

Untitled Lesson
Presentation
•
Science
•
7th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
gita permatadewi
FREE Resource
40 Slides • 0 Questions
1
SISTEM REPRODUKSI MANUSIA
2
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
TYPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA DALAM KEMAMPUAN MEMAHAMI
PERBEDAAN WAKTU DAN PENGARUHNYA PADA
PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS VI SEKOLAH
DASAR NEGERI 2 Apuan KECAMATAN BATURITI
SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2021/2022
LAPORAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
PRAKTEK PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP)
PROGRAM S1 PGSD
DISUSUN OLEH:
I GUSTI AGUNG GITA PERMATA DEWI
NIM: 859021372
PROGRAM S1 PGSD UPBJJ-UT DENPASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
POKJAR TABANAN
UNIVERSITAS TERBUKA
2022.1
3
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa dalam Kemampuan Memahami Perbedaan Waktu dan
Pengaruhnya pada Pembelajaran Tematik Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 2
Apuan Kecamatan Baturiti Semester 2 Tahun Pelajaran 2021/2022
Menyetujui
Supervisor 1
Drs. I Wayan Suwira, M.Si., M.Pd.
NIP. 19650402 199003 1 017
Tabanan,
Mahasiswa,
I Gusti Agung Gita Permata Dewi
NIM. 859021372
4
iii
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TERBUKA
Jl. Raya Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan 15418
Telepon: 012-7490941 (Hunting)
Faximile: 021-7490147 (Bagian Umum), 012-7434290 (Sekretaris Rektor)
Laman: www.ut.ac.id
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan praktek Pemantapan
Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi
mata kuliah PKP pada Program Studi S1 PGSD Universitas Terbuka (UT)
seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan
hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya
bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya
sandang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Tabanan,
Yang membuat pernyataan,
I Gusti Agung Gita Permata Dewi
NIM. 859021372
5
iv
KATA PENGANTAR
Dengan setulus-tulusnya penulis memanjatkan puji dan syukur kehadapan
Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya,
penulis mendapat dorongan semangat dan kekuatan untuk menyelesaikan sebuah
laporan penelitian tindakan tentang Pemantapan Kemampuan Profesional yang
diberi judul: “Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Kemampuan Memahami
Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada Pembelajaran Tematik Kelas VI
Sekolah Dasar Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti Semester 2 Tahun
Pelajaran 2021/2022”
Penyelesaian laporan ini juga didukung oleh berperannya berbagai pihak
terkait, sehingga pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Yth.
1.Kepala UPBJJ Denpasar, atas petunjuk dan arahannya pada Program S1
PGSD Universitas Terbuka.
2.Tutor di Pokjar Tabanan dan sebagai supervisor 1 dan pembimbing
Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).
3.Kepala SD Negeri 2 Apuan, atas ijin penelitian dan fasilitas yang diberikan.
4.Guru SD Negeri 2 Apuan sebagai pembimbing dan Supervisor 2 dalam
pelaksanaan Praktek Perbaikan Pembelajaran.
Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) ini masih jauh dari
sempurna dan oleh karenanya sangat diharapkan masukan untuk kesempurnaan
laporan sebagaimana mestinya. Semoga laporan Pemantapan Kemampuan
Profesional (PKP) ini bermanfaat bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di
Kabupaten Tabanan.
Tabanan,Mei 2022
Penulis.
6
v
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ................................................... iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
A.Latar Belakang Masalah .................................................................................1
1.Identifikasi Masalah ............................................................................... 1
2.Analisis Masalah .................................................................................... 3
3.Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah ......................................... 3
B.Rumusan Masalah ...........................................................................................5
C.Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran ....................................................5
D.Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran ..................................................6
BAB II ...................................................................................................................... 7
KAJIAN PUSTAKA ................................................................................................ 7
A.Tinjauan tentang Model Pembelajaran Cooperative Learning Type
Jigsaw .............................................................................................................7
1.Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif ................................................ 7
2.Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw ................... 10
3.Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning
Type Jigsaw. ......................................................................................... 10
4.Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type
Jigsaw ................................................................................................... 12
B.Tinjauan tentang Belajar dan Hasil Belajar ..................................................14
C.Peranan Penelitian Tindakan Kelas dalam Perbaikan Pembelajaran ............18
BAB III................................................................................................................... 21
7
vi
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN ................. 21
A.Subjek, Tempat, Waktu, dan Pihak yang Membantu Penelitian ..................21
1.Subjek Penelitian .................................................................................. 21
2.Tempat Penelitian ................................................................................. 22
3.Waktu Penelitian .................................................................................. 23
B.Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran ....................................................23
1.Studi Pendahuluan ................................................................................ 23
2.Langkah-langkah Penelitian Perbaikan Pembelajaran ......................... 25
C.Teknik Analisis Data ....................................................................................29
D.Indikator Keberhasilan..................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 31
8
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Langkah pembelajaran Model Pembelajaran Cooperative
Learning Type Jigsaw. ....................................................................... 11
Tabel 3.1 Daftar nama siswa sebagai subjek penelitian ........................................ 22
Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Perbaikan Pembelajaran ............................................ 23
9
viii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2. 1 Aktivitas belajar model Jigsaw (Trianto, 2007:58) .......................... 13
Gambar 3.1 Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran .......................................... 25
10
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
1.Identifikasi Masalah
Dewasa ini, guru dihadapkan pada perubahan paradigma
persaingan dari sebelumnya yang lebih bersifat physical asset menuju
paradigma knowledge based competition (Santyasa, I Wayan, 2009).
Perubahan paradigma tersebut menuntut efesiensi dan efektivitas
penggunaan sumber daya guru, karena guru merupakan agen perubahan
dan agen pembaharuan, sehingga mereka mampu bersaing dan memiliki
keunggulan kompetitif. Pemantapan sumber daya guru harus diikuti
dengan pengembangan dan pembaharauan terhadap kemampuan dan
keahlian yang dimilikinya, sehingga guru mampu dan peka terhadap arah
perubahan yang terjadi. Pemberdayaan sumber daya guru merupakan
upaya
untuk
meberikan
wewenang
dan tanggung
jawab
yang
proporasional, menciptakan kondisi saling percaya, dan pelibatan guru
dalam menyelesaikan tugas dan pengambilan keputusan. Cara ini, adalah
untuk mengakomodasi proses peningkatan kompetensi guru secara
berkelanjutan dengan mengaktifkan sejumlah peran strategis guru.
Dengan peran sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer),
guru dapat menciptakan iklim belajar yang memungkinkan peserta didik
dapat belajar dengan baik, dan nyaman. Kemampuan guru dalam
pengelolaan kelas yang baik, sangat memungkinkan guru dapat menjaga
kelas tetap berada dalam keadaan kondusif untuk terjadinya proses
pemeblajaran bagi seluruh peserta didik. Sebagai pengelola pembelajaran,
guru memiliki fungsi umum, yaitu: (1) merencanakan tujuan belajar; (2)
mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan
belajar; (3) memimpin, yang meliputi memotivasi, mendorong dan
menstimulasi siswa; dan (4) mengawasi segala sesuatu, apakah sudah
berfungsi sebagaimana mestinya atau belum dalam rangka pencapaian
11
2
tujuan. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru memegang peranan yang
sangat penting, karena selain sebagai pengelola pembelajaran, guru juga
berperan memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Agar peserta didik dan
guru dapat menjalankan fungsinya secara benar, maka guru wajib
menghindari hal-hal yang dapat menghambat pelaksanaan pembelajaran.
Dengan peran guru sebagai pengelola pembelajaran, maka seharusnya
peserta didik yang dibimbingnya mampu belajar dengan baik pula dalam
arti akan menghasilkan hasil belajar yang memenuhi indikator-indikator
keberhasilan yang ditetapkan.
Dari hasil identifikasi kondisi awal terhadap pelaksanaan
pembelajaran Tematik Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti
dan dari hasil diskusi dengan Supervisor 2 ditemukan adanya
permasalahan dalam pembelajaran seperti: guru tidak melaksanakan proses
pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil; beberapa siswa kurang
tertarik pada metode dan teknik pembelajaran yang diteapkan guru; siswa
tidak memperoleh manfaat dari pengalaman langsung pembelajaran yang
dilaksanakan; siswa kurang terfokus perhatiannya dalam mengikuti
pembelajaran; rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan analisis dan
sintesis membuat pembelajaran tidak maksimal; dan siswa kurang berani
menyampaikan gagasan secara langsung sehingga kelemahan siswa dalam
mengikuti pembelajaran tidak terungkap. Dari guru tidak melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan tujuan, siswa, situasi, dan lingkungan; guru
tidak menggunakan alat bantu (media) pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan, siswa, situasi dan lingkungan; guru juga tidak melaksanakan
pembelajaran dalam urutan yang logis;
Dari hasil pengamatan dan penilaian awal yang dikolaborasikan
dengan hasil diskusi dengan teman sejawat dan dipadukan dengan hasil
studi kepustakaan terhadap hasil belajar Tematik pada siswa Kelas VI SD
Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti Tahun Pelajaran 2021/2022, diperoleh
bahwa tingkat penguasaan materi pelajaran hanya memperoleh rata-rata
60,53 berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (=65,00) dan hanya
12
3
terdapat 8 orang (42,11%) dari 19 orang siswa seluruhnya yang
memproleh hasil belajar berkategori tuntas, atau berada di bawah
ketuntasan klasikal yang diharapkan sebesar (=85.00%).
2.Analisis Masalah
Dari analisis yang dilakukan terhadap permasalahan pembelajaran
Tematik pada siswa Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti
Tahun Pelajaran 2021/2022 didapat bahwa hal-hal pokok yang diduga
sebagai akar penyebab terjadinya permasalahan pembelajaran adalah
pemilihan metode yang kurang tepat. Pembelajaran yang dilakukan pada
kondisi awal cenderung berpusat pada guru (teacher sentred).
Keterampilan siswa yang berkaitan dengan kemampuan membuat
keputusan memecahkan masalah dan berpikir logis; keterampilan
psikomotor yang berkaitan dengan kemampuan tindakan fisik dan kegiatan
perseptual;
keterampilan
reaktif
yang
berkaitan
dengan
sikap,
kebijaksanaan, perasaan, dan self control; dan keterampilan interaktif yang
berkaitan dengan kemampuan sosial dan kepemimpinan siswa yang masih
sangat lemah. Guru tidak menanamkan konsep Tematik melalui metode
bervariasi sesuai dengan karakteristik materi. Guru juga tidak memberikan
latihan Tematik dalam kehidupan sehari-hari secara memadai. Pada
kegiatan pembelajaran siswa kurang aktif dan hasil belajar belum
maksimal. Untuk melakukan perbaikan pembelajaran, pertama-tama
dilakukan
identifikasi
terhadap
permasalahan
pembelajaran
yang
dilanjutkan
dengan
melakukan
analisis
terhadap
permasalahan
pembelajaran. Dalam hal ini guru sadar bahwa pembelajaran yang
dilakukan di kelasnya terdapat masalah yang perlu dipecahkan.
3.Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Alternatif dan prioritas pemecahan masalah yang dipilih dalam
mengatasi permasalahan pembelajaran pada siswa Kelas VI SD Negeri 2
Apuan
Kecamatan
Baturiti
Tahun
Pelajaran
2021/2022
adalah
melaksanakan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw
yang merupakan salah satu model pembelajaran dapat dipilih karena yang
13
4
bersifat inovatif dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Dalam
model Cooperative Learning Type Jigsaw peran guru di kelas hanya
sebagai fasilitator, dinamisator dan moderator pada saat diskusi
berlangsung. Dengan mempelajari sendiri, mendiskusikan, menemukan
dan menghayati sendiri konsep-konsep yang terkandung dalam materi
yang dibahas, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dan
menumbuhkan rasa percaya diri serta pemahaman konsep-konsep Tematik
mereka, disamping meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri. Model
pembelajaran ini sesuai diterapkan pada kelas-kelas yang memiliki
kemampuan heterogen, karena siswa yang kemampuannya kurang akan
dibantu oleh siswa lainnya yang tingkat kemampuan/kecakapannya lebih
tinggi dalam kelompok itu.
Dalam
rangka
mendukung
pelaksanaan
pembelajaran
menggunakan model Cooperative Learning Type Jigsaw, cara-cara yang
mendapat perhatian yang dilakukan antara lain: (1) memberi kesempatan
lebih banyak siswa untuk menemukan sendiri permasalahan yang dihadapi
yang terkait dengan meteri pelajaran; (2) meningkatkan motivasi siswa
dalam mempelajari materi pelajaran Tematik yang dianggapnya hanya
bersifat hafalan dan membosankan; (3) meningkatkan keberanian siswa
dalam menyampaikan pertanyaan atau pandangan terhadap permasalahan
yang dirasakan setelah pembelajaran dilangsungkan; (4) membantu siswa
yang mengalami kesulitan dalam menuangkan gagasan/pikiran maupun
ide-idenya yang ada kaitannya dengan permasalahan dan tugas-tugas yang
diberikan; (5) melibatkan lebih banyak siswa dalam diskusi kelompok
maupun dalam kelas karena pembelajaran didominsi olah guru.
Dari paparan di atas sebagai upaya yang tepat yang bisa ditempuh
adalah melalui pelaksanaan
Penelitian Tindakan Kelas. Dengan
diadakannya penelitian tindakan kelas, diharaptan dapat memperbaiki
meningkatkan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajaran siswa.
Perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas, disamping
untuk keperluan meningkatkan hasil belajar, juga untuk menyelesaikan
14
5
tugas yang harus dilaksanakan pada mata kuliah Pemantapan Kemampuan
Profesional pada program S1 PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Terbuka. Oleh karena itu penulis tertarik dan
menganggap sangat penting untuk dilakukan penelitian dimana laporan
penelitian ini disusun dengan judul: “Model Pembelajaran Cooperative
Learning Type Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam
Kemampuan Memahami Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada
Pembelajaran Tematik Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 2 Apuan
Kecamatan Baturiti Semester 2 Tahun Pelajaran 2021/2022”.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah diatas maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.Apakah implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning Type
Jigsaw dapat meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa dalam
kemampuan memahami Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada
pembelajaran Tematik Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti?
2.Apakah implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning Type
Jigsaw dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dalam kemampuan
memahami Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada pembelajaran
Tematik Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti?
C.Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian
perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1.Mendeskripsikan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dalam
kemampuan memahami Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada
pembelajaran Tematik Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti
dengan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw.
2.Mendeskripsikan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam kemampuan
memahami Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya pada pembelajaran
Tematik Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti dengan Model
Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw.
15
6
D.Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Adapun manfaat yang diharapkan setelah dilakukan perbaikan
pembelajaran dengan menerapkan kaidah-kaidah Penelitian Tindakan Kelas,
dari pelaksanaan Pemantapan Kemampuan Profesional ini adalah sebagai
berikut.
1.Manfaat Teoretis:
a.Hasil penelitian perbaikan pembelajaran ini sesuai dengan pandangan
para ahli yang antara lain menyatakan bahwa belajar secara kooperatif
membawa
siswa
dapat
belajar
secara
kolaboratif
dengan
memaksimalkan produktivitas dan hasil belajar siswa baik secara
individu maupun secara berkelompok;
b.Hasil penelitian perbaikan pembelajaran ini mendukung pendapat para
ahli yang menyatakan bahwa dengan pembelajaran secara kooperatif
menjadikan siswa lebih aktif dan lebih maksimal dalam menyarap
materi pelajaran.
2.Manfaat Praktis:
a.Bagi guru, hasil penelitian perbaikan pembelajaran ini dapat
menemukan kelemahan/permasalahan dalam pembelajaran yang
dilakukan melalui refleksi, menemukan alternatif solusi untuk
memperbaiki kelemahan atau meningkatkan mutu pembelajaran yang
dilakukan berdasarkan penelitian tindakan kelas;
b.Bagi sekolah, hasil penelitian perbaikan pembelajaran ini dapat
meningkatkan mutu guru, mutu pelaksanaan pembelajaran dan
menjadikan sekolah sebagai sekolah yang efektif;
c.Bagi siswa hasil penelitian perbaikan pembelajaran ini dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas serta kreativitas;
d.Bagi pemangku kepentingan, hasil penelitian perbaikan pembelajaran
ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memberikan apresiasi
terhadap sekolah dan pendidikan pada umumnya yang dapat
menggairahkan semua komponen pendidikan menjadi bermanfaat dan
berdaya guna.
16
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Tinjauan tentang Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw
1.Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Beberapa peneliti telah menemukan bahwa strategi belajar
kooperatif mendorong harga diri individu dan menganjurkan siswa untuk
mengambil kendali dari belajamya sendiri. Tuntutan ini melengkapi suatu
ringkasan dan strategi belajar kooperatif dan menunjukkan bagaimana
guru-guru dapat mengintegrasikan strategi-strategi tersebut dalam rencana
pembelajaran mereka (Hilke, 1998: 3). Lebih lanjut Hilke mengemukakan
tujuan utama dari belajar kooperatif adalah: (1) untuk membantu
perkembangan kerjasama akademik di antara siswa, (2) untuk
menganjurkan
hubungan
kelompok
yang
positif,
(3)
untuk
mengembangkan harga-diri siswa, dan (4) untuk meningkatkan pencapaian
akademik.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan
melalui kelompok-kelompok kecil yang mendorong siswa untuk
bekerjasama, saling membantu dan saling berbagi pengalaman untuk
melaksanakan pengalaman belajar mereka (Johson dkk.1990, dalam
Sudiana, 2007). Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif) akan
terjadi dari beberapa (4-5 orang) siswa yang belajar secara berkelompok
untuk mencapai tujaun bersama (Johnson & Johnson, 1991). Cooperative
Learning (Pembelajaran Kooperatif) dimaksudkan agar siswa dapat belajar
secara kolaboratif dengan memaksimalkan produktivitas dan hasil belajar
siswa baik secara individu maupun secara berkelompok. Dalam belajar
secara kolaboratif, guru bertindak sebagai perantara (mediator) dalam
aktivitas dan proses pembelajaran.
Dari paparan di atas dapat dikemukakan bahwa konsep dasar
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
17
8
a.Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4 - 6
orang;
b.Pengaturan tempat duduk siswa yang bervariasi;
c.Menumbuhkan kemauan bekerja sama;
d.Memanfaatkan keterampilan sosial dan pengetahuan awal siswa
dengan berdiskusi sesuai dengan permasalahan yang diberikan oleh
guru.
Renven Fenerstein dan Lev Vygotsky (dalam http://www.-
asikbelajar.com/2013/05/tahap-tahap-pembelajaran-kolaboratif.html)
memaknai guru sebagai mediator atau fasilitator, model dan jurulatih
dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
a.Fasilitator (pemudah cara). Fasilitator dalam perkara-perkara yang
terlibat dalam mewujudkan lingkungan yang aktif dan kaya dengan
idea baru, memberi ruang kepada bekerja secara kolaboratif dengan
penyelesaian masalah, dan menyediakan berbagai tugas bermakna bagi
masa depan siswa.
b.Pengatur kelas. Guru mengatur kelas dengan standar kelas kolaborasi.
Kelas kolaboratif dilengkapi dengan berbagai bahan bacaan. Dalam
kelas ditempatkan ruangan jurnal, majalah, buku-buku rujukan, surat
kabar dan berbagai media lain yang oleh siswa diakses sebagai
penghubung idea. Siswa mampu menjalankan aktivitas atau proyek
untuk menjalankan eksperimennya.
Lie Anita (2002) mengemukakan terdapat lima ciri utama
pembelajaran kooperatif sebagai berikiut.
a.Saling bergantungan secara positif.
Tujuan masing-masing kelompok adalah mengoptimalkan kemampuan
belajar setiap anggotanya dan jika mungkin sampai di atas batas
kemampuan tiap-tiap individu bersangkutan. Keberhasilan kelompok
sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk mencapai
kelompok kerja yang efektif, guru hendaknya menyusun tugas
sedemikian
rupa
sehingga
setiap
anggota
kelompok
harus
18
9
menyelesaikan tugasnya sendiri agar anggota yang lain dapat mencapai
tujuannya. Setiap anggota kelompok memperoleh nilai dirinya sendiri
dan nilai kelompok.
b.Tanggungjawab perorangan.
Setiap anggota kelompok harus berusaha semaksimal mungkin tetap
utuh dalam satu ikatan kelompok. Jika tugas dan model penilaian
dibuat berdasarkan model pembelajaran kooperatif, maka setiap siswa
akan merasa bertanggungjawab untuk berusaha untuk melakukan yang
terbaik
c.Tatap muka.
Tiap-tiap anggota kelompok bekerjasama saling bertemu muka dan
berdiskusi untuk menghasilkan prestasi akademik yang terbaik, baik
secara individu maupun kelompok.
d.Komunikasi antar Kelompok.
Setiap kelompok diajarkan keterampilan sosial untuk digunakan dalam
mengkoordinasikan upaya mereka secara bersama-sama. Siswa
ditargetkan memiliki keterampilan berkomunikasi yang efektif.
Misalnya, bagaimana caranya menyanggah pendapat orang lain tanpa
menyinggung perasaan lawan bicaranya.
e.Evaluasi Proses Kelompok.
Setiap kelompok diwajibkan melalukan evaluasi-diri (self-evaluastion)
tentang keberhasil belajar mereka. Guru perlu merancang alokasi
waktu khusus bagi kelompok untuk melakukan evaluasi terhadap
kinerja kelompok bersangkutan, agar mereka bisa bekerjasama secara
lebih efektif.
Jadi model pembelajaran kooperatif didasarkan atas struktur tujuan
dan struktur penghargaan kooperatif. Siswa yang belajar melalui model
pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama dalam mengerjakan
suatu tugas, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugas-tugas belajarnya. Dalam pembelajarn kooperatif, dua
19
10
atau lebih individu saling bergantung satu sama lainnya untuk mencapai
penghargaan bersama.
2.Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw
Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw telah
dikembangkan dan diuji cobakan oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari
Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di
Universitas John Hopkins (Trianto, 2007:56). Model Pembelajaran
Cooperative Learning Type Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif
yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak
hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap
memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.
Pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota
kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan
agar dapat mengerjakan tes dengan baik. Bila dibandingkan dengan
metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw memiliki
beberapa kelebihan yaitu:
a.Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada
kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-
rekannya;
b.Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih
singkat;
c.Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam
berbicara dan berpendapat.
3.Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Type
Jigsaw.
Menurut Aronson dkk.,1978 (dalam Sudiana, 2007) langkah-
langkah pembelajaran kooperatif “tipe Jigsaw” adalah sebagai berikut.
a.Siswa dibagi kedalam kelompok secara heterogen dengan masing-
masing anggota 4-6 orang;
20
11
b.Tiap orang dalam kelompok diberi bagian materi / tugas yang berbeda,
c.Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari bagian
materi/sub bab yang sama bergabung dalam kelompok baru (kelompok
ahli) untuk mendiskusikan materi/sub bab mereka,
d.Setelah selesai diskusi dalam tim ahli tiap anggota kembali ke
kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu kelompoknya
tentang materi/sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh;
e.Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi mereka, (6) guru
memberi evaluasi;
f.Penutup
Menurut Trianto dalam bukunya Model-model Pembelajaran
Inovatif
Berorientasi
Konstruktivistik
dijelaskan
langkah-langkah
pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Learning
Type Jigsaw dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Langkah pembelajaran Model Pembelajaran Cooperative
Learning Type Jigsaw.
Langkah
Kegiatan
Pertama:
pembentukan
kelompok
Siswa dibagi atas beberapa kelompok dengan
anggota 4-6 orang
Kedua:
Penyajian materi
Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam
bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi
beberapa subbab.
Ketiga:
Kegiatan eksplorasi
Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang
ditugaskan
dan
bertanggungjawab
untuk
mempelajarinya.
Keempat:
Diskusi
kelompok
ahli
Anggota
dari
kelompok
lain
yang
telah
mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam
kelompok-kelompok
ahli
untuk
mendiskusi-
kannya.
Kelima:
Diskusi
kelompok
asal
Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali
kekelompoknya
bertugas
mengajar
teman-
temannya.
21
12
Keenam:
Presentasi/evaluasi
Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal,
siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu
(Trianto, 2007)
Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa dalam Model
Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw peran guru di kelas
hanya sebagai fasilitator, dinamisator dan moderator pada saat diskusi
berlangsung. Dengan mempelajari sendiri, mendiskusikan, menemukan
dan menghayati sendiri konsep-konsep yang terkandung dalam materi
yang dibahas, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dan
menumbuhkan rasa percaya diri serta pemahaman konsep - konsep
Tematik mereka, disamping meningkatkan hasil belajar siswa itu sendiri.
Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw sesuai diterapkan
pada kelas-kelas yang memiliki kemampuan heterogen, karena siswa yang
kemampuannya kurang akan dibantu oleh siswa lainnya yang tingkat
kemampuan/kecakapannya lebih tinggi dalam kelompok itu.
4.Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw
Model
Pembelajaran
Cooperative
Learning
Type
Jigsaw
mengharuskan siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggota tiap
kelompok 4-6 orang, dan anggota kelompok bersifat heterogen. Setiap
anggota kelompok bertanggungjawab untuk mempelajari bagian materi
tertentu yang diberikan oleh guru. Anggota kelompok yang memperoleh
tugas (topik) yang sama berkumpul berdiskusi tentang topik yang menjadi
tugasnya. Kelompok itu disebut kelompok ahli. Setelah diskusi pada
masing-masing kelompok ahli, anggota kelompok ahli kembali ke ke
lompok asal untuk menjelaskan apa yang telah dipelajari, didiskusikan,
dan dipahaminya. Untuk memperoleh gambaran tentang hasil belajar
siswa, setiap minggu diadakan kuis untuk memonitor hasil belajar siswa
secara individual.
Aktivitas belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran
Cooperative Learning Type Jigsaw dapat digambarkan sebagai berikut.
22
13
Gambar 2. 1 Aktivitas belajar model Jigsaw (Trianto, 2007:58)
Dari gambar di atas dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan
aktivitas belajar Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw
adalah sebagai berikut.
a.Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung
mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru
harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus
menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu
penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan
apabila tidak mengerti.
b.Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfpikir rendah akan
mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk
sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih
tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam
menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
c.Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk mengantisipasi hal
ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan
agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
A. KELOMPOK DASAR
B. KELOMPOK AHLI
23
14
B.Tinjauan tentang Belajar dan Hasil Belajar
Belajar dapat diartikan sebagai kegiatan membantu perkembangan
optimal individu sebagai manusia utuh. Bahwa belajar memungkinkan anak
untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan dirinya secara utuh,
menyangkut seluruh aspek intelektual, sosial, moral, spiritual, dan emosional.
Belajar juga dapat memenuhi berbagai kebutuhan dirinya untuk tumbuh dan
berkembang di lingkungan sosio-budayanya, sesuai dengan tingkat dan irama
perkembangannya.
Teori belajar pada dasarnya merupakan suatu teori yang menjelaskan
bagaimana siswa-siswa belajar, meliputi kesiapan belajar, proses mental, dan
apa yang dilakukan siswa pada usia tertentu. Menurut paham konstruktivisme,
pengetahuan merupakan hasil bentukan sendiri, oleh karenanya tidak ada
transfer pengetahuan dari seorang guru ke siswa, sebab setiap siswa
membangun pengetahuannya sendiri. Bahkan bila guru ingin memberikan
pengetahuan kepada siswa, maka pemberian itu diinterpretasikan dan
dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalamannya. Untuk terjadinya
konstruksi pengetahuan ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki siswa
antara lain; kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman,
kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan
perbedaan, dan kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari
pada yang lainnya.
Jadi konsep belajar menurut pandangan konstruktivis adalah bahwa
anak dalam belajar akan membangun sendiri pengetahuannya sebagai hasil
dari interaksi dengan lingkungannya. Dalam proses pembelajaran yang paling
penting ditekankan adalah proses learning, bagaimana siswa dapat menerima
dan memahami setiap materi yang diberikan oleh guru. Untuk itu peran siswa
agar terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran harus diutamakan. Dari hal itu
jelas nampak bahwa model pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori
belajar konstruktivisme. Sehubungan dengan teori belajar konstruktif Piaget
(dalam Suherman, 2003: 36), menyatakan bahwa “Anak yang belajar akan
membangun sendiri pengetahuannya sebagai hasil interaksi dengan
24
15
lingkungannya”. Pengetahuan diperoleh dari tindakan, artinya perkembangan
kognitif siswa sebagian besar bergantung pada seberapa jauh mereka
memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Siswa dalam
proses belajar lebih banyak tergantung dari aktivitas mereka dan guru lebih
banyak berperan sebagai fasilitator dan mediator yang membantu proses
belajar siswa agar berjalan dengan baik.
Penjabaran teori belajar konstruktivisme dijelaskan oleh Piaget (dalam
Dahar, Ratna Wilis, 1989: 40) sebagai berikut.
a.Memusatkan perhatian kepada berfikir/proses mental anak, tidak sekadar
terfokus pada hasilnya (kebenaran jawaban siswa). Tetapi seorang guru
juga harus memahami bagaimana proses yang dialami sehingga siswa
sampai pada jawaban tersebut.
b.Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif dan keterlibatan aktif dalam
kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini anak lebih didorong untuk
menemukan sendiri pengetahuan tersebut melalui interaksi spontan dengan
lingkungan.
c.Memaklumi
adanya
perbedaan
individu
dalam
hal kemajuan
perkembangan kognitif siswa. Karena fenomena tersebut maka seorang
guru harus berupaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas, yang semula
terdiri dari individu-individu menjadi kegiatan dalam bentuk kelompok-
kelompok kecil, kurangi kegiatan atau aktivitas dalam bentuk klasikal.
Ashan (1981: 90) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah perubahan
tingkah laku, baik pikiran, sikap maupun keterampilan yang berguna dalam
melakukan suatu kegiatan tertentu di masyarakat selama kehidupan yang
dialami peserta didik. Semantara itu Anitah W, Sri dkk. (2011:1.5)
menjelaskan hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku.
Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang
berupa pengetahuan, keterampilan, atau penguasaan nilai-nilai (sikap).
Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku dapat
digolongkan ke dalam hasil belajar. Pendapat di atas mengandung pengertian
bahwa hasil belajar itu hakikatnya berupa perubahan perilaku pada individu di
25
16
sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang bersangkutan mengalami
proses belajar mengajar tertentu. Jadi hasil belajar merupakan suatu tingkatan
khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan, kepandaian, keahlian, dan
kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes
prestasi.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Diantara
faktor tersebut antara lain: media, minat, umur dan motivasi dalam
pembelajaran. Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal, maka dalam
proses belajar mengajar, pancaindra dan kesanggupan anak didik harus
dirangsang, digunakan dan dilibatkan agar dapat berkembang secara optimal.
Siswa umumnya tidak hanya mampu mengetahui melainkan juga dapat
memahami, mengingat, menganalisis, dan melakukan kembali setiap yang
dilakukan guru dengan baik dan benar. Siswa juga memiliki kemampuan
lainnya yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil penelitian
juga membuktikan bahwa 11,00% pengetahuan seseorang diperoleh dari
pendengaran, 83% dari penglihatan, sedangkan kemampuan daya ingat
diperoleh 20%,menggunakan pendengaran penglihatan 50% dari apa yang
dilihat (Denny Setiawan, 2003:4.4).
Pembelajaran Tematik pada siswa SD seharusnya diajarkan mulai dari
hal-hal yang bersifat konkrit dan sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapi
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk menolak pembelajaran
tradisional dengan paradigma lama yang menyatakan bahwa pembelajaran itu
adalah transfer pengetahuan yang termuat di dalam buku teks, dan menjadi
tanggung jawab pengajar untuk “memasukkan” isi buku teks tersebutkepada
pebelajar. Mengajar ditafsirkan sebagai memasukkan isi atau bahan-bahan dari
buku itu ke kepala siswa sedemikian rupa sehingga mereka pada saatnya akan
mengeluarkan kembali segala informasi yang diterima dalam bentuk tes.
Dengan model ini, cara memperbaiki pengajaran ialah dengan jalan
memperbaiki gurunya, yaitu meminta guru belajar lebih banyak pengetahuan
dan belajar lebih banyak metode untuk menyampaikan kepada pebelajar.
26
17
Dalam pandangan modern tentang proses pembelajaran bahwa
pembelajaran itu suatu proses yang sistematik maka dalam belajar perlu
disenyediakan sumber belajar agar terjadi proses belajar pada pebelajar.
Pembelajaran adalah suatu disiplin yang menaruh perhatian pada upaya untuk
meningkatkan dan memperbaiki proses belajar. Sasaran utamanya adalah
mempreskripsikan strategi yang optimal untuk mendorong prakarsa dan
memudahkan belajar. Pembelajaran adalah upaya menata lingkungan eksternal
atau fasilitasi agar terjadinya belajar pada pebelajar (learner). Upaya menata
lingkungan dilakukan melalui penyediaan sumber-sumber belajar.
Tingkat keberhasilan pembelajaran adalah perubahan perilaku
terjadinya belajar pada pebelajar, bukan guru yang telah menyampaikan
informasi (mengajar?). Guru bukan satu-satunya sumber belajar, karena
pebelajar dapat belajar dari berbagai sumber belajar lainnya melalui: pakar,
praktisi, Siswa (pebelajar) lain, masyarakat, buku, jurnal, majalah, koran,
internet, televisi, video, radio, dan sebagainya. Semua sumber-sumber belajar
tersebut berorientasi agar proses belajar menjadi lebih efektif, efisien, dan
menarik agar pebelajar tetap “betah” belajar. Dengan demikian, tujuan utama
pembelajaran adalah membantu pebelajar, orang yang sedang belajar, pelajar,
siiswa atau guru yang sedang belajaruntuk belajar. Guru sebagai pengelola
pembelajaran perlu merancang agar belajar menjadi lebih mudah, lebih cepat,
dan lebih menyenangkan.
Dalam
paradigma
pembelajaran
masa
depan
yang
inovatif
menyebutkan pebelajar dapat belajar: di mana saja,kapan saja, dengan siapa
saja, melalui apa saja. Belajar dimana saja artinya pebelajar dapat belajar di
kelas, di perpustakaan atau di rumah; Belajar kapan saja, artinya belajar tidak
harus dijadwalkan sekolah bisa pagi, siang sore atau malam; dan belajar
dengan siapa saja, artinya pebelajar memperoleh sumber belajar melalui guru,
pakar, praktisi atau masyarakat; Belajar melalui apa saja, artinya pebelajar
dapat belajar melalui internet, radio, televisi, laboratorium, dan pengalaman
langsung.
27
18
Jadi belajar merupakan perilaku aktif dalam menghadapi lingkungan
untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan makna.Hasil
belajar adalah proses penentuan tingkat kecakapan penguasaan belajar
seseorang dengan cara membandingkannya dengan norma tertentu dalam
sistem penilaian yang disepakati.Hasil belajar dapat diwujudkan dengan
adanya perubahan tingkah laku seseorang dalam ranah kognitif, afektif dan
psikomotorik yang ditetapkan sebagai tujuan pembelajaran. Jadi hasil belajar
pada pelajaran Tematik adalah diperolehnya pengalaman, pengetahuan,
pemahaman dan makna dari meteri pelajaran Tematik yang didapatkan melalui
proses pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil.
C.Peranan Penelitian Tindakan Kelas dalam Perbaikan Pembelajaran
Secara konsepsional penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian
yang dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung bidang ilmu
pengetahuan sosial dan humaniora. Dalam penelitian tindakan, bertindak dan
meneliti berjalan bersamaan. Dalam penelitian tindakan kelas guru didorong
untuk menjadi reflektif dalam praktek pembelajarannya, dalam upaya
mencapai kualitas pendidikan bagi dirinya dan bagi para siswanya. Penelitian
tindakan kelas merupakan suatu bentuk ”self reflective inquiry” yang
digunakan dalam pengembangan kurikulum berbasis sekolah, pengembangan
profesionalisme, dan sebagainya (Mc. Niff, 1992:1). Jadi dalam penelitian
tindakan kelas, guru terlibat secara aktif sebagai partisipan dalam proses
pembelajaran yang diselenggarakannya. Seorang guru di kelas dipandang
sebagai penilai terbaik bagi seluruh pengalaman kependidikannya. Penelitian
tindakan kelas dapat berfungsi sebagai jembatan yang menguhubungkan
antara teori dan praktek kependidikan dimana guru didorong untuk
mengembangkan
teori
personalnya
tentang
pendidikan
berdasarkan
prakteknya di kelas.
Beberapa karakteristik dari Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai
berikut (Cohen dan Manion, 1980: dalam Sadia, 2009:11)
28
19
1)Situasional, praktis dan secara langsung terkait dengan situasi nyata dalam
proses pembelajaran. Berkenaan dengan diagnosis suatu masalah dalam
konteks tertentu dan upaya pemecahannya;
2)Bersifat empiris, dalam arti bahwa mengandalkan observasi nyata dan data
perilaku dan tidak merupakan kajian peneliti yang bersifat subjektif atau
pendapat orang lain berdasarkan pengalaman masa lalunya;
3)Pleksibel dan adaptif, memungkinkan terjadinya perubahan selama
tindakan berlangsung. Tidak melakukan kontrol variabel, karena lebih
menekankan pada tanggapan (respon) dari subjek penelitian;
4)Bersifat partisipatori, karena peneliti beserta anggota tim peneliti sendiri
ambil bagian secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan
penelitian;
5)Bersifat self-evaluative, yaitu modifikasi secara kontinu dan dievaluasi
dalam situasi yang ada, yang tujuan akhirnya adalah untuk memperbaiki
praktek dan cara tertentu; dan
6)Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan kelas secara
ilmiah kurang ketat, karena validitas internal maupun eksternalnya lemah.
Penelitian Tindakan Kelas bermanfaat bagi guru untuk memperbaiki
dan meningkatkan proses pembelajaran ke arah yang lebih bermutu. Penelitian
Tindakan Kelas merupakan salah satu cara yang tepat digunakan untuk
melakukan perubahan dan perbaikan dalam pendidikan terutama dalam proses
pembelajaran. Untuk dapat melakukan Penelitian Tindakan Kelas sesuai
dengan fungsinya guru harus:
1.Memiliki pemahaman yang jelas tentang tugas sehari-hari sebagai guru
untuk membelajarkan muridnya.
2.Memiliki sifat inovatif, sesuai dengan profesinya sebagai pendidik murid
akan selalu dituntut perubahan, peningkatan dan pengembangan yang terus
menerus.
3.Memiliki sikap terbuka, setiap ada permasalahan yang dihadapi secara
terbuka mengemukakannya atau mengkonsultasikannya dengan pihak lain
yang dianggap memiliki pengalaman dalam menangani masalah tersebut
29
20
misalnya dengan Supervisor 2 (guru lain), dengan kepala sekolah atau
pakar lainnya.
4.Memiliki rasa kerja sama yang tinggi yaitu guru tidak sendirian dalam
melaksanakan tugasnya, tetapi banyak teman lain yang dapat membantu
dan bekerja sama.
5.Memiliki keinginan untuk melakukan perbaikan dan perubahan. Hal ini
penting, karena perkembangan ilmu pengetatruan dan kemasyarakatan
berkembang sangat cepat, sehingga apabila guru lengah dalam mengikuti
perkembangan ini akan ketinggalan
6.Menemukan kelemahan/permasalahan dalam pembelajaran yang dilakukan
melalui refleksi.
7.Menemukan alternatif, solusi untuk memperbaiki kelemahan dan
meningkatkan mutu pembelajaran yang dilahirkan berdasarkan Penelitian
Tindakan Kelas.
8.Mempertanggungjawabkan keputusan atau tindak perbaikan pembelajaran
yang dilakukan secara ilmiah, yang dapat disampaikan secara lisan/
tertulis.
Berdasarkan pandangan-pandangan tentang Model Pembelajaran
Cooperative Learning Type Jigsaw, hasil belajar, dan perbaikan pembelajaran
melalui Penelitian Tindakan Kelas, maka upaya memperbaiki hasil belajar
Tematik pada siswa Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti, dipilih
rancangan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran
Cooperative Learning Type Jigsaw. Dengan Model Pembelajaran Cooperative
Learning Type Jigsaw diasumsikan aktivitas dan hasil belajar siswa akan
meningkat secara signifikan.
30
21
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian
1.Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada perbaikan pembelajaran ini adalah siswa
Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan Baturiti yang kemampuannya
dalam pelajaran Tematik masih rendah. Sedangkan yang menjadi objek
penelitian adalah kemampuan siswa hubungan antara struktur organ tubuh
manusia dengan fungsinya, serta pemeliharaannya pada pembelajaran
Tematik dan kinerja guru dalam penerapan pembelajaran menggunakan
Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw. Jumlah siswa
yang menjadi subjek penelitian sebanyak 19 orang yang terdiri dari 11
orang siswa laki-laki dan 8 orang siswa perempuan.
Karakteristik siswa Kelas VI SD Negeri 2 Apuan Kecamatan
Baturiti dalam pelajaran Tematik pada kondisi awal adalah:
a.Rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan analisis dan
sintesis membuat pembelajaran tidak maksimal.
b.Siswa kurang berani menyampaikan gagasan secara langsung sehingga
kelemahan siswa dalam mengikuti pembelajaran tidak terungkap.
c.Kemampuan intelektual siswa yang berbeda-beda menyebabkan
kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
d.Siswa kurang mampu belajar mandiri dalam menemukan hal-hal yang
terkait dengan esensi materi pelajaran.
e.Belum terciptanya suasana belajar yang baik sehingga siswa tidak
terfokus pada pembelajaran.
f.Kemampuan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar sedikit lambat
sehingga tidak sesuai dengan target pencapaian kompetensi yang
diharapkan.
Sedangkan data subjek penelitian adalah sebagai berikut.
31
22
Tabel 3.1 Daftar nama siswa sebagai subjek penelitian
No
Nama
L/P
Ket
1 Pebri Suandana Putra
L
2 Kd Rio Ananta Putra
L
3 Kd Rich Angga Dharma Saputra
L
4 I Putu Wahyu Wardana
L
5 I Ketut Darma Yasa
L
6 I Wayan Wiguna Astanaya
L
7 Gede Rafa Dwiprastika
L
8 I Made Sumyarta Adi Ariawan
L
9 Ni Made Sriram Maharani
P
10
Ni Putu Wina Dharma Yunita
P
11
Ni Putu Ayu Lila Sewita Dewi
P
12
Ni Komang Anggelia Aedila Putri
P
13
Ni Luh Putu Lestari
P
14
I Gede Dimas Januarta
L
15
I Ketut Dian Ardika
L
16
I Putu Agus Dimas Setiawan
L
17
Ni Ketut Jeni Rismayanti
P
18
Kadek Dwi Cahya Cahyani Putri
P
19
Husnah Kamila
P
Jumlah Laki-laki
11
Jumlah Perempuan
8
2.Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 2 Apuan Kec. Apuan.
Sekolah yang menjadi tempat penelitian ini beralamat di Br. Kambangan,
Desa Apuan, Kec. Baturiti, Tabanan. Dalam berbagai hal partisipasi orang
tua siswa dan masyarakat sekitar terhadap kegiatan sekolah terutama
dalam hal penyediaan sarana pembelajaran cukup memadai. Langkah
untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui kegiatan penelitian
perbaikan pembelajaran dilakukanguna mendapatkan hasil belajar yang
lebih maksimal.
32
23
3.Waktu Penelitian dan Tema Penelitian
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada semseter 2
Tahun Pelajaran 2021/2022 selama dua bulan yaitu pada bulan April dan
Mei 2022 dengan jadwal sebagai berikut.
Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Perbaikan Pembelajaran
No
Hari/Tanggal
Kegiatan
1.Selasa, 12 April 2022
Refleksi awal
2.Sabtu, 16 April 2022
Perencanaan Siklus I
3.Selasa, 19 April 2022
Pelaksanaan Siklus I
4.Selasa, 19 April 2022
Pengamatan/Penilaian Siklus I
5.Jumat, 22 April 2022
Refleksi Siklus I
6.Sabtu, 07 Mei 2022
Perencanaan Siklus II
7.Rabu, 11 Mei 2022
Pelaksanaan Siklus II
8.Rabu, 11 Mei 2022
Pengamatan/Penilaian Siklus II
9.Sabtu, 14 Mei 2022
Refleksi Siklus II
10.Sabtu, 21 Mei 2022
Penyusunan Laporan
11.Jumat, 27 Mei 2022
Pengesahan Laporan
Tema yang dipilih pada tindakan Siklus I adalah Tema 8 Bumiku; Sub
Tema 1 Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya; Muatan Terpadu Bahasa
Indonesia, IPA, SBdP; Pembelajaran 2; Alokasi Waktu 1 Hari.
Tema yang dipilih pada tindakan Siklus II adalah Tema 8 Bumiku; Sub
Tema 1 Perbedaan Waktu dan Pengaruhnya; Muatan Terpadu Bahasa
Indonesia, PPKn, IPS; Pembelajaran 3; Alokasi Waktu 1 Hari.
B.Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
1.Studi Pendahuluan
Rencana perbaikan pembelajaran diawali dengan identifikasi
terhadap masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Berdasarkan pengamatan awal dapat diketahui bahwa
permasalahan dalam pembelajaran yang diteliti terdapat pada hasil ulangan
harian yakni nilai rata-rata ulangan siswa masih tergolong rendah dan
beberapa siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal.
33
24
Berdasarkan hasil diskusi dengan Supervisor 2 terungkap beberapa
masalah yang terjadi dalam pembelajaran Tematik di SD sebagai berikut.
a.Siswa kurang berani menyampaikan gagasan secara langsung sehingga
kelemahan siswa dalam mengikuti pembelajaran tidak terungkap.
b.Kemampuan intelektual siswa yang berbeda-beda menyebabkan
kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
c.Siswa kurang mampu belajar mandiri dalam menemukan hal-hal yang
terkait dengan esensi materi pelajaran.
d.Belum terciptanya suasana belajar yang baik sehingga siswa tidak
terfokus pada pembelajaran.
e.Rendahnya keterlibatan siswa melalui pengalaman belajar tidak
dengan berbagai kegiatan.
Cara Perbaikan Pembelajaran yang direkomendasikan:
a.Menyusun perencanaan skenario pembelajaran dengan menggunakan
model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik.
b.Meminta bantuan Supervisor 2 untuk mendapatkan masukan
bagaimana memotivasi siswa.
c.Menentukan bahan ajar dan merumuskan tujuan pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik siswa.
d.Menggunakan media (alat bantu pembelajaran) dan sumber belajar
yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
e.Meminta masukan dari Supervisor 2 tentang cara merancang
pengelolaan kelas.
Setelah diadakan analisis dan perumusan masalah, maka ditemukan
berbagai masalah seperti yang disebutkan di atas. Salah satu upaya untuk
menanggulangi masalah dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas
dengan demikian penulisan mulai melakukan langkah persiapan yang
tujuannya adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan proses
pembelajaran ke arah yang lebih baik dan bermutu.
34
25
Untuk melakukan langkah perbaikan berarti seorang guru
memperbaikisuatu sistem kajian untuk melakukan perubahan dan
perbaikan dalam dunia pendidikan terutama dalam proses pembelajaran.
Pada rencana perbaikan ini terdiri dua siklus untuk masing-masing mata
pelajaran yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refkeksi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang siklus
proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan, dapat dilihat
pada gambar berikut.
Gambar 3.1 Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran
(Sumber: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan, Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009:10)
2.Langkah-langkah Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Perbaikan pembelajaran untuk pembelajaran Tematik dilaksanakan
2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II. Prosedur pelaksanaan terdiri dari 4
Selanjutnya?
Siklus I
Identifikasi
masalah
Perencanaan
Refleksi
Tindakan
Observasi
Siklus II
Perencanaan
Refleksi
Tindakan
Observasi
35
26
tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan,
tahap refleksi. Adapun
Langkah-langkah
yang ditempuh dalam
pelaksanaan perbaikan pembelajaran masing-masing siklus secara rinci
diuraikan sebagai berikut.
a.Perencanaan Siklus I
Tahap perencanaan merupakan persiapan segala sesuatunya yang
bertujuan
untuk
memperlancar
jalannya
penelitian
sehingga
memperoleh hasil yang optimal. Oleh karena itu pada tahap
perencanaan ini, hal-hal yang dipersiapkan adalah: menyusun skenario
pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Perbaikan
Pembelajaran, menyiapkan alat/media pembelajaran, menyusun lembar
pengamatan dan menyusun Lembar Kerja Siswa serta meminta
bantuan Supervisor 2.
b.Pelaksanaan Siklus I
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan inti pelaksanaan perbaikan
pembelajaran. Pada tahap ini guru melaksanakan proses pembelajaran
sesuai dengan jadwal dan skenario yang telah disiapkan sebelumnya.
Pelaksanaan pembelajaran Tematik Siklus I dilakukan dengan
Langkah-langkah kegiatan inti adalah sebagai berikut.
Pertama: pembentukan kelompok.
Siswa dibagi atas beberapa kelompok dengan anggota 5-6 orang.
Kedua: Penyajian materi.
Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah
dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
Ketiga: Kegiatan eksplorasi.
Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan
bertanggungjawab untuk mempelajarinya.
Keempat: Diskusi kelompok ahli.
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang
sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusi-
kannya.
36
27
Kelima: Diskusi kelompok asal.
Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali kekelompoknya
bertugas mengajar teman-temannya.
Keenam: Presentasi/evaluasi
Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai
tagihan berupa kuis individu
c.Pengamatan/Penilaian Siklus I
Kegiatan pengamatan dilalakukan terhadap kegiatan guru dan siswa
dengan
menggunakan
lembar
pengamatan.
Dalam
kegiatan
pengamatan ini dilakukan oleh Supervisor 2 yang terlebih dahulu
diberikan arahan petunjuk kerja. Pengamatan dilakukan terhadap
kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
Hasil pengamatan ini nantinya digunakan sebagai bahan refleksi dalam
rangka mengadakan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran
berikutnya.
d.Refleksi Siklus I
Kegiatan refleksi dilakukan pada akhir Siklus I yang tujuannya untuk
mengetahui keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan selama
penelitian. Dari hasil refleksi dan musyawarah dengan Supervisor 2
dapat dipikirkan bersama cara-cara untuk mengatasi hambatan atau
kendala-kendala dari tindakan pada Siklus I.
e.Perencanaan Siklus II
Perencanaan pada Siklus II disesuaikan dengan hasil refleksi Siklus I.
Berdasarkan hasil refleksi Siklus I, maka beberapa kegiatan yang
dilakukan pada Tahap Perencanaan Siklus II adalah: menyusun
rencana (skenario) pembelajaran, menyiapkan media, menyusun
Lembar Kerja Siswa, menyusun lembar pengamatan, meminta bantuan
Supervisor 2.
f.Pelaksanan Siklus II
37
28
Pada tahap ini guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan
jadwal dan skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan sesuai
dengan rencana perbaikan pembelajaran Siklus II.
Langkah-langkah kegiatan inti adalah sebagai berikut.
Pertama: pembentukan kelompok.
Siswa dibagi atas beberapa kelompok dengan anggota 5-6 orang.
Kedua: Penyajian materi.
Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah
dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
Ketiga: Kegiatan eksplorasi.
Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan
bertanggungjawab untuk mempelajarinya.
Keempat: Diskusi kelompok ahli.
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang
sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusi-
kannya.
Kelima: Diskusi kelompok asal.
Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali kekelompoknya
bertugas mengajar teman-temannya.
Keenam: Presentasi/evaluasi
Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai
tagihan berupa kuis individu.
g.Pengamatan/Penilaian Siklus II
Kegiatan pengamatan dilakukan oleh guru pengamat (Supervisor 2)
terhadap kegiatan guru dalam mengajar selama proses belajar
mengajar berlangsung di kelas. Pada kegiatan guru pengamat membuat
catatan-catatan kecil sesuai dengan lembar pengamatan yang telah
disusun dan disepakati bersama yang dapat digunakan sebagai refleksi
untuk perbaikan pembelajaran berikutnya.
h.Refleksi Siklus II
38
29
Refleksi dilakukan pada akhir Siklus II, yang tujuannya untuk
mengetahui keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan selama
penelitian. Hasil dari refleksi yang diperoleh digunakan sebagai bahan
perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran berikutnya.
C.Teknik Analisis Data
Data hasil penelitian dikumpulkan menggunakan format penilaian
hasil belajar. Penilaian dilakukan pada setiap Siklus untuk mata pelajaran
Tematik. Adapun tujuan dilakukannya penilaian hasil belajar adalah untuk
mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangannya dalam penguasaan meteri pelajaran yang telah
diajarkan. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui posisi
kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya. Meteri penilaian
disesuaikan dengan soal-soal yang terdapat pada Rencana Perbaikan
Pembelajaran atau dari Lembar Kerja Siswa. Hasil pekerjaan siswa dari
menjawab soal dikoreksi dan hasilnya ditabulasikan untuk selanjutnya
dilakukan analisis sederhana. Penskoran tarhadap hasil jawaban siswa
menggunakan skala penilaian 10-100. Skor atas jawaban yang diberikan siswa
ditentukan berdasarkan kesesuaian jawaban dengan rubrik penilaian yang
telah disiapkan.
Data keaktifan siswa dan kegiatan guru dalam melaksanakan Model
Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw diperoleh melalui
pengamatan yang dilakukan Supervisor 2. Pengamatan dilakukan untuk
menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
penyempurnaan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya. Hal ini dilakukan
karena kegagalan siswa dalam hasil belajar yang dicapainya juga bisa
disebabkan oleh program pembelajaran yang diberikan kepadanya atau oleh
kesalahan strategi dalam mekalsanakan program tersebut, misalnya kekurang
tepatan dalam memilih dan menggunakan metode mengajar dan alat bantu
pembelajaran. Data hasil pengamatan ini juga digunakan untuk melengkapi
data dasar hasil penilaian hasil belajar. Data hasil belajar dan hasil
pengamatan digunakan sebagai bahan informasi dalam menentukan tindakan
39
30
pada siklus selanjutnya. Data tentang keaktifan siswa dan kegiatan guru dalam
melaksanakan pembelajaran dilakukan menggunakan format pengamatan
pelaksanaan pembelajaran. Pengamatan dilakukan untuk melihat aspek-aspek:
kemampuan mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran, kemampuan
melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran, kemampuan mengelola
interaksi kelas, berikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan
sikap positif siswa terhadap belajar, kemampuan mendemontrasikan
kemampuan
khusus
dalam
perbaikan
pembelajaran,
kemampuan
melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, dan kesan umum
pelaksanaan pembelajaran.
Data hasil penelilaian dianalisis dengan analisis kuantitatif dan
kualitatif secara sederhana. Data hasil belajar siswa yang telah berhasil
dikumpulkan selanjutnya ditabulasikan dalam bentuk tabel, dihitung jumlah
skor perolehan, rata-rata perorangan dan kelompok, persentase ketuntasan
dengan menggunakan bantuan komputer. Selanjutnya hasil analisis data
disajikan dalam bentuk tabel, uraian secara deskriptif dan digambarkan dalam
bentuk histogram serta diberikan argumentasi seperlunya. Dalam sajian data
hasil penelitian juga dibandingkan nilai rata-rata dan ketuntasan kelompok
yang diperoleh pada setiap siklus mulai dari Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian dilakukan dengan cara
membandingkan hasil belajar yang diperoleh setiap siklus dengan indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.
D.Indikator Keberhasilan
Dengan memperhatikan kondisi awal kemampuan siswa dalam
pembelajaran Tematik yang menunjukkan bahwa terdapat siswa yang hasil
belajarnya masih tergolong rendah, maka indikator keberhasilan yang
ditetapkan adalah sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal Tematik
(=65,00), ketuntasan klasikal (=85,00%). Sesuai indikator keberhasilan
tersebut, maka pada mata pelajaran Tematik siswa yang memperoleh nilai
rata-rata (=65,00) dan serta ketuntasan klasikal (=85,00%), dinyatakan telah
memenuhi indikator keberhasilan dan penelitian ini dapat dikatakan berhasil.
40
31
DAFTAR PUSTAKA
Agus Taufiq, Hera L Mikarsa, Puji L Prianto. (2011). Pendidikan Anak di SD.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Anitah W, Sri dkk. (2011). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas
Terbuka
Andayani, dkk. (2009). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Dahar, R,W. (1988). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan.
Hilke, Eileen Veronica. (1998). Fastback Cooperative Learning. New York:
McGraw-Hill, Inc.
Johnson, D.W. & Johnson, R.T. (1999). Learning Togather and Alone:
Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning. 3rd . Englewood
Clipffs, NY: Prentice Hall.
Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning
di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sadia. (2009). Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning Model)
Makalah. Disajikan Pada Diklat Strategi Pembelajaran Inovatif Bagi
Guru Fisika Di Lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Bali Tanggal 22
S/D 27 Agustus 2009
Setiawan Denny, dkk. (2003). Komputer dan Media Pembelajaran. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Tematik Kontemporer.
Bandung: IMSTEP.
Trianto.
(2007).
Model-model
Pembelajaran
Inovatif
Berorientasi
Konstruktivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka Publisher.
Udin S. Winata Putra, dkk. (2013). Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Wardani, IGAK, dkk. (2013). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas
Terbuka.
SISTEM REPRODUKSI MANUSIA
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 40
SLIDE
Similar Resources on Wayground
36 questions
Nutrisi
Presentation
•
7th Grade
38 questions
KLASIFIKASI MAHLUK HIDUP
Presentation
•
7th Grade
33 questions
Clima y paisajes del Mundo
Presentation
•
6th Grade
31 questions
pertemuan 1 analisis data
Presentation
•
7th Grade
32 questions
HAKIKAT ILMU SAINS
Presentation
•
8th Grade
36 questions
Planet
Presentation
•
6th Grade
34 questions
Besaran Pokok Dan Turunan
Presentation
•
7th Grade
35 questions
kalor serta perpindahannya
Presentation
•
7th Grade
Popular Resources on Wayground
10 questions
Factors 4th grade
Quiz
•
4th Grade
10 questions
Cinco de Mayo Trivia Questions
Interactive video
•
3rd - 5th Grade
13 questions
Cinco de mayo
Interactive video
•
6th - 8th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Inferences
Quiz
•
4th Grade
19 questions
Classifying Quadrilaterals
Quiz
•
3rd Grade
Discover more resources for Science
16 questions
Interactions within Ecosystems
Presentation
•
6th - 8th Grade
20 questions
Moon Phases and Eclipses
Quiz
•
6th - 8th Grade
16 questions
Photosynthesis and Cellular Respiration Review
Quiz
•
7th Grade
20 questions
Food Webs + Energy Pyramids
Quiz
•
7th Grade
20 questions
Evolution and Natural Selection
Quiz
•
7th Grade
10 questions
Exploring Earth's Seasons and Their Causes
Interactive video
•
6th - 8th Grade
20 questions
Frog Dissection
Quiz
•
7th Grade
10 questions
The Ocean's Role in Weather and Climate
Interactive video
•
6th - 8th Grade