Search Header Logo
PAB KELAS 9 BAB 1 Sang Buddha Parinibanna

PAB KELAS 9 BAB 1 Sang Buddha Parinibanna

Assessment

Presentation

Religious Studies

9th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Darma Susanti

Used 3+ times

FREE Resource

16 Slides • 7 Questions

1

PAB KELAS 9 BAB 1 Sang Buddha Parinibanna

Slide image

2

Perjalanan Menuju Kusinara

Ketika mencapai usia ke-80, Sang Buddha mengalami sakit karena faktor usia yang semakin menua. Namun, berkat kekuatan batin-Nya, Sang Buddha mampu mengatasi berbagai rasa sakit tersebut. Batin Sang Buddha selalu bersinar laksana berlian, meskipun jasmani-Nya telah mulai melemah.

3


Sang Buddha melakukan perjalanan dari Rajagaha menuju Kusinara, melewati banyak kota dan desa dengan berjalan kaki dan ditemani oleh Y.M. Ananda dan para siswa yang lain. Saat itu, Rahula dan Yasodhara telah meninggal dunia. Begitu juga dengan kedua siswa utama, yaitu Y.A. Moggallana dan Y.A. Sariputta.

4

Dalam perjalanan ke Kusinara, Sang Buddha merasa letih dan haus. Sang Buddha duduk di bawah pohon dan meminta Bhikkhu Ananda untuk mengambilkan air di aliran air sekitar tempat itu. Namun beberapa kereta baru saja lewat sehingga aliran air tersebut menjadi keruh. Y.M. Kemudian, Ananda mengusulkan kepada Sang Buddha, “Bhante, sungai Kakuttha berada tidak jauh dari sini. Air dingin di sungai itu jernih, menyegarkan, tidak kotor dan tepian sungai itu bersih serta menyenangkan. Sang Bhagava bisa minum dan menyejukkan kaki di sana.”

5

Kedua kalinya, Sang Bhagava meminta dan menerima jawaban yang sama dari Ananda. Setelah ketiga kalinya, Bhikkhu Ananda menurut dan berkata, “Baiklah, Bhante.” Dan ketika Y.M. Ananda tiba di aliran air itu, berkat kekuatan Sang Bhagava, ia mendapatkan aliran air yang dangkal itu menjadi jernih, murni, dan tidak kotor.

6

Sang Buddha dan rombongan melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, pikiran Sang Buddha tertuju pada kesejahteraan persaudaraan pada Bhikkhu. Banyak dari khotbah Beliau yang berisikan nasihat-nasihat bagaimana para bhikkhu seharusnya berperilaku untuk memastikan bahwa persaudaraan para Bhikkhu dapat berjalan terus setelah kemangkatanNya. Sang Buddha mengingatkan para siswa-Nya untuk mempraktikkan Dharma.

7

Sepanjang perjalanan, Sang Buddha mengulang-ulang khotbah tentang pahala-pahala dari mengikuti tiga faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu (1) kemoralan (sila), (2) konsentrasi (samadhi), dan (3) kebijaksanaan (panna) yang akan dapat menolong para siswa-Nya bebas dari semua penderitaan.

8

Fill in the Blanks

Type answer...

9

Fill in the Blanks

Type answer...

10

Makanan Terakhir Sang Buddha

Setelah tiba di Pava, Sang Buddha dan para siswa-Nya berdiam di hutan mangga milik Cunda, putra si pandai besi. Mendengar

berita kedatangan Sang Bhagava di hutan mangganya, Cunda segera

menghadap Sang Bhagava dan memberi sembah hormat pada-Nya.

Sang Bhagava memberinya dorongan dengan pembabaran Dharma serta membahagiakannya dalam latihan Dharma

11


Keesokan harinya, Cunda mempersiapkan makanan yang mewah, termasuk masakan khusus yang disebut sukaramaddava. Sukaramaddava adalah daging lunak dicampur dengan jamur. Sang Buddha menyarankan agar Cunda menghidangkan makanan Sukaramaddava hanya kepada-Nya, bukan untuk yang lain. Selain Sang Buddha, tidak diizinkan memakan makanan Sukaramaddava.

12

Setelah menikmati makanan, selanjutnya Sang

Buddha berkata:

“Cunda, jika masih ada Sukaramaddava yang tersisa, kubur dan timbunlah dalam tanah. Sang Buddha tidak melihat ada seorang pun di dunia ini selain Tathagata yang mampu mencerna makanan Sukaramaddava ini”.

13

“Oh, demikiankah, Bhante”, jawab Cunda. Segera Cunda menguburkan sisa makanan tersebut di dalam tanah. Selanjutnya, Cunda mendatangi Sang Buddha dan memberi hormat, ia duduk di satu sisi lalu Sang Buddha mengajarkan Dharma kepadanya. Sang Buddha juga memuji Cunda atas hidangannya yang telah membuat Beliau segar dan kuat kembali setelah perjalanan jauh. Namun segera setelah itu, Sang Buddha menderita sakit perut luar biasa seperti yang sebelumnya pernah diderita.

14

Sakit yang luar biasa ini menyerang Sang Buddha saat berada di desa Beluva. Dengan kekuatan batin-Nya, Sang Buddha sangggup menahan rasa sakit tersebut. Meskipun amat lemah, Sang Buddha memutuskan untuk langsung meneruskan perjalanan ke Kusinara sejauh kurang lebih 6 (enam) mil lagi. Setelah perjuangan melawan sakit perut tersebut, Sang Buddha tiba di hutan pohon Sala di pinggiran kota. Di tempat inilah, di sungai Kuttha Sang Buddha mandi untuk terakhir kalinya. Setelah istirahat sejenak, lalu Beliau berkata:

15

“Sekarang mungkin akan terjadi bahwa sebagian orang akan membuat Cunda menjadi menyesal karena telah memberi Tathagata hidangan yang membuat-Nya sakit. Y.M. Ananda, bila ini terjadi, engkau harus mengatakan kepada Cunda bahwa engkau telah mendengar langsung dari Sang Buddha bahwa perbuatan itu keberuntungan bagi dia. Katakan padanya bahwa ada dua macam persembahan kepada Sang Buddha yang mempunyai pahala yang sama, yaitu persembahan makanan saat menjelang Penerangan Sempurna-Nya dan persembahan makanan pada saat menjelang Kemangkatan-Nya. Ini adalah kelahiran terakhir dari Sang Buddha”.

16

Kemudian Sang Buddha berkata, “Ananda, tolong siapkan tempat pembaringan untuk Tathagata dengan kepala mengarah ke Utara, di antara dua pohon Sala besar. Tathagata lelah dan ingin berbaring”.

Pada saat itu juga, kedua pohon Sala tersebut tiba-tiba dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran karena pengaruh dari para Dewa,

meskipun saat itu bukan musimnya. Para Dewa menaburkan bunga-bunga kepada Sang Buddha sebagai ungkapan rasa hormatnya kepada Beliau. Selanjutnya, Sang Buddha berkata kepada Ananda:

17

“Ananda, kedua pohon Sala besar ini menaburi Tathagata dengan bungabunganya seolah-olah mereka memberi penghormatan kepada Tathagata. Tetapi ini bukanlah cara bagaimana Tathagata seharusnya dihormati dan dihargai. Melainkan, adalah bila para bhikkhu dan bhikkhuni, atau lakilaki dan perempuan umat awam, hidup sesuai dengan ajaran Tathagata. Itulah cara menghormati dan menghargai Tathagata”.

18

Fill in the Blanks

Type answer...

19

Fill in the Blanks

Type answer...

20

Fill in the Blanks

Type answer...

21

Fill in the Blanks

Type answer...

22

Fill in the Blanks

Type answer...

23

Sakit yang luar biasa ini menyerang Sang Buddha saat berada di desa

Beluva. Dengan kekuatan batin-Nya, Sang Buddha sangggup menahan

rasa sakit tersebut. Meskipun amat lemah, Sang Buddha memutuskan

untuk langsung meneruskan perjalanan ke Kusinara sejauh kurang lebih

6 (enam) mil lagi. Setelah perjuangan melawan sakit perut tersebut, Sang

Buddha tiba di hutan pohon Sala di pinggiran kota. Di tempat inilah, di

sungai Kuttha Sang Buddha mandi untuk terakhir kalinya. Setelah istirahat

sejenak, lalu Beliau berkata:

PAB KELAS 9 BAB 1 Sang Buddha Parinibanna

Slide image

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 23

SLIDE