wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

EquKuis2

Total questions: 120

Worksheet time: 3600secs

Name
Class
Date
1.

Metode diagnostik feses yang secara spesifik dirancang untuk menghitung jumlah telur cacing per gram tinja (TTGT), yang penting untuk menentukan derajat infeksi Strongyle, adalah:

a)

Metode Pengapungan Sederhana

b)

Metode Filtrasi Bertingkat

c)

Metode Baermann

d)

Metode McMaster

e)

Metode Apus Langsung

2.

Berdasarkan hasil penelitian, kuda yang berumur <4 tahun memiliki risiko terinfeksi cacing Strongyle lebih besar dibandingkan kuda dewasa. Faktor intrinsik yang mendasari kerentanan ini adalah:

a)

Pola makan yang lebih selektif

b)

Tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah

c)

Status kekebalan tubuh yang belum terbentuk/optimal

d)

Penggunaan kandang yang lebih kotor

e)

Kepadatan populasi yang lebih tinggi

3.

Dalam konteks infeksi Strongyle pada kuda delman, jenis Strongyle yang paling dominan ditemukan adalah kelompok Strongyle kecil (Cyathostominae). Agen etiologi ini berpredileksi di organ:

a)

Lambung dan duodenum

b)

Esofagus

c)

Sekum dan kolon

d)

Mukosa usus besar

e)

Usus halus proksimal

4.

Enterolithiasis pada kuda didefinisikan sebagai pembentukan konkresi padat (batu usus) yang biasanya teridentifikasi pada:

a)

Lambung dan esofagus

b)

Usus halus distal dan rektum

c)

Usus halus dan kolon (usus besar)

d)

Sekum dan ileum

e)

Hati dan kandung empedu

5.

Pakan yang mengandung kadar nitrogen, magnesium, dan fosfor yang tinggi, yang diduga kuat menjadi faktor risiko utama terbentuknya enterolit (struvite) pada kuda adalah:

a)

Rumput kering (Hay)

b)

Biji-bijian tinggi karbohidrat

c)

Jerami alfalfa (lucerne) atau pelet kaya mineral

d)

Ampas tahu/tempe

e)

Air dengan kandungan natrium tinggi

6.

Keterampilan klinis yang paling penting untuk mendeteksi obstruksi kolon yang disebabkan oleh enterolith berukuran besar pada kuda yang menunjukkan gejala kolik adalah:

a)

Auskultasi abdomen

b)

Ultrasonografi abdomen

c)

Palpasi Transrektal

d)

Pemeriksaan feses dengan metode pengapungan

e)

Gastroskopi

7.

Tindakan manajemen yang disarankan untuk mencegah Enterolithiasis dengan cara mengurangi pH lumen kolon yang tinggi akibat diet tertentu adalah:

a)

Meningkatkan pemberian jerami alfalfa

b)

Mengurangi aktivitas fisik kuda

c)

Penambahan cuka apel dalam pakan biji-bijian

d)

Pemberian antibiotik spektrum luas

e)

Membatasi asupan air

8.

Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS) dibagi menjadi dua jenis berdasarkan lokasi anatomi lesi. Salah satu jenisnya adalah EGGD, yang memengaruhi:

a)

Mukosa skuamosa lambung

b)

Duodenum proksimal

c)

Kelenjar lambung kuda

d)

Sekum

e)

Mukosa usus besar

9.

Prosedur diagnostik gold standard yang melibatkan pemasukan tabung melalui mulut ke esofagus dan lambung untuk visualisasi langsung lesi tukak lambung pada kuda adalah:

a)

Ultrasonografi Transabdominal

b)

Radiografi

c)

Gastroskopi

d)

Palpasi Rektal

e)

Endoskopi Laring

10.

Pada kasus Equine Glandular Gastric Disease (EGGD), terapi yang sering dianjurkan adalah menggabungkan Omeprazole (PPI) dengan obat pelindung mukosa yang berikatan dengan dasar ulkus, yaitu:

a)

Misoprostol

b)

Ranitidin

c)

Sukralfat

d)

Flunixin Meglumine

e)

Fenilbutazon

11.

Salah satu gejala klinis utama pada kuda pacu (racehorses) yang menderita Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS), yang berhubungan dengan rasa sakit perut dan produksi asam lambung, adalah:

a)

Ataksia dan broad-based stance

b)

Kolik persisten, bruxism (menggeretakkan gigi), dan penurunan kinerja

c)

Pembengkakan tungkai dan pruritus

d)

Keretaan kuku (hoof crack)

e)

Demam tinggi dan leukopenia

12.

Kuda menghasilkan asam lambung secara terus menerus. Salah satu faktor risiko etiologi EGUS yang terkait dengan produksi asam berlebihan adalah diet yang sering diselingi dengan puasa dalam waktu lama dan tinggi kandungan:

a)

Jerami alfalfa

b)

Biji-bijian dan konsentrat

c)

Rumput kering

d)

Minyak jagung

e)

Ekstrak alfalfa

13.

Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) yang digunakan dengan dosis tidak tepat, seperti Fenilbutazon atau Flunixin Meglumine, dapat menginduksi tukak lambung karena menghambat prostaglandin yang berfungsi menjaga:

a)

Aliran darah mukosa

b)

Absorpsi kalsium

c)

Metabolisme amonia

d)

Aktivitas peristaltik usus

e)

Produksi sel Purkinje

14.

Pada kasus Larval Cyathostominosis akut, kuda sering menunjukkan tanda klinis diare dan edema subkutan. Edema subkutan ini merupakan manifestasi dari temuan patologis darah berupa:

a)

Leukositosis

b)

Hipoalbuminemia

c)

Hiperkalemia

d)

Neutrofilia

e)

Trombosis

15.

Pembedahan yang dilakukan untuk menangani kasus Strongyle atau Enterolithiasis yang melibatkan impaksi feses pada kolon, yang merupakan keterampilan klinis tingkat lanjut, adalah:

a)

Enterotomi

b)

Splenektomi

c)

Gastrotomi

d)

Colotomi

e)

Laparotomi eksplorasi

16.

Dermatophytosis (Kurap atau Ringworm) pada kuda merupakan infeksi jamur pada jaringan berkeratin (rambut dan stratum corneum), dengan agen etiologi utama secara global adalah:

a)

Microsporum canis

b)

Microsporum gypseum

c)

Trichophyton equinum

d)

Geotrichum candidum

e)

Dermatophilus congolensis

17.

Prosedur diagnostik konvensional yang dianggap sebagai 'gold standard' untuk konfirmasi Dermatophytosis, meskipun membutuhkan waktu inkubasi hingga 4 minggu, adalah:

a)

Pemeriksaan langsung KOH (Potassium Hydroxide mount)

b)

Pemeriksaan Wood's Lamp

c)

Kultur Jamur (menggunakan DTM atau SDA)

d)

Sitologi Apus

e)

Biopsi Kulit

18.

Pada kuda yang terinfeksi Dermatophilosis (Dermatophilus congolensis), gejala klinis khas yang terlihat setelah keropeng atau krus diangkat adalah rambut yang:

a)

Mengandung artrokonidia jamur

b)

Mengalami ulserasi non-pruritik

c)

Matted bersama eksudat dan terlihat seperti "kuas cat" (paint brushes)

d)

Berwarna kekuningan (ikterus)

e)

Terdapat lipatan kulit horizontal

19.

Dalam pemeriksaan sitologi dari keropeng lesi Dermatophilosis, temuan patognomonis (khas) yang mengarah pada D. congolensis adalah:

a)

Hifa bersepta yang berfragmentasi menjadi artrokonidia

b)

Struktur filamen bercabang berbentuk rantai dari 2 hingga 8 baris sel cocci-like

c)

Adanya spora dan makrofag berlimpah

d)

Sel ragi (yeast-like) dan pseudohifa

e)

Degenerasi sel Purkinje

20.

Faktor lingkungan yang menjadi pemicu (etiologi) utama infeksi Dermatophilosis, yang memungkinkan penetrasi zoospora bakteri ke lapisan epidermis, adalah:

a)

Paparan sinar matahari langsung

b)

Kelembaban lingkungan yang tinggi dan trauma mekanis pada kulit

c)

Diet rendah protein dan magnesium

d)

Penggunaan kortikosteroid sistemik

e)

Penularan melalui burung

21.

Dermatomycosis generalisata yang disebabkan oleh jamur Geotrichum candidum pada kuda sering dipicu oleh faktor iatrogenik berupa:

a)

Infeksi cacing Strongyle berat

b)

Penggunaan kortikosteroid atau antibiotik jangka panjang

c)

Defisiensi kalsium

d)

Trauma langsung di daerah leher

e)

Inhalasi spora dari jerami yang berjamur

22.

Dalam kasus Geotrichum candidum Dermatomycosis, perubahan manajemen yang direkomendasikan untuk meningkatkan pemulihan melalui peningkatan imunitas alami kuda adalah:

a)

Mengisolasi kuda di kandang tertutup dan lembab

b)

Membiarkan kuda merumput (grazing) di bawah sinar matahari langsung minimal 6 jam/hari

c)

Mengganti pakan dengan biji-bijian tinggi karbohidrat

d)

Menggunakan selimut tebal dan tahan air

e)

Pengurangan suplementasi antioksidan

23.

Chorioptic Mange pada kuda, yang disebabkan oleh tungau Chorioptes bovis, sering menyerang kuda ras tertentu yang memiliki karakteristik:

a)

Berumur sangat muda (<4 bulan)

b)

Sering di umbar di padang rumput yang kering

c)

Memiliki bulu kaki lebat (feathering) di tungkai bawah (distal legs)

d)

Memiliki kulit yang tipis dan sensitif

e)

Mengalami Hepatic Encephalopathy

24.

Gejala klinis yang paling menonjol pada kuda yang terinfeksi Chorioptic Mange, yang sering menyebabkan self-mutilation (melukai diri) dan alopesia di tungkai bawah adalah:

a)

Demam tinggi dan letargi

b)

Edema subkutan generalisata

c)

Kolik persisten

d)

Pruritus (gatal) yang intens dan pembentukan krus/keropeng hiperkeratotik

e)

Hilangnya refleks ancam (menace response)

25.

Keterampilan klinis yang wajib dilakukan paramedik untuk mendapatkan diagnosis definitif Chorioptic Mange adalah:

a)

Biopsi kulit dan kultur bakteri

b)

Uji ELISA darah

c)

Pengambilan superficial skin scraping (kerokan kulit superfisial) untuk pemeriksaan tungau hidup

d)

Uji Wood's Lamp

e)

Uji KOH

26.

Pengobatan Chorioptic Mange pada anak kuda (foal) yang dilaporkan berhasil dan memiliki margin keamanan lebih luas dibandingkan Moxidectin adalah pemberian:

a)

Doramectin sistemik

b)

Permethrin topikal

c)

Ivermectin pour-on (topikal) dengan dosis 1-mg/kg BB

d)

Lime Sulfur Solution

e)

Griseofulvin oral

27.

Salah satu fungsi vitamin B complex yang direkomendasikan ditambahkan pada media kultur jamur untuk T. equinum (agen Dermatophytosis) adalah karena strain T. equinum var. equinum memiliki kebutuhan unik terhadap:

a)

Riboflavin

b)

Tiamin

c)

Niasin (Nicotinic acid)

d)

Piridoksin

e)

Asam Folat

28.

Kuda dengan Chorioptic Mange sering menunjukkan gejala pruritus intens dan skin scaling di daerah:

a)

Leher dan punggung

b)

Wajah dan telinga

c)

Pastern region (tungkai bawah) dan terkadang perut ventral

d)

Sela paha dan flank

e)

Coronary band

29.

Lesi kulit yang disebabkan oleh Dermatophytosis pada kuda umumnya ditemukan di area tubuh yang sering berkontak dengan alat pelana/kekang, yaitu:

a)

Area flank dan abdomen

b)

Area sadel dan girth

c)

Kuku dan coronary band

d)

Mulut dan hidung

e)

Ekor dan tungkai belakang

30.

Pada kasus Dermatophilosis, pengobatan yang direkomendasikan untuk perawatan topikal pada lesi kulit yang kotor dan berkeropeng adalah larutan antiseptik seperti:

a)

Larutan Saline Normal (NaCl 0.9%)

b)

Tinctura Iodii

c)

Larutan Chlorhexidine 0.5%

d)

Alkohol 70%

e)

Cairan Ringer Laktat

31.

Hepatic Encephalopathy (HE) adalah sindrom neurologis yang berhubungan dengan insufisiensi hati pada. Gejala neurologis pada kasus HE menjadi menonjol seiring dengan peningkatan konsentrasi zat toksik di plasma, yaitu:

a)

Bilirubin total

b)

Kreatinin

c)

Amonia plasma

d)

Aspartate Aminotransferase (AST)

e)

Blood Urea Nitrogen (BUN)

32.

Pada pemeriksaan darah biokimia kuda dengan Hepatic Encephalopathy HE, temuan yang secara konsisten dan menonjol meningkat, mengindikasikan kerusakan hati, adalah:

a)

Leukosit dan Neutrofil

b)

Bilirubin total, AST, dan GGT

c)

Albumin dan Protein Total

d)

Glukosa dan Kalsium

e)

Amilase dan Fosfatase Alkali

33.

Temuan klinis pada pemeriksaan membran mukosa kuda yang mendukung diagnosis Hepatic Encephalopathy HE terkait dengan gangguan hati yang parah adalah:

a)

Pucat (anemia)

b)

Sianosis (kebiruan)

c)

Hiperemis (merah cerah)

d)

Kekuningan (Icterus/Jaundice)

e)

Normal (pinkish)

34.

Secara histopatologis pada jaringan otak kuda yang mati akibat Hepatic Encephalopathy HE, sel yang menunjukkan swollen vesicular nuclei (inti vesikular bengkak) yang khas dari ensefalopati hepatik adalah:

a)

Sel Purkinje

b)

Neuron motorik

c)

Sel Granul

d)

Astrocyte (sel Alzheimer tipe II)

e)

Sel Endotel

35.

Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mengurangi metabolit protein yang berpotensi toksik dan meredakan gejala neurologis pada kuda dengan Hepatic Encephalopathy HE adalah:

a)

Pemberian antibiotik dosis tinggi

b)

Terapi suportif bertujuan mengurangi beban amonia yang diserap ke dalam aliran darah

c)

Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi

d)

Pembedahan shunting pembuluh darah

e)

Pemberian pakan biji-bijian tinggi protein

36.

Cerebellar Abiotrophy (CA) adalah kelainan neurodegeneratif pada kuda yang ditandai dengan degenerasi progresif pascanatal dari:

a)

Neuron motorik di medula spinalis

b)

Sel Purkinje di serebelum

c)

Astrocyte di serebrum

d)

Sel Glial

e)

Sel Schwann

37.

Tanda klinis neurologis yang khas mengindikasikan lesi pada serebelum kuda, seperti yang terlihat pada Cerebellar Abiotrophy CA, adalah:

a)

Pincang parah pada satu tungkai

b)

Ataksia, intention tremors, dan hilangnya menace response bilateral

c)

Demam tinggi dan kaku leher

d)

Kolik intermiten dan diare

e)

Hipersalivasi parah dan bruxism

38.

Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mengevaluasi proprioception (kesadaran posisi tubuh) pada kuda dengan Cerebellar Abiotrophy CA melibatkan pengamatan terhadap kemampuan kuda untuk:

a)

Merespons refleks pupil

b)

Berjalan mundur dan melewati rintangan rendah tanpa kesalahan

c)

Menggerakkan tungkai toraks secara normal

d)

Menahan gaya saat ekor ditarik

e)

Membalikkan posisi tungkai yang ditekuk

39.

Ringbone adalah pertumbuhan tulang abnormal (bone growth) pada tulang-tulang di daerah digit (jari kaki) kuda, yaitu:

a)

Os. carpal dan Os. metacarpal

b)

Os. metatarsal dan Os. tarsal

c)

Os. phalanx proximal, Os. phalanx media, dan Os. phalanx distal

d)

Os. scapula dan Os. humerus

e)

Os. pelvis

40.

Berdasarkan lokasinya, Ringbone yang terjadi pada bagian Os. phalanx proximalis dan Os. phalanx media diklasifikasikan sebagai:

a)

Low ringbone

b)

High ringbone

c)

Articular ringbone

d)

Non-articular ringbone

e)

Distal ringbone

41.

Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mendiagnosis Ringbone pada kuda dengan gejala ketimpangan dan nyeri saat palpasi adalah:

a)

Ultrasonografi otot tendon

b)

Pemeriksaan Radiografi (Rontgen) regio digiti

c)

Analisis Kimia Darah (mencari Kalsium abnormal)

d)

Biopsi sendi

e)

Hoof test menggunakan tang kuku

42.

Penemuan klinis berupa krepitasi (bunyi gesekan/derik) dan respon nyeri saat palpasi pada area os phalanges kuda yang mengalami ketimpangan menunjukkan adanya gangguan atau kelainan pada:

a)

Otot dan kulit

b)

Saraf dan pembuluh darah

c)

Struktur tulang atau sendi

d)

Kuku (laminitis)

e)

Kantung sinovial

43.

Zoledronic Acid (golongan bifosfonat) digunakan dalam terapi Ringbone karena mekanisme kerjanya yang membantu:

a)

Mempercepat pertumbuhan tulang

b)

Meningkatkan kepadatan tulang dengan menghambat resorpsi yang dimediasi osteoklas

c)

Mengurangi peradangan jaringan lunak

d)

Menghilangkan rasa sakit secara instan

e)

Merangsang produksi sel darah merah

44.

Pada kasus Ringbone, Hydrotherapy (terapi air) menggunakan air dingin (pada fase akut) bertujuan untuk:

a)

Meningkatkan sirkulasi darah dan relaksasi otot

b)

Memperlambat proses eksudasi, diapedesis sel inflamasi, dan mengurangi edema

c)

Menghasilkan serotonin untuk menenangkan kuda

d)

Mempercepat penyembuhan luka

e)

Menghilangkan pertumbuhan tulang baru

45.

Pemeriksaan kimia darah pada kasus Ringbone sering melibatkan analisis kadar Kalsium dan Fosfatase Alkali yang berguna sebagai indikator:

a)

Fungsi ginjal dan hati

b)

Status anemia kuda

c)

Proses deposisi atau resorpsi tulang

d)

Kadar glukosa

e)

Status inflamasi sistemik

46.

Rectovaginal Fistula (RVF) pada kuda didefinisikan sebagai fistula yang terbentuk antara:

a)

Kandung kemih dan vagina

b)

Uterus dan rektum

c)

Rektum dan vagina

d)

Sekum dan vagina

e)

Uretra dan rektum

47.

Salah satu etiologi utama terjadinya Rectovaginal Fistula RVF pada kuda adalah komplikasi kelahiran, yaitu distokia, di mana:

a)

Kuda mengalami prolaps uterus

b)

Plasenta tidak keluar

c)

Hidung atau kaki anak kuda terlihat keluar dari rektum

d)

Kuda mengalami kolik pascamelahirkan

e)

Kuda mengalami endometritis kronis

48.

Persiapan diet pascabedah yang dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan penjahitan Rectovaginal Fistula RVF adalah memberikan pakan rumput segar selama 10 hari pasca bedah, yang bertujuan untuk:

a)

Meningkatkan berat badan kuda dengan cepat

b)

Menghasilkan feses yang lebih lembut dan berbentuk bulat normal (menghindari penetrasi feses ke jahitan)

c)

Mengurangi asupan mineral dan protein

d)

Menyediakan serat kasar yang tinggi

e)

Mencegah pertumbuhan jamur

49.

Penanganan Rectovaginal Fistula RVF pada kuda primipara yang melibatkan tindakan bedah penjahitan fistula dilakukan di bawah anestesi general. Kombinasi obat sedasi dan induksi yang sering digunakan adalah:

a)

Propofol dan Thiopental

b)

Midazolam dan Fentanyl

c)

Xylazine (sedasi) dan Ketamine (induksi) diikuti maintenance Isofluran

d)

Morfin dan Lidokain

e)

Deksametason dan Gentamisin

50.

Setelah penjahitan fistula Rectovaginal Fistula RVF, obat yang termasuk golongan antibiotik dan antiinflamasi yang diberikan secara rutin untuk mencegah infeksi dan mengurangi peradangan adalah:

a)

Ivermectin dan Misoprostol

b)

Zoledronic acid dan Curcuma Plus

c)

Gentamisin (antibiotik) dan Deksametason/Fenilbutazon (antiinflamasi)

d)

Omeprazole dan Sukralfat

e)

Xylazine dan Ketamine

51.

Pada kasus Equine Psittacosis, kuda dianggap sebagai spillover host, yang berarti penularan umumnya terjadi melalui interaksi langsung atau tidak langsung dengan:

a)

Sapi dan domba yang terinfeksi

b)

Monyet dan kelelawar

c)

Burung (terutama psittacine birds/kakatua tua)

d)

Kucing dan anjing

e)

Manusia yang terinfeksi

52.

Untuk mendiagnosis C. psittaci-associated equine reproductive loss, sampel jaringan/swab yang diuji dengan PCR dan dianggap sebagai diagnosis pasti harus berasal dari:

a)

Darah kuda dewasa

b)

Membran fetal, paru-paru, hati, atau limpa janin/foal

c)

Feses kuda dewasa

d)

Swab hidung kuda dewasa

e)

Sampel air minum

53.

Pulmonary Aspergillosis pada kuda, meskipun jarang, adalah pneumonia jamur yang berpotensi fatal, dengan agen etiologi utama adalah:

a)

Trichophyton equinum

b)

Dermatophilus congolensis

c)

Geotrichum candidum

d)

Aspergillus fumigatus

e)

Chlamydia psittaci

54.

Prosedur diagnostik utama untuk mendapatkan sampel dari saluran pernapasan bawah (lower airway) pada kasus Pulmonary Aspergillosis untuk pemeriksaan sitologi dan kultur adalah:

a)

Gastroskopi

b)

Transtracheal Lavage (TTW) atau Bronchoalveolar Lavage (BAL)

c)

Punktis Lumbar

d)

Biopsi Hati

e)

Palpasi Rektal

55.

Dalam kasus Pulmonary Aspergillosis, temuan pada sitologi Transtracheal Lavage (TTW) yang mendukung diagnosis (efusi jamur) adalah adanya:

a)

Peningkatan neutrofil yang signifikan (>25%)

b)

Sel Purkinje yang berdegenerasi

c)

Struktur oval kebiruan mirip konidia dalam jumlah besar

d)

Sel Alzheimer tipe II

e)

Filamen bercabang cocci-like

56.

Obat antijamur sistemik yang efektif dan berhasil digunakan untuk menangani kasus Pulmonary Aspergillosis pada kuda adalah:

a)

Gentamisin

b)

Fenilbutazon

c)

Deksametason

d)

Itrakonazol

e)

Flunixin Meglumine

57.

Salah satu gejala klinis umum dari Pulmonary Aspergillosis yang sering disalahartikan sebagai Equine Asthma adalah:

a)

Batuk kronis dan exercise intolerance

b)

Kolik intermiten

c)

Pruritus intens

d)

Icterus dan head pressing

e)

Ketimpangan dan krepitasi

58.

Kuda yang menderita Pulmonary Aspergillosis berisiko menularkan spora jamur kepada manusia (zoonosis) melalui:

a)

Kontak kulit-ke-kulit

b)

Gigitan tungau

c)

Urin yang terinfeksi

d)

Sekresi pernapasan dan feses yang terkontaminasi

e)

Daging yang dimasak

59.

Terapi suportif pernapasan yang melibatkan pemberian obat untuk membantu mengencerkan dan mengeluarkan lendir (mukus) pada kasus Pulmonary Aspergillosis adalah pemberian:

a)

Kortikosteroid dosis tinggi

b)

Bromhexine hydrochloride (mukolitik)

c)

Penisilin

d)

Itrakonazol

e)

Zoledronic acid

60.

Hepatic Encephalopathy (HE) didefinisikan sebagai sindrom klinis kompleks yang ditandai dengan kondisi mental abnormal yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ mana?

a)

Ginjal (Kidney)

b)

Paru-paru (Lung)

c)

Jantung (Heart)

d)

Hati (Liver)

61.

Pada kuda yang dicurigai menderita Hepatic Encephalopathy (HE), zat beracun yang perlu diukur di plasma darah karena peningkatannya berkorelasi dengan gejala neurologis adalah:

a)

Bilirubin total

b)

Enzim Alanine Transaminase (ALT)

c)

Amonia plasma

d)

Nitrogen Urea Darah (BUN)

62.

Tanda klinis yang sering muncul pada kasus Hepatic Encephalopathy (HE) dan merupakan manifestasi neurologis yang berbahaya adalah:

a)

Intention tremors saat makan

b)

Head pressing (menekan kepala ke dinding) dan circling (berputar-putar)

c)

Toe-dragging pada tungkai depan

d)

Hipersalivasi parah dan bruxism

63.

Cerebellar Abiotrophy (CA) adalah kelainan neurodegeneratif herediter yang ditandai secara klinis oleh:

a)

Kejang-kejang saat beraktivitas

b)

Hilangnya refleks pupillary light

c)

Ataksia dan intention tremors

d)

Kelumpuhan pada tungkai belakang (paresis)

64.

Dalam pemeriksaan neurologis pada kuda, respon yang hilang secara bilateral dan mengindikasikan adanya disfungsi pada Cerebellum (cortex kecil) adalah:

a)

Pupillary Light Reflex

b)

Palpebral Reflex

c)

Withdrawal Reflex

d)

Menace Response (refleks ancam)

65.

Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS) diklasifikasikan menjadi dua jenis utama, yaitu penyakit lambung skuamosa kuda (ESGD) dan penyakit lambung kelenjar kuda (EGGD). Lokasi lesi pada kuda yang menderita tukak lambung adalah adanya ulserasi pada mukosa:

a)

Kolon (usus besar) dan sekum

b)

Usus halus proksimal (duodenum) dan lambung

c)

Esofagus dan faring

d)

Rektum dan anus

66.

Prosedur diagnostik gold standard yang harus dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menilai tingkat keparahan tukak lambung (EGUS) adalah:

a)

Pemeriksaan feses (fecal occult blood)

b)

Ultrasonografi abdomen

c)

Gastroskopi

d)

Palpasi transrektal

67.

Faktor manajemen pakan yang paling berkontribusi terhadap perkembangan EGUS karena meningkatkan sekresi gastrin dan produksi asam lambung secara berlebihan adalah:

a)

Peningkatan pakan hijauan alfalfa

b)

Pemberian pakan dalam porsi kecil dan sering

c)

Diet tinggi biji-bijian dan konsentrat yang diselingi puasa lama

d)

Pemberian suplemen minyak jagung

68.

Dalam penanganan Equine Glandular Gastric Disease (EGGD), kombinasi obat yang sering dianjurkan karena Misoprostol tidak dapat diberikan pada kuda bunting adalah:

a)

Flunixin Meglumine dan Omeprazole

b)

Omeprazole dan Sucralfat

c)

Phenylbutazone dan Omeprazole

d)

Gentamicin dan Dexamethasone

69.

Enterolithiasis didefinisikan sebagai pembentukan konkresi padat (batu usus) di dalam lumen usus. Batu ini sebagian besar tersusun dari:

a)

Kalsium oksalat

b)

Asam urat

c)

Struvite (magnesium, amonium, fosfat)

d)

Silika

70.

Pemeriksaan penunjang pencitraan yang paling baik untuk mendeteksi enterolith (batu usus) dan memandu diagnosis karena memberikan gambaran yang lebih luas pada rongga perut adalah:

a)

Ultrasonografi (USG)

b)

Radiografi (X-Ray)

c)

Endoskopi

d)

CT-Scan

71.

Pada kasus Enterolithiasis atau kolik parah, terapi awal yang bersifat suportif untuk mengendalikan rasa sakit dan peradangan adalah pemberian:

a)

Antibiotik Metronidazole

b)

Omeprazole oral

c)

Flunixin Meglumine secara intravena

d)

Moxidectin oral

72.

Agen bakteri penyebab diare pada kuda yang bersifat obligat intraseluler, menyerang monosit darah, dan dikaitkan dengan penyakit Potomac horse fever adalah:

a)

Salmonella spp.

b)

Clostridium difficile

c)

Neorickettsia risticii

d)

Brachyspira pilosicoli

73.

Pada kasus diare yang disebabkan oleh Clostridium difficile, dua jenis toksin yang dihasilkan dan berperan sebagai enterotoksin (A) dan sitotoksin (B) adalah:

a)

Toksin Beta dan Toksin Epsilon

b)

Toksin Alfa dan Toksin Gamma

c)

Toksin A dan Toksin B

d)

Toksin Delta dan Toksin Iota

74.

Gejala klinis yang harus dipantau secara ketat pada kuda dengan diare akut, yang menunjukkan gejala sistemik dan menjadi perhatian utama untuk mencegah syok, adalah:

a)

Tingkat hidrasi (dehidrasi) dan waktu pengisian kembali kapiler (CRT)

b)

Warna rambut dan kondisi kuku

c)

Adanya krepitasi pada sendi

d)

Kehilangan menace response

75.

Metode pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mendeteksi enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium difficile dan Salmonella spp., selain PCR, adalah:

a)

Kultur bakteri pada agar Hektoen

b)

Uji Sitotoksin (Cytotoxin test)

c)

Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

d)

Complete Blood Count (CBC)

76.

Penanganan awal yang paling krusial untuk kasus diare akut pada kuda adalah:

a)

Pemberian antibiotik dosis tinggi

b)

Penggantian hilangnya cairan tubuh dan pemulihan keseimbangan elektrolit

c)

Pemberian Omeprazole untuk tukak lambung

d)

Isolasi bakteri di lab

77.

Keterampilan klinis yang paling penting dilakukan paramedik untuk mengevaluasi status hidrasi kuda dengan diare adalah:

a)

Mengukur detak jantung (Heart Rate)

b)

Mengukur suhu rektal

c)

Mengukur Capillary Refill Time (CRT) dan kualitas membran mukosa

d)

Mengukur laju pernapasan (Respiratory Rate)

78.

Dermatophytosis (Ringworm) adalah infeksi jamur kulit yang melibatkan invasi pada jaringan berkeratin seperti rambut dan epidermis. Agen utama penyebabnya di seluruh dunia adalah:

a)

Microsporum gypseum

b)

Microsporum canis

c)

Trichophyton equinum

d)

Arthroderma vanbreuseghemii

79.

Keterampilan diagnostik Dermatophytosis yang dianggap sebagai gold standard dan memerlukan inkubasi pada suhu 22222525 °C selama beberapa minggu adalah:

a)

Uji KOH (Potassium Hydroxide)

b)

Biopsi kulit

c)

Kultur Jamur (Fungal Culture)

d)

PCR (Polymerase Chain Reaction)

80.

Chorioptic Mange (kudis khoriopik) pada kuda disebabkan oleh tungau ektoparasit:

a)

Sarcoptes scabiei

b)

Psoroptes equi

c)

Chorioptes bovis

d)

Demodex equi

81.

Ras kuda yang dikenal sangat rentan terhadap Chorioptic Mange, yang sering terlokalisasi di tungkai bawah, adalah ras dengan ciri khas:

a)

Kuda Pacu (Thoroughbred)

b)

Kuda Arab

c)

Bulu (feathering) yang melimpah pada tungkai bawah

d)

Kuda poni Shetland

82.

Dalam kasus Chorioptic Mange pada anak kuda (foals), pengobatan yang berhasil dan dianggap memiliki margin keamanan yang lebih baik daripada Moxidectin dosis tinggi adalah:

a)

Mencukur bulu dan pencucian air panas

b)

Pemberian Ivermectin secara injeksi

c)

Pemberian Ivermectin pour-on topikal 1 mg/kg BB

d)

Pemberian Doramectin topikal

83.

Dermatomycoses adalah infeksi jamur kulit yang disebabkan oleh agen non-dermatophyte. Pernyataan ini adalah:

a)

Benar

b)

Salah

84.

Contoh patogen penyebab generalized dermal geotrichosis pada kuda adalah:

a)

Trichophyton equinum

b)

Microsporum canis

c)

Aspergillus fumigatus

d)

Geotrichum candiddum

85.

Penggunaan obat-obatan yang dapat menjadi faktor predisposisi kuda terinfeksi jamur oportunistik (seperti Geotrichum candiddum) karena dapat menekan sistem imun adalah:

a)

Anthelmintik (obat cacing)

b)

NSAID (obat anti-inflamasi non-steroid)

c)

Kortikosteroid (terutama jangka panjang)

d)

Suplemen antioksidan (Vitamin C dan E)

86.

Dalam kasus Dermatophilosis, tanda klinis khas pada rambut kuda setelah keropeng diangkat, yang disebabkan oleh bakteri Dermatophilus congolensis, adalah:

a)

Rambut rontok berbentuk lingkaran (alopecia)

b)

Rambut kusut dan menggumpal bersama eksudat seperti "kuas cat" (paint brushes)

c)

Rambut dengan cincin-cincin pertumbuhan

d)

Rambut rapuh dan mudah patah

87.

Ringbone didefinisikan sebagai pertumbuhan tulang abnormal (osteofit) yang terdapat pada tulang-tulang mana?

a)

Tulang Metacarpal

b)

Tulang Tarsal

c)

Os. phalanx proximal, media, dan distal

d)

Tulang Navicular

88.

Klasifikasi Ringbone yang terjadi pada bagian os. phalanx proximal dan os. phalanx media kuda dikategorikan sebagai:

a)

Low Ringbone

b)

Articular Ringbone

c)

Non-Articular Ringbone

d)

High Ringbone

89.

Pemeriksaan penunjang yang paling efektif untuk mendiagnosis Ringbone pada kuda dengan melihat adanya pertumbuhan tulang baru (radiopaque) pada tulang phalanx adalah:

a)

Ultrasonografi (USG)

b)

MRI

c)

Radiografi (Rontgen)

d)

Complete Blood Count (CBC)

90.

Dalam kasus Ringbone, terapi yang berfungsi sebagai anti-tumor dan menghambat resorpsi tulang yang dimediasi oleh osteoklas adalah pemberian:

a)

Metronidazole

b)

Meloxicam

c)

Gentamicin

d)

Zoledronic Acid (golongan bifosfonat)

91.

Kelainan kuku Hoof Crack yang terjadi sebagai akibat dari luka atau cedera pada daerah coronary band, sehingga retakan berasal dari atas ke bawah, disebut:

a)

Grasscrack

b)

Sandcrack

c)

Quarter crack

d)

Heel crack

92.

Kelainan kuku Hoof Crack yang terjadi karena tegangan atau tekanan berlebihan pada kuku sehingga retakan berasal dari ujung dinding kuku (wall) bagian bawah disebut:

a)

Sandcrack

b)

Grasscrack

c)

Contracted foot

d)

Hoof rings

93.

Contracted foot adalah salah satu abnormalitas kuku yang ditandai dengan:

a)

Sol yang datar dan dekat dengan tanah

b)

Retakan yang berasal dari coronary band

c)

Heel (tumit kuku) yang sempit

d)

Pembentukan cincin pada dinding kuku

94.

Navicular Syndrome adalah kondisi morbid yang memengaruhi region sesamoid distal. Uji diagnostik yang sering dilakukan untuk mengonfirmasi lokasi nyeri (analgesia regional) pada sindrom ini adalah:

a)

Distal Limb Flexion Test

b)

Palmar Digital Nerve Block (Anestesi Saraf Digital Palmar)

c)

Palmar Hoof Wedge Test

d)

Centesis Podotrochlear Bursa

95.

Tanda klinis yang ditunjukkan pada kuda dengan Navicular Syndrome saat bergerak adalah:

a)

Pola berjalan tidak normal dengan tungkai belakang mendekati median tubuh

b)

Gait memiliki fase kranial yang dipersingkat dan dicirikan sebagai "choppy"

c)

Rasa sakit yang hilang saat kuda dibelokkan dalam lingkaran ketat

d)

Kelumpuhan (lameness) yang hanya terjadi secara unilateral

96.

Untuk kasus Navicular Syndrome yang dicurigai memiliki aspek vaskular (sirkulasi) yang menurun, uji diagnostik yang dapat menunjukkan kurangnya peningkatan aliran darah setelah latihan adalah:

a)

Radiografi (X-Ray)

b)

Scintigraphy

c)

Ultrasonografi

d)

Thermography

97.

Pulmonary Aspergillosis adalah pneumonia jamur. Prosedur diagnostik untuk mendapatkan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah untuk sitologi dan kultur jamur adalah:

a)

Nasogastric Intubation

b)

Fecal examination

c)

Transtracheal Lavage (TTW) atau Bronchoalveolar Lavage (BAL)

d)

Thoracocentesis

98.

Patogen zoonosis yang merupakan bakteri obligat intraseluler dan telah muncul sebagai penyebab penting equine reproductive loss (abortus dan neonatal illness) di Australia adalah:

a)

Salmonella spp.

b)

Neorickettsia risticii

c)

Chlamydia psittaci

d)

Clostridium difficile

99.

Penyakit yang disebabkan oleh Chlamydia psittaci pada manusia disebut Psittacosis, dan penularan tradisionalnya (reservoir host) berasal dari:

a)

Anjing dan Kucing

b)

Kelelawar (Bat species)

c)

Burung (Avian)

d)

Kuda yang sakit

100.

Pada kuda bunting yang terinfeksi Chlamydia psittaci, diagnosis akhir pada jaringan janin dan plasenta dilakukan menggunakan metode:

a)

Kultur Bakteri

b)

ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay)

c)

Histopatologi dengan pewarnaan HE

d)

PCR (Polymerase Chain Reaction)

101.

Tatalaksana Pulmonary Aspergillosis yang efektif melibatkan agen antijamur golongan azole sistemik, yaitu:

a)

Gentamicin

b)

Dexamethasone

c)

Flunixin Meglumine

d)

Itraconazole

102.

Rectovaginal Fistula (RVF) didefinisikan sebagai fistula yang terbentuk antara rektum dan vagina. Kondisi ini paling sering terjadi pada kuda primipara (kuda beranak pertama) akibat:

a)

Infeksi jamur kronis

b)

Distokia (kesulitan melahirkan)

c)

Cedera kuku yang parah

d)

Gastrointestinal Ulcer Syndrome

103.

Perawatan pascabedah Rectovaginal Fistula (RVF) yang paling penting terkait manajemen pakan untuk memastikan feses menjadi lebih lembut dan tidak mengganggu jahitan adalah:

a)

Puasa total dan air minum ad libitum

b)

Diet tinggi konsentrat dan biji-bijian

c)

Hanya diberikan pakan rumput segar selama 5 hari

d)

Pemberian pakan pelet berprotein tinggi

104.

Pada prosedur bedah RVF, kombinasi anestesi general yang digunakan melibatkan sedasi dan induksi dengan agen-agen berikut:

a)

Acepromazine dan Propofol

b)

Xylazine dan Ketamine

c)

Detomidine dan Butorphanol

d)

Midazolam dan Diazepam

105.

Hemangiosarcoma pada kuda adalah neoplasma langka yang berasal dari sel:

a)

Sel keratinosit

b)

Sel mast

c)

Sel endotel (pembuluh darah)

d)

Sel fibroblas

106.

Pada kasus Hemangiosarcoma Kutan (kulit) yang melibatkan tungkai distal, diagnosis definitif ditegakkan melalui:

a)

Hitung darah lengkap (CBC)

b)

Ultrasonografi

c)

Pemeriksaan Histopatologi (biopsi)

d)

Pengukuran protein total plasma

107.

Pada kasus neoplasma ganas Hemangiosarcoma yang melibatkan jaringan di tungkai distal dan telah menyebabkan lameness Grade 4/5 (AAEP) dan flexural deformity (deformitas fleks), penanganan yang seringkali menjadi pilihan utama karena prognosis yang buruk dan lokasi yang sulit adalah:

a)

Eksisi bedah dengan margin lebar

b)

Kemoterapi sistemik

c)

Radiasi

d)

Penanganan konservatif/paliatif (manajemen nyeri dan luka)

108.

Dalam skala penilaian lameness (kepincangan) American Association of Equine Practitioners (AAEP), skor Grade 4/5 yang diamati pada kuda dengan Hemangiosarcoma berarti:

a)

Kepincangan sulit dilihat di bawah kondisi apa pun

b)

Kepincangan terlihat jelas di bawah kondisi tertentu

c)

Kepincangan jelas terlihat saat berjalan lurus

d)

Kepincangan terlihat jelas saat istirahat dan sangat parah saat bergerak

109.

Navicular Syndrome adalah salah satu penyebab paling umum dari lameness forelimb (kepincangan kaki depan) kronis pada kuda, yang diperkirakan menyebabkan hingga:

a)

10% dari semua kasus

b)

Seperempat (25%) dari semua kasus

c)

Sepertiga (33%) dari semua kasus

d)

Setengah (50%) dari semua kasus

110.

Dalam penanganan Navicular Syndrome, konsensus dokter hewan menetapkan bahwa dasar dari pengobatan adalah:

a)

Injeksi Kortikosteroid

b)

Pemberian Warfarin

c)

Shoeing (Penapalan) yang korektif

d)

Neurectomy (Pembedahan saraf)

111.

Dalam penanganan kuku untuk kasus Navicular Syndrome, rekomendasi umum shoeing yang bertujuan untuk mengurangi kompresi deep digital flexor tendon adalah:

a)

Menurunkan tumit kuku 33^\circ

b)

Menaikkan tumit kuku 22^\circ hingga 44^\circ dan menggulung ujung kuku (rolled toe)

c)

Menggunakan ladam reverse shoe

d)

Melakukan resekisi hoof wall

112.

Pada kasus Laminitis akut, penemuan radiografi yang mengkonfirmasi diagnosis dan memandu penatalaksanaan corrective shoeing adalah:

a)

Pertumbuhan tulang abnormal pada phalanx proximal

b)

Pembentukan cincin pada dinding kuku

c)

Rotasi dan abnormalitas ujung tulang phalanx distal (pedal bone)

d)

Fraktur pada tulang sesamoid

113.

Untuk kasus Laminitis, salah satu penatalaksanaan darurat yang dilakukan adalah kompres dingin dan pengistirahatan total kuda untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Kuda juga harus dipuasakan dari pakan apa untuk mencegah produksi asam laktat dan endotoksin?

a)

Jerami (Hay)

b)

Rumput segar

c)

Pelet / Karbohidrat berlebih

d)

Pakan Alfalfa

114.

Tatalaksana Hydrotherapy (terapi air) dengan air dingin pada fase akut cedera tulang atau peradangan (seperti pada Ringbone) bertujuan untuk:

a)

Meningkatkan sirkulasi darah ke area yang cedera

b)

Meningkatkan relaksasi otot dan mengurangi nyeri kronis

c)

Meningkatkan produksi serotonin

d)

Memperlambat proses eksudasi sel inflamasi dan mengurangi edema

115.

Dalam pemeriksaan darah kuda, nilai Procalcitonin (PCT) yang rendah pada pada kasus nyeri dan peradangan (seperti Ringbone) adalah indikator bahwa:

a)

Terdapat sepsis atau infeksi bakteri sistemik yang parah

b)

Kuda menderita anemia anaplastik

c)

Tidak adanya sepsis atau bakteri dalam sirkulasi darah

d)

Terdapat depresi sumsum tulang

116.

Dalam pemeriksaan darah biokimia pada kuda dengan dermal geotrichosis (dermatomycosis), temuan yang mendukung kondisi inflamasi kronis adalah:

a)

Peningkatan LDH, CK, dan ALT

b)

Rasio albumin/globulin yang tinggi

c)

Peninggkatan globulin total dan rasio albumin/globulin yang rendah

d)

Leukopenia dan hiperglukemia

117.

Obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) yang sering digunakan untuk manajemen nyeri pada kasus muskuloskeletal (seperti Ringbone dan Navicular Syndrome) adalah:

a)

Gentamicin

b)

Omeprazole

c)

Phenylbutazone dan Flunixin Meglumine

d)

Zoledronic Acid

118.

Metode bedah Neurectomy (Desmotomy Saraf) pada Navicular Syndrome bersifat paliatif karena tujuan utamanya adalah:

a)

Menghilangkan penyebab penyakit

b)

Meningkatkan sirkulasi darah ke kuku

c)

Menghilangkan sensasi (nyeri) dari region kaki palmar

d)

Mengembalikan fungsi tendon dan ligamen

119.

Pada kasus Navicular Syndrome yang dicurigai disebabkan atau diperparah oleh aliran darah yang buruk (poor blood flow), Warfarin dapat digunakan karena mekanisme kerjanya adalah sebagai:

a)

Vasodilator (pelebar pembuluh darah)

b)

Anti-inflamasi

c)

Antikoagulan

d)

Analgesik

120.

Pada pemeriksaan hematologi, anemia yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin yang relatif lebih besar daripada penurunan rata-rata volume eritrosit (MCV normal) didefinisikan sebagai:

a)

Anemia makrositik hipokromik

b)

Anemia mikrositik hipokromik

c)

Anemia normositik normokromik

d)

Anemia normositik hipokromik