NEW
Font size
WorksheetsRemed UAS KMB
Total questions: 40
Worksheet time: 20mins
Seorang laki-laki (50 tahun) datang ke UGD dengan keluhan nyeri dan bengkak pada pergelangan kaki setelah terkilir. Perawat bersiap melakukan pengkajian awal pada ekstremitas yang cedera untuk menentukan adanya deformitas, peradangan, dan keterbatasan gerak sebelum melakukan tindakan definitif.
Apakah urutan teknik pengkajian dasar yang paling tepat dilakukan perawat untuk mengevaluasi kondisi sendi dan jaringan lunak pada ekstremitas yang mengalami cedera?
Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi
Airway, Breathing, Circulation (ABC)
Rate, Rhythm, Depth (RRD)
Look, Feel, Move (LFM)
Observe, Report, Document (ORD)
Seorang laki-laki (65 tahun) dirawat di ruang neurologi dengan diagnosis Stroke Iskemik pada area batang otak. Pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan kesulitan menggerakkan bola mata ke arah lateral (samping).
Berdasarkan gejala klinis tersebut, Cranial Nerve (CN) manakah yang paling mungkin mengalami defisit fungsional pada kasus tersebut?
CN II (Nervus Optikus)
CN III (Nervus Okulomotorius)
CN VI (Nervus Abdusens)
CN IV (Nervus Troklearis)
CN VII (Nervus Fasialis)
Seorang perempuan (70 tahun) dirawat di ruang KMB dengan riwayat Ablasio Retina yang luas. Perawat melakukan pengkajian visus pada mata kanan pasien. Pasien tidak mampu membaca baris huruf apapun pada Snellen Chart dan tidak mampu menghitung jari perawat. Pasien hanya mampu melihat lambaian tangan perawat pada jarak 1 meter.
Bagaimana perawat mendokumentasikan hasil ketajaman penglihatan (visus) mata kanan pasien tersebut?
1/300
6/60
1/60
20/20
1/∞
Seorang laki-laki (60 tahun) datang ke klinik dengan keluhan utama kesulitan mendengar setelah mengalami infeksi telinga tengah berulang. Perawat sedang melakukan pengkajian pendengaran untuk membedakan apakah gangguan pendengaran pasien disebabkan oleh masalah pada hantaran suara (telinga luar/tengah) atau masalah saraf (telinga dalam).
Apakah pemeriksaan pengkajian pendengaran menggunakan garpu tala yang dilakukan perawat untuk membandingkan durasi hantaran suara melalui udara (Air Conduction) dengan durasi hantaran suara melalui tulang (Bone Conduction)?
Tes Schwabach
Tes Weber
Audiometri
Timpanometri
Tes Rinne
Seorang laki-laki (35 tahun) cedera lutut kanan saat bermain bola, mengeluh nyeri hebat, NRS 8 dan bengkak. Dokter menduga adanya robekan parah pada ligamen krusiatum dan meniskus. Pasien telah diberikan intervensi keperawatan untuk nyeri dan imobilisasi, dan kini akan dilakukan pemeriksaan penunjang.
Apa pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengkonfirmasi kecurigaan cedera jaringan lunak (ligamen dan meniskus) pada kasus tersebut?
Bone Scan
Rontgen lutut dengan proyeksi AP dan Lateral
Magnetic Resonance Imaging (MRI) lutut
Elektromiografi (EMG)
Pengukuran Bone Mineral Density (BMD)
Seorang laki-laki (35 tahun) mengalami stroke iskemik. Dari hasil pengkajian ekstemitas kanan pasien mengalami kelemahan. Perawat melakukan pengkajian kekuatan otot. Hasil pengkajian: pasien hanya dapat menggerakkan kaki kanan di bidang horizontal, tidak mampu mengangkatnya melawan gravitasi.
Berapakah derajat kekuatan otot pada ekstremitas kanan pasien tersebut?
Derajat 5
Derajat 4
Derajat 3
Derajat 2
Derajat 1
Seorang perempuan (50 tahun) menjalani operasi katarak dan mengeluh penglihatan ganda (diplopia) pasca-operasi. Perawat memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan pelindung mata dan pembatasan aktivitas.
Apa indikator keberhasilan dari tindakan perawat tersebut?
Pasien dapat membaca koran tanpa menggunakan kacamata
Tidak terjadi peningkatan tekanan intraokular (TIO) dan infeksi pada mata
Pasien dapat melakukan aktivitas berat seperti mengangkat galon air
Pasien tidak lagi mengalami diplopia dalam waktu 1 minggu
Pasien dapat mengendarai mobil dengan jarak jauh
Seorang laki-laki (35 tahun) datang ke UGD dengan keluhan nyeri telinga hebat (otalgia) yang dirasakan berdenyut, disertai demam. Hasil pemeriksaan otoskopi menunjukkan membran timpani menonjol (bulging) dan sangat merah (hiperemis), menandakan adanya penumpukan cairan dan tekanan di telinga tengah akibat Otitis Media Akut (OMA).
Apa intervensi keperawatan mandiri yang paling tepat dilakukan perawat untuk membantu meredakan tekanan dan nyeri telinga pada kasus tersebut?
Menganjurkan pasien untuk meneteskan cairan dingin ke telinga yang sakit.
Melakukan manuver Valsalva untuk membuka tuba Eustachius.
Menganjurkan pasien untuk mengunyah permen karet atau menguap secara teratur.
Menganjurkan pasien untuk memposisikan kepala lebih tinggi (semi-Fowler atau duduk) saat istirahat.
Menggunakan ear candle untuk mengeluarkan kotoran telinga yang menyumbat.
Pasien mastoiditis 40 tahun telah menjalani myringotomi dan mendapatkan terapi antibiotik, saat ini perawat sedang melakukan perawatan luka. Perawat memantau gejala sisa yang mungkin terjadi akibat infeksi yang menyebar ke intrakranial.
Apa pengkajian utama yang perlu dilengkapi pada kasus tersebut?
Tanda-tanda neurologis: kaku kuduk, perubahan kesadaran, dan sakit kepala
Pemeriksaan refleks tendon dalam pada ekstremitas
Pengkajian fungsi hati (hepar) dan ginjal (renal)
Pemeriksaan body mass index (BMI)
Pengkajian riwayat penggunaan obat-obatan jangka panjang
Seorang laki-laki (40 tahun) dirawat di ruang THT dengan diagnosis Mastoiditis Akut, komplikasi dari otitis media yang tidak terobati. Pasien tampak gelisah, meringis, mengeluh nyeri hebat, NRS 8 dan bengkak yang menonjol di area tulang mastoid (belakang telinga), disertai telinga berair (otorrhea) dan demam tinggi (38,9 C).
Apa masalah keperawatan prioritas yang harus diatasi segera oleh perawat pada kasus tersebut?
Risiko jatuh b.d gangguan pendengaran.
Nyeri akut b.d agen pencedera fisik, fisiologis d.d mengeluh nyeri, gelisah.
Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh d.d mengungkapkan kecacatan.
Hipertermia b.d proses penyakit d.d suhu tubuh diatas nilai normal.
Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pendengaran d.d distori sensori.
Seorang laki-laki (60 tahun) datang ke UGD dengan nyeri mata hebat tiba-tiba, penglihatan kabur, dan melihat halo berwarna. Tekanan intraokular (TIO) terukur sangat tinggi. Pasien didiagnosis glaukoma sudut tertutup akut. Perawat sedang mempersiapkan tindakan kegawatdaruratan.
Apa tindakan selanjutnya yang tepat dilakukan pada kasus tersebut?
Menganjurkan pasien untuk berbaring terlentang dalam ruangan gelap
Melakukan irigasi mata dengan cairan saline dingin
Memberikan terapi obat mata (misalnya: Pilokarpin dan Diuretik osmotik)
Melakukan pemeriksaan Snellen chart untuk visus
Menganjurkan pasien untuk banyak berkedip secara cepat
Seorang perempuan (55 tahun) didiagnosis glaukoma sudut terbuka kronis. Pasien sedang menjalani terapi obat tetes mata Timolol. Perawat memberikan pendidikan tentang cara penggunaan obat tetes mata yang efektif dan aman.
Apa tindakan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Meneteskan obat di sudut mata bagian dalam (dekat hidung)
Segera menutup mata dengan erat dan berkedip cepat setelah meneteskan
Menekan duktus nasolakrimalis setelah meneteskan obat selama 1-2 menit
Menggunakan obat tetes mata segera setelah dibeli meskipun belum dibuka
Menggunakan obat tetes mata orang lain jika miliknya habis
Seorang laki-laki (70 tahun) pasca-operasi ekstraksi katarak 1 hari yang lalu. Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien. Pasien mengeluh mata terasa sedikit gatal dan berair. Perawat menekankan pentingnya perawatan pasca-operasi.
Apa pendidikan kesehatan yang tepat diberikan pada kasus tersebut?
Diizinkan menggosok mata yang dioperasi dengan lembut jika gatal
Menganjurkan untuk tidak membungkuk atau mengangkat benda berat
Melepas penutup mata (pelindung) saat tidur di malam hari
Mengonsumsi aspirin dosis tinggi untuk mengurangi rasa nyeri
Membersihkan mata yang dioperasi dengan kain lap yang kasar
Seorang perempuan (65 tahun) datang ke poliklinik mata dengan keluhan penglihatan kabur progresif, merasa silau saat melihat cahaya terang, dan melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu pada malam hari. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2.
Apa pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien tersebut?
Pemeriksaan visual field (lapang pandang) dengan perimetri
Pengukuran tekanan intraokular (TIO) dengan tonometri
Pemeriksaan funduscopy untuk melihat retina
Pemeriksaan ketajaman penglihatan (visus) dengan Snellen chart
Pemeriksaan fungsi pendengaran dengan audiometri
Seorang laki-laki (35 tahun) dibawa ke UGD dengan riwayat luka tusuk kawat berkarat 5 hari yang lalu. Pasien mengeluh sulit membuka mulut dan merasakan ketegangan yang menyakitkan pada rahang dan leher. Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan tonus otot wajah yang kaku, memberikan ekspresi menyeringai sinis (risus sardonicus).
Apakah tanda gejala klinis spesifik Tetanus yang berupa kekakuan yang paling sering dan pertama kali dikeluhkan oleh pasien?
Trismus (Kaku Rahang)
Opisthotonus
Kejang umum (spasme)
Risus Sardonicus
Diplopia (penglihatan ganda)
Seorang laki-laki (55 tahun) dengan riwayat Polio Paralitik sejak masa kanak-kanak dirawat di ruang KMB karena masalah muskuloskeletal sekunder. Pasien menunjukkan kelemahan otot yang signifikan pada ekstremitas bawah. Perawat merencanakan program rehabilitasi jangka panjang untuk mempertahankan fungsi otot yang tersisa, mencegah atrofi, dan mencegah kontraktur sendi.
Apa tindakan keperawatan yang menjadi fokus utama dalam program rehabilitasi jangka panjang pasien tersebut?
Menganjurkan tirah baring total untuk menghemat energi otot yang tersisa.
Melakukan fisioterapi secara intensif dengan beban maksimal untuk meningkatkan kekuatan otot.
Memasang orthosis (alat bantu) untuk mengoreksi deformitas tulang secara permanen.
Menyarankan penghentian semua bentuk latihan jika terjadi kelelahan otot ringan.
Melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif terbatas untuk mencegah kontraktur dan atrofi otot.
Seorang laki-laki (40 tahun) dirawat di ruang neuro dengan diagnosis Ensefalitis. Pasien mengalami penurunan kesadaran (GCS 11) dan kejang berulang yang sulit dikontrol. Perawat sedang memantau fungsi vital dan tanda-tanda neurologis pasien secara ketat.
Apa pengkajian utama yang perlu dilengkapi oleh perawat untuk mendukung penatalaksanaan kejang pada kasus tersebut?
Pencatatan pola, durasi, dan frekuensi terjadinya kejang.
Pemeriksaan Capillary Refill Time (CRT) pada ekstremitas dan suhu tubuh.
Pengkajian riwayat penggunaan alkohol dan merokok pasien.
Pemeriksaan kemampuan kognitif dan memori jangka pendek.
Pengukuran asupan makanan dan minuman pasien.
Seorang perempuan (58 tahun) dirawat dengan stroke iskemik dan mengalami hemiparesis kiri. Perawat sedang melatih pasien untuk melakukan mobilisasi miring kanan-kiri di tempat tidur untuk mencegah dekubitus dan meningkatkan kesadaran terhadap sisi yang paralisis.
Apa indikator keberhasilan dari tindakan perawat tersebut?
Pasien mampu menyebutkan nama-nama anggota keluarganya dengan benar
Tekanan darah pasien berada dalam batas normal (120/80 mmHg)
Pasien mampu mengubah posisi miring dengan bantuan minimal atau mandiri
Pasien mampu mengonsumsi makanan porsi habis tanpa tersedak
Pasien tidak lagi mengalami aphasia (gangguan bicara)
Seorang laki-laki (25 tahun) didiagnosis meningitis meningokokus. Pasien dirawat di ruang isolasi dengan terapi antibiotik IV. Perawat sedang melakukan pemantauan ketat terkait komplikasi yang mungkin timbul akibat penyakit dan terapinya.
Apa pengkajian utama yang perlu dilengkapi pada kasus tersebut?
Pengkajian body mass index (BMI) dan riwayat penurunan berat badan
Tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat oral di rumah
Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan status neurologi
Kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari (ADL)
Pengkajian riwayat imunisasi masa kanak-kanak
Seorang laki-laki (45 tahun) dirawat di ruang neuro dengan kecurigaan Meningitis Bakteri. Pasien mengeluh sakit kepala hebat, mual, dan demam tinggi. Hasil pengkajian awal didapatkan pasien mengalami kaku kuduk (nuchal rigidity) yang parah. Perawat perlu melakukan pemeriksaan fisik lanjutan untuk mengkonfirmasi iritasi selaput otak (meningen).
Apa dua pemeriksaan fisik spesifik untuk mengidentifikasi tanda rangsang meningeal yang wajib dilakukan oleh perawat pada kasus tersebut?
Pemeriksaan refleks Patela dan Babinski.
Pemeriksaan GCS dan Pupillary Light Reflex.
Pemeriksaan Finger-to-Nose Test dan Romberg Test.
Pemeriksaan tanda Brudzinski dan tanda Kernig.
Pemeriksaan tanda Chvostek dan tanda Trousseau.
Seorang laki-laki (50 tahun) dirawat di ruang neuro dengan diagnosis Ensefalitis Virus Herpes Simpleks. Pasien datang dengan keluhan demam tinggi, kejang berulang, dan penurunan kesadaran (GCS 10). Hasil CT scan menunjukkan adanya edema serebral. Dokter telah memulai terapi Asiklovir IV dosis tinggi.
Apa pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengkonfirmasi diagnosis dan membedakan ensefalitis virus dari kondisi lain pada kasus tersebut?
Pemeriksaan kultur darah lengkap untuk mengidentifikasi bakteremia.
Pungsi Lumbal (LP) untuk analisis cairan serebrospinal (CSS).
Elektroensefalografi (EEG) untuk memetakan fokus kejang.
Pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA) untuk melihat pembuluh darah otak.
Pemeriksaan kadar Procalcitonin untuk menilai tingkat inflamasi.
Seorang laki-laki (40 tahun) dibawa ke UGD dengan riwayat luka tusuk 1 minggu yang lalu dan mengalami kaku rahang (trismus), spasme otot yang menyakitkan, dan kesulitan menelan. Pasien menunjukkan wajah risus sardonicus dan peka terhadap rangsangan.
Apa tindakan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Melakukan pengkajian nyeri dengan skala numeric rating scale (NRS)
Membiarkan ruangan terang benderang untuk memantau pasien
Menempatkan pasien di ruangan yang tenang, gelap, dan meminimalkan rangsangan
Mempersiapkan pasien untuk pemasangan ventilator mekanik
Memberikan obat antikonvulsan dosis tinggi secara rutin
Seorang perempuan (35 tahun) dirawat di ruang neuro dengan Polio non-paralitik. Pasien mengeluh demam tinggi, sakit kepala, dan leher kaku (nuchal rigidity). Hasil pengkajian: pasien tampak rewel, menunjukkan postur tubuh yang tidak nyaman, dan mengeluh nyeri hebat saat mencoba menggerakkan lehernya.
Apa tindakan keperawatan prioritas untuk mengatasi nyeri dan meminimalkan iritasi meningeal pada kasus tersebut?
Melakukan latihan rentang gerak pasif pada leher dan bahu secara berkala.
Membatasi aktivitas dan mempertahankan tirah baring (bed rest) total.
Melakukan pijatan lembut pada otot leher untuk merelaksasi kekakuan.
Memberikan asupan cairan dingin untuk meredakan nyeri tenggorokan dan demam.
Menganjurkan pasien untuk sering mengubah posisi dan bergerak di tempat tidur.
Seorang pasien laki-laki (30 tahun) dengan riwayat Trauma Medula Spinalis di atas T6 dirawat di ruang bedah saraf. Perawat mendapati pasien tiba-tiba mengalami krisis: wajah, leher, dan bahu pasien tampak memerah dan berkeringat, ia mengeluh sakit kepala berdenyut hebat dengan NRS 9, frekuensi nadi 110 kali/ menit, dan tekanan darah tercatat 200/110 mmHg.
Apa diagnosis keperawatan yang paling mungkin dan merupakan prioritas pada kondisi pasien tersebut?
Risiko perfusi serebral tidak efektif d.d hipertensi
Termoregulasi tidak efektif b.d stimulasi pusat termoregulasi di hipotalamus d.d takikardia, tekanan darah meningkat, kulit kemerahan, berkeringat
Disrefleksia otonom b.d cedera pada medulla spinalis d.d sakit kepala, tekanan darah sistolik meningkat >20%, bercak merah dan keringat di atas tingkat cedera
Nyeri akut b.d agen cedera fisiologis, fisik d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, takikardi, tekanan darah meningkat
Risiko cedera d.d perubahan fungsi psikomotor
Seorang laki-laki (20 tahun) mengalami kecelakaan mobil dan didiagnosis fraktur C5-C6 disertai trauma medula spinalis. Saat pengkajian, didapatkan kelemahan keempat ekstremitas (quadriplegia), hilangnya sensasi di bawah tingkat cedera, takipnea, dispnea, dan terdapat penggunaan otot bantu pernapasan.
Apa diagnosis keperawatan pada kasus tersebut?
Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh d.d mengungkapkan kecacatan, fokus berlebihan pada perubahan tubuh
Inkontinensia urin refleks b.d kerusakan konduksi impuls di atas arkus refleks d.d tidak mengalami sensasi berkemih.
Disrefleksia otonom b.d cedera pada medulla spinalis d.d sakit kepala, tekanan darah sistolik meningkat >20%
Konstipasi b.d penurunan motilitas gastrointestinal d.d peristaltic usus menurun, feses keras
Pola napas tidak efektif b.d kerusakan inervasi diafragma, trauma medulla spinalis d.d dispnea, takipnea, penggunaan otot bantu pernapasan
Seorang perempuan (40 tahun) dirawat dengan cedera kepala ringan. GCS 15. Pasien akan dipulangkan dan perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga. Keluarga cemas karena takut ada gejala yang muncul tiba-tiba di rumah.
Apa pendidikan kesehatan yang tepat diberikan pada kasus tersebut?
Memberi tahu keluarga untuk membangunkan pasien setiap 6 jam sekali
Memberi tahu keluarga tanda-tanda bahaya/ peningkatan tekanan intra kranial (nyeri kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran)
Menganjurkan untuk langsung ke UGD jika pasien mengeluh sakit kepala ringan
Membatasi asupan cairan pasien selama 24 jam pertama di rumah
Menganjurkan pasien untuk mengonsumsi obat tidur agar istirahat optimal
Seorang laki-laki (28 tahun) dibawa ke UGD setelah jatuh dari ketinggian. GCS saat datang adalah 11 (E3V3M5). Pemeriksaan CT scan menunjukkan adanya Hematoma Epidural (HED). Setelah diobservasi selama 30 menit, perawat mencatat pasien menunjukkan perubahan drastis:
• Respons Buka Mata: Hanya terhadap nyeri
• Respons Verbal: Hanya mengerang
• Respons Motorik: Fleksi abnormal
Berapakah nilai Glasgow Coma Scale (GCS) terbaru yang didokumentasikan perawat, yang menunjukkan penurunan kesadaran yang sangat signifikan pada pasien tersebut?
GCS 9
GCS 8
GCS 7
GCS 6
GCS 5
Perawat sedang merencanakan tindakan untuk mengatasi risiko aspirasi pada pasien stroke hemoragik dengan disfagia. Pasien dalam kondisi sadar penuh dan dapat bekerja sama dengan perawat. Diet yang diberikan adalah makanan lunak.
Apa tindakan keperawatan mandiri yang harus diprioritaskan perawat terkait posisi pasien saat diberikan makan?
Mengubah posisi pasien menjadi terlentang saat diberikan makan.
Memastikan pasien berada dalam posisi miring 45 derajat (Semi-Fowler).
Mempertahankan posisi duduk tegak (Fowler 90 derajat) selama dan minimal 30 menit setelah makan.
Menganjurkan pasien untuk makan dengan cepat dan beristirahat setelah selesai.
Menyiapkan makanan yang lebih padat dan renyah agar pasien lebih mudah mengunyah.
Seorang perempuan (70 tahun) dirawat dengan stroke iskemik yang menyebabkan hemiparesis kanan. Pasien menunjukkan adanya aphasia ekspresif dan kesulitan mengunyah makanan. Saat makan bubur saring, pasien sering tersedak dan makanan keluar dari sudut mulut.
Apa diagnosis keperawatan pada kasus tersebut?
Gangguan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi serebral d.d afasia
Risiko aspirasi dibuktikan dengan gangguan menelan (disfagia)
Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh d.d fungsi tubuh berubah, mengungkapkan kecacatan tubuh
Defisit perawatan diri b.d gangguan neuromuskuler d.d tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri, menolak melakukan perawatan diri, minat melakukan perawatan diri kurang
Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot d.d kekuatan otot menurun, mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
Seorang laki-laki (65 tahun) dibawa ke UGD karena mengalami kelemahan pada sisi tubuh kanan, bicara pelo (disarthria), dan sulit menelan (disfagia). GCS pasien 13 (E3V4M6). Tekanan darah 180/100 mmHg. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan atrial fibrilasi.
Apa pengkajian utama yang perlu dilengkapi pada kasus tersebut?
Pengkajian status nutrisi dan riwayat diet harian pasien
Tingkat dukungan keluarga dan kondisi finansial pasien
Pengkajian integritas kulit pada area yang berisiko dekubitus
Penentuan waktu pasti onset gejala (Last Known Well Time)
Kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari (ADL)
Seorang perempuan (75 tahun) dirawat dengan fraktur kompresi vertebral yang dicurigai akibat osteoporosis. Pasien mengeluh nyeri hebat pada punggung. Hasil pengkajian: pasien tampak lemah dan takut bergerak. Perawat merencanakan tindakan untuk nyeri dan mobilitas.
Apa tindakan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Melakukan logrolling saat mengubah posisi untuk menjaga body alignment
Mengajarkan pasien untuk berdiri dan berjalan segera setelah nyeri reda
Menganjurkan pasien untuk memfleksikan lutut dan panggul saat berbaring untuk mengurangi tekanan pada punggung
Memberikan terapi panas secara langsung pada area tulang yang fraktur
Mengajurkan pasien membatasi asupan kalsium untuk mencegah batu ginjal
Seorang laki-laki (25 tahun) mengalami fraktur kruris dan telah dilakukan fiksasi internal. Pasien akan pulang dan diinstruksikan untuk menggunakan kruk sebagai alat bantu berjalan dengan kondisi tidak boleh menumpu berat badan (Non-Weight Bearing/NWB) pada tungkai yang cedera. Perawat memberikan pendidikan kesehatan tentang cara berjalan yang aman.
Apa teknik berjalan (gait) yang paling tepat diajarkan perawat pada pasien tersebut?
Two Point Gait
Three Point Gait
Four Point Gait
Swing To Gait
Swing Trough Gait
Seorang perempuan (50 tahun) menjalani debridemen bedah untuk osteomielitis kronis pada tibia. Setelah operasi, perawat merawat luka yang terpasang drain. Perawat juga memantau kondisi umum pasien dan respons terhadap terapi antibiotik.
Apa indikator keberhasilan dari tindakan perawat tersebut?
IMT ideal dan asupan nutrisi yang optimal
Peningkatan C-reactive protein (CRP) dan laju endap darah (LED)
Tidak adanya tanda-tanda infeksi lokal dan sistemik, serta pembentukan jaringan granulasi yang sehat pada luka.
Peningkatan mobilitas ekstremitas yang sakit setelah dilepas drain
Pasien mampu mendemonstrasikan perawatan luka secara mandiri
Seorang laki-laki (45 tahun) dirawat di ruang bedah dengan diagnosis Osteomielitis Akut. Hasil kultur darah menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus. Pasien mengeluh nyeri hebat pada kaki kanan, demam tinggi, dan menolak menggerakkan ekstremitas yang sakit. Pasien sedang menerima terapi antibiotik IV dosis tinggi.
Apa tindakan keperawatan prioritas yang harus dilakukan perawat untuk mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada ekstremitas yang terinfeksi?
Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif secara rutin.
Memberikan kompres hangat pada daerah yang mengalami bengkak.
Menempatkan ekstremitas yang sakit pada posisi menggantung di tepi tempat tidur.
Melakukan imobilisasi ekstremitas yang sakit dengan bidai atau penyangga.
Menghentikan pemberian antibiotik jika demam pasien mereda.
Seorang laki-laki (70 tahun) didiagnosis osteoporosis dan memiliki riwayat jatuh berulang. Perawat sedang merencanakan tindakan untuk mengurangi risiko cedera pada pasien. Pasien tinggal sendiri di rumah satu lantai dengan banyak karpet di lantai.
Apa tindakan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Menganjurkan pasien untuk mengurangi aktivitas fisik harian
Memberikan suplemen kalsium dosis tinggi tanpa resep dokter
Memodifikasi lingkungan rumah, seperti melepas karpet dan memasang pegangan tangan
Mengajarkan teknik berjalan menggunakan tongkat di dalam rumah
Menganjurkan pasien untuk berjemur di bawah sinar matahari hanya saat siang hari
Seorang perempuan (68 tahun) datang ke klinik dengan keluhan nyeri punggung bawah yang semakin parah. Pasien tampak bungkuk (kifosis) dan mengaku tinggi badannya berkurang. Pasien adalah seorang perokok aktif dan mengonsumsi kafein berlebihan. Perawat mencurigai adanya osteoporosis.
Apa pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien tersebut?
Pemeriksaan kadar C-reactive protein (CRP) dan laju endap darah (LED)
Foto rontgen pada tulang belakang dan tulang panjang
Pemeriksaan kadar kalsium, fosfat, dan vitamin D dalam darah
Pemeriksaan elektromiografi (EMG) untuk fungsi saraf dan otot
Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DXA) scan pada pinggul dan tulang belakang untuk menilai BMD
Seorang perempuan (55 tahun) dengan amputasi di atas lutut (transfemoral) 5 hari yang lalu sudah mulai dipersiapkan untuk menggunakan kaki palsu (prostesis). Perawat memberikan edukasi tentang perawatan stump (puntung kaki) di rumah. Pasien tampak ingin tahu cara agar stump-nya siap digunakan.
Apa pendidikan kesehatan yang paling penting diberikan terkait posisi stump pada kasus tersebut?
Memastikan stump digantung di tepi tempat tidur saat istirahat untuk drainase edema.
Melakukan posisi telungkup dan menghindari penekukan (fleksi) pada pangkal paha secara berkepanjangan.
Meletakkan bantal tebal di bawah stump saat berbaring untuk kenyamanan.
Memijat area stump untuk mengurangi rasa sensitif (kebas)
Menggunakan tongkat pada sisi yang diamputasi untuk menopang stump.
Seorang laki-laki (60 tahun) pasca-amputasi transtibial 1 hari yang lalu karena komplikasi diabetes melitus. Pasien mengeluh nyeri hebat pada kaki yang sudah diamputasi (phantom pain), dengan skala nyeri 9. Perawat telah memberikan analgesik sesuai anjuran. Stump dibalut dengan balutan elastis.
Apa tindakan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Membiarkan pasien beristirahat dan tidak mengganggunya
Mengubah posisi pasien menjadi Fowler tinggi
Memberikan teknik relaksasi distraksi dan guided imagery
Melepaskan balutan stump untuk memeriksa kondisi luka
Memberikan kompres dingin pada daerah stump yang nyeri
Seorang perempuan (30 tahun) dirawat setelah mengalami fraktur femur terbuka dan telah dipasang Fiksasi Eksternal (OREF) 2 hari yang lalu. Perawat melakukan evaluasi dan menemukan area pin site tampak kemerahan, sedikit bengkak, dan keluar cairan seropurulen berbau tidak sedap. Pasien juga mengeluh nyeri di sekitar pin dan suhu tubuh 37,9 C .
Apa pengkajian utama yang perlu didokumentasikan pada area pin site pasien tersebut?
Penilaian drainage (jumlah, warna, konsistensi, bau) dan adanya pin loosening
Status neurologis dan sirkulasi distal (pulsasi, CRT) pada ekstremitas
Kesesuaian alignment (kesejajaran) anggota gerak dan kondisi kulit di bawah frame
Derajat nyeri pasien menggunakan skala numerik (NRS) dan respons terhadap analgesik
Tingkat mobilitas pasien di tempat tidur dan kemampuan ROM aktif
Seorang laki-laki (45 tahun) dibawa ke UGD setelah mengalami kecelakaan motor. Hasil pengkajian: luka terbuka di tibia kanan, tampak jaringan tulang menonjol, deformitas, dan nyeri skala 8 (dari 10). Pada pengkajian neurovaskular: teraba pulsasi lemah, kulit di sekitar luka dingin, capillary refill time (CRT) > 3 detik, dan pasien mengeluh kesemutan serta sulit menggerakkan jari-jari kaki kanan.
Apa diagnosis keperawatan prioritas pada kasus tersebut?
Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang d.d rentang gerak menurun, mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, nyeri saat bergerak, fisik lemah.
Risiko infeksi d.d peningkatan paparan organisme patogen lingkungan.
Nyeri akut b.d agen pencedera fisik, fisiologis d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah.
Risiko disfungsi neurovaskuler perifer d.d fraktur, trauma
Gangguan integritas kulit/ jaringan b.d penurunan mobilitas d.d kerusakan jaringan dan lapisan kulit, nyeri, perdarahan, kemerahan.
