WorksheetsUTS Imunologi D3 Semester 2
Total questions: 50
Worksheet time: 25mins
Name
Class
Date
1.
Pada pemeriksaan Widal semi-kuantitatif, istilah titer merujuk pada ….
a)
Jumlah antigen yang digunakan dalam reaksi
b)
Pengenceran tertinggi serum yang masih menunjukkan aglutinasi
c)
Waktu yang dibutuhkan hingga reaksi terbentuk
d)
Konsentrasi antibodi absolut dalam darah
e)
Derajat kekeruhan suspensi antigen
2.
Dalam pemeriksaan imunologi, sampel yang paling sering digunakan adalah serum karena ….
a)
Serum mengandung sel darah putih yang aktif
b)
Serum tidak mengandung faktor komplemen
c)
Serum merupakan bagian darah yang mengandung antibodi
d)
Serum mengandung antigen dalam jumlah tinggi
e)
Serum lebih stabil dibandingkan plasma karena tidak mengandung protein
3.
Pemeriksaan Widal merupakan metode serologi yang bertujuan untuk mendeteksi ….
a)
Antigen Salmonella typhi
b)
Toksin Salmonella typhi
c)
Antibodi terhadap antigen O dan H Salmonella typhi
d)
DNA Salmonella typhi
e)
Komplemen spesifik terhadap Salmonella typhi
4.
Pemeriksaan pregnancy latex test digunakan untuk mendeteksi ….
a)
Antibodi anti-hCG
b)
Antigen hCG dalam urin atau serum
c)
Hormon estrogen
d)
Progesteron bebas
e)
Antibodi IgG maternal
5.
Waktu pembacaan hasil pada metode aglutinasi latex umumnya dilakukan dalam waktu ….
a)
10–15 detik
b)
30 detik
c)
1–2 menit
d)
5–10 menit
e)
15–20 menit
6.
Seorang wanita berusia 23 tahun datang ke laboratorium dengan keluhan demam tinggi selama 7 hari, nyeri kepala, dan gangguan pencernaan. Dokter mencurigai adanya demam tifoid dan meminta pemeriksaan Widal. Serum pasien diuji menggunakan antigen O dan H. Pada pengenceran 1/160 tampak aglutinasi jelas untuk antigen O. Pengenceran selanjutnya tidak menunjukkan reaksi. Hasil ini kemudian dicatat oleh TTLM.
Apakah interpretasi yang paling tepat dari hasil tersebut?
a)
Pasien pasti menderita demam tifoid akut
b)
Titer antibodi O pasien adalah 1/160
c)
Reaksi tersebut menunjukkan kelebihan antigen
d)
Aglutinasi menunjukkan adanya antigen dalam serum
e)
Hasil tersebut tidak bermakna secara klinis
7.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan Widal pada seorang pasien dengan riwayat demam berulang. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode slide agglutination. Setelah 2 menit, terlihat aglutinasi kasar pada antigen O, namun antigen H menunjukkan reaksi halus. Pasien mengaku pernah mengalami demam tifoid satu tahun lalu. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait interpretasi hasil.
Reaksi aglutinasi pada antigen H kemungkinan disebabkan oleh ….
a)
Infeksi akut yang baru terjadi
b)
Reaksi silang antigen
c)
Paparan lama atau infeksi sebelumnya
d)
Kesalahan teknik pemeriksaan
e)
Degradasi antigen
8.
Seorang pasien perempuan datang untuk pemeriksaan kehamilan menggunakan metode latex. Sampel urin diteteskan ke kartu uji dan dicampur dengan reagen latex. Setelah 1 menit tidak tampak adanya aglutinasi. Pemeriksaan diulang sesuai prosedur dan hasil tetap sama. TTLM kemudian mencatat hasil tersebut sebagai negatif.
Kesimpulan yang tepat dari hasil pemeriksaan tersebut adalah ….
a)
Tidak terdapat antibodi anti-hCG
b)
Tidak terjadi reaksi presipitasi
c)
Tidak terdeteksi antigen hCG dalam sampel
d)
Reagen latex mengalami kerusakan
e)
Konsentrasi antibodi terlalu tinggi
9.
Seorang ttlm melakukan pemeriksaan Widal pada sampel serum pasien dengan dugaan demam tifoid. Pada saat pembacaan hasil, analis mengamati bahwa reaksi aglutinasi pada antigen O tampak lebih kasar dan jelas, sedangkan reaksi pada antigen H terlihat lebih halus. Hasil tersebut kemudian dicatat sesuai prosedur pemeriksaan. Perbedaan tampilan reaksi ini berkaitan dengan sifat antigen yang digunakan.
Karakteristik aglutinasi antigen O yang benar adalah ….
a)
Halus dan lambat
b)
Kasar dan granular
c)
Tidak terlihat secara makroskopik
d)
Membutuhkan inkubasi lama
e)
Tidak bermakna klinis
10.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan aglutinasi latex pada sampel pasien sesuai prosedur. Namun, hasil reaksi baru dibaca setelah lebih dari 5 menit karena analis mengerjakan sampel lain terlebih dahulu. Pada saat pembacaan, tampak aglutinasi lemah yang sebelumnya tidak terlihat. Supervisor kemudian menyatakan bahwa hasil tersebut tidak dapat dijadikan dasar pelaporan.
Alasan utama pembacaan aglutinasi harus dilakukan pada waktu yang ditentukan adalah ….
a)
Menghindari hasil positif palsu akibat pengeringan
b)
Menghemat reagen
c)
Mempercepat kerja laboratorium
d)
Menyesuaikan dengan suhu ruangan
e)
Menghindari reaksi presipitasi
11.
Seorang pria berusia 30 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan demam naik-turun selama satu minggu. Dokter mencurigai demam tifoid dan meminta pemeriksaan Widal. Serum pasien direaksikan dengan antigen O dan H menggunakan metode slide. Aglutinasi jelas terlihat pada antigen O dalam waktu 1 menit, sedangkan antigen H tidak menunjukkan reaksi. Pasien tidak memiliki riwayat imunisasi tifoid sebelumnya.
Interpretasi yang paling tepat dari hasil tersebut adalah ….
a)
Menunjukkan infeksi tifoid lama
b)
Mengarah pada infeksi tifoid akut
c)
Hasil tidak bermakna karena antigen H negatif
d)
Menunjukkan reaksi silang
e)
Menandakan hasil negatif palsu
12.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan Widal semi-kuantitatif dengan pengenceran bertingkat. Pada pengenceran 1/80 dan 1/160 tampak aglutinasi, namun pada 1/320 reaksi menghilang. Pemeriksaan dilakukan sesuai SOP dengan tenggat waktu pembacaan yang sesuai. Hasil ini kemudian dilaporkan kepada dokter penanggung jawab.
Titer antibodi pasien tersebut adalah ….
a)
1/40
b)
1/80
c)
1/160
d)
1/320
e)
1/640
13.
Pada saat melakukan pemeriksaan sampel pasien di laboratorium, seorang TTLM mengamati perbedaan reaksi aglutinasi pada antigen O dan H dalam pemeriksaan Widal. Reaksi aglutinasi pada antigen H tampak lebih halus dibandingkan dengan antigen O. TTLM kemudian mencatat hasil tersebut sesuai prosedur. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik struktur antigen yang berbeda pada bakteri Salmonella typhi.
Karakteristik antigen H yang benar adalah ….
a)
Bersifat somatik dan kasar
b)
Menimbulkan presipitasi
c)
Menghasilkan aglutinasi halus
d)
Tidak bermakna klinis
e)
Tidak dapat digunakan dalam Widal
14.
Seorang pasien menunjukkan hasil Widal positif antigen H dengan titer tinggi, namun tidak menunjukkan gejala klinis tifoid. Dari anamnesis diketahui pasien pernah mendapatkan vaksin tifoid. Kondisi ini perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.
Peningkatan antibodi antigen H pada kasus tersebut kemungkinan disebabkan oleh ….
a)
Infeksi akut
b)
Reaksi prozona
c)
Imunisasi sebelumnya
d)
Kesalahan reagen
e)
Infeksi sekunder
15.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan aglutinasi latex pada beberapa sampel pasien secara bersamaan. Pada salah satu sampel, tidak tampak aglutinasi meskipun kontrol positif menunjukkan hasil yang baik. Setelah ditelusuri, diketahui serum pasien disentrifugasi ulang karena sebelumnya mengalami hemolisis. Pemeriksaan kemudian diulang dengan serum baru dan hasil berubah menjadi positif.
Faktor pra-analitik yang paling berperan menyebabkan hasil negatif pada pemeriksaan awal adalah ….
a)
Waktu pembacaan terlalu cepat
b)
Kerusakan reagen latex
c)
Kualitas serum yang tidak baik
d)
Suhu reaksi terlalu rendah
e)
Konsentrasi antigen berlebih
16.
Aglutinasi terjadi karena ….
a)
Antigen larut bereaksi dengan antibodi
b)
Terjadi hemolisis
c)
Komplemen mengikat eritrosit
d)
Terbentuk endapan protein
e)
Antibodi berikatan dengan antigen partikel
17.
Jenis antibodi yang paling efektif menyebabkan aglutinasi adalah ….
a)
IgM
b)
IgG
c)
IgE
d)
IgA
e)
IgD
18.
Antigen yang digunakan pada pemeriksaan Widal berasal dari ….
a)
Virus RNA
b)
Parasit usus
c)
Eritrosit manusia
d)
Salmonella typhi
e)
Protein serum
19.
Hasil positif palsu pada pemeriksaan aglutinasi dapat terjadi akibat ….
a)
Pengeringan reaksi di kartu uji
b)
Waktu baca terlalu cepat
c)
Konsentrasi antibodi terlalu rendah
d)
Suhu dingin
e)
Antigen terlalu encer
20.
Pada pemeriksaan Widal, hasil titer antibodi yang tinggi harus selalu dikorelasikan dengan kondisi klinis pasien karena ….
a)
Semua titer tinggi pasti menunjukkan infeksi akut
b)
Titer antibodi tidak pernah dipengaruhi faktor lain
c)
Antibodi dapat meningkat akibat infeksi lama, paparan berulang, atau imunisasi
d)
Antigen Widal tidak spesifik
e)
Reaksi aglutinasi selalu bersifat subjektif
21.
Seorang TTLM yang bertugas di laboratorium klinis menerima permintaan pemeriksaan imunologi untuk mendeteksi antibodi spesifik pada serum pasien dengan dugaan infeksi kronik. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode presipitasi dengan antigen yang bersifat larut. Setelah inkubasi, terlihat terbentuk endapan putih halus pada media reaksi. Endapan ini terbentuk akibat interaksi antigen dan antibodi dalam kondisi optimal. Reaksi tersebut menunjukkan terbentuknya kompleks imun yang stabil. Kondisi ini terjadi pada rasio antigen dan antibodi tertentu.
Zona reaksi presipitasi yang menghasilkan endapan paling jelas adalah …
a)
Zona prozona
b)
Zona postzona
c)
Zona nonspesifik
d)
Zona ekivalen
e)
Zona inhibisi
22.
Dalam pemeriksaan presipitasi di laboratorium klinis, seorang TTLM mendapatkan hasil negatif pada sampel pasien yang secara klinis sangat dicurigai mengalami infeksi. Setelah dilakukan evaluasi, diketahui bahwa kadar antibodi dalam serum pasien sangat tinggi. Kondisi ini menghambat terbentuknya kompleks antigen–antibodi yang optimal. Fenomena ini dikenal sebagai salah satu penyebab hasil negatif palsu. Hal tersebut berkaitan dengan ketidakseimbangan rasio reaktan.
Fenomena tersebut disebut …
a)
Zona prozona
b)
Zona postzona
c)
Zona ekivalen
d)
Reaksi silang
e)
Hemolisis
23.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan presipitasi dengan menambahkan antigen dalam jumlah besar ke dalam serum pasien. Setelah inkubasi, tidak terlihat terbentuk presipitat meskipun antibodi sebenarnya ada. Evaluasi menunjukkan bahwa antigen berada dalam konsentrasi berlebih dibandingkan antibodi. Kondisi ini menyebabkan kompleks imun tidak dapat membentuk jaringan yang stabil. Keadaan tersebut merupakan salah satu zona dalam reaksi presipitasi.
Zona yang dimaksud adalah …
a)
Zona prozona
b)
Zona postzona
c)
Zona indikator
d)
Zona ekivalen
e)
Zona hemolisis
24.
Pada pemeriksaan imunologi di laboratorium klinis, TTLM harus memilih metode yang sesuai dengan sifat antigen. Metode presipitasi hanya dapat digunakan jika antigen berada dalam bentuk tertentu. Jika antigen berupa sel utuh atau partikel besar, metode ini tidak akan memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu, pemahaman sifat antigen sangat penting sebelum memilih metode pemeriksaan.
Antigen yang sesuai untuk metode presipitasi adalah …
a)
Antigen partikulat
b)
Antigen seluler
c)
Antigen terlarut
d)
Antigen membran
e)
Antigen permukaan sel
25.
Dalam pemeriksaan presipitasi, terbentuknya presipitat menandakan adanya ikatan antara antigen dan antibodi. Ikatan tersebut bersifat spesifik namun tidak permanen. Beberapa faktor lingkungan dapat memengaruhi kestabilan ikatan ini. Suhu, pH, serta kekuatan ionik larutan sangat berperan dalam keberhasilan reaksi. Jika kondisi tidak optimal, presipitat dapat gagal terbentuk.
Ikatan yang dominan pada reaksi antigen–antibodi adalah …
a)
Ikatan kovalen
b)
Ikatan disulfida
c)
Ikatan peptida
d)
Ikatan ionik dan hidrogen
e)
Ikatan fosfodiester
26.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan imunologi menggunakan metode imunodifusi ganda (Ouchterlony). Dua antigen dari sumber berbeda diuji terhadap satu antibodi. Setelah inkubasi, terlihat garis presipitasi yang menyatu tanpa adanya spur. Pola tersebut menunjukkan bahwa kedua antigen memiliki determinan antigenik yang sama. Interpretasi pola ini penting untuk menentukan hubungan antigen.
Pola garis presipitasi tersebut menunjukkan reaksi …
a)
Non-identik
b)
Parsial identik
c)
Identik
d)
Negatif
e)
Reaksi silang
27.
Pada uji Ouchterlony di laboratorium klinis, seorang TTLM mengamati dua garis presipitasi yang menyatu tetapi membentuk spur. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu antigen memiliki determinan tambahan dibandingkan antigen lainnya. Pola ini sering digunakan untuk menilai kekerabatan antigen. Interpretasi yang tepat sangat penting dalam pelaporan hasil.
Pola reaksi tersebut disebut …
a)
Zona ekivalen
b)
Identik
c)
Non-identik
d)
Parsial identik
e)
Zona prozona
28.
Dalam pemeriksaan imunologi kuantitatif di laboratorium klinis, seorang TTLM menggunakan metode presipitasi tertentu untuk mengukur kadar protein serum pasien. Setelah inkubasi, terbentuk cincin presipitasi di sekitar sumur pada media agar. Diameter cincin kemudian diukur dan dibandingkan dengan kurva standar. Metode ini sering digunakan untuk mengukur kadar imunoglobulin.
Metode presipitasi yang digunakan adalah …
a)
Ouchterlony
b)
Aglutinasi slide
c)
Fiksasi komplemen
d)
ELISA
e)
Radial immunodiffusion
29.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan presipitasi dan mendapatkan hasil yang kurang jelas. Setelah ditelusuri, diketahui bahwa kualitas reagen antigen sudah menurun karena penyimpanan tidak sesuai. Hal ini memengaruhi kemampuan antigen untuk berikatan dengan antibodi. Akibatnya, presipitat tidak terbentuk secara optimal. Kondisi ini dapat menyebabkan kesalahan interpretasi hasil.
Faktor utama yang memengaruhi keberhasilan reaksi presipitasi adalah …
a)
Warna reagen
b)
Jenis tabung reaksi
c)
Rasio antigen–antibodi
d)
Volume pipet
e)
Jenis antikoagulan
30.
Dalam pemeriksaan presipitasi di laboratorium klinis, TTLM menemukan hasil negatif palsu pada beberapa sampel. Setelah evaluasi prosedur, diketahui bahwa perbandingan antigen dan antibodi tidak berada pada kondisi optimal. Selain itu, tidak dilakukan pengenceran sampel. Hal ini menyebabkan kegagalan pembentukan kompleks imun yang stabil. Kondisi tersebut harus diantisipasi dengan pengendalian kualitas yang baik.
Penyebab utama negatif palsu pada metode presipitasi adalah …
a)
Rasio antigen–antibodi tidak seimbang
b)
Suhu terlalu tinggi
c)
Waktu inkubasi terlalu lama
d)
Pembacaan terlalu cepat
e)
Serum lipemik
31.
Metode presipitasi digunakan untuk mendeteksi antigen–antibodi yang bersifat …
a)
Sel utuh
b)
Eritrosit
c)
Mikroorganisme
d)
Partikulat
e)
Terlarut
32.
Zona reaksi presipitasi yang memberikan hasil paling optimal adalah …
a)
Ekivalen
b)
Nonspesifik
c)
Inhibisi
d)
Prozona
e)
Postzona
33.
Metode Ouchterlony termasuk metode presipitasi …
a)
Satu dimensi
b)
Dua dimensi
c)
Kuantitatif
d)
Turbidimetri
e)
Nephelometri
34.
Pemeriksaan presipitasi kuantitatif yang umum digunakan untuk mengukur imunoglobulin adalah …
a)
Ouchterlony
b)
Aglutinasi tabung
c)
Radial immunodiffusion
d)
Fiksasi komplemen
e)
Western blot
35.
Kondisi antigen berlebih sehingga presipitat tidak terbentuk disebut …
a)
Zona postzona
b)
Zona ekivalen
c)
Zona prozona
d)
Zona indikator
e)
Zona hemolisis
36.
Seorang TTLM di laboratorium klinis melakukan pemeriksaan imunologi menggunakan metode fiksasi komplemen pada serum pasien dengan dugaan infeksi tertentu. Serum pasien terlebih dahulu dipanaskan pada suhu 56°C selama 30 menit sebelum pemeriksaan. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan aktivitas komplemen alami dalam serum pasien. Setelah itu, antigen spesifik dan komplemen ditambahkan ke dalam reaksi. Selanjutnya ditambahkan sistem indikator berupa eritrosit dan antibodi anti-eritrosit. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak terjadi hemolisis.
Interpretasi hasil pemeriksaan tersebut adalah …
a)
Reaksi positif
b)
Reaksi negatif
c)
Reaksi nonspesifik
d)
Terjadi kesalahan teknis
e)
Antigen tidak sesuai
37.
Dalam pemeriksaan fiksasi komplemen, seorang TTLM mengamati terjadinya hemolisis sempurna setelah penambahan sistem indikator. Pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur dan reagen dalam kondisi baik. Pasien diperiksa karena dugaan infeksi, namun hasil ini menunjukkan tidak adanya kompleks antigen–antibodi yang terbentuk. Hal ini menyebabkan komplemen bebas bereaksi dengan sistem indikator. Hasil tersebut harus diinterpretasikan dengan tepat agar tidak terjadi kesalahan diagnosis.
Makna terjadinya hemolisis pada metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Reaksi silang
b)
Hasil positif
c)
Hasil negatif
d)
Zona prozona
e)
Inaktivasi komplemen
38.
Seorang TTLM menerima sampel serum pasien untuk pemeriksaan fiksasi komplemen. Serum pasien tidak dipanaskan sebelum pemeriksaan dilakukan. Setelah seluruh reagen ditambahkan, hasil pemeriksaan menunjukkan hemolisis yang tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien. Kesalahan ini kemudian ditelusuri berasal dari tahap persiapan sampel. Hal tersebut berkaitan dengan aktivitas komplemen alami dalam serum pasien.
Tujuan pemanasan serum pasien pada metode fiksasi komplemen adalah untuk …
a)
Mengaktifkan antibodi
b)
Mengoptimalkan sistem indikator
c)
Meningkatkan sensitivitas reaksi
d)
Menginaktivasi komplemen serum
e)
Mengaktifkan antigen
39.
Pada pemeriksaan fiksasi komplemen di laboratorium klinis, TTLM menambahkan antigen dan antibodi ke dalam serum pasien, kemudian menambahkan komplemen. Jika kompleks antigen–antibodi terbentuk, komplemen akan terikat pada kompleks tersebut. Akibatnya, saat sistem indikator ditambahkan, tidak terjadi reaksi lanjutan. Prinsip ini menjadi dasar interpretasi hasil pemeriksaan.
Peran utama komplemen dalam metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Mengikat eritrosit indikator
b)
Menyebabkan aglutinasi
c)
Menghancurkan antibodi
d)
Mengendapkan antigen
e)
Menandai terbentuknya kompleks Ag–Ab
40.
Dalam metode fiksasi komplemen, TTLM menggunakan sistem indikator untuk membantu interpretasi hasil. Sistem indikator terdiri dari eritrosit domba dan antibodi spesifik terhadap eritrosit tersebut. Jika komplemen masih tersedia bebas, eritrosit akan mengalami lisis. Sebaliknya, jika komplemen telah terikat pada kompleks Ag–Ab, eritrosit akan tetap utuh. Oleh karena itu, sistem indikator sangat penting dalam pemeriksaan ini.
Fungsi sistem indikator pada metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Mengikat antigen
b)
Menunjukkan ada atau tidaknya komplemen bebas
c)
Menentukan titer antibodi
d)
Mengaktifkan antibodi
e)
Mengendapkan kompleks imun
41.
Seorang TTLM melakukan pemeriksaan fiksasi komplemen secara semi-kuantitatif dengan pengenceran serum pasien bertingkat. Pada pengenceran tertentu, tidak terjadi hemolisis, sedangkan pada pengenceran berikutnya mulai terlihat hemolisis. Hasil ini digunakan untuk menentukan kadar antibodi dalam serum pasien. Pemeriksaan ini memerlukan ketelitian tinggi dalam interpretasi hasil.
Nilai yang ditentukan dari pemeriksaan tersebut adalah …
a)
Titer antibodi
b)
Konsentrasi antigen
c)
Kadar komplemen
d)
Intensitas hemolisis
e)
Zona ekivalen
42.
Dalam pemeriksaan fiksasi komplemen, hasil negatif palsu dapat terjadi bila prosedur tidak dilakukan dengan benar. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan komplemen yang sudah tidak aktif. Hal ini menyebabkan reaksi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, kontrol reagen sangat penting dalam metode ini.
Penyebab negatif palsu pada metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Antigen berlebih
b)
Antibodi berlebih
c)
Komplemen tidak aktif
d)
Serum hemolisis
e)
pH terlalu rendah
43.
Seorang TTLM membandingkan metode fiksasi komplemen dengan metode aglutinasi. Ia memahami bahwa metode fiksasi komplemen memiliki tingkat sensitivitas yang lebih rendah dan prosedur yang lebih kompleks. Namun, metode ini tetap digunakan untuk pemeriksaan tertentu. Pemilihan metode sangat bergantung pada tujuan pemeriksaan.
Keterbatasan utama metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Tidak spesifik
b)
Sensitivitas rendah dan prosedur kompleks
c)
Tidak memerlukan serum
d)
Tidak memerlukan kontrol
e)
Hanya mendeteksi antigen
44.
Dalam pemeriksaan imunologi di laboratorium klinis, TTLM menggunakan metode fiksasi komplemen untuk mendeteksi antibodi tertentu. Metode ini tidak mendeteksi antigen secara langsung. Prinsip pemeriksaan didasarkan pada keberadaan antibodi yang mampu mengikat antigen dan komplemen. Oleh karena itu, jenis sampel yang digunakan sangat spesifik.
Pemeriksaan fiksasi komplemen digunakan untuk mendeteksi …
a)
Antigen dalam serum
b)
Komplemen bebas
c)
Antibodi spesifik
d)
Eritrosit
e)
Protein nonspesifik
45.
Seorang TTLM melaporkan hasil pemeriksaan fiksasi komplemen sebagai “positif”. Hasil tersebut didasarkan pada tidak terjadinya hemolisis setelah penambahan sistem indikator. Interpretasi ini harus dipahami dengan baik oleh klinisi. Kesalahan interpretasi dapat menyebabkan kesalahan diagnosis.
Indikator utama hasil positif pada metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Terbentuk presipitat
b)
Terjadi hemolisis
c)
Terjadi perubahan warna
d)
Tidak terjadi hemolisis
e)
Terjadi aglutinasi
46.
Sampel yang digunakan pada metode fiksasi komplemen adalah …
a)
Plasma
b)
Darah utuh
c)
Saliva
d)
Serum
e)
Urine
47.
Pemanasan serum pada metode fiksasi komplemen dilakukan pada suhu …
a)
37°C
b)
45°C
c)
50°C
d)
52°C
e)
56°C
48.
Komponen yang berfungsi sebagai sistem indikator adalah …
a)
Eritrosit dan anti-eritrosit
b)
Antibodi dan antigen
c)
Serum dan plasma
d)
Antigen dan paratop
e)
Komplemen dan antigen
49.
Metode fiksasi komplemen termasuk pemeriksaan imunologi yang bersifat …
a)
Deteksi antigen
b)
Deteksi enzim
c)
Deteksi aglutinasi
d)
Deteksi presipitat
e)
Deteksi antibodi
50.
Terjadinya hemolisis pada metode fiksasi komplemen menandakan hasil …
a)
Negatif
b)
Tidak valid
c)
Reaksi silang
d)
Zona prozona
e)
Positif
100 %
