wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS FARMAKOLOGI-TOKSIKOLOGI II

Total questions: 70

Worksheet time: 48mins

Name
Class
Date
1.

Rinitis alergi merupakan gangguan inflamasi yang diperantarai oleh IgE pada membran mukosa hidung. Manifestasi klinis yang TIDAK umum ditemukan pada rinitis alergi adalah:

a)

Rinorea (ingus encer)

b)

Bersin berulang

c)

Gatal pada hidung dan mata

d)

Hilangnya kemampuan penciuman secara total (anosmia permanen)

e)

Hidung tersumbat

2.

Patofisiologi utama rinitis alergi melibatkan pelepasan mediator inflamasi dari sel mast setelah terpapar alergen. Mediator utama yang bertanggung jawab terhadap gejala awal (bersin, gatal) adalah:

a)

Leukotrien

b)

Histamin

c)

Prostaglandin

d)

Bradikinin

e)

Sitokin

3.

Antihistamin generasi pertama seperti difenhidramin dan klorfeniramin memiliki efek samping yang signifikan yang membatasi penggunaannya. Efek samping yang paling khas adalah:

a)

Takhikardia

b)

Hipertensi

c)

Mengantuk (sedasi)

d)

Retensi urin

e)

Gangguan pencernaan

4.

Kelebihan utama antihistamin generasi kedua (misal: loratadin, cetirizin, feksofenadin) dibandingkan generasi pertama adalah:

a)

Efek antiinflamasinya lebih kuat

b)

Penetrasi ke susunan saraf pusat lebih rendah, sehingga lebih sedikit menyebabkan kantuk (sedasi)

c)

Dapat menyembuhkan rinitis alergi secara permanen

d)

Harganya lebih murah

e)

Juga berfungsi sebagai dekongestan kuat

5.

Mekanisme kerja antihistamin baik generasi pertama maupun kedua adalah dengan:

a)

Meningkatkan pelepasan histamin dari sel mast

b)

Berkompetisi menghambat reseptor-H1 histamin perifer dan sentral

c)

Meningkatkan sintesis histamin

d)

Menstimulasi reseptor beta-2 adrenergik

e)

Menghambat fosfodiesterase

6.

Salah satu contoh antihistamin yang memiliki efek sedasi kuat sehingga dapat pula digunakan sebagai obat tidur adalah:

a)

Loratadin

b)

Cetirizin

c)

Feksofenadin

d)

Desloratadin

e)

Diphenhydramine HCl

7.

Penggunaan obat dekongestan nasal seperti oksimetazolin atau fenilefrin tetes/spray hidung harus dibatasi maksimal 5-7 hari. Penggunaan yang lebih lama berisiko menyebabkan:

a)

Rinitis infeksiosa

b)

Rinitis medikamentosa (rebound congestion)

c)

Atrofi mukosa hidung

d)

Gangguan penciuman permanen

e)

Hipertensi pulmonal

8.

Dekongestan oral seperti pseudoefedrin bekerja dengan cara:

a)

Menghambat reseptor muskarinik

b)

Menghambat fosfodiesterase

c)

Menyebabkan vasokonstriksi melalui stimulasi reseptor alfa-adrenergik

d)

Menstabilkan membran sel mast

e)

Menghambat siklooksigenase

9.

Kontraindikasi utama dari penggunaan dekongestan oral (misal pseudoefedrin) adalah pada pasien dengan:

a)

Hipotensi

b)

Hipertensi, penyakit jantung koroner, dan glaukoma sudut tertutup

c)

Diabetes mellitus tipe 2

d)

Gastritis

e)

Osteoporosis

10.

Kombinasi antara antihistamin generasi pertama dengan dekongestan oral (misal CTM + pseudoefedrin) sering digunakan. Salah satu tujuan kombinasi ini adalah:

a)

Meningkatkan efek sedasi

b)

Mengatasi gejala hidung tersumbat yang kurang direspons oleh antihistamin saja

c)

Mencegah terjadinya rinitis medikamentosa

d)

Mengurangi risiko efek sampang kardiovaskular

e)

Memperpendek durasi terapi

11.

Manakah berikut ini yang merupakan obat antihistamin generasi kedua yang bersifat selektif dan kurang atau bahkan tidak menyebabkan mengantuk:

a)

Cetrizine

b)

Fexofenadine

c)

Levocetrizine

d)

Loratadine

e)

Semua Benar

12.

Manakah berikut ini yang merupakan obat antihistamin generasi pertama yang bersifat non-selektif dan menyebabkan efek sedasi (mengantuk):

a)

Chlorpheniramine Maleate (CTM)

b)

Chlemastine Fumarate

c)

Diphenhydramine HCl

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

13.

Pada rinitis alergi persisten berat, terapi lini pertama yang direkomendasikan adalah:

a)

Antihistamin oral generasi pertama

b)

Dekongestan oral

c)

Kortikosteroid intranasal (misal: mometason, flutikason)

d)

Antihistamin intranasal

e)

Antihistamin oral generasi pertama

14.

Efek samping yang perlu diwaspadai dari penggunaan kortikosteroid intranasal dosis tinggi atau dalam jangka panjang adalah:

a)

Rinitis medikamentosa

b)

Iritasi lokal, epistaksis (mimisan), dan sangat jarang perforasi septum

c)

Takikardia dan palpitasi

d)

Sedasi berat

e)

Gangguan fungsi hati

15.

Obat antihistamin digunakan pada pengobatan:

a)

Hipertensi

b)

Asma

c)

Diabetes

d)

Gagal ginjal

e)

Rinitis alergi

16.

Secara Umum rhinitis alergi dibagi menjadi:

a)

Rinitis Alergi Musiman

b)

Rinitis Alergi Persisten

c)

Kombinasi tipe Rinitis Alergi Musiman dan Rinitis Alergi Persisten

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

17.

Secara Umum antihistamin oral pada pengobatan rhinitis alergi terdiri atas 2 kategori yaitu:

a)

Non-selektif (generasi pertama)

b)

Selektif (generasi kedua)

c)

Generasi pertama bersifat sedatif (menyebabkan kantuk)

d)

Generasi kedua kurang atau bahkan tidak bersifat sedatif (menyebabkan kantuk)

e)

Semua Benar

18.

Manakah berikut ini yang benar terkait dosis Chlorpheniramine Maleat (CTM):

a)

Dewasa 4 mg 3-4 kali sehari

b)

Dewasa 12 mg 3-4 kali sehari

c)

Dewasa 1,34 mg 3-4 kali sehari

d)

Dewasa 50 mg 3-4 kali sehari

e)

Dewasa 25 mg 3-4 kali sehari

19.

Manakah berikut ini yang merupakan golongan obat dekongestan pada pengobatan rhinitis alergi:

a)

Pseudoephedrine oral

b)

Phenylephrine oral

c)

Oxymetazoline Nasal

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

20.

Secara farmakologi obat rhinitis alergi terdiri atas:

a)

Antihistamin

b)

Dekongestan

c)

Nasal Kortikosteroid

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

21.

Asma merupakan penyakit heterogeny yang ditandai berupa inflamasi kronik pada aliran nafas. Adapun tanda-tandanya berupa:

a)

Mengi (Wheezing)

b)

Nafas Pendek

c)

Sesak

d)

Batuk

e)

Semua Benar

22.

Obat yang termasuk dalam kelompok Short-Acting Beta-2 Agonists (SABA) dan digunakan sebagai terapi pelega (reliever) adalah:

a)

Salmeterol

b)

Formoterol

c)

Salbutamol (Albuterol)

d)

Budesonid

e)

Tiotropium

23.

Bentuk sediaan inhaler dosis terukur (MDI: Metered Dose Inhaler) memerlukan koordinasi yang baik antara penekanan kanister dan inhalasi. Alat bantu yang dapat meningkatkan deposisi obat di paru dan memudahkan penggunaan, terutama pada anak dan lansia adalah:

a)

Spacer (alat bantu ruang hirup)

b)

Nebulizer

c)

Dry Powder Inhaler (DPI)

d)

Soft Mist Inhaler

e)

Nasal cannula

24.

Long-Acting Beta-2 Agonists (LABA) seperti salmeterol harus HARUS digunakan bersama dengan Inhaled Corticosteroids (ICS) pada pengobatan asma. Hal ini karena:

a)

LABA dapat meningkatkan efek samping ICS

b)

Penggunaan LABA tanpa ICS meningkatkan risiko kematian asma dan kejadian asma berat

c)

ICS mengurangi takhikardia yang disebabkan LABA

d)

Kombinasi tersebut lebih murah

e)

LABA menurunkan bioavailabilitas ICS

25.

Contoh kombinasi tetap ICS/LABA yang banyak digunakan dalam terapi pemeliharaan asma adalah:

a)

Salbutamol + Ipratropium bromida

b)

Budesonid + Formoterol

c)

Montelukast + Theophylline

d)

Beclomethasone + Salbutamol

e)

Flutikason + Salbutamol

26.

Inhaled Corticosteroids (ICS) bekerja sebagai controller dengan cara:

a)

Menenangkan inflamasi saluran napas, mengurangi hiperresponsif, dan mencegah gejala

b)

Melebarkan bronkus secara cepat dalam hitungan menit

c)

Mengencerkan dahak yang menyumbat saluran napas

d)

Membunuh bakteri penyebab infeksi sekunder

e)

Menghambat refleks batuk

27.

Salah satu efek samping sistemik jangka panjang dari penggunaan kortikosteroid oral (misal prednison) pada asma berat adalah:

a)

Hipertensi

b)

Diabetes mellitus

c)

Osteoporosis

d)

Semua Benar

28.

Obat yang termasuk antagonis muskarinik kerja panjang (LAMA) dan dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada asma adalah:

a)

Ipratropium bromida (SAMA)

b)

Tiotropium

c)

Salbutamol

d)

Theophylline

e)

Zafirlukast

29.

Obat yang bekerja dengan cara menghambat enzim fosfodiesterase, memiliki jendela terapi sempit, dan memerlukan pemantauan kadar darah adalah:

a)

Montelukast

b)

Theophylline

c)

Omalizumab

d)

Salmeterol

e)

Prednisolon

30.

Istilah DPI (Dry Powder Inhaler) mengacu pada:

a)

Inhaler yang menggunakan propelan untuk menyemprotkan obat

b)

Inhaler yang mengandung obat dalam bentuk bubuk kering dan diaktifkan oleh nafas dalam pasien

c)

Alat untuk pemberian obat cair menjadi uap

d)

Inhaler yang selalu membutuhkan spacer

e)

Inhaler yang hanya berisi obat kortikosteroid

31.

Pada pengobatan asma intermiten/Step 1 pada usia 12 tahun ke atas yang direkomendasikan adalah:

a)

SABA sesuai kebutuhan (PRN)

b)

LABA setiap hari

c)

ICS setiap hari

d)

Kombinasi ICS/LABA sesuai kebutuhan

e)

Kortikosteroid oral sesuai kebutuhan

32.

Algoritma Pengobatan Asma dibagi menjadi 6 Step (Langkah) berdasarkan tingkat keparahan asma, yaitu:

a)

Step 1

b)

Step 2

c)

Step 3&4

d)

Step 5&6

e)

Semua Benar

33.

Obat asma dapat berupa:

a)

ICS

b)

SABA

c)

LABA

d)

Kortikosteroid Oral Sistemik

e)

Semua Benar

34.

Berdasarkan tingkat keparahan asma dibagi menjadi:

a)

Asma Intermiten

b)

Asma Persisten Ringan (Mild)

c)

Asma Persisten Sedang (Moderate)

d)

Asma Persisten Berat/Parah (Severe)

e)

Semua Benar

35.

Mekanisme terjadinya secara patofisiologi yaitu adanya ikatan antara alergen dengan IgE pada permukaan Mast Sel yang menyebabkan mast sel terdeagranulasi dan melepaskan mediator, salah satunya adalah:

a)

Kolinergik

b)

Histamin

c)

Epinefrin

d)

Adrenalin

e)

Penilefrin

36.

Pada pengobatan asma persisten Ringan (Mild)/Step 2 pada usia 12 tahun ke atas yang direkomendasikan adalah:

a)

SABA sesuai kebutuhan (PRN)

b)

ICS dosis rendah dan SABA bila perlu (PRN)

c)

ICS setiap hari

d)

Kombinasi ICS/LABA sesuai kebutuhan

e)

Kortikosteroid oral sesuai kebutuhan

37.

Pada pengobatan asma istilah "SABA" yaitu singkatan dari:

a)

Short-Acting β2-Agonist

b)

Long-Acting β2-Agonist

c)

Inhaled Corticosteroids

d)

Leukotriene Receptor Antagonist

e)

Kortikosteroid oral sistemik

38.

Pada pengobatan asma istilah "LABA" yaitu singkatan dari:

a)

Short-Acting β2-Agonist

b)

Long-Acting β2-Agonist

c)

Inhaled Corticosteroids

d)

Leukotriene Receptor Antagonist

e)

Kortikosteroid oral sistemik

39.

Pada pengobatan asma istilah "ICS" yaitu singkatan dari:

a)

a. Short-Acting β2-Agonist

b)

b. Long-Acting β2-Agonist

c)

c. Inhaled Corticosteroids

d)

d. Leukotriene Receptor Antagonist

e)

e. Kortikosteroid oral sistemik

40.

Pada pengobatan asma istilah "LTRA" yaitu singkatan dari:

a)

Short-Acting β2-Agonist

b)

Long-Acting β2-Agonist

c)

Inhaled Corticosteroids

d)

Leukotriene Receptor Antagonist

e)

Kortikosteroid oral sistemik

41.

Manakah pernyataan berikut ini yang benar terkait Anemia?:

a)

merupakan penyakit yang ditandai oleh kurangnya Hemoglobin (Hb) dan volume sel darah merah

b)

Berkurangnya kapasitas-angkut oksigen dalam darah

c)

Kadar Hb kurang dari 13g/dL (Laki-laki)

d)

Kadar Hb kurang dari 12g/dL (Perempuan)

e)

Semua Benar

42.

Anemia dapat disebabkan karena kekurangan (defisiensi)?:

a)

Vitamin B12

b)

Asam Folat

c)

Zat Besi (Fe)

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

43.

Terapi lini pertama untuk anemia defisiensi besi adalah pemberian suplementasi besi (Ferrous/Fe) oral. Preparat garam besi yang umum digunakan adalah:

a)

Ferrous Sulfate

b)

Ferrous Gluconate

c)

Ferrous Fumarate

d)

Ferrous Maltol

e)

Semua Benar

44.

Efek samping yang paling sering menyebabkan ketidakpatuhan dalam terapi besi oral adalah:

a)

Urin berwarna kemerahan

b)

Gangguan GI seperti mual, konstipasi, dan nyeri ulu hati

c)

Reaksi anafilaksis

d)

Hipertensi

e)

Neurotoksisitas

45.

Untuk meningkatkan absorpsi besi oral, sebaiknya diberikan:

a)

Bersamaan dengan susu atau antasida

b)

Dalam keadaan perut kosong atau dengan vitamin C (asam askorbat)

c)

Setelah makan berat yang kaya serat

d)

Bersamaan dengan suplemen kalsium

e)

Pada malam hari sebelum tidur

46.

Indikasi utama pemberian besi parenteral (misal: besi sukrosa atau ferrik karboksimaltosa) adalah:

a)

Semua pasien anemia defisiensi besi

b)

Intoleransi berat terhadap besi oral, malabsorpsi, atau kehilangan darah yang cepat/berat

c)

Anemia defisiensi B12

d)

Pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium akhir

e)

Sebagai terapi pertama karena lebih efektif

47.

Berikut jenis anemia adalah:

a)

Anemia Defisiensi Besi

b)

Anemia Defisiensi B12

c)

Anemia Defisiensi Asam Folat

d)

Anemia Karena Inflamasi

e)

Semua Benar

48.

Manakah pernyataan berikut yang benar tentang Vit.B12:

a)

Dapat dihasilkan secara intrinsik dalam tubuh pada lambung

b)

Produksinya dapat dicegah/dihalangi oleh penggunaan obat Ranitidine

c)

Defisiensi/Kurangnya Vit.B12 dalam tubuh menyebabkan anemia megaloblastik

d)

Semua Benar

e)

Semua Salah

49.

Pyridoxine (Vitamin B6) merupakan terapi yang mungkin bermanfaat untuk jenis anemia sideroblastik tertentu, khususnya yang:

a)

Diinduksi oleh alkohol

b)

Bersifat herediter/kongenital

c)

Diinduksi oleh timbal

d)

Menyertai keganasan

e)

Semua jawaban benar

50.

Obat yang dapat menyebabkan anemia sideroblastik sebagai efek toksiknya adalah:

a)

Suplemen besi oral

b)

Kloramfenikol atau Isoniazid

c)

Asam folat

d)

Eritropoietin

e)

Vitamin B12

51.

Penyebab anemia megaloblastik yang paling sering adalah:

a)

Defisiensi besi

b)

Defisiensi vitamin B12 dan/atau asam folat

c)

Penyakit ginjal kronik

d)

Hemolisis

e)

Anemia aplastik

52.

Perbedaan utama manifestasi neurologi antara defisiensi B12 dan defisiensi asam folat adalah:

a)

a. Defisiensi folat selalu menyebabkan neuropati

b)

b. Defisiensi B12 dapat menyebabkan neuropati perifer dan degenerasi kombinasi subakut medula spinalis, sedangkan defisiensi folat umumnya tidak

c)

c. Keduanya menyebabkan gejala neurologi yang identik

d)

d. Hanya defisiensi folat yang menyebabkan demensia

e)

e. Gejala neurologi lebih berat pada defisiensi folat

53.

Penyebab malabsorpsi vitamin B12 yang paling klasik adalah:

a)

Gastritis akut

b)

Anemia pernisiosa (karena tidak adanya faktor intrinsik dari sel parietal lambung)

c)

Penyakit Crohn ileum terminal

d)

Penggunaan antasida jangka panjang

e)

Sirosis hepatis

54.

Terapi standar untuk anemia pernisiosa atau malabsorpsi B12 adalah:

a)

Sianokobalamin atau hidroksokobalamin intramuskular/suntikan

b)

Vitamin B12 dosis tinggi oral (hanya pada kasus ringan)

c)

Suplementasi asam folat saja

d)

Transfusi darah rutin

e)

Pemberian eritropoietin

55.

Asam folat oral digunakan untuk mengobati anemia megaloblastik akibat defisiensi folat. Suplementasi ini sangat penting pada kelompok berikut, KECUALI:

a)

Pasien dengan anemia pernisiosa yang belum diterapi dengan B12 (dapat memperberat gejala neurologi)

b)

Wanita hamil untuk mencegah NTD (Neural Tube Defects)

c)

Pasien dengan malabsorpsi seperti penyakit celiac

d)

Pasien yang mengonsumsi obat antagonis folat seperti metotreksat atau trimetoprim

e)

Pecandu alkohol kronis

56.

Pemeriksaan laboratorium khas pada anemia megaloblastik adalah:

a)

MCV meningkat (makrositik), sel neutrofil hypersegmented

b)

MCV menurun (mikrositik), feritin rendah

c)

MCV normal (normositik), retikulosit meningkat

d)

Schistosit pada apus darah tepi

e)

Sel target pada apus darah tepi

57.

Obat yang dapat menyebabkan defisiensi asam folat dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase adalah:

a)

Omeprazol

b)

Metformin

c)

Metotreksat

d)

Fenitoin

e)

Kloramfenikol

58.

Patofisiologi utama anemia pada penyakit kronis (misal infeksi, inflamasi, keganasan) adalah:

a)

Defisiensi besi absolut

b)

Gangguan dalam pemanfaatan besi untuk eritropoiesis karena peningkatan hepsidin

c)

Penghancuran eritrosit secara langsung oleh sitokin

d)

Defisiensi eritropoietin yang parah

e)

Perdarahan saluran cerna

59.

Profil besi yang khas pada anemia penyakit kronis adalah:

a)

Besi serum rendah, TIBC rendah, feritin normal atau tinggi

b)

Besi serum tinggi, TIBC tinggi, feritin rendah

c)

Besi serum rendah, TIBC tinggi, feritin rendah

d)

Besi serum normal, TIBC normal, feritin normal

e)

Besi serum sangat tinggi, TIBC sangat rendah, feritin sangat tinggi

60.

Manakah pernyataan berikut yang terkait Sel Darah Merah (Eritrosit)?:

a)

Komposisi Utama sel darah merah adalah Hemoglobin

b)

Kandungan Hemoglobin sel darah merah terdiri atas Protein dan Zat Besi (Fe)

c)

Hemoglobin bertanggung jawab dalam pengangkutan gas oksigen (O2)

d)

Warna merah pada darah yang berasal dari paru-paru disebabkan oleh kandungan oksigen yang terikat dengan Heme (Fe ) pada sel darah merah

e)

Semua Benar

61.

Erythropoiesis-Stimulating Agents (ESA) seperti Epoetin alfa dan Darbepoetin alfa digunakan secara utama pada:

a)

Anemia defisiensi besi

b)

Anemia aplastik kongenital

c)

Anemia pada penyakit ginjal kronik dan terkait kemoterapi kanker (dengan pertimbangan ketat)

d)

Semua jenis anemia untuk meningkatkan Hb dengan cepat

e)

Th

62.

Risiko utama penggunaan ESA yang mengharuskan pemantauan ketat adalah:

a)

Hipotensi

b)

Kejadian trombotik dan kemungkinan stimulasi pertumbuhan tumor

c)

Gagal hati akut

d)

Neuropati perifer

e)

Reaksi alergi tipe I

63.

Anemia aplastik dicirikan oleh:

a)

Hiperplasia sumsum tulang

b)

Pansitopenia dan hiposelularitas (kosong) pada sumsum tulang

c)

Eritrosit berinti banyak di darah tepi

d)

Peningkatan sel plasma di sumsum tulang

e)

Penumpukan besi di organ

64.

Obat yang diketahui dapat menyebabkan anemia aplastik idiosinkratik adalah:

a)

Suplemen besi

b)

Kloramfenikol

c)

Vitamin B12

d)

Asam folat

e)

Eritropoietin

65.

Terapi kuratif definitif untuk anemia aplastik berat pada pasien muda dengan donor cocok adalah:

a)

Transplantasi sel punca hematopoietik (Transplantasi Sumsum Tulang)

b)

Pemberian ESA dosis tinggi

c)

Terapi kortikosteroid jangka panjang

d)

Terapi besi parenteral

e)

Splenektomi

66.

Manakah pernyataan berikut yang benar terkait pemberian vitamin B12 pada kasus anemia:

a)

Dapat diberikan secara oral

b)

Dapat diberikan secara parenteral

c)

Pemberian oral awal pada dosis 1 mg sehari

d)

Pemberian secara parenteral sianokobalamin dengan dosis 1000 mcg selama seminggu kemudian dilanjutkan sekali seminggu dan sekali sebulan untuk pemeliharaan

e)

Semua Benar

67.

Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) pada kasus anemia:

a)

Pada Pemberian oral yang digunakan besi (Fe) dalam bentuk garamnya misalnya Ferrous Sulfate

b)

Zat Besi yang berasal dari makanan seperti ikan, daging dan unggas (misal hati dan ampela ayam) sangat mudah diserap

c)

Dapat diberikan dalam bentuk parenteral

d)

Pemberian Parenteral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral

e)

Semua Benar

68.

Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) secara parenteral pada kasus anemia:

a)

Pemberian Parenteral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral

b)

Senyawa besi yang digunakan adalah Natrium Besi Glukonat

c)

Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Pirofosfat Sitrat

d)

Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Karboksimaltosa

e)

Semua Benar

69.

Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi zat besi (Fe) secara oral pada kasus anemia:

a)

Pemberian oral bila terjadi malabsorbsi dan intoleransi pemberian secara oral

b)

Senyawa besi yang digunakan adalah Natrium Besi Glukonat

c)

Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Pirofosfat Sitrat

d)

Senyawa besi yang digunakan adalah Besi Karboksimaltosa

e)

Pemberian supplemen zat besi diberikan 1 jam sebelum makan

70.

Manakah pernyataan berikut yang benar terkait supplementasi asam folat secara oral pada kasus anemia defisiensi asam folat:

a)

Dosis Pemberian asam folat 1 mg sehari selama 4 bulan

b)

Bila terjadi malabsorbsi (gangguan penyerapan) dosisnya antara 1-5 mg sehari

c)

Pemberian secara parenteral dapat dilakuan meskipun jarang dilakukan

d)

Asam folat merupakan vitamin B yang dikenal dengan nama Vitamin B9

e)

Semua Benar