wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Evaluasi Praktikum Hematologi STR smt 3

Total questions: 15

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

Seorang mahasiswa diminta menghitung jumlah leukosit secara manual. Namun hasil yang diperoleh sangat tinggi dan tidak konsisten dengan kondisi klinis pasien. Setelah diamati, dosen menemukan bahwa mahasiswa menggunakan pipet Thoma dengan bola merah dan skala 101. Penyebab utama hasil salah pada kasus di atas adalah mahasiswa menggunakan pipet yang seharusnya digunakan untuk:

a)

A. Pemeriksaan LED

b)

B. Pemeriksaan Hb Sahli

c)

C. Hitung trombosit

d)

D. Hitung eritrosit

e)

E. Pemeriksaan retikulosit

2.

Seorang mahasiswi mendapatkan hasil Hb Sahli 4 g/dL pada pasien tanpa tanda anemia. Setelah diamati, warna larutan masih sangat pekat dan belum menyerupai standar saat ia segera mencocokkannya. Apa penyebab utama hasil Hb yang tampak jauh lebih rendah dari kondisi klinis?

a)

A. Aquadest yang digunakan terlalu banyak

b)

B. Standar warna sudah terlalu tua dan berubah warna

c)

C. Pipet Hb yang digunakan terlalu besar

d)

D. Hematin asam belum terbentuk sempurna

e)

E. Tabung Sahli retak halus

3.

Seorang mahasiswa mendapatkan nilai hematokrit 60%, tetapi pasien tidak menunjukkan tanda polisitemia. Setelah diperiksa ulang, dosen melihat adanya plasma yang sangat keruh dan buffy coat yang sangat tebal.
Faktor apa yang paling mungkin menyebabkan nilai hematokrit tampak meningkat palsu?

a)

A. Eritrosit pada sampel beragregasi

b)

B. Pasien mengalami leukositosis / trombositosis

c)

C. Plasma terlalu encer

d)

D. Pengisian pipet kapiler kurang penuh

e)

E. Sentrifus tidak seimbang

4.

Mahasiswa menghitung eritrosit secara manual, namun hasil perhitungan yang diperoleh rendah karena saat mengisi kamar hitung, sel yang terlihat sangat sedikit. Setelah ditinjau, ternyata ia menggunakan aquadest sebagai pengencer.
Apa alasan teknis paling tepat mengapa eritrosit pecah pada kasus tersebut?

a)

A. Eritrosit beragregasi dan saling menggumpal

b)

B. Aquadest merupakan pelarut yang encer sehingga membaurkan sel

c)

C. Aquadest bersifat terlalu basa sehingga merusak eritrosit

d)

D. Aquadest bersifat hipotonis sehingga eritrosit mengalami lisis

e)

E. Aquadest meningkatkan adhesi eritrosit pada dinding pipet sehingga tidak dapat dipindahkan dengan baik kedalam kamar hitung

5.

Seorang mahasiswa melakukan Hb elektroforesis. Namun pita Hb yang terbentuk tampak kabur, lebar, dan migrasinya tidak jelas. Pemeriksaan diulang, dan dosen menemukan bahwa sampel hemolisat memiliki konsentrasi terlalu tinggi. Mengapa hemolisat yang terlalu pekat menyebabkan pola elektroforesis menjadi tidak jelas?

a)

A. Kelebihan protein /overloading dapat menghambat pembentukan HbF

b)

B. Kelebihan protein /overloading dapat meningkatkan jumlah eritrosit

c)

C. Kelebihan protein /overloading menyebabkan pita melebar dan sulit dibaca

d)

D. Kelebihan protein /overloading menahan laju migrasi Hb

e)

E. Kelebihan protein /overloading menghasilkan warna gelap pada gel

6.

Seorang mahasiswa melakukan pemeriksaan LED metode Westergren pada sampel darah EDTA. Pasien diduga mengalami tuberkulosis aktif sehingga LED seharusnya meningkat. Namun hasil LED yang terbaca hanya 5 mm/jam. Dosen kemudian melakukan evaluasi dan menemukan bahwa darah EDTA sudah disimpan selama 3 jam pada suhu ruang, dan mahasiswa mengocok sampel dengan kuat sesaat sebelum memasukkannya ke tabung Westergren. Faktor apa yang paling mungkin menyebabkan nilai LED tampak lebih rendah dari kondisi klinis sebenarnya?

a)

A. Pengocokan kuat menyebabkan rouleaux terbentuk lebih cepat

b)

B. Penyimpanan darah terlalu lama menyebabkan LED meningkat palsu

c)

C. Rouleaux tidak optimal akibat agitasi berlebihan dan penyimpanan terlalu lama

d)

D. Agitasi berlebihan menyebabkan perubahan protein plasma sehingga rouleaux kurang optimal.

e)

E. Penyimpanan sampel >2 jam menyebabkan pecahnya rouleaux dan mengganggu proses pengendapan.

7.

Seorang mahasiswa melakukan hitung leukosit manual pada sampel EDTA. Hasil yang diperoleh adalah 1.200/µL, jauh lebih rendah dibandingkan hasil analyzer yang keluar 7.800/µL satu jam sebelumnya. Ketika dosen meninjau prosesnya, ditemukan bahwa:

1. Sampel darah berada pada suhu ruang selama 2,5 jam sebelum dihitung.

  • 2. Mahasiswa mengocok tabung EDTA hanya 2 kali sebelum mengambil sampel.

  • 3. Pengencer Turk yang digunakan tampak agak keruh karena baru dipindahkan dari botol besar ke botol kecil tanpa filtrasi.

  • 4. Kamar hitung terlihat tidak terisi penuh pada ruang hitung leukosit.

Faktor mana yang paling mungkin menjadi penyebab dominan hasil leukosit tampak jauh lebih rendah dibandingkan hasil analyzer?

a)

A. Pengencer Turk yang keruh menyebabkan leukosit menggumpal

b)

B. Penyimpanan sampel lebih dari 2 jam menyebabkan leukosit lisis total

c)

C. Ruang hitung tidak terisi penuh sehingga volume yang dihitung lebih besar

d)

D. Tidak menghomogenkan sampel dengan baik sehingga leukosit mengendap di dasar tabung

e)

E. Suhu ruang menyebabkan eritrosit pecah dan mengganggu pembacaan leukosit

8.

Seorang teknisi melaporkan bahwa analyser hematologi memberi flag "PLT clump / platelet clumping" pada beberapa sampel pagi ini. Salah satu pasien klinis menunjukkan hasil trombosit rendah pada analyzer (PLT = 45 ×10^3/µL) tetapi gambaran darah tepi yang diperiksa menunjukkan banyak trombosit agregat. Ruang laboratorium sedang sibuk dan ada antrean sampel. Apakah yang sebaiknya dilakukan oleh ATLM yang sedang bertugas?

Urutkan dari tindakan pertama yang harus dilakukan sampai tindakan terakhir:
A. Lapor ke dokter atau clinical team apabila hasil dikonfirmasi sebagai trombositopenuia yang klinis dan butuh tindak lanjut.
B. Periksa darah tepi (hapusan) pada mikroskop untuk menilai adanya agregasi trombosit dan artefak.
C. Jika ditemukan agregasi, persiapkan sampel ulangan — ambil darah baru dengan teknik yang benar (hindari trauma) dan gunakan EDTA yang baru atau lakukan ulangan dengan Na-citrate jika EDTA suspect.
D. Periksa log/flag dan parameter analyzer serta ulang run sampel pada mode manual/repeat untuk memverifikasi hasil.
E. Dokumentasikan temuan (flag, gambar darah tepi, tindakan korektif) dan catat waktu/ketidaksesuaian untuk quality control.

(a)  

9.

Seorang pasien rawat jalan tanpa keluhan dehidrasi melaporkan hasil Hct mikro 58% dari pemeriksaan mikrohematokrit. Nilai Hb dan RBC dari analyzer baru saja keluar normal. Dosen meminta mahasiswa melakukan investigasi. Di bawah ini beberapa tindakan yang mungkin diambil.

Urutkan tindakan investigasi/korektif yang paling logis (awal → akhir)!
A. Periksa apakah tabung mikrohematokrit di-seal (malam) dengan benar dan apakah pembacaan terkontaminasi oleh lapisan buffy coat.
B. Ulangi pemusingan mikrohematokrit dengan memeriksa kecepatan (RPM/g) dan waktu pemusingan sesuai protokol.
C. Lihat laporan analyzer (Hb, RBC, MCV) dan bandingkan untuk mencari ketidaksesuaian yang memberi petunjuk artefak.
D. Periksa apakah sampel berasal dari darah kapiler (dengan kemungkinan kontaminasi cairan interstisial) atau vena; catat metode pengambilan.
E. Ambil sampel baru (kapiler/vena sesuai prosedur) dan ulang pemeriksaan Hct jika ada indikasi kesalahan pra-analitik.

(a)  

10.

Selama praktikum Hb elektroforesis, seorang kelompok mendapat hasil dengan banyak pita samar dan tidak ada pita tajam yang dapat diinterpretasikan. Dosen menemukan beberapa kondisi: buffer persiapan disiapkan ulang pagi itu, kontrol kit tampak normal, dan beberapa gel sebelumnya menunjukkan problem migrasi. Berikut kemungkinan tindakan.

Urutkan tindakan troubleshooting (awal → akhir)!
A. Periksa konsentrasi hemolisat (overload) dan ulang persiapan hemolisat jika terlalu pekat atau terlalu encer.
B. Ganti buffer dengan batch yang diketahui bekerja (atau periksa pH dan konduktivitas buffer saat ini).
C. Periksa modul listrik/power supply (tegangan/stabilitas) selama jalannya elektroforesis.
D. Pastikan jumlah sampel yang di-load pada sumur sesuai dengan volume yang direkomendasikan; ulang load bila perlu.
E. Review catatan batch gel dan kontrol—bandingkan kontrol internal untuk melihat apakah masalah sistemik.

(a)  

11.

Kasus:
Dua metode pemeriksaan Hb dilakukan pada pasien yang sama:

  • Metode Sahli menghasilkan Hb = 15,5 g/dL

  • Metode cyanmethemoglobin (referensi) menghasilkan Hb = 13,2 g/dL

Pasien memiliki serum sangat keruh (lipemik) dan pemeriksaan berlangsung di ruangan dengan pencahayaan kurang stabil.

Pernyataan:
“Perbedaan hasil Hb antara metode Sahli dan metode cyanmethemoglobin dapat dijelaskan oleh interferensi lipemia pada metode Sahli karena metode tersebut bergantung pada pengamatan warna secara visual.”

a)
BENAR
b)

SALAH

12.

Kasus: Analyzer menunjukkan MCHC > 38 g/dL, morfologi darah tepi normal, tidak ada hemolisis atau ikterus.
Pernyataan:
“Nilai MCHC yang sangat tinggi kemungkinan besar menunjukkan pasien mengalami hiperproteinemia.”

a)
BENAR
b)

SALAH

13.

Kasus: Analyzer menunjukkan PLT rendah, hapusan darah tepi menunjukkan banyak agregat trombosit di tepi slide.
Pernyataan:
“Distribusi trombosit yang tidak merata pada hapusan dapat menyebabkan hasil hitung trombosit tampak lebih rendah dari nilai sebenarnya.”

a)
BENAR
b)

SALAH

14.

Kasus: Sampel EDTA disimpan pada suhu ruang selama 24 jam; retikulosit turun signifikan dibanding pemeriksaan awal.
Pernyataan:
“Penyimpanan lama menyebabkan degradasi RNA pada retikulosit sehingga jumlah yang terdeteksi menurun.”

a)
BENAR
b)

SALAH

15.

Kasus:
Analyzer hematologi melaporkan hasil berikut pada seorang pasien:

  • WBC = 23.000/µL

  • RBC, Hb, Hct normal

  • PLT = 380.000/µL
    Namun analyzer menambahkan flag: “NRBC suspected / immature cells present.”
    Pada pemeriksaan darah tepi, ditemukan adanya sel-sel besar dengan inti bulat dan kromatin halus yang menyerupai NRBC, namun sebagian ternyata blast dari leukemia akut.

Pernyataan:
“Flag NRBC pada analyzer dapat muncul bukan hanya karena adanya NRBC, tetapi juga karena keberadaan sel besar berinti (misalnya blast) yang dikenali sebagai NRBC oleh sistem.”

a)
BENAR
b)

SALAH