wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Pre Test Safety Excellence

Total questions: 20

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.
  1. 1. Apa yang dimaksud dengan Safety Excellence dalam konteks budaya K3?

a)

A. Mematuhi semua peraturan K3 minimal yang diwajibkan pemerintah.


b)

B. Mencapai zero accident dengan cara apapun, termasuk menyembunyikan insiden.

c)

C. Budaya proaktif yang menjadikan keselamatan sebagai nilai utama di setiap level organisasi.

d)

D. Program K3 sementara untuk meraih sertifikasi semata.

2.
  1. 2. Mana pernyataan yang membedakan safety compliance dengan safety commitment?

a)

A. Compliance menekankan pencegahan proaktif, commitment hanya reaktif pasca kecelakaan.


b)

B. Compliance sering kali bersifat formalitas memenuhi aturan, sedangkan commitment melibatkan kesadaran dan kepedulian di seluruh level[5].

c)

C. Compliance dilakukan oleh manajemen saja, commitment cukup oleh karyawan saja.

d)

D. Tidak ada perbedaan, keduanya sama saja dalam praktik.

3.
  1. 3. Mengapa budaya keselamatan yang kuat penting bagi kinerja perusahaan?

a)

A. Karena investor hanya mau menanam modal di perusahaan yang bebas kecelakaan.


b)

B. Karena regulasi pemerintah mewajibkan budaya keselamatan.

c)

C. Karena budaya K3 yang baik dapat meningkatkan produktivitas, moral karyawan, dan mengurangi kerugian akibat kecelakaan[27].

d)

D. Sebenarnya tidak terlalu penting, yang penting keuntungan perusahaan.

4.

4.Siapa yang paling bertanggung jawab dalam menerapkan budaya K3 di tempat kerja?

a)

A. Departemen K3 atau petugas safety saja.


b)

B. Manajer puncak saja, karena keputusan ada di tangan mereka.

c)

C. Setiap individu di semua level organisasi memiliki tanggung jawab atas keselamatan[3].

d)

D. Konsultan eksternal K3 yang ditunjuk perusahaan.

5.

5.Contoh tindakan kepemimpinan keselamatan (safety leadership) yang efektif adalah:

a)

A. Seorang supervisor menegur keras pekerja di depan umum setiap kali ada pelanggaran.


b)

B. Manajer selalu memakai APD saat keliling lapangan dan memuji tim yang bekerja aman[16][17].

c)

C. Direktur hanya menerima laporan K3 tiap akhir tahun tanpa terjun ke lapangan.

d)

D. Staff junior enggan melapor bahaya karena merasa itu bukan tugasnya.

6.

6.Pernyataan benar mengenai komunikasi dalam budaya K3 adalah:

a)

A. Komunikasi K3 sebaiknya satu arah saja agar instruksi jelas dari atasan ke bawahan.


b)

B. Karyawan didorong melaporkan kondisi berbahaya tanpa takut dihukum (no-blame culture)[19].

c)

C. Informasi kecelakaan sebaiknya dirahasiakan agar perusahaan tidak terlihat buruk.

d)

D. Diskusi K3 hanya perlu dilakukan saat awal masuk kerja saja.

7.

7.Apa peran utama manajemen puncak dalam mendukung Safety Excellence?

a)

A. Menetapkan kebijakan K3 yang jelas dan menyediakan sumber daya untuk keselamatan[28].


b)

B. Mengandalkan supervisor untuk semua urusan K3 dan tidak terlibat langsung.

c)

C. Memberikan sanksi finansial pada setiap kecelakaan agar karyawan jera.

d)

D. Menjalankan program K3 hanya jika ada inspeksi dari pemerintah.

8.

8.Ilustrasi berikut yang mencerminkan budaya safety excellence di tempat kerja adalah:

a)

A. Pekerja saling mengingatkan memakai helm dan mengawal rekan baru untuk bekerja aman.


b)

B. Karyawan menyembunyikan “near-miss” kecil agar timnya tidak dimarahi atasan.

c)

C. Supervisor lebih fokus ke target produksi daripada meeting safety.

d)

D. Manajemen menganggap kecelakaan sebagai nasib sial belaka yang tak bisa dicegah.

9.

9.Apa manfaat yang tidak dihasilkan oleh budaya keselamatan kerja yang baik?

a)

A. Menurunnya angka kecelakaan dan cedera kerja.


b)

B. Meningkatnya biaya operasional secara signifikan karena investasi K3.

c)

C. Produktivitas kerja cenderung meningkat karena gangguan kecelakaan berkurang.

d)

D. Reputasi perusahaan membaik di mata karyawan dan stakeholder eksternal.

10.

10.Salah satu prinsip dalam membangun kebiasaan kerja aman adalah:

a)

A. Memberikan bonus uang pada setiap karyawan yang tidak pernah celaka, tanpa evaluasi lainnya.


b)

B. Melakukan pelatihan dan drill keselamatan secara rutin untuk memperkuat ingatan dan keterampilan K3[29].

c)

C. Meminta karyawan belajar sendiri soal K3 di waktu luang, tanpa pelatihan formal.

d)

D. Menekankan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab petugas K3, bukan karyawan biasa.

11.

11.Apa yang sebaiknya dilakukan seorang pekerja jika melihat kondisi kerja berbahaya?

a)

A. Mengabaikannya karena bukan tugasnya memperbaiki.


b)

B. Segera melapor kepada supervisor atau petugas K3 agar tindakan pencegahan dapat dilakukan.

c)

C. Menunggu sampai terjadi kecelakaan baru melapor agar laporan lebih valid.

d)

D. Memfoto saja untuk dokumentasi pribadi, tidak perlu dilaporkan.

12.

12.Contoh perilaku aman (safe behavior) di tempat kerja adalah, kecuali:

a)

A. Menggunakan alat pelindung diri sesuai standar saat bekerja.


b)

B. Mengikuti prosedur kerja aman yang telah ditetapkan.

c)

C. Mengandalkan keberuntungan agar tidak celaka, tanpa mengikuti SOP.

d)

D. Memberhentikan mesin produksi sebelum membersihkan bagian dalamnya

13.

13.Mengapa keterlibatan karyawan (employee involvement) penting dalam budaya K3?

a)

A. Agar manajemen bisa lepas tanggung jawab dan membebankan K3 ke karyawan.


b)

B. Karyawan yang terlibat aktif akan merasa memiliki tanggung jawab untuk selalu mengutamakan keselamatan[30].

c)

C. Supaya karyawan dapat saling mengawasi dan menghukum rekannya yang melanggar.

d)

D. Karena peraturan pemerintah mewajibkan dibentuknya Panitia K3.

14.

14.Apa tujuan dilaksanakannya komunikasi dua arah dan transparan tentang K3 di dalam perusahaan?

a)

A. Agar atasan bisa mengontrol setiap ucapan karyawan terkait K3.


b)

B. Untuk menciptakan trust, mendorong kreativitas solusi, dan memastikan semua orang mendapat informasi keselamatan yang mereka butuhkan[31].

c)

C. Supaya perusahaan bisa mengetahui siapa yang sering mengeluh soal K3.

d)

D. Agar karyawan merasa selalu diawasi setiap saat.

15.

15.satu penyebab umum terjadinya kecelakaan di tempat kerja dengan budaya K3 yang lemah adalah:

a)

A. Program penghargaan K3 yang berlebihan.


b)

B. Kurangnya dukungan dan komitmen nyata dari manajemen terhadap keselamatan.

c)

C. Terlalu banyak pelatihan K3 yang membuat bosan pekerja.

d)

D. Keterlibatan pekerja terlalu tinggi dalam urusan K3.

16.

16.Apa langkah pertama dan paling krusial dalam membangun budaya keselamatan yang kuat?

a)

A. Menyediakan anggaran besar untuk beli alat pelindung diri termahal.
.

b)

B. Komitmen dan keteladanan dari pimpinan perusahaan untuk memprioritaskan keselamatan[16]

c)

C. Memastikan semua karyawan menandatangani surat pernyataan siap selamat.

d)

D. Membuat poster-poster K3 dan menempelnya di seluruh dinding pabrik.

17.

17.Indikator bahwa suatu organisasi telah bertransformasi dari hanya “compliance” menuju “excellence” dalam K3 adalah:

a)

A. Karyawan merasa bebas menghentikan pekerjaan jika ada bahaya dan didukung oleh manajemen atas keputusan itu.


b)

B. K3 hanya dibahas saat audit atau inspeksi external mendekat.

c)

C. Angka kecelakaan stagnan meski sudah ada aturan K3 tertulis.

d)

D. Pekerja baru belajar soal K3 hanya di hari pertama, selanjutnya tidak ada follow-up.

18.

18.Bagaimana cara efektif mempertahankan budaya Safety Excellence setelah tercapai?

a)

A. Berhenti melakukan perubahan apapun agar budaya yang ada tidak terganggu.


b)

B. Terus melakukan evaluasi, perbaikan rutin, dan memberi penghargaan atas praktek keselamatan yang baik[32][25].

c)

C. Mengurangi kegiatan K3 agar karyawan tidak jenuh.

d)

D. Mengalihkan tanggung jawab K3 sepenuhnya ke departemen safety agar yang lain fokus produksi.

19.

19.Sebuah perusahaan yang hanya fokus mengejar angka kecelakaan nihil (zero accident) untuk penghargaan, tanpa membangun budaya peduli, cenderung:

a)

A. Berhasil mencapai Safety Excellence karena zero accident adalah bukti budaya aman.


b)

B. Berisiko mendorong karyawan menyembunyikan insiden/cedera agar terlihat zero accident, sehingga masalah keselamatan sebenarnya tidak terselesaikan.

c)

C. Otomatis memiliki budaya K3 kuat karena tidak ada kecelakaan yang dilaporkan.

d)

D. Diapresiasi oleh karyawan karena menekankan pentingnya tidak ada kecelakaan apapun caranya.

20.

20.Apa salah satu contoh tindakan praktis untuk meningkatkan budaya keselamatan di tempat kerja?

a)

A. Menjadikan “keselamatan” sebagai slogan saja tanpa perubahan prosedur.


b)

B. Melibatkan karyawan dalam inspeksi rutin dan menindaklanjuti setiap laporan near-miss dengan tindakan perbaikan konkrit.

c)

C. Mengharuskan karyawan menandatangani janji keselamatan tiap minggu sebagai formalitas.

d)

D. Mengganti seluruh peralatan dengan yang baru setiap kali ada insiden kecil.