NEW
Font size
WorksheetsQuiz Miniblok Psikiatri - SGD 1
Total questions: 30
Worksheet time: 15mins
Pada skenario Sinta, istilah afek paling tepat didefinisikan sebagai:
Suasana hati yang menetap selama berminggu-minggu
Keadaan emosional subjektif yang dirasakan pasien
Ekspresi emosional yang tampak saat wawancara
Respons fisiologis terhadap stres
Pola pikir dominan terhadap diri sendiri
Perbedaan utama antara mood dan afek dalam pemeriksaan status mental adalah:
Mood lebih mudah diamati dibanding afek
Afek bersifat menetap dan jangka panjang
Mood mencerminkan emosi sesaat
Afek adalah ekspresi eksternal dari mood
Mood hanya dapat dinilai melalui kuesioner
Keluhan “tidak punya semangat hidup”, insomnia, dan anhedonia selama dua minggu paling mencerminkan gangguan:
Gangguan panik
Episode depresi
Gangguan cemas menyeluruh
Gangguan penyesuaian
Distimia
Gejala palpitasi, sesak napas, keringat dingin, dan rasa takut mati mendadak yang dialami Sinta paling sesuai dengan:
Fobia sosial
Gangguan cemas menyeluruh
Serangan panik
Gangguan somatoform
Reaksi stres akut
Ciri yang paling khas dari serangan panik adalah:
Kekhawatiran menetap sepanjang hari
Gejala muncul perlahan dan progresif
Episode ketakutan intens yang muncul mendadak
Selalu dipicu stresor yang jelas
Tidak disertai gejala fisik
Perubahan perilaku berupa sangat bersemangat, bicara cepat, tidur hanya dua jam, dan ide grandios pada Sinta mengarah ke:
Episode depresif berat
Hipomania
Mania
Gangguan cemas menyeluruh
Gangguan kepribadian
Perbedaan utama mania dan hipomania adalah:
Mania selalu disertai halusinasi
Hipomania berlangsung lebih lama
Mania menyebabkan gangguan fungsi yang nyata
Hipomania selalu disertai depresi
Mania tidak memerlukan perawatan
Ketidakseimbangan neurotransmiter yang paling berperan pada gangguan afek dan cemas adalah:
Asetilkolin dan histamin
Dopamin, serotonin, norepinefrin, dan GABA
Glutamat dan aspartat saja
Endorfin dan enkefalin
Melatonin dan adenosin
Peran utama GABA dalam konteks kecemasan adalah:
Meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis
Menurunkan ambang stres
Menghambat eksitabilitas neuron
Memicu respon fight-or-flight
Meningkatkan kewaspadaan
Respons fisiologis panik berkaitan erat dengan aktivasi:
Sistem saraf parasimpatis
Sistem dopaminergik mesokortikal
Sistem saraf simpatis
Sistem limbik saja
Sistem motorik volunter
Hubungan stres psikososial dan gejala panik secara fisiologis terutama dimediasi oleh:
Aktivasi HPA axis
Penurunan kortisol
Inhibisi hipotalamus
Aktivasi serotonin perifer
Penurunan katekolamin
Stresor psikososial pada skenario Sinta terutama berupa:
Penyakit kronik
Konflik keluarga berat
Tekanan akademik dan performa
Penggunaan zat
Trauma fisik
Pendekatan biopsikososial–spiritual menekankan bahwa gangguan afektif:
Murni akibat gangguan otak
Disebabkan kelemahan iman
Hasil interaksi berbagai dimensi manusia
Tidak dipengaruhi faktor sosial
Tidak memerlukan pendekatan spiritual
Contoh mekanisme koping maladaptif yang mungkin muncul pada Sinta adalah:
Mencari dukungan sosial
Refleksi diri dan doa
Menghindari seluruh aktivitas akademik
Konsultasi dengan konselor
Manajemen waktu
Pemeriksaan status mental pada Sinta sebaiknya memfokuskan penilaian pada:
Orientasi dan memori jangka panjang
Afek, mood, pikiran, dan persepsi
Fungsi eksekutif saja
Insight dan judgement saja
Status neurologis lengkap
Sikap dokter yang paling tepat dalam komunikasi terapeutik dengan Sinta adalah:
Memberi nasihat tegas agar lebih bersyukur
Menyangkal perasaan pasien
Mendengarkan aktif dan validasi emosi
Langsung memberi label diagnosis
Menghindari pembicaraan emosi
Validasi emosi berarti:
Menyetujui semua pikiran pasien
Mengakui perasaan pasien sebagai nyata
Menghentikan ekspresi emosi pasien
Mengalihkan topik pembicaraan
Mengganti emosi negatif dengan logika
Prinsip anti-stigma dalam kasus Sinta menuntut dokter untuk:
Merahasiakan kondisi pasien sepenuhnya
Menghindari pembahasan gangguan mental
Tidak memberi label negatif
Menyarankan cuti akademik segera
Membatasi interaksi sosial pasien
Dalam konteks Islam, konsep rahmah dalam pelayanan psikiatri berarti:
Memberi hukuman edukatif
Pendekatan penuh kasih dan empati
Penilaian moral terhadap pasien
Menyerahkan sepenuhnya pada ibadah
Menghindari intervensi medis
Konsep tawakal sebagai mekanisme koping spiritual bermakna:
Pasrah tanpa usaha
Menghindari stres sepenuhnya
Usaha optimal disertai penyerahan diri
Mengganti terapi medis
Menghilangkan emosi negatif
Perubahan mood cepat dari sedih ke sangat gembira menunjukkan:
Afek tumpul
Labil afek
Distimia
Waham
Insight buruk
Faktor biologis tambahan yang perlu dipikirkan sebagai diagnosis banding pada kasus ini adalah:
Gangguan elektrolit
Disfungsi tiroid
Infeksi kronik
Tumor otak
Epilepsi
Hipotesis sederhana yang diajukan pada skenario menyebutkan bahwa gangguan emosi Sinta:
Disebabkan gangguan kepribadian
Akibat tunggal stres akademik
Dipengaruhi ketidakseimbangan neurotransmiter dan stres
Tidak memiliki dasar biologis
Bersifat simulasi
Seven jump langkah pertama dalam pembahasan skenario adalah:
Brainstorming
Sintesis
Klarifikasi istilah
Strukturisasi masalah
Penetapan diagnosis
Tujuan utama metode Problem Based Learning pada skenario ini adalah:
Memberi jawaban pasti
Melatih hafalan diagnosis
Mengembangkan berpikir kritis dan integratif
Menggantikan kuliah pakar
Mengurangi peran tutor
Peran tutor dalam diskusi skenario adalah:
Memberikan diagnosis final
Mengarahkan dan memfasilitasi diskusi
Menilai benar-salah setiap pendapat
Mendominasi diskusi
Menguji mahasiswa
Pendekatan terbaik terhadap pasien seperti Sinta adalah:
Biologis saja
Psikologis saja
Sosial saja
Biopsikososial–spiritual
Farmakologis saja
Gangguan fungsi akademik pada Sinta terutama disebabkan oleh:
Kurang motivasi intrinsik
Intelegensi rendah
Fluktuasi emosi dan kecemasan
Konflik dengan dosen
Gangguan memori
Kalimat “gangguan afek dan cemas bukan kelemahan karakter” menekankan bahwa:
Pasien harus lebih disiplin
Gangguan mental bersifat biologis dan psikososial
Terapi tidak diperlukan
Semua orang pasti mengalaminya
Masalah ini ringan
Makna utama skenario 1 bagi calon dokter adalah:
Menentukan diagnosis psikiatri sedini mungkin
Menghafal klasifikasi gangguan mental
Memahami manusia secara utuh, bukan hanya gejala
Mengutamakan terapi farmakologis
Menghindari keterlibatan emosional
