NEW
Font size
WorksheetsTOP UP MAPEL SKI KISI-KISI NOMOR 21-30
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Pak Ahmad guru SKI di MTs Negeri 1 Bandung akan mengajar materi "Bentuk-bentuk Tradisi Islam Nusantara". Ia ingin mengakomodasi perbedaan individual sambil mencapai tujuan apresiasi terhadap kekayaan tradisi Islam Nusantara dengan memanfaatkan teknologi digital seperti aplikasi virtual reality (VR) untuk eksplorasi tradisi dari berbagai daerah, serta platform kolaboratif online untuk diskusi kelompok. Siswa memiliki gaya belajar yang berbeda (misalnya ada yang lebih suka belajar visual, auditori, atau kinestetik). Berdasarkan stimulus dan perencanaan tersebut, rancangan pembelajaran berbasis perbedaan individu yang paling tepat sesuai dengan pengetahuan teknologi adalah...
Siswa mempresentasikan tradisi daerah masing-masing menggunakan slide PowerPoint sederhana, diikuti diskusi kelas tentang persamaan dan perbedaan tradisi tersebut.
Menggunakan aplikasi VR untuk eksplorasi virtual berbagai tradisi Islam Nusantara, platform kolaboratif untuk diskusi asinkron berdasarkan minat siswa, dan tools digital assessment yang dapat disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing siswa.
Memberikan tugas individu kepada siswa untuk meneliti satu tradisi Islam dari daerahnya, kemudian mempresentasikannya di depan kelas menggunakan media poster dan video dokumenter yang mereka buat sendiri.
Mengadakan kunjungan lapangan ke berbagai tempat ibadah yang memiliki tradisi berbeda, kemudian siswa menulis laporan reflektif tentang pengalaman mereka tanpa menggunakan teknologi digital apa pun.
Siswa membaca buku teks tentang tradisi Islam Nusantara, kemudian mengerjakan kuis online yang sama untuk semua siswa tanpa mempertimbangkan perbedaan latar belakang budaya mereka.
Bu Sari mengajar materi "Proses Berdirinya Dinasti Umayyah di Damaskus". Ia ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), dengan analisis kasus historis, simulasi pengambilan keputusan politik pada masa itu, dan proyek mini penelitian tentang dampak kebijakan Dinasti Umayyah terhadap perkembangan peradaban Islam. Rancangan pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran mendalam adalah...
Siswa menghafal kronologi peristiwa berdirinya Dinasti Umayyah, kemudian mengerjakan soal pilihan ganda tentang nama-nama khalifah dan tahun-tahun penting dalam sejarah dinasti tersebut.
Menggunakan studi kasus kompleks tentang konflik politik pasca-kematian Ali bin Abi Thalib, simulasi sidang syura untuk memilih khalifah, dan proyek analisis komparatif antara sistem pemerintahan Umayyah dengan sistem modern.
Guru menyampaikan ceramah tentang sejarah Dinasti Umayyah selama beberapa pertemuan, siswa mencatat materi, kemudian mengerjakan tugas merangkum isi ceramah dalam bentuk mind mapping sederhana.
Siswa membaca buku teks tentang Dinasti Umayyah, kemudian membuat poster berisi informasi dasar tentang khalifah-khalifah Umayyah dan prestasi mereka tanpa analisis mendalam.
Menonton film dokumenter tentang sejarah Islam klasik, kemudian siswa menulis resume singkat tentang apa yang mereka lihat tanpa melakukan analisis kritis terhadap konten film tersebut.
Pak Budi mengajar materi "Faktor Penyebab Runtuhnya Khalifah Bani Umayyah di Damaskus". Ia ingin mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan menganalisis faktor-faktor keruntuhan dinasti secara multidimensional (politik, ekonomi, sosial, budaya), dengan pendekatan pedagogik seperti teknik scaffolding bertahap, pembelajaran kolaboratif melalui investigasi kelompok tentang berbagai perspektif keruntuhan, dan refleksi historis melalui jurnal belajar. Rancangan pembelajaran berbasis pengetahuan pedagogi yang paling sesuai adalah...
Guru menjelaskan faktor-faktor keruntuhan Dinasti Umayyah secara kronologis, siswa mencatat penjelasan guru, kemudian mengerjakan latihan soal tentang urutan peristiwa yang menyebabkan keruntuhan dinasti.
Menggunakan teknik scaffolding bertahap untuk membangun pemahaman dari faktor sederhana ke kompleks, pembelajaran kolaboratif melalui investigasi kelompok tentang berbagai perspektif keruntuhan, dan refleksi kritis melalui jurnal pembelajaran siswa.
Siswa diminta menghafal daftar faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah, kemudian guru mengadakan kuis isian untuk menguji hafalan siswa tentang materi tersebut.
Memberikan tugas individu kepada siswa untuk membuat timeline keruntuhan Dinasti Umayyah, kemudian setiap siswa mempresentasikan timeline mereka di depan kelas tanpa diskusi atau analisis lebih lanjut.
Siswa membaca artikel tentang keruntuhan Dinasti Umayyah dari internet, kemudian menulis ringkasan artikel tersebut tanpa melakukan analisis kritis atau diskusi dengan teman sekelas.
Bu Rina mengajar materi "Implementasi Pendidikan Karakter dalam Sejarah Kebudayaan Islam". Ia ingin mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sejarah yang bermakna menggunakan teknologi digital seperti platform pembelajaran online, aplikasi presentasi interaktif, dan tools kolaborasi virtual. Ia juga ingin siswa dapat mengidentifikasi nilai-nilai karakter dari tokoh sejarah Islam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui proyek kolaboratif. Rancangan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam yang paling sesuai dengan pengetahuan teknologi adalah...
Siswa membaca buku teks tentang tokoh-tokoh Islam, kemudian menulis esai individu tentang nilai-nilai karakter yang dapat dipetik tanpa menggunakan teknologi digital apa pun.
Menggunakan platform pembelajaran online untuk proyek kolaboratif pembuatan dokumenter digital tentang nilai-nilai karakter tokoh Islam, aplikasi presentasi interaktif untuk sesi berbagi, dan tools kolaborasi virtual untuk peer assessment.
Guru memberikan ceramah tentang pentingnya pendidikan karakter, siswa mendengarkan dengan saksama, kemudian mengerjakan soal pilihan ganda tentang definisi karakter dan nilai-nilai Islam.
Siswa diminta menghafal nama-nama tokoh Islam dan sifat-sifat terpuji mereka, kemudian guru mengadakan kompetisi hafalan di kelas untuk menguji ingatan siswa.
Memberikan tugas kepada siswa untuk mewawancarai orang tua tentang nilai-nilai karakter, kemudian melaporkan hasil wawancara secara lisan di depan kelas tanpa dokumentasi digital.
Pak Dani mengajar materi "Implementasi Moderasi Beragama di Indonesia" di kelas IX MTs. Ia menyadari bahwa topik ini sangat sensitif dan memerlukan pendekatan yang hati-hati namun komprehensif. Siswa-siswanya memiliki latar belakang pemahaman keagamaan yang beragam, dan beberapa di antaranya menunjukkan sikap yang cenderung eksklusif terhadap kelompok agama lain. Pak Dani ingin mengembangkan kemampuan adaptif siswa dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip moderasi beragama. Ia berencana menggunakan pendekatan TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge) yang mengintegrasikan pemahaman materi moderasi beragama, strategi pedagogi yang tepat, dan pemanfaatan teknologi yang mendukung pembelajaran. Pak Dani ingin siswa dapat memahami konsep wasathiyyah dalam Islam, menganalisis praktik moderasi beragama di Indonesia, dan mengembangkan sikap toleran serta inklusif terhadap keberagaman. Rancangan pembelajaran berbasis TPACK yang paling sesuai dengan materi pembelajaran adalah...
Guru menjelaskan konsep moderasi beragama secara teoritis, siswa mencatat materi, kemudian mengerjakan tugas menulis definisi moderasi beragama tanpa menggunakan teknologi atau analisis kontekstual.
Mengintegrasikan konten wasathiyyah dan praktik moderasi beragama Indonesia, pedagogi inquiry-based learning dan diskusi reflektif, serta teknologi platform digital untuk studi kasus interaktif dan simulasi dialog antarumtar beragama.
Siswa diminta menghafal ayat-ayat Al-Quran tentang toleransi, kemudian guru mengadakan kompetisi hafalan untuk menguji kemampuan siswa dalam mengingat teks-teks keagamaan.
Memberikan tugas kepada siswa untuk membaca berita tentang konflik agama di media massa, kemudian menulis opini pribadi tentang peristiwa tersebut tanpa panduan analisis yang sistematis.
Siswa menonton video ceramah tentang moderasi beragama di YouTube, kemudian membuat ringkasan video tersebut tanpa diskusi kelas atau analisis kritis terhadap konten yang ditonton.
Bu Fatimah mengajar materi "Kehidupan Sosial, Politik dan Ekonomi di Jazirah Arab Pra-Islam" di kelas VII MTs Negeri 3 Jakarta. Dalam observasi awal, ia menemukan bahwa siswa kesulitan memahami relevansi materi sejarah kuno dengan kehidupan kontemporer mereka. Banyak siswa yang menganggap pembelajaran sejarah hanya sebagai hafalan nama, tempat, dan tahun tanpa makna yang mendalam. Bu Fatimah menyadari bahwa materi yang disajikan dalam buku teks terasa kering dan kurang sesuai dengan perkembangan zaman digital saat ini. Siswa-siswanya adalah generasi Z yang terbiasa dengan informasi visual, interaktif, dan terhubung dengan kehidupan nyata mereka. Bu Fatimah ingin menciptakan suasana belajar yang aman dan kondusif, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi materi tanpa takut salah. Ia berencana menggunakan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) untuk membantu siswa memahami bagaimana kondisi Jazirah Arab pra-Islam mempengaruhi lahirnya Islam dan relevansinya dengan kondisi sosial-politik-ekonomi Indonesia saat ini. Bu Fatimah juga ingin mengembangkan karakter unggul siswa seperti kemampuan berpikir kritis, toleransi, dan kepemimpinan yang dapat bersaing di era global. Strategi pembelajaran berpendekatan PBL yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan menghasilkan lulusan berkarakter unggul dan berdaya saing adalah...
Menyajikan masalah kontemporer tentang konflik sosial di Indonesia, kemudian siswa menganalisis persamaannya dengan kondisi tribal di Jazirah Arab pra-Islam, diikuti diskusi kelompok untuk mencari solusi berdasarkan nilai-nilai Islam, dan presentasi hasil analisis dengan dukungan teknologi digital.
Memberikan tugas individu kepada siswa untuk menghafal nama-nama suku di Jazirah Arab, kemudian mengadakan kuis kompetitif untuk menguji hafalan mereka, diikuti pemberian reward kepada siswa dengan nilai tertinggi tanpa diskusi lebih lanjut.
Menayangkan film dokumenter tentang sejarah Arab kuno, kemudian siswa menulis ringkasan film tersebut, guru memberikan penjelasan tambahan melalui ceramah, dan siswa mengerjakan soal pilihan ganda untuk evaluasi pembelajaran.
Membagi siswa dalam kelompok berdasarkan kemampuan akademik, setiap kelompok membaca bagian berbeda dari buku teks, kemudian mempresentasikan isi bacaan mereka di depan kelas menggunakan metode ceramah sederhana tanpa analisis kritis.
Menggunakan metode tanya jawab langsung tentang materi Jazirah Arab pra-Islam, siswa menjawab pertanyaan guru secara bergantian, kemudian guru memberikan penilaian berdasarkan ketepatan jawaban tanpa memberikan kesempatan diskusi atau eksplorasi lebih dalam.
Pak Hasan mengajar materi "Peristiwa Hijrah Nabi ke Madinah" di kelas VII MTs Al-Ikhlas. Ia mengamati bahwa siswa-siswanya mengalami kesulitan dalam memahami makna strategis dan hikmah di balik peristiwa hijrah. Banyak siswa yang hanya memahami hijrah sebagai perpindahan geografis biasa tanpa memahami dimensi spiritual, sosial, dan politik yang kompleks. Materi dalam buku teks disajikan secara kronologis sederhana yang kurang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pak Hasan menyadari bahwa pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa generasi Alpha yang membutuhkan pengalaman belajar yang interaktif, kolaboratif, dan bermakna. Ia ingin menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan, di mana siswa dapat mengeksplorasi materi melalui berbagai perspektif dan mengaitkannya dengan pengalaman hidup mereka. Pak Hasan berencana menggunakan pendekatan Project-Based Learning (PjBL) untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam merencanakan, mengorganisir, dan merefleksikan pembelajaran mereka sendiri. Ia juga ingin mengembangkan karakter siswa seperti ketabahan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan beradaptasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan. Strategi pembelajaran berpendekatan PjBL yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan menghasilkan lulusan berkarakter unggul dan berdaya saing adalah...
Siswa diminta menghafal kronologi peristiwa hijrah secara detail, kemudian guru mengadakan tes lisan untuk menguji hafalan mereka, diikuti pemberian nilai berdasarkan ketepatan urutan peristiwa tanpa analisis makna atau hikmah yang terkandung di dalamnya.
Siswa bekerja dalam tim untuk merancang proyek simulasi pengambilan keputusan hijrah, membuat dokumen digital tentang perjalanan hijrah dengan analisis strategis, dan mempresentasikan hasil proyek dengan menghubungkan nilai-nilai hijrah dengan tantangan kehidupan modern.
Guru menyampaikan ceramah tentang peristiwa hijrah selama beberapa pertemuan, siswa mencatat materi dengan seksama, kemudian mengerjakan tugas merangkum materi dalam bentuk mind map sederhana tanpa eksplorasi lebih lanjut tentang makna hijrah.
Memberikan tugas individu kepada siswa untuk membaca berbagai sumber tentang hijrah, kemudian menulis esai reflektif tentang peristiwa tersebut, dan guru memberikan feedback tertulis tanpa diskusi kelas atau sharing pengalaman antar siswa.
Menggunakan metode diskusi kelas tentang peristiwa hijrah, siswa berbagi pendapat mereka secara bergantian, guru memfasilitasi diskusi dengan memberikan pertanyaan pancingan, kemudian siswa menulis kesimpulan diskusi secara individual tanpa produk nyata.
Bu Aminah mengajar materi "Strategi Dakwah Abu Bakar dan Umar bin Khattab" di kelas VIII MTs Darul Ulum. Dalam pembelajaran sebelumnya, ia menemukan bahwa siswa kesulitan memahami perbedaan gaya kepemimpinan dan strategi dakwah kedua khalifah tersebut. Materi yang tersedia dalam buku teks cenderung menyajikan informasi secara terpisah tanpa analisis komparatif yang mendalam. Siswa juga menunjukkan kurangnya kemampuan dalam mengaitkan strategi kepemimpinan historis dengan konteks kepemimpinan modern. Bu Aminah menyadari bahwa pembelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan karakteristik siswa yang membutuhkan pengalaman belajar yang membahagiakan dan bermakna. Ia ingin menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Bu Aminah berencana menggunakan pendekatan Differentiated-Based Learning (DBL) untuk memberikan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan individual siswa. Ia juga ingin mengembangkan karakter kepemimpinan, integritas, dan kemampuan komunikasi siswa yang akan berguna dalam kehidupan mereka sebagai pemimpin masa depan. Strategi pembelajaran berpendekatan DBL yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang membahagiakan dan menghasilkan lulusan berkarakter unggul dan berdaya saing adalah...
Membagi siswa berdasarkan kemampuan akademik, kelompok tinggi menganalisis strategi Abu Bakar, kelompok sedang menganalisis strategi Umar, kelompok rendah menghafal nama-nama sahabat, kemudian setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka secara terpisah tanpa interaksi lintas kelompok.
Menyediakan pilihan aktivitas pembelajaran yang beragam sesuai gaya belajar siswa: analisis kasus kepemimpinan untuk siswa analitis, role play strategi dakwah untuk siswa kinestetik, pembuatan infografis komparatif untuk siswa visual, dan podcast diskusi untuk siswa auditori, diikuti refleksi kolektif tentang relevansi dengan kepemimpinan modern.
Memberikan materi yang sama kepada seluruh siswa tentang kedua khalifah, kemudian siswa mengerjakan soal pilihan ganda dengan tingkat kesulitan yang sama, dan guru memberikan nilai berdasarkan jumlah jawaban benar tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran individual.
Menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan strategi dakwah kedua khalifah, siswa mendengarkan dengan seksama dan mencatat poin-poin penting, kemudian mengerjakan tugas merangkum materi dalam bentuk tabel perbandingan sederhana tanpa diferensiasi aktivitas.
Menugaskan seluruh siswa untuk membaca buku biografi Abu Bakar dan Umar dari perpustakaan, kemudian menulis laporan bacaan dengan format yang sama, dan mempresentasikan hasil bacaan mereka di depan kelas secara bergiliran dengan waktu yang sama.
Pak Ridwan mengajar materi "Strategi Dakwah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib" di kelas VIII MTs Negeri 5 Surabaya. Ia menghadapi tantangan dalam menyajikan materi yang sensitif terkait periode fitnah dalam sejarah Islam awal. Siswa-siswanya menunjukkan keingintahuan tinggi namun juga kebingungan tentang konflik internal yang terjadi pada masa kepemimpinan kedua khalifah tersebut. Materi dalam buku teks disajikan secara faktual namun kurang memberikan analisis mendalam tentang kompleksitas situasi politik dan sosial pada masa itu. Pak Ridwan menyadari bahwa pembelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa akan pemahaman sejarah objektif dan kritis. Ia ingin menciptakan suasana belajar yang akomodatif, di mana siswa dengan berbagai latar belakang pemahaman dapat belajar bersama dengan nyaman. Pak Ridwan berencana menggunakan model pembelajaran Deep Learning (DL) untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang kompleksitas kepemimpinan dalam situasi krisis. Ia juga ingin mengembangkan karakter siswa seperti kebijaksanaan, kemampuan mediasi, dan pemahaman tentang pentingnya persatuan dalam menghadapi perbedaan pendapat. Model pembelajaran berpendekatan DL yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang akomodatif dan menghasilkan lulusan berkarakter unggul dan berdaya saing adalah...
Siswa menghafal kronologi peristiwa pada masa Utsman dan Ali, kemudian guru mengadakan kuis untuk menguji hafalan mereka, diikuti pemberian penjelasan singkat tentang sebab-akibat peristiwa tanpa diskusi mendalam atau analisis perspektif yang berbeda.
Menggunakan studi kasus multilayer tentang tantangan kepemimpinan dalam situasi krisis, analisis perspektif berbagai pihak yang terlibat, simulasi mediasi konflik berdasarkan prinsip Islam, dan refleksi kritis tentang pembelajaran kepemimpinan untuk konteks modern yang relevan.
Guru menyampaikan materi melalui ceramah komprehensif tentang kedua khalifah, siswa mencatat informasi penting, kemudian mengerjakan tugas membuat timeline peristiwa penting pada masa kepemimpinan mereka tanpa analisis mendalam tentang kompleksitas situasi.
Memberikan tugas kelompok untuk membaca sumber-sumber berbeda tentang Utsman dan Ali, kemudian setiap kelompok mempresentasikan informasi yang mereka peroleh tanpa analisis kritis atau diskusi lintas kelompok tentang perspektif yang berbeda.
Menayangkan video dokumenter tentang sejarah Islam awal, siswa menonton dengan seksama dan membuat catatan, kemudian guru memberikan kuis tentang informasi faktual yang terdapat dalam video tersebut tanpa eksplorasi makna yang lebih dalam.
Bu Siti mengajar materi “Pemikiran Tokoh-tokoh Islam Indonesia Era Modern Kontemporer” di kelas IX MTs Al-Azhar. Ia mengamati bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami relevansi pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan tantangan kehidupan modern. Materi yang tersedia dalam buku teks cenderung menyajikan biografi tokoh secara terpisah tanpa analisis keterkaitan pemikiran mereka dengan perkembangan Islam di Indonesia. Siswa juga menunjukkan kurangnya kemampuan menganalisis bagaimana pemikiran tokoh-tokoh tersebut dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial. Bu Siti menyadari bahwa pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa generasi digital yang membutuhkan pengalaman belajar yang adaptif dan relevan dengan kehidupan mereka. Ia ingin menciptakan suasana belajar yang dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Bu Siti berencana menggunakan model pembelajaran berpendekatan TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge) untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan strategi pedagogi yang tepat dalam menyampaikan konten tentang pemikiran tokoh Islam Indonesia. Ia juga ingin mengembangkan karakter siswa seperti apresiasi terhadap khazanah intelektual Islam Indonesia, kemampuan berpikir kontekstual, dan keterampilan dalam mengadaptasi nilai-nilai Islam untuk kehidupan modern. Model pembelajaran berpendekatan TPACK yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang adaptif dan menghasilkan lulusan berkarakter unggul dan berdaya saing adalah
Siswa membaca biografi tokoh-tokoh Islam Indonesia dari buku teks, kemudian membuat rangkuman tertulis tentang kehidupan dan pemikiran mereka, diikuti presentasi individu di depan kelas tanpa menggunakan teknologi digital atau analisis keterkaitan antar pemikiran tokoh.
Mengintegrasikan konten pemikiran tokoh Islam Indonesia dengan pedagogi inquiry-based learning dan collaborative learning, memanfaatkan teknologi platform digital untuk research virtual, aplikasi mind mapping untuk analisis pemikiran, dan tools presentasi interaktif untuk sharing session tentang relevansi pemikiran tokoh dengan tantangan kontemporer.
Guru menyampaikan ceramah komprehensif tentang tokoh-tokoh Islam Indonesia menggunakan slide presentasi, siswa mendengarkan dan mencatat informasi penting, kemudian mengerjakan kuis online tentang fakta-fakta biografis tokoh tanpa analisis mendalam tentang pemikiran mereka.
Memberikan tugas individu kepada siswa untuk mencari informasi tokoh Islam Indonesia melalui internet, menulis esai tentang satu tokoh pilihan mereka, dan mengumpulkan tugas melalui email tanpa diskusi atau sharing dengan teman sekelas.
Menggunakan video pembelajaran tentang sejarah Islam Indonesia, siswa menonton melalui platform online dan membuat catatan digital, kemudian guru memberikan evaluasi berupa tes pilihan ganda melalui aplikasi kuis tanpa eksplorasi lebih lanjut tentang aplikasi pemikiran tokoh.
