wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS Hematologi Blok 2 D3 Smt5

Total questions: 25

Worksheet time: 35mins

Name
Class
Date
1.

Seorang pasien memiliki hasil laboratorium dengan MCV (Mean Corpuscular Volume) rendah, MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) rendah, dan Feritin Serum yang sangat rendah. Gambaran apusan darah tepi kemungkinan menunjukkan morfologi eritrosit:

a)

Normositik Normokrom

b)

Makrositik Normokrom

c)

Hipokromik Mikrositer

d)

Mikrositik Normokrom

e)

Anisositosis dan poikilositosis berat

2.

Pada apusan darah tepi, kelainan eritrosit yang paling dominan terlihat berbentuk elips atau oval adalah ciri khas dari:

a)

Talasemia Alfa

b)

Anemia Sideroblastik

c)

Akantositosis

d)

Elliptositosis Herediter

e)

Anemia Hemolitik Autoimun

3.

Inklusi pada eritrosit yang terdiri dari sisa-sisa DNA nuklear, dan biasanya terlihat setelah splenektomi atau pada hiposplenisme, adalah:

a)

Cincin Cabot

b)

Basa Fibrin

c)

Howell-Jolly bodies

d)

Pappenheimer

e)

Heinz bodies

4.

Penemuan fragmentosit  dalam jumlah signifikan pada apusan darah tepi paling kuat mengindikasikan:

a)

Defisiensi G6PD

b)

Sferositosis Herediter

c)

Anemia Hemolitik Mikroangiopati

d)

Anemia Aplastik

e)

Anemia Akibat Penyakit Kronis

5.

Kelainan morfologi leukosit yang ditandai dengan hiposegmentasi inti granulosit  dan fungsi sel yang normal sering kali diwariskan secara autosomal dominan, dikenal sebagai:

a)

Anomali May-Hegglin

b)

Sindrom Chediak-Higashi

c)

Anomali Pelger-Huet

d)

Anomali Alder-Reilly

e)

Granulasi Toksik

6.

Kelainan morfologi pada netrofil yang paling sering dikaitkan dengan infeksi bakteri berat, inflamasi parah, dan keganasan, ditandai dengan granula sitoplasma yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih banyak dari normal, adalah:

a)

Badan Döhle

b)

Granulasi Toksik

c)

Anomali Pelger-Huët

d)

Vakuolisasi Sitoplasma

e)

Trombositosis

7.

Eosinofilia yang signifikan paling sering dikaitkan dengan kondisi patologis berikut, kecuali:

a)

Infeksi parasit (misalnya, cacing)

b)

Reaksi alergi atau hipersensitivitas

c)

Reaksi obat

d)

Infeksi bakteri akut

e)

Gangguan mieloproliferatif (Leukemia Eosinofilik Kronis)

8.

Seorang pasien anak berusia 5 tahun datang dengan keluhan ptekie, memar, dan perdarahan gusi yang sudah berlangsung 2 minggu setelah infeksi virus ringan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hitung trombosit 15.000/mL dengan morfologi trombosit dan sel darah lainnya dalam batas normal. Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan peningkatan jumlah megakariosit. Diagnosis yang paling mungkin adalah:

a)

Trombositopenia Induksi Heparin

b)

Anemia Aplastik

c)

Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP)

d)

Thrombotic Thrombocytopenic Purpura (TTP)

e)

Leukemia Mieloid Akut

9.

Trombositosis esensial (Essential Thrombocythemia/ET) merupakan kelainan mieloproliferatif yang sering dikaitkan dengan mutasi genetik pada:

a)

BCR-ABL

b)

FLT3

c)

JAK2 V617F

d)

PML-RARA

e)

NPM1

10.

Dalam pemeriksaan sitologi aspirat sumsum tulang, keberadaan sel plasma atipikal atau plasma sel neoplastik dalam jumlah yang signifikan (biasanya >10% dari sel berinti) merupakan gambaran khas untuk diagnosis:

a)

A.      Leukemia Mieloid Akut

b)

A.      Sindrom Mielodisplasia

c)

A.      Multiple Myeloma

d)

A.     Leukemia Mielositik Kronik

e)

A.      Limfoma Hodgkin

11.

Auer Rods merupakan inklusi sitoplasma yang khas dan merupakan indikator diagnostik penting. Struktur ini ditemukan pada sel muda dari jenis keganasan hematologi:

a)

Leukemia Limfoblastik Akut

b)

Leukemia Limfositik Kronik

c)

Limfoma Sel T

d)

Leukemia Mieloid Akut

e)

Multiple Myeloma

12.

Smudge Cells sering terlihat pada apusan darah tepi pasien, yang merupakan hasil rapuhnya limfosit selama proses pembuatan apusan. Kehadiran sel-sel ini dalam jumlah besar adalah gambaran pendukung yang khas untuk:

a)

Leukemia Mieloid Akut

b)

Leukemia Limfositik Kronik

c)

Limfoma Hodgkin

d)

Anemia Hemolitik Autoimun

e)

Trombositopenia Imun

13.

Seorang analis laboratorium menerima hasil pemeriksaan Darah Lengkap (DL) dari sampel pasien dengan nilai Hemoglobin (Hb) 7,5 g/dL, MCV 120 fL, dan MCH 45 pg. Saat melakukan verifikasi hasil, manakah dari langkah-langkah berikut yang paling tepat dilakukan oleh analis untuk memastikan validitas hasil sebelum disahkan oleh dokter Spesialis Patologi Klinik:

a)

Melakukan pemeriksaan ulang pada sampel yang sama menggunakan alat yang berbeda

b)

Memeriksa ketersediaan reagen dan expired date pada alat yang digunakan

c)

Membandingkan hasil DL dengan data historis pasien dan melakukan pengecekan blood smear untuk mengonfirmasi adanya aglutinasi sel darah merah yang dapat meningkatkan nilai MCV

d)

Langsung mengesahkan hasil karena semua nilai berada di luar rentang normal

e)

Menghubungi perawat untuk mengambil sampel baru segera

14.

Sampel darah pasien terlihat sangat keruh (turbid) karena hipertrigliseridemia berat (lipemia). Dalam proses analisis CBC menggunakan alat otomatis, parameter mana yang paling rentan terhadap interferensi kekeruhan ini, dan bagaimana dampaknya?

a)

Peningkatan semu nilai Hemoglobin (Hb)

b)

Jumlah trombosit (Platelet Count) menurun semu akibat agregasi lipid

c)

Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV) meningkat semu

d)

Jumlah leukosit (WBC) menurun semu karena sel sulit terdeteksi

e)

Hasil eritrosit (RBC) dan Hematokrit (Hct) tidak dapat diukur (flagged) karena kerusakan sel

15.

Faktor biologis apa yang secara fisiologis dapat meningkatkan jumlah eritrosit (sel darah merah) dan Hemoglobin pada seseorang sebagai respons terhadap lingkungan, yang merupakan mekanisme kompensasi hipoksia?

a)

Ketinggian tempat tinggal di atas permukaan laut

b)

Kehamilan

c)

Tidur yang cukup

d)

Usia lanjut

e)

Overhidrasi

16.

Seorang perempuan 25 tahun datang untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Sampel EDTA diambil kurang dari satu jam sebelum dibuat apus darah. Saat diamati pada area monolayer, eritrosit tampak berukuran seragam, dengan central pallor sepertiga diameter sel. Distribusi sel tidak tumpang tindih dan tidak terlihat bentuk abnormal. Pewarnaan Romanowsky menunjukkan kontras inti dan sitoplasma yang baik.
Apa interpretasi yang paling tepat terkait kualitas apus darah tersebut?

a)

Apus memenuhi kriteria representatif untuk penilaian morfologi eritrosit

b)

Apus menunjukkan distribusi sel yang terlalu menyebar sehingga sulit dinilai

c)

Apus memiliki ketebalan berlebihan yang mengaburkan central pallor

d)

Apus menunjukkan indikasi hemolisis akibat antikoagulan yang berlebihan

e)

Apus perlu diulang karena pola warna menunjukkan pH buffer tidak stabil

17.

Seorang laki-laki 40 tahun menjalani pemeriksaan darah karena demam tinggi. Pada apus darah terlihat peningkatan neutrofil dengan bentuk inti bersegmen empat, dan granula halus tampak jelas. Tidak ditemukan pergeseran bentuk inti yang ekstrem ataupun granula toksik. Eritrosit dan trombosit tampak dalam batas morfologi normal. Pemeriksaan CBC menunjukkan leukositosis ringan.
Sel apa yang dominan ditemukan pada gambaran apus darah pasien?

a)

A. Neutrofil segmen dengan fungsi fagositosis bakteri yang meningkat

b)

B. Neutrofil stab yang sering meningkat pada infeksi virus akut

c)

C. Monosit matang dengan sitoplasma abu-abu kebiruan

d)

D. Basofil dengan granula besar ungu tua yang menutupi inti

e)

E. Eosinofil dua lobus yang meningkat pada reaksi alergi

18.

Sebuah laboratorium menerima sampel EDTA yang masih baru dan melakukan pewarnaan Wright-Giemsa sesuai SOP. Setelah pengamatan, inti tampak biru-ungu, sitoplasma eritrosit merah muda, dan granula eosinofil tampak oranye cerah. Tidak tampak presipitasi pewarna atau artefak. Kondisi ini sesuai dengan pH buffer pewarnaan yang stabil. Distribusi sel merata di daerah monolayer. Apa prinsip utama pewarnaan Romanowsky pada pemeriksaan sitologi darah?

a)

A. Reaksi asam–basa yang memberikan kontras morfologi antara inti dan sitoplasma

b)

B. Proses oksidasi spontan hemoglobin yang memunculkan warna kontras

c)

C. Penempelan pewarna netral untuk menonjolkan matriks sel darah

d)

D. Koagulasi protein sel yang memudahkan penyerapan larutan pewarna

e)

E. Pengikatan lipofilik pewarna terhadap membran sel secara spesifik

19.

Seorang ATLM melaporkan hasil apus darah yang tampak sangat tebal di hampir seluruh permukaan kaca objek. Pada evaluasi, terlihat tumpang tindih sel dan kesulitan identifikasi leukosit. Pasien tidak mengalami kondisi klinis yang menyebabkan peningkatan viskositas darah. Pemeriksaan ulang menunjukkan hasil yang lebih baik setelah teknik spreader diperbaiki. Tidak ada masalah pada reagen pewarna. Faktor apa yang paling mungkin menyebabkan apus darah terlalu tebal?

a)

A. Sudut spreader terlalu kecil sehingga distribusi darah kurang merata

b)

B. Waktu pewarnaan terlalu panjang sehingga sel menjadi berkerumun

c)

C. Pengeringan slide terlalu cepat menyebabkan area monolayer hilang

d)

D. Plasma terlalu encer sehingga distribusi sel menjadi tidak proporsional

e)

E. Kaca objek terlalu dingin sehingga eritrosit mudah mengalami kerusakan

20.

Seorang pasien anemia menjalani evaluasi apus darah. Ditemukan eritrosit dalam kondisi tidak normal, jumlah trombosit dalam batas normal, dan leukosit menunjukkan proporsi normal sesuai diferensial manual. Data CBC mendukung adanya penurunan Hb, MCH dan MCHC. Tidak tampak parasit atau sel abnormal lain. Temuan morfologi apa yang paling sesuai dengan gambaran apus darah tersebut?

a)

A. Eritrosit dengan penurunan kadar hemoglobin yang tampak sebagai hipokromia

b)

B. Leukosit dengan inti tersegmentasi abnormal akibat kelainan genetik

c)

C. Trombosit raksasa yang sering terjadi pada gangguan megakariosit

d)

D. Monosit dengan vakuola besar yang menunjukkan infeksi berat

e)

E. Limfosit atipikal yang dominan pada kondisi reaktif tertentu

21.

  Seorang pasien menjalani pemeriksaan Fe serum dengan metode ferrozine. Sampel darah diambil setelah puasa dan diproses tanpa hemolisis. Dalam prosedur, ion besi dilepaskan dengan reagen asam, direduksi, lalu membentuk kompleks berwarna ungu yang dibaca spektrofotometer. Hasil absorbansi kemudian dibandingkan dengan kurva standar. Tidak ada gangguan interferensi lipid pada sampel.
Apa prinsip pengukuran Fe serum pada metode ini?

a)

A. Pembentukan kompleks berwarna setelah reduksi Fe³⁺ menjadi Fe²⁺

b)

B. Pengikatan langsung besi terhadap antibodi spesifik ferritin

c)

C. Pengendapan ion besi oleh resin untuk menghitung kapasitas terikat

d)

D. Oksidasi hemoglobin yang menunjukkan kadar besi tidak langsung

e)

E. Adsorpsi Fe bebas pada kolom yang menghasilkan perubahan pH

22.

  Pasien dengan kecurigaan anemia defisiensi besi menjalani pemeriksaan TIBC. Prosedur diawali dengan menambahkan Fe berlebih untuk menjenuhkan transferrin, kemudian kelebihan Fe diikat oleh adsorben sebelum dilakukan pengukuran Fe sisa. Proses berlangsung tanpa gangguan hemolisis. Hasil TIBC meningkat jauh di atas nilai rujukan. Kondisi ini sesuai dengan gambaran klinis pasien.
Apa tahap penting yang memastikan Fe bebas tidak mengganggu hasil TIBC?

a)

A. Pengikatan Fe berlebih oleh adsorben sebelum pengukuran

b)

B. Pemanasan sampel untuk memisahkan Fe dari hemoglobin

c)

C. Penambahan buffer basa untuk menstabilkan transferrin

d)

D. Hemolisis ringan untuk melepaskan Fe dari eritrosit

e)

E. Pengukuran langsung Fe total tanpa perlakuan tambahan

23.

  Seorang perempuan 30 tahun diperiksa ferritin serumnya. Sampel serum diteteskan ke mikroplate berlapis antibodi, kemudian diinkubasi untuk membentuk kompleks imun. Setelah pencucian, antibodi sekunder berlabel enzim ditambahkan dan menghasilkan perubahan warna saat diberi substrat. Absorbansi hasil reaksi kemudian dibaca pada panjang gelombang 450 nm.
Apa dasar metode pengukuran ferritin pada pemeriksaan ini?

a)

A. Reaksi antigen–antibodi yang menghasilkan sinyal warna terukur

b)

B. Pembentukan kompleks kromogenik langsung dengan ion ferri

c)

C. Pelepasan Fe dari ferritin menggunakan reagen asam kuat

d)

D. Pengendapan ferritin untuk mengukur sisa protein terlarut

e)

E. Perubahan absorpsi hemoglobin yang berbanding lurus kadar ferritin

24.

  Seorang pasien menjalani evaluasi status besi lengkap. Didapatkan Fe serum 40 µg/dL dan TIBC 400 µg/dL. Pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur dan sampel dalam kondisi baik. Pasien menunjukkan gejala anemia. Data lain menunjukkan ferritin rendah. Nilai saturasi transferrin tampak menurun.
Berapa persen saturasi transferrin pasien?

a)

A. 10%, sesuai penurunan status besi yang signifikan

b)

B. 20%, menunjukkan nilai mendekati batas normal

c)

C. 40%, sesuai Fe serum yang berada dalam kisaran rendah

d)

D. 50%, menunjukkan kapasitas pengikatan yang optimal

e)

E. 65%, menunjukkan kondisi overload besi

25.

  Seorang laki-laki 55 tahun diperiksa karena keluhan mudah lelah. Hasil pemeriksaan menunjukkan Fe rendah, TIBC tinggi, ferritin menurun, dan saturasi transferrin di bawah 15%. Tidak ada tanda infeksi kronis atau inflamasi. Riwayat diet menunjukkan kemungkinan asupan zat besi kurang. Pemeriksaan ADT memperlihatkan eritrosit hipokromik mikrositik. Kondisi apa yang paling sesuai dengan profil pemeriksaan tersebut?

a)

A. Anemia defisiensi besi dengan penurunan cadangan besi tubuh

b)

B. Anemia penyakit kronik dengan penurunan pelepasan Fe

c)

C. Hemokromatosis dengan penumpukan Fe jaringan

d)

D. Thalassemia minor dengan distribusi Fe yang normal

e)

E. Keracunan Fe dengan peningkatan penyerapan akut