Font size
WorksheetsEquKuis2
Total questions: 120
Worksheet time: 3600secs
Metode diagnostik feses yang secara spesifik dirancang untuk menghitung jumlah telur cacing per gram tinja (TTGT), yang penting untuk menentukan derajat infeksi Strongyle, adalah:
Metode Pengapungan Sederhana
Metode Filtrasi Bertingkat
Metode Baermann
Metode McMaster
Metode Apus Langsung
Berdasarkan hasil penelitian, kuda yang berumur <4 tahun memiliki risiko terinfeksi cacing Strongyle lebih besar dibandingkan kuda dewasa. Faktor intrinsik yang mendasari kerentanan ini adalah:
Pola makan yang lebih selektif
Tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah
Status kekebalan tubuh yang belum terbentuk/optimal
Penggunaan kandang yang lebih kotor
Kepadatan populasi yang lebih tinggi
Dalam konteks infeksi Strongyle pada kuda delman, jenis Strongyle yang paling dominan ditemukan adalah kelompok Strongyle kecil (Cyathostominae). Agen etiologi ini berpredileksi di organ:
Lambung dan duodenum
Esofagus
Sekum dan kolon
Mukosa usus besar
Usus halus proksimal
Enterolithiasis pada kuda didefinisikan sebagai pembentukan konkresi padat (batu usus) yang biasanya teridentifikasi pada:
Lambung dan esofagus
Usus halus distal dan rektum
Usus halus dan kolon (usus besar)
Sekum dan ileum
Hati dan kandung empedu
Pakan yang mengandung kadar nitrogen, magnesium, dan fosfor yang tinggi, yang diduga kuat menjadi faktor risiko utama terbentuknya enterolit (struvite) pada kuda adalah:
Rumput kering (Hay)
Biji-bijian tinggi karbohidrat
Jerami alfalfa (lucerne) atau pelet kaya mineral
Ampas tahu/tempe
Air dengan kandungan natrium tinggi
Keterampilan klinis yang paling penting untuk mendeteksi obstruksi kolon yang disebabkan oleh enterolith berukuran besar pada kuda yang menunjukkan gejala kolik adalah:
Auskultasi abdomen
Ultrasonografi abdomen
Palpasi Transrektal
Pemeriksaan feses dengan metode pengapungan
Gastroskopi
Tindakan manajemen yang disarankan untuk mencegah Enterolithiasis dengan cara mengurangi pH lumen kolon yang tinggi akibat diet tertentu adalah:
Meningkatkan pemberian jerami alfalfa
Mengurangi aktivitas fisik kuda
Penambahan cuka apel dalam pakan biji-bijian
Pemberian antibiotik spektrum luas
Membatasi asupan air
Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS) dibagi menjadi dua jenis berdasarkan lokasi anatomi lesi. Salah satu jenisnya adalah EGGD, yang memengaruhi:
Mukosa skuamosa lambung
Duodenum proksimal
Kelenjar lambung kuda
Sekum
Mukosa usus besar
Prosedur diagnostik gold standard yang melibatkan pemasukan tabung melalui mulut ke esofagus dan lambung untuk visualisasi langsung lesi tukak lambung pada kuda adalah:
Ultrasonografi Transabdominal
Radiografi
Gastroskopi
Palpasi Rektal
Endoskopi Laring
Pada kasus Equine Glandular Gastric Disease (EGGD), terapi yang sering dianjurkan adalah menggabungkan Omeprazole (PPI) dengan obat pelindung mukosa yang berikatan dengan dasar ulkus, yaitu:
Misoprostol
Ranitidin
Sukralfat
Flunixin Meglumine
Fenilbutazon
Salah satu gejala klinis utama pada kuda pacu (racehorses) yang menderita Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS), yang berhubungan dengan rasa sakit perut dan produksi asam lambung, adalah:
Ataksia dan broad-based stance
Kolik persisten, bruxism (menggeretakkan gigi), dan penurunan kinerja
Pembengkakan tungkai dan pruritus
Keretaan kuku (hoof crack)
Demam tinggi dan leukopenia
Kuda menghasilkan asam lambung secara terus menerus. Salah satu faktor risiko etiologi EGUS yang terkait dengan produksi asam berlebihan adalah diet yang sering diselingi dengan puasa dalam waktu lama dan tinggi kandungan:
Jerami alfalfa
Biji-bijian dan konsentrat
Rumput kering
Minyak jagung
Ekstrak alfalfa
Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) yang digunakan dengan dosis tidak tepat, seperti Fenilbutazon atau Flunixin Meglumine, dapat menginduksi tukak lambung karena menghambat prostaglandin yang berfungsi menjaga:
Aliran darah mukosa
Absorpsi kalsium
Metabolisme amonia
Aktivitas peristaltik usus
Produksi sel Purkinje
Pada kasus Larval Cyathostominosis akut, kuda sering menunjukkan tanda klinis diare dan edema subkutan. Edema subkutan ini merupakan manifestasi dari temuan patologis darah berupa:
Leukositosis
Hipoalbuminemia
Hiperkalemia
Neutrofilia
Trombosis
Pembedahan yang dilakukan untuk menangani kasus Strongyle atau Enterolithiasis yang melibatkan impaksi feses pada kolon, yang merupakan keterampilan klinis tingkat lanjut, adalah:
Enterotomi
Splenektomi
Gastrotomi
Colotomi
Laparotomi eksplorasi
Dermatophytosis (Kurap atau Ringworm) pada kuda merupakan infeksi jamur pada jaringan berkeratin (rambut dan stratum corneum), dengan agen etiologi utama secara global adalah:
Microsporum canis
Microsporum gypseum
Trichophyton equinum
Geotrichum candidum
Dermatophilus congolensis
Prosedur diagnostik konvensional yang dianggap sebagai 'gold standard' untuk konfirmasi Dermatophytosis, meskipun membutuhkan waktu inkubasi hingga 4 minggu, adalah:
Pemeriksaan langsung KOH (Potassium Hydroxide mount)
Pemeriksaan Wood's Lamp
Kultur Jamur (menggunakan DTM atau SDA)
Sitologi Apus
Biopsi Kulit
Pada kuda yang terinfeksi Dermatophilosis (Dermatophilus congolensis), gejala klinis khas yang terlihat setelah keropeng atau krus diangkat adalah rambut yang:
Mengandung artrokonidia jamur
Mengalami ulserasi non-pruritik
Matted bersama eksudat dan terlihat seperti "kuas cat" (paint brushes)
Berwarna kekuningan (ikterus)
Terdapat lipatan kulit horizontal
Dalam pemeriksaan sitologi dari keropeng lesi Dermatophilosis, temuan patognomonis (khas) yang mengarah pada D. congolensis adalah:
Hifa bersepta yang berfragmentasi menjadi artrokonidia
Struktur filamen bercabang berbentuk rantai dari 2 hingga 8 baris sel cocci-like
Adanya spora dan makrofag berlimpah
Sel ragi (yeast-like) dan pseudohifa
Degenerasi sel Purkinje
Faktor lingkungan yang menjadi pemicu (etiologi) utama infeksi Dermatophilosis, yang memungkinkan penetrasi zoospora bakteri ke lapisan epidermis, adalah:
Paparan sinar matahari langsung
Kelembaban lingkungan yang tinggi dan trauma mekanis pada kulit
Diet rendah protein dan magnesium
Penggunaan kortikosteroid sistemik
Penularan melalui burung
Dermatomycosis generalisata yang disebabkan oleh jamur Geotrichum candidum pada kuda sering dipicu oleh faktor iatrogenik berupa:
Infeksi cacing Strongyle berat
Penggunaan kortikosteroid atau antibiotik jangka panjang
Defisiensi kalsium
Trauma langsung di daerah leher
Inhalasi spora dari jerami yang berjamur
Dalam kasus Geotrichum candidum Dermatomycosis, perubahan manajemen yang direkomendasikan untuk meningkatkan pemulihan melalui peningkatan imunitas alami kuda adalah:
Mengisolasi kuda di kandang tertutup dan lembab
Membiarkan kuda merumput (grazing) di bawah sinar matahari langsung minimal 6 jam/hari
Mengganti pakan dengan biji-bijian tinggi karbohidrat
Menggunakan selimut tebal dan tahan air
Pengurangan suplementasi antioksidan
Chorioptic Mange pada kuda, yang disebabkan oleh tungau Chorioptes bovis, sering menyerang kuda ras tertentu yang memiliki karakteristik:
Berumur sangat muda (<4 bulan)
Sering di umbar di padang rumput yang kering
Memiliki bulu kaki lebat (feathering) di tungkai bawah (distal legs)
Memiliki kulit yang tipis dan sensitif
Mengalami Hepatic Encephalopathy
Gejala klinis yang paling menonjol pada kuda yang terinfeksi Chorioptic Mange, yang sering menyebabkan self-mutilation (melukai diri) dan alopesia di tungkai bawah adalah:
Demam tinggi dan letargi
Edema subkutan generalisata
Kolik persisten
Pruritus (gatal) yang intens dan pembentukan krus/keropeng hiperkeratotik
Hilangnya refleks ancam (menace response)
Keterampilan klinis yang wajib dilakukan paramedik untuk mendapatkan diagnosis definitif Chorioptic Mange adalah:
Biopsi kulit dan kultur bakteri
Uji ELISA darah
Pengambilan superficial skin scraping (kerokan kulit superfisial) untuk pemeriksaan tungau hidup
Uji Wood's Lamp
Uji KOH
Pengobatan Chorioptic Mange pada anak kuda (foal) yang dilaporkan berhasil dan memiliki margin keamanan lebih luas dibandingkan Moxidectin adalah pemberian:
Doramectin sistemik
Permethrin topikal
Ivermectin pour-on (topikal) dengan dosis 1-mg/kg BB
Lime Sulfur Solution
Griseofulvin oral
Salah satu fungsi vitamin B complex yang direkomendasikan ditambahkan pada media kultur jamur untuk T. equinum (agen Dermatophytosis) adalah karena strain T. equinum var. equinum memiliki kebutuhan unik terhadap:
Riboflavin
Tiamin
Niasin (Nicotinic acid)
Piridoksin
Asam Folat
Kuda dengan Chorioptic Mange sering menunjukkan gejala pruritus intens dan skin scaling di daerah:
Leher dan punggung
Wajah dan telinga
Pastern region (tungkai bawah) dan terkadang perut ventral
Sela paha dan flank
Coronary band
Lesi kulit yang disebabkan oleh Dermatophytosis pada kuda umumnya ditemukan di area tubuh yang sering berkontak dengan alat pelana/kekang, yaitu:
Area flank dan abdomen
Area sadel dan girth
Kuku dan coronary band
Mulut dan hidung
Ekor dan tungkai belakang
Pada kasus Dermatophilosis, pengobatan yang direkomendasikan untuk perawatan topikal pada lesi kulit yang kotor dan berkeropeng adalah larutan antiseptik seperti:
Larutan Saline Normal (NaCl 0.9%)
Tinctura Iodii
Larutan Chlorhexidine 0.5%
Alkohol 70%
Cairan Ringer Laktat
Hepatic Encephalopathy (HE) adalah sindrom neurologis yang berhubungan dengan insufisiensi hati pada. Gejala neurologis pada kasus HE menjadi menonjol seiring dengan peningkatan konsentrasi zat toksik di plasma, yaitu:
Bilirubin total
Kreatinin
Amonia plasma
Aspartate Aminotransferase (AST)
Blood Urea Nitrogen (BUN)
Pada pemeriksaan darah biokimia kuda dengan Hepatic Encephalopathy HE, temuan yang secara konsisten dan menonjol meningkat, mengindikasikan kerusakan hati, adalah:
Leukosit dan Neutrofil
Bilirubin total, AST, dan GGT
Albumin dan Protein Total
Glukosa dan Kalsium
Amilase dan Fosfatase Alkali
Temuan klinis pada pemeriksaan membran mukosa kuda yang mendukung diagnosis Hepatic Encephalopathy HE terkait dengan gangguan hati yang parah adalah:
Pucat (anemia)
Sianosis (kebiruan)
Hiperemis (merah cerah)
Kekuningan (Icterus/Jaundice)
Normal (pinkish)
Secara histopatologis pada jaringan otak kuda yang mati akibat Hepatic Encephalopathy HE, sel yang menunjukkan swollen vesicular nuclei (inti vesikular bengkak) yang khas dari ensefalopati hepatik adalah:
Sel Purkinje
Neuron motorik
Sel Granul
Astrocyte (sel Alzheimer tipe II)
Sel Endotel
Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mengurangi metabolit protein yang berpotensi toksik dan meredakan gejala neurologis pada kuda dengan Hepatic Encephalopathy HE adalah:
Pemberian antibiotik dosis tinggi
Terapi suportif bertujuan mengurangi beban amonia yang diserap ke dalam aliran darah
Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi
Pembedahan shunting pembuluh darah
Pemberian pakan biji-bijian tinggi protein
Cerebellar Abiotrophy (CA) adalah kelainan neurodegeneratif pada kuda yang ditandai dengan degenerasi progresif pascanatal dari:
Neuron motorik di medula spinalis
Sel Purkinje di serebelum
Astrocyte di serebrum
Sel Glial
Sel Schwann
Tanda klinis neurologis yang khas mengindikasikan lesi pada serebelum kuda, seperti yang terlihat pada Cerebellar Abiotrophy CA, adalah:
Pincang parah pada satu tungkai
Ataksia, intention tremors, dan hilangnya menace response bilateral
Demam tinggi dan kaku leher
Kolik intermiten dan diare
Hipersalivasi parah dan bruxism
Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mengevaluasi proprioception (kesadaran posisi tubuh) pada kuda dengan Cerebellar Abiotrophy CA melibatkan pengamatan terhadap kemampuan kuda untuk:
Merespons refleks pupil
Berjalan mundur dan melewati rintangan rendah tanpa kesalahan
Menggerakkan tungkai toraks secara normal
Menahan gaya saat ekor ditarik
Membalikkan posisi tungkai yang ditekuk
Ringbone adalah pertumbuhan tulang abnormal (bone growth) pada tulang-tulang di daerah digit (jari kaki) kuda, yaitu:
Os. carpal dan Os. metacarpal
Os. metatarsal dan Os. tarsal
Os. phalanx proximal, Os. phalanx media, dan Os. phalanx distal
Os. scapula dan Os. humerus
Os. pelvis
Berdasarkan lokasinya, Ringbone yang terjadi pada bagian Os. phalanx proximalis dan Os. phalanx media diklasifikasikan sebagai:
Low ringbone
High ringbone
Articular ringbone
Non-articular ringbone
Distal ringbone
Keterampilan klinis yang dilakukan untuk mendiagnosis Ringbone pada kuda dengan gejala ketimpangan dan nyeri saat palpasi adalah:
Ultrasonografi otot tendon
Pemeriksaan Radiografi (Rontgen) regio digiti
Analisis Kimia Darah (mencari Kalsium abnormal)
Biopsi sendi
Hoof test menggunakan tang kuku
Penemuan klinis berupa krepitasi (bunyi gesekan/derik) dan respon nyeri saat palpasi pada area os phalanges kuda yang mengalami ketimpangan menunjukkan adanya gangguan atau kelainan pada:
Otot dan kulit
Saraf dan pembuluh darah
Struktur tulang atau sendi
Kuku (laminitis)
Kantung sinovial
Zoledronic Acid (golongan bifosfonat) digunakan dalam terapi Ringbone karena mekanisme kerjanya yang membantu:
Mempercepat pertumbuhan tulang
Meningkatkan kepadatan tulang dengan menghambat resorpsi yang dimediasi osteoklas
Mengurangi peradangan jaringan lunak
Menghilangkan rasa sakit secara instan
Merangsang produksi sel darah merah
Pada kasus Ringbone, Hydrotherapy (terapi air) menggunakan air dingin (pada fase akut) bertujuan untuk:
Meningkatkan sirkulasi darah dan relaksasi otot
Memperlambat proses eksudasi, diapedesis sel inflamasi, dan mengurangi edema
Menghasilkan serotonin untuk menenangkan kuda
Mempercepat penyembuhan luka
Menghilangkan pertumbuhan tulang baru
Pemeriksaan kimia darah pada kasus Ringbone sering melibatkan analisis kadar Kalsium dan Fosfatase Alkali yang berguna sebagai indikator:
Fungsi ginjal dan hati
Status anemia kuda
Proses deposisi atau resorpsi tulang
Kadar glukosa
Status inflamasi sistemik
Rectovaginal Fistula (RVF) pada kuda didefinisikan sebagai fistula yang terbentuk antara:
Kandung kemih dan vagina
Uterus dan rektum
Rektum dan vagina
Sekum dan vagina
Uretra dan rektum
Salah satu etiologi utama terjadinya Rectovaginal Fistula RVF pada kuda adalah komplikasi kelahiran, yaitu distokia, di mana:
Kuda mengalami prolaps uterus
Plasenta tidak keluar
Hidung atau kaki anak kuda terlihat keluar dari rektum
Kuda mengalami kolik pascamelahirkan
Kuda mengalami endometritis kronis
Persiapan diet pascabedah yang dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan penjahitan Rectovaginal Fistula RVF adalah memberikan pakan rumput segar selama 10 hari pasca bedah, yang bertujuan untuk:
Meningkatkan berat badan kuda dengan cepat
Menghasilkan feses yang lebih lembut dan berbentuk bulat normal (menghindari penetrasi feses ke jahitan)
Mengurangi asupan mineral dan protein
Menyediakan serat kasar yang tinggi
Mencegah pertumbuhan jamur
Penanganan Rectovaginal Fistula RVF pada kuda primipara yang melibatkan tindakan bedah penjahitan fistula dilakukan di bawah anestesi general. Kombinasi obat sedasi dan induksi yang sering digunakan adalah:
Propofol dan Thiopental
Midazolam dan Fentanyl
Xylazine (sedasi) dan Ketamine (induksi) diikuti maintenance Isofluran
Morfin dan Lidokain
Deksametason dan Gentamisin
Setelah penjahitan fistula Rectovaginal Fistula RVF, obat yang termasuk golongan antibiotik dan antiinflamasi yang diberikan secara rutin untuk mencegah infeksi dan mengurangi peradangan adalah:
Ivermectin dan Misoprostol
Zoledronic acid dan Curcuma Plus
Gentamisin (antibiotik) dan Deksametason/Fenilbutazon (antiinflamasi)
Omeprazole dan Sukralfat
Xylazine dan Ketamine
Pada kasus Equine Psittacosis, kuda dianggap sebagai spillover host, yang berarti penularan umumnya terjadi melalui interaksi langsung atau tidak langsung dengan:
Sapi dan domba yang terinfeksi
Monyet dan kelelawar
Burung (terutama psittacine birds/kakatua tua)
Kucing dan anjing
Manusia yang terinfeksi
Untuk mendiagnosis C. psittaci-associated equine reproductive loss, sampel jaringan/swab yang diuji dengan PCR dan dianggap sebagai diagnosis pasti harus berasal dari:
Darah kuda dewasa
Membran fetal, paru-paru, hati, atau limpa janin/foal
Feses kuda dewasa
Swab hidung kuda dewasa
Sampel air minum
Pulmonary Aspergillosis pada kuda, meskipun jarang, adalah pneumonia jamur yang berpotensi fatal, dengan agen etiologi utama adalah:
Trichophyton equinum
Dermatophilus congolensis
Geotrichum candidum
Aspergillus fumigatus
Chlamydia psittaci
Prosedur diagnostik utama untuk mendapatkan sampel dari saluran pernapasan bawah (lower airway) pada kasus Pulmonary Aspergillosis untuk pemeriksaan sitologi dan kultur adalah:
Gastroskopi
Transtracheal Lavage (TTW) atau Bronchoalveolar Lavage (BAL)
Punktis Lumbar
Biopsi Hati
Palpasi Rektal
Dalam kasus Pulmonary Aspergillosis, temuan pada sitologi Transtracheal Lavage (TTW) yang mendukung diagnosis (efusi jamur) adalah adanya:
Peningkatan neutrofil yang signifikan (>25%)
Sel Purkinje yang berdegenerasi
Struktur oval kebiruan mirip konidia dalam jumlah besar
Sel Alzheimer tipe II
Filamen bercabang cocci-like
Obat antijamur sistemik yang efektif dan berhasil digunakan untuk menangani kasus Pulmonary Aspergillosis pada kuda adalah:
Gentamisin
Fenilbutazon
Deksametason
Itrakonazol
Flunixin Meglumine
Salah satu gejala klinis umum dari Pulmonary Aspergillosis yang sering disalahartikan sebagai Equine Asthma adalah:
Batuk kronis dan exercise intolerance
Kolik intermiten
Pruritus intens
Icterus dan head pressing
Ketimpangan dan krepitasi
Kuda yang menderita Pulmonary Aspergillosis berisiko menularkan spora jamur kepada manusia (zoonosis) melalui:
Kontak kulit-ke-kulit
Gigitan tungau
Urin yang terinfeksi
Sekresi pernapasan dan feses yang terkontaminasi
Daging yang dimasak
Terapi suportif pernapasan yang melibatkan pemberian obat untuk membantu mengencerkan dan mengeluarkan lendir (mukus) pada kasus Pulmonary Aspergillosis adalah pemberian:
Kortikosteroid dosis tinggi
Bromhexine hydrochloride (mukolitik)
Penisilin
Itrakonazol
Zoledronic acid
Hepatic Encephalopathy (HE) didefinisikan sebagai sindrom klinis kompleks yang ditandai dengan kondisi mental abnormal yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ mana?
Ginjal (Kidney)
Paru-paru (Lung)
Jantung (Heart)
Hati (Liver)
Pada kuda yang dicurigai menderita Hepatic Encephalopathy (HE), zat beracun yang perlu diukur di plasma darah karena peningkatannya berkorelasi dengan gejala neurologis adalah:
Bilirubin total
Enzim Alanine Transaminase (ALT)
Amonia plasma
Nitrogen Urea Darah (BUN)
Tanda klinis yang sering muncul pada kasus Hepatic Encephalopathy (HE) dan merupakan manifestasi neurologis yang berbahaya adalah:
Intention tremors saat makan
Head pressing (menekan kepala ke dinding) dan circling (berputar-putar)
Toe-dragging pada tungkai depan
Hipersalivasi parah dan bruxism
Cerebellar Abiotrophy (CA) adalah kelainan neurodegeneratif herediter yang ditandai secara klinis oleh:
Kejang-kejang saat beraktivitas
Hilangnya refleks pupillary light
Ataksia dan intention tremors
Kelumpuhan pada tungkai belakang (paresis)
Dalam pemeriksaan neurologis pada kuda, respon yang hilang secara bilateral dan mengindikasikan adanya disfungsi pada Cerebellum (cortex kecil) adalah:
Pupillary Light Reflex
Palpebral Reflex
Withdrawal Reflex
Menace Response (refleks ancam)
Equine Gastric Ulcer Syndrome (EGUS) diklasifikasikan menjadi dua jenis utama, yaitu penyakit lambung skuamosa kuda (ESGD) dan penyakit lambung kelenjar kuda (EGGD). Lokasi lesi pada kuda yang menderita tukak lambung adalah adanya ulserasi pada mukosa:
Kolon (usus besar) dan sekum
Usus halus proksimal (duodenum) dan lambung
Esofagus dan faring
Rektum dan anus
Prosedur diagnostik gold standard yang harus dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menilai tingkat keparahan tukak lambung (EGUS) adalah:
Pemeriksaan feses (fecal occult blood)
Ultrasonografi abdomen
Gastroskopi
Palpasi transrektal
Faktor manajemen pakan yang paling berkontribusi terhadap perkembangan EGUS karena meningkatkan sekresi gastrin dan produksi asam lambung secara berlebihan adalah:
Peningkatan pakan hijauan alfalfa
Pemberian pakan dalam porsi kecil dan sering
Diet tinggi biji-bijian dan konsentrat yang diselingi puasa lama
Pemberian suplemen minyak jagung
Dalam penanganan Equine Glandular Gastric Disease (EGGD), kombinasi obat yang sering dianjurkan karena Misoprostol tidak dapat diberikan pada kuda bunting adalah:
Flunixin Meglumine dan Omeprazole
Omeprazole dan Sucralfat
Phenylbutazone dan Omeprazole
Gentamicin dan Dexamethasone
Enterolithiasis didefinisikan sebagai pembentukan konkresi padat (batu usus) di dalam lumen usus. Batu ini sebagian besar tersusun dari:
Kalsium oksalat
Asam urat
Struvite (magnesium, amonium, fosfat)
Silika
Pemeriksaan penunjang pencitraan yang paling baik untuk mendeteksi enterolith (batu usus) dan memandu diagnosis karena memberikan gambaran yang lebih luas pada rongga perut adalah:
Ultrasonografi (USG)
Radiografi (X-Ray)
Endoskopi
CT-Scan
Pada kasus Enterolithiasis atau kolik parah, terapi awal yang bersifat suportif untuk mengendalikan rasa sakit dan peradangan adalah pemberian:
Antibiotik Metronidazole
Omeprazole oral
Flunixin Meglumine secara intravena
Moxidectin oral
Agen bakteri penyebab diare pada kuda yang bersifat obligat intraseluler, menyerang monosit darah, dan dikaitkan dengan penyakit Potomac horse fever adalah:
Salmonella spp.
Clostridium difficile
Neorickettsia risticii
Brachyspira pilosicoli
Pada kasus diare yang disebabkan oleh Clostridium difficile, dua jenis toksin yang dihasilkan dan berperan sebagai enterotoksin (A) dan sitotoksin (B) adalah:
Toksin Beta dan Toksin Epsilon
Toksin Alfa dan Toksin Gamma
Toksin A dan Toksin B
Toksin Delta dan Toksin Iota
Gejala klinis yang harus dipantau secara ketat pada kuda dengan diare akut, yang menunjukkan gejala sistemik dan menjadi perhatian utama untuk mencegah syok, adalah:
Tingkat hidrasi (dehidrasi) dan waktu pengisian kembali kapiler (CRT)
Warna rambut dan kondisi kuku
Adanya krepitasi pada sendi
Kehilangan menace response
Metode pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mendeteksi enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium difficile dan Salmonella spp., selain PCR, adalah:
Kultur bakteri pada agar Hektoen
Uji Sitotoksin (Cytotoxin test)
Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
Complete Blood Count (CBC)
Penanganan awal yang paling krusial untuk kasus diare akut pada kuda adalah:
Pemberian antibiotik dosis tinggi
Penggantian hilangnya cairan tubuh dan pemulihan keseimbangan elektrolit
Pemberian Omeprazole untuk tukak lambung
Isolasi bakteri di lab
Keterampilan klinis yang paling penting dilakukan paramedik untuk mengevaluasi status hidrasi kuda dengan diare adalah:
Mengukur detak jantung (Heart Rate)
Mengukur suhu rektal
Mengukur Capillary Refill Time (CRT) dan kualitas membran mukosa
Mengukur laju pernapasan (Respiratory Rate)
Dermatophytosis (Ringworm) adalah infeksi jamur kulit yang melibatkan invasi pada jaringan berkeratin seperti rambut dan epidermis. Agen utama penyebabnya di seluruh dunia adalah:
Microsporum gypseum
Microsporum canis
Trichophyton equinum
Arthroderma vanbreuseghemii
Keterampilan diagnostik Dermatophytosis yang dianggap sebagai gold standard dan memerlukan inkubasi pada suhu 22 – 25 °C selama beberapa minggu adalah:
Uji KOH (Potassium Hydroxide)
Biopsi kulit
Kultur Jamur (Fungal Culture)
PCR (Polymerase Chain Reaction)
Chorioptic Mange (kudis khoriopik) pada kuda disebabkan oleh tungau ektoparasit:
Sarcoptes scabiei
Psoroptes equi
Chorioptes bovis
Demodex equi
Ras kuda yang dikenal sangat rentan terhadap Chorioptic Mange, yang sering terlokalisasi di tungkai bawah, adalah ras dengan ciri khas:
Kuda Pacu (Thoroughbred)
Kuda Arab
Bulu (feathering) yang melimpah pada tungkai bawah
Kuda poni Shetland
Dalam kasus Chorioptic Mange pada anak kuda (foals), pengobatan yang berhasil dan dianggap memiliki margin keamanan yang lebih baik daripada Moxidectin dosis tinggi adalah:
Mencukur bulu dan pencucian air panas
Pemberian Ivermectin secara injeksi
Pemberian Ivermectin pour-on topikal 1 mg/kg BB
Pemberian Doramectin topikal
Dermatomycoses adalah infeksi jamur kulit yang disebabkan oleh agen non-dermatophyte. Pernyataan ini adalah:
Benar
Salah
Contoh patogen penyebab generalized dermal geotrichosis pada kuda adalah:
Trichophyton equinum
Microsporum canis
Aspergillus fumigatus
Geotrichum candiddum
Penggunaan obat-obatan yang dapat menjadi faktor predisposisi kuda terinfeksi jamur oportunistik (seperti Geotrichum candiddum) karena dapat menekan sistem imun adalah:
Anthelmintik (obat cacing)
NSAID (obat anti-inflamasi non-steroid)
Kortikosteroid (terutama jangka panjang)
Suplemen antioksidan (Vitamin C dan E)
Dalam kasus Dermatophilosis, tanda klinis khas pada rambut kuda setelah keropeng diangkat, yang disebabkan oleh bakteri Dermatophilus congolensis, adalah:
Rambut rontok berbentuk lingkaran (alopecia)
Rambut kusut dan menggumpal bersama eksudat seperti "kuas cat" (paint brushes)
Rambut dengan cincin-cincin pertumbuhan
Rambut rapuh dan mudah patah
Ringbone didefinisikan sebagai pertumbuhan tulang abnormal (osteofit) yang terdapat pada tulang-tulang mana?
Tulang Metacarpal
Tulang Tarsal
Os. phalanx proximal, media, dan distal
Tulang Navicular
Klasifikasi Ringbone yang terjadi pada bagian os. phalanx proximal dan os. phalanx media kuda dikategorikan sebagai:
Low Ringbone
Articular Ringbone
Non-Articular Ringbone
High Ringbone
Pemeriksaan penunjang yang paling efektif untuk mendiagnosis Ringbone pada kuda dengan melihat adanya pertumbuhan tulang baru (radiopaque) pada tulang phalanx adalah:
Ultrasonografi (USG)
MRI
Radiografi (Rontgen)
Complete Blood Count (CBC)
Dalam kasus Ringbone, terapi yang berfungsi sebagai anti-tumor dan menghambat resorpsi tulang yang dimediasi oleh osteoklas adalah pemberian:
Metronidazole
Meloxicam
Gentamicin
Zoledronic Acid (golongan bifosfonat)
Kelainan kuku Hoof Crack yang terjadi sebagai akibat dari luka atau cedera pada daerah coronary band, sehingga retakan berasal dari atas ke bawah, disebut:
Grasscrack
Sandcrack
Quarter crack
Heel crack
Kelainan kuku Hoof Crack yang terjadi karena tegangan atau tekanan berlebihan pada kuku sehingga retakan berasal dari ujung dinding kuku (wall) bagian bawah disebut:
Sandcrack
Grasscrack
Contracted foot
Hoof rings
Contracted foot adalah salah satu abnormalitas kuku yang ditandai dengan:
Sol yang datar dan dekat dengan tanah
Retakan yang berasal dari coronary band
Heel (tumit kuku) yang sempit
Pembentukan cincin pada dinding kuku
Navicular Syndrome adalah kondisi morbid yang memengaruhi region sesamoid distal. Uji diagnostik yang sering dilakukan untuk mengonfirmasi lokasi nyeri (analgesia regional) pada sindrom ini adalah:
Distal Limb Flexion Test
Palmar Digital Nerve Block (Anestesi Saraf Digital Palmar)
Palmar Hoof Wedge Test
Centesis Podotrochlear Bursa
Tanda klinis yang ditunjukkan pada kuda dengan Navicular Syndrome saat bergerak adalah:
Pola berjalan tidak normal dengan tungkai belakang mendekati median tubuh
Gait memiliki fase kranial yang dipersingkat dan dicirikan sebagai "choppy"
Rasa sakit yang hilang saat kuda dibelokkan dalam lingkaran ketat
Kelumpuhan (lameness) yang hanya terjadi secara unilateral
Untuk kasus Navicular Syndrome yang dicurigai memiliki aspek vaskular (sirkulasi) yang menurun, uji diagnostik yang dapat menunjukkan kurangnya peningkatan aliran darah setelah latihan adalah:
Radiografi (X-Ray)
Scintigraphy
Ultrasonografi
Thermography
Pulmonary Aspergillosis adalah pneumonia jamur. Prosedur diagnostik untuk mendapatkan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah untuk sitologi dan kultur jamur adalah:
Nasogastric Intubation
Fecal examination
Transtracheal Lavage (TTW) atau Bronchoalveolar Lavage (BAL)
Thoracocentesis
Patogen zoonosis yang merupakan bakteri obligat intraseluler dan telah muncul sebagai penyebab penting equine reproductive loss (abortus dan neonatal illness) di Australia adalah:
Salmonella spp.
Neorickettsia risticii
Chlamydia psittaci
Clostridium difficile
Penyakit yang disebabkan oleh Chlamydia psittaci pada manusia disebut Psittacosis, dan penularan tradisionalnya (reservoir host) berasal dari:
Anjing dan Kucing
Kelelawar (Bat species)
Burung (Avian)
Kuda yang sakit
Pada kuda bunting yang terinfeksi Chlamydia psittaci, diagnosis akhir pada jaringan janin dan plasenta dilakukan menggunakan metode:
Kultur Bakteri
ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay)
Histopatologi dengan pewarnaan HE
PCR (Polymerase Chain Reaction)
Tatalaksana Pulmonary Aspergillosis yang efektif melibatkan agen antijamur golongan azole sistemik, yaitu:
Gentamicin
Dexamethasone
Flunixin Meglumine
Itraconazole
Rectovaginal Fistula (RVF) didefinisikan sebagai fistula yang terbentuk antara rektum dan vagina. Kondisi ini paling sering terjadi pada kuda primipara (kuda beranak pertama) akibat:
Infeksi jamur kronis
Distokia (kesulitan melahirkan)
Cedera kuku yang parah
Gastrointestinal Ulcer Syndrome
Perawatan pascabedah Rectovaginal Fistula (RVF) yang paling penting terkait manajemen pakan untuk memastikan feses menjadi lebih lembut dan tidak mengganggu jahitan adalah:
Puasa total dan air minum ad libitum
Diet tinggi konsentrat dan biji-bijian
Hanya diberikan pakan rumput segar selama 5 hari
Pemberian pakan pelet berprotein tinggi
Pada prosedur bedah RVF, kombinasi anestesi general yang digunakan melibatkan sedasi dan induksi dengan agen-agen berikut:
Acepromazine dan Propofol
Xylazine dan Ketamine
Detomidine dan Butorphanol
Midazolam dan Diazepam
Hemangiosarcoma pada kuda adalah neoplasma langka yang berasal dari sel:
Sel keratinosit
Sel mast
Sel endotel (pembuluh darah)
Sel fibroblas
Pada kasus Hemangiosarcoma Kutan (kulit) yang melibatkan tungkai distal, diagnosis definitif ditegakkan melalui:
Hitung darah lengkap (CBC)
Ultrasonografi
Pemeriksaan Histopatologi (biopsi)
Pengukuran protein total plasma
Pada kasus neoplasma ganas Hemangiosarcoma yang melibatkan jaringan di tungkai distal dan telah menyebabkan lameness Grade 4/5 (AAEP) dan flexural deformity (deformitas fleks), penanganan yang seringkali menjadi pilihan utama karena prognosis yang buruk dan lokasi yang sulit adalah:
Eksisi bedah dengan margin lebar
Kemoterapi sistemik
Radiasi
Penanganan konservatif/paliatif (manajemen nyeri dan luka)
Dalam skala penilaian lameness (kepincangan) American Association of Equine Practitioners (AAEP), skor Grade 4/5 yang diamati pada kuda dengan Hemangiosarcoma berarti:
Kepincangan sulit dilihat di bawah kondisi apa pun
Kepincangan terlihat jelas di bawah kondisi tertentu
Kepincangan jelas terlihat saat berjalan lurus
Kepincangan terlihat jelas saat istirahat dan sangat parah saat bergerak
Navicular Syndrome adalah salah satu penyebab paling umum dari lameness forelimb (kepincangan kaki depan) kronis pada kuda, yang diperkirakan menyebabkan hingga:
10% dari semua kasus
Seperempat (25%) dari semua kasus
Sepertiga (33%) dari semua kasus
Setengah (50%) dari semua kasus
Dalam penanganan Navicular Syndrome, konsensus dokter hewan menetapkan bahwa dasar dari pengobatan adalah:
Injeksi Kortikosteroid
Pemberian Warfarin
Shoeing (Penapalan) yang korektif
Neurectomy (Pembedahan saraf)
Dalam penanganan kuku untuk kasus Navicular Syndrome, rekomendasi umum shoeing yang bertujuan untuk mengurangi kompresi deep digital flexor tendon adalah:
Menurunkan tumit kuku 3∘
Menaikkan tumit kuku 2∘ hingga 4∘ dan menggulung ujung kuku (rolled toe)
Menggunakan ladam reverse shoe
Melakukan resekisi hoof wall
Pada kasus Laminitis akut, penemuan radiografi yang mengkonfirmasi diagnosis dan memandu penatalaksanaan corrective shoeing adalah:
Pertumbuhan tulang abnormal pada phalanx proximal
Pembentukan cincin pada dinding kuku
Rotasi dan abnormalitas ujung tulang phalanx distal (pedal bone)
Fraktur pada tulang sesamoid
Untuk kasus Laminitis, salah satu penatalaksanaan darurat yang dilakukan adalah kompres dingin dan pengistirahatan total kuda untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Kuda juga harus dipuasakan dari pakan apa untuk mencegah produksi asam laktat dan endotoksin?
Jerami (Hay)
Rumput segar
Pelet / Karbohidrat berlebih
Pakan Alfalfa
Tatalaksana Hydrotherapy (terapi air) dengan air dingin pada fase akut cedera tulang atau peradangan (seperti pada Ringbone) bertujuan untuk:
Meningkatkan sirkulasi darah ke area yang cedera
Meningkatkan relaksasi otot dan mengurangi nyeri kronis
Meningkatkan produksi serotonin
Memperlambat proses eksudasi sel inflamasi dan mengurangi edema
Dalam pemeriksaan darah kuda, nilai Procalcitonin (PCT) yang rendah pada pada kasus nyeri dan peradangan (seperti Ringbone) adalah indikator bahwa:
Terdapat sepsis atau infeksi bakteri sistemik yang parah
Kuda menderita anemia anaplastik
Tidak adanya sepsis atau bakteri dalam sirkulasi darah
Terdapat depresi sumsum tulang
Dalam pemeriksaan darah biokimia pada kuda dengan dermal geotrichosis (dermatomycosis), temuan yang mendukung kondisi inflamasi kronis adalah:
Peningkatan LDH, CK, dan ALT
Rasio albumin/globulin yang tinggi
Peninggkatan globulin total dan rasio albumin/globulin yang rendah
Leukopenia dan hiperglukemia
Obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) yang sering digunakan untuk manajemen nyeri pada kasus muskuloskeletal (seperti Ringbone dan Navicular Syndrome) adalah:
Gentamicin
Omeprazole
Phenylbutazone dan Flunixin Meglumine
Zoledronic Acid
Metode bedah Neurectomy (Desmotomy Saraf) pada Navicular Syndrome bersifat paliatif karena tujuan utamanya adalah:
Menghilangkan penyebab penyakit
Meningkatkan sirkulasi darah ke kuku
Menghilangkan sensasi (nyeri) dari region kaki palmar
Mengembalikan fungsi tendon dan ligamen
Pada kasus Navicular Syndrome yang dicurigai disebabkan atau diperparah oleh aliran darah yang buruk (poor blood flow), Warfarin dapat digunakan karena mekanisme kerjanya adalah sebagai:
Vasodilator (pelebar pembuluh darah)
Anti-inflamasi
Antikoagulan
Analgesik
Pada pemeriksaan hematologi, anemia yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin yang relatif lebih besar daripada penurunan rata-rata volume eritrosit (MCV normal) didefinisikan sebagai:
Anemia makrositik hipokromik
Anemia mikrositik hipokromik
Anemia normositik normokromik
Anemia normositik hipokromik
