
kurikulum merdeka
Presentation
•
Other
•
6th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Zaituni Zaituni
Used 14+ times
FREE Resource
75 Slides • 0 Questions
1
2
SOSIALISASI
IMPLEMENTASI
KURIKULUM MERDEKA
DISDIKBUD KABUPATEN
SAMPANG
“Seputar Implementasi Kurikulum
Merdeka KEMENDIKBUDRISTEK RI”
Rabu, 08 Maret 2023
3
4
EPISODE 2
KAMPUS
MERDEKA
EPISODE 3
PERUBAHAN MEKANISME
BOS
EPISODE 1
MERDEKA
BELAJAR
EPISODE 4
PROGRAM ORGANISASI
PENGGERAK
EPISODE 7
PROGRAM SEKOLAH
PENGGERAK
EPISODE 8
SMK PUSAT
KEUNGGULAN
EPISODE 5
PROGRAM GURU
PENGGERAK
EPISODE 6
TRANSFORMASI DANA
PEMERINTAH
UNTUK PENDIDIKAN TINGGI
EPISODE 11
KAMPUS MERDEKA
VOKASI
EPISODE 9
KIP KULIAH
MERDEKA
Episode Merdeka Belajar Hingga Saat Ini
EPISODE 10
PERLUASAN PROGRAM BEASISWA
LPDP
EPISODE 14
PERMENDIKBUD
PPKS
EPISODE 13
MERDEKA BERBUDAYA DENGAN
KANAL INDONESIANA
EPISODE 15
KURIKULUM MERDEKA
DAN
PLATFORM MERDEKA
MENGAJAR
EPISODE 12
SEKOLAH AMAN
BERBELANJA
5
Krisis pembelajaran di Indonesia telah berlangsung
lama dan belum membaik dari tahun ke tahun
Studi-studi nasional maupun
internasional, salah satunya PISA,
menunjukkan bahwa banyak siswa
kita yang tidak mampu memahami
bacaan sederhana atau menerapkan
konsep matematika dasar.
Skor PISA tidak mengalami
peningkatan yang signifikan dalam 10
sampai 15 tahun terakhir. Sekitar
70% siswa usia 15 tahun berada
dibawah kompetensi minimum
membaca dan matematika.
Studi tersebut memperlihatkan adanya
kesenjangan besar antar wilayah
dan antar kelompok sosial- ekonomi
dalam hal kualitas belajar. Setelah
pandemi, krisis belajar ini menjadi
semakin parah.
Sumber: OECD (2018)
6
Krisis pembelajaran diperparah oleh pandemi COVID-
19 dengan hilangnya pembelajaran (learning loss)
dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran
▪ Sebelum pandemi, kemajuan belajar selama satu
tahun (kelas 1 SD) adalah sebesar 129
poin
untuk literasi dan 78 poin untuk numerasi.
▪ Setelah pandemi, kemajuan belajar selama kelas
1 berkurang secara signifikan (learning loss).
▪ Untuk literasi, learning loss ini setara dengan 6
bulan belajar.
▪ Untuk numerasi, learning loss tersebut setara
dengan 5 bulan belajar.
(Diambil dari sampel 3.391 siswa SD dari 7 Kab/
Kota di 4 provinsi, pada bulan Januari 2020 dan
April 2021)
Literasi
Numerasi
-52
(6 bulan)
129
77
SESUDA
H
(TA 20/21)
SEBELU
M
(TA 19/20)
- 44
Indikasi
Learning
Loss
(5 bulan)
78
34
Indikasi learning loss: berkurangnya kemajuan
belajar dari kelas 1 ke kelas 2 SD.
7
Perkenalan ke Kurikulum Merdeka
1. Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian
Belajar
Pembelajaran sesuai tahap capaian belajar murid (teaching at the right level) adalah
pendekatan belajar yang berpusat pada kesiapan belajar murid, bukan pada tingkatan
kelas.
Apa tujuan pembelajaran ini?
•Sebagai bentuk implementasi filosofi ajar Ki Hadjar Dewantara yang berpusat pada
murid
•Menguatkan kompetensi numerasi dan literasi murid
•Agar setiap murid mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan
Bagaimana pembelajaran dilakukan?
Murid dalam fase perkembangan yang sama bisa memiliki tingkat pemahaman dan
kesiapan yang berbeda. Karena itu, pada model pembelajaran ini, cara dan materi
pembelajaran divariasikan berdasarkan tingkat pemahaman dan kesiapan murid.
Apa itu fase perkembangan?
Fase atau tingkatan perkembangan adalah capaian pembelajaran yang harus dicapai
murid, yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhannya.
8
SD, SMP, SMA, SMK (MI, MTs, MA,
MAK)
•Fase A: SD/MI kelas 1–2
•Fase B: SD/MI kelas 3–4
•Fase C: SD/MI kelas 5–6
•Fase D: SMP/MTs kelas 7–9
•Fase E: SMA/MA, SMK/MAK kelas 10
•Fase F: SMA/MA, SMK/MAK kelas 11–
12
Sinkronisasi Jenjang, Usia Mental, dan Usia Kronologis
Fase A
•Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 1–2)
•Usia kronologis: ≤ 6–8 tahun
•Usia mental: ≤ 7 tahun
Fase B
•Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 3–4)
•Usia kronologis: 9–10 tahun
•Usia mental: ± 8 tahun
Fase C
•Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 5–6)
•Usia kronologis: 11–12 tahun
•Usia mental: ± 8 tahun
Fase D
•Jenjang/kelas: SMP/MTs (kelas 7–9)
•Usia kronologis: 13–15 tahun
•Usia mental: ± 9 tahun
Fase E
•Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 10)
•Usia kronologis: 16–17 tahun
•Usia mental: ± 10 tahun
Fase F
•Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 11–12)
•Usia kronologis: 17–23 tahun
•Usia mental: ± 10 tahun
9
Bagaimana cara menentukan kemajuan hasil belajar?
Kemajuan hasil belajar murid dilakukan melalui evaluasi pembelajaran atau asesmen.
Murid yang belum mencapai capaian pembelajaran akan mendapatkan pendampingan
agar mencapai capaian pembelajarannya.
Bagaimana tahapan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen?
Perencanaan
Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, yang mencakup rencana asesmen
formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran dan asesmen sumatif di akhir
pembelajaran.
Asesmen Awal Pembelajaran
•Asesmen awal bertujuan untuk untuk menilai kesiapan masing-masing murid untuk
mempelajari materi yang telah dirancang.
•Dengan demikian, guru bisa melakukan pengelompokkan murid berdasarkan tingkat
kesiapan yang sama.
Pembelajaran
•Selama proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen formatif secara berkala.
•Di akhir proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen sumatif sebagai proses
evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini juga bisa digunakan sebagai
asesmen awal pada pembelajaran berikutnya.
10
2. Pengorganisasian Pelaksanaan Pembelajaran
Untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, pengorganisasian
pembelajaran perlu diperbarui. Salah satu caranya adalah dengan mengatur
pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan satuan pendidikan.
Kewenangan Pemerintah Pusat
1.Struktur kurikulum
2.Profil Pelajar Pancasila
3.Capaian Pembelajaran
4.Prinsip pembelajaran dan asesmen
Kewenangan Satuan Pendidikan
1.Visi, misi, dan tujuan sekolah
2.Kebijakan lokal terkait kurikulum
3.Proses pembelajaran dan asesmen
4.Pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan
5.Pengembangan perangkat ajar
11
3. Struktur Kurikulum Merdeka
Struktur kurikulum di Kurikulum Merdeka didasari tiga hal, yaitu berbasis kompetensi, pembelajaran
yang fleksibel, dan karakter Pancasila.
Berikut adalah beberapa prinsip pengembangan struktur Kurikulum Merdeka.
Struktur Minimum
Struktur kurikulum minimum ditetapkan oleh pemerintah pusat. Namun, satuan pendidikan bisa
mengembangkan program dan kegiatan tambahan sesuai dengan visi, misi, dan sumber daya yang
tersedia.
Otonomi
Kurikulum memberi kemerdekaan pada satuan pendidikan dan guru untuk merancang proses dan
materi pembelajaran yang relevan dan kontekstual.
Sederhana
Perubahan dari kurikulum sebelumnya dibuat seminimal mungkin, namun tetap signifikan. Tujuan,
arah perubahan, dan rancangannya dibuat jelas sehingga mudah dipahami sekolah dan pemangku
kepentingan.
Gotong Royong
Pengembangan kurikulum dan perangkat ajar adalah hasil kolaborasi puluhan institusi, di antaranya
Kementerian Agama, universitas, sekolah, dan lembaga pendidikan lainnya.
12
Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No 56/M/2022 tahun 2022 tentang
Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.
13
14
15
16
17
18
Pengertian Profil Pelajar Pancasila
Definisi Profil Pelajar Pancasila
Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah
karakter dan kompetensi yang diharapkan
untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan
pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Kegunaan Profil Pelajar Pancasila
•Menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke
dalam format yang lebih mudah dipahami oleh
seluruh pemangku kepentingan pendidikan
•Menjadi kompas bagi pendidik dan pelajar
Indonesia
•Tujuan akhir segala pembelajaran, program,
dan kegiatan di satuan pendidikan
19
Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia
Pelajar Pancasila mengimani dan mengamalkan nilai dan ajaran agama/kepercayaannya. Hal
ini diwujudkan dalam akhlak yang baik pada diri sendiri, sesama manusia, alam, dan negara
Indonesia (nasionalisme).
Berkebinekaan global
Pelajar Pancasila mengenal dan mencintai budaya dan negaranya (nasionalisme),
menghargai budaya lain, serta mampu berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya.
Mereka juga melakukan refleksi terhadap pengalaman kebinekaannya, sehingga dapat
menyelaraskan perbedaan budaya untuk mewujudkan masyarakat inklusif, adil, dan
berkelanjutan.
Mandiri
Pelajar Pancasila memiliki pemahaman terhadap diri dan situasi yang dihadapi, serta
regulasi diri untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
20
Bergotong royong
Pelajar Pancasila melakukan kolaborasi yang dibangun atas dasar kemanusiaan dan
kepedulian kepada bangsa dan negara, sehingga dapat berbagi kepada sesama.
Bernalar kritis
Pelajar Pancasila yang bernalar kritis menganalisa dan mengevaluasi semua informasi
maupun gagasan yang diperoleh dengan baik. Mereka juga mampu mengevaluasi dan
merefleksi penalaran dan pemikirannya sendiri.
Kreatif
Pelajar Pancasila yang kreatif adalah pelajar yang bisa menghasilkan gagasan, karya, dan
tindakan yang orisinal. Mereka juga memiliki keluwesan berpikir dalam mencari
alternatif solusi permasalahan.
21
Tentang Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan
Pembelajaran
Pengertian Capaian Pembelajaran
Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus
dicapai murid pada setiap fase perkembangan, yang dimulai dari fase Fondasi pada
PAUD. Capaian Pembelajaran mencakup sekumpulan kompetensi dan lingkup materi,
yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Capaian pembelajaran
memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara
komprehensif dalam bentuk narasi.
Capaian Pembelajaran untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) terdiri atas satu
fase, yaitu fase Fondasi.
Capaian Pembelajaran untuk pendidikan dasar dan menengah terdiri dari 6 fase
(A–F), atau tahapan yang meliputi seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah
(SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, SDLB, SMPLB, SMALB, Paket A, Paket B,
dan Paket C). Capaian Pembelajaran untuk pendidikan dasar dan menengah juga
disusun untuk setiap mata pelajaran.
Murid berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual dapat menggunakan CP
pendidikan khusus. Sementara itu, murid berkebutuhan khusus tanpa hambatan
intelektual dapat menggunakan CP umum dengan menerapkan prinsip modifikasi
22
Konsep Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah deskripsi pencapaian tiga aspek kompetensi, yakni
pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang diperoleh murid dalam satu atau lebih
kegiatan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran disusun dengan memperhatikan eviden atau bukti yang dapat
diamati dan diukur pada murid, sehingga murid dapat dinyatakan mencapai suatu tujuan
pembelajaran.
Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu kompetensi
dan lingkup materi.
1. Kompetensi
Kompetensi merupakan kemampuan yang perlu didemonstrasikan oleh murid untuk
menunjukkan dirinya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Pertanyaan panduan
yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, antara lain:
•Secara konkret, kemampuan apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?
•Tahap berpikir apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?
23
2. Lingkup materi
Lingkup materi merupakan konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit
pembelajaran. Pertanyaan panduan yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan
pembelajaran, antara lain:
•Hal apa saja yang perlu dipelajari murid dari suatu konsep besar yang dinyatakan dalam CP?
•Apakah lingkungan sekitar dan kehidupan keseharian murid dapat digunakan sebagai konteks
untuk mempelajari konten dalam CP? (misal: proses pengolahan hasil panen digunakan sebagai
konteks untuk belajar tentang persamaan linear di SMA)
Contoh Capaian Pembelajaran:
Menganalisis hubungan antara kegiatan manusia dengan perubahan alam di permukaan
bumi dan menarik kesimpulan penyebab-penyebab utamanya (akhlak kepada alam).
Catatan:
•Kompetensi (kata kerja yang menunjukkan keterampilan/aksi) –> menganalisis, menarik
kesimpulan
•Konten (materi yang dipelajari) —> hubungan kegiatan manusia dengan perubahan alam (akhlak
kepada alam)
24
Konsep Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
Jika Capaian Pembelajaran adalah kompetensi yang diharapkan dapat dicapai murid
di akhir fase, maka Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian tujuan
pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase
pembelajaran.
•Alur menjadi panduan guru dan murid untuk mencapai Capaian Pembelajaran di
akhir suatu fase.
•Tujuan pembelajaran disusun secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran
dari waktu ke waktu.
•Guru dapat menyusun ATP masing-masing, yang terdiri dari rangkaian tujuan
pembelajaran.
•Pemerintah akan menyediakan beberapa contoh ATP yang bisa langsung
digunakan atau dimodifikasi, dan membuat panduan untuk penyusunan perangkat
ajar.
25
Tentang perangkat ajar
Konsep dan Komponen Modul Ajar
Konsep Modul Ajar
•Modul ajar merupakan salah satu jenis perangkat ajar yang memuat rencana
pelaksanaan pembelajaran, untuk membantu mengarahkan proses
pembelajaran mencapai Capaian Pembelajaran (CP).
•Jika satuan pendidikan menggunakan modul ajar yang disediakan pemerintah,
maka modul ajar tersebut dapat dipadankan dengan RPP Plus, karena modul
ajar tersebut memiliki komponen yang lebih lengkap dibanding RPP.
•Jika satuan pendidikan mengembangkan modul ajar secara mandiri, maka
modul ajar tersebut dapat dipadankan dengan RPP.
•Satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai perangkat ajar, termasuk
modul ajar atau RPP, dengan kelengkapan komponen dan format yang
beragam sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid.
26
Tujuan Pengembangan Modul Ajar
Pengembangan modul ajar bertujuan untuk menyediakan perangkat ajar yang dapat memandu
guru melaksanakan pembelajaran.
Dalam penggunaannya, guru memiliki kemerdekaan untuk:
•Memilih atau memodifikasi modul ajar yang sudah disediakan pemerintah untuk
menyesuaikan dengan karakteristik murid, atau
•Menyusun sendiri modul ajar sesuai dengan karakteristik murid
Kriteria yang harus dimiliki modul ajar adalah:
1.Esensial: pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan
lintas disiplin.
2.Menarik, bermakna, dan menantang: menumbuhkan minat belajar dan melibatkan murid
secara aktif dalam proses belajar; berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki sebelumnya sehingga tidak terlalu kompleks, namun juga tidak terlalu mudah untuk
tahap usianya.
3.Relevan dan kontekstual: berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
sebelumnya, serta sesuai dengan konteks waktu dan lingkungan murid.
4.Berkesinambungan: keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar
murid.
27
Komponen Modul Ajar
•Modul ajar sekurang-kurangnya berisi tujuan pembelajaran,
langkah pembelajaran (yang mencakup media pembelajaran
yang akan digunakan), asesmen, serta informasi dan
referensi belajar lainnya yang dapat membantu guru dalam
melaksanakan pembelajaran.
•Komponen modul ajar bisa ditambahkan sesuai dengan
mata pelajaran dan kebutuhannya.
•Guru di satuan pendidikan diberi kebebasan untuk
mengembangkan komponen dalam modul ajar sesuai
dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar murid.
28
Komponen inti modul ajar dapat diuraikan sebagai
berikut:
•1. Tujuan pembelajaranTujuan pembelajaran harus mencerminkan
hal-hal penting dari pembelajaran dan harus bisa diuji dengan
berbagai bentuk asesmen sebagai bentuk dari unjuk pemahaman.
•Tujuan pembelajaran akan menentukan kegiatan belajar, sumber
daya yang digunakan, kesesuaian dengan keberagaman murid, dan
metode asesmen yang digunakan.
•Tujuan pembelajaran pun bisa mencakup berbagai bentuk, mulai
dari pengetahuan (fakta dan informasi), prosedural, pemahaman
konseptual, pemikiran dan penalaran keterampilan, serta
kolaborasi dan strategi komunikasi.
29
2. Kegiatan pembelajaran
•Mencakup urutan kegiatan pembelajaran inti dalam bentuk
langkah-langkah konkret, yang disertakan opsi/pembelajaran
alternatif dan langkah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan
belajar murid.
•Langkah kegiatan pembelajaran ditulis secara berurutan sesuai
dengan durasi waktu yang direncanakan, dalam tiga tahap, yaitu
pendahuluan, inti, dan penutup berbasis metode pembelajaran
aktif.
30
3. Rencana asesmen
Rencana asesmen mencakup instrumen serta cara melakukan penilaian. Kriteria
pencapaian harus ditentukan dengan jelas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
ditetapkan.
•Asesmen dapat berupa asesmen formatif maupun asesmen sumatif. Namun, kedua jenis
asesmen ini tidak harus selalu digunakan dalam modul ajar, melainkan dapat disesuaikan
tergantung pada cakupan tujuan pembelajaran dan kebutuhan murid.
•Dalam merencanakan asesmen, guru juga perlu memahami salah satu prinsip asesmen
dalam Kurikulum Merdeka adalah mendorong penggunaan berbagai bentuk asesmen,
bukan hanya tes tertulis. Hal ini dilakukan agar pembelajaran bisa lebih terfokus pada
kegiatan yang bermakna, serta informasi atau umpan balik dari asesmen tentang
kemampuan murid juga menjadi lebih kaya dan bermanfaat dalam proses perancangan
pembelajaran berikutnya.
31
Tentang asesmen
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Prinsip Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara murid, guru, dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Prinsip pembelajaran pada Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut:
1.Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat
pencapaian murid, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan
perkembangan murid yang beragam. Dengan demikian, pembelajaran menjadi bermakna dan
menyenangkan.
Contoh:
. Pada awal tahun ajaran, guru berusaha mencari tahu kesiapan belajar murid dan
pencapaian sebelumnya. Misal: melalui dialog dengan murid, sesi diskusi kelompok kecil,
tanya jawab, pengisian survei/angket, dan/atau metode lainnya yang sesuai.
. Guru merancang atau memilih ATP sesuai dengan tahap perkembangan murid, atau
mengacu ke tahap awal. Guru bisa menggunakan atau mengadaptasi contoh tujuan
pembelajaran, ATP, dan modul ajar yang disediakan oleh Kemendikbudristek.
32
2. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas murid menjadi
pembelajar sepanjang hayat.
Contoh:
. Guru mendorong murid untuk melakukan refleksi untuk memahami kekuatan diri dan
area yang perlu dikembangkan.
. Guru senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan
murid untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
3. Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter murid secara
holistik.
Contoh:
. Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dan untuk
membantu murid mengembangkan kompetensi. Misal: belajar berbasis inkuiri, berbasis
projek, berbasis masalah, dan pembelajaran terdiferensiasi.
. Guru merefleksikan proses dan sikapnya untuk memberi keteladanan dan sumber
inspirasi positif bagi murid.
33
4. Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks,
lingkungan, dan budaya murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.
Contoh:
. Guru menyelenggarakan pembelajaran sesuai kebutuhan dan dikaitkan dengan dunia
nyata, lingkungan, dan budaya yang menarik minat murid.
. Guru merancang pembelajaran interaktif untuk memfasilitasi interaksi yang terencana,
terstruktur, terpadu, dan produktif antara guru dan murid, sesama murid, serta antara
murid dan materi belajar.
5. Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
Contoh:
. Guru berupaya untuk mengintegrasikan prinsip kehidupan keberlanjutan (sustainable
living) pada berbagai kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan
perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi.
Misal: menggunakan sumber daya secara bijak (hemat air, listrik, dll.), mengurangi
sampah.
. Guru memotivasi murid untuk menyadari bahwa masa depan adalah milik mereka,
sehingga mereka perlu mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan
mereka.
34
Prinsip Asesmen
Asesmen atau penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar murid. Prinsip asesmen
adalah sebagai berikut:
1.Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi
pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik
untuk guru, murid, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam
menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.
Contoh:
. Guru menguatkan asesmen di awal pembelajaran yang digunakan untuk
merancang pembelajaran sesuai dengan kesiapan murid.
. Guru merencanakan pembelajaran dengan merujuk pada tujuan yang
hendak dicapai dan memberikan umpan balik agar murid menentukan
langkah untuk perbaikan ke depannya.
35
2. Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi
asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan
teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif
mencapai tujuan pembelajaran.
Contoh:
. Guru memikirkan tujuan pembelajaran pada saat
merencanakan asesmen dan memberikan kejelasan pada
murid mengenai tujuan asesmen di awal pembelajaran.
. Guru menggunakan teknik asesmen yang beragam
sesuai dengan fungsi dan tujuan asesmen. Hasil dari
asesmen formatif digunakan untuk umpan balik
pembelajaran, sementara hasil dari asesmen sumatif
digunakan untuk pelaporan hasil belajar.
36
3. Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan
dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar,
menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya, dan
sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang
sesuai ke depannya.
Contoh:
. Guru menyediakan waktu dan durasi yang cukup agar
asesmen menjadi sebuah proses pembelajaran dan bukan
hanya untuk kepentingan menguji.
. Guru menentukan kriteria sukses dan menyampaikannya
pada murid, sehingga mereka memahami ekspektasi yang
perlu dicapai.
37
4. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian murid bersifat
sederhana dan informatif, memberikan informasi yang
bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai,
serta strategi tindak lanjut.
Contoh:
. Guru menyusun laporan kemajuan belajar secara
ringkas, mengutamakan informasi yang paling penting
untuk dipahami oleh murid dan orang tua.
. Guru memberikan umpan balik secara berkala kepada
murid dan mendiskusikan tindak lanjutnya bersama-sama,
serta melibatkan orang tua.
38
5. Hasil asesmen digunakan oleh murid, guru, tenaga
kependidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk
meningkatkan mutu pembelajaran.
Contoh:
. Guru menyediakan waktu untuk membaca, menganalisis,
dan melakukan refleksi hasil asesmen.
. Guru menggunakan hasil asesmen sebagai bahan
diskusi untuk menentukan hal-hal yang sudah berjalan
baik dan area yang perlu diperbaiki.
. Satuan pendidikan memiliki strategi agar hasil asesmen
digunakan sebagai refleksi oleh murid, guru, tenaga
kependidikan, dan orang tua untuk meningkatkan mutu
pembelajaran.
39
Asesmen Formatif dan Sumatif
Sesuai dengan tujuannya, asesmen dapat dibedakan menjadi asesmen formatif dan asesmen
sumatif.
Definisi Asesmen Formatif
•Penilaian atau asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses
pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Sesuai dengan tujuannya,
asesmen formatif dapat dilakukan di awal dan di sepanjang proses pembelajaran.
•Melalui asesmen ini, guru dapat mengidentifikasi kebutuhan belajar murid, hambatan atau
kesulitan yang mereka hadapi, serta untuk mendapatkan informasi perkembangan murid.
Informasi tersebut kemudian dijadikan umpan balik baik bagi murid maupun guru.
•Bagi murid, asesmen formatif berguna untuk berefleksi, dengan memonitor kemajuan
belajarnya, tantangan yang dialaminya, serta langkah-langkah yang perlu ia lakukan untuk
meningkatkan terus capaiannya. Hal ini merupakan proses belajar yang penting untuk menjadi
pembelajar sepanjang hayat.
•Bagi guru, asesmen formatif berguna untuk merefleksikan strategi pembelajaran yang
digunakannya, serta untuk meningkatkan efektivitasnya dalam merancang dan melaksanakan
pembelajaran. Asesmen ini juga memberikan informasi tentang kebutuhan belajar muridnya.
40
•Agar asesmen dapat bermanfaat bagi murid dan guru, beberapa
hal yang perlu diperhatilan guru dalam merancang asesmen
formatif di antaranya adalah sebagai berikut:
•Asesmen formatif tidak berisiko tinggi (high stake). Asesmen
formatif dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak
seharusnya digunakan untuk menentukan nilai rapor, keputusan
kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusan-keputusan penting
lainnya.
•Asesmen formatif dapat menggunakan berbagai teknik dan/atau
instrumen. Suatu asesmen dikategorikan sebagai asesmen
formatif jika tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas proses
belajar.
•Asesmen formatif dilaksanakan bersamaan dengan proses
pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga asesmen
41
•Asesmen formatif dapat menggunakan metode yang sederhana,
sehingga umpan balik hasil asesmen tersebut dapat diperoleh
dengan cepat.
•Asesmen formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan
memberikan informasi kepada guru tentang kesiapan belajar murid.
Berdasarkan asesmen ini, guru perlu menyesuaikan/memodifikasi
rencana pelaksanaan pembelajarannya dan/atau membuat
diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan murid.
•Instrumen asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi
tentang kekuatan, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan oleh murid,
serta mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan,
karya, atau performa yang diberi umpan balik. Dengan demikian,
hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka.
42
Definisi Asesmen Sumatif
Penilaian atau asesmen sumatif pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah bertujuan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran
dan/atau Capaian Pembelajaran (CP) murid, sebagai dasar penentuan
kenaikan kelas dan/atau kelulusan dari satuan pendidikan. Penilaian
pencapaian hasil belajar murid dilakukan dengan membandingkan
pencapaian hasil belajar murid dengan kriteria ketercapaian tujuan
pembelajaran.
Sementara itu, pada pendidikan anak usia dini (PAUD), asesmen sumatif
digunakan untuk mengetahui capaian perkembangan murid dan bukan
sebagai hasil evaluasi untuk penentuan kenaikan kelas atau kelulusan.
Asesmen sumatif berbentuk laporan hasil belajar yang berisikan laporan
pencapaian pembelajaran dan dapat ditambahkan dengan informasi
pertumbuhan dan perkembangan anak.
43
•Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada
akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau lebih tujuan pembelajaran),
pada akhir semester, atau pada akhir fase. Sementara khusus pada akhir semester,
asesmen sumatif bersifat pilihan.
•Asesmen sumatif bisa dilakukan pada akhir semester jika guru merasa masih
memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil
belajar murid. Sebaliknya, jika guru merasa bahwa data hasil asesmen yang
diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu lagi dilakukan
asesmen pada akhir semester. Hal yang perlu ditekankan, untuk asesmen sumatif,
guru dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa
tes, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan
produk, melakukan projek, atau membuat portofolio).
•Umpan balik dari asesmen hasil akhir ini (sumatif) dapat digunakan untuk mengukur
perkembangan murid, untuk memandu guru merancang aktivitas pada pembelajaran
berikutnya.
44
Pada Kurikulum Merdeka, guru diharapkan untuk lebih banyak mengutamakan
asesmen formatif, untuk mendapatkan umpan balik dan mengetahui perkembangan
murid. Namun, asesmen sumatif juga tetap digunakan untuk mengetahui
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Teknik Asesmen
Setelah tujuan dirumuskan, guru memilih dan/atau mengembangkan instrumen
asesmen yang sesuai.
1.Instrumen asesmen dapat dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang
digunakan oleh guru. Berikut adalah beberapa contoh teknik asesmen yang dapat
diadaptasi untuk melakukan asesmen formatif maupun sumatif:
1. Observasi
Penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan
perilaku secara berkala. Observasi dapat difokuskan untuk semua murid
maupun per individu. Observasi juga dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas
rutin/harian.
45
2. Kinerja
. Penilaian yang menuntut murid untuk mendemonstrasikan dan
mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks
sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa
praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, atau membuat portofolio.
3. Projek
Kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang meliputi kegiatan
perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan
dalam periode/waktu tertentu.
4. Tes tertulis
. Tes dengan soal dan jawaban yang disajikan secara tertulis, untuk
mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan murid. Tes
tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk-bentuk tes
tertulis lainnya.
46
5. Tes lisan
. Pemberian soal/pertanyaan yang menuntut murid untuk menjawabnya
secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal (dilakukan untuk seluruh
kelas/kelompok besar) ketika pembelajaran.
6. Penugasan
. Pemberian tugas kepada murid untuk mengukur pengetahuan, serta
memfasilitasi murid memperoleh atau meningkatkan pengetahuan.
7. Portofolio
. Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya murid dalam
bidang tertentu, yang mencerminkan perkembangannya secara menyeluruh
(holistis) dalam kurun waktu tertentu.
47
Bagi satuan pendidikan yang akan mengimplementasi Kurikulum Merdeka dapat memilih salah satu dari tiga tingkatan
opsi. Berikut ini adalah tingkatan opsi dari level pemula hingga level lanjutan:
1. Mandiri Belajar
Satuan pendidikan menggunakan struktur Kurikulum 2013 dalam mengembangkan kurikulum satuan
pendidikannya dan menerapkan beberapa prinsip Kurikulum Merdeka dalam melaksanakan pembelajaran dan
asesmen.
2. Mandiri Berubah
Satuan Pendidikan menggunakan struktur kurikulum Merdeka dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikannya
dan menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dalam melaksanakan pembelajaran dan asesmen.
3. Kategori Mandiri Berbagi
Satuan Pendidikan menggunakan struktur kurikulum Merdeka dalam mengembangkan kurikulum satuan pendidikannya
dan menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dalam melaksanakan pembelajaran dan asesmen,
dengan komitmen untuk membagikan praktik-praktik baiknya kepada satuan pendidikan lain.
Berikut jenjang yang disarankan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan opsi Mandiri
Berubah dan Mandiri Berbagi:
•Bagi satuan pendidikan di tahun pertama pelaksanaan Kurikulum Merdeka dapat dimulai di kelas I, kelas IV, kelas VII,
atau kelas X.
•Bagi satuan pendidikan di tahun kedua pelaksanaan Kurikulum Merdeka dapat melanjutkan di kelas I, kelas II, kelas IV,
kelas V, kelas VII, kelas VIII, kelas X, atau kelas XI.
48
Perbedaan Kurikulum K13 dan Kurikulum Merdeka
49
50
51
52
53
54
55
56
57
Penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kurikulum dalam
kondisi khusus (kurikulum darurat) efektif memitigasi
ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada masa pademi
COVID-19
Hasil belajar siswa 12 bulan pembelajaran di masa pandemi COVID-19
Proyeksi jika tidak ada
learning loss
Survei pada 18.370 siswa kelas 1-3 SD di 612 sekolah di 20
kab/kota dari 8 provinsi menunjukkan perbedaan hasil belajar
yang signifikan antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat
Bila kenaikan hasil belajar itu direfleksikan ke proyeksi learning
loss numerasi dan literasi, penggunaan kurikulum darurat dapat
mengurangi dampak pandemi sebesar 73% (literasi) dan 86%
(numerasi)
Pada sekolah yang menggunakan
Kurikulum 2013
Pada sekolah yang menggunakan
Kurikulum Darurat
Learning loss
5 bulan
Learning loss 1
bulan
482
517
522
Sekitar 31,5%
sekolah
menggunakan
kurikulum
daruratsemasa
pandemi
COVID-19
58
Struktur kurikulum yang kurang fleksibel, jam
pelajaran ditentukan per minggu
Materi terlalu padat sehingga tidak cukup waktu
untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan
yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta
didik
Materi pembelajaran yang tersedia kurang
beragam sehingga guru kurang leluasa dalam
mengembangkan pembelajaran kontekstual
Teknologi digital belum digunakan secara sistematis
untuk mendukung proses belajar guru melalui
berbagi praktik baik
Struktur kurikulum yang lebih fleksibel, jam
pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu
tahun
Fokus pada materi yang esensial, Capaian
Pembelajaran diatur per fase, bukan per tahun
Memberikan keleluasaan bagi guru menggunakan
berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan
karakteristik peserta didik
Aplikasi yang menyediakan berbagai referensi
bagi guru untuk dapat terus mengembangkan
praktik mengajar secara mandiri dan berbagi
praktik baik.
Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus semakin menguatkan pentingnya
perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih
komprehensif
Rancangan dan
Implementasi Kurikulum Saat Ini:
Arah Perubahan Kurikulum:
59
Prinsip Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka mencakup tiga tipe kegiatan pembelajaran sebagai
berikut:
1.Pembelajaran intrakurikuler yang dilakukan secara terdiferensiasi
sehingga peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep
dan menguatkan kompetensi. Hal ini juga memberikan keleluasaan bagi
guru untuk memilih perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik peserta didiknya.
2.Pembelajaran kokurikuler berupa projek penguatan Profil Pelajar
Pancasila, berprinsip pembelajaran interdisipliner yang berorientasi pada
pengembangan karakter dan kompetensi umum.
3.Pembelajaran ekstrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan minat
murid dan sumber daya satuan pendidik.
60
Dalam pemulihan pembelajaran, sekarang sekolah diberikan
kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih
Pilihan
1
Pilihan
2
Kurikulum
2013
secara penuh
Kurikulum Darurat
yaitu Kurikulum 2013
yang disederhanakan
Pilihan
3
Kurikulu
m
Merdeka
61
Satuan pendidikan dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka
secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing
Sejak Tahun Ajaran 2021/2022
Kurikulum Merdeka telah
diimplementasikan di hampir 2.500
sekolah yang mengikuti Program
Sekolah Penggerak (PSP) dan 901
SMK Pusat Keunggulan (SMK PK)
sebagai bagian dari pembelajaran
dengan paradigma baru.
Kurikulum ini diterapkan mulai dari
TK-B, SD & SDLB kelas I dan IV,
SMP
& SMPLB kelas VII, SMA &
SMALB
dan SMK kelas X.
Mulai Tahun Ajaran 2022/2023satuan
pendidikan dapat memilih untuk
mengimplementasikan kurikulum
berdasarkan kesiapan masing-
masing mulai TK B, kelas I, IV, VII, dan
X.
Pemerintah menyiapkan angket untuk
membantu satuan pendidikan menilai
tahap kesiapan dirinya untuk
menggunakan Kurikulum Merdeka.
Tiga pilihan yang dapat diputuskan
satuan pendidikan tentang implementasi
Kurikulum Merdeka pada Tahun Ajaran
2022/2023:
●
●
●
MANDIRI BELAJAR:Menerapkan
beberapa bagian dan prinsip
Kurikulum Merdeka, tanpa
mengganti kurikulum satuan
pendidikan yangsedang diterapkan
MANDIRI BERUBAH:Menerapkan
Kurikulum Merdeka menggunakan
perangkat ajar yang sudah
disediakan MANDIRI
BERBAGI:Menerapkan Kurikulum
Merdeka dengan mengembangkan
sendiri berbagai perangkat ajar.
62
Keunggulan Kurikulum Merdeka
1Lebih Sederhana dan Mendalam
Fokus pada materi yang esensial dan
pengembangan kompetensi peserta
didik pada fasenya. Belajar menjadi
lebih mendalam, bermakna, tidak
terburu-buru dan menyenangkan.
63
Keunggulan Kurikulum Merdeka
2 Lebih Merdeka
Peserta didik: Tidak ada program peminatan di
SMA,
peserta
didik
memilih
mata
pelajaran
sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.
Guru: Guru mengajar sesuai tahap capaian
dan perkembangan peserta didik.
Sekolah: memiliki wewenang untuk
mengembangkan dan mengelola kurikulum dan
pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik.
64
Keunggulan Kurikulum Merdeka
3Lebih Relevan dan Interaktif
Pembelajaran melalui kegiatan projek
memberikan kesempatan lebih luas
kepada peserta didik untuk secara aktif
mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya
isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya
untuk mendukung pengembangan
karakter dan kompetensi Profil Pelajar
Pancasila.
65
Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam
perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala
sekolah, dan dinas pendidikan.
Jaminan jam mengajar
dan tunjangan profesi
guru
03
●
●
Perubahan struktur mata pelajaran tidak merugikan guru
Semua guru yang berhak mendapatkan tunjangan profesi ketika
menggunakan Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak tersebut
Penyediaan
Perangkat ajar: buku
teks dan bahan ajar
pendukung
01
●Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan pembelajaran, kurikulum
operasional sekolah, serta modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila
disediakan melalui platform digital bagi guru. Sekolah dapat melakukan pengadaan
buku teks secara mandiri dengan BOS reguler atas dukungan Pemda dan
yayasan
●Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS melalui SIPLah atau cetak
mandiri
ff
Pelatihan dan
penyediaan sumber
belajar guru, kepala
sekolah, dan pemda
02
●
●
●
●
Pelatihan mandiri bagi guru dan kepala sekolah melalui micro learning di
aplikasi digital.
Menyediakan berbagai narasumber dalam pelatihan Kurikulum Merdeka.
Misalnya, melalui pengimbasan dari Sekolah Penggerak.
Berbagai sumber belajar untuk guru dalam bentuk e-book, video, podcast dll.,
yang dapat diakses daring dan didistribusikan melalui media penyimpanan
(flashdisk).
Guru membentuk komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik dalam
adopsi Kurikulum Merdeka, baik di sekolah maupun di komunitasnya
66
Selain itu, penerapan Kurikulum
Merdeka juga didukung oleh Platform
Merdeka Mengajar.
Platform Merdeka Mengajar membantu
guru dalam mendapatkan referensi,
inspirasi, dan pemahaman untuk
menerapkan Kurikulum Merdeka.
67
Platform
Merdeka Mengajar
68
Platform Merdeka Mengajar adalah platform edukasi yang menjadi teman
penggerak untuk guru dalam mewujudkan Pelajar Pancasila
Kemendikbudristek bekerjasama dengan Gov Tech Edu - PT Telkom
Indonesia dalam mengembangkan Platform Merdeka Mengajar.
Mengajar
Belajar
Berkarya
69
Platform Merdeka Mengajar menyediakan referensi bagi
guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai
dengan Kurikulum Merdeka
Perangkat Ajar
Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi
perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka
Asesmen Murid
Membantu guru melakukan analisis diagnostik
literasi dan numerasi dengan cepat sehingga
dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai
dengan tahap capaian dan perkembangan
peserta didik.
Mengajar
70
Pelatihan Mandiri
Guru dapat memperoleh materi pelatihan
berkualitas dengan mengaksesnya secara
mandiri
Video Inspirasi
Guru bisa mendapatkan beragam video
inspiratif untuk mengembangkan diri
dengan akses tidak terbatas.
Platform Merdeka Mengajar memberikan kesempatan yang
setara bagi guru untuk terus belajar dan mengembangkan
kompetensinya kapan pun dan di mana pun
Belajar
71
Bukti Karya Saya
Guru dapat membangun portofolio
hasil karyanya agar dapat saling
berbagi inspirasi dan berkolaborasi.
Platform Merdeka Mengajar mendorong guru untuk terus
berkarya dan menyediakan wadah berbagi praktik baik
Berkarya
72
Masuk dengan akun pembelajaran belajar.id untuk dapat
mengakses Platform Merdeka Mengajar melalui aplikasi di
gawai Android atau melalui laman situs
Akses melalui laman situs
https://guru.kemdikbud.go.id/
Unduh Aplikasi Merdeka Mengajar
untuk gawai Android di Google Play Store
Panduan implementasi kurikulum dan modul pelatihan akan disediakan dalam flash disk bagi
satuan pendidikan dan pendidik yang kesulitan untuk mengakses internet
73
Visi Platform Merdeka Mengajar menciptakan ekosistem kolaboratif untuk
meningkatkan keefektifan pembelajaran dan iklim kerja yang positif
Pembelajaran
Mandiri
Perencanaan
dan Kemajuan
Karier
Jejaring
Profesi
guru
Wadah menampilkan profil,
pengalaman dan keterampilan
profesional
Pengembangan konten berbasis kontribusi
yang dapat dilakukan oleh semuapihak
Guru saling belajar dan berbagi
Pelatihan daring untuk
pengembangan kompetensi
Content
Crowdsourcing
Komunitas
Belajar Daring
Pengembangan portofolio guru
74
Ayo unduh aplikasi dan pelajari lebih dalam
Serta mengambil peran untuk menyukseskan Kurikulum Merdeka
juga melalui video pengenalan Kurikulum
Merdeka melalui tautan
kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id
Unduh
Mengunduh Platform Merdeka
Mengajar pada gawai Android atau
mengakses melalui laman situs
https://guru.kemdikbud.go.id/
Pelajari
Mempelajari pilihan-pilihan kurikulum dan
informasi lebih mendalam tentang Kurikulum
Merdeka dari Platform Merdeka Mengajar dan
kurikulum.kemdikbud.go.id
Mendukung satuan pendidikan yang
memutuskan untuk menerapkan
Kurikulum Merdeka
Dinas Pendidikan
Mitra Komunitas
& Organisasi Pendidikan
Berkontribusi dalam pengembangan
perangkat ajar pada platform Merdeka
Mengajar dengan mengisi tautan
https://bit.ly/MM-MITRA
Untuk itu Kemendikbudristek mengajak semua pihak untuk bergerak
bersama mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia
QR Code
Satuan Pendidikan
Mendaftarkan satuan pendidikan* untuk
menerapkan Kurikulum Merdeka pada
tautan kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id
mulai tanggal 06 Februari 2023 sampai
31 Maret 2023
*Untuk satuan pendidikan swasta perlu
mendapatkan persetujuan dari yayasan
Informasi lebih lanjut mengenai penerapan Kurikulum Merdeka silakan menghubungi
081281435091
75
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 75
SLIDE
Similar Resources on Wayground
66 questions
MAJAS-BAHASA INDONESIA
Lesson
•
6th Grade
64 questions
JENIS-JENIS KEGIATAN EKONOMI
Lesson
•
5th Grade
76 questions
Perubahan Potensi Sumber Daya Alam
Lesson
•
7th Grade
61 questions
LATIHAN UJIAN SEKOLAH BAHASA INDONESIA
Lesson
•
6th Grade
67 questions
Woordvorm en woordbetekenis
Lesson
•
5th - 6th Grade
70 questions
5.2 Ung Alg yg Melibatkan Ops Asas Aritmetrik 0408
Lesson
•
7th Grade
71 questions
Algebra & Linear Eqn
Lesson
•
7th - 8th Grade
64 questions
RBT Tingkatan 2 Bab 1
Lesson
•
6th - 8th Grade
Popular Resources on Wayground
7 questions
History of Valentine's Day
Interactive video
•
4th Grade
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
15 questions
Valentine's Day Trivia
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for Other
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
10 questions
Exploring Valentine's Day with Charlie Brown
Interactive video
•
6th - 10th Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
6th Grade
10 questions
History and Traditions of Valentine's Day
Interactive video
•
3rd - 6th Grade
20 questions
Valentine’s Day and Disney Trivia Worksheet
Quiz
•
6th Grade
18 questions
Valentines Day Trivia
Quiz
•
3rd Grade - University
20 questions
Writing Algebraic Expressions
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Ratios/Rates and Unit Rates
Quiz
•
6th Grade