, datang ke klinik dokter umum dengan keluhan lutut kanan dan terasa nyeri sejak 3 minggu terakhir. Pasien memiliki riwayat gastritis kronis sejak masih muda. Pada pemeriksaan fisik, TD 120/80 mmHg; nadi 80/menit; RR 16/menit; suhu afebris. Nyeri tekan epigastrium (+). TB 165 cm, BB 92 kg. Terdapat krepitasi pada sendi lutut. Apakah terapi yang tepat pada pasien dengan riwayat gastritis ini?
Natrium diklofenak
Aspirin
Meloksikam
Asam mefenamat
Celekoksib
Ny. Dini, usia 40 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri ulu hati. Pada anamnesis didapatkan riwayat konsumsi aspirin jangka panjang karena riwayat serangan jantung. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan TD 130/90 mmHg, RR 20/menit, HR 80/menit dan T 36°C. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri epigastrik. Dokter kemudian berencana memberikan obat yang dapat melindungi mukosa gastrik. Obat yang dapat diberikan adalah
Omeprazol
Ranitidin
Sukralfat
Tetrasiklin
Klaritromisin
Nn. Mia berusia 25 tahun datang ke RS dengan keluhan perut kembung sejak 3 hari. Keluhan disertai perut terasa perih, mual, kadang disertai muntah dan sering bersendawa. Keluhan membaik dengan pemberian makanan dan kambuh-kambuhan sejak 6 bulan yang lalu. Tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 78/menit, RR 20/menit, suhu 37,0°C. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri tekan epigastrium. Hasil pemeriksaan urea breath test positif. Apakah terapi yang tepat?
Omeprazol, bismut, tetrasiklin, dan amoksisilin
Omeprazol, bismut, amoksisilin, dan metronidazol
Omeprazol, amoksisilin, dan klaritromisin
Omeprazol, siprofloksasin, dan metronidazol
Omeprazol, domperidon, dan siprofloksasin
Ny. Milner, usia 32 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri perut dengan kualitas seperti kram sejak 6 bulan yang lalu. Keluhan disertai konstipasi dan diare yang silih berganti tanpa pola yang jelas. Nyeri perut menghilang setelah pasien BAB. Pasien menyangkal penurunan BB maupun BAB berdarah. Tanda vital TD 110/70 mmHg, HR 78/menit, RR 20/menit, suhu 37,0°C. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 12,0 g/dL, leukosit 7.000/µL, trombosit 250.000/µL, ESR dalam batas normal. Hasil pemeriksaan kolonoskopi dan endoskopi dalam batas normal, hasil kultur feses juga normal. Apakah diagnosis yang paling tepat saat ini?
Penyakit Crohn
Irritable Bowel Syndrome
Inflammatory Bowel Disease
Kolitis ulseratif
Kolitis pseudomembran
Tn. Daniel, berusia 60 tahun datang ke RS dengan keluhan BAB cair sejak 5 bulan yang lalu. Pasien BAB sedikit-sedikit dan berlendir, nyeri perut bagian bawah, serta sering tenesmus. Pasien mengeluh penurunan berat badan. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia mikrositik dan peningkatan LED. Apakah pemeriksaan penunjang paling tepat untuk pasien ini?
Foto polos abdomen
Barium enema
USG abdomen
Barium meal
CT scan
Ny. Tiqah, usia 43 tahun datang ke RS akibat rasa tidak nyaman pada perut yang hilang timbul sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan dirasakan hampir setiap hari dengan lokasi dan intensitas yang bervariasi. Terkadang pasien mengalami konstipasi dan diare yang bergantian. Pasien merasa nyeri perut diperberat saat dalam keadaan stres. Nyeri perut membaik setelah BAB. Pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 92/menit, RR 16/menit, suhu 36,9°C. Pemeriksaan penunjang didapatkan leukosit 8000/µL, hematokrit 29%, trombosit 210.000/µL. Hasil pemeriksaan penunjang yang ditemukan pada pasien ini adalah
Abses kripta
Skip lesion
Pseudopolip
Atrofi vili usus
Mukosa kolon normal
Tn. Jorse, berusia 50 tahun datang ke RS dengan keluhan BAB berdarah sejak 6 bulan yang lalu. Keluhan disertai mual, dan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 130/70 mmHg, HR 78/menit, RR 20/menit, suhu 36,7°C, peristaltik meningkat. Pada pemeriksaan kolonoskopi ditemukan gambaran cobblestone yang tersebar di colon ascenden dan descenden. Pada histopatologi didapatkan serbuan sel radang pada seluruh tunika usus. Apakah diagnosis pasien tersebut?
Penyakit Crohn
Kolitis ulseratif
IBD
IBS
Kolitis pseudomembran
Tn. Bady, berumur 50 tahun, datang ke UGD RS dengan keluhan utama diare lebih dari 4 minggu, frekuensi lebih dari 3 kali disertai darah. Pasien juga mengeluh nyeri perut, sariawan, nyeri sendi dan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan TD 110/70 mmHg, Nadi 87/menit, RR 20/menit, Suhu 36,8°C, ulserasi pada mulut, konjungtiva palpebra pucat, terdapat massa di abdomen di regio inguinal dekstra, peristaltik normal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8 g/dL, leukosit 7000/µL, LED 20 mm/jam, trombosit 200.000/µL. Pemeriksaan penunjang lain yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah
Colon in loop
Kolonoskopi
BNO 3 posisi
Barium enema
USG abdomen
Tn. Nile, 38 tahun datang ke dokter dengan keluhan diare disertai darah sejak 3 minggu yang lalu. Keluhan juga disertai dengan nyeri perut seperti diperas, rasa tidak puas setelah BAB, dan sering kali tidak dapat menahan BAB. Gejala dirasakan semakin lama semakin berat. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan TD 110/70 mmHg, Nadi 87/menit, RR 20/menit, Suhu 36,8°C. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bising usus meningkat, disertai nyeri tekan abdomen regio iliaka kiri. Pada pemeriksaan feses rutin tidak ditemukan mikroorganisme yang bermakna. Pada pemeriksaan barium enema ditemukan gambaran lead pipe colon. Hasil kolonoskopi menunjukkan lesi kontinu ke arah proksimal yang dimulai dari rektum. Apakah diagnosis yang paling tepat?
Penyakit Crohn
Irritable Bowel Syndrome
Inflammatory Bowel Disease
Kolitis ulseratif
Kolitis pseudomembran
Tn. James, berusia 50 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri perut dan BAB berdarah sejak 1 bulan yang lalu. Pasien tidak mengeluh demam maupun muntah. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pada pemeriksaan kolonoskopi didapatkan peradangan dari rektum hingga kolon sigmoid, erosi (+) dan pseudopolip (+), hasil kultur negatif. Hasil pemeriksaan fluoroskopi yang khas untuk kasus di atas adalah
Caterpillar sign
Inverted sign
Bird beak sign
String sign
Ny. Dahlia, usia 54 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri perut sejak 5 bulan terakhir. Keluhan nyeri perut dirasakan hilang timbul. Pasien juga mengeluhkan terkadang BAB berdarah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik dan tanda vital: TD 110/80 mmHg, HR 88/menit, RR 22/menit dan suhu 37°C. Pada pemeriksaan kolonoskopi gambaran cobblestone tersebar di colon ascenden dan descenden. Apakah kemungkinan diagnosis pasien tersebut?
Irritable bowel syndrome
Crohn disease
Ulcerative colitis
Diverticulitis
Ca colon
Tn. Zayn, usia 28 tahun datang ke poli penyakit dalam dengan keluhan diare hilang timbul yang telah dirasakan selama setengah tahun. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut setelah makan, berat badan semakin menurun dengan makanan masih dalam jumlah yang normal. Terkadang BAB disertai dengan darah. Dokter menyarankan melakukan kolonoskopi dan didapatkan gambaran cobblestone dan skip lesions. Penyakit pada kasus ini paling sering pada lokasi
Ileocecal
Anorektal
Sekum
Apendiks
Rektum
Tn. Greg, usia 35 tahun datang ke RS dengan keluhan diare sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai rasa mual, demam dan rasa kram perut. Pasien memiliki riwayat sering minum antibiotik untuk dispepsia yang sering kambuh namun tidak sesuai resep dokter. Tanda vital TD 100/70 mmHg, HR 100 kali/menit, RR 20/menit, suhu 38°C. Dari pemeriksaan feses ditemukan bakteri gram positif. Apa penyebab penyakit pasien saat ini?
Clostridium perfringens
Clostridium difficile
ETEC
EIEC
Shigella dysenteriae
Tn. Lucas, usia 33 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan diare sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai dengan demam dan kram perut. Pasien juga mengeluhkan malas makan dan mual. Dua minggu sebelumnya, pasien sempat mengeluhkan batuk dan pilek serta demam, pasien kemudian membeli obat di apotek berupa antibiotik levofloxacin dan diminum selama 2 minggu. Tanda vital: TD 110/70 mmHg, HR 108/menit, RR 20/menit, suhu 37,9°C. Dari fecal smear didapatkan lendir darah (−). Dari pemeriksaan kolonoskopi dijumpai gambaran bersih. Apa tatalaksana pasien saat ini?
Metronidazol 3×500 mg
Ciprofloxacin 2×500 mg
Kotrimoksazol 2×960 mg
Tetrasiklin 4×500 mg
Kloramfenikol 4×500 mg
Ny. Aurel (25 tahun), Ny. Jessi (28 tahun), Ny. Anne (30 tahun), dan Ny. Ambar (26 tahun) datang ke IGD karena mengeluhkan nyeri perut dan diare 3–4 kali dengan konsistensi lembek setelah datang ke arisan rutin di hotel. Sejak 8 jam yang lalu, semua mengeluhkan makanan yang dihidangkan sebelumnya. Pasien tampak dehidrasi ringan dan diberikan attapulgite dan oralit kemudian dipulangkan. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
Kolik abdomen
Disentri
Gastritis
Keracunan makanan
Botulisme
Tn. Benjamin, usia 26 tahun, datang ke RS dengan keluhan seluruh tubuh yang menegang sejak 3 jam yang lalu disertai mual dan muntah sebanyak 7 kali. Pasien juga mengeluh sulit menelan dan penglihatan ganda. Sebelum keluhan tersebut muncul, pasien makan makanan kalengan yang tidak dipanaskan. Pemeriksaan fisik menunjukkan TD 130/90 mmHg, HR 84/menit, RR 17/menit, suhu 37,0°C. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan perkusi hipersonik, bising usus menurun. Apa diagnosis yang tepat?
Botulisme
Guillain–Barré syndrome
GERD
Ileus obstruktif
Tetanus
An. Fadli, usia 15 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri perut hebat sejak 3 jam lalu. Keluhan disertai suara parau, mulut kering, dan mual. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi 80/menit, RR 35/menit, afebris. Pupil tampak midriasis. Pasien riwayat mengonsumsi makanan kaleng 4 jam yang lalu. Apakah etiologi yang paling mungkin dari kasus tersebut?
Vibrio cholerae
Clostridium difficile
Clostridium perfringens
E. coli
Clostridium botulinum
Ny. Elisa, usia 52 tahun datang ke RS dengan keluhan demam dan nyeri perut. Nyeri dirasakan terutama di sisi kanan atas. Pasien juga mengeluhkan mual muntah. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 100/70 mmHg, HR 86 kali/menit, RR 21 kali/menit, suhu 37,9°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan BB 80 kg, TB 160 cm, dan sklera ikterik (−). Pada saat dilakukan palpasi hepar dengan penekanan di perut kanan atas pasien kesakitan. Pemeriksaan laboratorium: AST 1000 IU/L, ALT 130 IU/L. Apakah penunjang yang paling tepat pada pasien ini?
Kultur darah
USG abdomen
Foto polos abdomen supine
Foto polos abdomen 3 posisi
Serologi dan AFP
Ny. Maya, usia 45 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut sisi kanan atas yang dirasakan sejak 5 hari yang lalu. Keluhan disertai nyeri yang membuat pasien berjalan membungkuk, mual, dan muntah. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 120/80 mmHg, HR 86 kali/menit, RR 21 kali/menit, suhu 38,2°C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan BB 65 kg, TB 150 cm, dan sklera ikterik (−). Pada saat dilakukan palpasi hepar, napas pasien terhenti saat tangan menyentuh bagian tepi hepar, hepar teraba 2 jari di bawah arcus costae dengan nyeri tekan. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
Koledokolitiasis
Kolesistitis
Kolangitis
Kolelitiasis
Hepatitis akut
Ny. Lea, usia 40 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri perut kanan atas yang hilang timbul sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri terutama dirasakan setelah makan makanan berlemak. Nyeri disertai mual muntah. Demam disangkal. Tidak terdapat BAB berwarna gelap. Pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital TD 120/80, HR 87/menit, RR 22/menit, T 37,0°C, sklera tidak ikterik, Murphy sign tidak ada. Dokter melakukan pemeriksaan USG dan dijumpai hasil cholelithiasis. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
Karsinoma caput pancreas
Koledokolitiasis
Kolesistitis
Kolangitis
Kolelitiasis
Ny. Shandy, usia 49 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 5 hari yang lalu. Pasien juga mengatakan merasa badannya panas dan mengeluh mual. Sebelumnya pasien sering mengalami nyeri perut kanan atas yang hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80 mmHg, N 90/menit, RR 22/menit, T 38,5°C, Murphy sign (+). Pada pemeriksaan USG abdomen ditemukan dinding kantung empedu menebal dan terdapat gambaran hiperechoic disertai acoustic shadow. Diagnosis pada pasien ini adalah
Perforasi gaster
Apendisitis
Hepatitis
Kolesistitis
Kolelitiasis
Ny. Sintia, usia 42 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kanan atas yang dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan menjalar ke bahu dan punggung kanan. Pasien juga mengeluhkan warna BAB sangat pucat bagaikan dempul. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/60 mmHg, HR 75/menit, RR 18/menit, suhu 36,5°C. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva ikterik dan nyeri tekan RUQ. Dokter melakukan urinalisis dan ditemukan warna urin gelap dan kadar bilirubin direk yang meningkat. Apakah diagnosis yang paling tepat pada pasien ini?
Koledokolitiasis
Kolesistitis
Kolangitis
Kolelitiasis
Kernikterus
Ny. Sandra, usia 50 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul dan menjalar hingga ke bahu dan punggung kanan. Pasien juga mengeluhkan belangkangan ini mata dan warna kulitnya menjadi kuning. Pasien juga mengatakan kotorannya pucat seperti warna dempul. Tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 78/menit, RR 20/menit, suhu 36,8°C, pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik, nyeri tekan perut kanan atas. Hasil urinalisis didapatkan warna urin pekat seperti warna teh, dan bilirubin (+++). Kondisi yang sesuai dengan pasien di atas adalah
Ikterus fisiologis
Ikterus parenkimatos
Ikterus hemolitik
Ikterus obstruktif
Kernikterus
Ny. Nessa berusia 40 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 3 hari terakhir. Pasien juga mengeluhkan nyeri abdomen kanan atas, disertai BAB menjadi pucat. Pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 92/menit, RR 16/menit, suhu 39°C. Pemeriksaan fisik didapatkan sklera ikterik, Murphy sign (+). Pemeriksaan laboratorium angka leukosit 14.000/µL. Apakah diagnosis yang paling tepat pada kasus ini?
Abses hepar
Kolelitiasis
Kolangitis
Koledokolitiasis
Kolesistitis
Ny. Andrina, usia 27 tahun datang ke IGD mengeluhkan nyeri ulu hati sejak 10 jam yang lalu, terasa seperti menembus ke belakang. Keluhan disertai pasien tidak BAK 12 jam terakhir. Pasien memiliki riwayat maag sudah 2 bulan diobati tidak membaik. Pasien sudah minum obat lambung omeprazole, ranitidine dan antasida, namun tidak ada perbaikan. Tanda vital TD 90/60 mmHg, nadi 108/menit, respirasi 32/menit, suhu 37,8°C. Pemeriksaan fisik nyeri tekan epigastrik. Pemeriksaan amilase lipase mengalami peningkatan, ureum 108, kreatinin 3,2, SGOT 46, SGPT 38. Pemeriksaan AGD pH 7,31 HCO3 18 PCO2 32. Diagnosis yang tepat?
Hepatitis fulminan
Pankreatitis akut
Carcinoma gaster metastasis pankreas
Chronic Kidney Disease stage V
Carcinoma caput pancreas
Tn. Leonsa, usia 48 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan kuning pada seluruh tubuh. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada ulu hati yang menjalar sampai punggung. Keluhan disertai hilang nafsu makan, penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir. Pemeriksaan tanda vital TD 120/80, HR 87/menit, RR 22/menit, T 37,4°C. Pada pemeriksaan fisik abdomen teraba massa pada regio epigastrium. Pemeriksaan penunjang: tumor marker CA19-9. Apakah diagnose yang tepat pada kasus di atas?
Ca caput pancreas
Sirosis hepatis
Hepatocellular carcinoma
Hepatitis C
Hepatitis B
Tn. James, usia 40 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri ulu hati yang sangat berat menembus punggung sejak 2 bulan yang lalu. Pasien merasakan nyeri semakin lama semakin memberat. Pasien mengaku sempat turun BB sebanyak 10 kg dalam 6 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik ditemukan jaundice, nyeri tekan epigastrium. Dokter melakukan pemeriksaan penunjang dijumpai peningkatan alkaline phosphatase. CT scan abdomen menunjukkan massa hipoattenuasi pada regio epigastrium. Apakah diagnose yang tepat pada kasus di atas?
Ca caput pancreas
Sirosis hepatis
Hepatocellular carcinoma
Hepatitis C
Hepatitis B
Nn. Laudia, usia 44 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri perut kanan atas dan demam yang sudah dialaminya selama 5 hari ini. Riwayat disentri (+). Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 110/70 mmHg, HR 96 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 38,7°C. Pada pemeriksaan abdomen dilakukan penekanan di sela iga ke-6 dan pasien merasakan nyeri. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit 15.000/µL dan pemeriksaan radiologi tampak dome diafragma. Apakah nama pemeriksaan abdomen yang dilakukan dokter?
Blumberg sign
Murphy sign
Kehr’s sign
Ludwig sign
Cullen sign
Ny. Alice, usia 36 tahun, datang ke IGD karena nyeri perut kanan atas sejak 1 minggu. Pasien juga mengeluh demam dan feses hitam. Sekitar 3 bulan yang lalu pasien sempat mengalami diare berdarah yang sembuh sendiri. Pasien mempunyai riwayat minum alcohol namun berhenti semenjak keluhan muncul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/70 mmHg, HR 96/menit, suhu 38,5°C, dan RR 22/menit. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hepar teraba 3 cm di bawah iga kanan dan Ludwig sign (+). Pada pemeriksaan USG abdomen didapatkan gambaran lesi hypoechoic soliter pada lobus dextra hepar. Diagnosis yang tepat untuk pasien tersebut adalah
Disentri amuba
Abses hepar
Hepatoma
Sirosis hepatis
Ca hepar
Ny. Heylen, berusia 30 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh demam, mual muntah, nafsu makan turun. Pasien memiliki riwayat diare berdarah seminggu yang lalu dan telah diobati. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80 mmHg, Nadi 90/menit, RR 20/menit, suhu 38,5°C, anemis (+), ikterus (−), nyeri tekan abdomen regio kanan atas, hepar teraba membesar dan kenyal, tepi tumpul. Pemeriksaan lab menunjukkan Hb 13 g/dL, leukosit 12.000/µL, trombosit 300.000/µL, SGOT 56, SGPT 51. Saat dilakukan aspirasi, ditemukan cairan berwarna merah kecoklatan. Apakah kemungkinan diagnosis pasien tersebut?
Disentri basiler
Disentri amuba
Hepatoma
Abses hepar amebik
Abses hepar piogenik
Seorang pasien dengan sklera ikterik, nyeri tekan kuadran kanan atas, dan hasil USG abdomen menunjukkan lesi hepar bulat, batas tegas, hipoekoik berdiameter 2 cm pada parenkim hepar. Terapi yang paling tepat untuk kasus ini adalah apa?
Siprofloksasin 3 x 500 mg per oral
Doksisiklin 2 x 100 mg per oral
Tetrasiklin 4 x 500 mg intravena
Metronidazol 3 x 750 mg intravena
Metronidazol 3 x 500 mg intravena
Tn. Malin, 59 tahun, datang ke IGD dengan keluhan BAB hitam lembek sejak 2 minggu, penurunan nafsu makan, dan riwayat penyakit kuning 1 bulan. Pemeriksaan: TD 130/90 mmHg, HR 78 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 36,7°C; sklera ikterik, abdomen tampak membesar, shifting dullness (+); laboratorium Hb rendah, trombosit 90.000/mm3, bilirubin (+), urobilinogen (+). Diagnosis paling mungkin adalah apa?
Hepatitis akut
Hepatitis kronik
Sirosis hepatis
Abses hepar
Karsinoma hepatoseluler
Tn. Nicholas, 44 tahun, mengeluh muntah darah satu kali sekitar 100 cc. Tanda vital stabil. Pemeriksaan fisik menemukan spider nevi dan eritema pada tangan; USG menunjukkan hepar mengecil dengan ekogenitas meningkat. Diagnosis yang tepat adalah apa?
Neoplasma hepar
Hepatitis akut
Hepatitis C kronik
Abses hepar
Sirosis hepatis
Ny. Morlin, 40 tahun, datang ke IGD dengan muntah darah sejak 30 menit. Tanda vital menunjukkan syok ringan; konjungtiva pucat, sklera ikterik, splenomegali, dan asites. Laboratorium Hb 9 g/dL, HBsAg reaktif. Diagnosis paling tepat adalah apa?
Gastritis erosiva
Ulkus peptikum
Robekan Mallory–Weiss
Ruptur varises esofagus
Barrett esofagus
Tn. George Malley, 49 tahun, datang ke IGD dengan muntah darah sekali sebanyak kurang lebih 75 cc. Ditemukan asites, spider nevi, bilirubin total 3,3 mg/dL, albumin 2,5 g/dL, INR 2. Diagnosis yang paling tepat adalah apa?
Gastritis erosiva
Ulkus peptikum
Robekan Mallory–Weiss
Ruptur varises esofagus
Barrett esofagus
Tn. Ruth, 38 tahun, muntah darah setelah muntah-muntah hebat sebelumnya. Tanda vital stabil, tidak ada ikterus. Endoskopi menunjukkan robekan mukosa longitudinal di gastroesophageal junction. Kemungkinan diagnosis adalah apa?
Gastritis kronik
Ruptur varises esofagus
Sindrom Mallory–Weiss
Ulkus peptikum
Tn. Ilex, 45 tahun, muntah darah merah gelap; di IGD muntah lagi 75 cc. Ditemukan asites dan spider nevi. Laboratorium: bilirubin total 3,3 mg/dL, albumin 2,5 g/dL, INR 2.2. Terapi farmakologis yang paling tepat diberikan sekarang adalah apa?
Asam traneksamat
Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt
Somatostatin
Penghambat pompa proton (PPI)
Propranolol
Tn. Sloane, 52 tahun, alkoholik dengan riwayat hepatitis C, mengalami hematemesis hebat. Tanda penyakit hati kronik ditemukan. Obat yang paling tepat untuk mencegah perdarahan ulang adalah apa?
Asam traneksamat
Oktreotid
Somatostatin
Propranolol
Aspirin
Laki-laki 55 tahun dibawa ke UGD karena penurunan kesadaran 2 jam. Sejak 4 hari terlihat mengantuk dan lemas. Ditemukan ginekomastia, kuku bergaris-garis putih, HBsAg (+), bilirubin total 5 mg/dL. Diagnosis paling mungkin adalah apa?
Hepatitis B
Ensefalopati hepatik
Neoplasma hepar
Sirosis hepatis
Abses hepar
Tn. Divo, 60 tahun, penurunan kesadaran berulang. Pemeriksaan: TD 130/80 mmHg, HR 80 kali/menit, RR 20 kali/menit, asites, eritema palmar, spider angioma. Temuan laboratorium yang paling mungkin adalah apa?
Ureum meningkat
Amonia meningkat
Amonia menurun
Kreatinin menurun
Amonia normal
Tn. Dino, 40 tahun, nyeri perut kanan sejak 2 tahun, benjolan 1 bulan, berat badan menurun; hepar teraba keras berbenjol; HBsAg (+). Pemeriksaan penunjang yang paling sesuai untuk menegakkan diagnosis adalah apa?
SGOT dan SGPT
Alfa-fetoprotein (AFP)
ALT dan AST
Albumin serum
USG untuk abses hepar
Tn. Shadon, 58 tahun, perut membesar 6 bulan, ikterus, riwayat alkohol dan narkoba; hepar teraba keras berbenjol; AFP 1200 ng/mL; HCV (+). Diagnosis yang paling tepat adalah apa?
Sirosis hepatis
Karsinoma hepatoseluler
An. Tiny, 12 tahun, mata kuning sejak 1 hari, di sekolah ada sekitar 10 siswa dengan keluhan serupa. Pemeriksaan: sklera ikterik, hepar teraba 4 cm, tanpa pengobatan sebelumnya. Pemeriksaan penunjang yang paling mungkin positif pada kasus ini adalah apa?
HBsAg (+)
Anti-HBs (+)
HBeAg (+)
Anti-HCV (+)
IgM anti-HAV (+)
Ny. Harley, 31 tahun, badan kuning dan demam; pemeriksaan serologi menunjukkan anti-HAV (+). Cara penularan yang paling mungkin adalah apa?
Urin
Ko-infeksi hepatitis B
Semen
Darah
Fekal–oral
Tn. Alex, 27 tahun, nyeri perut kanan atas 5 hari, muntah; pemeriksaan menunjukkan HBsAg (+) dengan IgM anti-HBc (+). Diagnosis yang paling tepat adalah apa?
Hepatitis A
Hepatitis B akut
Hepatitis C
Karsinoma hepatoseluler
Sirosis hepatis
Laki-laki 40 tahun demam 3 hari disertai mual muntah; SGOT 500 U/L, SGPT 800 U/L; HBsAg (+), anti-HBs (−), HBeAg (+), anti-HBe (−), IgM anti-HBc (+). Diagnosis paling mungkin adalah apa?
Carrier hepatitis B
Hepatitis B akut, replikasi aktif
Hepatitis B akut, tidak replikasi aktif
Hepatitis B kronis, tanpa replikasi
Hepatitis B kronis, replikasi aktif
Ny. Clara, 30 tahun, menjalani tes laboratorium untuk evaluasi kondisi liver. Hasil: HBsAg negatif, anti-HBs positif, anti-HBc positif. Interpretasi seromarker yang paling tepat adalah apa?
Infeksi hepatitis B akut
Infeksi hepatitis B kronis
Infeksi hepatitis B kronis replikatif aktif
Imunitas akibat infeksi alami
Imunitas dari vaksinasi
Ny. Andin, 32 tahun, bekerja sebagai analis laboratorium kesehatan. Pemeriksaan skrining didapatkan HBsAg (+). Pemeriksaan lanjutan yang sebaiknya dilakukan untuk menilai replikasi virus apa?
HBcAg
Anti-HBc
Anti-HCV
HBeAg
Perempuan 20 tahun dengan demam, mual, muntah, dan badan lemas selama 1 minggu. Pemeriksaan fisik: hepar teraba 3 jari di bawah arcus costae dan nyeri tekan. Serologi: HBsAg (+), anti-HBs (+), anti-HBc (+). Interpretasi hasil paling tepat adalah apa?
Respons pasca vaksinasi hepatitis B
Infeksi virus hepatitis B akut/kronik (fase serokonversi)
Jejas toksik hepar tanpa infeksi virus
Pembawa hepatitis B
Riwayat infeksi sebelumnya dengan imunitas penuh
Laki-laki 55 tahun dengan penurunan kesadaran; tampak ginekomastia dan kuku bergaris putih; HBsAg (+). Pemeriksaan serologi lanjutan yang paling tepat untuk evaluasi adalah apa?
Anti-HBc
HBeAg
Anti-HBs
HBcAg
HBV DNA
Perempuan 35 tahun, petugas laboratorium, dengan badan lemah dan demam ringan; hasil skrining HBsAg (+). Pemeriksaan lanjutan yang paling tepat adalah apa?
Anti-HBc
HBeAg
Anti-HBs
HBcAg
HBV DNA
Ny. Julie, 58 tahun, kontrol rutin; riwayat hepatitis B 10 tahun; tidak ada keluhan; laboratorium HBsAg (+), anti-HBs (−), anti-HBe (+); enzim hati normal. Diagnosis paling tepat adalah apa?
Hepatitis B kronis replikatif
Hepatitis B kronis nonreplikatif
Hepatitis B window period
Karsinoma hepatoseluler
Sirosis hepatis
Ny. Mettie, 38 tahun, ikterik 3 minggu, nyeri kuadran kanan atas, urin seperti teh, dan beberapa teman sekantor mengalami hal serupa. Serologi: IgM anti-HAV (+), HBsAg (−), anti-HCV (−), anti-HBs (+). Diagnosis paling tepat adalah apa?
Hepatitis A
Hepatitis A dan hepatitis B kronis replikatif
Hepatitis C
Hepatitis A dan hepatitis B kronik
Hepatitis A dan pernah imunisasi hepatitis B
Tn. Georgina, 29 tahun, ikterik dan urin berwarna seperti teh. Laboratorium: bilirubin total 6 mg/dL (indirek 4 mg/dL), GGT 96 U/L, SGOT 346 U/L, SGPT 624 U/L. Serologi: IgM HAV (−), HBsAg (+), anti-HBs (−), IgM anti-HBc (+), HBeAg (+), IgM HCV (−), IgM HEV (−). Diagnosis paling tepat adalah apa?
Hepatitis B akut
Hepatitis B kronis infeksius
Hepatitis B kronis inaktif
Hepatitis B window period
Hepatitis B akut infeksius
Tn. Zami, 35 tahun, sakit kuning 1 minggu; riwayat sakit kuning 3 bulan lalu. Laboratorium: HBsAg (+), anti-HBc (+), anti-HBe (+); enzim hati mendekati normal. Diagnosis paling tepat adalah apa?
Hepatitis B kronik replikatif
Hepatitis B kronik aktif
Hepatitis B kronis inaktif
Hepatitis B window period
Hepatitis B carrier
Tn. Jordan, 48 tahun, demam dan nyeri perut kanan atas. Serologi: IgM anti-HAV (−), HBsAg (−), IgM anti-HBc (+). Diagnosis pasien tersebut adalah apa?
Hepatitis A
Hepatitis B akut
Hepatitis toksik
Hepatitis B window period
Hepatitis B kronis
Tn. Martoni, 40 tahun, lemah 1 bulan, diare, urin gelap; laboratorium: bilirubin total 3,6 mg/dL, direk 2,4 mg/dL, AST 488 U/L, ALT 798 U/L; serologi HAV-IgG (+), HBsAg (+), anti-HBc (+), HBeAg (+), anti-HCV (−). Diagnosis paling tepat adalah apa?
Hepatitis B kronik nonreplikatif
Hepatitis B kronik replikatif
Hepatitis B yang telah sembuh
Hepatitis B window period
Hepatitis B akut
Tn. Rumi, 45 tahun, hematemesis; endoskopi menunjukkan varises esofagus. Serologi HBsAg (−), anti-HAV (+), anti-HCV (−). Etiologi yang paling memungkinkan mendasari keluhan pasien ini adalah apa?
Sirosis hepatis
Hepatitis A
Hepatitis B
Hepatitis C
Hepatitis D
Tn. Terserah, 32 tahun, rasa lelah 3 bulan dan gatal; riwayat penggunaan narkoba suntik berhenti 5 tahun lalu. Serologi: HBsAg (−), anti-HBs (+), anti-HCV (+). Pemeriksaan penunjang lanjutan yang tepat adalah apa?
Western blot
PCR untuk deteksi RNA virus
Serologi IgM anti-HAV
PCR untuk deteksi DNA virus
Biopsi hepar
Tn. Ruin, 45 tahun, demam, ikterus, dan nyeri perut kanan atas. Riwayat suntik 6 tahun lalu. Pemeriksaan menunjukkan hepatomegali; serologi HBsAg (−), HCV RNA (+). Diagnosis yang paling tepat adalah apa?
Karsinoma hepatoseluler
Sirosis hepatis
Hepatitis B akut
Hepatitis C akut
Hepatitis C kronik
Ny. Jane, 42 tahun, kuning 3 hari disertai demam, mual, dan muntah; tanda vital demam; laboratorium menunjukkan peningkatan SGOT dan SGPT; serologi IgM anti-HAV (+). Terapi farmakologis yang dapat diberikan pada pasien ini adalah apa?
Antiviral
Hepatoprotektor
Imunoglobulin
Vaksin
Interferon
Ny. Befly, 49 tahun, riwayat alkohol berhenti 6 bulan; DM tipe 2 stabil; tidak ada ikterus maupun nyeri abdomen. Laboratorium: albumin 4,0 g/dL, bilirubin total 1,0 mg/dL, SGOT 82 U/L, SGPT 93 U/L; HBsAg (+), anti-HBs (+), anti-HBc (−), anti-HCV (−). USG menunjukkan bright liver echo. Kemungkinan diagnosis pasien ini adalah apa?
Penyakit hati alkoholik
Hepatitis autoimun
Infeksi hepatitis B kronis
Non-alcoholic fatty liver disease
Primary biliary cholangitis
Tn. Zico, 49 tahun, perut kembung dan rasa tidak nyaman. Riwayat konsumsi etanol dan jajan sembarangan. Pemeriksaan: konjungtiva pucat, sklera ikterik, abdomen membuncit, hepar teraba 2 jari di bawah arcus costae, limpa membesar; laboratorium menunjukkan peningkatan protein serum dengan gambaran beta-gamma bridge. Kemungkinan diagnosis pasien ini adalah apa?
Sirosis hepatis
Karsinoma hepatoseluler
Hepatitis C kronik
Infeksi hepatitis B kronis
Alcoholic fatty liver disease
